Tidur Cantik

Tidur adalah proses aktif yang melingkupi 1/3 waktu hidup manusia. Sayangnya hanya sedikit penelitian yang membahas hubungan kesehatan tidur dengan kecantikan kulit. Padahal kita sudah lama mendengar tentang beauty sleep. Ya, artinya tidur dapat mempercantik kulit seseorang. Lihat saja, ketika kita kekurangan tidur, kulit tampak kusam tak bercahaya. Ini disebabkan oleh meningkatnya hormon stres hingga meningkatkan peradangan/inflamasi pada kulit yang tentu buruk akibatnya pada kualitas kulit.

Kesehatan Kulit dan Kurang Tidur

Keduanya ternyata saling berhubungan erat. Gangguan tidur menurunkan kualitas kulit, bahkan memperburuk penyakit kulit, sementara penyakit kulit sendiri dapat mengganggu kualitas tidur.

Kurang tidur akan memperburuk kondisi kulit. Begitu kita kekurangan tidur, sel-sel inflamasi dalam tubuh akan meningkat. Tandanya, jerawat bermunculan, kulit jadi sensitif, reaksi alergi kulit memburuk dan iritasi pada kulit pun jadi semakin parah. Semakin kurang tidur, semakin banyak kita membutuhkan produk-produk perawatan kulit.

Kurang tidur juga akan merusak struktur kecantikan alami kulit. Sel-sel inflamasi yang meningkat kadarnya akan merusak asam hialuronat dan kolagen. Keduanya adalah bahan yang membuat kulit kenyal dan bercahaya.

Gangguan pada tidur, akan membuat penyakit-penyakit yang berhubungan dengan sistem imun kita jadi semakin buruk. Penyakit-penyakit kulit seperti psoriasis dan eksim (eczema) akan kambuh saat mengalami kekurangan tidur. Psoriasis misalnya bukan semata penyakit kulit, ia juga merupakan petanda adanya peningkatan inflamasi. Adanya penyakit kulit yang tak kunjung sembuh, juga bisa jadi petanda adanya gangguan tidur yang belum terdeteksi.

Jam Biologis Kulit

Kulit berperan dalam mengontrol suhu dan pengeluaran cairan. Ini berkaitan dengan jam biologis dan pengaturan suhu inti tubuh (core body temperature).

Supra chiasmatic nucleus (SCN) memang merupakan pusat pengatur irama jam biologis. Tetapi ada juga pengatur jam biologis yang bersifat perifer. Kulit lewat kemampuannya untuk menjaga keseimbangan cairan dan melepaskan panas, juga turut mengatur jam biologis ini.

Kulit juga mempunyai kemampuan untuk merasakan perbedaan suhu sekitar, sehingga ia dapat memberi sinyal kepada otak untuk menjaga keseimbangan suhu inti tubuh tetap di sekitar 37 derajat celcius.

Suhu inti tubuh akan bergerak naik di siang hari, sementara beranjak malam akan mulai menurun dan mencapai titik terendah saat menjelang tidur. Suhu panas tubuh perlahan dikeluarkan lewat kulit.

Kadar kortisol tertinggi dicapai di pagi hari dan terus menurun sepanjang hari. Menjelang malam kadarnya akan menurun dan mencapai titik terendah saat akan tidur. Kortisol memiliki efek anti-inflamasi. Diduga turunnya kadar kortisol ini berperan pada meningkatnya rasa gatal di malam hari pada penderita penyakit kulit.

Kecantikan

Hidrasi tubuh dijaga saat tidur. Ketika tidur, kelembaban kulit dikembalikan. Jika kita kurang tidur, tentu saja kulit jadi lebih kering dan kusam. Kerutan juga akan tampak dengan jelas saat kita kekurangan tidur.

Mencapai tahap tidur dalam, tubuh mengeluarkan growth hormone (hormon pertumbuhan). Hormon ini pada anak-anak penting untuk proses tumbuh kembang. Sedangkan pada orang dewasa, hormon ini berperan untuk memicu perbaikan sel-sel yang rusak. Jika kita kurang tidur, sel-sel kulit yang rusak akan mati, tanpa adanya sel-sel pengganti yang baru. Akhirnya proses penuaan pun akan datang dini.

Proses tidur juga berperan penting dalam menjaga kelangsingan tubuh. Tahukah Anda, bahwa kondisi kurang tidur akan meningkatkan nafsu makan dan mengganggu proses metabolisme hingga sulit menurunkan berat badan? Ya, saat kurang tidur terjadi ketidak seimbangan hormonal yang sebabkan nafsu makan tak terbendung. Akibatnya kita akan lebih banyak ngemil dan memilih makanan berkalori tinggi.

Tidur Cantik

Untuk menjaga kecantikan kulit perhatikan beberapa tips tidur sehat berikut:

  • Jagalah jadwal tidur yang teratur dan cukup. Ini akan memudahkan proses tidur secara umum.

  • Biasakan membuat ritual persiapan tidur yang menyenangkan. Persiapkan dengan meredupkan lampu, memutar musik yang lembut, lalu lakukan perawatan kulit. Kondisi rileks akan memudahkan dan menjaga kualitas tidur.

  • Minum banyak cairan selama beraktivitas di siang hari untuk menjaga keseimbangan cairan. Sementara, menjelang tidur batasi minum karena minum terlalu banyak dapat mengganggu tidur karena kebutuhan untuk kencing.

  • Tidurlah dalam suasana yang gelap. Dengan demikian melatonin (hormon tidur) akan diproduksi optimal.

  • Gunakan sprei yang lembut dan nyaman. Ganti secara rutin untuk menjaga kebersihannya dan tetap bebas dari tungau atau debu yang dapat memancing alergi.

 

Ingin Langsing? Diet, Olah Raga dan Tidur lah yang Sehat

Selama ini kita berpikir bahwa tidur tak membutukan tenaga, sehingga banyak tidur mengakibatkan kegemukan. Tapi ini tidak benar. Berbagai penelitian membuktikan bagaimana tidur yang cukup justru diperlukan untuk menjaga nafsu makan dan berat badan.

dr. Andreas Prasadja, RPSGT

Penelitian terbaru yang dimuat pada jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan bahwa tidur kurang dari 5 jam selama seminggu akan membuat kita mengonsumsi lebih banyak kalori. Kebanyakan peningkatan kalori diakibat oleh ngemil setelah makan malam. Jadi pada penelitian ini, ketika jam tidur dibatasi, para relawan justru makan/ngemil pada saat jam biologisnya justru menunjukkan waktu untuk tidur.

Penelitian yang dilakukan di the University of Colorado ini menyertakan 16 orang pemuda/i. Mereka diminta untuk bermalam di kamar tidur yang telah diatur pencahayaan, suara dan disertakan juga alat-alat untuk mengukur fungsi-fungsi tubuh selama tidur. Kamar seperti ini populer juga disebut sebagai laboratorium tidur. Tak lupa, demi kepentingan penelitian, jumlah kalori makanan yang dikonsumsi juga diukur.

Tiga hari pertama, mereka diminta untuk tidur selama 9 jam. Selanjutnya para peserta dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama tidur 5 jam, sementara yang kedua tetap 9 jam selama lima hari. Para peserta disediakan berbagai makanan dan cemilan sepanjang penelitian. Setelah lima hari, mereka bertukar waktu tidur. Kelompok pertama jadi 9 jam, dan kelompok kedua jadi tidur 5 jam sehari.

Hasilnya, kelompok yang hanya tidur 5 jam, membakar 5% lebih banyak kalori dibanding yang tidur 9 jam. Tapi mereka juga makan 6% lebih banyak kalori. Mereka yang kurang tidur sarapan lebih sedikit, tapi ngemil jauh lebih banyak. Bahkan jumlah kalori dari cemilan yang dimakan lebih besar dari jumlah kalori makanan rutin.

Penelitian lain yang diterbitkan pada the Journal of Psychoneuroendocrinology juga menunjukkan efek kurang tidur pada penambahan berat badan. Penelitian ini menyediakan makanan yang disajikan secara prasmanan pada 16 orang relawan. Pertama saat mereka cukup tidur (8 jam) dan kedua kalinya setelah kurang tidur.

Hasilnya, saat kurang tidur ternyata mereka cenderung mengambil porsi makan lebih banyak dibanding saat cukup tidur. Para relawan ini juga melaporkan merasa lebih lapar dan setelah diperiksa ternyata memiliki kadar ghrelin yang meningkat. Ghrelin adalah hormon yang merangsang nafsu makan.

Setelah sarapan, peserta penelitian yang kurang tidur juga ngemil lebih banyak. Disimpulkan, kondisi kurang tidur akan mendorong seseorang untuk makan lebih banyak.

Penelitian terakhir mengingatkan pada sebuah penelitian setahun yang lalu,. Dalam pertemuan ilmiah American Heart Association, disajikan sebuah penelitian yang menunjukkan bagaimana kurang tidur akan meningkatkan konsumsi kalori kita.

Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa sekelompok orang yang kurang tidur memiliki kadar ghrelin yang tinggi dan leptin yang rendah. Sekali lagi, ghrelin adalah hormon yang meningkatkan nafsu makan, sedangkan leptin bertanggung jawab untuk menekan nafsu makan.

Penelitian-penelitian ini memperhatikan efek kurang tidur dengan peningkatan berat badan. Tetapi para ahli mengingatkan bahwa kita harus melihat lebih dalam. Bukan hanya pada jumlah tidur yang kurang, tetapi pada kantuk. Bagaimana pengaruh kantuk pada nafsu makan misalnya. Sebab ada banyak penyakit tidur yang menyebabkan orang terus mengantuk walau sudah tidur cukup.

Mendengkur misalnya. Mendengkur yang selama ini dianggap disebabkan oleh kegemukan, ternyata bisa terjadi sebaliknya, mendengkur menyebabkan kegemukan. Penelitian di Turki tahun 2005 tunjukkan bagaimana pendengkur dengan sleep apnea, henti nafas saat tidur, memiliki kadar ghrelin yang tinggi dan leptin yang rendah seperti orang yang kurang tidur.

Para ahli mengingatkan bahwa kenaikan berat badan dan kegemukan memiliki banyak faktor yang saling berkaitan. Dengan semakin banyaknya penelitian ilmiah yang menunjukkan hubungan kesehatan tidur dan berat badan, sudah saatnya kita tak hanya memikirkan olah raga dan diet. Masukkan juga kesehatan tidur dalam program penurunan berat badan Anda.

Dibalik Tertidurnya Seorang Pemimpin

Beberapa media menyoroti seorang pejabat publik di DKI yang tertidur saat Gubernur Jokowi memberikan pidato. Pejabat tersebut tampak sulit sekali mempertahankan keterjagaannya hingga oleng ke kiri dan ke kanan tertidur. Apa yang terjadi?

Beberapa rekan yang saya temui mengomentari berita ini dengan beberapa tanggapan, tapi semuanya mengarah kepada kemalasan atau kebosanan dengan isi pidato. Tidak! Tidur bukanlah kemalasan! Bukan juga bosan. Kita harus lebih dalam melihat kantuk. Terutama apabila menyerang seorang pemimpin, seperti pejabat publik ini.

Tertidur

Kini dengan adanya kamera dimana-mana, hampir tak mungkin seorang pejabat publik menyembunyikan kantuknya di hadapan publik. Bahkan Hillary Clinton pun pernah kedapatan tertidur di sebelah Aung San Suu Kyi saat mendengarkan Obama berpidato di Myanmar tahun 2012 silam. Begitu pula Wakil Presiden Joe Biden yang tertidur menyaksikan pidato Obama di sebuah acara pada April 2011. Saat Obama diambil sumpahnya Januari 2009, tampak di belakangnya Jaksa Agung Clarence Thomas juga tertidur.

Apa yang terjadi? Mengantuk pasti pernah dialami oleh setiap orang karena tidur merupakan kebutuhan dasar manusia yang mau tak mau harus dipenuhi. Saat mengantuk pasti ada yang salah dengan tidur. Kurang tidur atau kualitas tidur, yang juga bisa berarti menderita penyakit tidur. Jika seseorang didapati mengantuk dan sulit tetap terjaga, bisa jadi ia kurang tidur. Atau bisa juga cukup tidur tapi menderita penyakit tidur, yang akibatkan ia hipersomnia. Hipersomnia adalah kantuk berlebihan, walau durasi tidur sudah cukup. Salah satu penyebab hipersomnia paling sering adalah mendengkur, sleep apnea.

Pemimpin yang Mengantuk

Penelitian di tahun 2005 menyatakan bahwa kelompok profesi paling kurang tidur adalah dokter, dengan durasi tidur rata-rata hanya 4,5 jam. Sementara politisi menempati posisi kedua dengan durasi tidur rata-rata 5 jam.

Saya ingat bagaimana beberapa pasien yang politikus terus bekerja hingga larut malam. Demikian juga cerita dari beberapa rekan jurnalis yang meliput rapat-rapat mereka hingga dini hari. Ini semua dilakukan demi hidup orang banyak. Tetapi ini memunculkan keprihatinan. Politisi dan pejabat-pejabat publik ini adalah pemimpin yang bertanggung jawab mengambil keputusan-keputusan penting yang memengaruhi kehidupan kita. Dengan rapat-rapat tengah malam dan mengantuk hebat di siang hari, bisa dipastikan mereka tidak berada dalam kondisi mental yang baik untuk mengambil keputusan penting!

Tidur merupakan dasar dari kualitas hidup seorang manusia. Kemampuan konsentrasi, ketelitian, kewaspadaan, kecerdasan, serta kemampuan mengambil keputusan hingga menerima kritik telah terbukti dibangun saat tidur. Ketika menjadi pelupa dan ceroboh, apakah seseorang kekurangan vitamin tertentu? Tidak, kekurangan tidur adalah kemungkinan terbesar penyebabnya. Bill Clinton menyatakan bahwa selama hidup ia sering membuat kesalahan, dan setiap kesalahan yang ia buat dilakukannya saat lelah.

Tidur bukanlah kemalasan. Tidur justru langkah cerdas untuk menjaga dan meningkatkan kemampuan otak kita.

Tidur Sehat

Mengantuk juga bukan tanda kemalasan. Kantuklah yang membuat orang malas. Kemalasan adalah keengganan seseorang untuk berbuat sesuatu. Sementara mengantuk menunjukkan kebutuhan untuk tidur. Saat mengantuk kita tak bisa berbuat apa-apa selain tidur. Sementara kafein dan minuman penambah energi hanya menunda kantuk tanpa memberikan manfaat restoratif dari tidur. Artinya setelah minum kafein kita memang merasa lebih segar, tapi kemampuan otak kita yang sudah lelah tak akan terbantu.

Bagaimana agar tidak mengantuk? Jadwalkan tidur cukup dan teratur setiap malamnya. Sempatkan tidur sejenak di siang hari (15-20 menit) untuk lebih meningkatkan produktivitas. Konsumsi kafein dan minuman penambah energi dengan bijak. Secukupnya dan tidak berlebihan berdasarkan kebutuhan saja. Jika mengantuk berlebihan walau tidur sudah cukup perhatikan kemungkinan penyakit tidur seperti sleep apnea yang ditandai dengan mendengkur. Penyakit tidur berbahaya ini selain sebabkan kantuk berlebihan juga sebabkan diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kematian, depresi, stroke dan impotensi.

——————————————————-

Memperingati hari kesehatan tidur sedunia (World Sleep Day) yang jatuh pada tanggal 15 Maret, mari kita mulai memperhatikan tidur dalam keseharian kita. Jika selama ini kita hanya perhatikan diet dan olah raga, cobalah prioritaskan juga tidur dalam jadwal sehari-hari.

Tidur sehat demi kualitas manusia Indonesia yang lebih baik.

Ngorok Lebih Berbahaya Dibanding Merokok

Suara dengkur pasti mengganggu, tapi lebih dari itu ngorok sebenarnya adalah alarm tanda bahaya bagi kesehatan kita. Bahkan tim peneliti dari Detroit AS, nyatakan bahwa mendengkur lebih berbahaya dari merokok! Pendengkur mempunyai risiko lebih besar mengalami penebalan arteri karotis dibanding perokok, orang yang obese (gemuk) atau bahkan yang memiliki kadar kolesterol tinggi sekali pun.

Arteri karotis adalah pembuluh darah yang memberikan suplai ke daerah leher dan kepala, termasuk otak. Jika dinding pembuluh darah ini mengalami penebalan, bisa menjadi permulaan dari berbagai penyakit pembuluh darah lainnya.

Mendengkur dan Sleep Apnea

Mendengkur telah lama diketahui menjadi tanda dari henti nafas saat tidur atau sleep apnea. Henti nafas saat tidur terjadi akibat sempitnya saluran nafas, sehingga walau dada naik turun berusaha bernafas, tak ada udara yang dapat mengalir lewat. Akibatnya oksigen akan turun sepanjang malam. Para ahli sudah menyatakan bahwa sleep apnea merupakan penyebab utama hipertensi, penyakit jantung, diabetes, impotensi hingga stroke.

Sebenarnya sejak tahun 2003, dunia kedokteran modern sudah mengamini bahwa salah satu penyebab utama tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah sleep apnea. Ini tertuang dalam laporan dari the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure yang lebih dikenal sebagai JNC7.

Sementara berbagai jurnal penelitian kedokteran terus berkembang dan memuat tentang bagaimana sleep apnea menyebabkan berbagai penyakit fatal seperti penyakit jantung koroner, serangan jantung hingga stroke.

Penelitian

Namun penelitian ini menunjukkan bahwa jauh sebelum menjadi sleep apnea, suara dengkuran saja sudah merupakan tanda bahaya yang tak boleh diabaikan.

Para peneliti mengamati data 913 pasien yang telah diperiksa di klinik gangguan tidur antara Desember 2006 dan Januari 2012. Setelah diperiksa, dikumpulkan pasien yang mendengkur tapi tidak menderita sleep apnea.

Secara keseluruhan ada 54 orang pasien yang mendengkur yang dilakukan pengukuran ketebalan dinding arteri karotis dengan menggunakan ultrasound (USG). Ketebalan arteri karotis dapat digunakan untuk melihat perkembangan penyakit atherosklerosis (pengerasan pembuluh darah). Penebalan dinding arteri karotis merupakan tanda dari penyakit arteri karotis.

Hasilnya, pasien yang mendengkur memiliki arteri karotis yang lebih tebal dibanding yang tidak mendengkur. Para peneliti menduga getaran akibat ngoroklah yang menyebabkan trauma pada pembuluh darah hingga sebabkan peradangan dan pada akhirnya akibatkan penebalan pembuluh darah.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa secara statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada penebalan arteri karotis pada pasien dengan atau tanpa risiko-risiko penyakit jantung-pembuluh darah yang selama ini kita kenal. Faktor-faktor risiko itu antara lain adalah merokok, diabetes, tekanan darah tinggi atau kadar kolesterol yang tinggi.

Perawatan

Tahap pertama perawatan mendengkur adalah dengan mengenali adanya masalah. Keluarga dan kerabat harus meyakinkan penderita kalau ia mendengkur. Ya, pendengkur hanya tahu dirinya ngorok jika diberi tahu oleh orang lain.

Untuk perawatan medis, dimulai dengan pemeriksaan tidur untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan di laboratorium tidur tak ubahnya pemeriksaan fungsi jantung atau pernafasan saja, bedanya ia dilakukan saat tidur. Kenapa saat tidur? Karena gangguan nafasnya hanya terjadi pada saat tidur.

Setelah diagnosa ditemukan baru dokter akan menentukan perawatan yang sesuai untuk kondisi setiap pendengkur. Biasanya menggunakan CPAP, operasi atau oral appliances.

CPAP singkatan dari continuous positive airway pressure, berupa sebuah alat yang dihubungkan ke hidung lewat masker. Perawatannya amat nyaman karena memberikan kualitas tidur yang maksimal.

Dua penelitian berbeda di Australia dan Eropa tahun 2003 tunjukkan bahwa setelah mendengkur dirawat dengan CPAP risiko pasien untuk menderita penyakit jantung koroner turun hingga 37%, sementara risiko stroke turun 56%. Sementara penelitian tahun 2004 dan 2005 tunjukkan bagaimana penggunaan CPAP pada pendengkur dengan diabetes membantu tingkatkan sensitivitas insulin serta kontrol gula darahnya.

Dampak

Di AS diperkirakan 40% pria dan 24% wanita adalah pendengkur. Walau kita mempunyai data yang valid di Indonesia diperkirakan jumlah pendengkur tidak jauh berbeda. Bayangkan berapa banyak di antara kita yang mengalami bahaya setiap tidurnya.

Mendengkur selama ini dianggap sebagai suara yang mengganggu. Di lingkungan pergaulan ngorok selalu menjadi bahan lelucon. Bahkan pihak asuransi sering menganggap dengkuran sebagai suatu gangguan yang bersifat kosmetik dan tidak membahayakan.

Tetapi dengan banyaknya data penelitian yang terus bertambah, suara ngorok tak dapat lagi kita abaikan. Para ahli kesehatan sudah mulai melihat dengkuran sebagai salah satu faktor risiko penyakit yang sejajar posisinya dengan hipertensi atau peningkatan kadar kolesterol.

Akhir kata, jika Anda menemukan rekan atau kerabat yang mendengkur, peringatkan. Dengan demikian Anda telah menyelamatkan nyawanya.

Kemesraan Tidur, Hubungan Percintaan dan Tidur yang Sehat

Tahukah Anda jika hubungan percintaan juga sangat dipengaruhi oleh tidur?

Ya, sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of California, Berkeley menyatakan bahwa pasangan dari orang yang kurang tidur sering merasa kurang dihargai. Penelitian ini tunjukkan bagaimana tidur bisa memengaruhi romantisme sebuah hubungan. Bisa dikatakan orang yang tak mencukupi kebutuhan tidurnya merasa terlalu lelah untuk berterima kasih.

Lebih dari 60 pasangan diteliti. Mereka diminta untuk mencatat pola tidur harian. Mereka juga diminta untuk mencatat efek tidur yang lelap atau tidak pada pasangan. Apakah pasangan jadi merasa dihargai saat tidurnya lelap, dibanding rasa yang sama saat tidur tak nyenyak. Saat lain, pasangan-pasangan ini direkam video saat diberi tugas untuk memecahkan suatu masalah. Mereka yang tidurnya kurang, tampak kurang menghargai pasangannya. Secara umum, penelitian buktikan bahwa mengantuk sebabkan kita cenderung emosional, egois dan mementingkan diri sendiri. Kebutuhan pasangan jadi terabaikan.

Tidur, memengaruhi suasana emosi di pagi hari. Bisa saja seseorang tidur pulas, tetapi jika pasangannya tak tidur nyenyak yang jadi korban adalah keduanya. Akhirnya atmosfir emosi mereka pun jadi negatif.

Kebiasaan di ranjang pasangan juga bisa menjadi masalah. Seseorang yang terbiasa tidur dalam kondisi tenang, tentu akan terganggu dengan kebiasaan menonton TV pasangannya. Atau suara dengkur pasangan.

Tahukah Anda, mendengkur adalah penyebab perceraian nomor 3 di AS setelah perselingkuhan dan masalah ekonomi?

Suara dengkuran memang mengganggu tidur pasangan. Tetapi ada kondisi lain yang juga mengganggu, yaitu penyakit tidur bernama sleep apnea, atau henti nafas saat tidur.

Sleep apnea sudah lama kita ketahui sebabkan kualitas tidur penderitanya jadi buruk. Akibatnya walau sudah tidur cukup, pendengkur selalu bangun lelah dan terus mengantuk sepanjang hari. Kondisi mengantuk yang disebut hipersomnia ini tentu sebabkan seseorang jadi emosional, dan kurang peka terhadap kebutuhan pasangannya.

Beberapa penelitian di tahun 2010-2012 yang melibatkan pencitraan otak membuktikan bahwa pendengkur mengalami kerusakan pada bagian-bagian tertentu otak yang mengatur fungsi kemampuan kognitif dan emosional. Salah satunya adalah area yang mengatur kemampuan seseorang untuk menerima masukan, kemampuan mendengar. Dalam konteks hubungan percintaan: pengertian dan perhatian.

Masalah menjadi lebih kompleks, ketika libido turut menurun sebagai akibat dari sleep apnea.

Mendengkur bukan masalah remeh. Selain sebabkan hipertensi, gangguan jantung, diabetes hingga stroke bagi si pendengkur, pasanganlah yang sebenarnya menjadi korban.

Sebuah penelitian lain yang diterbitkan pada jurnal kedokteran SLEEP 2011 nyatakan bahwa kunci kebahagiaan perkawinan adalah istri yang tidur cukup. Tiga puluh lima pasangan dicatat pola tidurnya dengan actygraphy, lalu disurvei tentang suasana emosi pasangannya. Hasilnya, para istri yang terganggu tidurnya dilaporkan cenderung mengekspresikan emosi negatif oleh sang suami.

——————-

Kemesraan dan ranjang tak melulu harus dikaitkan dengan seks. Tidur yang selama ini dianggap episode tak aktif ternyata punya peranan besar. Tidur yang sehat, penting bagi kesehatan dan kebahagiaan setiap orang. Jika kesehatan tidur belum menjadi prioritas dalam kehidupan keluarga, sebaiknya Anda mulai dari sekarang.

Tentang Tidur

Hal-hal yang seharusnya Anda tahu tentang tidur

Masyarakat modern semakin berkurang tidurnya. Penelitian Wehr telah membuktikan bahwa dalam lingkungan tanpa penunjuk waktu kita akan tidur 7-8 jam setiap malamnya. Sayangnya denyut kehidupan modern tak mengijinkan itu. Masyarakat terbiasa terpapar cahaya terang dan saling terhubung 24 jam tanpa henti. Bola lampu, listrik, komputer, internet hingga ponsel pintar adalah temuan-temuan manusia yang menggeser kebiasaan tidur kita.

Tapi kita masih butuh tidur! Berikut saya jabarkan sedikit pengetahuan tentang tidur.

  1. Tahukah Anda bahwa TIDUR adalah salah satu sains yang terbaru.

Hingga tahun 50-an saat tidur dianggap sebagai saat tak aktif. Tak ada yang terjadi saat tidur. Dokter pun beranggapan bahwa saat tidur adalah saat yang aman, karena pasiennya tampak tidur damai bebas dari rasa sakit. Tapi kenyataannya tidak demikian. Sejak ditemukannya tidur Rapid Eye Movements (REM), kita tahu bahwa gelombang otak tidur bisa sangat aktif seperti saat kita terjaga. Demikian juga dengan sumber penyakit. Ternyata banyak sumber penyakit yang disebabkan oleh berbagai penyakit tidur.

  1. Kurang tidur membuat Anda gemuk!

Ya, mengantuk ternyata membuat sistem metabolisme kita terganggu. Hormon-hormon yang mengatur nafsu makan berubah keseimbangannya hingga kita cenderung lapar. Celakanya secara otomatis kita mencari makanan yang manis dan asin. Ya, itu berarti kita bernafsu utk menikmati junk-food.

  1. Tidur adalah vitamin otak yang sesungguhnya.

Kemampuan otak sangat dipengaruhi oleh tidur. Kecerdasan, daya ingat, konsentrasi, ketelitian, kreativitas hingga kemampuan untuk menghitung dengan cepat hanya dibangun saat tidur. Proses tidur yang kompleks menentukan kualitas manusia. Mau tingkatkan produktivitas? Tidurlah yang sehat.

  1. Wanita yang cukup istirahat adalah wanita yang bahagia.

Penelitian membuktikan bahwa kurang tidur membuat wanita kurang bahagia. Kurang tidur dianggap lebih mengganggu dibandingkan faktor-faktor lain yang menyebabkan stres. Salah satu kunci pernikahan yang bahagia adalah wanita yang cukup tidur. Jadi, para suami, atasi kebiasaan mendengkur Anda.

  1. Tidur berkaitan dengan kanker.

Wanita yang tidur kurang dari 7 jam tiap harinya mempunyai risiko 47% lebih tinggi untuk menderita kanker payudara, walaupun ia orang yang sehat, menjaga diet dan berolah raga rutin. Bandingkan dengan wanita buta. Risiko mereka mengalami kanker payudara lebih rendah 50%. Karena paparan cahaya yang terbatas, tidur mereka pun lebih panjang dan teratur. Kadar hormon melatonin mereka pun didapati lebih tinggi, sedangkan estrogen lebih rendah.

 dr. Andreas Prasadja, RPSGT

Insomnia, Terjaga Tengah Malam Disebabkan Gangguan Nafas

Sebuah penelitian baru yang dilakukan oleh sebuah tim di Albuquerque, New Mexico memberikan prespektif baru tentang insomnia kronis. Penelitian yang sederhana dan masih dalam skala kecil ini mencoba untuk melihat secara obyektif kenapa penderita insomnia kronis sering terjaga di malam hari.

Para peneliti mengumpulkan 20 orang penderita insomnia kronis untuk direkam tidurnya menggunakan polisomnografi (PSG) di laboratorium tidur. Hasilnya ternyata mengejutkan banyak ahli, 90% penyebab pasien terjaga adalah gangguan nafas saat tidur, sleep apnea! Padahal secara subyektif, para peserta penelitian menyatakan penyebab mereka terjaga adalah 50% tak tahu penyebabnya terjaga, 45% karena mimpi buruk, 35% karena dorongan untuk kencing, 20% karena gangguan lingkungan tidur dan 15% akibat rasa sakit.

Tak satu pun peserta menduga dirinya terjaga akibat gangguan nafas. Bahkan 11 dari 20 peserta penelitian dinyatakan positif menderita sleep apnea. Padahal, sebelum penelitian para peserta sudah disaring. Jika menunjukkan gejala sleep apnea, seperti mendengkur atau kantuk berlebihan, peserta akan dicoret dari keikutsertaannya. Tak satu pun peserta yang mendengkur.

Keluhan penderita insomnia bisa dikatakan berlawanan dengan penderita sleep apnea. Jika penderita sleep apnea mendengkur dan terus mengantuk, penderita insomnia justru mengeluhkan kesulitan memulai atau mempertahankan tidur. Penderita insomnia dengan kesulitan mempertahankan tidur, mudah terbangun di tengah malam dan biasanya sulit untuk tidur kembali.

Sleep apnea merupakan gangguan nafas saat tidur yang menyebabkan penderitanya terbangun (arousal) akibat sesak. Penderita terbangun tanpa terjaga, hingga ia tak ingat terbangun berulang kali sepanjang malam. Akibat proses tidur yang terpotong-potong, penderita sleep apnea bangun tak segar dan terus mengantuk sepanjang hari.

Para ahli menghipotesakan, keterjagaan di tengah malam berhubungan dengan kondisi hyperarousal pada penderita insomnia. Hyperarousal, untuk mudahnya diartikan sebagai kondisi terlalu tegang untuk tidur, akibatnya penderita mudah sekali terjaga. Diduga, episode bangun singkat yang disebabkan sleep apnea memicu penderita insomnia terjaga.

Selama ini, perawatan insomnia diarahkan pada hyperarousal. Hingga dengan sendirinya tak mudah terjaga, juga jika sampai terjaga penderita mudah kembali tidur. Namun hingga kini penyebab keterjagaannya sendiri tak pernah jadi perhatian.

Penelitian ini telah memberikan kemungkinan baru dalam perawatan insomnia kronis. Jika selama ini perawatan insomnia kronis adalah dengan CBTi, cognitive behavior therapy for insomnia dan medikasi obat-obatan, mungkin dimasa depan ditambahkan juga dengan pemeriksaan dan perawatan sleep apnea.

dr. Andreas Prasadja, RPSGT