Solusi Jitu Atasi Insomnia

Solusi pakar dalam menumpas kebiasaan tidur subuh dari Angelinda Saranga.

Foto: Sandy I. Mahendra

Padatnya kesibukan bekerja di bidang periklanan, memaksa Angelina Saranga sering pulang lewat tengah malam. Setibanya di rumah pun, tidak lantas membuat wanita berusia 28 tahun ini bisa langsung memejam mata. Sambil duduk di tempat tidur, Angelinda biasa menghabiskan waktu tidurnya dengan membuka laptop dan berselancar internet. Meski saat ini Angelinda merasa kondisi badannya baik-baik saja, namun rasa khawatir jika suatu hari nanti tiba-tiba sakit membuatnya sadar untuk merubah kebiasaan buruknya ini.

Awalnya, Angelinda berpikir kegiatan apa pun yang dilakukan di atas tempat tidur bisa membuatnya cepat ngantuk. Tapi anggapan tersebut ternyata salah! Kebiasaan ini malah membuat rasa kantuk Angelinda baru datang saat waktu menunjukkan pukul 4 atau 5 dini hari. Kemudian, bangun jam 8 pagi atau bahkan jam 11 siang. Angelinda juga pernah mengonsumsi obat tidur yang dijual di pasaran, namun solusi ini tidak mempan.

Menurut Dr. Andreas Prasadja, RPSGT, pakar tidur dari Sleep Disorder Clinic di Mitra Kemayoran, Angelinda mengidap sleep delayed phase, yaitu pergeseran jam tidur akibat ketidaktahuan akan jam biologis dan fungsi-fungsi tidur normal. Untuk mengatasi masalah ini, memang kita diharuskan mengenali jam berapa kita baru bisa tidur. Setelah itu, tidurlah pada jam tersebut tak risau atau gelisah menunggu kantuk.

Tidak hanya itu, kita juga harus bisa menghindari segala aktivitas lain di tempat tidur sebelum mengantuk. Tanamkan di benak kalau tempat tidur berfungsi sebagai tempat untuk merebahkan diri dan memejamkan mata. Untuk menghilangkan kebiasaan buruknya itu, kini Angelinda tidak pernah menyalakan laptop di atas kasur. Kalau pun ingin mengecek e-mail, Angelinda akan membuka laptop di meja dan memasang lagu-lagu berirama lembut untuk membuatnya lebih rileks.

Selain kebiasaan main laptop di atas kasur, Angelinda juga mengaku memiliki kebiasaan buruk lainnya, yaitu minum kopi minimal 3 gelas sehari. Kafein akan mempengaruhi otak selama 9-12 jam, ujar Dr. Andreas. Jadi, ketika kita ingin tidur pukul 11 malam, sebaiknya konsumsi kopi terakhir sebelum pukul 11 siang. Karena saran tersebut, Angelinda membatasi asupan kopinya dengan waktu yang terjadwal. “Saya kini minum kopi hanya 2 kali dalam sehari. Waktunya pun saya perhitungkan. Pertama di pagi hari, dan paling akhir jam 3 siang,” ujar Angela.

Pola hidup baru yang dijalani Angelinda memang sudah memberikan hasil yang cukup, sebab belakang Angelinda sudah bisa tidur sebelum jam 1 malam. Dan bangun pagi antara pukul 6 atau 7. Meski belum memenuhi saran untuk tidur 8 jam sehari, namun kualitas tidurnya sudah jauh lebih baik, tambah Angelinda. (Alia An Nadhiva/Astrid Anastasia)

link: http://preventionindonesia.com/article.php?name=%2Fsolusi-jitu-atasi-insomnia&channel=health%2Fhealthy_lifestyle

Fenomena Tindihan Saat Tidur, Benarkah Gara-Gara Makhluk Halus?

Rabu, 05 Januari 2011 10:02
LISA (29 tahun), sering cemas saat hendak tidur. Ia takut mengalami tindihan. Beberapa bulan belakangan saat hendak bangun dari tidur, atau baru saja terlelap, ia merasa seperti ditindih sesuatu. Ada rasa dingin menjalar dari ujung kaki ke seluruh tubuhnya. Mau bangun, dan minta tolong, tak bisa.Setelah komat-kamit membaca doa, Lisa memaksakan diri untuk menggerakkan ujung kaki, ujung tangan dan kepala sekencang-kencangnya hingga seluruh tubuh bisa digerakkan kembali. Lisa berhasil bangun, namun ia takut untuk memejamkan kembali matanya. Ia tak mau tindihan terulang.

 

Masyarakat Indonesia menyebut kondisi seperti yang dialami Lisa dengan nama tindihan (rep-rep). Ada anggapan bahwa tindihan terjadi karena ulah mahluk halus yang menindih tubuh kita. Anggapan itu ada karena orang yang mengalami tindihan sering melihat bayangan hitam.

Sleep Paralysis (Tidur Lumpuh)

Seorang peneliti ISP, Al Cheyne dari University of Waterloo, menduga bahwa ISP adalah sejenis halusinasi karena adanya malfungsi tidur di tahap REM atau Rapid Eye Movement. Dr. Andreas Prasadja, RPSGT, menjelaskan bahwa tidur dibagi menjadi 4 tahap berdasarkan gelombang otak, yaitu tahap N1, N2, N3, dan R.

N1 adalah tahap tidur paling ringan (masih setengah sadar). N2 merupakan tahap tidur yang lebih dalam, sedangkan N3 paling dalam. R adalah REM, pada tahap ini mimpi terjadi. Urutan tidur biasanya dimulai dari N1-N2-N3-kembali ke N2-R-kembali ke N2-N3-kembali ke N2-R-kembali ke N2-N3 dan seterusnya. Gelombang otak mimpi mempunyai frekuensi mirip gelombang otak sadar. Ini menjelaskan kenapa orang bisa merasa berada dalam alam kesadaran lain ketika bermimpi.

Sleep paralysis paling sering terjadi pada orang yang kurang tidur, kelelahan, stres, dan cemas berlebihan. Saat tubuh terlalu lelah atau kurang tidur, gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Dari keadaan sadar (saat hendak tidur) ke tahap tidur paling ringan, lalu langsung melompat ke mimpi (REM). Ketika otak mendadak terbangun dari tahap REM tapi tubuh belum, di sinilah sleep paralysis terjadi.

Kita merasa sadar, tapi tubuh tak bisa bergerak. Ditambah lagi adanya halusinasi muncul sosok lain yang sebenarnya merupakan ciri khas dari mimpi. Rasa sesak dan seperti dicekik muncul karena dalam tahap REM terjadi ketidaksinkronan antara lalu lintas udara dalam sistem pernafasan dengan tingkat kesadaran seseorang.

Sleep paralysis juga bisa disebabkan stres dan beban perasaan yang terbawa ke dalam mimpi. Rasa takut yang sering divisualisasikan dengan keberadaan mahluk lain, juga diduga karena sedang berusaha mengindentifikasikan rasa takut dan teror yang disimpannya dalam kehidupan nyata.

Mereka yang sering mengalami tekanan psikis dan fisik akan lebih banyak mengalami sleep paralysis. Kondisi geologis dan lingkungan kerja juga dapat mempengaruhi. Misalnya mereka yang bekerja dalam shift sehingga kekurangan tidur atau memiliki pola tidur yang tidak teratur. Beberapa penelitian bahkan menemukan, perasaan positif yang sangat kuat, seperti jatuh cinta atau setelah melakukan hubungan seks, dapat pula menyebabkan sleep paralysis.

Dalam kacamata kesehatan, keadaan ketika orang akan tidur atau bangun tidur kemudian merasa sesak napas seperti dicekik, dada sesak, badan sulit bergerak dan sulit berteriak disebut sleep paralysis alias tidur lumpuh (karena tubuh tak bisa bergerak dan serasa lumpuh). Hampir setiap orang pernah mengalaminya. Setidaknya sekali atau dua kali dalam hidupnya. Tindihan bisa terjadi pada lelaki atau perempuan.

Dan, usia rata-rata orang pertama kali mengalami gangguan tidur ini adalah 14-17 tahun. Sleep paralysis berlangsung dalam hitungan detik, hingga menit. Yang menarik, saat tindihan terjadi, kita sering mengalami halusinasi, seperti melihat sosok atau bayangan hitam di sekitar tempat tidur. Tak heran, fenomena ini pun sering dikaitkan dengan hal mistis.

Mitos Sleep Paralysis di Beberapa Negara

Masyarakat Jawa Kuno mempercayai bahwa “Tindihan” disebabkan oleh naiknya roh-roh halus dari tempat penyimpanan air di bawah tanah ke bawah tempat tidur seseorang.

Orang-orang Spanyol menyebutnya “pesadilla” dengan penjelasan serupa dengan “Tindihan”.

Di budaya Islandia, disebut “mara”. Kata kuno bahasa Island yang artinya hantu yang menduduki dada seseorang di malam hari, berusaha membuat orang itu sesak napas dan mati lemas.

Di budaya Hungaria, disebut “lidercnyomas” dan dikaitkan dengan kata supranatural boszorkany (penyihir). Boszorkany sendiri berarti menekan, sehingga kejadian ini diterjemahkan sebagai tekanan yang dilakukan makhluk halus pada seseorang di saat tidur.

Di budaya Malta, gangguan tidur ini dianggap sebagai serangan oleh Haddiela (istri Hares), dewa bangsa Malta yang menghantui orang dengan cara merasuki orang tersebut. Untuk menghindari serangan Haddiela, seseorang menaruh benda dari perak atau pisau di bawah bantal saat tidur.

Di budaya Turki, disebut “karabasan”, dipercaya sebagai makhluk yang menyerang orang di kala tidur, menekan dada orang tersebut dan mengambil napasnya.

Di budaya Afro-Amerika, gangguan tidur ini disebut “the devil riding your back” atau hantu yang sedang menaiki bahu seseorang.

Di budaya Meksiko, disebut “se me subio el muerto” dan dipercaya sebagai kejadian adanya arwah orang meninggal yang menempel pada seseorang.

Di budaya Kamboja, Laos dan Thailand, disebut “pee umm”, yaitu seseorang tidur dan bermimpi makhluk halus memegangi atau menahan tubuh orang itu untuk tinggal di alam mereka.

Di budaya Vietnam, disebut “ma de” yang artinya dikuasai setan. Banyak penduduk Vietnam percaya gangguan ini terjadi karena makhluk halus merasuki tubuh seseorang.

Di budaya China, disebut “gui ya shen” alias gangguan hantu yang menekan tubuh seseorang.

Di budaya New Guinea, fenomena ini disebut “suk ninmyo”. Ini adalah pohon keramat yang hidup dari roh manusia. Pohon keramat ini akan memakan roh manusia di malam hari agar tidak menggangu manusia di siang hari. Namun, seringkali orang yang rohnya sedang disantap pohon ini terbangun dan terjadilah sleep paralysis.

Di budaya Jepang, disebut “kanashibari”, yang secara literatur diartikan mengikat sehingga diartikan seseorang diikat oleh makhluk halus. Peneliti masih berusaha menemukan kaitan letak geologis Jepang di kawasan pasifik dengan fenomena ini.

Malfungsi Tidur Menurut Al Cheyne, peneliti dari Universitas Waterloo, Kanada, sleep paralysis merupakan halusinasi karena adanya malfungsi tidur di tahap rapid eye movement (REM). Sebagai pengetahuan, berdasarkan gelombang otak, tidur terbagi dalam 4 tahapan. Tahapan itu adalah tahap tidur paling ringan (kita masih setengah sadar), tahap tidur yang lebih dalam, tidur paling dalam, dan tahap REM (pada tahap inilah mimpi terjadi).

Saat kondisi tubuh terlalu lelah atau kurang tidur, gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Jadi, dari keadaan sadar (saat hendak tidur) ke tahap tidur paling ringan, lalu langsung melompat ke mimpi (REM). Ketika otak mendadak terbangun dari tahap REM, tapi tubuh belum bangun, di sinilah sleep paralysis terjadi. Kita merasa sangat sadar, tapi tubuh tak bisa bergerak. Ditambah lagi adanya halusinasi muncul sosok lain yang sebenarnya ini merupakan ciri khas dari mimpi.

Meski biasa terjadi, gangguan tidur ini patut diwaspadai. Pasalnya, sleep paralysis bisa juga merupakan pertanda narcolepsy (serangan tidur mendadak tanpa tanda-tanda mengantuk), sleep apnea (mendengkur), kecemasan, atau depresi. Jika kita sering mengalami tindihan, sebaiknya buat catatan mengenai pola tidur selama beberapa minggu.

Ini akan membantu kita mengetahui penyebabnya. Lalu, atasi dengan menghindari pemicu. Kurang tidur pun tidak boleh dianggap remeh. Jika sudah menimbulkan sleep paralysis, kondisinya berarti sudah berat. Segera evaluasi diri dan cukupi kebutuhan tidur. Usahakan tidur 8-10 jam pada jam yang sama setiap malam.

Tindihan umumnya terjadi pada orang yang tidur dalam posisi telentang (wajah menghadap ke atas dan hampir nyenyak atau dalam keadaan hampir terjaga dari tidur). Itu sebabnya, kita perlu sering mengubah posisi tidur untuk mengurangi risiko terserang gangguan tidur ini.

Jika tindihan disertai gejala lain, ada baiknya segera ke dokter ahli tidur atau laboratorium tidur untuk diperiksa lebih lanjut. Biasanya dokter akan menanyakan kapan tindihan dimulai dan sudah berlangsung berapa lama. Catatan yang telah kita buat akan  membantu ketika memeriksakan diri ke dokter.

Gangguan Lain Selain sleep paralysis, ada gangguan tidur lainnya. Yaitu, insomnia adalah suatu gangguan tidur yang dialami oleh penderita dengan gejala-gejala selalu merasa letih dan lelah sepanjang hari dan secara terus menerus (lebih dari sepuluh hari) mengalami kesulitan untuk tidur atau selalu terbangun di tengah malam dan tidak dapat kembali tidur. Seringkali penderita terbangun lebih cepat dari yang diinginkannya dan tidak dapat kembali tidur.

Ada tiga jenis gangguan insomnia, yaitu: susah tidur (sleep onset insomnia), selalu terbangun di tengah malam (sleep maintenance insomnia), dan selalu bangun jauh lebih cepat dari yang diinginkan (early awakening insomnia). Cukup banyak orang yang mengalami satu dari ketiga jenis gangguan tidur ini.

Dalam penelitian dilaporkan bahwa di Amerika Serikat sekitar 15 persen dari total populasi mengalami gangguan insomnia yang cukup serius. Gangguan tidur ini merupakan gangguan yang belum serius jika anda alami kurang dari sepuluh hari. Untuk mengatasi gangguan ini kita dapat menggunakan teknik-teknik relaksasi dan pemrograman bawah sadar.

Kebalikan dari insomnia adalah hypersomnia. Seringkali penderita dianggap memiliki gangguan jiwa atau malas. Para penderita hypersomnia membutuhkan waktu tidur yang sangat banyak dari ukuran normal. Meskipun penderita tidur melebihi ukuran normal, namun mereka selalu merasa letih dan lesu sepanjang hari.

Ada juga gangguan parasomnia, yaitu setengah tidur, setengah terjaga, biasanya merupakan fenomena gangguan tidur yang tidak umum dan tidak diinginkan yang tampak secara tiba-tiba selama tidur, atau yang terjadi pada ambang antara terjaga dan tidur. Paling sering muncul dalam bentuk mimpi buruk yang ditandai dengan mimpi lama dan menakutkan. Biasanya, orang terduduk di tempat tidur dengan ekspresi ketakutan, berteriak dengan keras seperti sedang mengalami teror.

Ada juga yang disebut, narcolepsy, gangguan tidur yang diakibatkan oleh gangguan psikologis dan hanya bisa disembuhkan melalui bantuan pengobatan dari seorang dokter ahli jiwa. Penyakit ini berbeda dengan insomnia yang terjadi secara terus menerus.

Justru penderita narcolepsy ini terkena serangan secara mendadak pada saat yang tidak tepat, seperti sedang memimpin rapat – biasanya terjadi serangan pada kondisi emosi yang tegang seperti: marah, takut atau jatuh cinta. Serangan narcolepsy dapat melumpuhkan seseorang dalam beberapa menit ketika dia masih sadar dan secara tiba-tiba membawanya ke alam mimpi.

Ada juga apnea, yang merupakan salah satu gangguan tidur yang cukup serius. Lebih dari 5 juta penduduk Amerika Serikat mengalami gangguan ini. Faktor risiko terkena gangguan ini antara lain: kelebihan berat badan (overweight), usia paruh baya terutama pada wanita, atau usia lanjut (lansia) yang pernah mengalami ketergantungan obat. Apnea adalah penyakit yang disebut juga îto fall asleep at the wheelî karena sering dialami ketika penderita sedang mengemudikan mobil.

Apnea terjadi karena fluktuasi atau irama yang tidak teratur dari denyut jantung dan tekanan darah. Ketika terserang, penderita seketika merasa mengantuk dan jatuh tertidur. Penderita apnea mengalami kesulitan bernapas bahkan berhenti bernapas pada saat tidur ketika terserang gangguan ini. Fluktuasi denyut jantung dan tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan kematian seketika pada penderita.

Gangguan tidur lainnya, seperti berbicara atau berjalan dalam keadaan tidur, ataupun menggertakkan gigi merupakan gangguan tidur yang tidak berbahaya. Namun berbahaya jika berjalan dalam tidur menemui objek yang berbahaya (benda tajam, api, batu) atau terjatuh.

Gangguan berbicara dalam tidur hanya akan mengganggu teman sekamarnya. Sedangkan menggertak gigi dapat merusak email gigi. Penyakit menggertak gigi ini disebut dengan bruxism.

Pencegahan dan Cara Mengatasi

Sleep paralysis patut diwaspadai karena bisa merupakan gejala penyakit, seperti narcolepsy (serangan tidur mendadak tanpa tanda-tanda mengantuk), depresi, atau bahkan schizophrenia. Sleep paralysis kemungkinan ditimbulkan juga oleh aliran darah yang tersumbat sehingga otak dan tubuh tidak lancar terhubung. Akibatnya ketika otak terbangun namun tubuh tidak dapat bergerak karena ada bagian otak yang masih memerintahkan bahwa tubuh sedang tidur. Penyumbatan aliran darah tersebut bisa berbahaya jika dibiarkan terus menerus.

Belum lagi dampak psikologisnya. Orang-orang yang mengalami sleep paralysis, setelah terbangun biasanya trauma dan tidak berani tidur karena takut kesadaran akan hilang dan kejadian itu berulang lagi. Karena itulah sleep paralysis harus dicegah dan diatasi.

1. Hindari Stres

Stres diduga penyebab terbesar sleep paralysis. Mulailah hidup sehat secara fisik maupun psikis. Jangan merokok, minum alkohol/kafein, dan makan terlalu banyak. Cukupi kebutuhan tidur dan istirahat.

Tenangkan pikiran sebelum tidur. Kunci pintu, jendela, dan padamkan api sebelum tidur. Rasulullah saw bersabda: “Padamkan api sebelum tidur, tutup pintu, bejana, makanan dan minuman” (HR. Bukhari dan Muslim). Hindari tidur dengan atap terbuka. “Barangsiapa tidur malam pada rumah yang tak ada atap penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya” (HR. Bukhari dalam Adab Al Mufrad). Jangan lupa membersihkan ranjang. “Jika kalian akan tidur, maka kibaskan kain tempat tidurnya terlebih dulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya …” dalam riwayat lain, “tiga kali” (HR. Bukhari dan Muslim).

Wudhu sebelum tidur sangat membantu menyegarkan tubuh dan pikiran. Jeda waktu saat berbaring menuju terlelap dapat diisi dengan muhasabah (evaluasi diri), membaca doa, zikir, ayat Kursi, dua ayat terakhir Al Baqarah, Surah Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas. Jika bangun mendadak maka bisa berdoa: “A’udzu bikalimatillahit tammati min ghodobihi wa syarro i’baadihi wamin hamazaatisy syayaatiin wa ayyahdurun” (HR. Abu Dawud, dihasankan Al Albani). Jika mimpi buruk maka meludahlah ke kiri tiga kali, baca ta’awudz dan jangan ceritakan pada orang lain. Jika mimpi baik maka ceritakan pada saudara/sahabat dekat. Jangan lupa berdoa dan bersyukur saat bangun tidur.

2. Pola Tidur

Buat pola tidur menjadi lebih teratur. Usahakan tidur di waktu awal pada jam yang sama setiap malam, sekitar pukul 8 atau 9 sesudah isya. Aisyah ra: “Rasulullah tidur pada awal malam dan bangun di penghujung malam lalu sholat” (HR. Bukhari dan Muslim).

