Keselamatan Transportasi dan Kesehatan Tidur

“Mengendara dengan kantuk sama bahayanya dengan mengendara sambil mabuk.” – William Dement, bapak kedokteran tidur.

 

Kompas, Senin, 4 Oktober 2010 menuliskan bahwa Kepolisian Resor Pemalang, Jawa Tengah, secara resmi menetapkan masinis Kereta Api Argo Bromo Anggrek, M Halik Rudianto, menjadi tersangka karena mengantuk. Suatu pernyataan yang aneh, bagi kami praktisi kesehatan tidur. Masinis dianggap ‘lalai’ karena mengantuk. Tetapi kantuk sendiri sebenarnya bukanlah kelalaian! Kantuk bisa disiasati. Asal kita mengerti tentang anatomi kantuk itu sendiri. Apa saja penyebab kantuk? Bagaimana mengaturnya? Bagaimana juga agar menjaga stamina tetap “awas” pada jam-jam kita mengantuk?

Kantuk pada dasarnya disebabkan oleh kurang tidur. Baik kurang tidur yang disebabkan oleh jam tidur yang kurang, atau kurang tidur yang disebabkan oleh kualitas tidur yang buruk.

Kurangnya jam tidur bisa disiasati dengan mencukupi kebutuhan tidur sebelum berkendara/bekerja. Dengan kearifan dalam mengatur jadwal, perusahaan juga sebaiknya mengatur giliran kerja (shift work) sesuai dengan jam biologis manusia. Yaitu seturut jarum jam. Misalkan terdapat tiga giliran kerja, seorang pekerja sebaiknya memulai dengan dua hari gilir pagi, dua hari gilir siang, dua hari gilir malam dan dilanjut dengan dua hari istirahat.

Khusus bagi pekerja dengan pekerjaan yang monoton, gilir (shift) malam sebaiknya dapat bergantian tidur. Sebab pada jam-jam biologis kita tidur, dorongan kantuk amatlah kuat, terutama pada dini hari. Ini dapat kita lihat pada kecelakaan KA Argo Bromo yang terjadi pada sekitar pukul 3:00 dini hari. Bagi pengendara ini menjadi jam yang amat penting, karena disamping kantuk, refleks mengendara pun amat buruk. Kita bisa saja melihat rambu atau tandanya, tapi reaksi kita lamban.

Kecelakaan biasanya terjadi karena si pengendara masih merasa bisa mengendalikan kendaraan walaupun mengantuk. Salah satu contohnya adalah kecelakaan kapal tanker Exxon Valdez di tahun 1989 yang mengakibatkan sebuah bencana lingkungan. Menurut kesaksian juru mudi, ia dapat melihat karang, tetapi entah kenapa reaksinya untuk menghindar terlambat. Tapi sayang, media waktu itu lebih banyak meliput kebiasaan ‘minum’ nahkodanya.

Di sisi lain, banyak juga orang yang cukup tidur, namun merasa cepat lelah dan selalu mengantuk. Kondisi, yang di kalangan medis lebih dikenal sebagai Excessive Daytime Sleepiness (EDS) atau hipersomnia, disebabkan oleh buruknya kualitas tidur akibat gangguan tidur yang diderita. Penderita biasanya tak merasakan apa-apa. Ia merasa tidur lelap, hanya saja tak pernah cukup. Saat bangun ia merasa tak segar, dan mudah mengantuk di siang hari. Si penderita bukan kelebihan tidur, tetapi mengantuk berlebih. Gangguan tidur yang paling sering dijumpai adalah sindroma tungkai gelisah dan sleep apnea (henti nafas saat tidur.)

Sleep apnea adalah gangguan tidur yang paling sering terlewatkan karena gejalanya yang terlanjur dianggap wajar oleh masyarakat, yaitu mendengkur. Padahal gangguan yang menyerang 4% populasi pria dan 2% populasi wanita menurut Wisconsin Cohort Study ini selain membahayakan keselamatan berkendara, juga mengakibatkan penyakit kritis seperti hipertensi, berbagai gangguan jantung hingga stroke. Pada sleep apnea kantuk disebabkan oleh terpotong-potongnya proses tidur akibat periode henti nafas berulang yang tidak disadari oleh si penderita.

Ini dialami oleh seorang masinis Shinkansen (kereta cepat) di Osaka yang sudah beberapa waktu sering merasa lelah dan mengantuk tanpa bisa menjelaskan alasannya. The Japan Times (3 Maret 2003,) melaporkan bagaimana ia tertidur selama 8 menit sehingga kecelakaan pun terjadi. Di kemudian hari terungkap bahwa si masinis ternyata menderita sleep apnea. Sementara Kyodo News, 7 Juli 2004, memberitakan seorang pilot penerbangan domestik yang tertidur di cockpit ternyata juga menderita sleep apnea. Lain lagi yang dialami oleh seorang penerbang pesawat tempur F-16s AU Amerika yang harus di-grounded karena menderita gangguan tidur yang sama (Salt Lake Tribune, 14 Agustus 2003.)

Penderita sleep apnea juga menyimpan bahaya lain. Para ahli kesehatan kini sepakat bahwa sleep apnea merupakan salah satu penyebab dari berbagai penyakit fatal, seperti hipertensi, gangguan jantung dan stroke. Penelitian-penelitian terbaru bahkan telah membuktikan hubungan erat antara sleep apnea dan diabetes.

Pada sindroma tungkai gelisah, tidur terganggu akibat gerakan kaki perodik selama tidur. Gangguan yang dikaitkan dengan berbagai penyakit syaraf degeneratif ini, selain menyebabkan kantuk di siang hari juga mengakibatkan insomnia di malam hari. Penyebabnya adalah rasa ingin selalu menggerakkan kaki akibat rasa tidak nyaman jika berbaring lama.

Untuk membedakan berbagai gangguan tidur yang diderita diperlukan pemeriksaan polysomnography yang dilakukan di laboratorium tidur. Pemeriksaan yang telah menjadi standar internasional untuk mendiagnosa gangguan tidur ini terdiri dari perekaman gelombang otak, gerakan bola mata, teganggan otot dagu, aliran udara nafas, gerakan nafas, suara dengkuran, irama jantung dan gerakan kaki. Hasilnya adalah gambaran fungsi-fungsi tubuh saat tidur sepanjang malam yang mengarah pada diagnosa suatu gangguan tidur.

Gangguan-gangguan tidur ini mudah dikenali dan dapat dirawat dengan baik. Yang diperlukan hanyalah kepekaan terhadap kesehatan tidur. Atur tidur sekurangnya 8 jam perhari, niscaya kesehatan, kualitas hidup dan produktivitas pun akan meningkat. Sudah saatnya Indonesia lebih memperhatikan kesehatan tidur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: