Si Penidur Singkat

Denyut kehidupan yang serba cepat saat ini menyebabkan semakin panjangnya waktu kerja atau beraktivitas. Akibatnya, tidak sedikit orang yang mengalami gangguan tidur dan biasanya diikuti oleh gangguan kesehatan yang berdampak pada penurunan produktivitas.

Namun untuk beberapa orang, waktu tidur yang sedikit tidak berdampak pada penurunan produktivitas atau kinerja. Mantan Perdana Menteri Inggris, Margareth Thatcher hanya membutuhkan waktu 3 – 4 jam sehari untuk tidur. Saat kuliah di Oxford, Thatcher selalu bangun saat subuh dan berangkat lebih awal untuk belajar di perpustakaan universitas.

Kebiasaan tidur singkat ternyata tidak memengaruhi prestasinya, Thatcher termasuk salah satu perdana menteri terbaik dalam sejarah Inggris. Dapatkah kita mengurangi waktu tidur agar bisa lebih produktif seperti Margareth Thatcher ?

Kebutuhan tidur setiap orang memang berbeda. Ada beberapa manusia super yang secara alamiah hanya membutuhkan tidur singkat setiap malamnya tanpa mengganggu aktivitas siang harinya. Sebenarnya belum jelas juga apakah para penidur singkat ini pasti lebih sukses. Yang jelas mereka mempunyai lebih banyak waktu untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan.

Berbagai penelitian menemukan bahwa dari 100 orang, hanya ditemukan 3 – 5 orang yang memang penidur singkat alami. Penelitian juga menunjukkan banyak orang yang mengaku tetap aktif dengan tidur singkat ternyata tidur lebih lama saat diberi kesempatan. Sebut saja Benjamin Franklin, Thomas Jefferson, dan Leonardo da Vinci disebutkan terlalu sibuk untuk tidur. Sementara Thomas Edison dan Winston Churchill, walau tidur kurang di malam hari, mereka punya kebiasaan tidur siang.

Penidur singkat memiliki ciri berbicara cepat, amat aktif dan juga memiliki mood yang positif serta metabolisme yang tinggi. Mereka cenderung tetap langsing walau kekurangan tidur, karena biasanya orang yang kurang tidur cenderung mengalami obesitas.

Ahli genetik Dr. Ying-Hui Fu dari California University bersama timnya menemukan adanya variasi gen hDEC2 pada beberapa penidur singkat. Kini tim yang sama masih terus meneliti kemungkinan variasi gen lainnya. Bagi orang yang bukan penidur singkat, kekurangan waktu tidur dapat mengakibatkan gangguan konsentrasi, proses berpikir yang lamban, sering berbuat kesalahan, mood yang buruk hingga kemampuan mengambil keputusan yang buruk. Kesemuanya dapat menurunkan produktivitas.

Sebaiknya kita tidur sesuai dengan kebutuhan tidur kita. Ketika siang hari mengantuk dan tak bersemangat, jangan langsung mengambil kopi. Penting juga untuk merefleksikan jadwal tidur kita dan perbaiki di malam berikutnya.

Untuk mengetahui kebutuhan tidur kita, mudah saja. Rutinkan dulu tidur secara teratur. Perlahan setiap beberapa hari tambah jam tidur. Setelah beberapa waktu rasakan efeknya pada hidup. Lebih sehat, tajam, produktif dan bahagia. Tak perlu takut kelebihan tidur.
Ketika tidur sudah cukup, kita tak akan mengantuk. Jika masih ada kantuk, berarti tidur masih kurang. Jika tidur sudah cukup tapi masih mengantuk, ini yang disebut kantuk berlebihan, hipersomnia. Jangan samakan kantuk dengan kemalasan. Tidak. Tentukan sendiri apakah Anda termasuk penidur singkat atau tidak, setiap orang membutuhkan lama waktu yang berbeda untuk tidur. Namun yang pasti tidur cukup berdampak baik pada kesehatan dan meningkatkan produktivitas.

* Praktisi kesehatan tidur, konsultan utama Sleep Disorder Clinic – RS. Mitra Kemayoran, pendiri @IDTidurSehat , penulis buku Ayo Bangun! anggota American Academy of Sleep Medicine

Link:
http://health.kompas.com/read/2011/09/27/14321140/www.kompas.com

Istri Cukup Tidur, Pernikahan Bahagia

KOMPAS.com – Mana yang lebih dulu, hubungan pernikahan yang buruk menyebabkan gangguan tidur atau gangguan tidur menyebabkan relasi suami istri jadi buruk? Ini pertanyaan penting yang perlu kita refleksikan.

Pernikahan yang bahagia tentu membuat kita tidur nyenyak sepanjang malam. Sementara pernikahan yang kurang bahagia akan meningkatkan risiko gangguan tidur. Tetapi sebaliknya, gangguan tidur juga membuat orang lebih labil secara emosional, ia mudah tersinggung, kurang bertoleransi serta mempunyai ambang stres yang rendah.

Sebuah penelitian menunjukkan hubungan antara tidur dengan pernikahan. Prof. Wendy Troxel dan kolega-koleganya menanyai 2.000 wanita yang telah menikah. Mereka ditanyai tentang status pernikahan, kualitas tidur, seberapa sering mengalami gangguan tidur, serta jadwal tidur-bangun.
Wanita yang hidup pernikahannya bahagia, tidur lebih nyaman dan bangun dengan rasa segar bugar, mereka juga tak mudah terbangun di tengah malam. Ini mudah dimengerti. Saat sedang berselisih pendapat, tentu sulit untuk tidur dengan pasangan.

Tetapi kelompok peneliti yang sama membuktikan bahwa hal sebaliknya juga bisa terjadi. Penelitian terbaru yang dipresentasikan pada pertemuan SLEEP 2011, menunjukkan bahwa para istri yang mengalami gangguan tidur akan mengalami interaksi yang negatif di pagi harinya.
Mereka merekrut 35 pasangan yang selama 10 malam tidur dengan actyiraphy, sebuah alat yang merekam aktivitas tubuh. Kemudian mereka diminta untuk mencatat hubungan interaksi dengan pasangan.

Hasilnya, wanita yang mengalami gangguan tidur cenderung untuk merasakan interaksi yang negatif terhadap pasangan. Suami pun melaporkan kurangnya interaksi positif ketika istri sulit tidur.
Prof. Wendy Troxel, seperti dikutip webMD mengatakan, memang terdapat perbedaan gender dalam penelitiannya. Pria sepertinya tak memiliki efek gangguan tidur yang sama dibanding wanita. Wanita, menurutnya, memang lebih ekspresif dibanding pria yang cenderung menekan perasaan-perasaan negatifnya. Namun akibat dari gangguan tidur wanita, tak terbatas pada dirinya sendiri. Terbukti pasangan turut merasakan akibatnya.

Jadi bagi para pria, jika Anda ingin kehidupan pernikahan yang bahagia, pastikan pasangan tidur dengan sehat.

dr Andreas Prasadja, RPSGT
Praktisi Kesehatan Tidur, Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran

http://health.kompas.com/read/2011/09/12/10133389/Istri.Cukup.Tidur.Pernikahan.Bahagia

Is Your Snoring a Warning Sign?

Ade Mardiyati | August 24, 2011

For as long as he can remember, Hector Siagian has been told that he snores when he sleeps. Loudly. The 41-year-old banker said his snoring got worse after he got married, and as he gained weight.

“It was so bad that my wife had to cover her ears with headphones during the first year of our marriage. But now that she’s used to it, she doesn’t do that anymore,” said Hector, who is up to 100 kilograms.

Three years ago, the father of three had a stroke. “It has been three years but it still affects me physically. Every time I feel tired, my body feels numb. I almost can’t lift anything with my hands because they feel so heavy,” he said.

But despite all his health problems, Hector doesn’t think they’re related to his snoring. “I think I only snore when I feel tired from work,” he said. “It also depends on my sleeping position. When I lie on my back, I snore. I’m sure if I can lose weight, I will stop snoring.”

Andreas Prasadja, a sleep doctor from the Sleep Disorder Clinic at Mitra Kemayoran Hospital in Central Jakarta, said many people don’t take sleep disorders seriously enough. These include obstructive sleep apnea, an ailment characterized by excessive daytime sleepiness (or hypersomnia) and snoring.

“Most people believe you snore because you are exhausted during the day or did not have enough sleep the night before. It is not that simple,” he said.

Snoring is an early warning sign of a sleep disorder, he said, and people should pay particular attention to whether there are pauses, or apneas, in breathing while snoring. The pause is caused by a blockage of the airflow.

“This will cause interrupted sleep, also known as fragmented sleep,” Andreas said. “Most people who suffer from sleep apnea do not realize it because they are asleep, and each pause normally lasts for only a few seconds. They may be asleep for six or seven hours a night, but their sleep is actually interrupted.”

Andreas said sleep apnea carried both health and social risks. The disorder can lead to high blood pressure, heart problems, stroke, brain damage, diabetes, depression, obesity and death.

“Socially, it is disturbing and causes an uncomfortable situation for other people. I have had a lot patients come to me and say their partner was complaining about their snoring,” he said. “During the day, they feel sleepy and weak, have difficulty concentrating and become very emotional and sensitive, which can sour their relationship with other people.”

But Andreas said most doctors here were not aware that such symptoms could be caused by sleep apnea.

“They tend to diagnose something else. Meanwhile in developed countries, where people have a better knowledge and understanding of sleep disorders, the first question a doctor will ask the patient is whether they sleep well at night,” said Andreas, who is one of Indonesia’s two sleep specialists. “This is a serious matter. We can’t ignore this.”

He also pointed out that sleep apnea can affect anyone — young and old, male or female.

“One of my patients is 6 years old and has the fourth-worst case of sleep apnea in our clinic. The child had 106 pauses every hour when sleeping,” he said.

To determine whether you suffer from obstructive sleep apnea, Andreas recommended an overnight sleep study.

“In a sleep laboratory that has been set up to make you feel comfortable, your sleep is observed all night long,” he said. “Basically we monitor and record all physical activities while you are sleeping, including brainwave activity, breathing patterns, heart rate and eye movements.”

After obstructive sleep apnea is diagnosed, the sleep specialist can recommend the proper treatment, Andreas said.

The most recommended and effective treatment is using a Continuous Positive Airway Pressure device, a mask that helps patients breathe while they are asleep.

In some cases, surgery may be required to reconstruct the breathing channel anatomy, Andreas said.

“But I would suggest using the CPAP first for anyone whose sleep apnea is more than 15 times per hour. It works most of the time,” he said.

Given that a sleep disorder can be a silent killer, Andreas said it was important for friends and partners to inform people who snore to be alert, because most people who suffer from the condition are unaware they have a problem.

“You could save their life,” he said.

Tips for a better night’s sleep:
Although the amount of sleep required differs from person to person, it is recommended that people get seven to eight hours of sleep a night.
Avoid caffeine at least nine hours before going to bed.
Avoid working out three hours prior to going to bed.
Finish all your work at least an hour before you go to bed. Give your body and mind a break from work-related matters.

For more information and tips, follow @IDTidurSehat on Twitter.

link: http://www.thejakartaglobe.com/health/is-your-snoring-a-warning-sign/461412

Kupas Tuntas Bahaya Mendengkur

TEGAL – Tak sedikit yang menganggap dengkuran menandakan lelapnya tidur. Padahal, mendengkur merupakan gejala utama dari sleep apnea selain rasa kantuk berlebih. Sleep apnea yang artinya henti nafas saat tidur, dapat berdampak langsung pada kesehatan dan kualitas hidup seseorang. ‘’Mendengkur tidak boleh disepelekan, karena berhubungan langsung dengan sejumlah penyakit,’’ ungkap dr Andreas Prasadja RPSGT dalam Simposium Ilmiah Sleep Apnea dalam hubungannya dengan diabetes.
Sleep Physician di Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran ini menjadi pembicara utama acara yang digelar RS Mitra Keluarga Tegal, Sabtu (16/4). Sedikitnya 140 peserta mengikuti acara yang berlangsung di auditorium lantai 4 setempat. Acara yang menggandeng Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Tegal juga dihadiri Ketua IDI Kota Tegal dr Hery S SpA. Simposium ini juga menghadirkan dr Daru Jaka S SpPD MSc dengan materi penanganan terkini diabetes mellitus.

Disebutkan dr Andreas, 8 penyakit yang berhubungan dengan mendengkur diantaranya tekanan darah tinggi atau hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan kerusakan otak. Juga berhubungan dengan depresi, diabetes melitus, obesitas dan mortalitas atau kematian. Perawatan sleep apnea dapat dilakukan lewat beberapa alternatif. Diantaranya pembedahan, continuous positive airway pressure (CPAP) ataupun dental appliances. Sementara ini, baku emas perawatan adalah dengan menggunakan CPAP, dengan tingkat keberhasilan yang amat tinggi. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa penggunaan CPAP akan mengurangi resiko seseorang untuk menderita bahaya-bahaya yang telah disebutkan tadi.

Pada kesempatan sama, Direktur RS Mitra Kemayoran Dr Esther M Ramono MM mengenalkan pelayanan dan fasilitas yang bisa digunakan di grup RS Mitra Keluarga ini. Salah satunya adalah sleep disorder clinic sebagai satu-satunya di Indonesia. Bukan hanya itu saja, dr Andreas Prasadja RSPGT selaku sleep physician juga merupakan kali pertama memperdalam ilmunya di bidang ini. ‘’Kami sangat memperhatikan kualitas pelayanan dengan adanya setifikat ISO dan akreditasi untuk 16 pelayanan,’’ ungkapnya. Selain itu, peralatan modern yang canggih dan sumber daya manusia yang berkualitas menjadi unggulan RS Mitra Kemayoran. Perkembangan kedokteran selalu up to date di RS ini.

Direktur RS Mitra Keluarga Tegal drg E Setyodewi MM dalam sambutannya menuturkan kegiatan simposium ilmiah merupakan program rutin. Dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan kedokteran up to date ke masyarakat maupun petugas medis tak terkecuali dokter di Tegal dan sekitarnya. ‘’Semoga bisa bemanfaat untuk semua pihak,’’ ujarnya.

Dewi menambahkan, dalam memberikan pelayanan pada pasien pihaknya selalu bekerjasama dengan grup RS Mitra Keluarga yang saat ini berjumlah 10 cabang. ‘’Kalau di sini peralatan belum memadai, akan kami rujuk ke grup kami,’’ ujarnya. Pasalnya, masing-masing cabang memiliki unggulan tersendiri di bidang kesehatan.(ela)

Link: http://www.radartegal.com/index.php/Kupas-Tuntas-Bahaya-Mendengkur.html

Atlet Segagah Shaquille O’Neal Ternyata Takut Ngorok

img
Shaquille O\’Neal (gettyimage)

Jakarta, Ngorok atau mendengkur masih dianggap wajar bagi sebagian orang. Namun pebasket kenamaan Shaquille O’Neal sangat ketakutan saat tahu dirinya mendengkur, sampai-sampai ia harus ikut terapi di Harvard Medical School untuk mengatasinya.

Semula bintang NBA yang memiliki tinggi badan 2,16 meter dan berat 147,4 kg ini tidak pernah tahu dirinya punya gangguan tidur. Ia baru sadar setelah pasangan tidurnya, Nikki Alexander baru-baru ini merasa terganggu oleh suara dengkurannya yang sebetulnya belum terlalu parah.

Atas saran Nikki, Shaq segera mendatangi Harvard Medical School untuk minta solusi kepada seorang konsultan gangguan tidur yakni Dr Atul Malhotra. Dikutip dari Sleepapneadisorder, Rabu (27/7/2011), Shaq didiagnosis mengalami henti napas saat tidur atau sleep apnea dengan tingkat keparahan menengah.

Untuk mengatasi dengkurannya, Dr Malhotra menganjurkan agar Shaq memakai Continuous Positive Airway Pressure (CPAP). Alat ini berbentuk masker khusus yang harus selalu dipakai saat tidur, untuk memberikan tekanan positif sehingga saluran napas tidak menyempit.

Kekhawatiran Shaq atas gangguan tidur yang dialaminya tidak berlebihan. Pakar kesehatan dari RS Mitra Kemayoran, dr Andreas Prasadja, RPSGT atau akrab dipanggil dr Ade mengatakan bahwa sleep apnea bisa memicu kematian mendadak meski penderitanya adalah seorang atlet yang tentunya rajin olahraga.

“Di luar negeri memang seperti itu, seseorang yang tahu kalau dirinya ngorok pasti langsung panik. Banyak atlet yang kelihatannya bugar, tahu-tahu mati mendadak hanya karena sleep apnea,” ungkap dr Ade saat berbincang via telepon dengan detikHealth, Selasa (26/7/2011).

Menurutnya, sleep apnea terjadi karena saluran napas mengalami penyempitan saat tidur sehingga suplai oksigen terbatas. Selain membuat napas berhenti sewaktu-waktu ketika tidur, dalam jangka panjang kondisi ini bisa memicu komplikasi serius seperti serangan jantung dan diabetes.

Kadang-kadang risiko ini tidak disadari oleh para atlet karena mengira jika rajin olahraga maka tubuhnya sudah cukup bugar. Padahal meski jantungnya sehat, sleep apnea yang tidak terdiagnosis kadang lebih berbahaya karena jika tidak diatasi maka bisa makin memburuk.

Terkait penggunaan CPAP untuk mengatasi sleep apnea, dr Ade mengatakan bahwa alat tersebut cukup efektif asal cara pakainya benar. Ia sendiri mengaku sering mendengkur saat tidur dan sudah 4 tahun menggunakan CPAP, yang saat ini harganya masih sekitar Rp 5 juta.

(up/ir)

link: http://www.detikhealth.com/read/2011/07/27/070209/1690163/763/atlet-segagah-shaquille-oneal-ternyata-takut-ngorok

dr Andreas Prasadja, Spesialis Tukang Intip Orang Tidur

 

img
dr Ade (dok: facebook)

Sebagai satu-satunya praktisi kesehatan tidur di Indonesia, dr Andreas Prasadja RPSGT getol menyosialisasikan pentingnya tidur yang cukup dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Di laboratorium tidur tempatnya bekerja, pasien diperiksa saat tidur dan ia akan sabar mengamati pola tidur pasiennya.

Dokter yang menjuluki dirinya sebagai ‘tukang intip orang tidur’ ini akan melakukan segala cara agar pasiennya tidak stres saat diperiksa sehingga bisa terlelap saat diperiksa gangguan tidurnya.

Pasien yang diperiksa pola tidurnya ini, tubuhnya dipasangi kabel-kabel lalu dr Ade akan memantaunya dari komputer. Dalam kondisi khusus tak jarang alat-alat yang dimiliknya (polisomnigrafi/PSG) dibawa ke rumah pasien.

Gangguan tidur menurut dr Ade adalah hal yang serius sayangnya banyak orang mengabaikannya. Gangguan tidur bisa membuat fungsi tubuh tidak maksimal, makanya ia prihatin melihat pejabat-pejabat yang tertidur saat bekerja.

Jika seorang pemimpin punya masalah tidur baik ngorok maupun ngantukan, maka sedikit banyak kesehatannya akan terpengaruh. Dampaknya antara lain konsentrasi menurun, kemampuan menganalisisi masalah berkurang dan area emosionalnya terganggu sehingga gampang tersinggung saat menerima kritik.

Dalam jangka panjang, kualitas tidur yang buruk juga memicu komplikasi yang lebih serius misalnya diabetes dan gangguan jantung sehingga biaya kesehatannya akan membengkak. Dalam waktu 2 tahun saja, biaya kesehatan seseorang bisa naik 10 kali lipat jika tidurnya tidak berkualitas.

“Saya pernah melakukan kampanye kecil-kecilan, pesannya jangan pernah memilih calon pemimpin yang ngorok,” tegas seorang praktisi kesehatan tidur dari RS Mitra Kemayoran, dr Andreas Prasadja, RPSGT atau biasa dipanggil dr Ade saat berbincang via telepon dengan detikHealth, Rabu (27/7/2011).

Sesuai bidang keahliannya, suami dari Kristanti Madona Gunadi ini memang getol menyosialisasikan pentingnya tidur yang cukup dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Selain dengan menjadi pembicara dalam berbagai talkshow di TV dan radio, dr Ade juga gemar berbagi ilmu di internet termasuk melalui blog dan jejaring sosial.

Ayah dari 2 anak yang masing-masing berusia 2 dan 6 tahun ini tak pernah merasa terganggu meski akun twitternya sering dibanjiri pertanyaan seputar gangguan tidur. Hanya saja untuk memisahkan urusan pribadinya yang penuh canda dengan urusan keilmuannya yang lebih serius, belakangan dr Ade merasa perlu untuk memiliki 2 akun twitter.

“Dengan mem-follow @IDTidurSehat Anda dpt tahu mitos & fakta seputar tidur. Boleh juga unfollow akun ini agar saya bebas omong jorok. Hihihi,” tulis dr Ade di akun @prasadja yang merupakan akun pribadinya, sebagai imbauan agar pertanyaan seputar gangguan tidur disampaikan di akun barunya yakni @IDTidurSehat.

Dengan gaya humoris dan penuh canda, dr Ade terlihat ramah saat berinteraksi dengan siapapun termasuk pasien. Demikian juga di laboratorium tidur tempatnya bekerja, dr Ade ini akan melakukan segala cara agar pasiennya tidak stres sehingga bisa terlelap saat diperiksa gangguan tidurnya.

Bahkan saat menyindir pola tidur wartawan yang umumnya sering bergadang hingga larut malam, ia mampu menyampaikannya dengan candaan menggelitik. Menurutnya, hal yang paling menyebalkan saat menghadapi pasien adalah jika pasien tersebut seorang pekerja media.

“Kalau pasien susah tidur, saya pasti bisa bantu. Kalau bisa tidur tapi tidak berkualitas, itu saya juga bisa bantu. Tapi kalau memang tidak sempat tidur, saya bisa apa coba?” ledeknya sambil tertawa kecil.

Komentar dr Ade tidak mengada-ada, sebab ia sendiri mengaku pernah menangani pasien yang bekerja sebagai pemred (pemimpin redaksi) sebuah media massa ternama dan merasakan sendiri tantangannya. Lucunya setelah sembuh, si pemred tersebut jadi sangat toleran dan tidak pernah marah jika ada anak buahnya yang tertidur di kantor dengan pertimbangan jika dipaksakan maka kinerjanya tidak akan optimal.

Di Indonesia, ilmu kedokteran yang mempelajari kesehatan tidur masih terbilang baru sehingga wajar jika ngorok dan gangguan tidur lainnya masih sering terabaikan. Kelak jika semua orang sudah mulai peduli terhadap kesehatan tidur, dr Ade berharap agar calon pemimpin bangsa juga diwajibkan lulus Tes Ngorok.

BIODATA

Nama lengkap:
dr Andreas Prasadja, RPSGT (Registered Polysomnographic Technologist atau Praktisi Kesehatan Tidur)

Nama panggilan:
dr Ade

Tempat dan tanggal lahir:
Jakarta, 16 Mei 1975

Status perkawinan:
Menikah dengan Kristanti Madona Gunadi
Dikaruniai 2 anak, Chiara Monica Prasojo (6 tahun) dan Patricius Kiano Prasojo (1,5 tahun)

Hobi:
Bersepeda (aktivis bike to work) dan memasak

Riwayat Pendidikan:
Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya (1993-2000)
Polysomnography Course and Sleep Medicine Review, Singapore (September 2005)
Sleep Medicine and Technology Course, The University of Sidney Australia (November 2005)
Registered Polysomnographic Technologist, American Academy Of Sleep Medicine.

Riwayat Pekerjaan:
Dokter umum di Klinik Pandawa, Jakarta (2002)
Dokter jaga di RS Mitra Kemayoran, Jakarta (2003-2005)
Praktisi kesehatan tidur di Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran, Jakarta (2005-sekarang).

(up/ir)

link: http://www.detikhealth.com/read/2011/07/27/100459/1690287/1201/dr-andreas-prasadja-spesialis-tukang-intip-orang-tidur

Ngorok, Kesehatan Jantung di Sonora

Sosialisasi tentang kesehatan jantung yang amat berkaitan dengan kesehatan tidur, terutama ngorok yang merupakan tanda utama dari sleep apnea.

Cek Insomnia Saat Anda Terjaga!

Waktu menunjukkan pukul 00.05. Anda terbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, berusaha untuk terlelap. Trik-trik meditasi yang pernah Anda baca di buku yoga, seperti melemaskan otot dan mengosongkan pikiran, tidak ada yang berhasil membuat Anda tertidur. Tapi jangan khawatir jika Anda seprti burung hantu, selalu terjaga ketika yang lain sedang tenggelam dalam mimpi. Anda tidak sendirian, kok.

Menurut dr. Andreas Prasadja, sleep scientist, waktu produktif orang dewasa muda memang justru di malam hari. Banyak yang menyalahartikan kesulitan tidur di malam hari sebagai insomnia. Padahal, indikasi insomnia atau gangguan tidur  justru terlihat saat seseorang terjaga. Jika seseorang tidak nyaman saat bangun tidur, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, atau mengantuk berlebihan, berarti dia mengalami insomnia. Kalau seseorang terjaga sepanjang malam, tapi bisa tidur nyenyak di waktu lain, dia tidak menderita insomnia.

Perbedaan waktu tidur dikarenakan jam biologis manusia yang berbeda-beda. Makin bertambahnya usia, kebutuhan jam tidur akan  makin menurun. Usia 30 tahun ke atas butuh maksimal 8 jam tidur. Sedangkan orang dewasa muda membutuhkan waktu tidur 8-9,5 jam, dan waktu produktif mereka adalah malam hari.

Sayangnya, hal ini terbentur ritme kehidupan yang mengharuskan kebanyakan orang untuk mulai beraktivitas di pagi hari sampai malam. Yang bekerja di pusat Kota Jakarta dan tinggal di luar kota, terpaksa mengorbankan waktu tidur karena harus berangkat subuh dari rumah dan pulang ke rumah larut malam. Akibatnya, banyak orang usia produktif yang mengalami kekurangan tidur atau sleep deprivation. Masalahnya, tidak ada satu pun obat yang dapat menggantikan manfaat tidur!

Penting juga untuk diingat, bahwa ekurangan tidur berdampak pada tiga hal:

  1. Memperlemah kinerja otak dan menurunkan kemampuan kognitif. Banyak orang yang ingin meningkatkan produktivitas dengan mengurangi jam tidur (lembur). Padahal, tindakan ini justru kontraproduktif. Dalam kondisi kurang tidur, orang akan cenderung susah konsentrasi dan tidak teliti.
  2. Tidur yang cukup terbukti mengurangi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
  3. Memperbesar risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas. Sudah terbukti kan, banyak sekali kecelakaan lalu lintas yang terjadi akibat kelalaian pengemudi yang ngantuk.

Primarita S Smita

link: http://www.femina.co.id/issue/issue_detail.asp?id=812&cid=2&views=9

Bahaya Mendengkur, TVOne

Bahaya Mendengkur, “Coffee Break” – TVOne, 15 Maret 2011

Begadang Memicu Kanker?

Jumat, 28 Januari 2011

Tahukah Anda, begadang bisa menyebabkan berbagai penyakit serius. Dan, benarkah begadang bisa diganti dengan tidur siang?

Jika Anda sudah menjalani pola makan sehat dan rutin berolahraga, tapi dokter menemukan beberapa penyakit serius di tubuh Anda, bisa jadi pola tidur Anda yang menjadi pangkal permasalahan.

Menurut dr. Andreas Prasadja RPSGT. , Praktisi Kesehatan Tidur dari RS Mitra Keluarga Kemayoran , begadang merupakan aktivitas di mana seseorang sengaja mengurangi jam tidurnya.

“Berbeda dengan insomnia, ya. Kadang orang sering menyamakannya dengan insomnia karena sama-sama berkenaan dengan tidur. Kalau insomnia itu, penyakit kesulitan tidur, mudah terbangun di kala tidur, sulit mempertahankan tidur, atau terbangun dan tak bisa tidur lagi. Aktivitas ini terjadi setiap malam, sehingga menyebabkan aktivitas pengidapnya tergangggu di siang hari,” papar Andreas.

Dampak Negatif

Orang yang terbiasa begadang (kurang tidur), biasanya akan merasakan beberapa dampak seperti:

– Kondisi emosi yang tidak stabil sehingga mudah tersinggung, mudah depresi, sensitif.

– Kemampuan kongnitifnya terganggu sehingga ketelitian, kemampuan analitis, dan kreativitasnya berkurang.

– Sistem syaraf simpatis (sistem syaraf stres) meningkat dan dapat menyebabkan tekanan darah, gula darah, dan napsu makan meningkat juga. Makanya, untuk orang-orang yang sedang dalam program diet atau tidak mau badannya gemuk, dianjurkan untuk tidak begadang.

Gangguan di atas tidak hanya berlaku pada orang dewasa, tapi juga anak-anak. “Banyak orang tua yang berpikir, untuk menjaga kondisi tubuh anaknya tetap sehat yaitu dengan menjaga pola makan anaknya. Sebenarnya, pemikiran ini kurang tepat. Ada baiknya, orang tua juga menjaga jam tidur anak dengan ketat, karena metabolisme tubuh bekerja lebih giat pada saat kita tertidur,” saran Andreas.

Sesuai Usia

Cukupkah meluangkan waktu selama delapan jam untuk tidur? Andreas menuturkan, beda usia, beda pula jumlah kebutuhan jam tidurnya.

Usia di atas 30 tahun butuh sekitar 7-8 jam tidur. Sedangkan usia remaja hingga dewasa muda, 8,5-9,15 jam untuk tidur. Dan, anak SD-SMP butuh 10-11 jam tidur.

Dengan jam tidur yang tepat, prestasi akademis dan kemampuan atletik anak pun akan meningkat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Mary Cash Kadon (pelopor penelitian tidur pada remaja usia sekolah). Katanya, Anak yang tidur cukup memiliki daya tahan tubuh, otot refleks, konsentrasi, dan nilai absensi yang lebih baik.

Ganti dengan Tidur Siang

Anggapan jangan tidur siang supaya tidak begadang di malam hari, memang benar adanya. Namun, bagi orang-orang yang sudah terlanjur begadang, ada baiknya mengganti jam tidur malamnya dengan tidur siang. Lamanya tidur siang bisa disesuaikan dengan kebutuhan biologis.

Hindari juga makanan dan minuman yang mengandung kafein tinggi (kopi, teh, coklat, minuman bersoda, dan minuman berenergi).

Dan, untuk penyuka kopi, ada baiknya Anda mengonsumsi kopi 12 jam sebelum tidur. Selain itu, hindari berolahraga di malam hari, karena itu hanya akan membuat adrenalin (yang memicu semangat otak untuk bekerja) meningkat.

Tubuh pun Punya Jam Piket

Ternyata, organ tubuh kita bekerja tiada henti selama 24 jam agar tubuh tetap sehat dan metabolismenya tertata rapi.

Sistem ini disebut jadwal piket tubuh atau internal body clock (nama lainnya circadian rhyth). Jika ada satu saja organ tubuh yang tidak beroperasi dengan baik, gangguan kesehatan seperti obesitas, diabetes, insomnia, depresi, penyakit jantung hingga kanker bisa terjadi.

Berikut penjelasannya:

Di pagi dan siang, tubuh memerlukan asupan nutrisi yang banyak. Jadi, jangan lewatkan sarapan agar limpa dapat bekerja maksimal mendistribusikan nutrisi untuk diserap tubuh.

Menjelang pukul 1 siang sampai 3 sore, proses regenerasi sel hati terjadi. Di sini hati menangkal penyakit. Hal ini berlangsung hingga 2 jam kemudian sampai pembuangan racun dilakukan. Barulah, dua jam berikutnya, proses pertumbuhan otak dan pembentukan sumsum tulang dilakukan.

Pada pukul 7 hingga 9 malam, jangan mengonsumsi makanan berat namun jangan melewatkan makan malam karena lambung tetap bekerja meski ringan. Jadi pilihlah makanan ringan.

Proses metabolisme tak berhenti sampai di situ dan ini menjelaskan mengapa tidur menjadi sangat penting. Dua jam setelahnya, proses pembuangan racun kembali dilakukan. Sebaiknya kita beristirahat atau tidur untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Sekitar pukul 11 malam hingga 1 dini hari, jangan sia-siakan waktu dengan begadang, pasalnya kantung empedu sedang melakukan proses detoks dalam tubuh. Jika Anda memaksa tetap bekerja atau begadang, fungsi jantung akan melemah.

Racun yang dihasilkan proses detoks baru akan dibuang pukul 3 dini hari.  Tentunya untuk mendapatkan hasil yang maksimal juga, proses ini harus berlangsung dalam kondisi tidur pulas. Setelahnya hingga pukul 5 pagi, giliran paru-paru membuang racun. Jika paru-paru Anda terganggu, Anda akan terbatuk, bersin-bersin, dan berkeringat di jam itu. Ini artinya, proses pembersihan telah mencapai saluran pernafasan.

Menjelang pagi hari, biasakan diri Anda membuang air besar secara teratur, untuk mengeluarkan sisa makanan yang terdapat di usus besar.

Begadang Vs Kanker

Penelitian Steve Richard yang dilansir The Lancet Oncology (sebuah jurnal kesehatan) menyatakan, adanya hubungan kanker dan begadang. Hal serupa juga diungkapkan David Spiegel, MD., yang meneliti mengenai kebiasaan tidur.

Dua penelitian ini sama-sama menyimpulkan, jika kita tidak memenuhi waktu tidur yang cukup, bisa mengakibatkan ketidakseimbangan hormon yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh, khususnya pada perkembangan sel-sel rusak yang seharusnya dihancurkan oleh sel-sel imun.

Penjabarannya seperti ini, metabolisme tubuh meningkat di pagi hari dan menurun pada malam hari. Di saat seseorang “memaksakan diri” tetap terjaga di malam hari, tubuhnya akan memompa darah sebanyak mungkin dan mendorong sistem imun untuk meningkatkan sel-sel kekebalan tubuh seperti sel T (sel limfosit yang terdapat pada sel darah putih) dan CD4 (sel kekebalan tubuh yang terdapat pada sel limfosit).

Jika hal ini dilakukan terus menerus, siklus tubuh yang diatur oleh jam biologis otak (circadian rhythms) akan menjadi terbalik, yaitu dari pagi ke sore menjadi sore ke pagi. Ini memungkinkan kekebalan tubuh menjadi menurun di pagi hari dimana bibit penyakit dan bahan-bahan karsinogenik bertebaran di udara akibat perubahan suhu dan angin. Dan, pada saat itulah sel kanker menggerogoti tubuhnya.

Ester Sondang

foto: gettyimages

link: http://www.tabloidnova.com/Nova/Kesehatan/Umum/Begadang-Memicu-Kanker