Kesehatan Tidur di Lingkungan Kerja

Kita sudah tahu bagaimana kurang tidur dapat memengaruhi performa kerja di siang hari. Konsentrasi yang berkurang, lamban serta ceroboh adalah tanda-tanda kantuk yang masih diabaikan para pekeImagerja.

Di era 24 jam ini, tidur adalah kebutuhan biologis yang paling sering dikorbankan atas nama produktivitas. Tanpa disadari bahwa dengan kurangi tidur, justru mengurangi performa seseorang. Karena ketika tidur kita diam tak bergerak bukan berarti tidak produktif. Justru tubuh sangat aktif membangun kesehatan, daya tahan tubuh dan kemampuan otak.

Kondisi emosi juga dijaga saat tidur. Saat lelah seseorang cenderung lebih memerhatikan kepentingan dirinya sendiri tanpa memerhatikan masukan dari sekelilingnya. Tak heran jika kondisi kurang tidur juga mengganggu proses kerja tim serta mendorong terjadinya tindakan kurang etis di lingkungan kerja.

Tidur dan Stress

Ketika sedang stress karena tekanan pekerjaan, siapa pun jadi sulit tidur. Tapi bukan itu saja, kondisi kurang tidur juga menyebabkan seseorang jadi mudah stress. Kesehatan tidur dan stress saling memengaruhi seolah menjadi lingkaran setan. Sebuah penelitian mengingatkan bahwa terjaga selama 24 jam akan meningkatkan hormon stress secara signifikan.

Kesibukan di siang hari sering kali mengganggu tidur kita di malam hari. Stress di pekerjaan maupun macet perjalanan meninggalkan ketegangan yang harus kita turunkan sebelum naik ke tempat tidur. Kantuk akan jadi percuma jika kita masih terlalu tegang untuk tidur. Akibatnya kita hanya memejamkan mata di tempat tidur tanpa bisa terlelap.

Turunkan dulu ketegangan dengan menyenangkan diri sebelum tidur. Sekedar membaca atau mendengarkan musik akan membantu suasana hati lebih rileks.

Pekerjaan 24/7

Bekerja dua puluh empat jam sehari dan tujuh hari seminggu belum tentu produktif. Walau ditopang dengan stimulan semacam kafein atau nikotin, otak yang lelah tetap tak terbantu. Sampai saat ini belum ada satu zat pun yang dapat menggantikan proses restoratif tidur. Stimulan hanyalah penunda kantuk.

Terkoneksi 24 jam dengan internet sebenarnya membantu waktu kerja kita jadi lebih fleksibel. Tetapi banyak orang justru tak dapat berhenti bekerja walau sudah meninggalkan kantor. Seolah organ tubuh, smartphone sudah jadi bagian dari diri kita. Sebuah survei di AS nyatakan bahwa 72% pekerja tidur dengan smartphone menyala di sisinya. Bahkan 45%-nya masih menjawab e-mail sebelum jatuh tidur.

Parahnya para pemimpin justru menghargai para pekerja yang masih mengirimkan e-mail di dini hari. Sikap yang justru berbahaya. Kemampuan untuk menganalisa dan mengambil keputusan di saat mengantuk tidaklah baik, bahkan buruk. Setiap keputusan penting yang diambil di saat mengantuk layak diragukan. Bill Clinton mengaku bahwa setiap kesalahan yang ia lakukan, selalu dilakukan saat lelah.

Kantuk Menurunkan Kreativitas

Pekerja yang mengantuk sulit untuk kreatif. Sebuah penelitian di tahun 1999 melihat bagaimana kurang tidur dapat mengganggu kemampuan mengambil keputusan dan menerima masukan. Penelitian belakangan bahkan melihat bagaimana terjaga selama 24 jam dapat mengganggu fungsi bagian korteks prefrontal pada otak, bagian yang mengontrol kreativitas, kontrol diri dan cara berpikir yang inovatif.

Bagi perusahan di bidang kreatif atau yang membutuhkan pikiran-pikiran “out of the box” dari para karyawannya, kesehatan tidur jadi amat penting. Mengabaikan kesehatan tidur sama dengan menurunkan kreativitas dan menurunkan mutu karya.

