Buku Kesehatan Tidur

“Sangat informatif! Mengungkapakan berbagai fakta menarik tentang tidur dengan gaya yang ringan dan populer.”
Soraya Haque, Presenter

“Inilah buku pertama dalam bahasa Indonesia yang bercerita mengenai seni tidur sebagai kunci menjalankan kehidupan yang sehat.”
Endy M. Bayuni, Pemimpin Redaksi Harian The Jakarta Post
Untuk mendapatkan buku ini hubungi MP Book Point 021 759 10212

Cover Versi Pria
Cover Versi Wanita
Penulis Di Gramedia

Sekolah Kepagian Turunkan Kecerdasan Anak

Jurnal Nasional, Rabu 3 Desember 2008
by : Siagian Priska Cesillia

Sekolah terlalu pagi berpotensi menurunkan kecerdasan anak.

WAKIL Gubernur DKI Jakarta Prijanto mengumumkan per Januari 2009, jam masuk sekolah anak-anak sekolah akan dimajukan menjadi pukul 06.30 WIB, dari sebelumnya pukul 07.00 WIB. Dasarnya adalah untuk mereduksi kemacetan sebesar 6-14 persen. Bagaimanakah sisi kesehatan menangkap niatan Pemerintah Provinsi Ibu Kota ini?

“Hal ini dapat mengganggu metabolisme tubuh anak dan memengaruhi kesehatan emosional dan daya tangkapnya menerima pelajaran,” kata Dr Andreas A Prasadja kepada Jurnal Nasional.

Dokter spesialis kesehatan tidur atau Sleep Technologist ini kemudian menjelaskan bahwa jam biologis atau circadian rhythm adalah ritme yang mengatur semua aktivitas fisik secara periodik. Di mana pada pengaturan tidur dan bangun, jam biologis akan memberikan rangsangan. “Ketika harus terjaga, tubuh akan memberikan rangsangan terjaga. Sementara ketika utang tidur, tubuh akan memberikan rasa kantuk,” katanya seraya menyebutkan bahwa sepanjang hari keduanya berebut pengaruh.

Dokter yang mendirikan laboratorium tidur bekerja sama dengan RS Mitra Kemayoran ini kemudian memberikan gambaran. Bahwa ketika bangun pagi, utang tidur tidak ada. Ini kemudian direspons jam biologis dengan memberikan rangsang terjaga. “Puncak aktifnya, sekitar jam 10 pagi. Sehingga, utang tidur kalah,” Inilah yang kemudian membuat jam biologis menurun. Akibatnya, setelah makan siang, tubuh bereaksi dengan rangsangan mengantuk. “Namanya after lunch circadian dipping dan tidak ada hubungannya dengan habis makan, kenyang, lalu mengantuk,” katanya.

Memasuki sore hari, Andreas menyebutkan bahwa aktivitas jam biologis akan kembali naik. Sehingga, membuat seseorang terjaga dan berlanjut sampai saat malam yang membuat utang tidur menumpuk. “Itulah mengapa pada jam bugar sebaiknya kita beraktivitas. Dan ketika jam mengantuk kita istirahat,” kata Andreas.

Menurutnya, jika pada orang dewasa waktu tidur 5-6 jam sudah cukup, tidak demikian halnya bagi anak-anak. Usia sekolah dasar, kecukupan tidurnya adalah 9-10 jam. Di mana umumnya mereka baru mulai tidur ketika pukul 8-9 malam. Artinya, mereka sebaiknya bangun pukul enam pagi. “Itulah mengapa idealnya pelajaran mulai jam delapan pagi,” kata Andreas menekankan. Sehingga, ketika jam biologis memberikan reaksi aktif, mereka akan menerima pelajaran dengan baik.

“Karena, yang terjadi jika mereka berangkat sekolah pada saat harusnya tidur, maka emosional dan daya tangkapnya terhadap pelajaran pun tidak optimal,” kata Andreas. Di Amerika Serikat, bahkan ada gerakan memundurkan jam masuk sekolah menjadi 8.30 untuk memberikan privilege kepada anak-anak mendapatkan waktu tidur yang cukup. “Alhasil, prestasi akademis dan olahraga mereka pun meningkat. Bahkan, kenakalan remaja serta absensi berkurang, hanya dengan menambah jam tidur satu jam,” katanya lagi.

