Rangkaian World Sleep Day 2013

Majalah Grazia

20130328-121614.jpg

Majalah Men’s Health Indonesia

20130328-121654.jpg

Majalah Intisari

20130328-121706.jpg

20130328-121724.jpg

Majalah More

20130328-121732.jpg

Majalah Ayah bunda

20130328-121739.jpg

Liputan Net TV

20130328-121811.jpg

20130328-121822.jpg

20130328-121832.jpg

Radio Sonora

20130328-121843.jpg

Trans 7 Bukan Empat Mata

20130328-121849.jpg

Metro TV

20130328-121904.jpg

20130328-121912.jpg

20130328-121939.jpg

20130328-121958.jpg

 

Coffee Break TVOne

20130328-122004.jpg

Ingin Langsing? Diet, Olah Raga dan Tidur lah yang Sehat

Selama ini kita berpikir bahwa tidur tak membutukan tenaga, sehingga banyak tidur mengakibatkan kegemukan. Tapi ini tidak benar. Berbagai penelitian membuktikan bagaimana tidur yang cukup justru diperlukan untuk menjaga nafsu makan dan berat badan.

dr. Andreas Prasadja, RPSGT

Penelitian terbaru yang dimuat pada jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan bahwa tidur kurang dari 5 jam selama seminggu akan membuat kita mengonsumsi lebih banyak kalori. Kebanyakan peningkatan kalori diakibat oleh ngemil setelah makan malam. Jadi pada penelitian ini, ketika jam tidur dibatasi, para relawan justru makan/ngemil pada saat jam biologisnya justru menunjukkan waktu untuk tidur.

Penelitian yang dilakukan di the University of Colorado ini menyertakan 16 orang pemuda/i. Mereka diminta untuk bermalam di kamar tidur yang telah diatur pencahayaan, suara dan disertakan juga alat-alat untuk mengukur fungsi-fungsi tubuh selama tidur. Kamar seperti ini populer juga disebut sebagai laboratorium tidur. Tak lupa, demi kepentingan penelitian, jumlah kalori makanan yang dikonsumsi juga diukur.

Tiga hari pertama, mereka diminta untuk tidur selama 9 jam. Selanjutnya para peserta dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama tidur 5 jam, sementara yang kedua tetap 9 jam selama lima hari. Para peserta disediakan berbagai makanan dan cemilan sepanjang penelitian. Setelah lima hari, mereka bertukar waktu tidur. Kelompok pertama jadi 9 jam, dan kelompok kedua jadi tidur 5 jam sehari.

Hasilnya, kelompok yang hanya tidur 5 jam, membakar 5% lebih banyak kalori dibanding yang tidur 9 jam. Tapi mereka juga makan 6% lebih banyak kalori. Mereka yang kurang tidur sarapan lebih sedikit, tapi ngemil jauh lebih banyak. Bahkan jumlah kalori dari cemilan yang dimakan lebih besar dari jumlah kalori makanan rutin.

Penelitian lain yang diterbitkan pada the Journal of Psychoneuroendocrinology juga menunjukkan efek kurang tidur pada penambahan berat badan. Penelitian ini menyediakan makanan yang disajikan secara prasmanan pada 16 orang relawan. Pertama saat mereka cukup tidur (8 jam) dan kedua kalinya setelah kurang tidur.

Hasilnya, saat kurang tidur ternyata mereka cenderung mengambil porsi makan lebih banyak dibanding saat cukup tidur. Para relawan ini juga melaporkan merasa lebih lapar dan setelah diperiksa ternyata memiliki kadar ghrelin yang meningkat. Ghrelin adalah hormon yang merangsang nafsu makan.

Setelah sarapan, peserta penelitian yang kurang tidur juga ngemil lebih banyak. Disimpulkan, kondisi kurang tidur akan mendorong seseorang untuk makan lebih banyak.

Penelitian terakhir mengingatkan pada sebuah penelitian setahun yang lalu,. Dalam pertemuan ilmiah American Heart Association, disajikan sebuah penelitian yang menunjukkan bagaimana kurang tidur akan meningkatkan konsumsi kalori kita.

Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa sekelompok orang yang kurang tidur memiliki kadar ghrelin yang tinggi dan leptin yang rendah. Sekali lagi, ghrelin adalah hormon yang meningkatkan nafsu makan, sedangkan leptin bertanggung jawab untuk menekan nafsu makan.

Penelitian-penelitian ini memperhatikan efek kurang tidur dengan peningkatan berat badan. Tetapi para ahli mengingatkan bahwa kita harus melihat lebih dalam. Bukan hanya pada jumlah tidur yang kurang, tetapi pada kantuk. Bagaimana pengaruh kantuk pada nafsu makan misalnya. Sebab ada banyak penyakit tidur yang menyebabkan orang terus mengantuk walau sudah tidur cukup.

Mendengkur misalnya. Mendengkur yang selama ini dianggap disebabkan oleh kegemukan, ternyata bisa terjadi sebaliknya, mendengkur menyebabkan kegemukan. Penelitian di Turki tahun 2005 tunjukkan bagaimana pendengkur dengan sleep apnea, henti nafas saat tidur, memiliki kadar ghrelin yang tinggi dan leptin yang rendah seperti orang yang kurang tidur.

Para ahli mengingatkan bahwa kenaikan berat badan dan kegemukan memiliki banyak faktor yang saling berkaitan. Dengan semakin banyaknya penelitian ilmiah yang menunjukkan hubungan kesehatan tidur dan berat badan, sudah saatnya kita tak hanya memikirkan olah raga dan diet. Masukkan juga kesehatan tidur dalam program penurunan berat badan Anda.

Dibalik Tertidurnya Seorang Pemimpin

Beberapa media menyoroti seorang pejabat publik di DKI yang tertidur saat Gubernur Jokowi memberikan pidato. Pejabat tersebut tampak sulit sekali mempertahankan keterjagaannya hingga oleng ke kiri dan ke kanan tertidur. Apa yang terjadi?

Beberapa rekan yang saya temui mengomentari berita ini dengan beberapa tanggapan, tapi semuanya mengarah kepada kemalasan atau kebosanan dengan isi pidato. Tidak! Tidur bukanlah kemalasan! Bukan juga bosan. Kita harus lebih dalam melihat kantuk. Terutama apabila menyerang seorang pemimpin, seperti pejabat publik ini.

Tertidur

Kini dengan adanya kamera dimana-mana, hampir tak mungkin seorang pejabat publik menyembunyikan kantuknya di hadapan publik. Bahkan Hillary Clinton pun pernah kedapatan tertidur di sebelah Aung San Suu Kyi saat mendengarkan Obama berpidato di Myanmar tahun 2012 silam. Begitu pula Wakil Presiden Joe Biden yang tertidur menyaksikan pidato Obama di sebuah acara pada April 2011. Saat Obama diambil sumpahnya Januari 2009, tampak di belakangnya Jaksa Agung Clarence Thomas juga tertidur.

Apa yang terjadi? Mengantuk pasti pernah dialami oleh setiap orang karena tidur merupakan kebutuhan dasar manusia yang mau tak mau harus dipenuhi. Saat mengantuk pasti ada yang salah dengan tidur. Kurang tidur atau kualitas tidur, yang juga bisa berarti menderita penyakit tidur. Jika seseorang didapati mengantuk dan sulit tetap terjaga, bisa jadi ia kurang tidur. Atau bisa juga cukup tidur tapi menderita penyakit tidur, yang akibatkan ia hipersomnia. Hipersomnia adalah kantuk berlebihan, walau durasi tidur sudah cukup. Salah satu penyebab hipersomnia paling sering adalah mendengkur, sleep apnea.

Pemimpin yang Mengantuk

Penelitian di tahun 2005 menyatakan bahwa kelompok profesi paling kurang tidur adalah dokter, dengan durasi tidur rata-rata hanya 4,5 jam. Sementara politisi menempati posisi kedua dengan durasi tidur rata-rata 5 jam.

Saya ingat bagaimana beberapa pasien yang politikus terus bekerja hingga larut malam. Demikian juga cerita dari beberapa rekan jurnalis yang meliput rapat-rapat mereka hingga dini hari. Ini semua dilakukan demi hidup orang banyak. Tetapi ini memunculkan keprihatinan. Politisi dan pejabat-pejabat publik ini adalah pemimpin yang bertanggung jawab mengambil keputusan-keputusan penting yang memengaruhi kehidupan kita. Dengan rapat-rapat tengah malam dan mengantuk hebat di siang hari, bisa dipastikan mereka tidak berada dalam kondisi mental yang baik untuk mengambil keputusan penting!

Tidur merupakan dasar dari kualitas hidup seorang manusia. Kemampuan konsentrasi, ketelitian, kewaspadaan, kecerdasan, serta kemampuan mengambil keputusan hingga menerima kritik telah terbukti dibangun saat tidur. Ketika menjadi pelupa dan ceroboh, apakah seseorang kekurangan vitamin tertentu? Tidak, kekurangan tidur adalah kemungkinan terbesar penyebabnya. Bill Clinton menyatakan bahwa selama hidup ia sering membuat kesalahan, dan setiap kesalahan yang ia buat dilakukannya saat lelah.

Tidur bukanlah kemalasan. Tidur justru langkah cerdas untuk menjaga dan meningkatkan kemampuan otak kita.

Tidur Sehat

Mengantuk juga bukan tanda kemalasan. Kantuklah yang membuat orang malas. Kemalasan adalah keengganan seseorang untuk berbuat sesuatu. Sementara mengantuk menunjukkan kebutuhan untuk tidur. Saat mengantuk kita tak bisa berbuat apa-apa selain tidur. Sementara kafein dan minuman penambah energi hanya menunda kantuk tanpa memberikan manfaat restoratif dari tidur. Artinya setelah minum kafein kita memang merasa lebih segar, tapi kemampuan otak kita yang sudah lelah tak akan terbantu.

Bagaimana agar tidak mengantuk? Jadwalkan tidur cukup dan teratur setiap malamnya. Sempatkan tidur sejenak di siang hari (15-20 menit) untuk lebih meningkatkan produktivitas. Konsumsi kafein dan minuman penambah energi dengan bijak. Secukupnya dan tidak berlebihan berdasarkan kebutuhan saja. Jika mengantuk berlebihan walau tidur sudah cukup perhatikan kemungkinan penyakit tidur seperti sleep apnea yang ditandai dengan mendengkur. Penyakit tidur berbahaya ini selain sebabkan kantuk berlebihan juga sebabkan diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kematian, depresi, stroke dan impotensi.

——————————————————-

Memperingati hari kesehatan tidur sedunia (World Sleep Day) yang jatuh pada tanggal 15 Maret, mari kita mulai memperhatikan tidur dalam keseharian kita. Jika selama ini kita hanya perhatikan diet dan olah raga, cobalah prioritaskan juga tidur dalam jadwal sehari-hari.

Tidur sehat demi kualitas manusia Indonesia yang lebih baik.