Kenali Gejala Gangguan Tidur sejak Dini

Koran Jakarta, Kamis, 19 Nopember 2009

Sering dijumpai, banyak orang berupaya untuk membuat tubuhnya terus bugar dengan mengabaikan aktivitas tidur.

Mereka kerap hanya mengonsumsi berbagai vitamin penjaga stamina tubuh, kafein, cokelat, dan obat-obatan yang terkategori sebagai penstimulan.

Namun, sebenarnya zat-zat itu hanya dapat menghilangkan kantuk tanpa bisa mengembalikan kebugaran mental dan daya tahan tubuh seseorang. Tidak ada satu pun zat yang dapat menggantikan efek pemulihan dari tidur.

Sedemikian pentingnya proses tidur hingga menyebabkan bayi yang baru lahir menghabiskan waktu selama 22 jam dalam sehari untuk tidur. Hal itu untuk menjamin proses tumbuh kembang yang normal. Tidak hanya itu, sistem daya tahan tubuh manusia hanya bekerja optimal pada saat tidur.

Pada kenyataannya, tidak sedikit orang yang berada dalam kondisi letih tidak merasakan kantuk. Jika kondisi itu terjadi, mesti diwaspadai sebagai salah satu gejala insomnia. Resti Muliawan, pegawai biro advertising di Jakarta, mengakui setidaknya empat kali dalam sepekan dia merasakan kesulitan tidur.

“Padahal sudah capek banget, pulang kerja inginnya langsung tidur, tetapi mau tidak mau harus terjaga sampai jam 2 pagi. Besoknya, jam 6 pagi harus bangun lagi. Rasanya rontok badan ini,” keluhnya.

Insomnia terbagi ke dalam dua jenis, yaitu transient insomnia dan insomnia jangka pendek. Transient insomnia ialah kesulitan tidur hanya beberapa malam. Sedangkan insomnia jangka pendek merupakan kesulitan tidur yang berlangsung selama dua hingga empat pekan.

Kedua jenis insomnia itu biasanya menyerang orang yang sedang mengalami stres, berada di lingkungan yang ramai, atau berada dalam penyesuaian waktu yang berbeda hingga mengakibatkan jetlag.

Jika hampir setiap malam seseorang mengalami kesulitan tidur dalam jangka waktu lama, orang itu berarti telah menderita insomnia kronis.

Ada beberapa hal penyebab insomnia kronis, di antaranya ialah depresi, penyalahgunaan kafein, alkohol, dan melakukan kegiatan malam hari.

Menurut Andreas Prasadja, ahli kesehatan tidur pertama di Indonesia dari RS Mitra Kemayoran, Jakarta, banyak hal bisa dilakukan untuk mencegah insomnia.

Salah satunya, tidak mengonsumsi kafein dalam jangka waktu sembilan jam sebelum tidur. Pasalnya, kafein yang turut mengalir ke dalam darah akan hilang dalam waktu 9 sampai 12 jam.

Hal lain yang mesti dihindari ialah melakukan olah raga kurang dari tiga jam sebelum tidur. “Olah raga memang membuat tubuh lelah, tetapi justru meningkatkan kadar adrenalin yang menyegarkan otak.

Dan yang terpenting satu jam sebelum tidur, tinggalkan semua pekerjaan dan biasakan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran dengan kegiatan-kegiatan menyenangkan namun bersifat santai,” papar Andreas yang kerap dipanggil Ade itu.

Selain insomnia, gangguan tidur lainnya yang juga kerap membahayakan kesehatan ialah sleep apnea atau henti napas.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat, menemukan risiko kematian pada penderita sleep apnea berat mencapai 46 persen. Risiko terbesar menimpa kaum pria yang berusia 40 hingga 70 tahun.

Para peneliti itu menyatakan orang-orang yang mengalami gangguan napas selama tidur berisiko lebih tinggi mengalami kematian ketimbang mereka yang tidak menderita sleep apnea. Gangguan itu terjadi akibat penyempitan saluran napas selama tidur. Alhasil, pasokan oksigen akan berulang kali terhenti sepanjang malam.

Ketika tidur, saluran napas melemah hingga menyempit. Saat menyempit itulah aliran udara terhambat sehingga menggetarkan dinding saluran napas yang lembek.

Kondisi itu menimbulkan suara dengkuran. Dalam proses tidur selanjutnya, jalan napas yang melemah itu dapat menyempit total hingga mengakibatkan tersumbatnya jalan napas.

Hingga saat ini tidak ada obat yang bisa menghilangkan pelbagai gangguan tidur, selain melakukan operasi pembukaan saluran napas ataupun penggunaan alat Continuous Positive Air Way Pressure (CPAP).

Alat itu, kata Ade, merupakan alat yang memberikan dorongan untuk membuka saluran pernapasan yang menyempit. Bentuk CPAP mirip masker yang dilengkapi tabung kecil untuk memompa udara bertekanan positif ke dalam saluran pernapasan.

Mengingat belum adanya obat yang manjur untuk mengatasi berbagai gangguan tidur, Ade menyarankan sebaiknya setiap orang segera tanggap mengenali gejala-gejalanya. Dengan demikian, gangguan tidur pun bisa diatasi sedini mungkin.

link: http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=38144

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: