Kita Tak Perlu Stimulan Sepanjang Waktu!!!

Sebuah berita di Kompas.com November 2008 lalu menceritakan meningkatnya penderita payah ginjal kronik di usia muda (20-40 th.) Dalam artikel tersebut, dikatakan bahwa peningkatan ini diduga kuat akibat konsumsi rutin serbuk atau minuman penambah stamina, hingga zat kimia tak tercerna menumpuk di ginjal. Akibatnya ginjal jadi rusak dan si penderita membutuhkan proses cuci darah secara rutin.

Sedih sekali membaca artikel seperti ini. Manusia Indonesia, terutama di usia produktif, dituntut untuk selalu cepat, cerdas dan tepat. Tak heran jika banyak orang muda yang atas nama produktifitas ingin selalu tampil penuh vitalitas, akhirnya memilih untuk mengkonsumsi stimulan. Pola konsumsi ini diperburuk dengan peran media yang mempromosikan berbagai minuman stimulan yang menjanjikan kemampuan kerja baik fisik maupun mental secara artifisial, tanpa memberi peringatan pada konsumennya.

Vitalitas

Sepanjang sejarah peradaban, manusia ingin selalu merasa segar dan penuh vitalitas seperti saat bangun tidur. Untuk itu dicarilah berbagai zat stimulan yang dapat memacu stamina. Mulai dari coklat, kopi hingga koka, semua ditujukan untuk meningkatkan vitalitas. Namun, hingga di era pengobatan modern, manusia masih belum dapat menemukan satu zat pun yang bisa memberi efek menyegarkan seperti saat bangun tidur. Minuman stimulan yang ada saat ini, hanya dapat menghilangkan kantuk dan memacu semangat tanpa benar-benar meningkatkan kemampuan mental seseorang. Itu sebabnya beberapa ahli tidak setuju dengan istilah stimulan, mereka lebih nyaman dengan menyebut zat-zat tersebut sebagai hipnolitik (menghilangkan kantuk.)

Produktifitas

Di era penuh persaingan, tidur dianggap sebagai suatu proses yang membuang-buang waktu. Padahal kita menghabiskan 1/3 hidup kita untuk tidur. Jika tidur tidak bermanfaat, pasti kemampuan Sang Pencipta patut dipertanyakan.

Kemampuan mental dan kognitif seseorang diperbarui selama tidur. Begitu pula dengan kondisi emosional. Di era penuh persaingan, bukan hanya kecerdasan, kecepatan dan ketepatan seseorang yang menentukan. Tetapi diperlukan juga motivasi serta kemampuan untuk mengambil keputusan dengan tenang dan dingin. Untuk itu diperlukan kondisi emosional yang sehat. Apalagi kemampuan seseorang menghadapi krisis. Jika seseorang berada dalam kondisi emosional yang “kacau balau,” bukankah ia lebih mudah terserang stress.?

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh National Sleep Foundation pada remaja di Amerika menunjukkan bahwa mereka yang mencukupi kebutuhan tidurnya tidak saja memiliki prestasi akademis dan olah raga yang gemilang, tetapi kelompok ini juga cenderung lebih bahagia dan terhindar dari berbagai kenakalan remaja.

Orang yang sedang dalam kondisi kurang tidur, sering salah mengambil keputusan akibat status emosi yang meletup-letup. Kemampuan untuk melihat permasalahan akan menurun apalagi untuk memecahkannya.

Kesehatan Tidur

Untuk mendapatkan produktifitas yang tinggi, perhatikanlah jam biologis Anda. Dalam tubuh ada jam biologis yang berdetak membuat seseorang penuh vitalitas pada jam-jam tertentu dan mengantuk pada jam lainnya. Susun jadwal berdasarkan jam biologis tersebut.

Misalkan di pagi hari Anda merasa segar bugar, jadwalkan aktivitas pagi untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan penting yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Jika pada tengah hari anda biasanya sudah merasa penat dan sulit berkonsentrasi, manfaatkan waktu dengan pekerjaan yang lebih menuntut aktivitas fisik. Jika tidak memungkinkan, luangkan waktu sejenak untuk melakukan peregangan atau cobalah berolah raga sedikit. Sekedar naik turun tangga beberapa saat sudah dapat meningkatkan adrenaline hingga memacu semangat.

Di sore hari, saat Anda sudah amat lelah. Hindari konsumsi stimulan, sebab ini dapat mengganggu pola istirahat Anda di malam hari. Buat juga jadwal dimana Anda menghentikan semua pekerjaan, untuk memberikan kesempatan pada tubuh, pikiran dan emosi meredakan ketegangannya. Jika Anda merasa amat mengantuk di sore hari, jangan tidur dulu. Ini dapat menghilangkan hutang tidur yang kita butuhkan untuk terlelap di malam nanti.

