Begadang Memicu Kanker?

Jumat, 28 Januari 2011

Tahukah Anda, begadang bisa menyebabkan berbagai penyakit serius. Dan, benarkah begadang bisa diganti dengan tidur siang?

Jika Anda sudah menjalani pola makan sehat dan rutin berolahraga, tapi dokter menemukan beberapa penyakit serius di tubuh Anda, bisa jadi pola tidur Anda yang menjadi pangkal permasalahan.

Menurut dr. Andreas Prasadja RPSGT. , Praktisi Kesehatan Tidur dari RS Mitra Keluarga Kemayoran , begadang merupakan aktivitas di mana seseorang sengaja mengurangi jam tidurnya.

“Berbeda dengan insomnia, ya. Kadang orang sering menyamakannya dengan insomnia karena sama-sama berkenaan dengan tidur. Kalau insomnia itu, penyakit kesulitan tidur, mudah terbangun di kala tidur, sulit mempertahankan tidur, atau terbangun dan tak bisa tidur lagi. Aktivitas ini terjadi setiap malam, sehingga menyebabkan aktivitas pengidapnya tergangggu di siang hari,” papar Andreas.

Dampak Negatif

Orang yang terbiasa begadang (kurang tidur), biasanya akan merasakan beberapa dampak seperti:

– Kondisi emosi yang tidak stabil sehingga mudah tersinggung, mudah depresi, sensitif.

– Kemampuan kongnitifnya terganggu sehingga ketelitian, kemampuan analitis, dan kreativitasnya berkurang.

– Sistem syaraf simpatis (sistem syaraf stres) meningkat dan dapat menyebabkan tekanan darah, gula darah, dan napsu makan meningkat juga. Makanya, untuk orang-orang yang sedang dalam program diet atau tidak mau badannya gemuk, dianjurkan untuk tidak begadang.

Gangguan di atas tidak hanya berlaku pada orang dewasa, tapi juga anak-anak. “Banyak orang tua yang berpikir, untuk menjaga kondisi tubuh anaknya tetap sehat yaitu dengan menjaga pola makan anaknya. Sebenarnya, pemikiran ini kurang tepat. Ada baiknya, orang tua juga menjaga jam tidur anak dengan ketat, karena metabolisme tubuh bekerja lebih giat pada saat kita tertidur,” saran Andreas.

Sesuai Usia

Cukupkah meluangkan waktu selama delapan jam untuk tidur? Andreas menuturkan, beda usia, beda pula jumlah kebutuhan jam tidurnya.

Usia di atas 30 tahun butuh sekitar 7-8 jam tidur. Sedangkan usia remaja hingga dewasa muda, 8,5-9,15 jam untuk tidur. Dan, anak SD-SMP butuh 10-11 jam tidur.

Dengan jam tidur yang tepat, prestasi akademis dan kemampuan atletik anak pun akan meningkat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Mary Cash Kadon (pelopor penelitian tidur pada remaja usia sekolah). Katanya, Anak yang tidur cukup memiliki daya tahan tubuh, otot refleks, konsentrasi, dan nilai absensi yang lebih baik.

Ganti dengan Tidur Siang

Anggapan jangan tidur siang supaya tidak begadang di malam hari, memang benar adanya. Namun, bagi orang-orang yang sudah terlanjur begadang, ada baiknya mengganti jam tidur malamnya dengan tidur siang. Lamanya tidur siang bisa disesuaikan dengan kebutuhan biologis.

Hindari juga makanan dan minuman yang mengandung kafein tinggi (kopi, teh, coklat, minuman bersoda, dan minuman berenergi).

Dan, untuk penyuka kopi, ada baiknya Anda mengonsumsi kopi 12 jam sebelum tidur. Selain itu, hindari berolahraga di malam hari, karena itu hanya akan membuat adrenalin (yang memicu semangat otak untuk bekerja) meningkat.

Tubuh pun Punya Jam Piket

Ternyata, organ tubuh kita bekerja tiada henti selama 24 jam agar tubuh tetap sehat dan metabolismenya tertata rapi.

Sistem ini disebut jadwal piket tubuh atau internal body clock (nama lainnya circadian rhyth). Jika ada satu saja organ tubuh yang tidak beroperasi dengan baik, gangguan kesehatan seperti obesitas, diabetes, insomnia, depresi, penyakit jantung hingga kanker bisa terjadi.

Berikut penjelasannya:

Di pagi dan siang, tubuh memerlukan asupan nutrisi yang banyak. Jadi, jangan lewatkan sarapan agar limpa dapat bekerja maksimal mendistribusikan nutrisi untuk diserap tubuh.

Menjelang pukul 1 siang sampai 3 sore, proses regenerasi sel hati terjadi. Di sini hati menangkal penyakit. Hal ini berlangsung hingga 2 jam kemudian sampai pembuangan racun dilakukan. Barulah, dua jam berikutnya, proses pertumbuhan otak dan pembentukan sumsum tulang dilakukan.

Pada pukul 7 hingga 9 malam, jangan mengonsumsi makanan berat namun jangan melewatkan makan malam karena lambung tetap bekerja meski ringan. Jadi pilihlah makanan ringan.

Proses metabolisme tak berhenti sampai di situ dan ini menjelaskan mengapa tidur menjadi sangat penting. Dua jam setelahnya, proses pembuangan racun kembali dilakukan. Sebaiknya kita beristirahat atau tidur untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Sekitar pukul 11 malam hingga 1 dini hari, jangan sia-siakan waktu dengan begadang, pasalnya kantung empedu sedang melakukan proses detoks dalam tubuh. Jika Anda memaksa tetap bekerja atau begadang, fungsi jantung akan melemah.

Racun yang dihasilkan proses detoks baru akan dibuang pukul 3 dini hari.  Tentunya untuk mendapatkan hasil yang maksimal juga, proses ini harus berlangsung dalam kondisi tidur pulas. Setelahnya hingga pukul 5 pagi, giliran paru-paru membuang racun. Jika paru-paru Anda terganggu, Anda akan terbatuk, bersin-bersin, dan berkeringat di jam itu. Ini artinya, proses pembersihan telah mencapai saluran pernafasan.

Menjelang pagi hari, biasakan diri Anda membuang air besar secara teratur, untuk mengeluarkan sisa makanan yang terdapat di usus besar.

Begadang Vs Kanker

Penelitian Steve Richard yang dilansir The Lancet Oncology (sebuah jurnal kesehatan) menyatakan, adanya hubungan kanker dan begadang. Hal serupa juga diungkapkan David Spiegel, MD., yang meneliti mengenai kebiasaan tidur.

Dua penelitian ini sama-sama menyimpulkan, jika kita tidak memenuhi waktu tidur yang cukup, bisa mengakibatkan ketidakseimbangan hormon yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh, khususnya pada perkembangan sel-sel rusak yang seharusnya dihancurkan oleh sel-sel imun.

Penjabarannya seperti ini, metabolisme tubuh meningkat di pagi hari dan menurun pada malam hari. Di saat seseorang “memaksakan diri” tetap terjaga di malam hari, tubuhnya akan memompa darah sebanyak mungkin dan mendorong sistem imun untuk meningkatkan sel-sel kekebalan tubuh seperti sel T (sel limfosit yang terdapat pada sel darah putih) dan CD4 (sel kekebalan tubuh yang terdapat pada sel limfosit).

Jika hal ini dilakukan terus menerus, siklus tubuh yang diatur oleh jam biologis otak (circadian rhythms) akan menjadi terbalik, yaitu dari pagi ke sore menjadi sore ke pagi. Ini memungkinkan kekebalan tubuh menjadi menurun di pagi hari dimana bibit penyakit dan bahan-bahan karsinogenik bertebaran di udara akibat perubahan suhu dan angin. Dan, pada saat itulah sel kanker menggerogoti tubuhnya.

Ester Sondang

foto: gettyimages

link: http://www.tabloidnova.com/Nova/Kesehatan/Umum/Begadang-Memicu-Kanker

Tidur Sehat, Prestasi Akademis Meningkat

Sudah menjadi suatu kebiasaan manusia modern untuk membatasi jumlah tidur demi terus beraktivitas. Kebiasaan ini juga tampak pada pelajar kita yang terus belajar hingga larut, bahkan tak jarang yang hingga pagi tanpa tidur. Tetapi berbagai penelitian satu dekade belakangan justru menunjukkan bahwa tidur sebenarnya bermanfaat bagi prestasi akademis seorang siswa.

Baru-baru ini, sekelompok ahli mengungkapkan manfaat tidur bagi kemampuan menghapal. Dalam penelitian mereka yang dituangkan dalam the Journal of Neuroscience, dua kelompok pemuda diberikan tugas menghapal yang sama.

Kelompok pertama belajar beberapa kata baru di malam hari, lalu tidur dalam pengawasan di laboratorium tidur. Setelah melewati malam dengan direkam menggunakan polisomnografi (pemeriksaan tidur), mereka diberikan ujian. Sementara kelompok kedua, diberikan bahan hapalan di pagi hari. Di siang hari mereka tidak diijinkan tidur, lalu sore harinya mereka diuji.

Hasilnya kelompok yang diberi kesempatan tidur, dapat menghapal lebih banyak kata dibanding kelompok yang tidak tidur. Dari perekaman polisomnografi, para ahli menduga bahwa proses re-organisasi memori tersebut terjadi pada saat munculnya gelombang simpul tidur (sleep spindle).

Ini sejalan dengan hasil penelitian yang telah terlebih dahulu dipublikasikan di Current Biology April 2010, dimana para peneliti menemukan bahwa tidur setelah proses belajar akan meningkatkan kemampuan ingatan. Dihipotesakan bahwa proses konsolidasi memori, terjadi saat ingatan yang baru terbentuk diaktifkan kembali dalam tidur. Proses re-aktifasi ini tercermin dalam tidur mimpi. Proses ini tidak akan tampak saat kita terjaga, ia hanya terjadi dalam tidur sehingga disebut sebagai sleep-dependent memory consolidation.

Kini jelas bahwa kebiasaan belajar semalaman malah akan merugikan. Proses belajar dan menghapal amat bergantung pada proses konsolidasi memori yang hanya terjadi jika kita tidur. Belum lagi efek kurang tidur yang menyebabkan otak bekerja lamban dan sulit mencerna berbagai pertanyaan dalam ujian.

Kita juga perlu mewaspadai gangguan-gangguan tidur yang menyebabkan tidur tak berkualitas. Akibatnya proses konsolidasi memori pada saat tidur juga terganggu. Salah satu contoh yang paling sering dijumpai adalah sleep apnea, dimana penderitanya mendengkur dan selalu mengantuk. Proses gangguan nafas selama tidur menyebabkan otak terbangun-bangun (tanpa terjaga) dalam tidur. Akibatnya walau anak sudah tidur cukup, ia selalu merasa mengantuk dan kurang tidur. Hanya saja pada anak yang masih kecil, manifestasi rasa kantuk malah uncul sebagai hiperaktivitas.

Rajin Olahraga + Cukup Tidur = Bebas Kanker

Memperkecil risiko kanker dengan pola hidup sehat.

Ternyata ada hubungan positif yang terjalin antara olahraga dengan tidur cukup. Sebab, ketika kita melakukan keduanya maka tubuh dapat menciptakan sistem kekebalan tubuh yang maksimal.

Fakta ini diketahui setelah peneliti mengamati 6.000 perempuan selama 10 tahun. Penelitian satu dekade ini menunjukkan, mereka yang kurang tidur (kurang dari 7 jam) dan malas berolahraga, berisiko 50% mengalami kanker dibanding relawan yang tidur cukup serta rutin berolahraga.

Tubuh yang kurang istirahat dan otot-otot yang selalu tegang akan menyebabkan gangguan hormon serta metabolisme. Inilah yang kemudian memperbesar peluang tubuh mengalami kanker karena sistem imun terus menukik tajam.

Dan berdasarkan penelitian di Amerika Serikat, hanya ada 75 persen orang yang berpikir bahwa tidur lebih baik dari pada berolahraga. Padahal keduanya sama-sama penting dan saling mendukung.

Sedangkan untuk waktu olahraga yang tepat menurut ahli kesehatan tidur Dr. Andreas Prasadja, RPSGT dari RS. Mitra Kemayoran, berolahragalah di pagi hari atau minimal 3 jam sebelum tidur. Sebab pada saat olahraga, tubuh mengeluarkan adrenalin yang membuat kita selalu terjaga, jelas Andreas pada launching buku Ayo Bangun, beberapa waktu lalu. (Siagian Priska)

link: http://preventionindonesia.com/article.php?name=/rajin-olahraga–cukup-tidur–bebas-kanker&channel=fitness%2Ffitness_for_your_health

Ketika Dengkuran Pasangan Mengganggu Tidur

Solusi menyelamatkan pernikahan dari pencuri tidur.

Pada pria yang telah mencapai usia 50 tahun, umumnya mendengkur saat tidur. Ini dikatakan Michael Thorpy, MD, Direktur Sleep-Wake Disorders Center di Montefiore Medical Center, New York City. Dengkuran ini sebenarnya bukan hanya mengganggu kita sebagai pasangannya tapi juga bisa membuat suami kita meninggal seketika.

Sebab ketika suami kita mendengkur, sebenarnya dia mengalami periode henti napas dalam beberapa detik. Meskipun terlihat singkat, karena dalam satuan detik, namun jika dibiarkan periode henti napasnya bisa semakin panjang. Bahkan bisa lebih sampai 10 detik dan pada tahap inilah kita sudah harus mempersepsikan dengkuran sebagai alarm bahaya.

“Namun bukan berarti semua masalah mendengkur harus dikhawatirkan. Mendengkur bisa dianggap normal, apabila si pendengkur mengalami henti napas kurang dari lima kali dalam sejam. Yang dianggap berat apabila pendengkur mengalami henti napas lebih dari 30 kali dalam sejam. Masalah ini disebut obstructive sleep apnea (OSA),” papar dr. Andreas Prasadja, RPSGT, sleep specialist dari RS Mitra Kemayoran Jakarta. Karena jangan biarkan pasangan kita lama-lama mendengkur saat tidur. Cara mengatasinya :

Jaga Berat Badan : Pertama, ukur lingkar leher pasangan. Apabila lebih dari 43 cm, kemungkinan besar ia kelebihan berat badan. “Orang yang kelebihan berat badan berpeluang mengalami gangguan pernapasan saat tidur, termasuk mendengkur,” kata Charles Bae, MD., ahli saraf dan pakar tidur dari Cleveland Clinic di Ohio. Hal ini terjadi karena tekanan pada saluran napas meningkat, sehingga laju oksigen kemudian ikut terhambat.

Ubah Posisi Tidur : Umumnya, orang mendengkur saat tidur terlentang. Pada sebagian orang, mengubah posisi tidur menjadi menyamping, kadang bisa membuatnya tidur tanpa mendengkur.

Periksa diri : Perhatikan kondisi pasangan saat bangun pagi. Apabila suami sering mengaku merasa tak segar kala bangun pagi, segera ajak dia memeriksakan diri ke sleep specialist. Atau, jika ia sering kedapatan tidur saat menyetir mobil, bisa jadi ia mengalami OSA. Inilah penyebab utama, tidurnya menjadi tak berkualitas.Penderita OSA juga terkadang memiliki tekanan darah tinggi dan mengalami disfungsi ereksi.

Jika ingin “menghangatkan” kembali suasana tidur di malam hari, coba ajak pasangan menemukan jalan keluar dari dengkurannya. Sebab percaya atau tidak, dari dengkuran saja bisa membuat rumah tangga kita menjadi kurang harmonis. (Alia An Nadhiva/Siagian Priska)

link: http://preventionindonesia.com/article.php?name=/ketika-dengkuran-pasangan-mengganggu-tidur&channel=health%2Fhealthy_relationships