Penelitian yang dilakukan pada 2004 itu, menurut Andreas, juga didasari bahwa pada anak-anak, waktu tidur adalah waktunya memproduksi hormon pertumbuhan. Di mana salah satu hal terpenting yang dimiliki hormon pertumbuhan adalah menciptakan perisai daya tahan tubuh. “Akibat dari hormon pertumbuhan yang tidak maksimal akan membuat status emosionalnya menjadi labil. Belum lagi dengan tingkat kemacetan yang parah, membuat anak-anak harus bangun lebih pagi,” katanya.

Bisakah anak-anak mengganti utang tidur mereka dengan tidur siang? Menurut Andreas, dengan masuk sekolah pukul 6.30, maka minimal anak-anak harus bangun pukul 5.30 (ada anak-anak yang harus bangun pukul 04.00 bila jarak sekolah-rumah sangat jauh). Ketika pukul dua siang sepulang sekolah, mereka belum mengantuk karena jam biologis baru memasuki waktu aktif. “Belum lagi, anak-anak zaman sekarang diminta mengikuti banyak kursus oleh orang tuanya. Jadi, sulit sekali (untuk tidur siang),” kata Andreas.

Untuk meminimalisasi utang tidur, Andreas menekankan pada kualitas tidur malam hari. Pada saat persiapan tidur, anak harus mengondisikan otaknya untuk melalui tahapan-tahapan tidur. Tidur dalam, dapat terjadi ketika gelombang otak memasuki slow wave sleep atau fase tidur dalam. Untuk sampai pada tahap ini, gelombang otak Anda harus melalui tahap rapid eye movement (REM), Non-REM. Di mana pada tahap Non-REM dibagi empat tahap. Tahap 1-2 adalah tidur dangkal dan tahap 3-4 adalah tidur dalam. Tahap tidur dalam, adalah tahap di mana orang paling sulit dibangunkan.

Ketika anak terpaksa bangun lebih pagi untuk berangkat ke sekolah, maka waktu tidur dalamnya tidak panjang. Padahal, di tahap inilah hormon pertumbuhan menunjukkan eksistensinya. “Tandanya, anak sulit dibangunkan dan ketika bangun pun masih bengong. Kalau anak berhasil dibangunkan, itu artinya orang tua baru saja memotong proses tumbuh kembangnya,” kata Andreas.

Liputan: Sisi Buruk Jam Masuk Sekolah Dimajukan

Tabloid NOVA
Trans7
Dr. Andreas Prasadja, RPSGT
Trans7

Memajukan Jam Sekolah Macet Tak Berkurang, Anak Malah Nakal

Deden Gunawan, detiknews

http://www.detiknews.com/read/2008/11/21/162859/1040927/159/macet-tak-berkurang-anak-malah-nakal

Jakarta – Anak-anak sekolah di Jakarta kini harus bangun lebih pagi. Soalnya, Pemprov DKI Jakarta mulai Januari 2009 memerintahkan  jam masuk sekolah menjadi pukul 06.30 WIB, dari sebelumnya pukul 07.00 WIB. Pemprov beralasan, dengan anak-anak sekolah masuk lebih awal bisa mengurangi kemacetan yang terjadi di Jakarta.

Setidaknya, tidak ada penumpukan kendaraan di waktu yang sama.” Kebijakan ini bertujuan agar pengguna kendaraan tidak menumpuk di waktu yang sama,” ujar Wagub DKI Jakarta Prijanto dalam jumpa pers di Balaikota, Jakarta, Jumat (21/11/2008).

Kata Prijanto, ada empat manfaat yang bisa didapat dari memajukan jam sekolah. Pertama, bisa mereduksi kemacetan sebesar 6-14 persen. Kedua, waktu tempuh ke sekolah menjadi lebih singkat. Ketiga, penggunaan bahan bakar menjadi ekonomis. Dan keempat, siswa akan lebih segar.

Namun alasan kalau siswa bisa lebih segar dengan masuk lebih pagi ditentang Dr. Andreas Prasadja, dokter teknologi tidur. Sebab dikhawatirkan justru berdampak pada menurunya kualitas pendidikan, prestasi akademis dan perilaku anak-anak kita.

“Di negara-negara maju saat ini justru sedang terjadi gerakan untuk memundurkan jam masuk sekolah demi meningkatkan kualitas anak didik. Ini semua berkaitan dengan kesehatan tidur anak,” jelas Andreas dalam tulisannya di surat pembaca detikcom.

Ahli penyakit tidur dari RS Mitra Kemayoran tersebut menjelaskan, anak-anak, khususnya remaja saat ini banyak mengalami kekurangan tidur kronis. Penyebabnya, berdasarkan jam biologi, anak-anak mulai mengantuk
umumnya lewat tengah malam. Masalahnya, mereka harus bangun pagi-pagi untuk mengejar jam 07.00 WIB untuk masuk sekolah. Padahal, kebutuhan tidur mereka lebih panjang, yaitu 8,5-9,25 jam.

