Bukan Dengkuran Biasa

Mendengkur sepertinya sudah lazim dianggap sebagai tidur yang pulas. Bahkan di antara sahabat suara ngorok jadi semacam candaan. Tapi jangan salah, orang yang tidur mendengkur bisa jadi bertaruh nyawa dalam tidurnya. Pendengkur juga rendah produktivitas dan dapat membahayakan lingkungan kerja serta keselamatan berkendara.

Sleep Apnea

Saat tidur saluran nafas pendengkur rileks hingga menyempit dan menciptakan getaran sepanjang saluran nafas atas. Ini yang sebabkan suara dengkuran. Tetapi tahap lanjutannya yang berbahaya. Saluran nafas bisa tersumbat sama sekali hingga udara tak ada yang lewat. Jadi walau ada gerakan nafas, tak ada udara yang lewat. Pada saat ini dengkuran tiba-tiba hilang. Seolah sesak tiba-tiba penderita terbangun dan menimbulkan suara keras untuk mengambil nafas. Refleks bangun singkat ini tak disadari pendengkur, setelahnya ia tertidur kembali dengan pulas.

Sepanjang malam pendengkur bisa terbangun-bangun puluhan kali tanpa sadar. Akibatnya di pagi hari ia merasa tak segar dan terus mengantuk di siang hari, walau ia tidur cukup. Kondisi ini disebut hipersomnia, atau kantuk berlebihan walah tidur sudah cukup. Jangan cap orang yang tidur ngorok sebagai pemalas. Mereka alami kantuk berlebihan, dan sangat berbahaya jika harus mengoperasikan alat berat atau berkendara.

Kesehatan

Sedari awal sejarahnya, sleep apnea justru ditemukan pada penderita hipertensi yang mengalami kantuk berlebihan. Lalu dengan berbagai penelitian yang dilakukan kini kita telah mengetahui bagaimana mendengkur ternyata jauh lebih berbahaya.

Sleep apnea memberikan tekanan luar biasa pada sistem kardiovaskular dan metabolisme kita. Efek naik turunnya oksigen sepanjang malam dan kerja jantung yang meningkat pada saat tidur berperan besar munculnya berbagai penyakit jantung. Beberapa penelitian bahkan mengaitkan dengkuran dengan daya tahan tubuh terhadap pertumbuhan sel-sel kanker.

Saat ini mendengkur telah dinyatakan sebagai penyebab hipertensi, berbagai penyakit jantung, diabetes, obesitas, stroke, gangguan kehamilan hingga disfungsi seksual.

Keselamatan

Kantuk berlebih yang diakibatkan sleep apnea juga tak dapat dianggap remeh. Peraturan di Inggris sudah menyatakan bahwa pendengkur yang belum dirawat tak boleh berkendara. Surat Ijin Mengemudi penderita ditahan oleh dinas lalu lintas hingga dinyatakan sehat kembali oleh dokter ahli kesehatan tidur.

Awal Desember 2013 sebuah kereta melenceng keluar dari rel di New York, AS. Kecelakaan ini menyebabkan kematian 4 orang dan melukai puluhan lainnya. Dalam penyidikan selanjutnya, masinis diketahui menderita sleep apnea. Setelah gunakan CPAP selama 30 hari, ia menyatakan merasa lebih bugar dan berenergi dibanding sebelumnya. Rasa yang telah lama hilang dari hidupnya, bahkan saat bangun pagi.

Ya berkendara dalam keadaan mengantuk sama bahaya dengan mabuk. Itula sebabnya Federation of Aviation Administration (FAA), AS, mensyaratkan agar para pilot menjalani pemeriksaan tidur di laboratorium tidur setidaknya setahun sekali. Peraturan yang sama akan diberlakukan bagi pengemudi truk di Amerika dalam waktu dekat.

Dengkur?

Pendengkur dapat memeriksakan dirinya ke klinik-klinik gangguan tidur yang kini mulai banyak terdapat di berbagai rumah sakit besar di Indonesia. Ada pemeriksaan unik yang harus dijalani, pemeriksaan tidur. Pemeriksaan tidur di laboratorium tidur, yang menggunakan alat bernama polisomnografi, merupakan pemeriksaan standar untuk mendiagnosis sleep apnea. Jangan bayangkan laboratorium tidur itu seperti ruang rumah sakit yang penuh alat menyeramkan. Sebaliknya laboratorium tidur harus utamakan kenyamanan agar penderita bisa tidur.

Perawatan sleep apnea bisa dilakukan dengan tiga cara tergantung hasil pemeriksaan. Dengan menggunakan alat bantu di mulut, continuous positive airway pressure (CPAP) atau lewat pembedahan. Pendengkur yang telah menggunakan CPAP akan menurun risikonya untuk menderita penyakit jantung koroner hingga 37%. Sementara risiko stroke dapat turun 56%.

Sebelum berkesempatan memeriksakan diri, coba dulu beberapa tips berikut:

  • Tidur dalam posisi miring.
  • Hindari rokok dan alkohol.
  • Turunkan berat badan.
  • Tinggikan bantal hingga posisi tidur setengah duduk.
  • Jaga jadwal tidur teratur dan cukup.

Kesehatan, kebugaran, keselamatan dan produktivitas tak dapat hanya ditingkatkan dengan menjaga keseimbangan nutrisi dan olah raga. Perhatikan kesehatan tidur.

Jika Anda jumpai kerabat atau sahabat yang mendengkur, peringatkan. Anda telah selamatkan nyawanya!

Gangguan Tidur Berakibat Buruk Bagi Penderita Jantung

Sebuah presentasi pada acara tahunan the Council on Cardiovascular Nursing and Allied Professions (CCNAP) dari the European Society of Cardiology (ESC) di Norwegia, menungkapkan bahwa pasien-pasien payah jantung dengan masalah tidur membutuhkan perawatan di rumah sakit hingga dua kali lipat dibanding dengan pasien yang baik tidurnya.

Penelitian yang melibatkan 500 orang penderita payah jantung (heart failure) ini dilakukan di Swedia. Pasien yang dirawat di rumah sakit karena payah jantung dicatat kemudian diberi pertanyaan-pertanyaan tentang kualitas tidurnya. Setahun kemudian, para pasien ini dicatat berapa kali dan berapa lama ia dirawat di rumah sakit.

Para ahli menemukan ada 215 (43%) pasien yang memiliki masalah tidur, setelah pulang dari rumah sakit pertama kali. Sepertiganya terus memiliki masalah tidur selama 12 bulan rentang penelitian.

Setelah diikuti selama setahun, didapati bahwa pasien-pasien yang sepanjang tahun alami gangguan tidur memiliki risiko dua kali lipat untuk kembali dirawat di rumah sakit akibat penyakit jantung dibanding pasien tanpa masalah tidur.

Dari 284 pasien tanpa masalah tidur, 14%-nya mengalami masalah tidur selama rentang 12 bulan penelitian. Ada kecenderungan bahwa pasien-pasien ini akan alami perawatan kembali di rumah sakit akibat penyakit jantung dibanding pasien tanpa gangguan tidur. Walau temuan ini diakui para peneliti tidak signifikan, risikonya tidak bisa diabaikan begitu saja.

Setiap kejadian atau gangguan tidur menjadi penting. Mulai dari jadwal tidur, kesulitan tidur, kantuk berlebihan hingga dengkuran harus diperhatikan. Tak semua gangguan tidur itu insomnia, dan tak semua gangguan tidur dapat diatasi dengan obat tidur. Kita juga mengenal adanya hipersomnia atau kantuk yang berlebihan walau cukup tidur. Ketika seseorang terus mengantuk dan tidur lebih banyak, kita harus waspada, apalagi jika ia mendengkur. Dengkuran pasien justru sangat berbahaya bagi kesehatan jantung. Pasien yang mendengkur perlu pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium tidur untuk memastikan adanya henti nafas saat tidur atau ngorok biasa.

Baik insomnia maupun hipersomnia, Sementara ini, para ahli sepakat bahwa kesehatan jantung diperburuk oleh gangguan tidur lewat mekanisme peningkatan sel-sel inflamasi dan respon stres. Pahami bahwa gangguan tidur juga sebabkan stres bagi tubuh penderitanya.

Bagi pendengkur, risiko penyakit jantung dan pembuluh darah jadi berlipat ganda akibat henti nafas yang dialami. Disamping peningkatan aktivitas inflamasi, turun naik oksigen serta kerja jantung yg meningkat saat tidur juga berperan.

Melihat hasil survey ini, para peneliti menekankan bahwa kesehatan tidur harus diperhatikan pada pasien-pasien penyakit jantung. Pasien harus ditanyakan, bahkan diperiksakan tentang kesehatan tidurnya. Penderita penyakit jantung serta keluarga juga sebaiknya mengutarakan pada dokter tentang kebiasaan atau masalah tidurnya.

Mendengkur – OSA dan Kerusakan Otot Jantung

Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan jenis sleep apnea yang paling umum diderita, paling berbahaya, namun juga sayangnya paling diabaikan. Sebabnya mudah saja, gejalanya terlanjur dianggap biasa, bahkan dianggap tidur yang nyenyak: mendengkur!

Penderita OSA telah lama diketahui berisiko tinggi derita hipertensi, penyakit jantung-pembuluh darah, stroke, diabetes hingga impotensi. Khusus penyakit jantung, para ahli kesulitan menentukan secara pasti apa yang membuat kebiasaan ngorok ini jadi amat berbahaya bagi kesehatan jantung. Beberapa hipotesa terus diluncurkan oleh para peneliti di seantero dunia.

Yang paling baru adalah penelitian yang diterbitkan pada The American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine. Publikasi ini menyatakan bahwa OSA terbukti meningkatkan risiko seseorang mengalami payah jantung atau penyakit jantung koroner. Ini dilihat dari meningkatnya kadar high sensitivity troponin T (hs-TnT) pada pendengkur.

Hs-TnT yang meningkat merupakan penanda adanya cidera pada otot jantung atau myocardial injury. Jadi jika seseorang meningkat kadar hs-TnT nya, bisa dianggap bahwa orang tersebut diprediksi menderita payah jantung atau penyakit jantung koroner. Atau bisa dikatakan juga pendengkur sebenarnya sudah mengalami cidera otot jantung walaupun belum sampai menimbulkan keluhan fisik (subklinis).

Obstructive Sleep Apnea

Saat seseorang mendengkur, sebenarnya saluran nafasnya menyempit. Semakin parah, saluran nafas ini bisa menyempit total hingga aliran udara bisa terhenti sama sekali.

Coba perhatikan orang yang ngorok. Di antara suara dengkuran, tiba-tiba ia terdiam. Dengan mulut masih terbuka, gerakan nafas meningkat seolah ia mencari tambahan udara. Secara tiba-tiba akan diikuti dengan episode tersedak atau bahkan terbatuk-batuk. Lalu ia akan kembali mendengkur dengan enaknya. Tetapi sebenarnya ia mengalami henti nafas yang tentu menurunkan kadar oksigen dalam tubuh. Dan episode diam dan tersedak ini pun terus berulang sepanjang malam.

Bisa dikatakan, fungsi-fungsi tubuhnya mengalami stress saat tidur. Ini akan memicu reaksi berantai yang mengganggu metabolisme dan pada akhirnya mengganggu fungsi-fungsi normal tubuh. Mendengkur tak pernah enak. Ingat, episode henti nafas tidur ini bisa jadi sangat membahayakan nyawa pendengkur baik secara langsung maupun jangka panjang.

Penelitian

Para ahli dari the Brigham and Women’s Hospital di Boston ini, mempelajari 1.645 pasien yang tidak menderita payah jantung maupun penyakit jantung koroner. Kesemuanya diperiksakan tidurnya dengan polisomnografi, lalu dikategorikan derajat keparahan OSA-nya berdasarkan indeks jumlah henti nafas setiap jamnya. Derajat keparahan OSA disusun dengan urutan ngorok tanpa henti nafas, OSA ringan, sedang hingga berat atau parah. Jadi bukan berdasarkan kerasnya suara dengkuran.

Hasilnya kadar hs-TnT berhubungan erat dengan OSA secara independen. Artinya setelah dicocokkan, terbebas dari risiko-risiko lain yang mungkin berhubungan, OSA tetap berkaitan erat dengan kadar hs-TnT seseorang. Risiko-risiko lainnya seperti usia, jenis kelamin, kadar kolesterol, berat badan, kadar insulin dan lain-lain.

Kadar hs-TnT yang tinggi berhubungan langsung dengan insiden serangan jantung dan risiko kematian akibat penyakit jantung. Didapati semua derajat OSA, mengalami peningkatan hs-TnT, terutama OSA parah dengan jumlah henti nafas lebih dari 30 kali perjam.

Kesimpulan

Disimpulkan bahwa penderita OSA sebenarnya telah mengalami gangguan pada otot jantungnya, walau belum menimbulkan gejala yang mengganggu. Kondisi yang juga disebut sebagai subclinical myocardial injury, tidak dapat diabaikan karena pada akhirnya akan berlanjut pada penyakit jantung koroner hingga payah jantung.

Para peneliti menyarankan agar semua pendengkur diperiksakan kemungkinannya menderita OSA. Jika terdiagnosis dengan OSA, baik jika diperiksakan juga hs-TnT nya untuk memprediksi risikonya mengalami gangguan jantung.

Sleep Apnea Perburuk Kondisi Pasca Serangan Jantung

Gangguan nafas saat tidur, terutama henti nafas tipe sentral, ternyata dapat dijadikan ukuran untuk memprediksi kemungkinan seorang penderita gagal jantung kembali dirawat di rumah sakit atau bahkan mengalami kematian.

Gangguan nafas tidur sangat sering ditemukan pada penderita serangan jantung. Lebih dari 70% pasien serangan jantung yang dirawat di rumah sakit juga mengalami sleep apnea. Jumlah yang besar, sayangnya sampai saat ini pemeriksaan dan perawatan gangguan nafas tidur belum dijadikan penanganan rutin dalam perawatan jantung.

Gangguan Nafas Tidur

Gangguan nafas tidur, sleep disordered breathing, ada dalam banyak bentuk. Yang paling sering ditemui sehari-hari adalah obstructive sleep apnea (OSA) atau yang sehari-hari kita kenal sebagai mendengkur. Bentuk gangguan nafas tidur lainnya adalah central sleep apnea (CSA).

