Sindrom Tungkai Gelisah, kurangi kualitas tidur

Majalah Kartini, No.2268 / 15-29 April 2010

Gangguan tidur ada 99 macam. Sayangnya gangguan-gangguan itu kebanyakan tidak terdiagnosa, hingga keluhan terus bertambah hebat. Da samping insomnia, gangguan tidur juga sering terjadi ialah restless legs syndrome (RLS) atau yang disebut juga sebagai sindrom tungkai gelisah.

Gangguan ini terjadi di waktu malam hari saat seseorang akan tidur. Kondisi ini membuat penderita susah tidur. Biasanya penderita akan merasa tidak nyaman pada salah satu atau kedua kaki. Pada setiap orang keluhannya berbeda-beda. Ada yang merasa pegal, sakit, ngilu, nyeri, kesemutan, gatal, atau terasa ada yang merambat di kaki.

Keadaan tidak nyaman pada kaki tersebut merupakan keluhan khas RLS. Pada saat akan tidur, pasien mengalami rasa tidak enak pada kaki yang membuatnya harus menggerak-gerakkan atau berjalan terlebih dahulu. Bila pasien merasa nyaman , pasien akan kembali ke tempat tidur. Rasa nyaman pada kaki itu tidak berlangsung lama, sebab kejadiannya akan terulang lagi. Pada penderita susah tidur, biasanya kakinya akan bergerak setiap 8-10 detik. Dan setiap kali kaki bergerak, membuat penderita tersadar, walaupun tidak sampai terjaga.

Kebanyakan Menyerang Wanita

Penelitaian terhadap gangguan ini di Indonesia belum ada. Namun di luar negeri, seperti Singapura dan Australia, gangguan ini sudah diteliti sejak lama dan dialami sekitar 5% dari jumlah penduduknya.

Dari jumlah tersebut, penderita gangguan ini kebanyakan adalah wanita muda serta ibu hamil yang kekurangan zat besi dan vitamin B12. Kondisi kekurangan zat besi dan vitamin B12 ini hampir selalu dialami wanita pada umumnya. Kekurangan zat besi itu lantaran setiap wanita mengalami menstruasi. Banyaknya darah yang keluar setiap bulan saat menstruasi itu secara tidak langsung mempengaruhi jumlah zat besi. Karena itu wanita muda harus selalu memerhatikan kebutuhan zat besi di dalam tubuhnya.

Disamping menyebabkan gangguan ini, kekurangan zat juga dapat membuat wanita menderita anemia. Anemia ditandai wajah pucat, mudah letih, mata berkunang-kunang saat berdiri dari duduk, dan malas saat bekerja.

Pemenuhan kebutuhan zat besi itu bisa dilakukan dengan mengkonsumsi makanan yang kaya kandungan zat besinya, seperti daun papaya, bayam, daun singkong. RLS juga rentan menyerang lanjut usia, orang yang memiliki gangguan persarafan, payah ginjal, dan pasien yang sedang menjalani cuci darah.

Produktivitas Kerja Menurun

Akibat sering tersadar waktu tidur, selain waktu tidurnya terpotong, kualitas tidur menjadi kurrang baik. Pagi hari sehabis bangun tidur, tubuh tidak bugar melainkan keletiahan. Kondisi itu membuat aktivitas pada pagi harinya terganggu sehingga tidak optimal. Karena mengantuk dan tubuh kurang bugar, maka tidak akan maksimal saat bekerja. Akibatnya, produktivitas kerja akan menurun.

Dampak lainnya ialah depresi. Bila terus dibiarkan, gangguan itu bisa menyebabkan depresi. Ada pasien depresi yang tidak bisa tidur beberapa waktu. Bayangkan, apa akibat dari tidak bisa tidur dalam jangka waktu panjang. Semua aktivitasnya jelas terganggu.

Untuk meringankan gangguan ini, cara sederhana bisa dilakukan seperti :

  • Pemijatan kaki menjelang tidur
  • Rendam kaki dalam air hangat
  • Memakai kaos kaki ketat
  • Kaki dikompres dengan air hangat atau dingin
  • Atur jadwal tidur dengan teratur
  • Untuk melancarkan aliran darah, perlu olahraga teratur
  • Lakukan pengobatan komplementer, seperti perana, yoga, dan akupuntur. Pengobatan-pengobatan jenis ini dilaporkan dapat membantu mengurangi gangguan.
  • Selain pengobatan komplementer, ada juga suplemen yang dilaporkan mampu meminimalisir gangguan, yaitu zat besi dan asam folat. Namun sebelum mengonsumsi suplemen-suplemen tersebut, penderita disarankan untuk mengonsultasikan terlebih dulu dengan dokter.

Bila gangguan dirasa sudah terlampau mendorong dan tidak mungkin lagi ditolong dengan cara-cara tersebut di atas, harus dibantu dengan pemakaian obat-obatan. Pemakaian obat tidak pperlu dalam jangka waktu panjang. Jika gangguan sudah berkurang, obat bisa dihentikan. Pada saat pengobatan itu, dokter juga akan mencari penyebabnya. Jika penyebabnya diketahui, misalnya kekurangan zat besi, maka dokter akan memberikan tambahan zat besi. Bila kebutuhan zat besi sudah dipenuhi maka gangguan itu akan hilang sendiri.

 

Jakarta’s workers steal time to catch some Zs

Ika Krismantari, The Jakarta Post, Jakarta | Tue, 05/04/2010 11:14 AM | City
http://www.thejakartapost.com/news/2010/05/04/jakarta%E2%80%99s-workers-steal-time-catch-some-zs.html

One thing your boss and your children have in common is that they both hate the idea of you having a little nap.

Bustling Jakarta seems to be a difficult environment for residents to have a kip. The nine-to-five work hour, deadlines, clients and bosses are all factors that leave no room for people to even take a break. In this city, time is a precious commodity.

But of course, those conditions won’t stop Jakartans from napping during their day. Using their own creativity, they will try to have a brief sleep away from prying eyes to avoid risking their jobs or a yell from supervisors.

“I take a nap with my friends in the car. We would go to the parking lot and get some sleep there,” 28-year-old employee Harry Simorangkir told The Jakarta Post.

Harry said he frequently took naps during break time. After having lunch, he sleeps for 15 to 30 minutes before going back to work.

“I feel fresh and can better concentrate on my job,” he said.

A number of health studies recommend companies allow employees to nap because it can improve the worker productivity.

A research from NASA (National Aeronautics and Space Administration) in 2007 showed that a nap for just 26 minutes could boost performance by 34 percent.

Sleep physician Andreas Prasadja stresses the importance of a nap to maintain people’s creativity in their work.

“Imagine you are forced to work for hours with no rest. This condition along with the deadlines will kill the workers’ creativity,” he told the Post.

Therefore, he suggests Jakarta’s employers allow their workers to have a brief snooze, if not for their workers’ sake, then for the sake of their businesses.

Many companies in other countries have applied a policy that allows their workers to take a nap. Firms in Japan prepare a special room for the employees to take a nap, while Chinese companies have a regulation that acknowledges workers’ rights to take a nap after lunch.

These companies have responded to studies that claim tired workers cause about US$150 billion in productivity losses every year.

Companies in Jakarta seem to be ignorant of the facts. There is not one firm in the city that has a “nap policy”, a fact that Andreas says because of lack of awareness.

Like Harry, many people go to extremes, like taking naps in the toilet or running away to the nearest park or mosque and employing colleagues as their partners in crime.

“I will ask my friends to wake me up when there is a meeting,” Irwan Rouf, 32, who works as an editor, says.

Rouf’s colleague even lends him a pillow anytime he needs 40 winks.

“My boss doesn’t seem to mind,” he said.

“Berita Ala Gue” JakTV

“Belagu Banget” JakTV 29/3/2010

“Atasi Ngorok!”

 

O Klinik, O Channel TV

Sabtu 5 Desember ’09 dan Senin 7 Desember ’09
di O Klinik, O Channel TV
“Gangguan Tidur yang Berbahaya.”

Peluncuran Buku

Peluncuran Buku tentang Kesehatan Tidur

“Ayo Bangun! dengan Bugar karena Tidur yang Benar.”

 

“Bahaya Mendengkur” Healthy Life Metro TV

 

Kesehatan Tidur di Radio Sonora

Bersama Trans7

Dengan Trans7 membahas Tetap Produktif di Bulan Ramadhan dengan Tidur Sehat.

 

Urusan Tidur? Pria dan Wanita Memang Berbeda

Rabu, 15 Juli 2009 | 00:31 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Wanita dan pria ternyata memang berbeda, salah satunya dalam urusan tidur. Setidaknya, itulah yang hasil penelitian yang dilakukan para ahli dari Duke University Medical Center, North Carolina, Amerika Serikat, yang dirilis Maret 2008. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa wanita yang tidak tidur dengan baik, ternyata cenderung lebih memiliki perasaan buruk, mudah marah, dan depresi, dibandingkan dengan kaum pria.

Bahkan, salah seorang penelitinya, Edward Suarez, PhD., yang juga gurubesar psikiatri di universitas tersebut, menyatakan bahwa gangguan tidur pada wanita juga menunjukkan gejala naiknya risiko terkena penyakit kardiovaskular. Hal itu tidak terjadi pada pria yang mengalami gangguan tidur yang sama.

Mengapa ada perbedaan seperti itu? Jawabannya, karena pria dan wanita memiliki sistem hormonal yang berbeda. Menurut Suarez, kondisi hormon pada wanita, sangat berpengaruh pada suasana hati, kondisi perasaan, keseimbangan insulin, dan tentu saja kualitas tidur. Contohnya, asam amino tritophan dan hormon melatonin yang membantu tidur, terkait pada fungsi serotonin pada otak, yang bekerja mengendalikan mood. Artinya, jika tidur terganggu, maka fungsi serotonin pun otomatis bakal ikut kocar-kacir.

Hal senada juga disebutkan dr. Andreas Prasadja, spesialis di bidang tidur dari Sleep Disorder Clinic, Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta. “Karena faktor hormonal pula, masalah tidur pada wanita menjadi lebih kompleks,” ujarnya

Pada saat hamil, misalnya. Pada trimester pertama, akibat tingginya hormon progesteron, seorang wanita yang biasanya tidur 5-6 jam sehari, biasanya jadi tidur lebih banyak, antara 7-8 jam sehari. Memasuki trimester kedua, progesteron masih meningkat, namun lebih lamban. Pada masa trimester kedua inilah wanita hamil baru dapat tidur dengan lebih baik.

Tapi, di usia kehamilan ini pula, banyak wanita yang justru menderita sleep apnea. “Ini ditandai dengan tidur mendengkur,” kata Andreas. Sleep apnea pada masa kehamilan bisa terjadi akibat pertambahan berat badan dan membengkaknya saluran napas. Kondisi ini sebaiknya benar-benar diperhatikan. Soalnya, menurut Andreas sleep apnea pada masa kehamilan amat berbahaya, karena dapat memicu hipertensi dan berujung pada pre-eklamsia.

Saking seriusnya, di sejumlah rumah sakit di negara- negara maju, khususnya di bagian perawatan ibu hamil, sudah banyak didirikan pusat-pusat CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) atau terapi untuk sleep apnea. Dan, pada trimester terakhir, gangguan tidur berupa insomnia bisa menyerang kembali, akibat posisi tidur yang serba sulit dan kecemasan akan proses kelahiran.

Di Indonesia, meski tidak dikhususkan untuk ibu hamil, kini ada laboratorium tidur yang bisa memonitor aktivitas tidur Anda. Sudah dibuka di beberapa tempat. Di Jakarta misalnya, ada di RS Persahabatan, RS Mitra Kemayoran, dan RS Medistra. Seperti telah disebutkan dalam artikel tidur sebelumnya (Koran Tempo, 8 Juli 2009), sebaiknya Anda memilih laboratorium dengan fasilitas polysomnography tipe 1 yang memiliki minimal tujuh channel. Yaitu bisa merekam gelombang otak, mengukur tonus otot di dagu dan kaki, menganalisa suara dengkuran, membaca gerakan bola mata, mengukur aliran udara nafas, gerakan nafas (dada dan perut), melakukan rekam jantung, mengukur kadar oksigen, juga menilai posisi tidur (miring kiri, kanan, terlentang, tengkurap), dan lainlain. Dan Lab tersebut juga harus ditunggu oleh tenaga profesional khusus di bidangnya, serta hasil dari analisa alat tersebut harus dianalisa serta dibaca oleh dokter yang khusus di bidang tidur. TIM INFO TEMPO


TIP

Jangan Merokok


Ada berbagai cara dan siasat ampuh untuk mengatasi gangguan sulitnya tidur. Selain berkonsultasi dengan ahlinya, minum segelas susu hangat mungkin bisa membantu. Ini karena susu mengandung tritophan, yaitu senyawa kimia yang bisa membantu kita terlelap. Hindari kafein dan minuman beralkohol, yang bisa membuat Anda terjaga sepanjang malam. Ini juga berlaku untuk nikotin. Hindari merokok saat hendak tidur atau jika Anda terbangun di tengah malam.

Jika tak bisa meninggalkan kopi di malam hari, setidaknya minumlah dalam waktu empat hingga enam jam sebelum waktu tidur. Cara tersebut akan membuat Anda tertidur dengan lebih mudah.

link: http://www.tempointeraktif.com/hg/info_sehat/2009/07/15/brk,20090715-187196,id.html

15-minute nap can make difference, expert says

Prodita Sabarini ,  The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Fri, 08/14/2009 2:10 PM  |  Headlines

Taking a 15-minute nap during the day can restore one’s energy and increase concentration, a sleep specialist says.

Sleep specialist Andreas Prasadja said Thursday that people in Indonesia were unaware of the importance of getting a good night’s sleep and how to make up for a lack of sleep, meaning many people feel tired unnecessarily.

Sleep deprivation can be caused by difficulties in falling asleep and insomnia to bad quality sleep due to sleep apnea, he said.

One of way to restore one’s energy is to take a short nap during the day, Andreas said. “One can take a nap at their desk or in their car. In Jakarta, people take at least an hour traveling anyway,” he said.

He said Indonesians still associate sleep or being sleepy as a sign of laziness. “Feeling sleepy during the day time or feeling tired can actually be the result of a sleep disorder.”

He added that sleep disorders can be dangerous. “Sleep apnea can be a silent killer,” he said.

Andreas was speaking at the launching of his book Ayo Bangun! (Wake Up!), about healthy sleeping habits, and the relaunch of Mitra Kemayoran’s Hospital Sleep Disorder Clinic.

The clinic, which opened in 2002, is the first of its kind in the country. Andreas is one of only two Indonesia’s sleep specialists.

“Most cities abroad have at least one sleep center, but in Indonesia the awareness among both the public and the medical community about sleep is still low,” he said.

He said a US study showed that one out of five Americans have a sleep disorder, but added that there has yet to be a similar study conducted among Indonesians. However, he said that the rate of sleep disorders was likely higher than that in the US.

He said that a common misconception in Indonesia is that people who snore sleep well. He said that if left untreated, snoring can cause hypertension, heart failure, diabetes or stroke.

Snoring is a type of sleep disorder clinically known as Obstructive Sleep Apnea (OSA).

“When people snore, their respiration tract gets clogged, due to the relaxing of muscles during sleep, and this makes them stop breathing. As a reflex the brain wake them up, often gasping for air. This means people who snore wake up continuously at night even though they might not be entirely conscious,” he said.

link: http://www.thejakartapost.com/news/2009/08/14/15minute-nap-can-make-difference-expert-says.html