Di malam hari, tidurlah dengan teratur sesuai dengan kebutuhan jam biologis. Pertimbangkan jam berapa Anda akan bangun pagi. Sesuaikan dengan jadwal biologis Anda. Misalkan ada beberapa orang dewasa muda yang memang baru mengantuk di tengah malam. Kalau memang begitu jangan memaksakan diri untuk tidur pukul 21.00. Jika Anda tidak dapat memenuhi kebutuhan tidur harian, pertimbangkan untuk membayar utang tidur di akhir pekan.

Ada kalanya, kita membutuhkan asupan stimulan. Misalkan akan mengendara jarak jauh, menghadiri berbagai rapat seharian atau mengerjakan proyek penting yang sudah jatuh tenggat waktu. Aturlah konsumsinya agar tidak mengganggu proses tidur dimalam harinya. Ingat, kafein misalnya, akan berpengaruh selama 9-15 jam di dalam tubuh. Tentu saja harus dibarengi dengan mencukupi kebutuhan tidur sebgai persiapan.

Sekedar peringatan, jika Anda merasa sudah cukup tidur namun masih merasa capek, lelah, mengantuk, serta sulit berkonsentrasi di siang hari, mungkin Anda menderita gangguan tidur. Ini saatnya Anda memeriksakan diri ke dokter. Ingat, gangguan tidur bukan insomnia semata. Ada beberapa gangguan tidur lain yang justru memberikan gejala berupa rasa kantuk berlebih, walaupun sudah cukup tidur. Gejala ini disebut hipersomnia. Beberapa gangguan tidur dengan gejala hipersomnia antara lain sindroma tungkai gelisah, narkolepsi dan sleep apnea (mendengkur.)

Akhir kata, Anda tidak memerlukan zat stimulan secara rutin. Ada masa-masanya ketika Anda membutuhkan stimulan. Sedangkan untuk menjaga produktivitas setiap harinya, tidurlah dengan sehat!

Berita kompas: http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/17/00592499/usia.muda.makin.rentan.gagal.ginjal

Sleep Apnea Meningkatkan Resiko Kematian Hingga 46%

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Naresh Punjabi dan kawan-kawan dari Johns Hopkins University menemukan bahwa resiko kematian pada penderita sleep apnea berat adalah 46%. Resiko ini jelas nampak pada pria usia 40-70 tahun.

Mereka mengatakan bahwa orang-orang dengan gangguan nafas selama tidur ini mempunyai resiko lebih tinggi untuk mengalami kematian oleh berbagai sebab dibandingkan dengan orang lain yang tidak menderita sleep apnea.

Sleep apnea adalah sebuah gangguan tidur berbahaya yang ditandai dengan tidur mendengkur dan rasa kantuk berlebih di siang hari. Lebih jauh lagi, sleep apnea mengakibatkan hipertensi, berbagai gangguan jantung, diabetes dan stroke. Sleep apnea terjadi akibat penyempitan saluran nafas selama tidur. Akibatnya pasokan oksigen akan berulang kali terhenti sepanjang malam.

Penelitian yang diterbitkan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia pada Public Library of Science journal PLoS Medicine ini meneliti 6.400 orang selama 8 tahun. Mereka yang telah terdiagnosa dengan sleep apnea berat lebih rentan 46% mengalami kematian oleh berbagai sebab.
Dalam populasi penelitian, diantara pria, 42,9% tidak mempunyai gangguan nafas selama tidur, 33,2% terdiagnosa dengan sleep apnea ringan, 15,7 % sedang dan 8,2%-nya mengalami sleep apnea yang parah. Sedangkan pada wanita 25% diantaranya terdiagnosa dengan sleep apnea ringan, 8% sleep apnea sedang dan 3% nya sleep apnea berat.

Menurut para peneliti tersebut, mereka yang dengan sleep apnea berat, dapat berhenti nafas selama 20-30 detik dan terbangun (namun tidak sampai tersadar dari tidur.) Derajat keparahan sleep apnea dilihat dari jumlah henti nafas perjam (AHI/apnea hypopnea index) dimana 0-5 kali perjam artinya mendengkur normal tanpa henti nafas, 5-15 kali perjam sleep apnea ringan, 15-30 kali perjam sleep apnea sedang dan lebih 30 kali perjam berarti sleep apnea berat. Pemeriksaan tidur dilakukan di laboratorium tidur dengan menggunakan alat polysomnography (PSG.)

Dibandingkan dengan pengalaman kami di Mitra Kemayoran, sleep apnea terberat pernah mencapai 109 kali perjam dengan durasi henti nafas terlama mencapai 120-an detik dan kadar oksigen terendah mencapai kurang dari 50%! Tentu saja ini amat berbahaya.