Posisi tidur terlentang menjadi salah satu penyebab sleep paralysis. Karena itu berbaring miring dapat mengurangi resiko tersebut. Bara’ bin ‘Azib meriwayatkan, Nabi saw bersabda: “Jika kamu akan tidur, berwudhulah seperti akan sholat, kemudian berbaringlah dengan miring sebelah kanan …”. Hindari pula tidur tengkurap (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Al Albani).

3. Membuat Gerakan Kecil

Jika mengalami sleep paralysis, beberapa orang menyarankan untuk membuat gerakan mata dengan cepat, agar dapat keluar dari situasi tersebut. Bisa juga mencoba dengan menggerakkan ujung kaki, ujung tangan atau kepala sekencang-kencangnya hingga seluruh tubuh bisa digerakkan kembali. Cara di atas ditambah dengan bernafas sedalam mungkin, tarik napas sedalam mungkin dan keluarkan secara teratur. Begitu anggota tubuh mulai dapat bergerak maka segera bangun dan tenangkan diri.

4. Membuat Gerakan Mental

Kondisi sleep paralysis sering membuat panik dan ketakutan sehingga dapat memunculkan alam bawah sadar tentang ketakutan kita sendiri sehingga terkadang terbayang adanya makhluk halus.

Mulut kelu dan susah bergerak ketika sleep paralysis bukanlah pergerakan fisik yang sebenarnya, melainkan gerakan mental. Para ahli menganjurkan untuk terus berusaha “melawan” dan menggerakkan anggota tubuh melalui kekuatan pikiran.

Karena itu tetaplah tenang dan berpikir positif. Sikap yang tenang akan meminimalkan munculnya ketakutan dan bayangan-bayangan yang buruk. Lakukan gerakan-gerakan kecil seperti yang disampaikan sebelumnya dengan ditopang pergerakan mental. Gerakan mental ini menjadi efektif dengan lantunan zikir yang teratur.

5. Pengobatan Medis

Jika terlalu sering mengalami sleep paralysis, maka selain cara-cara di atas, evaluasi diri pun harus dilakukan. Buat catatan mengenai pola tidur selama beberapa pekan dan susun daftar masalah-masalah yang menyita pikiran. Ini membantu untuk mengetahui faktor pemicu sleep paralysis, sehingga gangguan tidur tersebut dapat diatasi dengan menghindari faktor pemicunya.

Jika sleep paralysis disertai gejala lain, ada baiknya segera ke dokter ahli tidur atau laboratorium tidur. Catatan yang sudah dibuat akan membantu dokter mengetahui kapan sleep paralysis dimulai dan sudah berlangsung berapa lama, juga jenis obat yang pernah atau sedang digunakan. Hindari konsumsi obat penenang untuk tidur.

Ketenangan mental dan pikiran merupakan faktor utama mengatasi sleep paralysis. Hilangkan rasa was-was, takut dan ketergantungan terhadap makhluk, khusyukkan hati melalui ibadah dan zikir, serta perkuat akidah dengan rutin mengikuti kajian yang membersihkan hati dan mengisi ilmu. (fn/sm/mc) www.suaramedia.com

Hipersomnia, Berefek Cemas dan Lemas

Minggu, 12 Desember 2010 | 12:02 WIB

Pernah merasa sangat mengantuk di saat jam-jam sibuk? Jika ini yang sering dirasakan, mungkin anda mengidap hipersomnia. Hipersomnia adalah kebalikan dari insomnia.

Menurut dr Andreas Prasadja, RPSGT, sleep technologist dari Sleep Disorder Clinic, hipersomnia adalah sebuah gejala gangguan tidur yang membuat penderitanya mengalami rasa kantuk berlebihan meskipun sudah tidur cukup.

Pada mereka yang menderita hipersomnia, tidur yang berlebihan adalah suatu gangguan atau kelainan medis. Kondisi ini menyebabkan seseorang menderita akibat rasa kantuk yang berat atau berlebihan sepanjang hari, yang biasanya tidak dapat diatasi dengan tidur siang.

Hipersomnia juga menyebabkan mereka tertidur untuk jangka waktu yang lama pada malam hari. Kebanyakan penderita hipersomnia mengalami gejala-gejala seperti kecemasan, lemas tidak bertenaga dan mengalami gangguan ingatan sebagai akibat dari dorongan yang hampir konstan untuk tidur.  “Ciri-ciri lainnya adalah bangun tidur tak segar, cepat mengantuk, sulit berkonsentrasi, cepat lelah, plus daya ingat yang terus menurun,” kata Andreas.

Tidur memang salah satu kebutuhan dasar manusia dan berperan vital bagi kesehatan. Namun bila tidur sudah menjadi sesuatu yang dominan dalam aktivitas sehari-hari tentu harus diwaspadai.

Tidur terlalu lama (oversleeping) bisa jadi pertanda hadirnya gangguan yang berhubungan dengan sejumlah penyakit baik fisik maupun mental. Tidur bagi manusia adalah hal yang sangat penting, karena tidur mengendalikan irama kehidupan kita sehari-hari.

Jika kita kurang tidur atau mengalami gangguan dalam tidur, maka hari-hari kita akan menjadi lambat dan kurang bergairah. Sebaliknya tidur yang cukup dan berkualitas akan membantu kita memiliki energi dan gairah dalam menjalani aktifitas sehari-hari.

Setiap manusia menghabiskan seperempat sampai sepertiga dari kehidupannya untuk tidur. Menurut penelitian, hampir setiap manusia pernah mengalami masalah tidur. Satu dari tiga orang dilaporkan mengalami gangguan tidur dan satu dari sembilan orang memiliki masalah tidur yang cukup serius.

Untuk membebaskan diri dari “kekacauan” akibat tak bisa membuat rutinitas tidur kita menjadi lebih berkualitas, menurut Andreas ada beberapa hal yang harus anda perhatikan yaitu membiasakan tidur yang berkualitas.

“Tidur yang berkualitas itu bukan hanya durasi lamanya mata terpejam yang diperhitungkan, melainkan bagaimana kita membuat gelombang otak masuk ke dalam vase tidur lelap. Dan vase tidur lelap akan tercapai jika kita benar-benar siap untuk tidur tak hanya sekadar memejamkan mata,” kata dia.

Ia juga menambahkan mengenai durasi, idealnya, orang dewasa membutuhkan waktu tidur 8-9 jam di malam hari. “Untuk remaja 9 jam adalah waktu yang tak bisa ditawar-tawar,” katanya.

Selain itu Andreas juga menyarankan untuk menjauhkan pengganggu tidur di dalam kamar anda. “Jadikanlah tempat tidur sebagai tempat yang nyaman untuk terlelap,” katanya.

Ini berarti kita harus menjauhkan televisi, video games, dan laptop atau komputer dari kamar. Membiasakan jam tidur yang teratur, juga bisa dijadikan cara untuk mengatasi gangguan hipersomnia.

Meskipun cara ini tak mudah untuk dilakukan, namun menurut Andreas ada sebuah alternatif yang bisa anda lakukan yaitu dengan menentukan waktu bangun yang harus diikuti setiap harinya. “Konsisten bangun di waktu yang sama selama seminggu atau sampai sebulan, maka tubuh akan mengikuti ritme tersebut,” tuturnya.

Ritme ini, lanjut Andreas yang nantinya akan membentuk sirkardian atau jam biologis tubuh. Kita akan selalu mengantuk lebih cepat jika di malam sebelumnya kita kurang tidur, tapi bangun selalu di jam yang sama. Walhasil tubuh akan meminta kita kembali pada jam tidur yang sebelumnya.

Memajukan jam tidur, dikatakan Andreas merupakan cara untuk menghilangkan hipersomnia. “Cobalah memajukan jam tidur kita 15 menit lebih cepat selama 4 malam berturut-turut. Setelah ini berhasil, buat jadwal tidur kita 1 jam lebih cepat dari biasanya,” ujarnya.

Makan dengan teratur, juga bisa membuat hipersomnia anda perlahan menghilang. Jika anda bertanya apa hubungannya makan dengan tidur, maka Andreas mengatakan bahwa keduanya sangat erat kaitannya.

“Makan di jam yang sama setiap hari akan membuat sirkardian kita “berdentang” dengan teratur, termasuk distribusi energi untuk memberikan sinyal pada kita bahwa sudah waktunya istirahat,” ujarnya.

Andreas juga menerangkan, jika kita tidak makan teratur, misalnya memundurkan makan siang menjadi lebih sore, akan membuat makan malam kita mundur sampai mendekati waktu tidur. Dan pasokan energi mendekati waktu tidur justru membuat kita bersemangat melakukan banyak hal.

“Idealnya, 2 sampai 3 jam sebelum waktu tidur kita sudah berhenti makan agar metabolisme berjalan sempurna sehingga tak ada yang berubah wujud menjadi timbunan lemak di tubuh,” sahutnya.

Selain itu, satu hal yang paling penting, namun jarang kita lakukan adalah berolahraga! Lakukanlah aktivitas bakar lemak seperti aerobik setiap hari, minimal 30 menit. “Aerobik akan membuat tubuh kita lebih cepat terlelap. Terlebih jika kita melakukan olahraga di ruang terbuka, 30 menit terpapar sinar matahari pagi akan meregulasi pola tidur kita. Sehingga secara alamiah bisa tidur dengan teratur dan berkualitas,” kata Andreas.

Namun ia mengingatkan yang perlu diingat adalah hindarilah berolahraga 3 jam sebelum tidur, sebab adrenalin yang terpacu justru akan menjauhkan kita dari rasa kantuk.

Terakhir, jika berbagai cara di atas belum juga mampu menghilangkan hipersomnia anda. Maka, sebaiknya anda harus menemui pakar kesehatan tidur: Sebab hipersomnia juga bisa merujuk pada gangguan tidur seperti narkolepsi atau sleep apnea.

Narkolepsi adalah gangguan yang membuat orang tak bisa menahan rasa kantuknya, sehingga dalam keadaan tengah beraktivitas pun bisa tiba-tiba tertidur. Sedangkan sleep apnea, gangguan nafas pada saat tidur yang sebenarnya membuat otak kita tetap terjaga meski mata terpejam. ins, m8

link: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=ba6eb126f6e0a1cdeb3d5aaff181aeae&jenis=c74d97b01eae257e44aa9d5bade97baf

Mengigau Tanda Tubuh Kurang Istirahat

image

Yuri Arcurs/Shutterstock

Mengigau merupakan acuan jika tubuh kekurangan waktu beristirahat. Yang jelas, menggigau bukanlah curhat seseorang ketika tertidur.

“Kondisi tubuh yang terlalu lelah membuat mekanisme otak jadi kacau. Omongan orang yang sedang menggigau juga tidak ada kaitannya dengan dunia nyata, perasaan yang dipendam, ataupun masalah yang sedang ia hadapi,”ujar sleep technologist dari Sleep Disorder Clinic, RS Mitra Kemayoran Dr. Andreas Prasadja, RPSGT.

Andreas menjelaskan bahwa sebagian otak dalam kondisi terjaga pada saat menggigau terjadi. Bagian otak yang terjaga tersebut hanya cukup untuk membuat seseorang tersebut bicara.

Sedangkan separuh bagian dari otak berada dalam kondisi tidur atau tidak sadar. Itulah sebabnya orang menggigau omongannya ngawur. Kejadian ini biasanya dialami oleh anak kecil.

Menurut American Academy of Sleep Medicine, di Amerika, menggigau terjadi pada hampir 50 persen anak berusia dibawah 10 tahun. Menggigau juga biasanya akan menghilang ketika anak beranjak dewasa.

“Jika masih sering terjadi ketika seseorang sudah dewasa, bisa jadi orang tersebut sangat kekurangan waktu tidur,” imbuh Andreas.

Kurang tidur ini tak boleh dianggap remeh. Sebab bisa menimbulkan berbagai efek tidak langsung yang berbahaya bagi jiwa orang tersebut.

“Tak hanya mendengkur, coba bayangkan jika Anda menyetir kendaraan dalam keadaan ngantuk. Bisa nabrak,” kata Andreas.

Karenanya, Andreas menyarankan agar tiap orang mematuhi anjuran durasi tidur selama delapan jam perhari. Kalau tidak bisa, tebuslah waktu tidur di malam berikutnya atau lakukanlah tidur siang. (mic)

link: http://sehatnews.com/berita/3992-Mengigau-Tanda-Tubuh-Kurang-Istirahat.html