Tekanan Darah Tinggi Membandel Akibat Mendengkur

Jika Anda menderita hipertensi, dan tekanan darah masih sulit dikontrol walau telah meminum lebih dari 3 macam obat anti hipertensi, coba perhatikan tidur Anda. Mendengkur? Ngorok? Cukup tidur, masih mengantuk?

Sleep Apnea dan hipertensi

Awal penemuan sleep apnea (henti nafas saat tidur), sebenarnya diawali dari penderita hipertensi. Sekolompok peneliti menemukan adanya penderita hipertensi yang cenderung mengantuk di siang hari, padahal jumlah tidurnya cukup. Di waktu itu, ini dikenal sebagai gejala utama narkolepsi. Maka diperiksakanlah para penderita hipertensi tersebut dan alih-alih narkolepsi, didapati adanya dengkuran dan henti nafas saat tidur. Sejak saat itu pemeriksaan tidur dilengkapi dengan perekaman fungsi-fungsi jantung dan nafas, selain perekaman gelombang otak, mata dan otot. Prof. Guilleminault menamai penyakit ini dengan sebutan obstructive sleep apnea.

Ngorok atau mendengkur ternyata merupakan tanda menyempitnya saluran nafas saat tidur. Jalan nafas, bisa berulang kali tersumbat selama tidur hingga akibatkan reaksi berantai yang sebabkan peningkatan tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung, stroke, kematian dan impotensi. Sleep apnea, atau henti nafas saat tidur ditandai oleh kebiasaan ngorok saat tidur. Tetapi orang yang mendengkur belum tentu menderita sleep apnea lho, harus diperiksakan dahulu untuk membedakannya.

Sayangnya hubungan hipertensi dan dengkur seolah tenggelam oleh populernya temuan baru bahwa mendengkur/sleep apnea sangat berbahaya. Baru sekitar 30 tahun yg lalu, Kales dan kawan-kawan menuliskan temuan mereka pada jurnal kedokteran terkemuka Lancet. Dalam penelitian tersebut disebutkan adanya hubungan erat antara hipertensi dengan sleep apnea yang dibiarkan tanpa perawatan. Persisnya 30% penderita hipertensi yang derita sleep apnea.

Selanjutnya sekelompok peneliti asal Spanyol memberikan data bahwa penderita sleep apnea yang dirawat menggunakan CPAP (Continuous Positive Airway Pressure), mengalami penurunan tekanan darah yang signifikan. Semakin berat dengkuran, semakin parah sleep apnea yang diderita serta semakin baik penggunaan CPAP-nya, akan semakin baik pula tekanan darahnya.

Penelitian

Penelitian yang diterbitkan pada the Journal of Clinical Sleep Medicine bulan Agustus 2014, menunjukkan bahwa tingkat keparahan sleep apnea berhubungan erat dengan peningkatan tekanan darah yang sulit dikontrol.

Penderita hipertensi yang sudah mengonsumsi lebih dari 3 macam obat antihipertensi namun tekanan darahnya masih tetap sulit dikontrol. Hipertensi yang diderita seolah membandel. Kondisi yang sering disebut sebagai resistant hypertension ini berkaian erat dengan derajat keparahan sleep apnea.

Pada penelitian tersebut dibandingkan penderita sleep apnea sedang (AHI/henti nafas 15-30/jam) dengan yang berat (AHI/henti nafas >30/jam). Pada penderita sleep apnea berat kemungkinannya menderita hipertensi walau sudah minum lebih dari 3 macam obat antihipertensi adalah 95%.

Kesimpulan

Para ahli berpendapat penanganan hipertensi, terutama yang telah menjalani pengobatan yang agresif, harus menyertakan kemungkinan adanya sleep apnea/dengkuran. Artikel pada the Journal of American Medical Association di tahun 2013, tunjukkan bahwa perawatan sleep apnea dengan CPAP selama 12 minggu akan menurunkan tekanan darah rata-rata harian 3 mmHg. Walau tampak kecil, tapi 3 mmHg bermakna besar untuk menurunkan risiko penyakit-penyakit jantung dan pembuluh darah lainnya.

Atasi Dengkur “Sleep Apnea” Sehatkan Janin

Sebuah penelitian baru yang dilakukan di Australia menunjukkan bahwa mengatasi mendengkur pada ibu hamil, dengan gunakan continuous positive airway pressure (CPAP) akan menyehatkan janin.

Penelitian yang dilakukan oleh Colin Sullivan, Natalie Edwards, dan tim ini bertujuan untuk melihat efek CPAP pada ibu hamil yang mengalami preeclampsia dan pada janin yang dikandungnya.

Mendengkur dan Kehamilan

Mendengkur merupakan gejala dari sleep apnea atau henti nafas saat tidur. Sleep apnea disebabkan oleh menyempitnya saluran nafas pada saat tidur hingga aliran udara terhambat. Gerakan nafas masih nampak namun akibat tersumbatnya saluran nafas, udara tak dapat lewat. Akibatnya terjadi penurunan kadar oksigen darah. Pada orang dewasa, sleep apnea merupakan penyebab utama meningkatnya tekanan darah, hipertensi. Ia juga menjadi penyebab berbagai gangguan jantung, peningkatan gula darah hingga stroke. Selain itu sleep apnea juga menurunkan kualitas hidup akibat kantuk berlebihan atau biasa disebut hipersomnia.

Wanita yang sedang hamil, memasuki kehamilan 20 minggu menjadi mendengkur dan berisiko menderita sleep apnea. Ini disebabkan oleh peningkatan berat badan dan membengkaknya saluran nafas akibat peningkatan hormon-hormon kehamilan.

Beberapa tahun belakangan ini banyak penelitian yang menunjukkan bahwa mendengkur pada ibu hamil meningkatkan risiko mengalami preeclampsia dan hipertensi pada kehamilan. Sementara ini diduga, sleep apnea menyebabkan preeclampsia lewat mekanisme yang sama dengan berkembangnya hipertensi pada orang dewasa tak hamil yang mendengkur.

Preeclampsia ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan kadar protein pada urine. Preeclampsia dialami oleh 5%-7% kehamilan, dan dapat menyebabkan gangguan perkembangan hingga kematian pada janin.

Dengkur Hilang, Janin Sehat

Mendengkur memang telah lama terbukti dapat menyebabkan preeclampsia. Namun efeknya pada janin belum banyak diteliti.

Colin Sullivan adalah penemu CPAP untuk mengatasi ngorok, sleep apnea. Ia bersama timnya ingin melihat efek perawatan mendengkur pada janin dengan cara merekam aktivitas janin lewat ultrasound. Semakin aktif gerak janin, semakin sehat pula janin tersebut.

Hasilnya gerak janin meningkat dari 319 pada saat mendengkur menjadi 592 setelah dengkur diatasi dengan CPAP. Pada saat ibu tidur mendengkur gerak janin menurun menjadi 7,4 perjam. Sementara saat ngorok diatasi dengan CPAP, aktivitas janin meningkat jadi 12,6 perjam.

Mendengkur ringan saja ternyata sudah memengaruhi aliran darah ke janin. Akhirnya janin berusaha melindungi diri dengan mengurangi aktivitasnya. Dengan gunakan CPAP, mendengkur akan hilang dan menormalkan asupan darah ke janin hingga janin pun kembali sehat.

Penelitian

Penelitian yang dipublikasikan pada jurnal SLEEP Januari 2013 ini dibagi dalam 3 bagian. Pertama, aktivitas janin diamati dengan ultrasound pada 20 ibu hamil yang tak mendengkur. Lalu aktivitas janin juga direkam sepanjang malam pada 20 ibu dengan preeclampsia sedang-berat dan 20 ibu hamil normal. Hasilnya, gerak janin saat tidur pada kelompok yang menderita preeclampsia jauh lebih rendah (289) dibanding dengan yang normal (689).

Tahap selanjutnya gerakan janin pada 10 orang ibu dengan preeclampsia sedang-berat direkam selama dua malam. Malam pertama ibu dibiarkan mendengkur tanpa perawatan CPAP. Malam kedua dengkuran diatasi dengan CPAP. Hasilnya aktivitas janin membaik setelah dengkuran ibu diatasi.

Mendengkur atau ngorok pada kehamilan tak dapat dianggap sepele lagi. Dengkuran ringan saja ternyata sudah memiliki risiko terhadapa kesehatan ibu dan calon bayi nantinya. Penelitian ini telah membuktikan bahwa penanganan mendengkur memperbaiki kesehatan janin.

dr. Andreas Prasadja, RPSGT

Tulisan ini dibuat untuk mengenang Dr. Natalie Edwards, pelopor penelitian kedokteran tidur, khususnya tentang mendengkur, dan kesehatan tidur pada wanita.

Mendengkur dan Performa Seks

Gangguan tidur jelas menyebabkan penurunan semangat, vitalitas kemampuan konsentrasi dan juga performa seksual. Siapa pun akan menolak berhubungan seks saat lelah mendera. Tetapi gangguan tidur bukan hanya insomnia saja. Tahukah Anda adanya gangguan tidur yang membuat kita terus merasa lelah dan mengantuk walau tidur cukup? Kantuk berlebihan, dikenal dengan sebutan hipersomnia, adalah rasa kantuk yang dirasakan walau sudah tidur cukup.

Penyebab hipersomnia tersering adalah sleep apnea atau henti nafas saat tidur, yang ditandai dengan kebiasaan mendengkur. Sleep apnea terjadi akibat menyempitnya saluran nafas saat tidur. Akibatnya kadar oksigen dalam darah turun berulang-ulang sepanjang malam. Kerja jantung dan berbagai organ pun turut terganggu. Sleep apnea telah dikenal luas mengakibatkan penyakit-penyakit berbahaya seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung hingga stroke. Tetapi sleep apnea juga menyebabkan penurunan kualitas hidup, mulai dari produktifitas kerja, kehidupan rumah tangga dan performa seks.

Dalam kehidupan rumah tangga pendengkur sering dianggap keluarganya sebagai pemalas karena selalu mengantuk dan kelelahan. Efek dari hipersomnia juga memberikan penampakan seseorang yang kurang bermotivasi dan lamban. Akibat kondisi kurang tidur ini juga, seseorang menjadi sensitif, mudah marah, tak sabaran dan emosional. Apalagi suara dengkuran yang mengganggu setiap malam. Menurunnya minat seksual, walau jarang dibicarakan, menjadi pelengkap ramuan masalah rumah tangga ini. Perlahan dimulai dari permintaan untuk pisah kamar dan berlanjut menjadi perpecahan.

Sleep Apnea dan Disfungsi Seksual

Berbagai penelitian telah memastikan hubungan yang erat antara sleep apnea dan gangguan ereksi. Dalam The Journal of Sexual Medicine terbitan November 2009, diungkapkan bahwa dari 69% pria pendengkur yang terdiagnosa dengan sleep apnea ternyata mengalami disfungsi ereksi. Sedangkan pasien tanpa sleep apnea, hanya 34%-nya saja yang mengalami disfungsi ereksi. Dari penelitian ini juga disebutkan bahwa derajat disfungsi ereksi semakin parah sesuai dengan penurunan kadar oksigen darah saat tidur yang direkam lewat polisomnografi (pemeriksaan tidur di laboratorium tidur). Artinya, semakin parah henti nafas saat tidurnya, semakin berat juga disfungsi ereksi yang dialami. Derajat keparahan sleep apnea, tidak dilihat dari keras atau tidaknya dengkuran, tetapi dari jumlah dan durasi henti nafas serta penurunan kadar oksigen darah selama tidur.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya di tahun 2005 yang dituangkan dalam Jurnal Urologi. Penelitian ini melihat pada kantuk berlebih yang dialami pendengkur yang diukur dengan Epworth Sleepiness Scale. Hasilnya, pada pendengkur dengan nilai abnormal, 80%-nya mengalami disfungsi ereksi dibanding dengan 20% pada pria dengan nilai normal.

Sebuah penelitian pada tikus di tahun 2008 mencoba menjelaskan mekanisme hubungan sleep apnea dan gangguan ereksi. Para peneliti di University of Louisville meniru kondisi sleep apnea pada tikus. Tikus-tikus tersebut secara berulang sengaja dikurangi oksigennya, sama seperti yang dialami penderita sleep apnea pada waktu tidur. Hasilnya tikus-tikus tersebut mengalami penurunan ereksi spontan hingga 55%. Jelas tampak bahwa kekurangan oksigen untuk jangka waktu pendek saja sudah dapat menurunkan fungsi-fungsi seksual. Bahkan setelah dikembalikan pada kondisi oksigen normal, gangguan-gangguan tersebut tak dapat sepenuhnya hilang. Ini diukur lewat berbagai perilaku maupun fungsi-fungsi seksual tikus. Salah satunya adalah pemeriksaan Nitric Oxide Synthase (NOS). NOS endotelial adalah zat yang ditingkatkan pada penggunaan obat sildenafil (viagra).

Beberapa ahli urologi dari Yunani, meneliti perawatan yang terbaik bagi pasien disfungsi ereksi yang juga mengidap sleep apnea. Mereka menyimpulkan bahwa pengobatan dengan sildenafil saja atau perawatan sleep apnea dengan CPAP (continuous positive airway pressure) saja tidaklah cukup. Efek terapi maksimal hanya didapatkan dengan pendekatan bersamaan medikasi sildenafil dan penggunaan CPAP.

Pengobatan Menyeluruh

Dari semua penelitian yang menunjukkan hubungan antara mendengkur/sleep apnea dengan disfungsi ereksi tampak bahwa pencegahan lebih baik dibanding pengobatan. Efek kekurangan oksigen secara periodik untuk waktu yang singkat saja sudah langsung mempengaruhi fungsi-fungsi seksual. Sekali terganggu, tidak mudah untuk mengembalikannya. Perawatan sleep apnea dengan CPAP yang mengembalikan kadar oksigen selama tidur tak dapat mengembalikan fungsi-fungsi seksual seperti sedia kala. Pengobatan disfungsi ereksi saja ternyata juga tidak memberikan hasil yang memuaskan. Untuk hasil yang optimal, kedua pendekatan pengobatan harus dijalankan bersamaan.

Demikian juga halnya dengan masalah mendengkur. Gangguan tidur yang satu ini, sudah tak dapat diremehkan. Tata laksananya yang terdengar asing di masyarakat Indonesia pun mendesak untuk disosialisasikan. Obstructive sleep apnea, henti nafas saat tidur, mengakibatkan berbagai masalah, mulai dari kualitas hidup, kehidupan rumah tangga, kesehatan bahkan kematian. Berbagai spesialisasi kedokteran juga sudah harus menggali kemungkinan gangguan tidur ini pada pasien-pasiennya. Penderita sleep apnea, ditemui setiap hari di ruang-ruang praktek. Mereka datang dengan keluhan sakit kepala, kualitas tidur buruk, selalu lelah, depresi, gangguan seksual, diabetes, tekanan darah tinggi atau bahkan pasca stroke. Pasien-pasien sleep apnea memerlukan berbagai pendekatan dari berbagai spesialisasi kedokteran secara menyeluruh.

Ketika Dengkuran Pasangan Mengganggu Tidur

Solusi menyelamatkan pernikahan dari pencuri tidur.

Pada pria yang telah mencapai usia 50 tahun, umumnya mendengkur saat tidur. Ini dikatakan Michael Thorpy, MD, Direktur Sleep-Wake Disorders Center di Montefiore Medical Center, New York City. Dengkuran ini sebenarnya bukan hanya mengganggu kita sebagai pasangannya tapi juga bisa membuat suami kita meninggal seketika.

Sebab ketika suami kita mendengkur, sebenarnya dia mengalami periode henti napas dalam beberapa detik. Meskipun terlihat singkat, karena dalam satuan detik, namun jika dibiarkan periode henti napasnya bisa semakin panjang. Bahkan bisa lebih sampai 10 detik dan pada tahap inilah kita sudah harus mempersepsikan dengkuran sebagai alarm bahaya.

“Namun bukan berarti semua masalah mendengkur harus dikhawatirkan. Mendengkur bisa dianggap normal, apabila si pendengkur mengalami henti napas kurang dari lima kali dalam sejam. Yang dianggap berat apabila pendengkur mengalami henti napas lebih dari 30 kali dalam sejam. Masalah ini disebut obstructive sleep apnea (OSA),” papar dr. Andreas Prasadja, RPSGT, sleep specialist dari RS Mitra Kemayoran Jakarta. Karena jangan biarkan pasangan kita lama-lama mendengkur saat tidur. Cara mengatasinya :

Jaga Berat Badan : Pertama, ukur lingkar leher pasangan. Apabila lebih dari 43 cm, kemungkinan besar ia kelebihan berat badan. “Orang yang kelebihan berat badan berpeluang mengalami gangguan pernapasan saat tidur, termasuk mendengkur,” kata Charles Bae, MD., ahli saraf dan pakar tidur dari Cleveland Clinic di Ohio. Hal ini terjadi karena tekanan pada saluran napas meningkat, sehingga laju oksigen kemudian ikut terhambat.

Ubah Posisi Tidur : Umumnya, orang mendengkur saat tidur terlentang. Pada sebagian orang, mengubah posisi tidur menjadi menyamping, kadang bisa membuatnya tidur tanpa mendengkur.

Periksa diri : Perhatikan kondisi pasangan saat bangun pagi. Apabila suami sering mengaku merasa tak segar kala bangun pagi, segera ajak dia memeriksakan diri ke sleep specialist. Atau, jika ia sering kedapatan tidur saat menyetir mobil, bisa jadi ia mengalami OSA. Inilah penyebab utama, tidurnya menjadi tak berkualitas.Penderita OSA juga terkadang memiliki tekanan darah tinggi dan mengalami disfungsi ereksi.

Jika ingin “menghangatkan” kembali suasana tidur di malam hari, coba ajak pasangan menemukan jalan keluar dari dengkurannya. Sebab percaya atau tidak, dari dengkuran saja bisa membuat rumah tangga kita menjadi kurang harmonis. (Alia An Nadhiva/Siagian Priska)

link: http://preventionindonesia.com/article.php?name=/ketika-dengkuran-pasangan-mengganggu-tidur&channel=health%2Fhealthy_relationships

Cerita Seorang Pasien via SMS

Berikut adalah SMS dari seorang pasien yg membuat saya merasa bersemangat lagi untuk terus bergerak memajukan kedokteran tidur di Indonesia.

DEAR DOCTOR ANDREAS, JUST WANT TO SAY THANK YOU VERY MUCH. MY LIFE HAS BEEN TRANSFORMED FOR THE BETTER. NOW I SLEEP LIKE A LOG, ALL THE WAY TO MORNING, WAKE UP FRESH, AND STAY WIDE AWAKE ALL DAY, AND SHARP AT WORK AND IN MEETINGS IT’S LIKE REDISCOVERING LIFE ALL OVER AGAIN: I HAVE BEEN RECOMMENDING YOU AND HOSPTAL MITRA KEMAYORAN TO FRIENDS WHO HV SLEEP PROBLEMS. E.B. (YR THIRD WORST PATIENT).

Catatan: pasien ini menderita sleep apnea berat dgn henti nafas rata-rata 100,3 kali perjam. Gejala sleep apnea adalah mendengkur dan kantuk berlebih. Akibatnya produktivitasnya amat terganggu. Pada saat ia berkunjung untuk konsultasi pertama kali, saya ingat bagaimana ia merasa sulit berkonsentrasi saat berkerja. Selain itu sleep apnea dapat menyebabkan hipertensi, berbagai gangguan jantung, diabetes hingga stroke.

Si Dia Suka Mendengkur?

Anda tidak ingin hal ini terjadi selamanya, kan?
Jumat, 11/6/2010 | 19:25 WIB

KOMPAS.com – Para pria yang telah mencapai usia 30 tahun umumnya mendengkur saat tidur. Hal ini dikatakan Michael Thorpy, MD, Direktur Sleep-Wake Disorder Center di Montefiore Medical Center di New York City. Banyak orang menganggap kebiasaan mendengkur sebagai sesuatu yang tak berbahaya. Padahal, sebagian orang mengalami henti nafas saat mendengkur, tanpa disadari. Hal ini tentu saja berbahaya. Sebab, jika seseorang mengalami henti nafas lebih dari 10 detik, ia bisa meninggal seketika.

“Namun, bukan berarti semua masalah mendengkur harus dikhawatirkan. Mendengkur bisa dianggap normal, apabila si pendengkur mengalami henti nafas kurang dari lima kali dalam sejam. Yang dianggap berat apabila pendengkur mengalami henti nafas lebih dari 30 kali dalam sejam. Masalah ini disebut obstructive sleep apnea (OSA),” papar dr Andreas Prasadja, RPSGT, sleep scientist dari RS Mitra Kemayoran, Jakarta.

Cara mengatasi dengkur:

Jaga berat badan. Coba ukur lingkar leher pasangan. Apabila lebih dari 43 cm, kemungkinan besar ia kelebihan berat badan. “Orang yang kelebihan berat badan berpeluang mengalami gangguan pernafasan saat tidur, termasuk mendengkur,” kata Charles Bae, MD, ahli saraf dan pakar tidur dari Cleveland Clinic di Ohio. Hal ini terjadi karena tekanan pada saluran nafas meningkat, sehingga laju oksigen kemudian ikut terhambat.

Ubah posisi tidur. Umumnya, orang mendengkur saat tidur terlentang. Pada sebagian orang, mengubah posisi tidur menjadi menyamping, kadang bisa membuatnya tidur tanpa mendengkur.

Periksakan diri. Perhatikan kondisi pasangan saat bangun pagi. Apabila suami sering mengaku merasa tak segar kala bangun di pagi hari, segera ajak dia memeriksakan diri ke sleep specialist. Atau, jika ia sering kedapatan tertidur saat menyetir mobil. Bisa jadi ia mengalami OSA. Hal ini yang menyebabkan tidurnya di malam hari tak berkualitas. Penderita OSA juga terkadang memiliki tekanan darah tinggi dan mengalami disfungsi ereksi.

(Alia An Nadhiva/Prevention Indonesia)

Editor: din

Tidur Pulas, Menjaga Vitalitas

Minggu, 24 Oktober 2010
Waspadalah, mendengkur dapat mengakibatkan kematian.

Tidur merupakan aktivitas yang tidak dapat digantikan dengan apa pun. Gangguan sekecil apa pun yang dapat membuat tidur tidak berkualitas dan perlu segera atasi. Sebab, tidur yang berkualitas menjadi faktor penting untuk menjaga vitalitas. “Saya malu sekali kalau ada acara dengan kolega atau teman. Soalnya, saya ngorok kencang benar kalau tidur. Yang satu kamar dengan saya, pasti besok paginya ngeluh sambil menyindir kalau tidur saya nyenyak banget,” ujar Toto, sebut saja begitu, karyawan sebuah ritel di Jakarta.

Merasa belum tidur dengan puas dan nyenyak meski sudah mendengkur seperti yang dirasakan Toto sebenarnya wajar terjadi. Sebab, tidur hingga mendengkur yang sering dikatakan sebagai tidur nyenyak merupakan suatu mitos belaka. Hal itu ditegaskan dr Andreas Prasadja, RPSGT, sleep specialist pertama di Indonesia dari Rumah Sakit Mitra Kemayoran Jakarta. “Ngorok itu bukan pertanda tidur seseorang nyenyak, itu mitos saja.

Justru seseorang yang tidurnya ngorok atau mendengkur mengalami gangguan tidur yang disebut Obstructive Sleep Apnea (OSA),” ujar dokter yang berpembawaan ramah itu. Selain mitos mendengkur berarti tidur lelap, sering kali orang yang mendengkur saat tidur dikatakan sebagai seorang yang pemalas. Selain itu, mudah lelah, tidak bersemangat, tidak produktif, dan mudah tertidur di mana saja sering diasosiasikan sebagai penyebab seseorang mendengkur saat tidur.

Itu semua, sebagian besarnya merupakan mitos meski pada kondisi tertentu terdapat faktor yang sama. Seseorang yang mendengkur faktanya tengah mengalami gangguan OSA tersebut. Pada saat mendengkur, saluran nafas atas saat tidur mengalami penyempitan. Penyempitan itulah yang menyebabkan getaran pada bagian-bagian lunak saluran nafas sehingga menghasilkan suara dengkuran.

Mengapa mendengkur sampai membahayakan? Sebab utama yang membahayakan adalah penyempitan saluran nafas tadi. Penyempitan itu mengakibatkan tidak efektifnya pertukaran oksigen dan karbondioksida sewaktu tidur. Hal itu semakin ditambah parah dengan melemasnya otot-otot lidah sehingga lidah terjulur keluar mulut saat tidur dan menyumbat seluruh saluran nafas. “Kondisi terhalangnya oksigen masuk ke saluran nafas itulah itu yang menyebabkan terjadinya henti nafas atau apnea.

Pada saat itu karbondioksida di dalam tubuh meningkat drastis sehingga mengaktifkan sebuah sensor di tubuh. Sensor itu kemudian memaksa seseorang tersebut untuk bangun dan kembali bernafas,” jelas Andreas. Bayangkan jika sensor yang memaksa tubuh bangun untuk menghirup oksegen itu terjadi berkali-kali dalam semalam.

Tentu saja si penderita apnea akan merasa kurang tidur. Hal itu dikarenakan, periode bangun yang terjadi saat mendengkur itu adalah periode bangun singkat (mini arousal) yang ringan namun sudah mengganggu tidur penderitanya. Kalau tidur terganggu tentu saja seorang pendengkur tersebut tidak dapat masuk ke tahapan tidur dalam (nyenyak) yang penting untuk istirahat dan mengembalikan vitalitas seseorang.

Tidak heran kan? Kalau pendengkur saat bangun pagi merasa tidak segar dan merasa masih kurang istirahat tanpa tahu bahwa dirinya bangun berulang kali malam itu. Selain merasa kurang tidur, ngorok dapat menyebabkan kematian saat tidur. Pasalnya, seseorang yang mengalami henti nafas dapat saja tidak terbangun untuk mengambil nafas. Tentu saja ketika tubuh kehabisan oksigen akan segera lumpuh atau mati.

Jam 12 Malam

Beberapa orang mengeluh merasakan insomnia karena baru bisa terlelap di atas jam 12 malam. Padahal menurut Andreas, di usia tertentu seseorang sangat wajar baru tidur di atas jam 12 malam. “Jam biologis usia dewasa muda (usia maksimal 20 tahun, red) memang baru bisa terlelap di atas jam 12 malam. Jadi, kalau mengerti soal jam biologis orang dewasa muda tidak akan mengatakan itu insomnia,” jelas Andreas.

Selain itu, pada fase dewasa muda akhir seseorang masih memerlukan tidur di atas 8 jam per hari. Tidak heran ditemui mahasiswa berusia 20 tahunan yang mengantuk saat kuliah pagi hari karena jam tidurnya belum cukup. Untuk membayar hutang tidur tersebut biasanya mereka akan tidur cepat di bawah jam 12 malam atau menggantinya siang hari.

Berbeda dengan waktu tidur dewasa muda, waktu tidur anak usia sekolah yang terbaik adalah 10 sampai 11 jam. Tidak heran bila anak-anak bisa tidur siang lagi selama 3 jam meski malam harinya sudah tidur selama 8 jam. Untuk orang dewasa (di atas 20 tahun) butuh waktu tidur sebanyak 8 jam. “Orang dewasa biasanya sudah tertidur di bawah jam 10 malam.

Celakanya, karena jam biologis orang dewasa akan merasa mengantuk di siang hari dan merasa segar kembali di sore hari. Tidak jarang mereka ngopi sore hari saat berkumpul dengan teman-teman. Itu yang merusak kebiasaan tidur,” jelas Andreas yang semakin banyak memiliki pasien gangguan tidur itu.

Pengaruh Kopi

Kafein yang terkandung dalam kopi dapat berada dalam tubuh 9 sampai 15 jam. Maka seseorang yang minum kopi di sore hari akan mengalami kesulitan tidur di waktu yang seharusnya. Andreas menyarankan agar memindahkan waktu minum kopi di pagi hari sehingga kekurangan waktu tidur di malam hari tidak timbul di siang hari yang dapat mengganggu produktivitas kerja seseorang.

“Karena siangnya sudah melek, dia akan mudah tidur di bawah jam 10 malam,” ujarnya. Kondisi-kondisi kurang waktu tidur itu akan menyebabkan hutang tidur. Bagaimana pun juga hutang tidur itu harus dibayar. Semakin banyak hutang tidur yang tidak dibayar hingga menumpuk dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan mental, konsentrasi, daya ingat, produktivitas, dan refleks sewaktu berkendara.

Efek dari kurang waktu tidur juga bisa mengakibatkan gangguan matobolisme, buruknya daya tahan tubuh, buruknya upaya perbaikan sel-sel jaringan di dalam tubuh, mengantuk, dan mudah lelah. Meminum suplemen penambah energi atau kopi berapa gelas pun menurut Andreas tidak akan bisa mengganti waktu tidur yang kita dibutuhkan.

“Tidak ada satu zat pun yang dapat menggantikan tidur. Karena tidur yang cukup dan berkualitas dibarengi dengan asupan makanan dan olah raga yang teratur-lah yang mampu menjaga vitalitas seseorang tetap bugar,” tutupnya.
yusti nurul agustin

link: http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=65881