Si Penidur Singkat

Denyut kehidupan yang serba cepat saat ini menyebabkan semakin panjangnya waktu kerja atau beraktivitas. Akibatnya, tidak sedikit orang yang mengalami gangguan tidur dan biasanya diikuti oleh gangguan kesehatan yang berdampak pada penurunan produktivitas.

Namun untuk beberapa orang, waktu tidur yang sedikit tidak berdampak pada penurunan produktivitas atau kinerja. Mantan Perdana Menteri Inggris, Margareth Thatcher hanya membutuhkan waktu 3 – 4 jam sehari untuk tidur. Saat kuliah di Oxford, Thatcher selalu bangun saat subuh dan berangkat lebih awal untuk belajar di perpustakaan universitas.

Kebiasaan tidur singkat ternyata tidak memengaruhi prestasinya, Thatcher termasuk salah satu perdana menteri terbaik dalam sejarah Inggris. Dapatkah kita mengurangi waktu tidur agar bisa lebih produktif seperti Margareth Thatcher ?

Kebutuhan tidur setiap orang memang berbeda. Ada beberapa manusia super yang secara alamiah hanya membutuhkan tidur singkat setiap malamnya tanpa mengganggu aktivitas siang harinya. Sebenarnya belum jelas juga apakah para penidur singkat ini pasti lebih sukses. Yang jelas mereka mempunyai lebih banyak waktu untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan.

Berbagai penelitian menemukan bahwa dari 100 orang, hanya ditemukan 3 – 5 orang yang memang penidur singkat alami. Penelitian juga menunjukkan banyak orang yang mengaku tetap aktif dengan tidur singkat ternyata tidur lebih lama saat diberi kesempatan. Sebut saja Benjamin Franklin, Thomas Jefferson, dan Leonardo da Vinci disebutkan terlalu sibuk untuk tidur. Sementara Thomas Edison dan Winston Churchill, walau tidur kurang di malam hari, mereka punya kebiasaan tidur siang.

Penidur singkat memiliki ciri berbicara cepat, amat aktif dan juga memiliki mood yang positif serta metabolisme yang tinggi. Mereka cenderung tetap langsing walau kekurangan tidur, karena biasanya orang yang kurang tidur cenderung mengalami obesitas.

Ahli genetik Dr. Ying-Hui Fu dari California University bersama timnya menemukan adanya variasi gen hDEC2 pada beberapa penidur singkat. Kini tim yang sama masih terus meneliti kemungkinan variasi gen lainnya. Bagi orang yang bukan penidur singkat, kekurangan waktu tidur dapat mengakibatkan gangguan konsentrasi, proses berpikir yang lamban, sering berbuat kesalahan, mood yang buruk hingga kemampuan mengambil keputusan yang buruk. Kesemuanya dapat menurunkan produktivitas.

Sebaiknya kita tidur sesuai dengan kebutuhan tidur kita. Ketika siang hari mengantuk dan tak bersemangat, jangan langsung mengambil kopi. Penting juga untuk merefleksikan jadwal tidur kita dan perbaiki di malam berikutnya.

Untuk mengetahui kebutuhan tidur kita, mudah saja. Rutinkan dulu tidur secara teratur. Perlahan setiap beberapa hari tambah jam tidur. Setelah beberapa waktu rasakan efeknya pada hidup. Lebih sehat, tajam, produktif dan bahagia. Tak perlu takut kelebihan tidur.
Ketika tidur sudah cukup, kita tak akan mengantuk. Jika masih ada kantuk, berarti tidur masih kurang. Jika tidur sudah cukup tapi masih mengantuk, ini yang disebut kantuk berlebihan, hipersomnia. Jangan samakan kantuk dengan kemalasan. Tidak. Tentukan sendiri apakah Anda termasuk penidur singkat atau tidak, setiap orang membutuhkan lama waktu yang berbeda untuk tidur. Namun yang pasti tidur cukup berdampak baik pada kesehatan dan meningkatkan produktivitas.

* Praktisi kesehatan tidur, konsultan utama Sleep Disorder Clinic – RS. Mitra Kemayoran, pendiri @IDTidurSehat , penulis buku Ayo Bangun! anggota American Academy of Sleep Medicine

Link:
http://health.kompas.com/read/2011/09/27/14321140/www.kompas.com

Istri Cukup Tidur, Pernikahan Bahagia

KOMPAS.com – Mana yang lebih dulu, hubungan pernikahan yang buruk menyebabkan gangguan tidur atau gangguan tidur menyebabkan relasi suami istri jadi buruk? Ini pertanyaan penting yang perlu kita refleksikan.

Pernikahan yang bahagia tentu membuat kita tidur nyenyak sepanjang malam. Sementara pernikahan yang kurang bahagia akan meningkatkan risiko gangguan tidur. Tetapi sebaliknya, gangguan tidur juga membuat orang lebih labil secara emosional, ia mudah tersinggung, kurang bertoleransi serta mempunyai ambang stres yang rendah.

Sebuah penelitian menunjukkan hubungan antara tidur dengan pernikahan. Prof. Wendy Troxel dan kolega-koleganya menanyai 2.000 wanita yang telah menikah. Mereka ditanyai tentang status pernikahan, kualitas tidur, seberapa sering mengalami gangguan tidur, serta jadwal tidur-bangun.
Wanita yang hidup pernikahannya bahagia, tidur lebih nyaman dan bangun dengan rasa segar bugar, mereka juga tak mudah terbangun di tengah malam. Ini mudah dimengerti. Saat sedang berselisih pendapat, tentu sulit untuk tidur dengan pasangan.

Tetapi kelompok peneliti yang sama membuktikan bahwa hal sebaliknya juga bisa terjadi. Penelitian terbaru yang dipresentasikan pada pertemuan SLEEP 2011, menunjukkan bahwa para istri yang mengalami gangguan tidur akan mengalami interaksi yang negatif di pagi harinya.
Mereka merekrut 35 pasangan yang selama 10 malam tidur dengan actyiraphy, sebuah alat yang merekam aktivitas tubuh. Kemudian mereka diminta untuk mencatat hubungan interaksi dengan pasangan.

Hasilnya, wanita yang mengalami gangguan tidur cenderung untuk merasakan interaksi yang negatif terhadap pasangan. Suami pun melaporkan kurangnya interaksi positif ketika istri sulit tidur.
Prof. Wendy Troxel, seperti dikutip webMD mengatakan, memang terdapat perbedaan gender dalam penelitiannya. Pria sepertinya tak memiliki efek gangguan tidur yang sama dibanding wanita. Wanita, menurutnya, memang lebih ekspresif dibanding pria yang cenderung menekan perasaan-perasaan negatifnya. Namun akibat dari gangguan tidur wanita, tak terbatas pada dirinya sendiri. Terbukti pasangan turut merasakan akibatnya.

Jadi bagi para pria, jika Anda ingin kehidupan pernikahan yang bahagia, pastikan pasangan tidur dengan sehat.

dr Andreas Prasadja, RPSGT
Praktisi Kesehatan Tidur, Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran

http://health.kompas.com/read/2011/09/12/10133389/Istri.Cukup.Tidur.Pernikahan.Bahagia