Tak heran, kata Andres, setiap hari banyak anak-anak yang berada dalam kondisi kurang tidur. “Karena kurang tidur mereka kesulitan  mengarahkan konsentrasi secara penuh. Malah banyak siswa yang sering tertidur di dalam kelas,” papar Andreas.

Ditambahkan Andreas, kondisi kurang tidur ini akibatnya bisa semakin buruk. Misalnya, menimbulkan Kekerasan, kenakalan dan masalah emosional.

Andreas juga menjelaskan, sebuah penelitian yang dilakukan oleh National Sleep Foundation di Amerika Serikat (AS), menunjukkan bahwa anak-anak yang cukup tidur, sekitar  8 jam sehari,  mempunyai prestasi akademis yang lebih baik dibanding yang kurang tidur.

Sementara penelitian lainnya di Universitas Minnesota membuktikan manfaat menggeser jam masuk dari jam 7:15 menjadi 8:40. Para ahli bahkan terkejut dengan banyaknya kemajuan yang dialami para mahasiswa hanya dengan menambahkan kurang dari satu jam tidur setiap harinya.

Mary Carskadon, seorang ahli di bidang tidur remaja juga telah merumuskan beberapa manfaat kecukupan tidur bagi remaja, misalnya, tidak mudah mengalami depresi, mengurangi kenakalan remaja. Nilai akademik yang lebih baik, mengurangi angka ketidak adiran di kelas, mengurangi resiko mengalami kecelakaan lalu lintas akibat kantuk, prestasi olah raga yang lebih baik, daya tahan terhadap penyakit infeksi lebih kuat, serta mengurangi risiko berbagai gangguan metabolik, termasuk obesitas.

Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, Andreas berharap Pemprov DKI Jakarta mau berpikir ulang terhadap kebijakannya yang memajukan jam masuk anak sekolah. Ia khawatir risiko yang akan ditimbulkan bakal lebih parah, selain masalah kemacetan di jalanan.

Sementara pengamat kebijakan publik Andrinof Chaniago berpendapat, memajukan jam masuk sekolah merupakan pelanggaran hak asasi anak-anak. “Kebijakan itu memaksa anak-anak untuk mengurangi jam tidur. Padahal kecukupan tidur merupakan kebutuhan penting bagi anak-anak,” tegas Andrinov saat berbincang-bincang dengan
detikcom.

Andrinof juga tidak setuju dengan alasan Pemprov DKI Jakarta yang mengatakan, kebijakan tersebut merupakan upaya mengurangi kemacetan. Sebab kata Andrinof, kemacetan di Jakarta tidak mengenal jam. Karena hampir setiap jam pasti macet.

Untuk itu Andrinof tidak setuju dengan alasan Pemprov DKI Jakarta.”Sebaiknya Pemprov kalau membuat kebijakan harus benar-benar diteliti. Apakah kebijakan yang dikeluarkan bisa bermanfaat bagi masyarakat dan bisa berjalan efektif,” ujarnya.

Bagi Andrinof, cara yang harus diambil Pemprov DKI Jakarta adalah dengan mengoperasikan mobil-mobil sekolah dengan sistem antar- jemput. Sebab dengan cara ini penggunaan mobil orang tua siswa akan berkurang. Dan anak-anak tidak terganggu tidurnya.

“Jangan sampai kebijakan Pemprov yang bertujuan  mengatasi masalah justru malah menimbulkan masalah baru,” pungkas Andrinof.(ddg/iy)

Dr. Andreas Prasadja, RPSGT

Jam Masuk Sekolah Dimajukan, Kualitas Anak Terancam

Rencananya, Pemprov DKI tahun depan akan memajukan jam masuk sekolah menjadi pukul 6:30. Alasannya adalah untuk mendistribusikan volume kendaraan sehingga kemacetan dapat dikurangi. Tetapi tampaknya para pengambil keputusan ini belum mendapat masukan yang lengkap, terutama terhadap dampaknya bagi kualitas anak. Dari sisi kedokteran tidur, ada dua hal yang menjadi kekhawatiran kami, pertama kecukupan tidur anak, kedua kekacauan jam biologis anak.

Tidur

Sudah menjadi pendapat umum bahwa bangun pagi menunjukkan suatu sikap terpuji. Dengan semangat dan disiplin yang kuat seseorang dapat membiasakan bangun pagi mengalahkan rasa kantuk yang identik dengan kemalasan. Tapi sebenarnya tidaklah demikian.

Kecukupan tidur seseorang adalah mutlak. Rasa segar penuh vitalitas saat bangun tidur, selalu ingin ditiru dan dirasakan seseorang sepanjang waktu. Itu sebabnya di sepanjang sejarah manusia kita dapat melihat berbagai penemuan stimulan, mulai dari kafein, kokain hingga nikotin. Tetapi kata ‘stimulan’ yang sudah terlanjur populer ini sebenarnya kurang tepat karena zat-zat tersebut tidak memberi stimulasi, hanya menghambat kantuk. Hingga kata yang paling tepat sebenarnya adalah, hipnolitik. Kesimpulannya, tidak ada suatu zat pun yang dapat menggantikan tidur.

Tidur, jika dipandang sebagai suatu aktivitas yang pasif menimbulkan kesan malas. Sebenarnya tubuh dan otak amatlah aktif saat tidur. Kemampuan produktifitas kita di saat terjaga justru ditentukan oleh proses tidur seseorang. Bayangkan, kita menghabiskan sepertiga hidup kita untuk tidur. Jika tidur tidak bermanfaat berarti ada yang salah dengan proses penciptaan manusia.

Dalam tidur berlangsung proses perbaikan sel-sel yang rusak. Hal ini sudah diajarkan dalam mata pelajaran IPA saat saya SMP dulu. Pada usia anak khususnya, dalam tahapan tidur dalam dikeluarkan hormon pertumbuhan (growth hormone) yang berperan dalam proses tumbuh kembangnya. Daya tahan tubuh pun sebenarnya bekerja optimal pada saat tidur. Sementara tahap tidur mimpi diyakini oleh para ahli sebagai tahapan dimana kemampuan otak dijaga.

Jam Biologis

Di dalam tubuh manusia terdapat jam biologis yang berdetak menentukan saat-saat yang baik untuk beraktivitas ataupun beristirahat. Dengan menyesuaikan jadwal aktivitas dengan jam biologis, produktivitas kita akan menjadi maksimal.

Contoh yang paling mudah, adalah dengan melihat pola aktivitas remaja. Mereka bangun di pagi hari untuk mengejar masuk kelas jam 7:00. Di saat pelajaran dimulai, banyak diantara mereka yang seola masih mengawang-awang sulit berkonsentrasi. Untuk benar-benar menyerap pelajaran, mereka membutuhkan usaha keras. Tetapi ketika jam sudah mendekati pukul 10:00, seolah ada energi baru yang menyusup. Suasana hati lebih gembira, mengikuti pelajaran pun jadi terasa lebih mudah dan menyenangkan. Ini berlangsung hingga jam pulang sekolah. Sementara di malam hari, tak jarang kita temui remaja yang sedang asyik belajar atau berkarya pada jam 21:00-22:00 dimana orang tuanya sudah mulai mengantuk. Bahkan sering kita dengar keluhan remaja yang sulit tidur jika belum lewat tengah malam. Sebenarnya ini normal bagi jam biologis mereka.

Sayangnya, mereka harus mengikuti jadwal yang ditentukan oleh orang dewasa sehingga banyak di antara mereka yang mengalami kurang tidur kronis tanpa benar-benar menyadarinya. Salah satu tandanya adalah letupan emosi yang dapat berujung pada kenakalan remaja.

Gangguan ini jadi amat berbahaya jika mereka mulai berkendara. Kondisi kurang tidur kronis yang mereka derita mengurangi kemampuan mereka berkendara. Meski kebanyakan mengaku tidak pernah tertidur, tetapi kemampuan refleks mereka amat buruk, hingga kecelakaan pun sulit dihindari.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Kyla Wahlstrom menunjukkan bahwa dengan membuktikan bahwa dengan memundurkan jam masuk sekolah hingga 8:40 amat bermanfaat bagi para murid. Angka absensi mereka menurun, nilai-nilai mereka membaik, prestasi olah raga yang juga meningkat dan daftar siswa absen semakin menurun.

Tak heran jika kini beberapa sekolah di negara-negara maju justru mempertimbangkan untuk memundurkan jam masuk sekolah menjadi pukul 8:30 pagi.

********************

Bagi saya pribadi, ketika sedang melihat anak saya tidur. Lalu tampak bola matanya bergerak-gerak di balik kelopak matanya yang terpejam, saya tahu bahwa dalam lelap tidurnya otak sedang mengalami pertumbuhan. Sayang khan kalau prosesnya harus dihentikan atas nama ‘rajin.’

Bahaya Mendengkur di “Dokter Anda” TVONE

Tayang hari Rabu, 26 November 2008 jam 11:30 siang di acara Doter Anda, TVONE.

Dalam acara kali ini, “Dokter Anda” mencoba mengupas salah satu gangguan tidur yang paling banyak diderita, paling berbahaya tetapi juga paling diabaikan. Kenapa? Mudah saja, gejalanya sudah dianggap biasa: MENDENGKUR. Penderita Sleep Apnea (henti nafas saat tidur) ditandai dengan mendengkur dan kantuk berlebih. Sehingga dapat mengganggu aktifitas penderitanya. Sementara, proses henti nafas ini juga dapat menyebabkan hipertensi serta memicu diabetes, berbagai gangguan jantung hingga stroke.

“Dokter Anda” dipandu oleh Dr. Sonia Wibisono dengan bintang tamu Arie Untung. Sementara Dr. Andreas Prasadja, RPSGT diundang sebagai nara sumber. Pembicaraan tercipta hangat karena topik yang menarik dan ternyata diderita oleh banyak orang termasuk orang-orang yang kita cintai.

Talkshow 30 menit ini diikuti dengan peliputan di Sleep Disorder Clinic, RS Mitra Kemayoran untuk lebih jauh memperkenalkan proses pemeriksaan hingga perawatan berbagai gangguan tidur, terutama Sleep Apnea. Di sana para kru dari TVONE diperkenalkan dengan Polysomnography (PSG) yang merupakan alat pemeriksaan gangguan tidur yang dilakukan di Sleep Laboratory pertama di Indonesia. Dengan dipandu oleh staf RS yang cantik-cantik, kru TVONE juga diperkenankan untuk mencoba mengatasi dengkuran dengan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP.)

“Bagaimana? Anda Mendengkur?” tanya Dr. Sonia.

 

Setelah shooting talkshow
Persiapan Shooting di Sleep Laboratory, RS Mitra Kemayoran
Pengukuran dengan 10-20 system
Pemasangan Sensor
Merekam Proses Polysomnography (PSG) di Sleep Laboratory
PSG, pemeriksaan untuk mendiagnosa gangguan tidur
Analisa PSG pada penderita sleep apnea, mencari henti nafas yang dialami selama tidur
The Crew
CPAP untuk mengatasi Sleep Apnea
Staf RS Mitra Kemayoran yang mendampingi

 

Sleep Symposium 2008

Singapore Sleep Symposium 2008, diadakan di Singapore General Hospital dengan diikuti oleh para dokter sekawasan termasuk Indonesia. Didalamnya didiskusikan berbagai kemajuan dibidang kedokteran tidur. Mulai pemeriksaan, perawatan hingga hasil-hasil penelitian terkini dunia. Tak tanggung-tanggung, para ahli datang langsung untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman di forum ini. Di antara mereka terdapat Prof. Chol Sin dari Korea yang menyoroti sleep apnea pada ras Asia, yang ternyata jumlah penderitanya lebih banyak dibanding ras Eropa. Kemudian Prof. Richard Goode yang datang langsung dari the Mecca of Sleep Medicine: Stanford University, US. Ada juga Prof. Kurt Lushington dari University of South Australia yang meneliti manfaat melatonin bagi proses tidur, namun ia malah menemukan salah satu faktor yang membantu tidur: core body temperature. Sementara dari beberapa RS Anak di Singapore dan Australia, para ahli memaparkan berbagai gangguan tidur pada anak mulai dari sleep apnea, parasomnia hingga gangguan perilaku tidur anak serta pengaruhnya pada proses tumbuh kembang.

Sungguh suatu perkembangan yang menggembirakan. Apalagi melihat banyaknya minat dari dokter asal Indonesia. Di Indonesia, kedokteran tidur masih amat asing, bahkan di telinga para dokter.

Berikut adalah kutipan dari William C. Dement, the father of sleep medicine:
“Unlike many newcomers to the medical mainstream, Sleep Medicine is not the child of a single parent discipline. Rather clinical and basic sleep research have been the foster children of many discipline but have beef the favored child of none.”

Quote

Dr. Lim Li Ling

Prof. Chol Sin of Korea

Eugene Beay of Respironics

Respironics PAP Device

Brett & Dylan of ResMed

Lalaine Gedal of Covidien

Mask Fitting

Treatment Follow Up

Dr. Arthur Teng of Sydney Children’s Hospital

Prof. Kurt Lushington of University of South Australia