Hilangkan Henti Nafas dengan CPAP

Majalah Dokter Kita, Januari 2010

Anda pernah mendengkur? Hati-hati. Bisa jadi Anda mengalami sleep apnea.

Sleep apnea atau lengkapnya Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah henti nafas saat tidur yang disertai dengan mendengkur. Menurut Praktisi Kesehatan Tidur, Dr. Andreas Prasadja, RPSGT, OSA dianggap berbahaya karena dapat menyebabkan beberapa penyakit seperti hipertensi, gangguan jantung dan storke. Bahkan berbagai penelitian pun menunjukkan hubungan erat antara diabetes dan sleep apnea.

Obstructive Sleep Apnea terjadi karena adanya penyumbatan jalan nafas. Penyumbatan jalan nafas ini bisa disebabkan oleh faktor anatomis jalan nafas, struktur rahang yang kecil dan neuromotor yang melemah.

Sedangkan anatomi jalan nafas yang sempit bisa disebabkan oleh bentuk leher yang pendek tetapi besar, besarnya pangkal lidah, melunaknya langit-langit mulut, pembesaran amandel dan adenoid, serta besarnya uvula atau anak lidah. Sementara struktur rahang yang kecil, seperti banyak terdapat pada orang Asia juga dapat mempersempit jalan nafas.

Suara dengkuran merupakan tanda penyempitan saluran napas atas. Ketika udara melawati saluran yang sempit, tekanannya akan meninggi. Tekanan inilah yang menyebabkan struktur jalan nafas yang lunak bergetar dan timbullah suara dengkuran.

Derajat Keparahan Sleep Apnea

Menurut Dr. Andreas, tidak semua jenis dengkuran itu sama. Ada orang yang mendengkur tanpa berhenti nafasnya dan ada juga yang dengan berhenti bernafas. Dengan berhenti nafas pun masih harus dibedakan lagi untuk menentukan derajat keparahan sleep apnea. Untuk mengetahuinya maka hanya dapat dilakukan dengan polisomnografi (PSG).

Derajat keparahan OSA diketahui dengan menghitung rata-rata jumlah berhenti nafas per jam (Apnea-Hypopnea Index/AHI). Pembagiannya sebagai berikut :
AHI 0-5/jam : normal, hanya mendengkur tetapi tanpa OSA.
AHI 5-15/jam : OSA ringan.
AHI 15-30/jam : OSA sedang, dan
AHI >30/jam : OSA berat.

Selain AHI, penurunan kadar oksigen dalam darah pun harus diamati. Sebab penurunan oksigen dihubungkan dengan meningkatnya angka kesakitan atau morbiditas akibat penyakit-penyakit kardiovaskular dengan OSA. Tak hanya itu, durasi periode berhenti bernafas juga harus diperhatikan. Untuk menilai gangguan pernapasan dalam tidur, syaratnya harus lebih dari sepuluh detik. Berhenti nafas yang berat bisa berlangsung lebih dari 30 detik, sedangkan yang terparah bisa mencapai 122 detik.

Penanganan Sleep Apnea
Seperti penanganan medis lainnya, perawatan sleep apnea juga dimulai dengan cara konservatif. Jika dinilai kurang memadai, maka dilanjutkan dengan tindakan invasif atau pembedahan.
Dijelaskan oleh Dr. Andreas, cara konservatif dimulai dengan usaha untuk menurunkan berat badan, tidur miring serta menghindari alkohol dan obat-obat hipnotik. Dengan tidur miring, maka lidah akan terjatuh ke samping sehingga tidak menghalangi jalan nafas. Efek alkohol memang dapat membantu awal tidur, tetapi juga dapat melemaskan otot-otot pernafasan sehingga dapat menyebabkan sleep apnea. Sementara itu, beberapa obat tidur pun dapat menghambat rangsang nafas.
Namun pilihan utama untuk merawat sleep apnea adalah dengan mengunakan masker hidung yang dihubungkan dengan unit Continuous Positive Airway Pressure (CPAP). Tantangan utama CPAP adalah perlunya pasien beradaptasi dengan masker dan tekanan dari alat.

Continuous Positive Airway Pressure pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Colin Sullivan di tahun 1981. Tahun 1985, CPAP sangat populer di kalangan medis sehingga digunakan secara luas di seluruh dunia. Sedangkan di Indonesia sendiri baru digunakan di tahun 2000-an. Kini CPAP menjadi standar emas bagi perawatan sleep apnea.
Meniupkan Udara Bertekanan Positif

Menurut Dr. Andreas, prinsip unit CPAP itu mudah. Alat tersebut akan meniupkan udara bertekanan positif untuk membuka sumbatan di jalan nafas. Dengan demikian, henti nafas yang menyebabkan proses tidur terpotong tidak terjadi.

Penggunaan CPAP memerlukan beberapa waktu untuk beradaptasi. Kebanyakan penderita dapat langsung merasakan manfaatnya. Namun edukasi tentang penggunaan, perawatan, dan cara beradaptasi menjadi sangat penting. Untuk itu, klinik gangguan tidur yang baik juga memiliki program CPAP trial, dimana tenaga kesehatan yang terlatih secara khusus dapat memperkenalkan dan melatih penderita menggunakan CPAP dengan baik dan nyaman.

Dr. Andreas mengatakan, pasien dengan OSA yang ringan, maka diindikasikan untuk menggunakan CPAP. Sedangkan untuk OSA sedang dan berat, maka diwajibkan untuk memakai CPAP.

Berbagai Jenis Masker
Dr. Andreas memberitahukan, ada berbagai jenis masker, yaitu :

1. Masker Hidung atau Nasal Mask. Ini adalah jenis masker yang banyak digunakan. Masker bisa menutupi hidung dengan sempurna dan menggunakan pengikat yang dapat menjaga masker tetap terpasang dengan baik selama tidur.

2. Masker Hidung & Mulut atau Full Face Mask. Masker jenis ini biasanya hanya diberikan pada penderita sleep apnea yang bernafas melalui mulut, meski telah mengenakan masker hidung.

3. Masker Bantalan Hidung atau Nasal Pillows/Cushions. Masker ini tidak menggunakan banyak pengikat ke kepala dan mempunyai bantalan khusus yang masuk ke lubang hidung. Biasanya digunakan oleh penderita yang memiliki rasa takut dengan penggunaan masker. Masker ini sering juga dipilih karena tidak terlalu banyak ikatan di kepala.

Selain itu, ada pula macam-macam CPAP seperti, Fixed yaitu CPAP dengan moda tekanan yang sama sepanjang malam; Auto-PAP yaitu CPAP dengan moda tekanan otomatis yang dapat disesuaikan sepanjang malam dengan kebutuhan pasien dan Bi-level PAP yaitu PAP dengan tekanan inspirasi (tarikan napas) dan ekspirasi (buang nafas) yang berbeda.

Dr. Andreas memberitahukan, CPAP ini dapat digunakan selama orang tertidur. Alat yang harga termurahnya sembilan jutaan ini minimal digunakan selama 4 jam dalam sehari. Dengan menggunakan CPAP, maka orang yang tadinya mendengkurpun menjadi tidak mendengkur sama sekali. Sehingga sleep apnea juga pastinya tidak terjadi. So.. jika Anda tidak ingin mengalami henti nafas, maka gunakan saja alat ini..tentunya dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter . Deppy Marlinda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: