Jangan Remehkan Ngorok pada Usia Lanjut

KOMPAS.com – Mendengkur bukan lagi tidur yang nyenyak, bukan juga hanya suara yang mengganggu di malam hari. Kini, masyarakat Indonesia sudah menyadari bahaya dari dengkuran yang berkaitan dengan henti nafas saat tidur alias sleep apnea. Tak tanggung-tanggung, sleep apnea mengakibatkan penurunan kualitas hidup, berbagai penyakit jantung dan pembuluh darah hingga membahayakan nyawa.

Sleep apnea kini telah diakui secara global sebagai masalah kesehatan masyarakat karena jumlah penderitanya yang banyak. Ia juga meningkatkan angka kematian akibat hipertensi dan penyakit jantung-pembuluh darah.

Sleep apnea disebabkan oleh saluran nafas yang menyempit saat tidur akibat melemahnya dinding-dinding saluran nafas atas saat tidur. Penyempitan mengakibatkan saluran nafas tersumbat hingga walau tetap terdapat gerak nafas, udara sama sekali tak dapat lewat. Akibat sesak, mekanisme pertahanan tubuh membangunkan otak sejenak agar dapat bernafas. Penderita tidak mengingat episode bangun ini walau terjadi berulang kali sepanjang malam. Akibatnya tentu saja penderita sleep apnea bangun tak segar dan selalu mengantuk di siang hari.

Sayang, penelitian selama ini lebih berfokus pada kelompok usia produktif. Sementara kelompok usia lanjut masih belum mendapat perhatian. Padahal sleep apnea di kelompok usia ini juga tak kalah berbahayanya.

Apalagi, masih banyak orang yang menganggap wajar ngorok di usia lanjut. Terus mengantuk dan mudah tertidur juga dianggap normal saja pada kelompok usia ini. Padahal kenyataannya tidak demikian. Dengan memperbaiki sleep apnea, kakek dan nenek kita dapat tetap sehat dan lebih menikmati berbagai aktivitas sepanjang hari tanpa diganggu lemas dan kantuk.

Penelitian

Sebuah penelitian di Spanyol, mengkhususkan untuk mengamati penderita sleep apnea pada kelompok usia lanjut. Mereka mengikuti penderita sleep apnea berusia lebih dari 65 tahun, sejak tahun 1998 hingga tahun 2007.

Mereka diperiksakan di laboratorium tidur lalu digolong-golongkan berdasarkan tingkat keparahan henti nafas (AHI) untuk kemudian diikuti perkembangannya. Kelompok dengan henti nafas  lebih dari 30 kali per jam termasuk dalam kategori sleep apnea berat, AHI 15-30 kali perjam masuk dalam kelompok sedang. Sementara kelompok dengan AHI kurang dari 15  kali per jam termasuk ringan dan dijadikan kontrol.

Penelitian yang dipublikasikan pada the American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine menunjukkan bahwa kelompok dengan henti nafas yang parah penggunaan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) diamati dapat menurunkan risiko kematian akibat gagal jantung maupun stroke, hampir sama dengan kontrol atau menderita sleep apnea ringan. Sedangkan lansia dengan sleep apnea parah dan tidak mendapat perawatan memiliki risiko 2,25 kali lipat untuk mengalami kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah.

Ngorok di usia berapa pun memiliki risiko yang tak ringan. Jangan anggap remeh dengkuran pada usia lanjut. Sleep apnea pada lansia yang tak dirawat telah terbukti meningkatkan risiko kematian kardio-vaskuler, sedangkan perawatan dengan CPAP ternyata mengurangi resiko tersebut secara signifikan.

http://health.kompas.com/read/2012/10/09/07413627/Jangan.Remehkan.Ngorok.pada.Usia.Lanjut

Perilaku Kekerasan dan Kesehatan Tidur Remaja

KOMPAS.com – Dengan terjadinya kasus kekerasan di antara pelajar kita, saya ingin menunjukkan salah satu faktor yang berperan besar namun kita abaikan selama ini, yaitu tidur. Terdengar absurd dan lucu di telinga awam, tetapi para ahli kesehatan tidur sudah maklum dengan hubungan sebab akibatnya.

Coba lihat diri kita. Suatu waktu kita bangun dengan rasa segar, positif dan bersemangat menghadapi segala tantangan. Di lain waktu kita bangun dengan rasa lemas, tak bersemangat, bahkan emosional. Selain faktor-faktor psikologis, pernahkah Anda pertimbangkan tidur sebagai faktor penentu kondisi emosi saat bangun tidur ?

Tidur Remaja

Usia remaja-dewasa muda merupakan kelompok usia yang paling rentan mengalami kurang tidur. Penyebabnya adalah keunikan jam biologis pada usia ini.

Mary Carskadon, peneliti kesehatan tidur remaja di tahun 1980, mencatat bahwa kebutuhan tidur remaja adalah 8,5-9,25 jam tiap harinya, dengan jam mengantuk sekitar lewat tengah malam. Jadi, ketika orang tuanya sudah mengantuk pada jam 22:00, remaja justru sedang mencapai puncak vitalitasnya. Tak heran, jika kita temui dewasa muda yang lebih senang beraktivitas di malam hari. Belajar, membuat tugas, menulis, mencipta, dan berkarya terasa lebih optimal di waktu tersebut.

Dengan jam tidur tengah malam, dewasa muda harus sudah bangun di pagi hari untuk beraktivitas. Ada yang sudah harus bangun pukul 5 pagi untuk menghindari kemacetan lalu lintas. Jelas generasi muda kita kekurangan tidur. Indonesia terancam kualitas generasi mudanya!

Selain durasi yang kurang, kita juga harus menyesuaikan jadwal aktivitas dengan jam biologis mereka agar dapat berfungsi optimal. Masuk sekolah jam 7 pagi jelas tak sesuai, apalagi jam 6:30 pagi. Coba lihat diri kita sewaktu masih di kelompok usia ini, pelajaran pertama tak ada yang menarik. Tetapi ketika sudah beranjak lebih siang, sekitar jam 9, seolah ada pasokan tenaga dan konsentrasi. Semua pelajaran yang diberikan jadi mudah masuk ke kepala.

Penelitian

National Sleep Foundation Amerika di tahun 2006 melakukan survei dimana didapati bahwa kebanyakan siswa merasa pagi hari adalah waktu yang paling menyebalkan. Ditemukan juga sejumlah siswa yang sering merasa tertekan. Siswa-siswa ini mungkin sekali mengalami gangguan tidur.

Sekitar 46 persen dari siswa melaporkan mood yang depresif. Siswa- siswa ini juga melaporkan berbagai masalah tidur, mulai dari sulit tidur, kurang tidur atau mengantuk di siang hari. Bahkan 73 persen remaja yang melaporkan rasa tak bahagia, sedih dan tertekan juga melaporkan kondisi kurang tidur dan mengantuk berlebihan di siang hari.

Sebelumnya, di tahun 1996, Mary Carskadon melakukan penelitian dengan memundurkan jam masuk sekolah dari 7:15 menjadi jam 8:40. Hasilnya angka kehadiran siswa meningkat, keterlambatan berkurang, kunjungan ke unit kesehatan sekolah menurun, angka kecelakaan lalu lintas menurun, para guru melaporkan keterlibatan dan konsentrasi siswa di kelas meningkat, prestasi olah raga juga meningkat dan atmosfer yang lebih tenang di sekolah. Yang mengejutkan para peneliti adalah adanya penurunan drastis angka kenakalan remaja.

Fakta

Tidur sama pentingnya seperti bernafas, makan dan minum. Ia adalah salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Kekurangan tidur akan amat merugikan. Kemampuan konsentrasi, mendengar, menangkap pelajaran dan memecahkan persoalan jadi terhambat. Semua jadi terasa lamban.

Tertidur di belakang kemudi jelas amat berbahaya, tetapi tertidur di kelas tak kalah merugikannya. Atau sampai tertidur hingga terlewat kencan penting, tentu lebih menyedihkan.

Kekurangan tidur juga mengganggu metabolisme tubuh. Jadi sulit rasanya mempertahankan berat badan yang ideal. Apalagi, ketika mengantuk, tubuh akan mendorong rasa lapar.

Dari berbagai penelitian telah diketahui efek tidur sehat bagi emosi yang positif. Sebagai orang tua, pendidik dan pemimpin pengambil kebijakan sudah sepantasnya memprioritaskan masalah tidur pada para siswa kita. Tidur yang baik akan menjamin kualitas manusia yang baik. Kualitas manusia yang baik tentu akan menjamin masa depan bangsa.

Tips Bagi Remaja

– Jika kamu mau lebih berprestasi prioritaskan tidur. Kenali jam biologis, waktu-waktu yang ideal untuk tidur dan beraktivitas. Pintar-pintar mengatur jadwal aktivitas seseuai dengan jam kantuk dan aktif tadi. Pada jam mengantuk, pilih aktivitas yang menyenangkan dan menyegarkan.

–  Kendalikan konsumsi kafein yang terdapat pada kopi, teh, cola, minuman penambah energi dan coklat. Bukan tak boleh, tapi atur konsumsinya. Kerja kafein adalah sekitar 12 jam. Jadi usahakan hanya dikonsumsi bila perlu dan pagi hari saja. Ingat: tak ada satu zat pun yang dapat menggantikan efek restoratif tidur.

–  Buat kamar tidur senyaman mungkin untuk tidur. Pengaturan cahaya yang baik, suhu yang nyaman, dan minim hiburan elektronik. Cukup gelap di malam hari, dan cukup cahaya di pagi hari. Dengan demikian otak akan dengan mudah membedakan siang dan malam.

–  Prinsip lingkungan tidur yang baik adalah dengan membedakan lingkungan tidur dengan lingkungan aktivitas.

–  Mengendara dengan kantuk sama berbahayanya dengan mengendara dalam keadaan mabuk. Jika sedang kurang tidur, jangan berkendara!

– Jangan makan makanan berat atau berolah raga dua jam sebelum tidur.

– Tak perlu berbangga dengan kurang tidur. Ketika tidur kamu tercukupi, kamu tahu kamu lebih bahagia dan berprestasi.

http://health.kompas.com/read/2012/10/03/09274437/Perilaku.Kekerasan.dan.Kesehatan.Tidur.Remaja

JakTV 29 September 2012

image

image

image