Laboratorium Tidur

Polisomnografi (PSG) telah dijadikan standar pemeriksaan tidur untuk menegakkan diagnosa bagi penderita yang diduga menderita gangguan tidur(1). Saat ini, di negara-negara maju, setiap rumah sakit memiliki sekurangnya satu laboratorium tidur.

Standar internasional PSG meliputi perekaman:

  • Gelombang listrik otak (EEG)
  • Gerakan bola mata (EOG)

    Laboratorium Tidur

    Laboratorium Tidur

  • Tegangan otot (EMG)
  • Irama jantung (EKG)
  • Dengkuran
  • Gerakan nafas (dada dan perut)
  • Aliran udara nafas
  • Gerakan anggota tubuh
  • Posisi tubuh saat tidur
  • Kadar oksigen dalam darah

Yang membuatnya berbeda dari pemeriksaan medis lainnya adalah PSG memberikan gambaran keseluruhan aktifitas tubuh selama tidur. Bukan hanya potongan-potongan sesaat kondisi tubuh, seperti pemeriksaan darah misalnya. PSG merekam segala sesuatu yang terjadi mulai dari saat pasien tertidur, melewati tahapan-tahapan tidur serta setiap proses perubahan nafas, tegangan otot, gelombang otak, gerakan mata yang terjadi dalam setiap tahap tidur, hingga saat bermimpi dan akhirnya bangun.

Tipe PSG(2):

1. Minimum terdiri dari 7 channels dalam laboratorium dengan diamati oleh tenaga khusus sepanjang malam.

2. Minimum terdiri dari 7 channels, tidak diawasi secara langsung seperti tipe pertama.

3. Portable sleep apnea testing yang lebih dikenal dengan sebutan perekaman kardio-respiratori, hanya terdiri dari perekaman nafas dan jantung.

4. Apnea screening, hanya merekam aliran udara di hidung dan kadar oksigen.

American Academy of Sleep Medicine (AASM), mengakui pemeriksaan Tipe 1 dan 3  sebagai pemeriksaan standar untuk mendiagnosa OSA(3), sementara Tipe 4 masih dianggap sebagai alat penyaring saja. Hanya saja, pada pemeriksaan tipe 3 diharuskan adanya tenaga berkualifikasi khusus yang membaca serta menganalisa hasil pemeriksaan secara manual, setara seperti pada tipe 1.

Tidak semua pasien dapat menjalankan pemeriksaan tipe 3 dan 4. AASM mensyaratkan juga bahwa hanya pasien dalam kondisi khusus saja yang dapat melakukannya. Kondisi tersebut antara lain, sakit berat, diduga menderita OSA berat dan tidak dicurigai menderita gangguan tidur lain selain OSA.

Sumber:

1.  Kushida et al, 2005

2.  AASM Task Force, 1999

3.  Collop et al, 2007

Iklan
%d blogger menyukai ini: