Mendengkur Memperburuk Fungsi Ginjal Penderita Diabetes

Penderita diabetes yang tidur mendengkur sebaiknya waspada, karena kondisi ini bisa mempercepat penurunan fungsi ginjal. Demikian hasil penelitian yang dipresentasikan pada Kidney Week 11-16 November 2014 di Philadelphia, yang diadakan oleh the American Society of Nephrology.

Hubungan mendengkur/sleep apnea dan diabetes sangat nyata. Ada 36% penderita sleep apnea di antara penderita diabetes tipe 2. Maka tak heran jika International Diabetes Federation menyerukan agar semua penderita diabetes diperiksakan tentang kemungkinan menderita sleep apnea, dan sebaliknya penderita sleep apnea juga mewaspadai diabetes.

Seperti kita ketahui, salah satu penyakit lanjutan diabetes tipe 2 adalah penyakit ginjal kronis. Itu sebabnya sekelompok peneliti dari Medical University of South Carolina, ingin mengetahui efek mendengkur pada laju penurunan fungsi ginjal penderita diabetes tipe 2.

Para peneliti ini menganalisa 56 pasien diabetes yang juga menderita penyakit ginjal kronis. Pasien-pasien tersebut diberikan kuesioner untuk menyaring kemungkinan mereka menderita sleep apnea. Hasilnya 62% pasien yang kemungkinan besar menderita sleep apnea memiliki fungsi ginjal yang lebih rendah dibanding pasien-pasien yang tidak menderita sleep apnea.

Disimpulkan pasien diabetes yang menderita sleep apnea lebih cepat laju penurunan fungsi ginjalnya, dibanding yang tidak mendengkur.

Menurut the National Kidney Foundation, deteksi dini dapat mencegah terjadinya Penyakit Ginjal Kronis dan Gagal Ginjal. Kelompok dengan risiko tinggi adalah orang-orang yang menderita diabetes, hipertensi dan memiliki riwayat penyakit ginjal pada keluarga. Dua pertiga kasus penyakit ginjal kronis disebabkan oleh diabetes dan hipertensi.

Walau belum memberikan hubungan sebab akibat, penelitian ini sudah menunjukkan adanya akibat buruk dari mendengkur. Dan dengan adanya penelitian ini, ada satu faktor lagi yang bisa memprediksi munculnya penyakit ginjal kronis pada penderita diabetes, mendengkur.

Hubungan Mendengkur, Sleep Apnea & Gejala Depresi

Kesehatan tidur, seharusnya menjadi dasar dari kualitas manusia. Segala potensi diri yang muncul di saat terjaga, dibangun pada saat tidur. Di antaranya adalah kesehatan, kecerdasan, kemampuan konsentrasi, kreativitas dan stabilitas emosional.

Kebugaran fisik membutuhkan tidur yang sehat, sama seperti tubuh membutuhkan makanan dengan gizi yang sehat juga. Tidur merupakan kebutuhan dasar manusia.

Coba saja refleksikan apa yang terjadi ketika kita kurang tidur, lelah, lamban, sulit berkonsentrasi, dan emosional. Begitu kurang tidur kita jadi mudah tersinggung, mudah marah dan tak sabaran. Pada anak, bahkan muncul sifat agresif dan hiperaktif.

Bukan Sembarang Mendengkur

Sleep apnea adalah henti nafas saat tidur yang biasa diderita oleh pendengkur. Untuk mendiagnosis sleep apnea memang diperlukan pemeriksaan di laboratorium tidur. Tetapi untuk melihat kemungkinan sleep apnea, biasanya dikenali dahulu gejalanya berupa gangguan nafas selama tidur. Pendengkur tampak sesak, seperti tercekik lalu mengeluarkan suara keras seolah tersedak.

Sleep apnea saat ini dikenal sebagai penyebab hipertensi, diabetes, berbagai penyakit jantung, stroke, dan impotensi.

Penelitian Berkaitan dengan Depresi

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh CDC, Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat, seorang pendengkur dengan kesulitan bernafas saat tidur ternyata berhubungan dengan gejala-gejala depresi. Semakin sering pendengkur tampak tersedak atau berhenti bernafas dalam tidur, semakin mungkin ia mengalami gejala depresi.

Penelitian ini diikuti oleh hampir 10.000 orang yang diwawancara lewat kuesioner. Mereka ditanyakan gejala-gejala depresi, ukuran berat dan tinggi badan serta diminta melaporkan seberapa sering ia mendengkur dan tampak sesak saat tidur. Gangguan nafas saat tidur tentu peserta penelitian harus menanyakan pada pasangan tidurnya.

Hasilnya, pria dan wanita yang mendengkur serta tampak tersedak/berhenti bernafas saat tidur lebih dari 5 malam setiap minggunya, memiliki kemungkinan tiga kali lipat untuk menunjukkan gejala-gejala depresi, dibandingkan yang tidak mendengkur.

Hubungan henti nafas saat tidur dan depresi, mungkin berkaitan dengan berkurangnya pasokan oksigen ke otak selama tidur. Kemungkinan lain adalah kualitas tidur buruk yang dialami oleh penderita sleep apnea, hingga selalu mengantuk dan emosional di siang hari.

Pada saat penelitian diumumkan di tahun 2012, pertanyaan-pertanyaan baru muncul. Diantaranya bagaimana jika sleep apnea ini diatasi, apakah gejala-gejala depresi akan berkurang? Kemudian apakah kebutuhan atau dosis obat antidepresan juga jadi berkurang? Tentu dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam lagi.

Perawatan Dengkur Membantu Kurangi Gejala Depresi

Penelitian baru yang dilakukan oleh the Cleveland Clinic Sleep Disorder Center, menyatakan bahwa perawatan sleep apnea dengan menggunakan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), ternyata membantu mengurangi gejala depresi.

Hasilnya menunjukkan bahwa semua penderita sleep apnea yang menggunakan CPAP mengalami perbaikan gejala-gejala depresi. Penderita yang gunakan CPAP lebih dari empat jam setiap malamnya bahkan lebih baik lagi perbaikan gejala-gejala depresinya.

Perlu diingatkan bahwa penelitian ini masih sangat baru. Penelitian ini belum membandingkan manfaat CPAP dengan perawatan depresi konvensional. Tetapi untuk sementara para ahli sepakat bahwa sleep apnea merupakan penyakit tidur yang tak boleh diabaikan. Setiap laporan mendengkur harus diperhatikan. Jika pendengkur terdiagnosis dengan sleep apnea, perawatan dengkuran jelas memberikan manfaat bagi penderitanya, baik kaitannya dengan gejala depresi, kualitas hidup maupun penyakit-penyakit jantung, hipertensi, diabetes dan lainnya.

Sleep Apnea Kurangi Performa Latih

Penelitian yang dipublikasikan pada the Journal of Clinical Sleep Medicine, menyebutkan bahwa orang yang mendengkur tidak dapat secara efisien membakar kadar oksigen tinggi selama latihan aerobik. Akibatnya ketika dibandingkan dengan non-pendengkur, pendengkur memiliki performa latih yang lebih buruk.

Sleep Apnea

Sleep apnea adalah penyakit tidur yang biasa diderita oleh para pendengkur. Sleep apnea, yang artinya henti nafas saat tidur, terjadi akibat menyempitnya saluran nafas saat tidur. Jadi, walau gerakan nafas tetap ada, sebenarnya tak ada udara yang dapat lewat. Penderitanya seolah tercekik berulang kali dalam tidurnya.

Akibat sesak berulang, pendengkur akan terbangun-bangun dari tidur. Tapi mereka tidak menyadarinya, karena episode bangun tersebut amat singkat. Namun, akibat proses tidur yang terpotong-potong ini, kita sering menemui pendengkur yang bangun tak segar dan selalu mengantuk di siang hari.

Sleep apnea telah dikenali menjadi penyebab utama dari hipertensi, berbagai penyakit jantung, diabetes, stroke hingga impotensi.

Penenelitian

Para ahli percaya bahwa salah satu parameter risiko stroke dan serangan jantung adalah dengan mengukur kapasitas performa latih berupa uji latih jantung-paru (Cardio-Pulmonary Exercise Test, CPET). Yang diukur adalah VO2 max, yang artinya, kadar oksigen maksimum yang dibakar seseorang saat latihan fisik berat, seperti bersepeda.

Penelitian yang dilakukan di University of California San Diego ini membandingkan penderita sleep apnea dan yang sehat. Semua peserta sebelumnya dilakukan pemeriksaan tidur untuk menentukan derajat sleep apnea yang diderita. Seluruhnya terdapat 15 orang pria dan wanita yang menderita sleep apnea derajat sedang hingga berat, serta 19 orang pendengkur tanpa sleep apnea dan sleep apnea derajat ringan.

Kesemuanya diukur saat beristirahat, bersepeda, dan terus ditingkatkan resistensinya sampai batas kelelahan maksimal. Hasilnya, kadar VO2 max pendengkur yang menderita sleep apnea ternyata lebih rendah dibanding yang sehat.

Para peneliti menyimpulkan bahwa kemampuan latih penderita sleep apnea ternyata lebih buruk dibandingkan pendengkur biasa. Yang artinya risiko untuk menderita penyakit jantung dan stroke juga lebih tinggi.