Sepuluh Persen Anak Mendengkur & Derita Sleep Apnea

Penilitian bertajuk PANIC, Physical Activity and Nutrition in Children di Finlandia, mengungkapkan fakta mengejutkan, sepuluh persen dari anak usia 6 sampai 8 tahun ternyata mendengkur dan menderita sleep apnea.

Ngorok dan mendengkur menyimpan gangguan yang tak bisa diremehkan, apalagi bagi anak-anak. Dengkuran anak bisa saja pelan, tetapi gangguan nafas tetap terjadi. Henti nafas saat tidur atau dikenal dengan sebutan sleep apnea, pada orang dewasa telah dikenal menyebabkan hipertensi, diabetes, penyakit jantung hingga stroke. Namun pada anak-anak akibatnya bisa lebih memprihatinkan, langsung pada perilaku dan tumbuh kembangnya.

Ngorok pada anak disebabkan oleh saluran nafas atas yang menyempit saat tidur. Akibatnya secara periodik nafas tersumbat. Saat sesak, anak akan terbangun sejenak untuk kembali membuka jalan nafas. Lalu ia tertidur kembali tanpa sadar ia terbangun. Episode ini terjadi berulang kali sepanjang malam hingga proses tidur jadi terpotong-potong. Anak pun bangun tak segar dan terus mengantuk sepanjang hari.

Hanya saja, manifestasi kantuk berlebihan pada anak akan berbeda dibanding dewasa. Untuk melawan rasa kantuk, anak malah menjadi hiperaktif. Ia pun mengalami kesulitan untuk mempertahankan konsentrasi. Gangguan kemampuan menyerap pelajaran juga turut mengikuti. Terakhir, tahukah Anda bahwa proses tumbuh kembang anak terjadi pada saat tidur?

Dalam penelitian yang diterbitkan pada the European Journal of Pediatrics ini ditemukan bahwa penyebab utama sempitnya saluran nafas pada anak-anak ini adalah pembengkakkan amandel dan adenoid serta struktur wajah-rahang yang kecil. Bukan kegemukan seperti yang selama ini dipercaya, walau diakui kegemukan menjadi faktor yang memberatkan.

Ketika anak mendengkur setiap malam, ia harus diperiksakan tidurnya untuk mengetahui apakah terjadi gangguan nafas atau tidak. Pemeriksaan tidur di laboratorium tidur adalah pemeriksaan rutin untuk mendiagnosa sleep apnea pada anak. Dengan menggunakan polisomnografi, anak dilekatkan dengan sensor-sensor untuk merekam proses tidurnya. Prosedur ini sama sekali tidak menyakitkan. Malah menjadi pengalaman unik yang menyenangkan bagi anak. Jauh hari anak sudah diperkenalkan dan dipersiapkan dengan prosedur yang akan dilakukan.

Para ahli menekankan pentingnya mengatasi mendengkur sejak usia sedini mungkin. Ini untuk menghentikan laju kerusakan yang bisa diakibatkan sleep apnea. Perlu diingat, potensi anak tumbuh saat tidur. Jika terlambat, kita tak dapat mengulang proses itu lagi.

Akhir kata, para ahli mengingatkan bahwa angka satu dari sepuluh anak ini bukan main-main. Anak dengan sleep apnea bisa alami gangguan pada tumbuh kembang dan perilakunya. Kualitas anak ditentukan oleh kualitas tidurnya.

Gadis Kecil Itu Harusnya Bisa Terlelap

Membaca Kompas pagi ini, 30 Juni 2011 berjudul “Gadis Kecil Ini Tak Pernah Terlelap” tentang kisah seorang Mahira Mujahida (9 tahun) yang mengalami micrognathia, hingga tak pernah terlelap tidurnya di malam hari. Diceritakan, bahwa ia tak pernah tidur atau istirahat. Bahkan saat tidur pun matanya tak terpejam. Namun dilanjutkan juga bahwa Mahira mendengkur keras dalam tidurnya. Dijelaskan juga bahwa ini semua mengarah pada henti nafas saat tidur atau sleep apnea.

Sleep Apnea

Sleep apnea, adalah gangguan tidur berupa henti nafas berulang-ulang saat tidur. Namun, henti nafas yang dialami disebabkan oleh penyumbatan saluran nafas. Akibatnya, walau gerak nafas tetap ada, udara tak dapat masuk ataupun keluar. Tak terjadi pertukaran udara! Dan ini hanya terjadi pada saat tidur, hingga si penderita tak tahu apa-apa.

Penderitanya mempunyai dua ciri utama, yaitu tidur mendengkur dan kantuk berlebihan di siang hari. Dengkuran terjadi sebagai akibat dari peningkatan tekanan di saluran nafas saat menyempit. Dinding saluran nafas yang lunak tersebut pun bergetar. Penyempitan terjadi karena pada saat tidur, saluran nafas melemas.

Sementara kantuk berlebihan (hipersomnia) disebabkan oleh proses tidur yang terpotong-potong. Saat sesak, mekanisme tubuh akan membangunkan otak sejenak. Namun walau gelombang otak tampak terbangun singkat, si penderita tak menyadarinya. Ia tetap tidur. Tetapi episode bangun singkat (microarousal) ini sudah memotong proses tidur. Akibatnya kualitas tidur penderita sleep apnea jadi buruk. Walau ia cukup tidur, ia tetap bangun tak segar dan terus mengantuk. Itu sebabnya bisa dikatakan bahwa Mahira tak pernah tidur lelap.

Akibat Sleep Apnea Pada Anak

Pada orang dewasa, akibat dari sleep apnea tak main-main. Sleep apnea menyebabkan turunnya kuralitas hidup, disfungsi seksual, hipertensi, berbagai gangguan jantung, diabetes, stroke, hingga kematian. Hanya disesalkan di Indonesia hal ini rupanya belum mendapatkan perhatian yang sesuai.

Sementara pada anak, akibatnya lebih memprihatinkan. Sleep apnea langsung berakibat pada daya tahan tubuh dan proses tumbuh kembangnya.

Ya, daya tahan tubuh selama ini kita tahu ditingkatkan lewat berbagai asupan makanan bergizi. Tapi sadarkah Anda, bahwa sistem daya tahan tubuh kita bekerja optimal hanya pada saat tidur?

Sementara proses tidur yang terpotong-potong langsung mengganggu hormon pertumbuhan yang seharusnya berkadar tinggi pada tahap tidur dalam (N3). Akibatnya anak-anak yang menderita sleep apnea sering berpenampilan kecil dan kurang berat badannya. Begitu pula dengan perkembangan kognitif, berbagai penelitian sudah menunjukkan bahwa anak dengan sleep apnea mempunyai prestasi akademis yang lebih rendah dibanding yang sehat. Salah satu penelitinya adalah dokter David Gozal yang menuangkan hasil penelitiannya pada Official Journal Of The American Academy Of Pediatrics pada September 1998.

Para guru dan pembimbing anak yang tidur mendengkur, sering kali melaporkan kurangnya kemampuan konsentrasi serta perilaku yang cenderung hiperaktif. Ini sebenarnya merupakan manifestasi kantuk berlebihan. Anak dengan kantuk berlebihan, cenderung lebih aktif untuk mengatasi kantuknya. Ia pun lebih emosional dan rewel.

Diagnosa Dan Perawatan

Sleep apnea pada anak termasuk gangguan yang cukup sering ditemui. American Sleep Apnea Association menyatakan sekitar 3% anak menderita sleep apnea. Sementara penelitian di Thailand Selatan pada anak-anak usia sekolah mendapati 8,5% mendengkur dan 0,68% mengalami sleep apnea. Ya, tak semua anak yang mendengkur mengalami sleep apnea.

Pemeriksaan anak yang mendengkur meliputi pemeriksaan fisik saluran nafas dan pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Dari laboratorium tidur, kita akan mendapatkan fungsi-fungsi tubuh selama tidur. Pemeriksaan dengan menggunakan alat bernama polisomnografi (PSG) ini merekam gelombang otak tidur, fungsi-fungsi nafas dan jantung serta posisi tidur. Diagnosa baru bisa ditegakkan setelah mendapatkan angka rata-rata gangguan nafas per jam, Apnea-Hyponea Index (AHI). Pada anak, AHI 1,5 kali per jam, sudah menunjukkan diagnosa sleep apnea.

Penyebab sleep apnea pada anak bukanlah kegemukan. Yang paling sering justru diakibatkan oleh bengkaknya amandel dan adenoid hingga mempersempit saluran nafas. Hingga perawatan utama nantinya akan ditujukan pada kedua kelenjar tersebut.

Sedangkan pada beberapa kasus, sleep apnea anak disebabkan oleh kecilnya struktur rahang bawah, hingga saluran nafas menjadi sempit. Inilah yang dialami oleh Mahira. Itu sebabnya perawatan yang disarankan adalah pembedahan untuk memajukan rahang bawah agar saluran nafasnya jadi lebih luas. Akan tetapi proses pembedahan ini mahal sekali. Sementara pilihan terapi lain juga sebaiknya diperkenalkan terlebih dahulu. Misalkan dengan penggunaan CPAP.

CPAP (continuous positive airway pressure) adalah sebuah alat yang dihubungkan ke masker hidung, yang digunakan pada pasien saat tidur. Penggunaan CPAP diperkenalkan oleh Colin Sullivan dalam Lancet tahun 1982. Kini CPAP digunakan secara luas bagi penderita sleep apnea dewasa di seluruh dunia. Sementara pada anak, seperti tertuang dalam A Clinical Guide to Pediatric Sleep edisi kedua, penggunaan CPAP dapat juga dilakukan jika indikasinya sesuai.

Penggunaan CPAP pada anak tak harus seumur hidup. Seiring dengan pertumbuhan dan perubahan struktur saluran nafas, ada kemungkinan CPAP tak diperlukan lagi. Sebagai persiapan pembedahan, CPAP juga amat disarankan, terutama pada kasus-kasus sleep apnea parah. Ini ditujukan agar kondisi pasien lebih baik dan siap untuk menjalani operasi.

——————————————————————–

Sleep apnea mudah dikenali dan dapat dirawat dengan efektif. Sayang sekali jika dengkuran anak kita abaikan begitu saja. Ingat, tidur anak akan menjamin kualitas hidup, kecerdasan dan kesehatannya. Kualitas anak yang cemerlang, juga akan menjamin masa depan Indonesia yang cerah.

 

Anak Hiperaktif & Gangguan Tidur

Maya, usia 6 tahun dibawa ke dokter karena mendengkur dan tampak sesak nafas saat tidur. Anak tersebut tampak lincah dan tak bisa diam. Ia selalu bergerak dan menanyakan segala hal di sekitarnya. Walau demikian, si ibu dengan sedih menjelaskan bahwa Maya kemungkinan menderita ADHD ringan.

ADHD (attention-deficit/hyperactivity disorder) adalah gangguan perilaku yang berkaitan dengan proses tumbuh kembang anak yang ditandai dengan hiperaktifitas, impulsivitas dan kurangnya kemampuan untuk berkonsentrasi. Meskipun Maya tidak dikategorikan sebagai ADHD, si Ibu tidak bisa mengabaikan keadaan anaknya yang amat aktif, tak bisa diam dan mudah rewel tersebut. Dan ia amat terkejut sewaktu dokter menjelaskan bahwa kondisi hiperaktifitas anaknya tersebut mungkin sekali berkaitan dengan tidur ngorok Maya.

Sleep Apnea Pada Anak

Sleep apnea adalah gangguan tidur yang ditandai dengan mendengkur dan rasa kantuk berlebih. Sleep apnea, yang artinya henti nafas saat tidur, pada orang dewasa menjadi penyebab hipertensi berbagai penyakit jantung, diabetes hingga stroke. Pada anak, sleep apnea, menjadi lebih serius karena ternyata berhubungan langsung dengan proses tumbuh kembangnya.

Coba perhatikan anak yang sedang tidur ngorok. Pada suatu saat suara ngorok tersebut akan hilang, dan anak tampak sesak seolah tercekik. Yang terjadi sebenarnya adalah penyempitan saluran nafas yang mengakibatkan udara tidak dapat masuk atau keluar. Gerakan nafas akan menghebat karena sesak. Akibat oksigen yang merosot dan kadar karbondioksida yang meroket, si anak akan terbangun disertai suara hentakan keras seolah nafas baru terbebas. Episode bangun ini disebut sebagai episode bangun mikro (micro arousal) karena walau gelombang otak terbangun, namun si anak tidak terjaga. Dan episode ini terus berulang sepanjang malam hingga mengganggu kualitas tidur. Akibatnya, ia akan terus berada dalam kondisi kurang tidur, walaupun sebenarnya sudah tidur cukup. Anak, untuk melawan rasa kantuknya justru jadi semakin aktif secara fisik.

Sekarang bayangkan jika anak Anda yang normal, dalam tidurnya setiap 20-30 detik sekali ditepuk hingga terbangun. Apa yang terjadi? Tentu di siang hari dia akan rewel, sulit berkonsentrasi dan cenderung hiperaktif. Bagaimana jika setiap tidur ini terjadi? Tak heran jika banyak anak penderita sleep apnea yang tampilannya jadi mirip dengan ADHD.

Belakangan, wacana sleep apnea banyak dibicarakan. Para dokter anak pun sudah amat peka terhadap masalah ini. Hanya sayang, kita masih terlalu terpaku pada artikel-artikel yang menyatakan bahwa anak gemuklah yang biasanya ngorok. Padahal ini tidak sepenuhnya benar. Seperti Maya halnya. Dia termasuk anak yang tidak gemuk. Malah cenderung langsing. Berdasarkan berbagai penelitian di Korea, ras Asia tidak perlu gemuk untuk menderita sleep apnea. Ini disebabkan oleh struktur rahang kita yang lebih sempit dan leher yang lebih pendek dibanding ras Eropa.

Tidur pada Anak

Proses tidur amatlah penting bagi seorang anak. Karena proses tumbuh kembang justru terjadi pada saat tidur. Pada tahap tidur dalam, dikeluarkan growth hormone yang berperan dalam proses pertumbuhan. Sedangkan pada tahap tidur mimpi, dipercaya sebagai tahap tidur dimana kemampuan kognitif, mental dan emosional dijaga.

Dengan adanya sleep apnea, proses tidur akan terpotong-potong. Akibatnya proses tumbuh kembang pun terganggu. Kecerdasan dan potensi-potensi mental lain yang seharusnya tumbuh dan berkembang saat tidur, tidak tumbuh. Kondisi emosionalnya pun buruk, anak jadi rewel dan mudah marah. Karena mengantuk, anak juga semakin aktif dan sulit memusatkan perhatian.

Hiperaktifitas dan Tidur

Anak yang memang terdiagnosa ADHD pun harus tetap diperhatikan tidurnya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak ADHD menunjukkan kemajuan yang berarti setelah dirawat gangguan tidurnya. Sebuah artikel di jurnal kedokteran SLEEP bahkan mengatakan bahwa anak ADHD merespon terapi stimulan dengan baik karena mereka mengalami kantuk berlebih (excessive daytime sleepiness.) Penelitian ini juga menyatakan bahwa 50% dari anak ADHD menderita sleep apnea, sedangkan pada anak normal hanya 22% yang menderita. Gangguan tidur lain yang juga sering ditemui pada anak ADHD adalah periodic limb movements in sleep (PLMS).

Penelitian lain yang dilakukan di Taiwan tahun 2004 menganjurkan agar seorang anak yang didiagnosa dengan ADHD juga diperhatikan tidurnya. Karena mereka menemukan bahwa penderita ADHD yang juga menderita sleep apnea memiliki kondisi yang lebih buruk dibanding anak ADHD tanpa gangguan tidur. Lebih jauh lagi, di tahun 2007 kelompok yang sama, menerbitkan penelitian mereka yang menunjukkan hubungan sleep apnea dengan terapi ADHD. Pada penelitian tersebut, mereka membuktikan bahwa anak ADHD penderita sleep apnea, bisa menghindari efek samping pengobatan ADHD jika sleep apnea-nya dirawat.

Untuk anak penderita ADHD pengobatan yang paling sering diberikan adalah golongan stimulan. Namun jadwal pengobatan yang kurang tepat malah dapat menyebabkan anak sulit tidur sehingga gejala ADHD semakin menjadi parah. Untuk itu, sesuaikanlah pemberian obat dengan jadwal tidur anak.

Perawatan

Seperti Maya, anak yang mendengkur harus menjalani pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Dalam pemeriksaan ini anak akan direkam fungsi-fungsi tubuhnya selama tidur sepanjang malam. Yang mengejutkan pada kasus Maya, ia mengalami henti nafas sebanyak 106 kali perjam.
Pemilihan terapi harus berdasarkan pemeriksaan tidur dan pemeriksaan THT yang seksama. Kebanyakan sleep apnea pada anak disebabkan oleh pembesaran adenoid dan tonsil sehingga terapi lebih diarahkan pada kedua organ tersebut. Namun ada juga kemungkinan harus menggunakan CPAP (continuous possitive airway pressure).

Setelah Maya menjalani perawatan, kini ia tidur nyaman, tidak mendengkur, kantuk berlebih hilang, dan tidak hiperaktif lagi. Dan keluarga pun dapat tidur tenang mengetahui bahwa segala potensi dapat tumbuh pesat di saat Maya tertidur.

Anak Mendengkur

Mendengkur pada anak juga harus diwaspadai. Periode henti nafas yang terjadi akan mengakibatkan terpotongnya proses tidur. Hanya saja, jika padaorang dewasa akan tampak sebagai kantuk berlebih, pada anak-anak, mereka justru semakin aktif untuk melawan rasa kantuknya. Tak heran jika mereka terkesan hiperaktif dan sulit berkonsentrasi. Gejala-gejala OSA pada anak tidak se-khas pada orang dewasa.

anak mendengkur

Gejala OSA pada anak(1,2):

  • Mendengkur
  • Tampak sesak saat tidur
  • Kantuk berlebih di siang hari
  • Bernafas lewat mulut
  • Pembesaran amandel dan adenoid
  • Gelisah saat tidur
  • Gangguan perilaku berupa sifat agresif, hiperaktif dan sulit berkonsentrasi.

OSA pada anak dapat mengganggu proses pertumbuhan. Pada tahap tidur dalam tubuh anak mengeluarkan hormon pertumbuhan yang penting dalam pengaturan tumbuh kembangnya(3). Proses tidur yang terpotong juga akan berakibat langsung pada kemampuan mental dan emosionalnya(4,5). Untuk itu mengatasi mendengkur pada anak bersifat penting dan harus dilakukan segera.

Sumber:

  1. Muzumbar H dan Arens R, 2008
  2. Guilleminault et al, 2004
  3. Chan et al, 2004
  4. Rosen et al, 2004
  5. Emancipator et al, 2006