Mendengkur Merusak Otak!

Mendengkur atau ngorok adalah suatu fenomena tidur yang sering kita temui hingga sudah dianggap wajar. Tetapi dengkuran bukanlah sesuatu yang normal. Bahkan menyimpan bahaya fatal yang tidak bisa lagi dianggap sebagai lelucon.

Mendengkur merupakan sebuah tanda dari sleep apnea yang artinya henti nafas saat tidur. Penderita sleep apnea, nantinya dapat menderita hipertensi, gangguan jantung, diabetes hingga stroke.

Gejala sleep apnea selain mendengkur adalah menurunnya kualitas hidup yang ditandai dengan rasa kantuk, gangguan emosional, konsentrasi, menurunnya ingatan dan kemampuan analisa hingga kreativitas yang merosot. Selama ini, para ahli kedokteran tidur beranggapan bahwa penurunan kemampuan mental ini disebabkan oleh kondisi “kurang tidur” yang diderita. Namun berbagai penelitian di bidang neurologi kini dapat menunjukkan secara pasti kerusakan-kerusakan bagian otak yang terjadi pada penderita sleep apnea.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Sleep Research, Februari 2009 menunjukkan bahwa henti nafas saat tidur atau obstructive sleep apnea tidak hanya mengganggu kualitas hidup tetapi juga merusak otak secara permanen.

Dalam penelitian yang dilakukan di Perancis tersebut dilakukan pencitraan otak pada 16 pendengkur yang baru saja didiagnosa menderita sleep apnea. Hasilnya, mereka menemukan kerusakan massa abu-abu di berbagai bagian otak. Ini menjelaskan kenapa penderita sleep apnea mengalami penurunan kemampuan ingatan maupun konsentrasi.

Kelompok peneliti di UCLA juga memberikan hasil yang mirip. Dalam publikasi mereka di Neuroscience Letters, Juni 2008 menunjukkan bahwa terjadi perubahan pada badan mamilari penderita sleep apnea dibandingkan dengan kontrol. Badan mamilari adalah salah satu bagian dari sistem limbik yang berperan pada fungsi kognitif dan emosional seseorang. Penurunan volume badan mamilari pada pendengkur diduga disebabkan oleh menurunnya kadar oksigen pada saat tidur.

Para peneliti yang sama juga mempublikasikan tulisan lain pada jurnal SLEEP di bulan Juli 2008. Pada tulisan tersebut disebutkan bahwa penderita sleep apnea mengalami kerusakan massa putih di berbagai bagian otak yang mengatur mood dan ingatan. Massa putih adalah serabut saraf otak yang diliputi oleh myelin yang berwarna putih.

Penderita sleep apnea dapat mengalami ratusan henti nafas setiap malamnya tanpa pernah ia sadari. Akibatnya kadar oksigen dalam darah dapat menurun drastis. Penurunan oksigen dan peningkatan tekanan darah dianggap bertanggung jawab dalam proses rusaknya saraf-saraf otak.

Dari hasil berbagai penelitian, jelas tampak bahwa sleep apnea harus dirawat segera. Ini dilakukan demi mencegah terjadinya berbagai penyakit dan kerusakan otak yang bersifat permanen.

Standar perawatan saat ini adalah dengan menggunakan CPAP. Bagi penderita sleep apnea, manfaat CPAP terbukti dapat menurunkan tekanan darah, mengontrol kadar gula dan memperbaiki kualitas hidup. Sayangnya perawatan ini belum tentu dapat mengembalikan bagian-bagian otak yang sudah terlanjur rusak.

Namun, para ahli menekankan bahwa penanganan mendengkur harus dilakukan sesegera mungkin agar kerusakan dan gangguan proses berpikir lebih lanjut dapat dicegah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: