Anda Mengantuk ?

Mengantuk itu bukan sifat pemalas, itu artinya Anda butuh tidur lebih banyak. Jika tidur sudah cukup, Anda tidak akan merasa mengantuk dan produktivitas juga akan meningkat.

Nah, berikut ini adalah tanda Anda membutuhkan tidur:

  1. Anda membutuhkan alarm untuk bangun. Jika sudah cukup tidur, Anda dapat bangun tepat waktu tanpa perlu alarm. Apabila Anda memerlukan beberapa kali bunyi alarm sampai akhirnya bangun, berarti kekurangan tidur cukup parah!
  2. Mengendara sambil mengantuk. Apapun moda kendaraannya, mengendara merupakan aktivitas monoton yang memicu kantuk. Namun penyebabnya sendiri jelas tidur yang kurang. Mengendara saat mengantuk merupakan penyebab utama kecelakaan lalu lintas.
  3. Sering berdekatan dengan coffee maker. Menikmati aroma kopi di pagi hari memang nikmat, tetapi jika sepanjang hari membutuhkan kafein untuk tetap beraktivitas jelas ada yang salah dengan tidur Anda.
  4. Sering membuat kesalahan. Ketika lelah dan mengantuk tentu saja jadi sulit berkonsentrasi. Ketelitian juga menurun drastis, akibatnya satu pekerjaan jadi tertunda akibat kesalahan-kesalahan yang dibuat.
  5. Jadi pelupa. Keadaan kurang tidur akan menurunkan kemampuan mengingat, terutama ingatan jangka pendek seperti lupa menaruh kunci, lupa akan janji temu atau isi rapat.
  6. Anda mudah tersinggung dan marah. Kurang tidur juga menyebabkan mood kita terganggu. Akibatnya kita mudah jatuh dalam kondisi depresi, cemas atau frustasi.
  7. Sering sakit. Daya tahan tubuh hanya bekerja optimal pada saat tidur. Tanpa tidur yang cukup, tubuh akan sulit untuk melawan berbagai virus dan kuman.

Kurang tidur harus dipahami sebagai sebuah keadaan, bukan hanya kurangnya jam tidur. Kondisi kurang tidur bisa juga dialami oleh orang yang sudah cukup tidur, namun kualitas tidurnya yang kurang. Orang-orang ini merasakan gejala-gejala di atas, tapi tidurnya sudah cukup. Ini disebut sebagai kantuk berlebihan atau hipersomnia. Mereka selalu mengantuk dan lelah walau sudah cukup tidur.

Mendengkur adalah Kutukan Ondine

Ondine adalah seorang peri air dari mitologi Jerman. Sebagai seorang peri tentu saja ia amat cantik dan abadi. Pada suatu ketika, ia jatuh cinta pada seorang manusia biasa dan mengorbankan keabadiannya dengan menikahi Sir Lawrence, sang ksatria. Dalam upacara pernikahan, Lawrence mengucapkan sumpah: “My every waking breath shall be my pledge of love and faithfulness to you.”

Namun, setahun sesudahnya Ondine melahirkan anak bagi sang kekasih, dan perlahan proses penuaan pun mulai menyerang. Kecantikan Ondine memudar seiring dengan cinta sang suami. Lawrence pun mulai melirik gadis-gadis muda di sekelilingnya.

Suatu sore, Ondine sedang berjalan-jalan melewati kandang kuda dan ia mendengar suara dengkuran Lawrence yang amat dikenalinya. Di dalam salah satu istal ia melihat suaminya sedang terlelap sambil memeluk seorang perempuan muda. Pada saat itu ia pun murka, dan menunjuk sang suami. Seketika Lawrence merasa sesak dan terbangun. Ondine pun menjatuhkan kutuk: “You swore faithfulness to me with every waking breath, and I accepted your oath. So be it. As long as you are awake, you shall have your breath, but should you ever fall asleep, then that breath will be taken from you and you will die!”

Untuk selanjutnya “Kutukan Ondine” menjadi semacam nama tradisional bagi sindroma henti nafas saat tidur atau sleep apnea. Sleep apnea ditandai dengan tidur mendengkur dan rasa kantuk berlebih. Episode henti nafas diantara dengkuran akan membangunkan penderitanya akibat sesak nafas. Hanya saja episode bangun biasanya tidak disadari oleh si pendengkur. Sleep apnea menjadi fatal, karena menjadi penyebab tekanan darah tinggi, diabetes, berbagai penyakit jantung, stroke, hingga kematian. Penelitian terakhir juga menunjukkan bahwa sleep apnea menyebabkan kerusakan otak permanen.

Sering Mengantuk

Jangan anggap remeh jika sering mengantuk. Kantuk yang selalu datang jelas akan mengganggu aktivitas, dan pada akhirnya akan menurunkan produktivitas. Kreativitas dan kemampuan analisa jelas menurun. Begitu pula dengan stabilitas emosi.

Selalu mengantuk juga membahayakan jiwa, terutama jika mengendara atau mengoperasikan alat-alat berat. Kecelakaan kapal tanker Exxon Valdez dan pabrik Chernobyl menjadi contoh terpopuler kecelakaan akibat kantuk.

Mengantuk sekali-sekali dan selalu mengantuk jelas berbeda. Selalu mengantuk walau tidur sudah cukup disebut kantuk berlebih atau hipersomnia.

Ketika sering mengantuk cobalah periksa apakah Anda sudah cukup tidur?

Orang dewasa pada umumnya butuh tidur 7-8 jam seharinya. Sementara kebutuhan tidur kelompok usia remaja-dewasa muda (akhir 20-an) adalah 8,5-9,25 jam perhari. Jika sering mengantuk dan tidur 6-7 jam saja seharinya wajar jika masih mengantuk. Sebelum menebak-nebak atau terus mengonsumsi stimulan, cobalah untuk menambah jam tidur terlebih dahulu.

Hipersomnia

Seperti halnya insomnia, hipersomnia adalah salah satu gejala gangguan tidur. Seorang yang mengalami hipersomnia sebenarnya mudah sekali dikenali. Ciri-cirinya ia mengantuk walau sudah cukup tidur. Jika mengantuk karena tidur yang kurang, itu bukan hipersomnia.

Gangguan-gangguan Tidur dengan Gejala Hipersomnia:

Sleep Apnea merupakan gangguan tidur penyebab hipersomnia yang paling umum dan paling mudah dikenali. Cirinya mudah saja: mendengkur. Tetapi sleep apnea justru gangguan tidur yang paling berbahaya karena ia menyebabkan hipertensi, gangguan jantung, diabetes hingga stroke.

Periodic Limb Movements in Sleep, Gerakan Periodik Tungkai saat Tidur ditandai dengan gerakan-gerakan kaki pada saat tidur. Gerakan telapak kaki biasanya dikenali oleh pasangan.

Narkolepsi, sering disalah artikan oleh kebanyakan orang sebagai kantuk berlebih, hipersomnia. Sebenarnya hipersomnia hanyalah salah satu gejalanya saja. Gejala lainnya adalah katapleksi, hypnagogic hallucination dan lumpuh tidur. Lumpuh tidur dan hypnagogic hallucination di Indonesia dikenal sebagai fenomena ketindihan atau ereup-ereup. Sementara katapleksi adalah tubuh layu lumpuh setelah dipicu emosi yang kuat, terutama gembira.

“Mendengkur” Opini TVone

O klinik ” Tidur Sehat di Bulan Ramadhan “

 

TraxFM

Atasi Ngorok di Lintas Siang TPI

Kesehatan Tidur di Healthy Life Metro TV

TIDUR untuk Sehat dan Awet Muda

Jam biologis tubuh yang tidak sesuai dengan jadwal aktivitas kehidupan yang makin sibuk masa kini, memunculkan berbagai gejala gangguan tidur. Panduan para ahli berikut ini akan membantu Anda agar tetap bisa mendapatkan tidur yang berkualitas.

Saking otomatisnya aktivitas tidur, kita cenderung mengabaikannya, sampai suatu ketika kita mengalami gangguan tidur. Dalam keadaan demikian, barulah kita merasakan betapa pentingnya tidur.

Ketika tidur, tubuh memusatkan sebagian besar energinya untuk proses penyerapan dan asimilasi zat makanan, regenerasi sel, juga detoksifikasi. Jadi, kurang tidur akan menghambat proses tersebut dan mengganggu metabolisme tubuh.

Tidur juga sangat penting untuk memulihkan kondisi mental. Kurang tidur bisa membuat orang linglung, begitu  menurut Sean Drummond, peneliti ilmu kedokteran tidur (sleeping medicine) dari University of California, USA.. Jika seseorang  terjaga sepanjang 21 jam tanpa tidur, kemampuan kognitifnya anjlok. Ia pun bisa sempoyongan seperti mabuk.

Berita baiknya, kondisi itu bisa berlaku sebaliknya. Bahwa beberapa jam tambahan tidur nyenyak pada malam hari atau siang bisa memperbaiki  konsentrasi yang menjadi dasar kemampuan kognitif seseorang. Jadi hanya dalam keadaan tidur nyenyaklah tubuh mampu menyembuhkan dan mempertahankan kesehatannya.

Bukan hanya insomnia

Sampai saat ini kasus insomnia atau kurang tidur merupakan gangguan tidur yang paling banyak dikeluhkan sehingga topik ini menjadi bahasan penting dalam Konferensi Nasional Psikoterapi III,  yang baru lewat pada awal Mei 2010 lalu di Jakarta. Angka prevalensi insomnia di Indonesia menurut penyelenggara konferensi adalah 10% dari jumlah penduduk, sementara di Amerika 10-15%. Tingginya angka kejadian di sini disebabkan karena penanganan  insomnia belum memadai (Tempo, 16 Mei 2010).

Ahli kesehatan tidur, Dr Andreas Prasadja, RPSGT dari Klinik Gangguan Tidur (Sleep Disorder Clinic), Ruimah Sakit Mitra Kemyoran Jakarta, menyatakan yang lebih penting diwaspadai sekarang ini bukan sekadar gejala insomnia, namun hipersomnia (serangan kantuk berlebihan), yang antara lain disebabkan oleh sleep apnea (yang ditandai dengan tidur mendengkur) atau henti napas saat tidur dan bisa berakibat fatal dan mematikan. Banyak penderita tidak menyadarinya.

Kurangnya informasi dan pandangan umum masyarakat di sini bahwa mendengkur hanya kebiasaan memalukan dari tidur, menyebabkan kasus henti napas ini tidak pernah secara tuntas dikonsultasikan kepada ahlinya.  Apalagi disembuhkan.

Banyak kejadian serangan stroke di kamar mandi pada pagi hari, tidak bisa dianggap hal yang biasa. Ilmu kedokteran tidur menengarainya sebagai kemungkinan kualitas tidur  yang sangat buruk pada malam sebelumnya.  Penderita mengalami gangguan henti napas yang menyebabkan penurunan kadar oksigen dalam darah yang drastis pada saat menjelang pagi.

Berapa lama kecukupan tidur ?

Orang dewasa sehat jika diberi kesempatan tidur dalam waktu yang tidak terbatas, akan tidur rata-rata antara 8-8.5 jam sepanjang malam.  Namun kebutuhan tidur masing-masing orang akan berubah sepanjang tahun sesuai perjalanan umur.

Sedang, rata-rata, bayi yang baru lahir akan tidur 16-18 jam, anak-anak pada masa sekolah 10-12 jam sehari-semalam, sedangkan  remaja sekitar 9 jam. Adanya perubahan hormonal pada remaja akan mengubah siklus menjadi tidur lebih malam. Beban kerja otak juga bisa menjadi penentu kebutuhan tidur seseorang. Semakin berat beban kerja otak makin banyak diperlukan waktu tidur dibandingkan mereka yang hidupnya lebih santai.

Hormon dan aktivitas tidur

Selain aktivitas gelombang otak, dalam  fase tidur berlangsung  aktivitas hormonal yang memungkinkan sistem tubuh bekerja secara sinergi dan menjadikan tidur sangat  bermanfaat  bagi penyembuhan dan peremajaan diri, demikian penjelasan dokter ahli naturopati, Dr Amarullah H. Siregar, DIHom, DNMed, PhD. (N)

Penulis : Endang Ariani

Simak artikel lengkapnya di Nirmala 06/Tahun 11, edar 1 Juni 2010

link: http://www.nirmalamagazine.com/articles/viewArticleCategory/16/page:4

Majalah Dokter Kita, EDISI 5 – THN V – MEI 2010