Jika OSA disebabkan oleh sumbatan pada saluran nafas akibat penyempitan saat tidur, hingga walau ada gerakan nafas, pertukaran udara tidak terjadi. Sementara CSA merupakan bentuk gangguan nafas tidur, dimana gerakan nafas hilang.

Penelitian

Penelitian dilakukan oleh sebuah tim dari Ohio State University dengan menganalisa data 1117 pasien serangan jantung yang dirawat di rumah sakit antara 2007-2010. Semuanya dengan fraksi semburan bilik kiri jantung (LVEF) kurang atau sama dengan 45%, dan belum pernah terdiagnosa dengan sleep apnea.

Pasien-pasien ini diperiksakan tidurnya pada malam kedua dirawat di rumah sakit akibat serangan jantung. Lalu pasien-pasien ini diamati kemungkinan serangan jantung kembali atau bahkan kemungkinan alami kematian.

Hasilnya pasien dengan CSA maupun OSA memiliki risiko lebih tinggi untuk kembali alami serangan jantung setelah tiga atau enam bulan. Bahkan, angka kematian akibat serangan jantung meningkat 2/3 setelah diikuti selama tiga tahun.

Melihat pentingnya gangguan nafas saat tidur terhadap kondisi pasien gangguan jantung, para peneliti menyerukan agar pemriksaan dan perawatan sleep apnea menjadi bagian dalam tata laksana pasien serangan jantung.

Diabetes Pada Kehamilan dan Mendengkur/Sleep Apnea

Ibu hamil, yang derita diabetes pada kehamilan ternyata punya risiko 7 kali lipat untuk derita obstructive sleep apnea. Penelitian yang diterbitkan pada The Endocrine Society’s Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism ini menyoroti jumlah calon ibu yang menderita diabetes pada kehamilan yang juga mendengkur dan menderita sleep apnea.

Diabetes pada kehamilan sering diderita calon ibu terutama memasuki trimester kedua. Di Indonesia angka penderitanya diperkirakan 0,3%-0,7% dari kehamilan. Kondisi ini menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat, meningkatnya angka keguguran, bayi lahir mati, bayi besar, pre-eklamsia, persalinan prematur cairan ketuban berlebihan, infeksi saluran kemih, infeksi vagina karena keputihan dan beberapa komplikasi pada kehamilan, serta perkembangan dan pertumbuhan janin yang abnormal.

Sementara ini diabetes kehamilan dianggap disebabkan oleh obesitas pada wanita. Sementara data-data terakhir juga menunjukkan bahwa mendengkur dan sleep apnea bisa jadi salah satu faktor yang menyebabkan gangguan metabolisme yang akhirnya berujung pada diabetes di masa kehamilan. Sleep apnea sendiri, jika tidak dirawat akan meningkatkan risiko penyakit jantung-pembuluh darah, stroke dan serangan jantung.

Tim peneliti dari Rush University Medical Center di Chicago menemukan bahwa hampir 75 persen penderita diabetes pada kehamilan juga mendengkur dan menderita obstructive sleep apnea.

Penelitian ini mengamati 45 orang wanita. 15 ibu hamil yang menderita diabetes pada kehamilan, 15 ibu hamil tanpa diabetes dan 15 lagi yang benar-benar sehat. Hasilnya didapati korelasi yang kuat antara sleep apnea dan diabetes. Ibu hamil yang tak menderita diabetes, tidur lebih lama dan lebih berkesinambungan tanpa terputus-putus. Ya, jika seseorang mendengkur dan menderita sleep apnea, proses tidurnya akan terputus-putus akibat sesak berulang saat tidur. Jadi penderitanya terbangun-bangun singkat berulang kali dalam tidur tanpa ia sadari.

Penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan bahwa proses tidur yang terpotong-potong akibat sleep apnea yang mengganggu metabolisme yang pada akhirnya menyebabkan diabetes. Sebuah penelitian pada jurnal SLEEP 2009 misalnya, menyatakan bahwa calon ibu yang mendengkur memiliki risiko 14,3% untuk menderita diabetes pada kehamilan. Dibandingkan dengan ibu hamil tak mendengkur hanya memiliki risiko 3,3%.

Sementara penelitian ini melihat hubungan diabetes kehamilan dan mendengkur dari sisi yang berbeda. Walau demikian, kesimpulannya tetap sama, terlepas dari sleep apnea yang sebabkan diabetes atau diabetes yang sebabkan sleep apnea, kedua kondisi ini harus dirawat. Maka para peneliti menyarankan agar calon ibu yang menderita diabetes pada masa kehamilan agar diperiksakan kemungkinan menderita sleep apnea, dan sebaliknya juga ibu hamil yang mendengkur agar diawasi kemungkinan menderita diabetes.

Ngorok= Berisiko Serangan Jantung

Sebuah penelitian yang baru saja diterbitkan pada the Journal of the American College of Cardiology menyebutkan bahwa mendengkur dengan obstructive sleep apnea tingkat sedang saja, sudah meningkatkan risiko seseorang alami sindroma kematian mendadak akibat serangan jantung. Ya, suara ngorok yang dianggap ‘hanya’ gangguan suara, bisa berakibat fatal!

Sleep Apnea

Mendengkur yang disertai dengan kantuk berlebih di siang hari merupakan gejala utama dari sleep apnea atau henti nafas saat tidur.

Saat tidur saluran nafas pendengkur menyempit hingga, walau gerakan nafas masih ada, aliran udara terhenti. Henti nafas ini bisa terjadi lebih dari sepuluh detik. Bahkan tak jarang saya temukan di laboratorium tidur pendengkur yang alami henti nafas hingga lebih dari 1 menit.

Akibat sesak, penderita sleep apnea akan terbangun tanpa terjaga untuk bernafas, lalu segera lanjut tidur lagi. Pendengkur tak menyadari dirinya terbangun-bangun selama tidur. Karena proses tidur yang terpotong-potong itu, di pagi hari pendengkur merasa kurang segar dan terus mengantuk sepanjang hari.

Proses henti nafas berulang sepanjang tidur memicu reaksi berantai yang berlanjut pada peningkatan tekanan darah, kadar gula darah, kekentalan darah dan tentu pada kesehatan jantung sendiri.

The National Heart, Lung and Blood Institutes memperkirakan sleep apnea diderita lebih dari 12 juta orang di AS. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat dengan bertambahnya epidemi obesitas di sana. Tetapi hati-hati, untuk ras Asia seperti Indonesia penderita sleep apnea tanpa obesitas pun banyak. Ini dikarenakan struktur rahang yang sempit dan leher yang pendek pada ras Asia. Tak semua pendengkur itu gemuk lho.

Penelitian

Penelitian terdahulu dari Mayo Clinic yang diterbitkan pada the New England Journal of Medicine menyatakan bahwa lebih dari setengah pasien mendengkur yang telah terdiagnosa dengan sleep apnea, meninggal akibat serangan jantung antara pukul 22:00-6:00. Artinya, sleep apnea berperan atas serangan jantung yang terjadi.

Kembali pada penelitian yang terbaru, para ahli mengikuti 10.701 subyek selama kurang lebih 5,3 tahun. Selama itu, sebanyak 142 pasien meninggal dunia akibat serangan jantung mendadak. Kebanyakan dari pasien-pasien tersebut berusia lebih dari 60 tahun dan mengalami henti nafas lebih dari 20 kali perjam saat tidur serta memiliki kadar oksigen terendah kurang dari 78%.

Saat saluran nafas tersumbat dalam tidur, pasokan oksigen terhenti hingga kadar oksigen dalam darah menurun. Penelitian ini tunjukkan bahwa penurunan kadar oksigen lebih rendah dari 78% akan tingkatkan risiko pasien alami serangan jantung yang mematikan hingga 80%.
Jadi sleep apnea bukan saja meningkatkan risiko gangguan kesehatan jantung di malam hari, tapi justru sepanjang hari dan malam.

Tata Laksana

Perawatan sleep apnea dimulai dengan pemeriksaan rutin di laboratorium tidur untuk mendiagnosa derajat dengkuran. Jika indeks henti nafas (AHI) kurang dari 5 kali perjam, pasien dinyatakan hanya mendengkur tanpa sleep apnea. Ini kondisi yang aman. Sementara AHI 5-15 kali perjam adalah kondisi ringan, 16-30 kali perjam adalah sedang dan lebih dari 30 dinyatakan sebagai sleep apnea berat.

Umumnya perawatan sleep apnea adalah dengan menggunakan CPAP, berupa alat yang dihubungkan dengan masker hidung. Alat tersebut akan meniupkan tekanan positif yang digunakan untuk menyangga saluran nafas agar tak menyempit selama tidur. Penggunaan CPAP telah diketahui memperbaiki kondisi jantung, tekanan darah dan kontrol gula darah penderita sleep apnea. Selain CPAP, perawatan sleep apnea juga bisa dilakukan dengan penggunaan dental appliances atau pembedahan.

———————

Perawatan sleep apnea akan meningkatkan kualitas hidup penderitanya, dan juga mencegah terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah.

Ketika ada sahabat atau kerabat yang mendengkur, jangan ditertawakan. Peringatkan! Anda bisa menyelamatkan nyawanya hanya dengan memberi tahu bahwa dengkurannya bisa berbahaya bagi kesehatan.

Pendengkur yang Tidur Lebih Lama Rentan Kanker Usus

Sebuah penelitian baru yang terbit pada jurnal SLEEP mencoba ungkapkan hubungan antara ngorok, durasi tidur dan kanker colorectal (usus).

Penelitian ini melihat data 30.121 the Health Professionals Follow-up Study (HPFS) dan 76.368 wanita dari the Nurses’ Health Study. Lewat kuesioner, para peneliti menanyakan kebiasaan tidur, durasi tidur, dan seberapa sering mendengkur. Para peneliti juga mengakses rekam medis para peserta penelitian untuk melihat adanya diagnosa kanker colorectal. Didapati 1.973 diagnosa baru kanker usus.

Para peneliti dari Harvard Medical School mendapati bahwa pendengkur yang tidur lebih dari 9 jam seharinya berisiko derita kanker usus 1,4-2 kali lipat!

Mendengkur bukanlah kondisi normal yang bisa diabaikan. Pendengkur kemungkinan besar menderita sleep apnea atau henti nafas saat tidur. Akibatnya kadar oksigen selama tidur bisa naik turun tak beraturan sepanjang malam. Akibat sesak, pendengkur terpotong-potong proses tidurnya sehingga kualitasnya buruk. Ini sebabnya orang yang ngorok bangun tak segar dan mengantuk sepanjang hari.

Pada penelitian ini, para ahli mencatat bahwa durasi tidur lebih dari 9 jam pada pendengkur akan tingkatkan risiko seseorang menderita kanker usus. Tapi sesungguhnya tak ada kelebihan atau kebanyakan tidur. Yang ada adalah kantuk berlebihan hingga pendengkur bisa tidur lebih lama. Tidur itu ada porsinya, jika sudah cukup kita tak akan bisa tidur lagi.

Hubungan antara mendengkur dan kanker telah berulang kali diteliti. Seelompok peneliti, mendapati bahwa pada tikus yang alami penurunan oksigen secara berkala, persis seperti penderita sleep apnea, akan memiliki kanker yang lebih ganas dibanding yang normal oksigennya. Dari sini kita dapat simpulkan bahwa penurunan kadar oksigen saat tidur berperan penting pada terjadinya kanker pada penderita sleep apnea.

Apakah Ngorok Saya Berbahaya?

Anda kenal seseorang yang selalu mengeluh mengantuk, mudah lelah dan dengan gampang dapat tidur dimana saja? Ini adalah gejala hipersomnia atau kantuk yang berlebihan.

Mengantuk

Kantuk mungkin biasa saja bagi sebagian orang. Dianggap sedemikian biasa hingga orang yang mengantuk, masih berani mengendara. Tanda-tanda awal mengantuk seperti ceroboh, mudah melupakan hal-hal kecil, sulit berkonsentrasi atau sakit kepala masih dianggap tak berhubungan dengan tidur.

Si pengantuk yang mendengkur saat tidur mungkin lucu dan sering jadi bahan tertawaan di kalangan sahabat atau kerabat. Tapi, tahukah Anda bahwa kemungkinan besar mereka menderita penyakit yang berbahaya? Sebuah penyakit yang menjadi penyebab penyakit-penyakit kronis lain seperti hipertensi, berbagai gangguan jantung, diabetes, stroke, impotensi, bahkan kematian. Penyakit tidur itu bernama sleep apnea, henti nafas saat tidur.

Sleep Apnea

Mendengkur terjadi karena saluran nafas melemas dan menyempit saat tidur. Akan terjadi henti nafas ketika saluran nafas menyempit total hingga tak ada udara yang mengalir masuk atau keluar. Gerakan nafas tetap ada tetapi seolah tercekik, penderitanya merasa sesak. Akibat sesak, penderitanya akan terbangun singkat tanpa terjaga untuk menarik nafas. Ini bisa terjadi berulang kali sepanjang malam, dan penderita sama sekali tak menyadarinya! Akibatnya tak heran jika pendengkur bangun tak segar dan terus mengantuk di siang hari.

Saya Penderita?

Gejala utama sleep apnea adalah mendengkur setiap kali tidur. Sekali waktu mendengkur ketika lelah atau kurang tidur tidak termasuk. Jika diantara dengkuran, pasangan atau orang lain melihat nafas tampak sesak, ini sudah indikasi kuat untuk tidak menunda-nunda pemeriksaan. Ya, percayalah pada orang lain. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada diri kita sendiri saat tidur.
Selain mendengkur, hipersomnia juga menjadi gejala utama. Ketika rekan Anda sepanjang hari memesan kopi dan berulang kali merokok demi mempertahankan konsentrasi, peringatkan. Itu tanda-tanda mengantuk berlebihan.

Sayang, di Indonesia, gejala-gejala ini masih diabaikan. Akibatnya banyak orang mengantuk yang membahayakan dirinya setiap hari dengan berkendara. Belum lagi angka penderita diabetes, dan penyakit jantung dan pembuluh darah yang terus meningkat di tanah air. Padahal banyak penderita sleep apnea yang berkunjung ke dokter dengan berbagai keluhan, sakit kepala menahun, sering kencing di malam hari, tekanan darah tinggi yang sulit terkontrol, bahkan yang sudah menderita serangan jantung luput dari deteksi radar. Untuk itu, jangan lupa ceritakan pada dokter Anda jika alami gejala-gejala ini.

Derajat Ngorok dengan Risiko Stroke dan Demensia

Mendengkur telah lama dikaitkan dengan banyak penyakit jantung-pembuluh darah dan stroke. Kini, sekelompok peneliti dari Korea mencoba melihat hubungan antara ngorok-sleep apnea dengan risiko stroke dan demensia lewat pengamatan pada perubahan substansia alba otak.

Mendengkur

Suara dengkur selama ini dianggap sebagai suara yang mengganggu. Tetapi kenyataannya, ngorok bisa menjadi suatu tanda yang membahayakan. Bahaya tersebut adalah sebuah penyakit tidur bernama sleep apnea.

Sleep apnea, artinya henti nafas saat tidur, mempunyai dua gejala utama yaitu mendengkur dan kantuk berlebihan di siang hari. Pada saat tidur, penderitanya mengalami peyempitan saluran nafas hingga mengganggu aliran udara. Bahkan walau gerak nafas tetap ada, aliran udara terputus seolah tercekik dalam tidur. Akibat sesak, penderita akan terbangun singkat untuk bernafas. Tetapi ia tak akan sadar jika sepanjang malam terbangun-bangun dari tidur.

Kadar oksigen pada tubuh akan turun dan naik selama tidur. Aktivitas simpatis juga meningkatkan kekentalan darah dan merusak dinding pembuluh darah. Kedua mekanisme ini yang diduga mengakibatkan perubahan pada struktur substansia alba di otak.

Penelitian

Penelitian yang diterbitkan pada jurnal kedokteran tidur SLEEP ini ingin melihat hubungan derajat keparahan mendengkur dengan perubahan pada struktur white matter/substansia alba otak. Perubahan pada substansia alba dikaitkan dengan berkembangnya stroke dan demensia.

503 orang peserta diperiksa di laboratorium tidur untuk mengetahui derajat keparahan dengkur/sleep apnea-nya. Kemudian para peserta dengan berbagai derajat keparahan sleep apnea ini diperiksakan struktur otaknya dengan menggunakan magnetic resonance imaging (MRI).

Keparahan sleep apnea dilihat dari indeks henti nafas perjam (AHI/ Apnea Hypopnea Index). AHI kurang dari lima dinyatakan normal, tak menderita sleep apnea. AHI 5-15 kali perjam merupakan sleep apnea ringan. AHI 16-30 sleep apnea sedang, dan AHI >30 kali perjam adalah sleep apnea yang berat.

Hasilnya, pendengkur dengan sleep apnea sedang dan berat, mempunyai risiko dua kali lipat untuk alami perubahan pada substansia alba-nya. Artinya pendengkur, jika menderita sleep apnea sedang-berat, punya risiko dua kali lipat untuk menderita stroke atau demensia.

Sleep Apnea dan Stroke

Penelitian ini sejalan dengan peneliti sebelumnya di tahun 2005 pada American Journal of Hypertension yang juga mengaitkan sleep apnea dengan stroke. Namun, kelompok peneliti ini lebih melihat efek penurunan kadar oksigen pada sleep apnea dengan angka kejadian stroke. Dua kelompok peneliti berbeda di Jepang juga melakukan penelitian yang sama. Keduanya menemukan tingginya angka penderita gangguan pembuluh darah otak dengan derajat keparahan sleep apnea.

Perawatan Sleep Apnea

Ngorok sudah tak dapat diabaikan lagi. Tapi jangan salah mengerti. Keparahan sleep apnea dilihat dari derajat henti nafasnya, bukan dari volume suara dengkuran. Berbagai penelitian semuanya melihat dari henti nafas yang dialami pendengkur. Tidak pada volume suara atau seberapa mengganggunya suara dengkuran tersebut.

Untuk mengetahui seorang pendengkur menderita sleep apnea atau tidak, diperlukan pemeriksaan seksama di laboratorium tidur.

Perawatan nantinya ditentukan dari hasil pemeriksaan tidur. Sementara ini yang paling banyak digunakan adalah perawatan dengan gunakan continuous positive airway pressure (CPAP). Sebuah alat yang meniupkan tekanan positif ke hidung pasien, untuk menjaga agar saluran nafas tetap membuka saat tidur.

Perawatan sleep apnea ditujukan untuk mengatasi henti nafas agar kesehatan dan kualitas hidup tetap terjaga serta menghidari cidera lebih lanjut pada otak. Tentu saja suara dengkuran pun akan hilang nantinya.

 

Orang Mendengkur Mudah Tertidur Saat Berkendara

Anda mendengkur? Hati-hati, penelitian dari the University Hospital di Leeds, Inggris, menyatakan bahwa pendengkur yang menderita sleep apnea, kemungkinan besar tertidur saat mengendara, dibandingkan dengan orang sehat.

Sleep Apnea

Sleep apnea adalah salah satu penyakit tidur yang paling banyak diderita, paling berbahaya dan paling diabaikan. Sebabnya mudah saja, mendengkur dianggap wajar. Padahal penderitanya ada dimana-mana, di sekeliling kita, atau bahkan diri kita sendiri menderita penyakit ini.

Sleep apnea memiliki dua gejala utama, mendengkur dan kantuk berlebihan atau disebut juga dengan istilah hipersomnia. Penderitanya memiliki saluran nafas yang melemas dan menyempit saat tidur. Akibatnya aliran udara tak dapat lewat walau gerakan nafas terus berusaha menarik. Karena sesak seolah tercekik, pendengkur terbangun sejenak untuk mengambil nafas tanpa tersadar. Ini terjadi berulang kali sepanjang malam, tak heran jika penderitanya bangun tak segar dan terus mengantuk sepanjang hari.

Penelitian

Dalam penelitian ini, sebanyak 133 penderita sleep apnea yang tidak dirawat dan 89 orang sehat diminta untuk menempuh 90 km dengan menggunakan simulator mengendara. Dinilai juga bagaimana mereka menyelesaikan jarak yang ditempuh dan bagaimana mereka merespons kecelakaan atau kondisi hampir mengalami kecelakaan.

Hasilnya, para pengemudi yang mendengkur dan menderita sleep apnea, kemungkinan besar gagal melalui test ini. Sebanyak 24% penderita sleep apnea yang belum dirawat gagal melalui test tersebut, dibanding yang sehat hanya 12%. Para pendengkur dengan sleep apnea ini tak dapat menyelesaikan test, tak dapat mengikuti instruksi selama test dan mengalami kecelakaan!

Selanjutnya sebanyak 118 penderita sleep apnea yang tak dirawat dan 69 orang sehat diminta untuk mengisi survey tentang pengalaman mereka berkendara sehari-hari dan selama menjalani test simulator. Hasilnya lebih dari sepertiga (35%) mengaku terantuk-antuk tertidur selama berkendara. Para peneliti mencatat sebanyak 38% pendengkur gagal menjalani test ini. Dibanding pada yang sehat hanya 11% yang tertidur. Para peneliti mencatat bahwa tak ada satu pun orang sehat yang gagal dalam test ini.

Walau pada kelompok yang sehat ada juga yang gagal menjalani test, tetapi penyebabnya bukanlah tertidur. 13 penderita sleep apnea tertidur dan keluar dari jalan sama sekali. Sementara sebanyak 5 orang, mengendara di luar jalur sebanyak 5% dari total test. Padahal jelas mereka diminta untuk terus berada di jalurnya.

Mengendara Dengan Kantuk

Mengendara dalam kondisi mengantuk sama bahayanya dengan berkendara sambil mabuk.

Berkendara dalam kondisi mengantuk dapat dianggap tak bertanggung jawab, karena mengemudi dalam kondisi tak layak. Jangankan tertidur, mengantuk saja sudah dianggap berbahaya, karena telah terjadi penurunan kemampuan konsentrasi, kewaspadaan dan refleks untuk menghindar.

The American Automobile Association menyatakan bahwa satu dari enam kecelakaan yang sebabkan kematian dan satu dari delapan kecelakaan yang akibatkan korbannya harus dirawat di rumah sakit, disebabkan oleh kantuk!

Para peneliti di Amerika menduga ada 70 juta penduduk yang menderita gangguan tidur. Akibat dari gangguan tidur adalah mengantuk. Resiko utama dari mengantuk adalah keselamatan di jalan.

Survei National Sleep Foundation di tahun 2012 cukup mengejutkan. Para pekerja transportasi ternyata mengaku mengantuk saat bekerja dan terganggu performanya sebagai akibat dari kantuk. Persisnya ada 26% operator kereta dan 23% pilot yang mengaku mengantuk, dibanding hanya 17% pekerja non transportasi.

Mendengkur dan Mengendara

Penelitian tadi hanya mempertegas sesuatu yang sudah lama diketahui. Bahkan peraturan di Inggris Raya dengan jelas memasukkan penderita sleep apnea sebagai kelompok pengendara yang beresiko.

Driver and Vehicle Licensing Agency (DVLA) pemerintah Inggris, menyatakan bahwa penderita sleep apnea diwajibkan untuk melaporkan dirinya. Kemungkinan besar penderita sleep apnea harus menyerahkan surat ijin mengemudinya.

Pihak rumah sakit di Inggris pun terus berkomunikasi dengan DVLA tentang kondisi pasiennya. Namun, selama pasien dalam perawatan CPAP dan terkontrol baik oleh dokter, pendengkur masih dianggap layak untuk mengendara.

Peraturan senada juga dapat ditemui di beberapa negara Eropa. Australia diketahui juga menerapkan hukum yang sama terhadap penderita sleep apnea.

Bagaimana dengan Indonesia?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.