Data dari the National Heart, Lung, and Blood Institute menyebutkan bahwa 12 juta penduduk dewasa Amerika menderita sleep apnea. Sedangkan menurut the National Sleep Foundation diperkirakan mencapai 18 juta orang. Sayangnya di Indonesia belum ada penelitian berskala nasional yang memperhatikan gangguan tidur yang fatal ini. Mengingat struktur rahang ras Asia yang lebih sempit, dicurigai Indonesia memiliki lebih banyak penderita sleep apnea.

Menurut Dr. David Rapoport dari New York University yang juga turut serta dalam penelitian, perawatan terbaik saat ini adalah dengan menggunakan CPAP (continuous positive airway pressure), berupa masker yang memberikan udara bertekanan untuk membuka saluran nafas selama tidur. Sementara alternatif lainnya merupakan pembedahan, termasuk didalamnya pengangkatan amandel jika diperlukan. Pilihan lain adalah dengan menggunakan alat mulut yang bisa mendorong rahang bawah maju.

Kafein, dan Masyarakat Pecandu Stimulan

Masyarakat kita adalah masyarakat pecandu stimulan. Lihat saja, betapa mudah kita menemukan dan menikmatinya setiap hari. Anda tahu stimulan apa? Kopi.

Alkisah, seorang penggembala Ethiopia bernama Kaldi melihat salah satu kambing gembalaannya mempunyai vitalitas luar biasa setelah mengunyah biji-bijian berwarna merah. Kambing itu seolah menari-nari dari satu tanaman kopi ke tenaman kopi yang lain, sehingga kisah ini juga dikenal sebagai kisah “Kambing yang Menari.” Sejak saat itu pula kopi mulai digunakan sebagai stimulan pembangkit semangat dan mempertahankan vitalitas. Para pejuang Ethiopia dikenal dengan kebiasaan mereka mengunyah biji kopi yang telah digiling dan dicampur dengan lemak sebagai bekal perjalanan jauh ataupun untuk meningkatkan semangat dalam berperang.

Maka kopi pun mulai dikenal di benua Afrika. Pada perkembangan selanjutnya, kopi mulai dinikmati sebagai minuman di dunia Islam. Bahkan kaum Sufi amat menyukai minuman ini karena efeknya yang menunda kantuk. Bersamaan dengan penyebaran Islam ke seluruh Asia, kopi pun ikut menyebar dan menjadi minuman populer di kalangan bangsawan muslim. Sementara ke belahan Barat, kopi turut dibawa dalam proses kolonialisme. Orang Barat menamai minuman ini dengan sebutan “Arabian Wine.”

Kafein

Kopi mendapatkan popularitas karena efeknya yang menunda kantuk, memberikan rasa senang dan bersemangat serta membangkitkan vitalitas peminumnya. Ini disebabkan oleh efek kafein pada Reticular Ascending System dan reseptor adenosin. Adenosin adalah zat yang menyebabkan kantuk. Dengan memblokir reseptornya, tubuh tidak bisa membaca adanya adenosin sehingga mengahalangi kantuk.

Kadar kafein mencapai puncaknya dalam 30-60 menit setelah dikonsumsi. Kadarnya akan tetap tinggi dalam darah selama 3 hingga 5 jam. Dosis setara dengan secangkir kopi (30-150mg) yang dikonsumsi sebelum tidur dapat memperpanjang waktu yang diperlukan untuk tidur dan juga mengganggu proses tidur itu sendiri. Gangguan proses tidur akibat kafein adalah buruknya kualitas tidur akibat tahapan tidur dalam (stage N3 sleep) yang memendek. Padahal tahap tidur dalam, sering juga disebut restorative sleep, adalah tahapan tidur penting dimana tubuh mengeluarkan hormon pertumbuhan yang berfungsi dalam perbaikan sel-sel tubuh yang rusak. Pada beberapa orang yang sensitif terhadap kafein, dengan konsumsi kopi di pagi hari sudah dapat mengganggu proses tidur di malam harinya.

Kafein dosis tinggi (> 6 cangkir kopi) dalam sehari dapat memperlambat metabolisme kopi sehingga kadarnya tetap tinggi di otak selama 9 hingga 15 jam. Sementara dengan dosis luar biasa, 100 cangkir (10 gram) sehari dapat menyebabkan kematian.

Efek samping dari kafein dosis tinggi antara lain:
• Kecemasan yang berkepanjangan.
• Sulit berkonsentrasi.
• Ketegangan otot.
• Peningkatan frekwensi berkemih (kencing.)
• Agitasi, terlalu bersemangat hingga serangan panik.
• Rasa pusing, kejang dan vertigo.
• Suhu tubuh meningkat.
• Disorientasi hingga paranoia.
• Jantung berdebar-debar.
• Mual
• Sulit tidur.

Efek Kafein

Efeknya pada kesehatan masihlah kontroversial, namun demikian kafein dapat juga digunakan untuk menangani kasus-kasus hipersomnia dimana penderitanya merasakan kantuk berlebih di siang hari. Namun demikian perlu ditekankan bahwa penggunaan kafein pada hipersomnia hanyalah perawatan simptomatis yang mengurangi gejala kantuk. Diperlukan pemeriksaan dan perawatan menyeluruh untuk mengatasi penyakit yang sebenarnya. Perawatan yang biasanya dilakukan di Sleep Disorder Clinic, diawali dengan pemeriksaan laboratorium tidur untuk mendeteksi gangguan yang diderita, lalu dilanjutkan dengan perawatan. Gangguan tidur yang dapat menyebabkan hipersomnia adalah sindroma tungkai gelisah, sleep apnea (mendengkur) dan narkolepsi.

Efek stimulan kafein memang tidak sekuat kokain maupun amphetamine (pil ekstasi,) namun ia tetap dapat menimbulkan ketergantungan. Penghentian konsumsi kafein secara mendadak akan membangkitkan efek kecanduan seperti rasa sakit kepala, vitalitas yang menurun, kantuk amat sangat serta depresi.

Konsumsi kopi untuk menahan kantuk saat bekerja pun tidak dianjurkan. Apalagi jika pekerjaan tersebut melibatkan pengoperasian alat berat atau mengendara. Karena kafein terbukti menghambat kantuk dan membuat orang merasa segar kembali, tetapi kemampuan mental serta refleks menjadi terganggu. Pekerja shift malam lebih banyak mengonsumsi kopi dibandingkan dengan pekerja biasa. Tetapi resiko untuk mengalami kecelakaan lalu lintas maupun di tempat kerja tidaklah berkurang. Sebuah penelitian lain yang dilakukan pada anggota Navy Seals Amerika menunjukkan bahwa konsumsi kafein setelah mengalami kondisi kurang tidur akan meningkatkan vitalitas dan kewaspadaan seseorang. Tetapi kemampuannya untuk menembak dengan tepat berkurang jauh.

Para pelajar yang suka mengonsumsi kopi untuk menahan kantuk juga perlu memperhatikan efek-efek tadi. Malam menjelang ujian, biasa diisi dengan belajar dan menghapal. Untuk memperpanjang waktu belajar, kopi pun diminum. Akibatnya walaupun kantuk hilang dan otak terasa segar, kemampuan untuk belajar sudah menurun. Dipagi hari dengan bermodalkan secangkir kopi lagi, ujian pun dijalani. Kemampuan otak untuk mengingat kembali hapalan biasanya tidak terganggu, tetapi kemampuan untuk memproses data hapalan secara kreatif jelas menurun. Akibatnya banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan baik. Apalagi ketika efek kafein mulai meninggalkan tubuh di siang harinya. Seluruh badan terasa tidak karuan, mata pun tak kuasa menahan kantuk. Ini disebabkan oleh hutang tidur yang menagih. Dengan demikian, jelas bahwa kafein tidak dapat menggantikan tidur.

Bagaimana dengan pengendara jarak jauh? Mengendara dengan kantuk, justru lebih berbahaya dibanding mengendara dalam kondisi mabuk. Kafein memang dapat menahan kantuk, namun tidak ada yang dapat mengembalikan kemampuan mental dan refleks mengendara, sebaik tidur. Untuk itu, jika Anda mengantuk saat mengendara, jalan terbaik adalah menghentikan kendaraan dan tidur sejenak selama 15-30 menit. Setelah bangun, barulah konsumsi kafein dan lanjutkanlah perjalanan.

Konsumsi Kafein

Kafein dapat dengan mudah didapatkan di masyarakat kita. Dengan mudah kita dapat menemukan gerai, cafe hingga warung yang menyajikan kopi. Bahkan secara sosial, kopi sudah dianggap sebagai minuman wajib dalam pergaulan. Tetapi kafein tidak hanya terdapat dalam kopi saja. Penganan modern banyak yang mengandung kafein tanpa kita sadari. Mereka adalah:
• Coklat
• Teh
• Minuman Kola (coca cola, dulu berisi kokain.)
• Beberapa jamu dan obat cina.
• Beberapa obat-obatan (obat flu atau penghilang sakit.)
• Obat pembangkit semangat.
• Minuman berenergi.

Kafein memang menyenangkan, tetapi bukannya tanpa efek samping. Sebab itu konsumsi kafein sebaiknya disertai dengan pengetahuan akan efek kafein terhadap tidur dan kesehatan secara umum sehingga konsumsinya dapat dijadwalkan dengan baik. Sebagai salah satu bahan stimulan, kafein juga tidak lepas dari efek adiksi (kecanduan.) Di kalangan kesehatan bahkan terdapat sebuah anekdot yang mengatakan, jika saja kafein baru ditemukan di masa ini badan FDA Amerika (POM di Indonesia,) pasti tidak akan meluluskannya sebagai bahan yang aman dikonsumsi.

Kopi, tidak sepenuhnya berefek buruk. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan efek yang positif bagi kesehatan seperti menurunkan resiko terserang kanker maupun gangguan jantung. Namun yang harus diperhatikan adalah waktu menikmatinya. Misalkan sepanjang hari butuh kafein agar dapat tetap bekerja dan tidak mengantuk, tentu ini menunjukkan adanya gangguan tidur yang harus diatasi. Mengingat daya kerja kafein yang mencapai belasan jam, tentu disarankan untuk hanya menikmati aroma kafein di pagi hari, bukan di sore hari.

8 Bahaya Mendengkur

Mendengkur merupakan gejala utama dari sleep apnea selain rasa kantuk berlebih. Sleep apnea yang artinya henti nafas saat tidur, dapat berdampak langsung pada kesehatan dan kualitas hidup seseorang. Sehingga mengatasi tidur mendengkur menjadi penting.

Sleep apnea terjadi ketika otot-otot saluran nafas melemas saat tidur. Akibatnya jalan nafas menyempit hingga menyumbat akibatnya tidak ada udara yang dapat lewat. Episode henti nafas bisa terjadi selama 10 detik sampai lebih dari satu menit. Karena sesak, otak akan terbangun sejenak untuk menarik nafas, tanpa disadari penderitanya. Akibatnya proses tidur jadi terpotong-potong. Henti nafas bisa terjadi ratusan kali semalamnya.

Periode henti nafas ini menyebabkan perubahan drastis pada kadar oksigen dan tekanan darah seseorang. Jika sleep apnea dibiarkan, tubuh Anda akan terus terbebani dan akhirnya bisa berujung pada banyak penyakit. Itu sebabnya penting ditekankan bahwa mengatasi ngorok bukan saja untuk menghilangkan suara dengkur, lebih jauh sebenarnya pengobatan mendengkur adalah untuk mengatasi henti nafas yang terjadi.

Berikut adalah 8 resiko kesehatan yang berhubungan dengan sleep apnea:

1.      Tekanan darah tinggi.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa sleep apnea adalah salah satu penyebab utama dari hipertensi. Peningkatan tekanan darah berkaitan langsung dengan derajat keparahan sleep apnea. Semakin parah derajat sleep apnea, semakin berat juga peningkatan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah juga bisa dialami oleh anak-anak yang menderita sleep apnea. Sejak tahun 2003 lewat dokumen JNC 7, Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure sudah memasukan sleep apnea sebagai salah satu penyebab utama dari hipertensi. Sejak saat itu, penanganan sleep apnea sudah termasuk dalam tata laksana hipertensi.

2.      Penyakit jantung.

Sleep apnea yang tidak dirawat merupakan salah satu faktor resiko untuk menderita penyakit jantung. Penyakit jantung merupakan penyebab kematian utama di Amerika pada tahun 2005. Sleep apnea meningkatkan resiko denyut jantung yang tidak beraturan, penyakit jantung koroner, serangan jantung dan penyakit jantung kongestif. Sebuah penelitian di tahun 2006 yang diungkapkan dalam Journal of the American College of Cardiology menyebutkan bahwa sleep apnea bahkan mempengaruhi bentuk jantung seseorang. Jantung penderita sleep apnea membengkak dan menebal dindingnya di satu sisi, serta berkurang kemampuan memompanya.

3.      Stroke.

Sleep apnea meningkatkan resiko seseorang untuk terserang stroke (penyebab kematian nomor 3 di Amerika tahun 2005.) Peningkatan kekentalan darah pada penderita sleep apnea menjadi penyebab utama meningkatnya resiko stroke.

4.      Kerusakan otak.

Penelitian di jurnal SLEEP tahun 2008 memberikan gambaran pencitraan otak yang membuktikan kerusakan permanen pada otak penderita sleep apnea. Kerusakan terjadi pada bagian otak yang mengontrol ingatan, emosi dan tekanan darah.

5.      Depresi.

Riset menunjukkan bahwa depresi sering terjadi pada penderita sleep apnea. Bahkan sleep apnea ringan saja sudah meningkatkan resiko terkena depresi. Peningkatan resiko depresi akan naik seiring dengan peningkatan derajat keparahan henti nafas yang dialami. Timbulnya depresi, diduga disebabkan oleh proses tidur yang terpotong-potong pada penderita sleep apnea.

6.      Diabetes.

Sleep apnea akan mengganggu metabolisme hingga tubuh tidak mentoleransi glukosa dan juga resisten terhadap insulin. Diabetes tipe 2, juga salah satu penyebab kematian utama, terjadi ketika badan tidak dapat memanfaatkan insulin secara efektif. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa sleep apnea amat mungkin menjadi penyebab terjadinya diabetes. Di bulan Juni 2008 International Diabetes Federation sudah mengeluarkan buku panduan agar semua tenaga kesehatan di seluruh dunia memperhatikan kemungkinan sleep apnea pada pasien diabetes ini.

7.      Obesitas.

Obesitas, pada ras kaukasia (Eropa) menjadi resiko utama sleep apnea. Tapi tidak demikian pada ras Asia yang memiliki struktur rahang lebih sempit dan leher yang pendek. Masalahnya, sleep apnea akan meningkatkan berat badan seseorang. Gangguan metabolisme akibat proses tidur yang terpotong-potong menyebabkan perubahan hormon-hormon yang mengontrol nafsu makan. Rasa kantuk yang diakibatkan juga menyebabkan penderitanya jadi malas berolah raga.

8.      Mortalitas.

Dua penelitan di jurnal SLEEP di tahun 2008 menunjukkan bahwa penderita sleep apnea mempunyai resiko kematian lebih tinggi dibanding yang tidak mendengkur. Resiko akan meningkat bersamaan dengan peningkatan derajat keparahan henti nafas. Apalagi jika sleep apnea dibiarkan saja! Sementara kematian akibat kecelakaan kerja maupun kecelakaan lalu lintas pun harus diperhatikan. Di Inggris, pemerintah setempat akan menahan sementara SIM penderita sleep apnea, sampai proses perawatan dilakukan.

Penanganan sleep apnea diawali dengan pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Pemeriksaan tidur yang seksama akan membedakan dengkuran biasa atau dengkuran dengan sleep apnea. Kita pun bisa mendapatkan derajat keparahan dan karakter henti nafas seseorang. Sementara akibatnya pada gelombang otak tidur dan kerja jantung saat tidur pun turut dianalisa.

Perawatan sleep apnea dapat dilakukan lewat beberapa alternatif. Diantaranya pembedahan, continuous positive airway pressure (CPAP) ataupun dental appliances. Sementara ini, baku emas perawatan adalah dengan menggunakan CPAP, dengan tingkat keberhasilan yang amat tinggi. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa penggunaan CPAP  akan mengurangi resiko seseorang untuk menderita bahaya-bahaya yang telah disebutkan tadi.

Mendengkur Merusak Otak!

Mendengkur atau ngorok adalah suatu fenomena tidur yang sering kita temui hingga sudah dianggap wajar. Tetapi dengkuran bukanlah sesuatu yang normal. Bahkan menyimpan bahaya fatal yang tidak bisa lagi dianggap sebagai lelucon.

Mendengkur merupakan sebuah tanda dari sleep apnea yang artinya henti nafas saat tidur. Penderita sleep apnea, nantinya dapat menderita hipertensi, gangguan jantung, diabetes hingga stroke.

Gejala sleep apnea selain mendengkur adalah menurunnya kualitas hidup yang ditandai dengan rasa kantuk, gangguan emosional, konsentrasi, menurunnya ingatan dan kemampuan analisa hingga kreativitas yang merosot. Selama ini, para ahli kedokteran tidur beranggapan bahwa penurunan kemampuan mental ini disebabkan oleh kondisi “kurang tidur” yang diderita. Namun berbagai penelitian di bidang neurologi kini dapat menunjukkan secara pasti kerusakan-kerusakan bagian otak yang terjadi pada penderita sleep apnea.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Sleep Research, Februari 2009 menunjukkan bahwa henti nafas saat tidur atau obstructive sleep apnea tidak hanya mengganggu kualitas hidup tetapi juga merusak otak secara permanen.

Dalam penelitian yang dilakukan di Perancis tersebut dilakukan pencitraan otak pada 16 pendengkur yang baru saja didiagnosa menderita sleep apnea. Hasilnya, mereka menemukan kerusakan massa abu-abu di berbagai bagian otak. Ini menjelaskan kenapa penderita sleep apnea mengalami penurunan kemampuan ingatan maupun konsentrasi.

Kelompok peneliti di UCLA juga memberikan hasil yang mirip. Dalam publikasi mereka di Neuroscience Letters, Juni 2008 menunjukkan bahwa terjadi perubahan pada badan mamilari penderita sleep apnea dibandingkan dengan kontrol. Badan mamilari adalah salah satu bagian dari sistem limbik yang berperan pada fungsi kognitif dan emosional seseorang. Penurunan volume badan mamilari pada pendengkur diduga disebabkan oleh menurunnya kadar oksigen pada saat tidur.

Para peneliti yang sama juga mempublikasikan tulisan lain pada jurnal SLEEP di bulan Juli 2008. Pada tulisan tersebut disebutkan bahwa penderita sleep apnea mengalami kerusakan massa putih di berbagai bagian otak yang mengatur mood dan ingatan. Massa putih adalah serabut saraf otak yang diliputi oleh myelin yang berwarna putih.

Penderita sleep apnea dapat mengalami ratusan henti nafas setiap malamnya tanpa pernah ia sadari. Akibatnya kadar oksigen dalam darah dapat menurun drastis. Penurunan oksigen dan peningkatan tekanan darah dianggap bertanggung jawab dalam proses rusaknya saraf-saraf otak.

Dari hasil berbagai penelitian, jelas tampak bahwa sleep apnea harus dirawat segera. Ini dilakukan demi mencegah terjadinya berbagai penyakit dan kerusakan otak yang bersifat permanen.

Standar perawatan saat ini adalah dengan menggunakan CPAP. Bagi penderita sleep apnea, manfaat CPAP terbukti dapat menurunkan tekanan darah, mengontrol kadar gula dan memperbaiki kualitas hidup. Sayangnya perawatan ini belum tentu dapat mengembalikan bagian-bagian otak yang sudah terlanjur rusak.

Namun, para ahli menekankan bahwa penanganan mendengkur harus dilakukan sesegera mungkin agar kerusakan dan gangguan proses berpikir lebih lanjut dapat dicegah.

Sean Algaier “The Biggest Loser” dan Sleep Apnea – Mendengkur

Orang tidak akan mengaitkan tidur dengan acara realitas The Biggest Loser, tapi ternyata kesehatan tidur justru memegang peranan penting. Sejak musim ke-7, dalam pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan tidur dijadikan pemeriksaan rutin bagi para peserta. Hasilnya ternyata mengejutkan para dokter yang turut membina acara tersebut. Kebanyakan peserta ternyata mendengkur dan menderita sleep apnea. Bahkan dalam derajat yang parah. Dalam satu musim tersebut semua peserta terdiagnosa dengan sleep apnea!

Pada musim pertama, dokter di acara tersebut menyebutkan tiga pilar kesehatan: psikologi, makan yang sehat dan olah raga. Kini ia menambahkan pilar ke-4, yaitu tidur yang sehat.

Para peserta The Biggest Loser tersebut mendapatkan perawatan sleep apnea dengan menggunakan continuous positive airway pressure (CPAP), berupa masker yang dihubungkan dengan alat khusus. Dan inilah salah satu cerita bagaimana perawatan sleep apnea telah mengubah hidupnya.

Sean

Sean Algaier ikut acara The Biggest Loser musim ke-8 dalam usia 29 tahun dan bobot sekitar 210 kg. Sean sudah kelebihan berat badan sejak di tingkat SMU. Di rumah ia gemar sekali makan dan baginya berolah raga adalah sebuah bentuk hukuman.

Sebelum mengikuti program ini, Sean tidak tahu bila ia menderita sleep apnea, tapi sudah lama istrinya curiga. Di tengah malam, sang istri amat takut melihat nafas Sean terengah-engah dan tampak sesak. Namun Sean tak pernah ambil peduli dengan kekhawatiran istrinya dan menolak melakukan pemeriksaan tidur. Karena biayanya memang tak bisa dibilang murah, sedangkan Sean lebih memilih membelanjakan uang bagi keluarga dibanding untuk dirinya sendiri. Lagi pula, baginya mendengkur bukanlah masalah besar.

Sementara itu, teman-temannya sering menertawakan karena ia mudah sekali tertidur. Ia selalu merasa lelah, hingga baginya ini normal saja. Sean bisa tertidur 5-6 kali sehari, bahkan ketika mengendara! Ia juga mendengkur keras di malam hari, dan ini mempengaruhi kehidupan perkawinannya. Mereka tidur di tempat tidur yang sama, namun di tengah malam ia akan pindah tidur.

Biasanya Sean akan tidur di kursi dalam posisi duduk. Baginya dengan posisi ini ia bisa tidur lebih lama. Tapi karena berat badannya amat berlebih, aliran darah jadi kurang lancar dan kakinya menjadi bengkak di pagi hari. Mungkin saja ia mengalami sumbatan pembuluh darah atau hal-hal lain yang buruk akibat sleep apnea yg dideritanya.

Begitu memasuki program acara, Sean menjalani pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Namun ia tak tahu hasilnya.

Di hari pertama, ia mulai berolah raga secara intensif. “Saya tertidur di hari pertama di Gym;” ceritanya. “Malam sebelumnya saya tidak bisa tidur, dan saya amat lelah. Waktu itu saya berjam-jam di atas treadmill. Dan tiba-tiba saya terbangun dengan kamera di depan wajah saya, serta Bob (pelatih) berteriak-teriak membangunkan. Ini amat memalukan!”

Setelah sesi latihan, Sean diberitahu bahwa ia menderita sleep apnea yang parah. Dalam tidur, nafasnya berhenti sebanyak lebih dari 100 kali perjam. Malamnya, ia langsung tidur dengan menggunakan continuous positive airway pressure (CPAP). Untuk pertama kalinya, ia tidur penuh selama 8 jam.

Sean mengatakan, “Sepertinya ini pertama kalinya saya tidur sejak tingkat SMP. Saya tidur pulas dan saya benar-benar bahagia. Di pagi hari rasanya saya sanggup lari marathon. Kini nafas saya tidak berhenti lagi dalam tidur, dan saya tidur di ranjang yang sama dengan istri.” Di penghujung acara, Sean telah kehilangan 70 kg – dari 210 menjadi 140 kg saja. Ia mengakui bahwa dengan menggunakan CPAP ia dapat menurunkan berat badan dengan lebih mudah. Kini bobotnya menjadi 108 kg dan ia berharap masih bisa menurunkan 10-20 kg lagi.

“CPAP telah mengubah hidup saya,” ujar Sean. “ Saya rasa, siapapun yang mengalami gangguan tidur, jika mereka mau memperbaikinya, itu akan mengubah hidup mereka. Mereka tidak menyadari betapa banyak mereka kehilangan ketika tidak tidur baik di malam hari. Saya tak akan mau kembali merasakan perasaan itu lagi. Saya ingin merasa segar dan ‘hidup’ di siang hari. Saya sarankan, siapapun yang ingin menurunkan berat badan atau mendengkur, selamatkan hidup Anda dengan menjalani pemeriksaan tidur!”

Sumber: National Sleep Foundation

Ketindihan ?

Dalam tidur, tiba-tiba kita melihat sosok bayangan atau hantu di sisi kita. Dalam takut, kita berusaha bangkit untuk melarikan diri. Tetapi apa daya, seluruh badan terasa berat tak dapat digerakan. Jangankan bangun, menggerakkan tangan saja sudah sulit. Kepanikan semakin menjadi ketika dada terasa tertindih beban hingga sulit menarik nafas.

Pengalaman seperti ini, sering terjadi di masyarakat kita dan dianggap sebagai sebuah kejadian mistis. Tapi benarkah demikian? Fenomena yang dikenal di Indonesia sebagai ketindihan atau ereup-ereup ini sebenarnya merupakan proses tubuh yang bernama sleep paralysis, yang artinya lumpuh tidur.

Tahap Tidur Mimpi

Tidur mengalami beberapa tahapan, mulai dari tidur ringan, sedang, dalam dan mimpi. Tahap tidur mimpi, tahap tidur R atau REM, ditandai dengan adanya mimpi, gerakan cepat bola mata (rapid eye movement) serta dilumpuhkannya semua otot-otot besar.

Pada kondisi tertentu, terjadi tumpang tindih antara gelombang otak sadar, tidur ringan dan mimpi. Akibatnya dalam kondisi setengah sadar kita akan bermimpi yang manifestasinya berupa halusinasi. Lucunya, halusinasi selalu berupa adanya sosok lain di dalam kamar tidur, bisa sekedar bayangan, hantu, orang yang sudah meninggal, atau teman yang berkunjung. Pada kebudayaan barat, bahkan sering dilaporkan halusinasi berupa alien yang hendak menculik.

Dalam keadaan kaget, kita akan berusaha untuk lari. Tetapi seperti dalam tidur REM, seluruh tubuh sedang dilumpuhkan. Akibatnya kita tak dapat bergerak sedikitpun. Bahkan napas pun terasa berat akibat otot-otot pernapasan ekstra yang dilumpuhkan.

Sleep Paralysis

Sleep paralysis biasanya disertai dengan hypnagogic hallucination sehingga menjadi pengalaman yang menyeramkan. Jika sering terjadi, ini merupakan salah satu tanda dari Narkolepsi. Namun, orang normal pun bisa mengalaminya. Jika Anda mengalaminya, tidak perlu takut. Coba periksa dulu kebiasaan tidur Anda. Apakah kebutuhan tidur sudah tercukupi? Sebab, kekurangan tidur juga dapat memicu terjadinya fenomena ketindihan ini.

Remaja merupakan kelompok usia yang paling rentan mengalami kurang tidur. Jam biologis mereka baru mengantuk setelah lewat tengah malam, sedangkan kebutuhan tidurnya masih 8,5-9,25 jam sehari. Padahal sehari-hari mereka harus mengikuti jadwal pagi. Itu sebabnya fenomena ketindihan paling sering diderita oleh kelompok usia remaja.

Untuk mengatasinya, pertama cukupi kebutuhan tidur agar utang tidur minimal. Disamping itu perhatikan juga kebiasaan sebelum tidur. Persiapkan tidur dengan baik hingga tidak ada lagi ketegangan yang dibawa ke dalam tidur.

Fenomena ini, terjadi di seluruh dunia. Namun latar belakang kebudayaan amat mempengaruhi isi halusinasi. Pada kebudayaan Afrika, dikenal sebagai penyihir yang menunggangi punggung, di Jepang dikenal dengan sebutan kanashibari, di Islandia disebut Mara, sementara di masyarakat Hmong disebut dab tsog. Masyarakat Hmong mengaitkannya dengan kematian mendadak pada orang-orang muda (Sudden Unexpected Nocturnal Death Syndrome) yang kini dikaitkan dengan Brugada Syndrome. Namun para ahli, tidak melihat adanya hubungan langsung antara sleep paralysis dan brugada syndrome.