Apakah Ngorok Saya Berbahaya?

Anda kenal seseorang yang selalu mengeluh mengantuk, mudah lelah dan dengan gampang dapat tidur dimana saja? Ini adalah gejala hipersomnia atau kantuk yang berlebihan.

Mengantuk

Kantuk mungkin biasa saja bagi sebagian orang. Dianggap sedemikian biasa hingga orang yang mengantuk, masih berani mengendara. Tanda-tanda awal mengantuk seperti ceroboh, mudah melupakan hal-hal kecil, sulit berkonsentrasi atau sakit kepala masih dianggap tak berhubungan dengan tidur.

Si pengantuk yang mendengkur saat tidur mungkin lucu dan sering jadi bahan tertawaan di kalangan sahabat atau kerabat. Tapi, tahukah Anda bahwa kemungkinan besar mereka menderita penyakit yang berbahaya? Sebuah penyakit yang menjadi penyebab penyakit-penyakit kronis lain seperti hipertensi, berbagai gangguan jantung, diabetes, stroke, impotensi, bahkan kematian. Penyakit tidur itu bernama sleep apnea, henti nafas saat tidur.

Sleep Apnea

Mendengkur terjadi karena saluran nafas melemas dan menyempit saat tidur. Akan terjadi henti nafas ketika saluran nafas menyempit total hingga tak ada udara yang mengalir masuk atau keluar. Gerakan nafas tetap ada tetapi seolah tercekik, penderitanya merasa sesak. Akibat sesak, penderitanya akan terbangun singkat tanpa terjaga untuk menarik nafas. Ini bisa terjadi berulang kali sepanjang malam, dan penderita sama sekali tak menyadarinya! Akibatnya tak heran jika pendengkur bangun tak segar dan terus mengantuk di siang hari.

Saya Penderita?

Gejala utama sleep apnea adalah mendengkur setiap kali tidur. Sekali waktu mendengkur ketika lelah atau kurang tidur tidak termasuk. Jika diantara dengkuran, pasangan atau orang lain melihat nafas tampak sesak, ini sudah indikasi kuat untuk tidak menunda-nunda pemeriksaan. Ya, percayalah pada orang lain. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada diri kita sendiri saat tidur.
Selain mendengkur, hipersomnia juga menjadi gejala utama. Ketika rekan Anda sepanjang hari memesan kopi dan berulang kali merokok demi mempertahankan konsentrasi, peringatkan. Itu tanda-tanda mengantuk berlebihan.

Sayang, di Indonesia, gejala-gejala ini masih diabaikan. Akibatnya banyak orang mengantuk yang membahayakan dirinya setiap hari dengan berkendara. Belum lagi angka penderita diabetes, dan penyakit jantung dan pembuluh darah yang terus meningkat di tanah air. Padahal banyak penderita sleep apnea yang berkunjung ke dokter dengan berbagai keluhan, sakit kepala menahun, sering kencing di malam hari, tekanan darah tinggi yang sulit terkontrol, bahkan yang sudah menderita serangan jantung luput dari deteksi radar. Untuk itu, jangan lupa ceritakan pada dokter Anda jika alami gejala-gejala ini.

Derajat Ngorok dengan Risiko Stroke dan Demensia

Mendengkur telah lama dikaitkan dengan banyak penyakit jantung-pembuluh darah dan stroke. Kini, sekelompok peneliti dari Korea mencoba melihat hubungan antara ngorok-sleep apnea dengan risiko stroke dan demensia lewat pengamatan pada perubahan substansia alba otak.

Mendengkur

Suara dengkur selama ini dianggap sebagai suara yang mengganggu. Tetapi kenyataannya, ngorok bisa menjadi suatu tanda yang membahayakan. Bahaya tersebut adalah sebuah penyakit tidur bernama sleep apnea.

Sleep apnea, artinya henti nafas saat tidur, mempunyai dua gejala utama yaitu mendengkur dan kantuk berlebihan di siang hari. Pada saat tidur, penderitanya mengalami peyempitan saluran nafas hingga mengganggu aliran udara. Bahkan walau gerak nafas tetap ada, aliran udara terputus seolah tercekik dalam tidur. Akibat sesak, penderita akan terbangun singkat untuk bernafas. Tetapi ia tak akan sadar jika sepanjang malam terbangun-bangun dari tidur.

Kadar oksigen pada tubuh akan turun dan naik selama tidur. Aktivitas simpatis juga meningkatkan kekentalan darah dan merusak dinding pembuluh darah. Kedua mekanisme ini yang diduga mengakibatkan perubahan pada struktur substansia alba di otak.

Penelitian

Penelitian yang diterbitkan pada jurnal kedokteran tidur SLEEP ini ingin melihat hubungan derajat keparahan mendengkur dengan perubahan pada struktur white matter/substansia alba otak. Perubahan pada substansia alba dikaitkan dengan berkembangnya stroke dan demensia.

503 orang peserta diperiksa di laboratorium tidur untuk mengetahui derajat keparahan dengkur/sleep apnea-nya. Kemudian para peserta dengan berbagai derajat keparahan sleep apnea ini diperiksakan struktur otaknya dengan menggunakan magnetic resonance imaging (MRI).

Keparahan sleep apnea dilihat dari indeks henti nafas perjam (AHI/ Apnea Hypopnea Index). AHI kurang dari lima dinyatakan normal, tak menderita sleep apnea. AHI 5-15 kali perjam merupakan sleep apnea ringan. AHI 16-30 sleep apnea sedang, dan AHI >30 kali perjam adalah sleep apnea yang berat.

Hasilnya, pendengkur dengan sleep apnea sedang dan berat, mempunyai risiko dua kali lipat untuk alami perubahan pada substansia alba-nya. Artinya pendengkur, jika menderita sleep apnea sedang-berat, punya risiko dua kali lipat untuk menderita stroke atau demensia.

Sleep Apnea dan Stroke

Penelitian ini sejalan dengan peneliti sebelumnya di tahun 2005 pada American Journal of Hypertension yang juga mengaitkan sleep apnea dengan stroke. Namun, kelompok peneliti ini lebih melihat efek penurunan kadar oksigen pada sleep apnea dengan angka kejadian stroke. Dua kelompok peneliti berbeda di Jepang juga melakukan penelitian yang sama. Keduanya menemukan tingginya angka penderita gangguan pembuluh darah otak dengan derajat keparahan sleep apnea.

Perawatan Sleep Apnea

Ngorok sudah tak dapat diabaikan lagi. Tapi jangan salah mengerti. Keparahan sleep apnea dilihat dari derajat henti nafasnya, bukan dari volume suara dengkuran. Berbagai penelitian semuanya melihat dari henti nafas yang dialami pendengkur. Tidak pada volume suara atau seberapa mengganggunya suara dengkuran tersebut.

Untuk mengetahui seorang pendengkur menderita sleep apnea atau tidak, diperlukan pemeriksaan seksama di laboratorium tidur.

Perawatan nantinya ditentukan dari hasil pemeriksaan tidur. Sementara ini yang paling banyak digunakan adalah perawatan dengan gunakan continuous positive airway pressure (CPAP). Sebuah alat yang meniupkan tekanan positif ke hidung pasien, untuk menjaga agar saluran nafas tetap membuka saat tidur.

Perawatan sleep apnea ditujukan untuk mengatasi henti nafas agar kesehatan dan kualitas hidup tetap terjaga serta menghidari cidera lebih lanjut pada otak. Tentu saja suara dengkuran pun akan hilang nantinya.