Atlet Segagah Shaquille O’Neal Ternyata Takut Ngorok

img
Shaquille O\’Neal (gettyimage)

Jakarta, Ngorok atau mendengkur masih dianggap wajar bagi sebagian orang. Namun pebasket kenamaan Shaquille O’Neal sangat ketakutan saat tahu dirinya mendengkur, sampai-sampai ia harus ikut terapi di Harvard Medical School untuk mengatasinya.

Semula bintang NBA yang memiliki tinggi badan 2,16 meter dan berat 147,4 kg ini tidak pernah tahu dirinya punya gangguan tidur. Ia baru sadar setelah pasangan tidurnya, Nikki Alexander baru-baru ini merasa terganggu oleh suara dengkurannya yang sebetulnya belum terlalu parah.

Atas saran Nikki, Shaq segera mendatangi Harvard Medical School untuk minta solusi kepada seorang konsultan gangguan tidur yakni Dr Atul Malhotra. Dikutip dari Sleepapneadisorder, Rabu (27/7/2011), Shaq didiagnosis mengalami henti napas saat tidur atau sleep apnea dengan tingkat keparahan menengah.

Untuk mengatasi dengkurannya, Dr Malhotra menganjurkan agar Shaq memakai Continuous Positive Airway Pressure (CPAP). Alat ini berbentuk masker khusus yang harus selalu dipakai saat tidur, untuk memberikan tekanan positif sehingga saluran napas tidak menyempit.

Kekhawatiran Shaq atas gangguan tidur yang dialaminya tidak berlebihan. Pakar kesehatan dari RS Mitra Kemayoran, dr Andreas Prasadja, RPSGT atau akrab dipanggil dr Ade mengatakan bahwa sleep apnea bisa memicu kematian mendadak meski penderitanya adalah seorang atlet yang tentunya rajin olahraga.

“Di luar negeri memang seperti itu, seseorang yang tahu kalau dirinya ngorok pasti langsung panik. Banyak atlet yang kelihatannya bugar, tahu-tahu mati mendadak hanya karena sleep apnea,” ungkap dr Ade saat berbincang via telepon dengan detikHealth, Selasa (26/7/2011).

Menurutnya, sleep apnea terjadi karena saluran napas mengalami penyempitan saat tidur sehingga suplai oksigen terbatas. Selain membuat napas berhenti sewaktu-waktu ketika tidur, dalam jangka panjang kondisi ini bisa memicu komplikasi serius seperti serangan jantung dan diabetes.

Kadang-kadang risiko ini tidak disadari oleh para atlet karena mengira jika rajin olahraga maka tubuhnya sudah cukup bugar. Padahal meski jantungnya sehat, sleep apnea yang tidak terdiagnosis kadang lebih berbahaya karena jika tidak diatasi maka bisa makin memburuk.

Terkait penggunaan CPAP untuk mengatasi sleep apnea, dr Ade mengatakan bahwa alat tersebut cukup efektif asal cara pakainya benar. Ia sendiri mengaku sering mendengkur saat tidur dan sudah 4 tahun menggunakan CPAP, yang saat ini harganya masih sekitar Rp 5 juta.

(up/ir)

link: http://www.detikhealth.com/read/2011/07/27/070209/1690163/763/atlet-segagah-shaquille-oneal-ternyata-takut-ngorok

dr Andreas Prasadja, Spesialis Tukang Intip Orang Tidur

 

img
dr Ade (dok: facebook)

Sebagai satu-satunya praktisi kesehatan tidur di Indonesia, dr Andreas Prasadja RPSGT getol menyosialisasikan pentingnya tidur yang cukup dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Di laboratorium tidur tempatnya bekerja, pasien diperiksa saat tidur dan ia akan sabar mengamati pola tidur pasiennya.

Dokter yang menjuluki dirinya sebagai ‘tukang intip orang tidur’ ini akan melakukan segala cara agar pasiennya tidak stres saat diperiksa sehingga bisa terlelap saat diperiksa gangguan tidurnya.

Pasien yang diperiksa pola tidurnya ini, tubuhnya dipasangi kabel-kabel lalu dr Ade akan memantaunya dari komputer. Dalam kondisi khusus tak jarang alat-alat yang dimiliknya (polisomnigrafi/PSG) dibawa ke rumah pasien.

Gangguan tidur menurut dr Ade adalah hal yang serius sayangnya banyak orang mengabaikannya. Gangguan tidur bisa membuat fungsi tubuh tidak maksimal, makanya ia prihatin melihat pejabat-pejabat yang tertidur saat bekerja.

Jika seorang pemimpin punya masalah tidur baik ngorok maupun ngantukan, maka sedikit banyak kesehatannya akan terpengaruh. Dampaknya antara lain konsentrasi menurun, kemampuan menganalisisi masalah berkurang dan area emosionalnya terganggu sehingga gampang tersinggung saat menerima kritik.

Dalam jangka panjang, kualitas tidur yang buruk juga memicu komplikasi yang lebih serius misalnya diabetes dan gangguan jantung sehingga biaya kesehatannya akan membengkak. Dalam waktu 2 tahun saja, biaya kesehatan seseorang bisa naik 10 kali lipat jika tidurnya tidak berkualitas.

“Saya pernah melakukan kampanye kecil-kecilan, pesannya jangan pernah memilih calon pemimpin yang ngorok,” tegas seorang praktisi kesehatan tidur dari RS Mitra Kemayoran, dr Andreas Prasadja, RPSGT atau biasa dipanggil dr Ade saat berbincang via telepon dengan detikHealth, Rabu (27/7/2011).

Sesuai bidang keahliannya, suami dari Kristanti Madona Gunadi ini memang getol menyosialisasikan pentingnya tidur yang cukup dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Selain dengan menjadi pembicara dalam berbagai talkshow di TV dan radio, dr Ade juga gemar berbagi ilmu di internet termasuk melalui blog dan jejaring sosial.

Ayah dari 2 anak yang masing-masing berusia 2 dan 6 tahun ini tak pernah merasa terganggu meski akun twitternya sering dibanjiri pertanyaan seputar gangguan tidur. Hanya saja untuk memisahkan urusan pribadinya yang penuh canda dengan urusan keilmuannya yang lebih serius, belakangan dr Ade merasa perlu untuk memiliki 2 akun twitter.

“Dengan mem-follow @IDTidurSehat Anda dpt tahu mitos & fakta seputar tidur. Boleh juga unfollow akun ini agar saya bebas omong jorok. Hihihi,” tulis dr Ade di akun @prasadja yang merupakan akun pribadinya, sebagai imbauan agar pertanyaan seputar gangguan tidur disampaikan di akun barunya yakni @IDTidurSehat.

Dengan gaya humoris dan penuh canda, dr Ade terlihat ramah saat berinteraksi dengan siapapun termasuk pasien. Demikian juga di laboratorium tidur tempatnya bekerja, dr Ade ini akan melakukan segala cara agar pasiennya tidak stres sehingga bisa terlelap saat diperiksa gangguan tidurnya.

Bahkan saat menyindir pola tidur wartawan yang umumnya sering bergadang hingga larut malam, ia mampu menyampaikannya dengan candaan menggelitik. Menurutnya, hal yang paling menyebalkan saat menghadapi pasien adalah jika pasien tersebut seorang pekerja media.

“Kalau pasien susah tidur, saya pasti bisa bantu. Kalau bisa tidur tapi tidak berkualitas, itu saya juga bisa bantu. Tapi kalau memang tidak sempat tidur, saya bisa apa coba?” ledeknya sambil tertawa kecil.

Komentar dr Ade tidak mengada-ada, sebab ia sendiri mengaku pernah menangani pasien yang bekerja sebagai pemred (pemimpin redaksi) sebuah media massa ternama dan merasakan sendiri tantangannya. Lucunya setelah sembuh, si pemred tersebut jadi sangat toleran dan tidak pernah marah jika ada anak buahnya yang tertidur di kantor dengan pertimbangan jika dipaksakan maka kinerjanya tidak akan optimal.

Di Indonesia, ilmu kedokteran yang mempelajari kesehatan tidur masih terbilang baru sehingga wajar jika ngorok dan gangguan tidur lainnya masih sering terabaikan. Kelak jika semua orang sudah mulai peduli terhadap kesehatan tidur, dr Ade berharap agar calon pemimpin bangsa juga diwajibkan lulus Tes Ngorok.

BIODATA

Nama lengkap:
dr Andreas Prasadja, RPSGT (Registered Polysomnographic Technologist atau Praktisi Kesehatan Tidur)

Nama panggilan:
dr Ade

Tempat dan tanggal lahir:
Jakarta, 16 Mei 1975

Status perkawinan:
Menikah dengan Kristanti Madona Gunadi
Dikaruniai 2 anak, Chiara Monica Prasojo (6 tahun) dan Patricius Kiano Prasojo (1,5 tahun)

Hobi:
Bersepeda (aktivis bike to work) dan memasak

Riwayat Pendidikan:
Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya (1993-2000)
Polysomnography Course and Sleep Medicine Review, Singapore (September 2005)
Sleep Medicine and Technology Course, The University of Sidney Australia (November 2005)
Registered Polysomnographic Technologist, American Academy Of Sleep Medicine.

Riwayat Pekerjaan:
Dokter umum di Klinik Pandawa, Jakarta (2002)
Dokter jaga di RS Mitra Kemayoran, Jakarta (2003-2005)
Praktisi kesehatan tidur di Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran, Jakarta (2005-sekarang).

(up/ir)

link: http://www.detikhealth.com/read/2011/07/27/100459/1690287/1201/dr-andreas-prasadja-spesialis-tukang-intip-orang-tidur

Ngorok, Kesehatan Jantung di Sonora

Sosialisasi tentang kesehatan jantung yang amat berkaitan dengan kesehatan tidur, terutama ngorok yang merupakan tanda utama dari sleep apnea.

Cek Insomnia Saat Anda Terjaga!

Waktu menunjukkan pukul 00.05. Anda terbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, berusaha untuk terlelap. Trik-trik meditasi yang pernah Anda baca di buku yoga, seperti melemaskan otot dan mengosongkan pikiran, tidak ada yang berhasil membuat Anda tertidur. Tapi jangan khawatir jika Anda seprti burung hantu, selalu terjaga ketika yang lain sedang tenggelam dalam mimpi. Anda tidak sendirian, kok.

Menurut dr. Andreas Prasadja, sleep scientist, waktu produktif orang dewasa muda memang justru di malam hari. Banyak yang menyalahartikan kesulitan tidur di malam hari sebagai insomnia. Padahal, indikasi insomnia atau gangguan tidur  justru terlihat saat seseorang terjaga. Jika seseorang tidak nyaman saat bangun tidur, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, atau mengantuk berlebihan, berarti dia mengalami insomnia. Kalau seseorang terjaga sepanjang malam, tapi bisa tidur nyenyak di waktu lain, dia tidak menderita insomnia.

Perbedaan waktu tidur dikarenakan jam biologis manusia yang berbeda-beda. Makin bertambahnya usia, kebutuhan jam tidur akan  makin menurun. Usia 30 tahun ke atas butuh maksimal 8 jam tidur. Sedangkan orang dewasa muda membutuhkan waktu tidur 8-9,5 jam, dan waktu produktif mereka adalah malam hari.

Sayangnya, hal ini terbentur ritme kehidupan yang mengharuskan kebanyakan orang untuk mulai beraktivitas di pagi hari sampai malam. Yang bekerja di pusat Kota Jakarta dan tinggal di luar kota, terpaksa mengorbankan waktu tidur karena harus berangkat subuh dari rumah dan pulang ke rumah larut malam. Akibatnya, banyak orang usia produktif yang mengalami kekurangan tidur atau sleep deprivation. Masalahnya, tidak ada satu pun obat yang dapat menggantikan manfaat tidur!

Penting juga untuk diingat, bahwa ekurangan tidur berdampak pada tiga hal:

  1. Memperlemah kinerja otak dan menurunkan kemampuan kognitif. Banyak orang yang ingin meningkatkan produktivitas dengan mengurangi jam tidur (lembur). Padahal, tindakan ini justru kontraproduktif. Dalam kondisi kurang tidur, orang akan cenderung susah konsentrasi dan tidak teliti.
  2. Tidur yang cukup terbukti mengurangi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
  3. Memperbesar risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas. Sudah terbukti kan, banyak sekali kecelakaan lalu lintas yang terjadi akibat kelalaian pengemudi yang ngantuk.

Primarita S Smita

link: http://www.femina.co.id/issue/issue_detail.asp?id=812&cid=2&views=9

Bahaya Mendengkur, TVOne

Bahaya Mendengkur, “Coffee Break” – TVOne, 15 Maret 2011

Begadang Memicu Kanker?

Jumat, 28 Januari 2011

Tahukah Anda, begadang bisa menyebabkan berbagai penyakit serius. Dan, benarkah begadang bisa diganti dengan tidur siang?

Jika Anda sudah menjalani pola makan sehat dan rutin berolahraga, tapi dokter menemukan beberapa penyakit serius di tubuh Anda, bisa jadi pola tidur Anda yang menjadi pangkal permasalahan.

Menurut dr. Andreas Prasadja RPSGT. , Praktisi Kesehatan Tidur dari RS Mitra Keluarga Kemayoran , begadang merupakan aktivitas di mana seseorang sengaja mengurangi jam tidurnya.

“Berbeda dengan insomnia, ya. Kadang orang sering menyamakannya dengan insomnia karena sama-sama berkenaan dengan tidur. Kalau insomnia itu, penyakit kesulitan tidur, mudah terbangun di kala tidur, sulit mempertahankan tidur, atau terbangun dan tak bisa tidur lagi. Aktivitas ini terjadi setiap malam, sehingga menyebabkan aktivitas pengidapnya tergangggu di siang hari,” papar Andreas.

Dampak Negatif

Orang yang terbiasa begadang (kurang tidur), biasanya akan merasakan beberapa dampak seperti:

– Kondisi emosi yang tidak stabil sehingga mudah tersinggung, mudah depresi, sensitif.

– Kemampuan kongnitifnya terganggu sehingga ketelitian, kemampuan analitis, dan kreativitasnya berkurang.

– Sistem syaraf simpatis (sistem syaraf stres) meningkat dan dapat menyebabkan tekanan darah, gula darah, dan napsu makan meningkat juga. Makanya, untuk orang-orang yang sedang dalam program diet atau tidak mau badannya gemuk, dianjurkan untuk tidak begadang.

Gangguan di atas tidak hanya berlaku pada orang dewasa, tapi juga anak-anak. “Banyak orang tua yang berpikir, untuk menjaga kondisi tubuh anaknya tetap sehat yaitu dengan menjaga pola makan anaknya. Sebenarnya, pemikiran ini kurang tepat. Ada baiknya, orang tua juga menjaga jam tidur anak dengan ketat, karena metabolisme tubuh bekerja lebih giat pada saat kita tertidur,” saran Andreas.

Sesuai Usia

Cukupkah meluangkan waktu selama delapan jam untuk tidur? Andreas menuturkan, beda usia, beda pula jumlah kebutuhan jam tidurnya.

Usia di atas 30 tahun butuh sekitar 7-8 jam tidur. Sedangkan usia remaja hingga dewasa muda, 8,5-9,15 jam untuk tidur. Dan, anak SD-SMP butuh 10-11 jam tidur.

Dengan jam tidur yang tepat, prestasi akademis dan kemampuan atletik anak pun akan meningkat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Mary Cash Kadon (pelopor penelitian tidur pada remaja usia sekolah). Katanya, Anak yang tidur cukup memiliki daya tahan tubuh, otot refleks, konsentrasi, dan nilai absensi yang lebih baik.

Ganti dengan Tidur Siang

Anggapan jangan tidur siang supaya tidak begadang di malam hari, memang benar adanya. Namun, bagi orang-orang yang sudah terlanjur begadang, ada baiknya mengganti jam tidur malamnya dengan tidur siang. Lamanya tidur siang bisa disesuaikan dengan kebutuhan biologis.

Hindari juga makanan dan minuman yang mengandung kafein tinggi (kopi, teh, coklat, minuman bersoda, dan minuman berenergi).

Dan, untuk penyuka kopi, ada baiknya Anda mengonsumsi kopi 12 jam sebelum tidur. Selain itu, hindari berolahraga di malam hari, karena itu hanya akan membuat adrenalin (yang memicu semangat otak untuk bekerja) meningkat.

Tubuh pun Punya Jam Piket

Ternyata, organ tubuh kita bekerja tiada henti selama 24 jam agar tubuh tetap sehat dan metabolismenya tertata rapi.

Sistem ini disebut jadwal piket tubuh atau internal body clock (nama lainnya circadian rhyth). Jika ada satu saja organ tubuh yang tidak beroperasi dengan baik, gangguan kesehatan seperti obesitas, diabetes, insomnia, depresi, penyakit jantung hingga kanker bisa terjadi.

Berikut penjelasannya:

Di pagi dan siang, tubuh memerlukan asupan nutrisi yang banyak. Jadi, jangan lewatkan sarapan agar limpa dapat bekerja maksimal mendistribusikan nutrisi untuk diserap tubuh.

Menjelang pukul 1 siang sampai 3 sore, proses regenerasi sel hati terjadi. Di sini hati menangkal penyakit. Hal ini berlangsung hingga 2 jam kemudian sampai pembuangan racun dilakukan. Barulah, dua jam berikutnya, proses pertumbuhan otak dan pembentukan sumsum tulang dilakukan.

Pada pukul 7 hingga 9 malam, jangan mengonsumsi makanan berat namun jangan melewatkan makan malam karena lambung tetap bekerja meski ringan. Jadi pilihlah makanan ringan.

Proses metabolisme tak berhenti sampai di situ dan ini menjelaskan mengapa tidur menjadi sangat penting. Dua jam setelahnya, proses pembuangan racun kembali dilakukan. Sebaiknya kita beristirahat atau tidur untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Sekitar pukul 11 malam hingga 1 dini hari, jangan sia-siakan waktu dengan begadang, pasalnya kantung empedu sedang melakukan proses detoks dalam tubuh. Jika Anda memaksa tetap bekerja atau begadang, fungsi jantung akan melemah.

Racun yang dihasilkan proses detoks baru akan dibuang pukul 3 dini hari.  Tentunya untuk mendapatkan hasil yang maksimal juga, proses ini harus berlangsung dalam kondisi tidur pulas. Setelahnya hingga pukul 5 pagi, giliran paru-paru membuang racun. Jika paru-paru Anda terganggu, Anda akan terbatuk, bersin-bersin, dan berkeringat di jam itu. Ini artinya, proses pembersihan telah mencapai saluran pernafasan.

Menjelang pagi hari, biasakan diri Anda membuang air besar secara teratur, untuk mengeluarkan sisa makanan yang terdapat di usus besar.

Begadang Vs Kanker

Penelitian Steve Richard yang dilansir The Lancet Oncology (sebuah jurnal kesehatan) menyatakan, adanya hubungan kanker dan begadang. Hal serupa juga diungkapkan David Spiegel, MD., yang meneliti mengenai kebiasaan tidur.

Dua penelitian ini sama-sama menyimpulkan, jika kita tidak memenuhi waktu tidur yang cukup, bisa mengakibatkan ketidakseimbangan hormon yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh, khususnya pada perkembangan sel-sel rusak yang seharusnya dihancurkan oleh sel-sel imun.

Penjabarannya seperti ini, metabolisme tubuh meningkat di pagi hari dan menurun pada malam hari. Di saat seseorang “memaksakan diri” tetap terjaga di malam hari, tubuhnya akan memompa darah sebanyak mungkin dan mendorong sistem imun untuk meningkatkan sel-sel kekebalan tubuh seperti sel T (sel limfosit yang terdapat pada sel darah putih) dan CD4 (sel kekebalan tubuh yang terdapat pada sel limfosit).

Jika hal ini dilakukan terus menerus, siklus tubuh yang diatur oleh jam biologis otak (circadian rhythms) akan menjadi terbalik, yaitu dari pagi ke sore menjadi sore ke pagi. Ini memungkinkan kekebalan tubuh menjadi menurun di pagi hari dimana bibit penyakit dan bahan-bahan karsinogenik bertebaran di udara akibat perubahan suhu dan angin. Dan, pada saat itulah sel kanker menggerogoti tubuhnya.

Ester Sondang

foto: gettyimages

link: http://www.tabloidnova.com/Nova/Kesehatan/Umum/Begadang-Memicu-Kanker

Rajin Olahraga + Cukup Tidur = Bebas Kanker

Memperkecil risiko kanker dengan pola hidup sehat.

Ternyata ada hubungan positif yang terjalin antara olahraga dengan tidur cukup. Sebab, ketika kita melakukan keduanya maka tubuh dapat menciptakan sistem kekebalan tubuh yang maksimal.

Fakta ini diketahui setelah peneliti mengamati 6.000 perempuan selama 10 tahun. Penelitian satu dekade ini menunjukkan, mereka yang kurang tidur (kurang dari 7 jam) dan malas berolahraga, berisiko 50% mengalami kanker dibanding relawan yang tidur cukup serta rutin berolahraga.

Tubuh yang kurang istirahat dan otot-otot yang selalu tegang akan menyebabkan gangguan hormon serta metabolisme. Inilah yang kemudian memperbesar peluang tubuh mengalami kanker karena sistem imun terus menukik tajam.

Dan berdasarkan penelitian di Amerika Serikat, hanya ada 75 persen orang yang berpikir bahwa tidur lebih baik dari pada berolahraga. Padahal keduanya sama-sama penting dan saling mendukung.

Sedangkan untuk waktu olahraga yang tepat menurut ahli kesehatan tidur Dr. Andreas Prasadja, RPSGT dari RS. Mitra Kemayoran, berolahragalah di pagi hari atau minimal 3 jam sebelum tidur. Sebab pada saat olahraga, tubuh mengeluarkan adrenalin yang membuat kita selalu terjaga, jelas Andreas pada launching buku Ayo Bangun, beberapa waktu lalu. (Siagian Priska)

link: http://preventionindonesia.com/article.php?name=/rajin-olahraga–cukup-tidur–bebas-kanker&channel=fitness%2Ffitness_for_your_health