Kesan Penggunaan CPAP Penderita Sleep Apnea

Pasien ini menderita sleep apnea berat, dengan indeks henti nafas 65,1/jam dan kadar oksigen darah mencapai titik terendah 66%. Ia seorang pendengkur dan belakangan mulai merasa sering mengantuk, lelah, gangguan konsentrasi dan berbagai keluhan-keluhan lainnya. Sang istri mengaku khawatir melihat nafas suaminya saat tidur. Diantara dengkuran, ia tampak sesak dan sulit bernafas. Disamping tentu saja suara dengkuran yang mengganggu. Kini ia sedang dalam proses perawatan menggunakan CPAP. Berikut adalah kutipan dari e-mailnya setelah menggunakan CPAP satu malam.

“I have used the CPAP last night and it was really very good.  I was very comfortable with it.  I was able to sleep well.  I woke up fresh, and for the whole day since this morning, my breathing seems to be “longgar dan ringan”, tidak ada tersumbat dan tidak berat nafasnya.  Rasaku sekarang positif dan fikiran lebih jernih.  Saya fikir, setiap hari itu tambah baik.”

terimakasih Dok,

Manny

Cerita Seorang Pasien via SMS

Berikut adalah SMS dari seorang pasien yg membuat saya merasa bersemangat lagi untuk terus bergerak memajukan kedokteran tidur di Indonesia.

DEAR DOCTOR ANDREAS, JUST WANT TO SAY THANK YOU VERY MUCH. MY LIFE HAS BEEN TRANSFORMED FOR THE BETTER. NOW I SLEEP LIKE A LOG, ALL THE WAY TO MORNING, WAKE UP FRESH, AND STAY WIDE AWAKE ALL DAY, AND SHARP AT WORK AND IN MEETINGS IT’S LIKE REDISCOVERING LIFE ALL OVER AGAIN: I HAVE BEEN RECOMMENDING YOU AND HOSPTAL MITRA KEMAYORAN TO FRIENDS WHO HV SLEEP PROBLEMS. E.B. (YR THIRD WORST PATIENT).

Catatan: pasien ini menderita sleep apnea berat dgn henti nafas rata-rata 100,3 kali perjam. Gejala sleep apnea adalah mendengkur dan kantuk berlebih. Akibatnya produktivitasnya amat terganggu. Pada saat ia berkunjung untuk konsultasi pertama kali, saya ingat bagaimana ia merasa sulit berkonsentrasi saat berkerja. Selain itu sleep apnea dapat menyebabkan hipertensi, berbagai gangguan jantung, diabetes hingga stroke.

Sembuhkan Dengkuran Saya!

Berikut pengalaman seorang pasien kami yang dituangkan kepada Reader’s Digest Indonesia.

Selama hidupnya, Stephen Dave, 31, tak pernah menduga dirinya punya masalah tidur. “Memang saat tidur, saya selalu mendengkur keras. Tapi tidak pernah menyangka ada masalah walau istri saya suka komplain,” ujarnya.

Masalah bertambah serius saat Stephen menyadari bahwa dia sering dilanda rasa kantuk berat. “Walau sudah tidur selama 7-8 jam tiap malam, tetap saja saat berangkat kantor, kadang saya jatuh tertidur selama beberapa detik saat mengemudi di jalan tol,” ungkap Stephen yang bekerja sebagai product manager perusahaan elektronika.

Rasa kantuk tidak berhenti di situ saja. Kira-kira pukul 13.00-14.00, Stephen selalu merasa ngantuk berat. “Terlebih saat rapat yang panjang dan berlarut-larut, kadang saya ketiduran di tengah rapat,” katanya.

Untung masalah Stephen tidak berlarut-larut. Pada 2006, dia kebetulan mengunjungi sebuah rumah sakit yang memiliki sleep clinic. Di tempat itu, Stephen menemukan brosur mengenai sleep disorder yang menunjukkan gejala masalah tidur yang serupa dengan gangguan yang dialaminya. Langsung saja dia memeriksakan diri.

“Setelah diperiksa dan berkonsultasi, dokter menyatakan bahwa kualitas tidur saya buruk,” ungkap Stephen yang menginap di sleep clinic itu satu malam untuk menjalani tes. Menurut sang dokter, walau Stephen terlihat tidur selama 7-8 jam, namun otaknya tidak berhenti bekerja. Kondisi itu membuatnya tidak benar-benar tidur, sehingga wajar saja dia merasa ngantuk luar biasa keesokan harinya. Oleh dokter, Stephen diberi alat CPAP (Continuous Possitive Airway Pressure), yang memberi udara segar ke hidung untuk membuka saluran pernapasan. Alat itu membantu Stephen bernapas normal saat tidur. Hingga kini, setelah satu tahun mengenakan CPAP, kualitas tidur Stephen jadi baik. Kini tidak ada lagi masalah ketiduran saat menyetir atau rapat di kamus Stephen. “Istri pun tidak lagi komplain soal dengkuran keras saat saya tidur,” ujarnya senang.

Reader’s Digest Indonesia, November 2007

Bernadetta Diah Aryani

Bila Lelap Tidur Terusik

Majalah Gatra, Januari 2008

Penyakit gangguan tidur terus meningkat. Di Jakarta, sejumlah klinik khusus gangguan tidur dibangun. Tak boleh dianggap sepele. Bisa menyebabkan penyakit lain.

Tidur di sembarang temnpat. Begitulah yang dialami Jimmy Buchari Nugroho. Di mana pun, dalam situasi apapu, Jimmy dengan mudah bisa terlelap. Saat asyik ngobrol dengan kawan pun, tiba-tiba ups... dia tertidur. Yang lebih parah, pas berhenti di lampu merah, dia bisa langsung tertidur. Padahal, saat itu posisi tangannya sedang memegang setir mobil.

“Saya tak bisa menahan rasa kantuk,” katanya. Dalam dua tahun terakhir ini, hal itu terjadi berkali-kali. Selain gampang terlelap, pegawai swasta itu punya penyakit tidur lain: mendengkur. Untunglah sang istri, kata Jimmy telah kebal, meski suara dengkurannya tergolong keras.

Urusan mendengkur itu sudah diakrabi Jimmy sejak remaja. Semula dia anggap biasa, tapi lama-kelamaan ia merasa terganggu juga. Lantas pada 2006, orangtuanya mengetahui ada klinik Gangguan Tidur di sebuah rumah sakit di Kemayoran, Jakarta Pusat.

Dr. Andreas Prasadja, RPSGTWarga Jalan Sukomanunggal Jaya, Surabaya ini langsung terbang ke Jakarta. Bapak tiga anak ini berkonsultasi seorang dokter. Setelah mengetahui keluhannya, ia langsung menjalani program di laboratorium tidur. Tujuannya adalah untuk mendeteksi gangguan tidur. Hari itu juga pada pukul 21.00 WIB, ia langsung tidur di Laboratorium Tidur. Di sana, ia dipasang sensor-sensor yang ditempelkan di rambut dan beberapa bagian tubuh lain. “Tak sakit sama sekali,” ujar Jimmy.

Walhasil, ia divonis menderita gangguan tidur jenis obstructive sleep apnea (OSA) atau menyempitnya saluran napas pada saat tidur. Untuk terapi, Jimmy diberikan dua pilihan: operasi atau menggunakan terapi alat. Dan ia pun memilih menggunakan terapi alat continuous positive airway pressure (CPAP). Jadi selama tidur, ia akan selalu menggunakan alat berbentuk masker.

Awalnya tak nyaman. Tetapi seminggu kemudian sudah terbiasa. Dampak penggunaan alat tersebut, ia mengaku tak mengantuk lagi pada siang hari. Kerjanya pun menjadi lebih produktif. “Saya sudah tidak mendengkur lagi,” katanya. Ia kontrol lagi sekali setelah tiga bulan diterapi.

Tidak hanya Jimmy yang menderita gangguan tidur. Masih banyak orang yang mengalaminya. Beragam gangguan tidur yang dialami, dari mulai insomnia, sleep apnea, dan lain-lain (lihat: Sulit Tidur Hingga MendengkurI). Setiap tahun di dunia diperkirakan 20%-70% melaporkan adaya gangguan tidur, dan sekitar 17% didiagnosis mengalami gangguan tidur yangserius. Prevalensi gangguan tidur lebih banyak lagi terjadi pada usia lanjut. Prevalensinya, 67%.

Di Indonesia belum diketahui angka pastinya. Tapi prevalensi pada orang dewasa mencapai 20%. Masih kecilnya angka tersebut, boleh jadi lantaran sebagian besar menganggap gangguan tidur bukanlah penyakit. Mendekur, misalnya, meski kerap mengganggu kenyamanan tidur orang lain, bukan dianggap masalah. Sehingga banyak orang yang tidak mau memeriksakan diri ke rumah sakit. Mereka baru datang setelah sudah parah.

Di RS Medistra, baru lima-enam orang yang datang memeriksakan diri setiap bulan. Sedangkan di RS Mitra Kemayoran 10 orang. Menurut Dokter Rimawati Tedjasukmana, ahli penyakit tidur RS Medistra, di Indonesia, penyakit ini masih dianggap sesuatu yang baru. “Padahal di luar negeri sudah biasa memeriksakan gangguan tidur,” ujarnya. Di Amerika Serikat, penyakit ini sudah dikenal pada era 1950-1960.

Meski begitu klinik-klinik khusus tidur mulai bermunculan, seperti di RS Medistra dan Mitra Kemayoran. Begitu pula para dokter yang khusus menangani penyakit tersebut, sudah bertebaran di sejumlah rumah sakit, seperti RS Metropolitan Medical Center (MMC). Padahal sebelumnya, gangguan tidur ditangani para psikiater saja, yang juga menangani penyakit kejiwaan lain. Sedangkan ahli THT pun turun tangan menangani penyakit mendengkur.

Munculnya klinik-klinik khusus ini tak terlepas dari tren gangguan tidur yang bakal meningkat. Ini seiring dengan meningkatnya tingkat stres dan depresi yang dialami orang belakangan ini. Ketegangan pikiran membuat orang sulit tidur. Lalu timbul keinginan untuk segera bisa tidur. Namun keinginan sangat tidur justru membuat orang tersebut menjadi tertekan. Belum termasuk beberapa penyakit lain yang mengganggu kenyamanan tidur, yang juga bertambah jumlahnya. Tidur yang benar sangat ditentukan oleh kuantitas dan kualitas tidur. Dari kuantitas, tidur sebaiknya berlangsung selama enam-delapan jam. Dari segi kualitas berkaitan dengan rapid eye movement (REM) atau tidur mimpi.

Selain itu juga dilihat pada tahapan tidur, apakah tidur dangkal atau tidur dalam yang sulit dibangunkan. Juga adanya gangguan saat tidur. Bila itu kurang dari enam jam atau terganggu tidurnya, akan bermasalah. Penyakit tersebut bisa menyerang siapa saja. Wartawan, dokter, pekerja shift, atau pekerja yang berada pada tekanan kerja yang tinggi bisa terkena. Gangguan tidur tak boleh dianggap remeh.Bisa mengancam jiwa baik secara langsung atau tidak langsung.

Orang kurang tidur bisa menyebabkan orang mengantuk pada pagi dan siang hari, sehingga bisa menimbulkan kecelakaan bila ia mengendarai mobil. Biaya kesehatan yang berkaitan dengan gangguan tidur mencapai US$ 100 juta (sekitar Rp 9,5 trilyun) di Amerika Serikat.

Gangguan tidur juga pertanda penyakit lain: diabetes atau asma, disfungsi seksual, dan sebagainya. Dapat pula menimbulkan penyakit lain, seperti jantung, hipertensi, dan obesitas. Misalnya, orang yang sulit tidur cenderung mengatasinya dengan mengonsumsi banyak makanan. Dengan harapan mereka bisa cepat tidur di kala kenyang. Padahal belum tentu. Makanan tersebut malah akan membuat orang tersebut mengalami kegemukan. Selain itu, bagi para remaja, kurang tidur juga menyebabkan prestasi belajar menurun. Nilai matematika, membaca, dan menulis jeblok.

Penelitian yang digarap Profesor Albert Martin Li dari Chinese University of Hong Kong, Cina, membuktikan bahwa anak-anak yang kerap mendengkur mengalami dua kali penurunan prestasi sekolah dan menderita hiperaktivitas. Kualitas dan kuantitas tidur yang membuat mengantuk pada pagi dan siang hari. Untuk melawan rasa kantuk, anak cenderung bergerak lebih aktif. Jika dibiarkan anak menjadi hiperaktif. Ciri-cirinya, mendengkur dan sulit bernapas saat tidur, berkeringat saat tidur, bernapas melalui mulut, gampang dan marah, gangguan tumbuh kembang. “Dia mudah tertidur di mana saja, sehingga terkesan pemalas,” ujar dokter Andreas Prasadja,RPSGT , ahli penyakit tidur pada RS Mitra Kemayoran, Jakarta.

Pada orang dewasa, gangguan tidur bisa menurunkan produktivitas dan mengganggu konsentrasi bekerja atau berkendara. Sedangkan kaitan dengan penyakit jantung bisa dilihat dari salah satu jenis gangguan tidur, yaitu OSA. Pada saat tenggorokan tersumbat, aliran napas menjadi tidak ada. Apabila tidak ada udara yang lewat, maka karbondioksida di dalam tubuh akan tinggi. Secara otomatis di dalam tubuh terjadi peningkatan tekanan darah agar udara dari luar segera

Tekanan dalam darah tinggi akan menganggu kerja jantung. Selain itu, pembuluh darah menyempit dan darah menjadi kental. Lama-kelamaan jantung akan bergerak melambat. “Jadi tidur sangat penting,” kata Andreas.

Penderita ganguan jantung dengan OSA mempunyai risiko lebih tinggi untuk mengalami kematian mendadak pada jam-jam tidur. “Lebih banyak yang meninggal pada saat pukul 05.00 pagi,” kata Rimawati. Karena pada saat itu kondisi tubuh berada pada posisi REM atau tahap tidur mimpi.

Aries Kelana, Elmy Diah Larasati, dan Rach Alida Bahaweres

Sulit Tidur Hingga Mendengkur

Ada beragam gangguan tidur. Pertama, insomnia, yakni gangguan tidur yang dicirikan oleh susahnya atau terganggunya saat tidur.

Ada beragam gangguan tidur. Pertama, insomnia, yakni gangguan tidur yang dicirikan oleh susahnya atau terganggunya saat tidur. Sebagian besar penderitanya mengeluhkan susah menutup mata dan mengistirahatkan pikirannya dalam beberapa menit hingga jam.

Atau juga bisa berarti mereka terbangun saat tidur, atau merasa belum puas tidur. Di Amerika Serikat, menurut Departemen Kesehatan, sekitar 60 juta terserang insomnia. Sebagian besar menimpa wanita. Insomnia terdiri dari tiga tipe berdasarkan tingkat keparahan, yaitu:

Pertama: transient insomnia, yaitu gangguan tidur yang berlangsung hingga berhari-hari sampai berminggu-minggu. Penyebabnya macam-macam, antara lain perubahan waktu tidur, waktu mengantuk, dan stres.

Kedua: isomnia akut, adalah ketidakmampuan tidur dengan baik antara tiga minggu hingga enam bulan. Insomnia jenis ini biasanya menyerang orang yang sedang mengalami stres, berada di lingkungan yang ribut-ramai, berada di lingkungan yang mengalami perubahan temperatur ekstrim, jadwal tidur-bangun yang berubah mendadak seperti yang terjadi saat jetlag, atau efek samping pengobatan

Ketiga: chronic insomnia, yakni adalah gangguan tidur yang berlangsung hingga bertahun-tahun. Disebabkan rasa kantuk yang tak bisa dipenuhi atau kelelahan mental dan otot-otot. Misalnya, orang merasa tidak bisa tidur, sehingga ia berusaha untuk menutup matanya, namun makin sulit terlelap.

Penyebab umumnya adalah depresi, sedangkan yang lainnya berupa gangguan radang tulang, gangguan ginjal, parkinson. Dapat pula diakibatkan kerja lembur yang berlangsung lama atau kegiatan yang selalu dilakukan pada malam hari, serta stres kronis.

Sedangkan dilihat dari jenisnya, insomnia terbagi dua: parasomnia dan disomnia. Parasomnia adalah jenis gangguan tidur yang ditandai oleh aktivitas sewaktu tidur. Orang menyebutnya tidur jalan. Misalnya, membuka pintu padahal sedang tidur.

Atau melakukan seks di saat tidur. Yang juga tergolong dalam jenis ini adalah bunyi gigi menggerutuk saat tidur atau berteriak-teriak saat tidur yang berkaitan dengan mimpi buruk. Orang yang kaki tak bisa diam saat mau tidur atau trauma yang terbawa mimpi juga termasuk dalam jenis gangguan tidur parasomnia.

Banyak faktor penyebab, antara lain stres atau depresi. Faktor biologis juga bisa berperan. Sedangkan disomnia adalah sulitnya menutup mata. Lalu, hipersomnia adalah penyakit yang ditandai gampangnya orang tertidur.

Kedua, sleep apnea, yakni sejenis gangguan tidur yang berkaitan dengan sistem pernapasan. Sleep apnea terjadi bila orang tidur tetapi pernapasannya terganggu. Sehingga kerap mengganggu siklus tidur. Apabila dibiarkan, dapat mendatangkan kematian. Mendengkur termasuk dalam kategori ini.

Ada juga obstructive sleep apnea (OSA). Orang yang menderita OSA kerap tak ingat waktu bangun atau mengalami kesulitan bernapas. Tapi ia bisa tidur pulas pada siang hari.

Satu dari lima penduduk Amerika mengalami OSA. Menurut Dokter Andreas A.Prasaja, ahli penyakit gangguan tidur Rumah Sakit Mitra Kemayoran, OSA disebabkan oleh menyempitnya saluran nafas pada saat tidur. “Ketika tidur, otot lidah melemah dan terjatuh ke belakang menyumbat saluran nafas,” katanya.

Akibatnya jalan nafas tersengal-sengal. Penderita biasanya tak tahu kalau ini tergolong gangguan tidur. Sedangkan menurut Profesor Bambang Hermani, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis THT Bedah Kepala Leher Indonesia, Osa terkait dengan hipertensi, penyakit jantung koroner, disfungsi seksual, dan stroke di usia muda.

Lantas central sleep apnea (CSA) yang terjadi pada orang-orang yang terganggu pernafasannya yang berkaitan dengan sistem saraf pusat. Dan masih banyak lain jenis gangguan tidur.

Orang yang menderita penyakit ini harus menarik nafas dalam-dalam untuk mengembalikan sistem pernafasan. Biasanya berkaitan dengan gagal jantung dan penuaan dini.

Aries Kelana, Elmy Diah Larasati, dan Rach Alida Bahaweres

masuk.Pilih Obat atau Herbal

Beberapa obat batuk dapat menimbulkan kantuk. Bahkan beberapa di antara mereka ada yang membeli obat penenang.

Banyak cara untuk mengatasi gangguan tidur. Antara lain dengan obat tidur atau obat-obatan yang dapat membuat orang mengantuk. Beberapa obat batuk dapat menimbulkan kantuk. Bahkan beberapa di antara mereka ada yang membeli obat penenang. Obat-obat ini sebenarnya termasuk obat resep, tapi sejumlah apotek dapat menjual obat keras itu kepada pasien yang membutuhkan tanpa resep dokter.

Itu cara yang salah. Yang benar: periksa ke dokter. Di sana, pasien akan menjalani pemeriksaan dengan polisomnografi. ”Ini untuk mendiagnosis gangguan tidur,” kata Dokter Andreas A. Prasadja dari Rumah Sakit Mitra Kemayoran. Di situ rambut pasien ditempeli sensor. Setelah diterdiagnosis kena sleep apnea misalnya, terapinya antara lain, continous positive airway pressure

Selain terapi itu, dokter biasanya memberikan obat-obatan, seperti obat penenang. Beberapa golongan obat penenang, di antaranya, benzodiasepam atau beberapa obat non-benzodiasepam. Yang termasuk dalam benzodiazepam, antara lain, temazepam, diazepam, lorazepam, dan nitrazepam. Benzodiazepam sebenarnya lebih merupakan obat antidepresi.
Namun seringkali disalahgunakan untuk keperluan lain. Andaikata digunakan sembarang atau tanpa pemantauan dokter, obat tersebut dapat menimbulkan ketergantungan. Sedangkan obat-obat non-benziodiazepam, di antaranya, zolpidem dan zopiclone. Seperti juga benzodiazepam, obat ini juga menimbulkan ketergantungan. Bisa dikonsumsi terus-menerus akan menimbulkan gangguan memori dan kognitif.

Ada beberapa obat anti-depresi yang lain, seperti mirtazapine, trazodone, dan doxepin. Selain menimbulkan ketergantungan, obat ini juga mengganggu pola tidur. Juga ada obat yang mengandung melatonin atau antihistamin. Antihistamin kerap diresepkan dokter untuk mengatasi penyakit ini. Dosis yang dianjurkan 50-100 miligram per hari. Tidak menimbulkan ketergantungan.

Sejumlah penderita insomnia yang lain tak mau menanggung risiko kecanduan/ Mereka terkadang jalan yang relatif aman, yaitu mengonsumsi beberapa tanaman ditengarai dapat menimbulkan kantuk adalah valerian, chamomile, lavender, dan passion flower. Valerian, misalnya, sudah terbukti bisa menyebabkan orang gampang tertidur. Valerian adalah tanaman asli yang tumbuh di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Barat.

Bagian tanaman yang digunakan untuk pengobatan adalah bagian rizoma dan akar. Sedangkan kandungan aktif yang terdapat di dalamnya antara lain minyak volatile, iridoid, sesquiterpenes, alkaloid piridin, dan derivat asam kafein. Sesquiterpenes tergolong kandungan memberikan efek biologis terbanyak.

Selain itu, tak sedikit pula yang menggunakan aromaterapi yang mengandung minyak melati atau minyak lavender. Kedua minyak ini bisa membuat orang tenang dan tidur nyenyak. Ada juga yang menggunakan akupunktur atau hipnoterapi. Insomnia merupakan salah satu gejala kekurangan magnesium. Sehingga banyak orang sehat yang mengonsumsi suplemen atau makanan yang kaya magnesium.

Makanan yang kaya magnesium dapat dijumpai pada kentang, biji-bijian, susu, daging, ikan, dan sayur-sayuran yang berwarna hijau. Seng, kalsium, kalium, dan asam merupakan zat-zat yang juga berperan membuat orang tertidus pulas. Kalsium yang terdapat pada susu, ikan teri, dan udang mempunyai efek menenangkan susunan saraf pusat. Kekurangan kalsium dapat membuat otot tegang dan sulit tidur.

Tentu saja, niat pasien untuk sembuh juga harus ditegakkan. Misalnya harus merelaksasi otot, mengurangi stres, berolahraga teratur, berpikir positif, dan mengurangi merokok dan minum minuman beralkohol.

Aries Kelana dan Rach Alida Bahaweres

Sean Algaier “The Biggest Loser” dan Sleep Apnea – Mendengkur

Orang tidak akan mengaitkan tidur dengan acara realitas The Biggest Loser, tapi ternyata kesehatan tidur justru memegang peranan penting. Sejak musim ke-7, dalam pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan tidur dijadikan pemeriksaan rutin bagi para peserta. Hasilnya ternyata mengejutkan para dokter yang turut membina acara tersebut. Kebanyakan peserta ternyata mendengkur dan menderita sleep apnea. Bahkan dalam derajat yang parah. Dalam satu musim tersebut semua peserta terdiagnosa dengan sleep apnea!

Pada musim pertama, dokter di acara tersebut menyebutkan tiga pilar kesehatan: psikologi, makan yang sehat dan olah raga. Kini ia menambahkan pilar ke-4, yaitu tidur yang sehat.

Para peserta The Biggest Loser tersebut mendapatkan perawatan sleep apnea dengan menggunakan continuous positive airway pressure (CPAP), berupa masker yang dihubungkan dengan alat khusus. Dan inilah salah satu cerita bagaimana perawatan sleep apnea telah mengubah hidupnya.

Sean

Sean Algaier ikut acara The Biggest Loser musim ke-8 dalam usia 29 tahun dan bobot sekitar 210 kg. Sean sudah kelebihan berat badan sejak di tingkat SMU. Di rumah ia gemar sekali makan dan baginya berolah raga adalah sebuah bentuk hukuman.

Sebelum mengikuti program ini, Sean tidak tahu bila ia menderita sleep apnea, tapi sudah lama istrinya curiga. Di tengah malam, sang istri amat takut melihat nafas Sean terengah-engah dan tampak sesak. Namun Sean tak pernah ambil peduli dengan kekhawatiran istrinya dan menolak melakukan pemeriksaan tidur. Karena biayanya memang tak bisa dibilang murah, sedangkan Sean lebih memilih membelanjakan uang bagi keluarga dibanding untuk dirinya sendiri. Lagi pula, baginya mendengkur bukanlah masalah besar.

Sementara itu, teman-temannya sering menertawakan karena ia mudah sekali tertidur. Ia selalu merasa lelah, hingga baginya ini normal saja. Sean bisa tertidur 5-6 kali sehari, bahkan ketika mengendara! Ia juga mendengkur keras di malam hari, dan ini mempengaruhi kehidupan perkawinannya. Mereka tidur di tempat tidur yang sama, namun di tengah malam ia akan pindah tidur.

Biasanya Sean akan tidur di kursi dalam posisi duduk. Baginya dengan posisi ini ia bisa tidur lebih lama. Tapi karena berat badannya amat berlebih, aliran darah jadi kurang lancar dan kakinya menjadi bengkak di pagi hari. Mungkin saja ia mengalami sumbatan pembuluh darah atau hal-hal lain yang buruk akibat sleep apnea yg dideritanya.

Begitu memasuki program acara, Sean menjalani pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Namun ia tak tahu hasilnya.

Di hari pertama, ia mulai berolah raga secara intensif. “Saya tertidur di hari pertama di Gym;” ceritanya. “Malam sebelumnya saya tidak bisa tidur, dan saya amat lelah. Waktu itu saya berjam-jam di atas treadmill. Dan tiba-tiba saya terbangun dengan kamera di depan wajah saya, serta Bob (pelatih) berteriak-teriak membangunkan. Ini amat memalukan!”

Setelah sesi latihan, Sean diberitahu bahwa ia menderita sleep apnea yang parah. Dalam tidur, nafasnya berhenti sebanyak lebih dari 100 kali perjam. Malamnya, ia langsung tidur dengan menggunakan continuous positive airway pressure (CPAP). Untuk pertama kalinya, ia tidur penuh selama 8 jam.

Sean mengatakan, “Sepertinya ini pertama kalinya saya tidur sejak tingkat SMP. Saya tidur pulas dan saya benar-benar bahagia. Di pagi hari rasanya saya sanggup lari marathon. Kini nafas saya tidak berhenti lagi dalam tidur, dan saya tidur di ranjang yang sama dengan istri.” Di penghujung acara, Sean telah kehilangan 70 kg – dari 210 menjadi 140 kg saja. Ia mengakui bahwa dengan menggunakan CPAP ia dapat menurunkan berat badan dengan lebih mudah. Kini bobotnya menjadi 108 kg dan ia berharap masih bisa menurunkan 10-20 kg lagi.

“CPAP telah mengubah hidup saya,” ujar Sean. “ Saya rasa, siapapun yang mengalami gangguan tidur, jika mereka mau memperbaikinya, itu akan mengubah hidup mereka. Mereka tidak menyadari betapa banyak mereka kehilangan ketika tidak tidur baik di malam hari. Saya tak akan mau kembali merasakan perasaan itu lagi. Saya ingin merasa segar dan ‘hidup’ di siang hari. Saya sarankan, siapapun yang ingin menurunkan berat badan atau mendengkur, selamatkan hidup Anda dengan menjalani pemeriksaan tidur!”

Sumber: National Sleep Foundation