Kafein dan Produktivitas

Benarkah kafein dan minuman penambah energi dapat meningkatkan produktivitas? Mungkin saja. Tetapi mengabaikan tidur lalu menopang ke-terjaga-an dengan kafein bukanlah jawaban yang tepat. Stimulan, baik itu dalam bentuk minuman maupun suplementasi makanan hanya akan menunda kantuk. Otak yang lelah tetap akan lelah. Pemikiran yang sempit dan lamban tetap akan lamban.

Kafein di lingkunan kerja mungkin sudah dianggap biasa. Tetapi konsumsi secara membabi buta tidaklah bijak. Prioritaskan tidur yang sehat terlebih dahulu, di saat tertentu baru konsumsi kafein atau minuman penambah energi.

Jam Biologis dan Produktivitas

Di dalam otak kita tertanam jam yang mengatur ritme tubuh. Mulai dari waktu lapar, buang air, hingga kantuk dan bugar. Selain tidur yang cukup dan berkualitas, baik juga kita kenali ritme jam biologis untuk tingkatkan produktivitas.

Kenali jam biologis lalu sesuaikan ritme kerja agar produktif.

  • Sesampai di tempat kerja, karena masih pagi dan belum ada tugas penting yang harus dikerjakan silahkan menikmati aroma kafein. Kafein baru akan bekerja setelah 30 menit dikonsumsi. Jadi jangan saat sudah mengantuk baru minum kopi, percuma.

  • Pagi hari jam 8 bukan waktu yang baik bagi kebanyakan pekerja dewasa muda untuk memulai dengan pekerjaan yang berat dan terlalu serius. Manfaatkan untuk mengatur jadwal dan tugas-tugas.

  • Mendekati jam 9:00 kebugaran mulai menghampiri. Bagi kantor dengan banyak pekerja usia dewasa muda, ini waktu yang tepat untuk memulai briefing pagi. Apalagi di bidang kreatif. Ide-ide inovatif akan dengan mudah dan lancar dikeluarkan.

  • Jam makan siang biasanya kita punya waktu satu jam untuk beristirahat. Gunakan waktu ini untuk menikmati “power nap”. Setelah makan siang, bersandar santai di kursi, tutup mata dengarkan lagu lembut dan nikmati tidur siang selama 15-20 menit. Dengan demikian kita mendapatkan segala manfaat tidur, hingga lebih produktif saat bangun.

  • Rapat-rapat penting setelah jam makan siang di jam 14:00-15:00 adalah yang paling melelahkan. Jam biologis kita sedang berada di titik rendah. Beban kantuk sedang kuat-kuatnya. Emosi juga jadi sulit dikontrol.

  • Mendekati jam pulang, dengan stress tinggi dan ketegangan menghadapi macet, ada baiknya jika bersantai sejenak dengan ber-social media atau sekedar duduk main game. Berkumpul dengan teman-teman di cafe sambil menunggu macet biasanya menjadi pilihan paling enak. Tapi sadari juga bahwa kafein dapat bekerja selama 12 jam. Pilihlah minuman dengan kadar kafein rendah atau lebih baik lagi tak mengandung kafein sama sekali.

  • Dengan waktu yang serba mepet. Sore hingga malam adalah waktu yang tersisa untuk berolah raga. Olah raga sangat penting bagi kesehatan. Tetapi olah raga yang baik juga memerhatikan ritme biologis. Jarak selesai berolah raga dan tidur disarankan 3 jam. Olah raga memang menyenangkan dan membuat tubuh lelah. Tetapi banyak jenis olah raga yang justru meningkatkan adrenalin hingga justru menyegarkan otak. Pilih olah raga yang santai dan tidak kompetitif. Berenang atau jogging ringan sekitar rumah misalnya.

 

Kurang Tidur Kurangi Fungsi Pembuluh Darah dan Nafas

Penemuan baru dari para peneliti dari the University of Birmingham, Inggris Raya, menyatakan bahwa dengan mengurangi tidur, fungsi-fungsi pembuluh darah dan pernapasan akan terganggu. Akhirnya tentu kesehatan jantung jadi terancam.

Kurang Tidur

Masyarakat modern saat ini sangat kekurangan tidur. Dibanding nenek moyang kita, kita tidur lebih sedikit 1-2 jam. Tak heran jika berbagai penyakit jantung, diabetes dan obesitas jadi meningkat. Ya, jika selama ini kita hanya perhatikan makanan dan olah raga tanpa perhatikan kesehatan tidur, kesehatan kita secara umum terancam.

Dengan gaya hidup 24 jam seperti sekarang, banyak orang merasa sayang jika harus memejamkan mata untuk tidur. Pikirnya lebih banyak waktu untuk bekerja akan lebih banyak oekerjaan yang bisa dikerjakan. Kenyataannya, kemampuan otak yang sudah lelah malah menurunkan kualitas dan performa kerja seseorang.

Penelitian

Para peneliti mencoba melihat, kenapa pengurangan tidur bisa buruk untuk kesehatan jantung. Caranya dengan melihat fungsi-fungsi pembuluh darah dan pernafasan sebelum dan setelah pengurangan tidur. Fungsi pembuluh darah dilihat dengan meningkatkan aliran darah dan seberapa baik respon pembuluh darah dapat mengakomodirnya. Fungsi nafas dilihat dengan meningkatkan kadar karbondioksida. Normalnya jika kadar karbondioksida ditingkatkan nafas jadi lebih cepat dan dalam.

Peserta penelitian ada 8 orang berusia 20-35 tahun. Dua malam pertama semuanya tidur delapan jam setiap malamnya. Lalu tiga malam berikutnya mereka diminta tidur 4 jam saja. Terakhir para peserta tidur 10 jam selama lima hari untuk melihat efek bayar hutang tidur. Selama penelitian, berulang kali fungsi-fungsi nafas dan pembuluh darah diperiksa.

Hasilnya, setelah dua hari hanya tidur 4 jam, para relawan mengalami pengurangan fungsi pembuluh darah yang signifikan. Sedangkan saat mencapai hari ketiga kurang tidur, fungsi pembuluh darah sedikit membaik. Ini dianggap sebagai mekanisme adaptasi dari tubuh.

Pada fungsi nafas juga dapat dilihat akibatnya. Selama peserta penelitian kurang tidur, fungsi kontrol nafas tampak menurun. Respon terhadap peningkatan kadar karbondioksida tidak meningkatkan laju pernafasan seperti yang diharapkan.

Setelah melewati 5 malam terakhir dengan tidur 10 jam tiap malamnya, dapat dilihat bahwa semua fungsi-fungsi ini membaik.

Kesehatan Jantung

Bayangkan saja jika seseorang berulang kali mengalami kurang tidur untuk waktu yang lama, tentu fungsi pembuluh darahnya akan terganggu. Untuk jangka waktu yang tidak dapat ditentukan, kerusakan fungsi pembuluh darah akhirnya akan akibatkan gangguan pada kesehatan jantung.

Sementara fungsi nafas yang menurun juga dapat ditemui pada penderita sleep apnea (mendengkur). Pendengkur sering kali mengalami henti nafas saat tidur, yang akibatkan penurunan oksigen dan peningkatan kadar karbondioksida. Dengan durasi tidur yang pendek, tubuh jadi tak punya respon yang baik terhadap peningkatan karbondioksida, yang nantinya juga buruk buat kesehatan jantung.

Beberapa penelitian lampau sudah banyak yang tunjukkan efek buruk durasi tidur yang pendek. Baik untuk kesehatan jantung, kadar gula darah, tekanan darah sampai risiko kanker. Penelitian lainnya juga tunjukkan bagaimana penambahan jam tidur dapat bermanfaat bagi kesehatan.

Menurut prof. William Dement, bapak kedokteran tidur, untuk mencapai kesehatan yang paripurna kita membutuhkan tiga komponen utama yaitu gizi yang seimbang, olah raga yang teratur dan tidur yang sehat. Kekurangan salah satu saja, akan merugikan kesehatan seseorang.

Tidur adalah sebuah berkah bagi kita untuk kembalikan kebugaran, ketrampilan, kesehatan dan performa. Untuk apa kita batasi?

Metro TV 29/04/2013

image

Pria Dengan Gangguan Tidur Lebih Berisiko Derita Kanker Prostat

ImageSebuah penelitian dari Islandia yang diterbitkan oleh the Journal Cancer Epidemiology, Biomarkers and Prevention mengatakan bahwa pria yang mengalami gangguan tidur memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita kanker prostat. Bukan itu saja, mereka bahkan terkena kanker yang lebih ganas.

Melatonin

Walau hubungan antara gangguan tidur dan kanker prostat tampak jelas, tetapi para peneliti mengingatkan bahwa belum tentu insomnia yang menyebabkan kanker prostat.

Para ahli berpendapat, hubungan keduanya terletak pada melatonin. Melatonin adalah hormon yang dihasilkan tubuh saat tidur dan sangat dipengaruhi oleh cahaya. Ia hanya dikeluarkan saat gelap. Keberadaan melatonin didapati bisa menekan berbagai proses selular dalam pertumbuhan sel kanker. Bisa dikatakan melatonin mempunyai efek anti kanker. Sayangnya ekspos cahaya yang tak beraturan serta proses tidur yang terganggu akan menurunkan produksi melatonin.

Kilas Balik

Para ahli dari Harvard Medical School di tahun 2001, melakukan penelitian pada para perawat. Survei yang dikenal dengan sebutan the Nurse’s Health Study tersebut mendapati bahwa wanita dengan kerja gilir bergantian memiliki risiko lebih besar untuk menderita kanker payudara. Bandingkan dengan wanita buta yang paparan cahayanya terbatas hingga tidur teratur dan memiliki kadar melatonin yang baik, memiliki risiko kanker payudara 50% lebih rendah.

Di tahun 2007, The International Agency for Recerarch On Cancer menyatakan bahwa gangguan pada siklus gelap-terang dan tidur merupakan salah satu karsinogen (zat penyebab kanker).

Yang terbaru, jurnal kedokteran tidur SLEEP edisi Mei 2013 menyebutkan bahwa pendengkur yang tidur lebih dari 9 jam seharinya memiliki risiko 1,4-2 kali lipat untuk menderita kanker usus. Ngorok dan sleep apnea berperan pada berkembangnya sel kanker lewat proses tidur yang terpotong-potong hingga mengganggu kadar melatonin serta efek henti nafas yang menyebabkan penurunan kadar oksigen secara berkala.

Penelitian

Para peneliti dari the Centre of Public Health Sciences, University of Iceland, mengamati pola tidur 2.102 pria. Mereka yang mengalami gangguan tidur seperti sulit tidur, sulit mempertahankan tidur atau sulit tidur kembali dikumpulkan dan dicatat. Sementara sebagian dari mereka, 755 orang, yang tidak mengalami gangguan tidur dijadikan kelompok normal sebagai pembanding nantinya.

Setelah diamati selama 5 tahun, sejumlah 135 pria dengan gangguan tidur didapati menderita kanker prostat, dan 26 orang diantaranya termasuk kanker yang ganas.

Pria dengan gangguan tidur punya risiko dua kali lipat untuk menderita kanker prostat!

Kanker Prostat

The Centers for Disease Control and Prevention (CDC), mengatakan bahwa 15 dari 100 orang berusia di atas 60 tahun akan menderita kanker prostat dalam waktu 30 tahun. Artinya CDC beranggapan bahwa usia merupakan faktor utama berkembangnya kanker prostat. Tetapi para ahli juga beragumen bahwa dengan bertambahnya usia tidur seseorang akan semakin pendek dan terganggu.

Sampai saat ini, bukti-bukti bahwa proses tidur berperan dalam berkembangnya kanker terus bertambah. Walau masih banyak perdebatan tentagn proses dan jalan berkembangnya penyakit, tetapi semua setuju bahwa tidur yang sehat mutlak diperlukan sebagai tindakan pencegahan tumbuhnya sel kanker.

Tambah Waktu Tidur Turunkan Berat Badan Remaja

Ini adalah hasil temuan terbaru yang diungkapkan pada jurnal Pediatrics terbaru. Para peneliti dari the Perelman School of Medicine dari the University of Pennsylvania mengamati indeks massa tubuh dan pola tidur sekitar 1000 siswa usia 14-18 tahun.

Hasilnya, dengan menambahkan jam tidur angka penyandang obesitas pada remaja bisa diturunkan. Sebaliknya, semakin pendek durasi tidur, indeks massa tubuh juga jadi meningkat. Tim peneliti ini menemukan bahwa dengan menambah jam tidur hingga 10 jam perhari remaja dapat menurunkan berat badannya.

Penelitian ini juga cukup mengejutkan mengingat pandangan umum yang menyatakan bahwa kebutuhan tidur umumnya adalah 8 jam perharinya. Tetapi tidak demikian dengan kebutuhan tidur remaja. Remaja hingga dewasa muda butuh tidur 8,5-9,25 jam seharinya. Para ahli beranggapan durasi tidur hingga 10 jam pada penilitian ini adalah sebagai mekanisme bayar utang tidur.

Manfaat Tidur

Sebenarnya sudah banyak penelitian sebelumnya yang membuktikan manfaat tidur bagi kelangsingan tubuh. Tetapi penelitian ini merupakan yang pertama menyoroti obesitas dan durasi tidur pada remaja. Berkaca pada kondisi di Indonesia, dengan maraknya konsumsi makanan cepat saji dan minuman bersoda, obesitas pada remaja semakin sering ditemui.

Tetapi apakah kita hanya memerhatikan segi nutrisi saja? Dengan semakin banyaknya bukti tentang hubungan kesehatan tidur dan kegemukan, sudah selayaknya kita mulai lebih memerhatikan tidur.

Tidur bagi remaja sebenarnya sangat bermanfaat. Penelitian Mary Carskadon menunjukkan bagaimana penambahan durasi tidur pada siswa akan meningkatkan prestasi akademis, kemampuan fisik dan kesehatan. Durasi tidur yang cukup juga menurunkan angka sakit, absensi, keterlambatan dan kenakalan serta kekerasan di kalangan remaja. Sayang, gaya hidup 24 jam telah membawa mitos tentang produktivitas yang salah. Tidur dianggap kemalasan dan hidup produktif adalah dengan aktif sepanjang waktu dengan mengorbankan waktu tidur.

Sesungguhnya tidur bukanlah kemalasan. Kantuk menunjukkan kebutuhan tidur yang belum tercukupi. Segala kafein dan minuman penambah energi hanya menunda kantuk tanpa mengembalikan kemampuan otak yang terlanjur lelah. Kandungan gula, kafein dan berbagai zat perasa dalam minuman-minuman ini justru menambah risiko kegemukan.

Mengantuk dan Lapar

Tanda mengantuk adalah menguap, mata berair dan dorongan untuk memejamkan mata. tapi tak banyak orang yang tahu bahwa kurang konsentrasi, ceroboh dan mudah lupa juga merupakan tanda-tanda mengantuk. Nafsu makan yang tinggi juga sebenarnya tanda mengantuk.

Lihat saja diri kita sendiri, saat bergadang, bukankah dorongan untuk ngemil kuat sekali? Ini disebabkan saat kurang tidur dan mengantuk, pengeluaran hormon ghrelin ditingkatkan sedangkan leptin ditekan. Ghrelin adalah hormon yang tingkatkan nafsu makan, sedangkan leptin berperan sebagai penekan nafsu makan.

Untuk mekanisme yang masih belum dapat dijelaskan, orang yang mengantuk cenderung mencari makanan yang manis dan asin. Singkat kata, junk food! Sementara ini para ahli berpendapat ini berkaitan dengan mekanisme menjaga kecukupan energi. Saat lelah dan butuh energi, tubuh secara otomatis mencari sumber tenaga tambahan, yaitu gula dan mineral. Kita pun jadi cenderung memilih makanan yang enak-enak. (Andreas Prasadja/KW)

*dr. Andreas Prasadja, RPSGT, Sleep Physician yang saat ini bekerja di salah satu rumah sakit di Jakarta Pusat, adalah pewarta warga bisa dihubungi di akun twitternya @IDTidurSehat atau http://www.andreasprasadja.com

Kesuburan, Kehidupan Seksual dan Kesehatan Tidur

Tidur dan seks, dua aktivitas ranjang yang tampaknya tak saling berhubungan. Yang satu dilakukan setalah yang lainnya. Itu saja. Tapi ternyata hubungannya sangat erat. Kesehatan tidur ternyata sangat penting bagi kesehatan seksual.

Penelitian di Denmark yang diterbitkan pada the American Journal of Epidemiology menunjukkan bahwa pria yang tak sehat tidurnya memiliki jumlah sperma 29% lebih sedikit. Mereka juga memiliki morfologi spermatozoa yang tidak normal. Kesimpulannya, jumlahnya sedikit, dan kemungkinan besar memiliki bentuk yang tak biasa.

Penelitian ini mengambil data cairan sperma dan darah dari 953 pemuda Denmark yang mendaftarkan diri untuk masuk angkatan bersenjata.

Bukan saja berpengaruh pada kualitas kesuburan pria. Gangguan tidur jelas memengaruhi libido dan kemampuan seksual. Ketika terlalu lelah, dan kekurangan energi semua orang akan malas untuk melakukan berbagai aktivitas. Gangguan tidur sudah mencapai titik tidak sehat jika seseorang (pria atau wanita) lebih memilih tidur dibanding bermesraan.

Penelitian lainnya di Israel tunjukkan bahwa penderita penyakit tidur sleep apnea (mendengkur) hanya mengeluarkan testosterone dalam kadar yang rendah. Pendengkur yang selalu lelah juga mengalami gangguan ereksi akibat penurunan oksigen dan proses tidur yang terganggu.

Sementara penderita insomnia, dikatakan oleh para ahli mengalami gangguan emosi hingga mudah tertekan dan cemas. Kecemasan dan rasa tertekan secara emosional adalah awal dari gangguan fungsi seksual.

Tidur yang sehat adalah tidur yang cukup dan berkualitas baik. Ini semua diukur dari rasa segar saat bangun dan rasa bugar di siang hari. Sementara tidur yang tidak sehat bermanifestasi dalam penurunan energi, rasa lelah dan mengantuk di siang hari. Tidur yang tidak sehat disebabkan oleh durasi tidur yang pendek, insomnia, sleep apnea, restless legs syndrome, narcolepsy, circadian rhythm disorder, dan masih banyak lagi.

Gangguan atau penyakit tidur berakibat pada penurunan fungsi-fungsi manusia. Mulai dari kesehatan, kemampuan kognitif, stabilitas emosional hingga performa seksual.
Sayang, jika selama ini kita hanya mencari solusi dari luar dalam bentuk berbagai stimulan, obat atau herbal pentingkat vitalitas seksual tanpa melihat terlebih dahulu ke dalam diri. Bagaimana kesehatan tidur saya?

Pendengkur yang Tidur Lebih Lama Rentan Kanker Usus

Sebuah penelitian baru yang terbit pada jurnal SLEEP mencoba ungkapkan hubungan antara ngorok, durasi tidur dan kanker colorectal (usus).

Penelitian ini melihat data 30.121 the Health Professionals Follow-up Study (HPFS) dan 76.368 wanita dari the Nurses’ Health Study. Lewat kuesioner, para peneliti menanyakan kebiasaan tidur, durasi tidur, dan seberapa sering mendengkur. Para peneliti juga mengakses rekam medis para peserta penelitian untuk melihat adanya diagnosa kanker colorectal. Didapati 1.973 diagnosa baru kanker usus.

Para peneliti dari Harvard Medical School mendapati bahwa pendengkur yang tidur lebih dari 9 jam seharinya berisiko derita kanker usus 1,4-2 kali lipat!

Mendengkur bukanlah kondisi normal yang bisa diabaikan. Pendengkur kemungkinan besar menderita sleep apnea atau henti nafas saat tidur. Akibatnya kadar oksigen selama tidur bisa naik turun tak beraturan sepanjang malam. Akibat sesak, pendengkur terpotong-potong proses tidurnya sehingga kualitasnya buruk. Ini sebabnya orang yang ngorok bangun tak segar dan mengantuk sepanjang hari.

Pada penelitian ini, para ahli mencatat bahwa durasi tidur lebih dari 9 jam pada pendengkur akan tingkatkan risiko seseorang menderita kanker usus. Tapi sesungguhnya tak ada kelebihan atau kebanyakan tidur. Yang ada adalah kantuk berlebihan hingga pendengkur bisa tidur lebih lama. Tidur itu ada porsinya, jika sudah cukup kita tak akan bisa tidur lagi.

Hubungan antara mendengkur dan kanker telah berulang kali diteliti. Seelompok peneliti, mendapati bahwa pada tikus yang alami penurunan oksigen secara berkala, persis seperti penderita sleep apnea, akan memiliki kanker yang lebih ganas dibanding yang normal oksigennya. Dari sini kita dapat simpulkan bahwa penurunan kadar oksigen saat tidur berperan penting pada terjadinya kanker pada penderita sleep apnea.