Istirahat Dulu, Ngopi Kemudian

Tidak ada satu zat pun yang bisa menggantikan tidur.

Heru Triyono, Koran Tempo, 24 September 2009.

Entah firasat buruk apa yang merundung Andreas Prasadja pagi itu. Tiga kecelakaan sepeda motor secara berentetan terjadi di depan mata-kepalanya sendiri. Mulai perjalanan dari rumahnya di Cikini sampai tempat kerjanya di Kemayoran–dia melihat kejadian–peristiwa nahas itu terjadi di dekat Gambir, di Jalan Garuda, dan di Kemayoran.

Peristiwa ini terjadi pada pekan pertama Ramadan lalu. Menurut dia, sebagai ahli kesehatan tidur dari Rumah Sakit Mitra Kemayoran, rasa kantuk menjadi musabab rentetan kecelakaan tersebut.

Andreas, yang merupakan dokter kesehatan tidur pertama di klinik tidur pertama di Indonesia, menjelaskan, di bulan puasa banyak orang yang terlilit utang tidur karena mereka fokus menjalani ritual ibadah selama satu bulan penuh.

Dalam konteks mudik dengan berkendara sepeda motor atau mobil tentu saja sangat berbahaya bagi si pengendara dan orang lain. “Sayangnya, persepsi masyarakat bahwa rasa kantuk itu berbahaya sangatlah kurang,” ujar Andreas saat berbincang-bincang lewat telepon dengan Tempo Rabu pekan lalu.

Maka para pemudik harus memperhatikan kesehatan tidur sebelum mereka berkendara. Persiapkan dengan baik, mulai kondisi kendaraan dan kelengkapannya, hingga bekal makanan dan minuman berenergi–seperti kopi–demi menjaga stamina selama perjalanan jauh.

Dan jangan lupa tidur yang cukup sebelum berangkat. Sebab, menurut dokter berkacamata, ini tidak ada satu zat pun yang bisa menggantikan tidur–termasuk dengan minum kopi.

Saat mengantuk, segala fungsi yang diperlukan untuk berkendara bakal menurun drastis. Termasuk fungsi paling penting, yakni kemampuan refleks menghadapi kemungkinan kecelakaan. Kala itu pengendara mulai menguap untuk menarik lebih banyak oksigen ke otak. Mata pun mulai terasa pedih dan berair. Ini adalah tanda awal kantuk.

Untuk menyiasatinya, para pengendara menenggak kopi atau minuman berenergi. Dan rasanya, zat kafein berhasil sementara dalam menjaga kesadaran dan kesegaran mata.

Namun, Andreas menjelaskan bahwa kondisi yang dipulihkan kopi tersebut tidak menyentuh ihwal kewaspadaan dan kemampuan refleks. “Yang bagus adalah istirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanan setelah minum sedikit kopi atau minuman berenergi.”

Selesai istirahat sejenak bukan berarti risiko mengantuk sirna begitu saja. Saat perjalanan semakin jauh, bahaya tetap mengintai ketika tanpa sadar pengendara sudah masuk dalam periode tidur mikro yang ditandai dengan antukan kepala. Dalam banyak kasus, banyak pengendara mobil atau motor yang ditinggal tidur oleh penumpang lainnya, sehingga sang pengendara tidak punya pengalihan akan rasa kantuknya. “Seharusnya ada salah satu penumpang (di mobil) yang menemani,” kata Andreas.

Dari rasa lelah dan kantuk yang tak tertahankan itu, banyak pengendara yang lupa akan perjalanan yang mereka lalui selama 10-15 menit terakhir. Namun, pada umumnya mereka tetap meneruskan perjalanan dengan tenang.

Andreas memaparkan bahwa saat berkendara dengan rasa kantuk berat sebenarnya ada sebuah mekanisme otomatis yang membimbing mereka. “Tetapi saat itu otak sebenarnya sudah tertidur, sudah shutdown, dan pengendara menyetir pure dengan insting,” dia menjelaskan.

Lebih jauh, berkendara–siang maupun malam hari–sama berisikonya. Dengan kelelahan hari raya dan utang tidur yang menumpuk, kantuk akan tetap menyerang dengan intensitas yang sama. Namun, menurut Andreas, manusia itu adalah makhluk cahaya yang beraktivitas di siang hari dan istirahat di malam hari. Semua diatur oleh jam biologis yang menentukan kapan beraktivitas dan kapan harus beristirahat. Bila orang beraktivitas di saat seharusnya istirahat, jam biologis secara otomatis akan mendatangkan kantuk.

Tip dari Andreas, bagi pemudik yang berusia di atas 30 tahun, tidur 15 menit sudah bisa mencukupi satu siklus tidur. Lalu kenali juga gangguan-gangguan tidur yang menyebabkan kantuk berlebih. Seperti sleep apnea (ditandai dengan mendengkur), sindroma tungkai gelisah (kaki gerak-gerak saat tidur), dan narkolepsi atau sleep attack.

Suara musik dari walkman atau speaker mobil tetap tidak efektif memulihkan rasa kantuk. Karena itu, kenalilah tanda-tanda kantuk yang dapat membahayakan. “Berkendara dalam kondisi mengantuk sama bahayanya dengan berkendara sambil mabuk,” Andreas mengingatkan.HERU TRIYONO

Tanda-tanda kantuk mulai membahayakan:
– Kehilangan konsentrasi, sering mengerjapkan mata atau mata terasa berat
– Pikiran menerawang
– Sulit mengingat yang telah dilewati, melewatkan rambu atau lampu lalu lintas
– Berulang kali menguap dan mengusap-usap mata
– Sulit menjaga kepala dalam posisi tegak
– Melenceng dari jalur, dan melanggar marka-marka jalan
– Merasa lelah dan mudah emosi

Apakah Anda berisiko? Sebelum berangkat periksa apakah Anda:
– Kurang tidur atau lelah (tidur kurang dari 6 jam memicu risiko 3 kali lipat)
– Menderita insomnia, gangguan tidur yang menimbulkan kualitas tidur buruk (mendengkur), atau menanggung banyak utang tidur
– Melakukan perjalanan jarak jauh tanpa jeda istirahat yang cukup
– Berkendara pada jam-jam tidur
– Mengkonsumsi obat-obatan yang membuat kantuk (antihistamin, antidepresan)
– Bekerja lebih dari 60 jam seminggu (meningkatkan risiko hingga 40 persen)
– Mengerjakan dua pekerjaan sekaligus dan pekerjaan utamanya dengan shift malam
– Meminum minuman beralkohol (walau sedikit)
– Berkendara sendirian atau melewati jalan yang panjang, sepi, dan membosankan

Sebelum berkendara, pengemudi sebaiknya:
– Tidur cukup. Pada orang dewasa 7,5-8,5 jam, sedangkan pada remaja atau dewasa muda (18-29 tahun) 8,5-9,25 jam. Persiapan tidur sebaiknya sudah dimulai, sekurangnya tiga hari sebelum keberangkatan.
– Untuk perjalanan jauh, usahakan jangan berkendara sendirian. Teman seperjalanan dapat membantu melihat tanda-tanda kantuk dan dapat menggantikan untuk sementara waktu. Penumpang sebaiknya tidak tidur dan mengobrol dengan pengendara.
– Hindari alkohol dan obat-obatan yang menyebabkan kantuk.
– Berkonsultasilah pada dokter atau klinik gangguan tidur jika mengalami kantuk berkepanjangan, sulit tidur di malam hari, dan/atau tidur mendengkur.

Sumber: buku Ayo Bangun! dengan Bugar karena Tidur yang Benar (dr Andreas Prasadja RPSGT, ahli kesehatan tidur Sleep Disorder Clinic, RS Mitra Kemayoran)HERU TRIYONO

Link: http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/09/24/Gaya_Hidup/krn.20090924.177089.id.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: