Sleep Apnea Meningkatkan Resiko Kematian Hingga 46%

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Naresh Punjabi dan kawan-kawan dari Johns Hopkins University menemukan bahwa resiko kematian pada penderita sleep apnea berat adalah 46%. Resiko ini jelas nampak pada pria usia 40-70 tahun.

Mereka mengatakan bahwa orang-orang dengan gangguan nafas selama tidur ini mempunyai resiko lebih tinggi untuk mengalami kematian oleh berbagai sebab dibandingkan dengan orang lain yang tidak menderita sleep apnea.

Sleep apnea adalah sebuah gangguan tidur berbahaya yang ditandai dengan tidur mendengkur dan rasa kantuk berlebih di siang hari. Lebih jauh lagi, sleep apnea mengakibatkan hipertensi, berbagai gangguan jantung, diabetes dan stroke. Sleep apnea terjadi akibat penyempitan saluran nafas selama tidur. Akibatnya pasokan oksigen akan berulang kali terhenti sepanjang malam.

Penelitian yang diterbitkan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia pada Public Library of Science journal PLoS Medicine ini meneliti 6.400 orang selama 8 tahun. Mereka yang telah terdiagnosa dengan sleep apnea berat lebih rentan 46% mengalami kematian oleh berbagai sebab.
Dalam populasi penelitian, diantara pria, 42,9% tidak mempunyai gangguan nafas selama tidur, 33,2% terdiagnosa dengan sleep apnea ringan, 15,7 % sedang dan 8,2%-nya mengalami sleep apnea yang parah. Sedangkan pada wanita 25% diantaranya terdiagnosa dengan sleep apnea ringan, 8% sleep apnea sedang dan 3% nya sleep apnea berat.

Menurut para peneliti tersebut, mereka yang dengan sleep apnea berat, dapat berhenti nafas selama 20-30 detik dan terbangun (namun tidak sampai tersadar dari tidur.) Derajat keparahan sleep apnea dilihat dari jumlah henti nafas perjam (AHI/apnea hypopnea index) dimana 0-5 kali perjam artinya mendengkur normal tanpa henti nafas, 5-15 kali perjam sleep apnea ringan, 15-30 kali perjam sleep apnea sedang dan lebih 30 kali perjam berarti sleep apnea berat. Pemeriksaan tidur dilakukan di laboratorium tidur dengan menggunakan alat polysomnography (PSG.)

Dibandingkan dengan pengalaman kami di Mitra Kemayoran, sleep apnea terberat pernah mencapai 109 kali perjam dengan durasi henti nafas terlama mencapai 120-an detik dan kadar oksigen terendah mencapai kurang dari 50%! Tentu saja ini amat berbahaya.

Data dari the National Heart, Lung, and Blood Institute menyebutkan bahwa 12 juta penduduk dewasa Amerika menderita sleep apnea. Sedangkan menurut the National Sleep Foundation diperkirakan mencapai 18 juta orang. Sayangnya di Indonesia belum ada penelitian berskala nasional yang memperhatikan gangguan tidur yang fatal ini. Mengingat struktur rahang ras Asia yang lebih sempit, dicurigai Indonesia memiliki lebih banyak penderita sleep apnea.

Menurut Dr. David Rapoport dari New York University yang juga turut serta dalam penelitian, perawatan terbaik saat ini adalah dengan menggunakan CPAP (continuous positive airway pressure), berupa masker yang memberikan udara bertekanan untuk membuka saluran nafas selama tidur. Sementara alternatif lainnya merupakan pembedahan, termasuk didalamnya pengangkatan amandel jika diperlukan. Pilihan lain adalah dengan menggunakan alat mulut yang bisa mendorong rahang bawah maju.

Mata yang Tak Pernah Lelah

Pekerja shift riskan menderita insomnia.

Koran Jakarta, Minggu, 18 April 2010

“Saya tidak bisa tidur, dokter,” seorang perempuan setengah baya mengeluh kepada Dr Andreas Prasadja RPSGT, sleep physician di Klinik Gangguan Tidur Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta. Tak tanggung-tanggung, perempuan itu juga mengaku, sepanjang setahun terakhir, dia tak pernah tidur pulas. Kasus yang cukup pelik. Serangkain wawancara kemudian dilakukan Andreas untuk mencari akar permasalahan pasiennya itu.

Pada satu sesi, Andreas curiga ketika sang pasien mengaku kerap memakai kaus kaki ketika hendak tidur. “Kenapa pakai kaus kaki? Dingin atau ada yang merasa tidak enak?” Tanya Andres. “Kaki Saya terasa sakit, dok,” jawab si perempuan. “Bingo!” batin Andreas yang yakin inti masalahnya ada pada kebiasaan itu. Dalam istilah kedokteran, gangguan tidur yang dialami pasien itu disebut Restless Leg Syndrome (RLS) atau sindrom tungkai gelisah.

« Tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan tempat tinggal, juga dapat berpotensi menderita insomnia sementara. »

RLS merupakan diagnosa banding terhadap insomnia, dengan gejala penderita merasa tidak nyaman dengan kakinya. Hal itu bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa seperti kesemutan, pegal hingga nyeri. Namun, si penderita kerap kesulitan menjelaskan sakit yang dia alami tersebut. “Tapi ciri pada umumnya, saat berbaring, kaki merasa tidak nyaman dan kerap digerak-gerakkan penderita karena berusaha untuk menghilangkan sakit itu.

Dan mereka suka mengenakan kaus kaki,” ujar Andreas. Lantaran merasa tidak nyaman tadi, penderita juga punya kebiasaan menjulurkan kaki ke lantai, menepuk-nepuknya berharap sakit dapat hilang atau bangun dari ranjang untuk berjalan beberapa langkah. Tentu, sesekali sakit itu meredup dan penderita berusaha tidur lagi.

Namun ketika berbaring beberapa menit, nyeri itu muncul lagi dan itu terjadi berulang kali sepanjang malam. “Akibatnya, mereka sama saja tidak tidur,” ujar Andreas. Ada pula ciri lain yang melekat pada penderita RLS. Mengigau, ya, berceloteh tanpa sadar itu bisa dikatakan kebiasaan lainnya. Kemudian kerap diikuti mendengkur atau mengalami sleep apnea alias berhenti napas beberapa saat ketika tidur. RLS, dalam istilah Andreas ibarat sleep disorder in disorder. Apa yang dialami pasien Andreas itu, dalam skala terbatas sebenarnya kerap menghantui banyak orang. Tidak percaya? Pernahkah Anda mendengar istilah insomnia? Ya, sederhananya seperti itulah RLS.

Sementara dan Permanen

Secara umum, insomnia dibagi menjadi dua kelompok; Insomnia sementara dan insomnia permanen. Beberapa hal yang menyebabkan insomnia sementara antara lain; Kesulitan tidur yang diakibatkan ketidakstabilan emosional, mengalami stres, kesedihan atau bahkan perasaan girang yang berlebihan. Insomnia kelompok ini dapat dipicu beberapa hal. Misalnya, para pekerja yang memakai aturan shift, memiliki peluang yang cukup besar menderitanya. Hal itu karena biologis tubuh dipaksa bangun dalam kondisi yang tidak sesuai atau tidak normal dengan jam biologisnya.

Tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan tempat tinggal, juga dapat berpotensi menderita insomnia sementara. Biasanya hal ini terjadi bagi mereka yang semula tinggal di daerah yang lengang dan tenang, mendadak harus pindah ke tempat tinggal yang berisik seperti di pusat kota.

Sedangkan insomnia pemanen dapat disebabkan gastroesophagel refl ux atau naiknya asam lambung saat berbaring. Bisa pula berasal dari sindrom tungkai gelisah atau RLS tadi atau bersamaan dengan sleep apnea yang menimbulkan nyeri dan membuat penderitanya tidak bisa tidur. Kondisi psikologis yang tidak stabil dan depresi juga dapat memicu si penderita yang seakan matanya terus terjaga, padahal fi siknya sudah meronta dan lelah ini.

Berdasarkan hasil penelitian di Amerika Serikat, hampir sepertiga penduduk negeri Paman Sam itu, menderita gangguan tidur. Sementara di Indonesia, gangguan tidur menyerang lantaran pola jam kerja yang bervariasi. Pekerjaan-pekerjaan yang mengakibatkan terganggunya siklus tidur besar kemungkinan menjangkiti profesi perawat, dokter, dan petugas keamanan. Bahkan penelitian lain menyebut bahwa 70 persen perawat di Jakarta mengalami insomnia.

Mendengkur

Menghadapi penderita gangguan tidur, menurut Andreas perlu dilakukan tindakan yang bertahap. Gejala gangguan tidur itu tidak bisa sekaligus dihilangkan. Tapi satu per satu. Bagi penderita RLS, misalnya, Andreas sangat memprioritaskan agar si penderita secara bertahap dapat merasakan tidur yang lebih nyaman. Tindakan pertamanya adalah berupa menghilangkan kebiasaan ngorok alias mendengkur tadi. “Hal ini agar kualitas tidur si penderita membaik,” ujar dia. Bila hal itu sudah tercapai, tindakan selanjutnya adalah menerapi RLS itu. Caranya dengan bantuan neurolog, ahli saraf. Hal ini karena gangguan tidur erat kaitannya dengan kondisi psikis seseorang yang dianggap tidak normal atau labil. Parameter keberhasilan terapi saraf ini adalah si pasien tidak akan mengigau lagi selama tidur. Selain itu, sebenarnya ada beberapa cara yang dapat dilakukan penderita secara mandiri untuk membantu penyembuhannya. Hal itu bisa dilakukan dengan cara membiasakan diri dengan pola hidup normal dan sehat. Konkretnya, misalnya, dengan pola tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap harinya. Olahraga teratur setiap pagi dan membiarkan tubuh terpapar Matahari juga akan lebih baik. Hal itu juga perlu dukungan dari lingkungan yang kondusif. Misalnya, dengan membuat kamar tidur dan ranjang senyaman mungkin, menjaga suhu udara dan aliran udara di kamar dengan pas dan baik. Termasuk sangat disarankan tidur dengan kondisi penerangan yang minim atau bahkan gelap sekaligus. Membiasakan diri mandi dengan air hangat, mendapatkan pijatan atau meditasi sebelum tidur, juga sangat membantu agar tidur pulas tercapai. _ teguh nugroho

Link: http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=50136

Sleep Disorder Clinic, Solusi Atasi Gangguan Tidur

HEALTH CHECK, Tabloid Mom & Kiddie, Edisi 20 TH IV (26 April – 9 Mei 2010)

RS Mitra Kemayoran Jakarta
Sleep Disorder Clinic, Solusi Atasi Gangguan Tidur

Teks: Dian Wisudani Foto: Aris Margono

Pernahkah Anda merasa kantuk berlebih pada siang hari? Selalu merasa lelah? Apakah daya ingat Anda menurun atau konsentrasi menurun? Apakah vitalitas dan motivasi Anda terasa menurun? Atau tidur Anda mendengkur? Tenang! Kini telah hadir Sleep Disorder Clinic dengan slogan One Stop Diagnostic and Treatment di RS Mitra Kemayoran Jakarta akan membantu Anda mengatasi segala gangguan tidur. Benarkah? Seperti apa ya terapi? Yuk simak, kutipan berikut!

Klinik Tidur Pertama di Indonesia

Berangkat dari kurangnya perhatian masyarakat kita terhadap kesehatan tidur, RS Mitra Kemayoran Jakarta berinisiatif membuka Laboratorium Tidur (Sleep Laboratory). Tepatnya, tahun 2002 Laboratorium Tidur resmi dibuka. Sayang, saat itu belum ada dokter yang khusus menangani kesehatan tidur. Sehingga fungsi Laboratorium Tidur belum berjalan optimal. Laboratorium Tidur mulai dikembangkan menjadi Klinik Gangguan Tidur (Sleep Disorder Clinic) sebagai klinik terpadu pertama di Indonesia yang memberikan perhatian khusus dalam menangani gangguan tidur sejak kehadiran dr. Andreas Prasadja, RPSGT. Semua ini berawal dari dirinya yang diperkenalkan kedokteran tidur oleh pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Kebetulan saat itu, rumah sakit sudah memiliki laboratorium tidur namun belum ada dokternya. Akhirnya, dr. Andreas diminta untuk mempelajarinya. Singkat cerita pria kelahiran 16 Mei 1975 silam ini berhasil mengikuti ujian tentang kesehatan tidur dan mendapatkan gelar RPSGT (Registered Polysomnographic Technologist) di Amerika Serikat tahun 2008. Dan ternyata, dr. Andreas adalah dokter tidur pertama di Indonesia. So, Moms or Dads bahkan si buah hati yang punya masalah dengan gangguan tidur akan ditangani langsung oleh seorang dokter yang telah diakui kemampuannya baik di dalam maupun di luar negeri. Seru bukan!

Di klinik ini, Moms or Dads juga si buah hati akan diberikan pelayanan seperti konsultasi, edukasi, pemeriksaan hingga perawatan secara lengkap untuk mengatasi berbagai gangguan tidur. Pun didukung perawat yang sudah terlatih khusus menangani pasien di klinik tersebut.

Dari Mendengkur Sampai Insomnia

Gangguan tidur seperti mendengkur, sindroma tungkai gelisah, narkolepsia dan insomnia mendapat perhatian khusus klinik tersebut. Mendengkur misalnya, dianggap hal biasa bagi kebanyakan orang. Dengkuran yang keras sering diasosiasikan tidurnya sangat lelap. Tapi tahukah Anda ada bahaya yang mengancam dibalik dengkuran saat tidur. Bahaya ini tidak hanya mengincar orang dewasa, pun pada anak-anak harus diwaspadai. Bahaya tersebut dikenal dengan sebutan Obstructive Sleep Apnea (OSA) yakni henti nafas waktu tidur yang disebabkan oleh menyempitnya jalan nafas. Periode henti nafas yang terjadi akan mengakibatkan terpotongnya proses tidur. Hanya saja, pada orang dewasa akan tampak sebagai kantuk berlebih, pada anak-anak justru semakin aktif untuk melawan rasa kantuknya. Gejala-gejala OSA pada anak-anak diantaranya; mendengkur, tampak sesak saat tidur, kantuk berlebih pada siang hari, bernafas lewat mulut, pembesaran amandel dan adenoid, gelisah saat tidur, gangguan perilaku seperti sifat agresif, hiperaktif dan sulit berkonsentrasi.

OSA pada anak dapat mengganggu proses pertumbuhan. Karena, saat tidur dalam tubuh anak akan mengeluarkan hormon pertumbuhan yang penting dalam pengaturan tumbuh kembangnya. Proses tidur yang terpotong juga berakibat langsung pada kemampuan mental dan emosionalnya.

Pemeriksaan Polysomnography (PSG)

Sebelum menjalani terapi, alumnus UNIKA Atmajaya Jakarta ini menjelaskan bahwa pasien harus melakukan pemeriksaan Polysomnography (PSG) untuk menegakkan diagnosa gangguan tidur yang mungkin Anda atau si buah hati Anda derita. Juga sebagai pijakan awal menentukan terapi gangguan tidur (OSA misalnya) dan untuk mengevaluasi hasil terapi yang telah dilakukan. PSG mampu merekam segala sesuatu yang terjadi mulai dari saat pasien tertidur, melewati tahapan-tahapan tidur serta setiap proses perubahan nafas, tegangan otot, gerakan mata yang terjadi dalam setiap tahap tidur, hingga saat bermimpi dan akhirnya terbangun.

Tahap-tahap Pemeriksaan PSG

Pemeriksaan PSG tidak memerlukan persiapan khusus selain kondisi rambut yang bersih, pemakaian minyak rambut dan sejenisnya tidak diperkenankan. Pemasangan alat ini dilakukan pukul 21.00 WIB. Tapi pasien harus sudah berada dalam kamar pukul 19.00 WIB untuk beradaptasi terlebih dulu dengan suasana tidur yang baru. Esok paginya, pukul 06.00 WIB alat sudah dilepas dan pasien bisa langsung mandi untuk beraktivitas seperti biasa. Hasil perekaman akan dibaca dan dinilai oleh dokter untuk kemudian dibuatkan laporannya. Proses ini biasanya berlangsung selama 2-3 hari. Pasien dapat bertemu kembali dengan dokter untuk mengambil hasil dan berkonsultasi tentang langkah selanjutnya. Jangan takut, pemeriksaan PSG tidak menyakitkan, Moms or Dads bahkan si kecil akan merasa aman dan nyaman.

Dengkuran Hilang, Tidur pun Lelap

Setelah dilakukan pemeriksaan PSG bila hasilnya menunjukkan pasien menderita OSG atau sleep apnea dapat dimulai dengan cara konservatif seperti menurunkan berat badan, tidur miring, serta menghindari alkohol dan obat-obatan hipnotik. Jika dinilai kurang memadai, dilanjutkan dengan tindakan invasif atau pembedahan. Namun pilihan utama untuk merawat sleep apnea yakni dengan mengunakan masker hidung yang dihubungkan dengan unit Continuous Positive Airway Pressure (CPAP).
dr. Andreas menuturkan, ada berbagai jenis masker yang digunakan pasien diantaranya:
1. Masker Hidung atau Nasal Mask.
Masker ini bisa menutupi hidung dengan sempurna dan menggunakan pengikat yang dapat menjaga masker tetap terpasang dengan baik selama tidur.
2. Masker Hidung & Mulut atau Full Face Mask.
Masker jenis ini biasanya hanya diberikan pada penderita sleep apnea yang bernafas melalui mulut, meski telah mengenakan masker hidung.
3. Masker Bantalan Hidung atau Nasal Pillows/Cushions.
Masker ini tidak menggunakan banyak pengikat ke kepala dan mempunyai bantalan khusus yang masuk ke lubang hidung. Biasanya digunakan oleh penderita yang memiliki rasa takut dengan penggunaan masker. Masker ini sering juga dipilih karena tidak terlalu banyak ikatan di kepala.

Biaya Terapi

Penasaran ingin tahu berapa kocek yang musti keluar untuk sekali terapi? Memang tidak sedikit tapi bila dibandingkan dengan manfaat yang bisa Moms or Dads setelah menjalani terapi tidur ini. Biaya sekali pemeriksaan di laboratorium tidur berkisar 3 juta-an tergantung jenis gangguan tidur dan perawatannya. Tapi tidak semua gangguan tidur memerlukan pemeriksaan ini lho. Itupun diluar biaya obat bila memang diperlukan. Sedangkan biaya konsultasi cukup merogoh kocek sekitar 100 ribu-an rupiah.

dr. Andreas Prasadja, RPSGT
Praktisi Kesehatan Tidur
Klinik Gangguan Tidur
(Sleep Disorder Clinic)
RS Mitra Kemayoran
Jl. HBR Motik, Kemayoran, Jakarta 10630
Telp. 021 – 6545555 (hunting)
Perjanjian Telp. 021 – 6545007 (Direct)
sleepclinic@mitrakeluarga.com

Tidur Berkualitas, Bangun pun Badan Segar

dimuat di Intisari Mind, Body & Soul, 10

Saat bangun tidur, harusnya semangat pagi yang kita rasakan. Tetapi kadang badan kok malah lemas ya? Padahal rasanya tidur cukup nyenyak, malah lebih awal dari biasanya. Wah, kenapa ya hal ini bisa terjadi?

Tidur merupakan salah satu kebutuhan biologis yang harus dipenuhi oleh setiap orang selain makan dan bernapas. Sebagian besar waktu hidup seseorang dihabiskan dengan tidur. Bayangkan saja, untuk orang dewasa muda yang usianya berkisar 20-30 tahun, kebutuhan tidur yang harus dipenuhi berkisar 8,5 – 9,25 jam per harinya. Artinya, dari 24 jam sehari sekitar 1/3 hari dihabiskan untuk tidur.

Padahal banyak sekali orang di daerah perkotaan dan berada dalam usia produktif selalu dituntut dengan pekerjaan yang menumpuk dan seperti tidak ada habisnya. Hal ini dapat mengakibatkan kondisi kurang tidur. Kantuk berlebihan, badan lemas, dan rasa sebal yang ditimbulkan akhirnya berdampak pada produktivitas kerja. Tak hanya produktivitas, kualitas kerja pun bisa menurun karena kondisi badan yang tidak segar mempersulit konsentrasi. Tugas sehari-hari pun terhambat.

Proses dalam tidur

Sebenarnya tidur adalah sebuah proses aktif. Bukan seperti pandangan umum yang menganggap tidur adalah fase pasif dari siklus kehidupan, karena tampaknya kita hanya diam saja tidak bergerak. Proses aktif ini dapat dibuktikan dengan perekaman gelombang otak atau yang dikenal juga dengan elektroensefalografi (EEG) dengan alatnya yang disebut polisomnografi (PSG). PSG sendiri adalah sebuah perangkat laboratorium tidur yang mampu menganalisis peristiwa yang terjadi di dalam tubuh, termasuk gelombang otak selama kita tidur.

Andreas Prasadja, RPSGT, dokter pertama di Indonesia yang mengambil spesialisasi masalah tidur, menyatakan, proses dalam tidur atau bisa kita sebut dengan istilah “Arsitektur Tidur”, dibagi menjadi 2 fase yaitu fase REM (Rapid Eye Movement) dan fase NREM (Non Rapid Eye Movement). Fase-fase ini sangat penting dalam menunjukkan tidur yang berkualitas baik bila dilihat dari perekaman gelombang otak selama aktivitas tidur menggunakan PSG.

Hasil pemeriksaannya harus memenuhi syarat sebagai berikut: fase REM meliputi 20-25% dari seluruh waktu tidur, sedangkan fase NREM dibagi menjadi keadaan N1 sekitar 5% dari seluruh waktu tidur, N2 yang paling banyak di antara fase-fase lainnya yaitu 50% dari seluruh waktu tidur, dan yang terakhir yaitu N3, 20-25% dari keseluruhan waktu tidur.

Dalam siklus tidur, yang pertama akan dialami seseorang adalah fase N1. Pada fase ini orang mulai merasa mengantuk, perlahan-lahan mulai tertidur akan tetapi masih sangat mudah terbangun atau masih merasa mendengar pembicaraan orang di sekitarnya atau suara radio atau TV yang menyala. Tak lama kemudian tidur akan masuk ke fase N2, yang ditunjukkan dengan keadaan masih dapat dibangunkan dengan sentuhan atau panggilan yang berulang-ulang, meskipun benar-benar sudah dalam keadaan tidur. Sedangkan bila seseorang sudah masuk ke fase N3, kurang-lebih sepuluh menit dari fase N2, maka akan sulit sekali untuk dibangunkan. Inilah keadaan tidur paling dalam, tanpa mimpi dan akan timbul disorientasi atau kebingungan saat terbangun.

Lain halnya dengan fase REM, fase ini menunjukkan keadaan seseorang masuk ke dalam mimpi, yang selama satu siklus tidur akan mengalami 4-6 kali mimpi, yang mungkin akan diingat atau tidak saat terbangun keesokan harinya. Pada fase ini pun semua kemampuan gerak otot hilang sama sekali. Kemudian fase akan kembali ke N2 dan berulang-ulang.

Rincian persentase di atas sebenarnya agak sulit untuk dipahami. Sederhananya saja, menurut Ade, panggilan akrab dr. Andreas, tidur yang berkualitas dapat kita peroleh bila saat bangun kita merasa segar, kemudian siang harinya tidak merasa mengantuk, dan produktivitas kerja tidak terganggu. “Cukup tiga hal itu saja yang diperhatikan bila kita mau mengetahui tidur kita berkualitas atau tidak,” tambahnya.

Kondisi kurang tidur

Seperti diungkapkan di atas, bila tidur yang berkualitas tidak terpenuhi, maka seseorang akan jatuh ke dalam kondisi kurang tidur. Keadaan kurang tidur ini harus dianggap sebagai kondisi yang tidak hanya disebabkan karena jumlah tidur yang kurang, akan tetapi mungkin juga disebabkan oleh kualitas tidurnya pun berkurang. Dari segi jumlah jam tidur yang kurang bisa disebabkan karena penyakit yang menyebabkan gangguan tidur seperti insomnia. Selain itu juga banyak penyakit kronik yang menyebabkan gangguan tidur, antara lain tekanan darah tinggi, hipertiroid, nyeri tulang belakang, sindroma pramenstruasi, dan lain sebagainya. “Bila gangguan tidur seperti ini yang menyebabkan kurangnya jumlah jam untuk tidur, masih dapat diobati sesuai dengan penyakit yang mendasarinya dan juga dibantu oleh dokter spesialis tidur dengan pemberian terapi, baik obat-obatan atau mengubah kebiasaan tidur,” ujar Ade. Yang menjadi kesulitan terbesar dalam mengatasi kondisi kurang tidur, apabila penyebabnya adalah kurangnya kesempatan untuk beristirahat atau tidur, mungkin saja karena pekerjaan yang tidak ada hentinya dan tuntutan produktivitas yang sangat berat. Untuk kasus ini, tambah Ade, pemberian obat tidur atau cara lainnya tidak akan membantu karena kesempatan dan waktunya yang tidak ada. Hal-hal seperti ini yang akhirnya akan menyebabkan kondisi kurang tidur yang kronik.

Kondisi kurang tidur yang lama pun dapat dijumpai bila kualitas tidur buruk. Karena kualitas tidur yang buruk seseorang akan jatuh ke dalam keadaan hipersomnia atau kantuk yang berlebih yang dikenal pula dengan Excessive Daytime Sleepiness (EDS). Rasa kantuk yang dirasakan tidak pada tempat dan waktu yang semestinya. Pada pagi hari keadaan tubuh saat bangun dalam kondisi yang segar bugar, akan tetapi akan merasa mengantuk dan tertidur di tengah rapat atau seminar tengah hari. Selain itu ada juga beberapa gejala penyakit yang menyebabkan kualitas tidur menjadi buruk meski kelihatannya seseorang tertidur pulas. Pada banyak kasus, seseorang merasa tidur pulas, tapi di saat bangun ia masih merasa kurang segar dan beberapa jam kemudian mengantuk lagi. Gejala tersebut antara lain mendengkur atau sleep apnea yang memiliki bahaya kematian yang sangat tinggi. Bila seseorang memiliki kebiasaan mendengkur dalam tidur sebaiknya perlu dilakukan pemeriksaan rutin PSG untuk mengetahui mendengkurnya mengakibatkan henti napas yang berbahaya dan kualitas tidur yang buruk atau tidak. Karena mungkin pula pada sebagian orang ditemukan kualitas tidur yang baik walaupun mereka memiliki kebiasaan mendengkur.

Sleep apnea disebabkan oleh bentuk anatomis dari saluran pernapasan bagian atas ataupun bentuk rahang yang sempit. Akan tetap, bila ternyata mendengkur ini mengakibatkan gangguan pernapasan yang serius, ada baiknya menjalani terapi untuk memperbaiki kualitas tidurnya dan menghindarkannya dari penyakit-penyakit berbahaya seperti hipertensi, diabetes, gangguan jantung, dan stroke.

Jam biologis vs utang tidur

Sebenarnya untuk mendapatkan kualitas tidur yang baik kita perlu mengetahui dan menyadari mengenai konsep jam biologis dan juga utang tidur yang berbeda pada setiap individu. Jam biologis dengan irama sirkadiannya sangat dipengaruhi oleh umur. Irama sirkadian sendiri secara harafiah dapat diartikan sebagai sebuah siklus yang berlangsung sekitar 24 jam. Dalam tubuh manusia irama sirkadian diatur di Supra Chiasmatic Nucleus (SCN), bagian dari otak yang terletak tepat di atas persilangan saraf mata.

Agar mendapatkan tidur yang berkualitas sangat penting bagi seseorang untuk menyesuaikan aktivitas yang akan dilakukannya berdasar jam biologis dan sistem homeostatis tubuhnya. Jam biologis memiliki pola seperti gelombang longitudinal yang akan naik dan turun berdasarkan waktu dan berbeda kondisi setiap jamnya. Sedangkan sistem homeostatis menunjukkan utang tidur yang bertambah seiring dengan berjalannya waktu semakin siang hingga malam. Jam biologis akan memberikan rangsang terjaga, sedangkan utang tidur akan mendorong kita untuk tidur.

Sebagai contoh, saat bangun tidur utang tidur kita dapat dikatakan nol, dan jam biologis kita masih di titik terendah hingga mencapai puncak pertama pada sekitar jam 9-10 pagi. Pada waktu ini, bagi seorang pelajar, dia akan dapat menyerap pelajaran dengan mudah dan untuk mereka yang bekerja, konsentrasi masih dalam keadaan penuh. Kemudian pada siang hari jam biologis mulai menurun dan utang tidur pun meningkat. Hal ini menyebabkan kondisi mengantuk dan terkadang kita butuh waktu untuk sedikit refreshing setelah jam makan siang. Akan tetapi jam biologis akan meningkat lagi sehingga kondisi lebih segar terutama di atas jam 6 petang hingga mencapai puncaknya pada pukul 9-10 malam. Peningkatan jam tidur ini menyebabkan seseorang terutama usia dewasa muda sulit untuk memulai tidur pada waktu tersebut. Mereka baru akan mulai mengantuk bila jam biologis menurun kembali dan utang tidur yang sudah menumpuk yaitu pada jam 12-1 malam, membuat orang mudah untuk mengantuk dan tertidur.

Selain itu, untuk dapat memulai tidur diperlukan pula kondisi yang relaks dan menyenangkan, tidak berada dalam tekanan dan stres. Mungkin bagi seorang wanita sebelum beranjak tidur dapat melakukan perawatan wajah yang membuat dirinya relakks, atau mendengarkan musik yang disukai dan juga bisa pula dengan membaca buku bacaan yang ringan. o Margareta Amelia, di Jakarta

Panduan Kebiasaan Tidur yang Sehat

  • Cukupi kebutuhan tidur, sekurangnya 8 jam per hari
  • Sembilan jam sebelum tidur, hindari konsumsi kafein. Kafein baru habis dari peredaran darah setelah 9-12 jam. Jika Anda merasa dapat menikmati kafein tanpa mengganggu tidur, hati-hati, ini bisa jadi tanda Anda kekurangan tidur atau menderita hipersomnia, tidur yang berlebihan.
  • Tiga jam sebelum tidur, usahakan Anda sudah selesai berolahraga. Olahraga memang membuat tubuh lelah, tetapi justru meningkatkan kadar adrenalin yang menyegarkan otak.
  • Satu jam sebelum tidur, tinggalkan semua pekerjaan, dan biasanya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran isi dengan kegiatan menyenangkan namun bersifat santai. Hindari aktivitas yang membuat kita “excited”.
  • Jika sudah benar-benar mengantuk baru naik ke tempat tidur. Jangan melakukan kegiatan apa pun di tempat tidur selain tidur dan seks.

Sumber : Sleep Disorder Clinic, RS Mitra Kemayoran Jakarta

Tanda-tanda Kantuk Mulai Membahayakan:

  • Kehilangan konsentrasi, sering mengerjapkan mata, atau mata terasa berat.
  • Pikiran menerawang.
  • Sulit mengingat apa-apa yang telah dilewati atau melewatkan beberapa rambu atau lampu merah saat berkendara.
  • Berulang kali menguap dan mengusap-usap mata
  • Sulit menjaga kepala dalam posisi tegak
  • Melenceng dari jalur, dan melanggar marka-marka jalan
  • Merasa lelah dan mudah terpancing emosi

Sumber : buku Ayo Bangun dengan Bugar karena Tidur yang Benar, dr. Andreas Prasadja, RPSGT (2009)

Ngantuk terus Pertanda Apa? – Majalah Femina 42/2010

Pagi atau siang hari, saat seharusnya berkonsentrasi pada pekerjaan, Anda malah mengantuk. Anda tak sendirian, coba perhatikan sekitar Anda. Di kantor, kampus, kendaraan, banyak orang terkantuk-kantuk. Kantuk memang bisa karena kurang tidur, tapi dapat juga merupakan gejala penyakit tersendiri.

KANTUK: SINYAL TUBUH

Saat mengantuk di siang hari, menurut dr. Andreas Prasadja, RPSGT dari Klinik Gangguan Tidur RS Mitra Kemayoran, perhatikan, jam berapa kantuk itu datang. Bila setelah jam makan siang, wajar jika kita sedikit mengantuk. Hal ini disebabkan oleh jam biologis kita menurunkan kesiagaannya. Ini disebut after lunch circadian dipping.

Tapi, waspadai jika ini terus-menerus terjadi. Menurut dr. Dante Saksono Herbuwono, SpPD Endokrin dari Divisi Metabolik Endokrin RSCM, kantuk bisa jadi merupakan salah satu gejala prediabetes. Setelah makan, tubuh mengalami hiperinsulinemia (berlebihannya insulin), sehingga kadar gula darah turun drastis. Untuk itu, amatilah gejala prediabetes, seperti mudah haus dan sering ingin buang air kecil. Jika dibiarkan, prediabetes bisa menjadi diabetes. Namun, untuk memastikannya, jalani dulu pemeriksaan darah.

Gampang mengantuk, atau cepat lelah dan lesu, juga merupakan salah satu gejala anemia (kekurangan sel darah merah). Karena anemia, suplai oksigen ke seluruh tubuh oleh sel darah merah, terganggu. Padahal, oksigen adalah salah satu unsur penting untuk menghasilkan energi. Untuk mengetahuinya, Anda harus melakukan pemeriksaan darah. Jika hasilnya oke, bisa jadi Anda mengantuk karena memang kurang tidur atau kualitas tidur Anda buruk.

Jangan sepelekan tidur. Daya tahan tubuh hanya bekerja optimal saat kita tidur. Tidur penting untuk menjaga kemampuan kognitif dan stabilitas emosi agar kita tetap produktif.

Tidur pun berperan penting dalam proses perbaikan sel-sel tubuh yang rusak. Pada tahap tidur lelap, tubuh mengeluarkan growth hormone. Salah satu yang paling cepat beregenerasi adalah sel kulit.  Tak heran, kurang tidur membuat kulit jadi terlihat kusam.

Kata cukup dalam hal tidur ternyata berbeda pada setiap orang. ”Kebutuhan tidur kita adalah 6-8 jam. Tetapi, kelompok usia mana? Orang dewasa umumnya membutuhkan tidur 6-8 jam. Pada trimester pertama, ibu hamil biasanya mengalami penambahan kebutuhan tidur. Misal, kalau biasanya butuh 8 jam, di masa ini ibu butuh tidur hingga 10 jam.”

Dokter Andreas mengatakan, kelompok usia remaja dan dewasa muda hingga akhir 20-an, butuh tidur lebih banyak, yakni hingga 8,5 – 9,25 jam seharinya. Menurutnya, kelompok usia inilah yang paling rentan terhadap kekurangan tidur.

Jam biologis-nya pun unik. Jika orang dewasa mulai mengantuk pada pukul 22:00, orang muda justru sedang penuh dengan vitalitas. Mereka baru mengantuk setelah lewat tengah malam. Di pagi hari, mereka sudah harus bangun untuk beraktivitas dan harus mengikuti jadwal yang tak sesuai dengan jam biologisnya.

KELEBIHAN TIDUR ATAU KANTUK BERLEBIH?

Kebiasaan orang muda melawan jam biologis terlihat ketika masuk kerja pukul 8:30 atau masuk sekolah pukul 6:30 pagi. Tak heran jika kita temui remaja yang senang belajar atau berkarya di malam hari, tetapi sebaliknya, bangun kesiangan.

Atau, sering juga kita temui staf muda yang terkantuk-kantuk di tengah rapat. Jika Anda berusia 26 tahun, dan hanya tidur 6 jam, wajar jika mengantuk di siang hari. Ini bukan kemalasan, tetapi pola tidur yang tak sehat. Persisnya, karena kebutuhan tubuh untuk tidur tidak terpenuhi.

Cara sederhana untuk mengetahui bahwa Anda sudah cukup tidur adalah jika ketika bangun pagi tubuh segar, dan selanjutnya tidak mengantuk seharian. Jika mau tahu berapa jam yang diperlukan tubuh, tidurlah. Jangan pasang alarm. Biarkan tubuh bangun sendiri, karena sudah merasa cukup tidur.

“Tak ada satu zat pun yang dapat menggantikan tidur,” tegas dr. Andreas. Segala rasa segar-bugar, siap menghadapi tantangan di pagi hari, hanya bisa Anda dapatkan dari tidur yang sehat. Zat-zat seperti nikotin dan kafein yang kita kenal sebagai stimulan, sebenarnya hanyalah hipnolitik. Artinya, penunda kantuk.

Mungkin ada teman Anda yang sehari-hari tampak selalu lelah, lamban, ‘lemot’ bahkan terkantuk-kantuk sehingga dicap sebagai pemalas atau ‘putri tidur’. Padahal, mereka mengaku selalu cukup tidur, bahkan berlebih. Jangan salah, tidak ada yang disebut sebagai kelebihan tidur. Yang ada, kantuk berlebih.

Saat kebutuhan tidur terpenuhi, tapi terus merasa sangat mengantuk, ini tak normal. ”Kantuk tak normal ini adalah hipersomnia atau kantuk berlebih,” jelas dr. Andreas. Ini saatnya Anda menemui dokter dan melakukan pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Mungkin saja masalahnya ada pada kualitas tidur.

Hipersomnia merupakan gejala dari beberapa gangguan tidur serius seperti sleep apnea, periodic limb movements in sleep, atau narkolepsi. Yang paling sering diderita namun terabaikan adalah sleep apnea. Alasannya mudah saja, karena gejalanya terbilang biasa kita temui, yaitu mendengkur. Masalah yang penting bagi kesehatan tidur bukanlah suara dengkurannya, melainkan henti napas di antara dengkuran.

”Sleep apnea artinya henti napas saat tidur. Ini terjadi karena saluran napas menyumbat secara periodik selama Anda tidur. Karena sesak, biasanya penderita akan terbangun tanpa terjaga. Ia tak sadar atau tak ingat. Akibatnya, si penderita bangun dengan rasa tak segar tanpa tahu sebabnya. ”Agar tak membahayakan orang lain, di Inggris, penderita yang baru memeriksakan dengkurannya dilarang berkendara sampai selesai dirawat,” ungkap dr. Andreas.

Perawatan sleep apnea, menurut dr. Andreas, ditujukan untuk mengatasi henti napas sebagai pencegahan berbagai penyakit. Karena, seseorang yang menunjukkan gejala sleep apnea bisa dicurigai bahwa ia menderita sakit serius. Penyakit tersebut bisa hipertensi, diabetes, obesitas, penyakit jantung, stroke, atau bisa juga kerusakan otak. Bahkan, sleep apnea bisa menyebabkan kematian.

Sementara itu, periodic limb movements in sleep adalah gerakan-gerakan kaki secara periodik tanpa disadari saat tidur. Akibat gangguan ini, kualitas tidur bisa terganggu juga. Meski tidur sudah cukup lama, tapi tidur yang terganggu akan membuat tubuh tidak segar di saat bangun. Bila terjadi, orang tersebut bisa mengalami keletihan terus-menerus (lihat boks).

Sedangkan narkolepsi, atau sleep attack, adalah istilah medis bagi seseorang yang tiba-tiba langsung tertidur, dengan atau tanpa tanda apa pun. Mungkin Anda pernah melihatnya di adegan film, saat seorang aktor tiba-tiba tertidur saat sedang tertawa terbahak-bahak.

Tapi, ini bukan lawakan! Gangguan ini bisa menyebabkan kehidupan penderitanya sangat tak nyaman. Bayangkan jika ia tiba-tiba tertidur saat berada di keramaian atau di jalan. Baik periodic limb movements in sleep dan narkolepsi perlu ditangani oleh ahli kedokteran tidur.

OLAHRAGA, KANTUK, TIDUR
Menurut dr. Michael Triangto SpKO, spesialis kedokteran olahraga dari Slim+ Health Sport Therapy, mudah mengantuk atau tubuh seperti kurang berenergi bisa disebabkan oleh kurang berolahraga.
”Olahraga yang tepat intensitasnya adalah yang dilakukan hingga mencapai zona latihan (training zone) diri orang tersebut, dan dilakukan teratur. Jika tidak optimal, mungkin tubuh akan tetap loyo.
Atau sebaliknya, dia makin mudah mengantuk karena tubuh terlalu lelah akibat olahraga berlebihan.”

Tapi, jangan berolahraga terlalu dekat dengan waktu tidur. Sebaiknya berikan jarak antara olahraga dan waktu tidur minimal 3 jam. Ini berlaku bahkan untuk olahraga yoga yang punya reputasi merelakskan tubuh. Pasalnya, begitu selesai berolahraga, tubuh memproduksi adrenalin yang membuat Anda sulit tidur. Setelah beberapa lama, adrenalin menurun, tubuh akan relaks dan Anda mudah tidur. Bila dilakukan cukup cepat, yoga akan meningkatkan detak jantung dan energi.

Menurut dr. Andreas,  makin berat porsi berolahraga seseorang, maka ia  makin butuh tidur. Saat ini sedang tren melakukan bersepeda touring. Saat tubuh merasa sangat lelah setelah bersepeda, sebaiknya tidur yang cukup. ”Ini penting untuk menghindari over training yang bisa berakibat buruk bagi jantung.”

SUPAYA TIDUR NYENYAK…
• Hindari makanan atau minuman yang membuat tubuh terjaga menjelang jam tidur, misalnya kopi atau alkohol.
• Hindari minum berlebihan sebelum tidur yang membuat Anda terbangun karena ingin buang air kecil saat tidur.
• Lakukan relaksasi sebelum tidur, misalnya mandi dengan air hangat, meredupkan penerangan, memasang aromaterapi, atau mendengarkan musik yang menenangkan.
• Usahakan pergi tidur dan bangun pada jam yang sama, saat libur sekalipun.
• Jauhi hal-hal yang mengganggu tidur, seperti televisi di kamar.
• Berkonsultasi dengan dokter, jika Anda merasakan gangguan yang berhubungan dengan penyakit serius.

TANDA-TANDA TIDUR TIDAK SEHAT
• Anda selalu butuh alarm agar bisa bangun di pagi hari.
• Seharian tak bisa lepas dari kopi supaya tetap melek.
• Perlu beberapa kali membaca surel untuk benar-benar paham isinya.
• Sulit mempertahankan konsentrasi saat rapat atau seminar.
• Mengantuk saat melakukan aktivitas yang monoton, seperti menyetir kendaraan.
• Mudah terserang penyakit infeksi, seperti flu atau radang tenggorokan.
• Sensitif dan mudah marah.
• Kulit kusam dan tak segar.
• Tidak teliti, banyak membuat kesalahan.
• Sering lupa meletakkan kunci mobil atau kacamata.
• Nafsu makan tak mudah dipuaskan.
• Libido menurun.

Penulis: Nuri Fajriati (Kontributor – Jakarta)


[Dari femina 42 / 2010]

Ngantuk terus Pertanda Apa? – Issue Wanita – Femina-online.com.

Anda Selalu Mengantuk ?

Excessive Daytime Sleepiness, atau Hipersomnia dalam Bahasa Indonesia mungkin dapat dikatakan sebagai kantuk berlebih di siang hari. Ini merupakan salah satu gejala seseorang menderita gangguan tidur.

Selalu mengantuk merupakan gejala yang penting dalam mendeteksi adanya gangguan tidur. Apa saja?kantuk berlebih

Yang paling ringan, seseorang bisa saja memang kelelahan dan kurang tidur. Karena kesibukan di dunia modern, seseorang dituntut untuk produktif sehingga tidak jarang mengorbankan jadwal tidur. Tapi tahukah Anda, bahwa tidur yang kurang malah akan menurunkan produktivitas? Bahkan daya tahan tubuh pun akan berkurang.

Kemungkinan lainnya adalah Obstructive Sleep Apnea (OSA) dan Periodic Limb Movements (PLMS) yang menyebabkan tidur menjadi terpotong-potong. Akibatnya kualitas tidur buruk.

Yang mungkin paling jarang ditemui adalah Narkolepsi, dimana seseorang sulit menahan dorongan untuk tidur yang selalu datang menyerang. Bahkan di siang hari saat sedang beraktifitas.

Tapi jangan cepat-cepat mengira bahwa Anda menderita gangguan tidur karena merasa lelah. Lihat faktor-faktor yang lain, seperti kecukupan vitamin, mineral dan nutrisi.

Anda mungkin mengalami kantuk berlebih, jika kebanyakan dari gejala ini Anda alami:

  • Selalu merasa lelah
  • Sering mengantuk
  • Sering tertidur dalam rapat
  • Kurang bersemangat
  • Sulit berkonsentrasi
  • Menjadi pelupa
  • Libido menurun

Tentang Tidur

Tidur adalah proses normal yang biasa kita alami setiap malam. Sedemikian biasanya sehingga dianggap sebagai bagian yang kurang penting bagi kesehatan kita.

Mitos

Ada anggapan yang keliru tentang tidur, kita menganggap tidur sebagai fase pasif dari siklus kehidupan sehari-hari. Ini salah, karena tidur sebenarnya sebuah proses yang aktif. Ini dibuktikan dengan perekaman proses-proses biologis selama tidur yang dikenal dengan sebutan Polisomnografi (PSG) namun lebih populer dengan sebutan Sleep Study, pemeriksaan tidur. Dari perekaman gelombang otak (EEG), yang merupakan bagian dari pemeriksaan tidur, para ilmuwan menemukan bermacam-macam gelombang otak yang akhirnya menjadi dasar pembagian tahapan tidur.

Kekeliruan kedua adalah dengan menganggap tidur sebagai periode yang aman. Karena selama tidur seolah kita berada dalam mode auto-pilot. Memang mekanisme pengaturan tidur diatur oleh otak secara otomatis. Tetapi beberapa gangguan dapat terjadi selama tidur, bahkan bukan tidak mungkin bisa berakibat fatal. Anda pernah mendengar ada orang yang meninggal mendadak dalam tidur?

Kedokteran Tidur

Meskipun kedokteran tidur baru berkembang 50 tahun belakangan ini saja, namun sudah banyak perkembangan yang dicapai. Proses tidur dan gangguan-gangguan tidur pun semakin banyak dikenal. Tetapi amat disayangkan bahwa pengetahuan ini tidak menyebar merata ke masyarakat luas. Banyak orang yang selalu mengantuk karena tidak tahu cara mengatur tidur sehat dengan baik. Mereka tidak menyadari mekanisme hutang tidur, dan dibiarkan menumpuk hingga pada akhirnya mengakibatkan turunnya produktivitas, buruknya pengambilan keputusan (seperti yang terjadi pada kecelakaan Chalenger), dan kecelakaan saat mengendara atau mengoperasikan alat berat.

Produktivitas, Performa dan Tidur Sehat

Atas nama produktivitas, banyak manusia modern yang mengorbankan waktu tidur untuk bekerja. Tanpa disadari mereka menumpuk hutang tidur yang akan menurunkan produktivitas di siang hari berikutnya. Untuk dapat tetap berfungsi maksimal orang-orang ini mengandalkan kopi dan berbagai suplemen berenergi yang biasanya dikonsumsi secara berlebihan dan menyebabkan terganggunya pola tidur seseorang. Pada akhirnya, hutang tidur yang ditanggung akan semakin banyak dan semakin membebani aktivitas sehari-hari.

Gejala-gejala lain seperti sakit kepala di pagi hari, kantuk berlebihan di siang hari, penurunan konsentrasi, hipertensi dan masih banyak lagi; diderita bertahun-tahun tetapi tidak pernah terpikir untuk menghubungkannya dengan gangguan tidur. Karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi saat tidur. Tahukah Anda bahwa Anda mendengkur, jika tidak diberi tahu oleh orang lain?