Bahaya Mendengkur

Ngorok dan Stroke

Stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga di dunia. Menurut data tahun 2013, di Indonesia 12,1 dari 1000 penduduk mengalami stroke, bandingkan di tahun 2007 yang hanya 2007.

Sementara, bukti tentang mendengkur dan henti nafas saat tidur (sleep apnea) sebagai faktor resiko terjadinya stroke semakin menggunung. Penelitian Sleep Heart Health Study di tahun 2010 menunjukkan, semakin parah dengkuran seseorang, semakin tinggi resikonya mengalami stroke iskemik. Derajat keparahan yang ditunjukkan oleh indeks henti nafas tidur (AHI) lebih dari 19 kali perjam akan tingkatkan resiko stroke hingga 3 kali lipat, pada kelompok usia paruh baya ke atas. Sementara penelitian lain di Australia yang diterbitkan pada the Journal of Clinical Sleep Medicine di tahun 2014 tunjukkan bahwa penderita sleep apnea sedang-parah (AHI>15/jam) memiliki resiko stroke 3,7 kali lipat.

Mendengkur

Sleep apnea atau henti nafas saat tidur, terutama ditandai dengan tidur yang mendengkur. Tampak sepele, tapi pasangan dari penderita sleep apnea tahu persis bagaimana mengerikannya pendengkur tidur. Bukan karena kerasnya suara dengkuran, tetapi episode henti nafas dan tersedak seperti tercekiklah yang menjadikan pengalaman tidur dengan pendengkur terasa mengkhawatirkan.

Aturan pertama bagi pendengkur adalah percaya apa yang dikatakan pasangan tentang dengkuran. Karena pendengkur tak tahu dirinya mendengkur saat tidur. Pasanganlah yang paling tahu tidur Anda.

Episode henti nafas inilah yang selanjutnya berakibat pada proses tidur yang terganggu. Karena sesak berulang, tanpa disadari, otak jadi terbangun berulang kali. Akibatnya pendengkur bangun kurang segar di pagi hari, dan jadi mudah mengantuk sepanjang hari hingga menurunkan kualitas hidup penderitanya.

Ngorok dan Stroke

Tidur ngorok berakibat luas pada kesehatan. Sleep apnea akibatkan hipertensi, gangguan jantung, stroke, diabetes dan impotensi.

Hubungan antara stroke dan sleep apnea belum bisa dipastikan. Semua perubahan pada hemodinamis, sistem saraf, pembuluh darah dan proses inflamasi akibat henti nafas saat tidur diduga berakibat langsung pada terjadinya stroke.

Penelitian Terbaru

Dalam jurnal kedokteran tidur SLEEP terbitan 2016 menjelaskan bahwa pada kelompok usia lanjut, penurunan kadar oksigen jauh lebih penting dinilai dibanding derajat keparahan ngorok (AHI) untuk memprediksikan resiko stroke.

Penelitian ini menyertakan 2.872 orang berusia sekitar 70an tahun yang diikuti selama 5-7 tahun. Pada pemeriksaan lanjutan, sebanyak 156 orang (5,4%) mengalami stroke. Kemudian data penderita stroke ini dicocokkan dengan data pemeriksaan tidur (polisomnografi) untuk melihat riwayat sleep apneanya. Data yang dinilai adalah derajat keparahan henti nafas serta penurunan kadar oksigen yang dialami selama tidur.

Ternyata, pada penurunan kadar oksigen dibawah 90% pada lebih dari sepersepuluh waktu tidur, didapati resiko stroke yang meningkat hingga 1,8 kali lipat dibanding yang tidak mengalami penurunan oksigen.

Perawatan

Diagnosis sleep apnea hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Derajat keparahan henti nafas dan penurunan kadar oksigen jadi penting bagi penentuan perawatan pasien nantinya. Perawatan sleep apnea bisa dengan menggunakan oral appliances, CPAP atau lewat jalan pembedahan. Tapi jangan salah, terkadang didapati juga pendengkur yang tak mengalami gangguan nafas. Pendengkur seperti ini tidak diindikasikan untuk dilakukan perawatan medis apa-apa karena tak membahayakan kesehatannya.

Pada sebagian besar penderita sleep apnea, perawatan terbaik adalah dengan menggunakan continuous positive airway pressure (CPAP). Penelitian Becker dan kawan-kawan di tahun 2003 menunjukkan bahwa peggunaan CPAP dalam perwatan sleep apnea akan menurunkan resiko penyakit jantung koroner sebesar 37% dan penurunan resiko stroke hingga 56%.

Sementara peneltian yang diterbitkan oleh jurnal Clinics, Brasil di tahun 2008 menyatakan bahwa perawatan sleep apnea pada pasien stroke akan memperbaiki kadar oksigen, arsitektur tidur dan indeks henti nafas. Perbaikan ini akan mencegah terjadinya serangan stroke berulang.

7 Hal Tentang Mendengkur dan Henti Nafas Tidur

Sleep apnea, atau henti nafas saat tidur masih belum begitu diketahui orang di tanah air. Sementara yang sudah tahu pun belum mengerti benar apa itu sleep apnea. Banyak kesalah pahaman meliputinya. Tak jarang ketidak tahuan pun berakibat pada keterlambatan perawatan.

Penderita sleep apnea pun semakin bertambah jumlahnya. Beberapa penelitian menyebutkan obesitas sebagai penyebabnya, sementara penelitian lain menyebutkan bahwa jumlah penderita meningkat seiring dengan semakin bertambahnya kesadaran pendengkur untuk memeriksakan dirinya. Apa pun sebabnya, dengan semakin banyak penderita sleep apnea yang dirawat, resiko penyakit jantung koroner dan stroke pun menurun.

Dari beberapa pasien saya, ada beberapa hal yang ingin saya bagikan.

1. Mendengkur itu wajar dan tak berbahaya.

Banyak orang mendengkur, kebanyakan teman seusia saya juga mendengkur; ujar salah satu pasien pria berusia 60-an tahun. Walau banyak orang mendengkur, bukan berarti mendengkur itu normal. Bahkan membahayakan. Mendengkur adalah gejala utama dari sleep apnea atau henti nafas saat tidur. Penderitanya berulang kali mengalami henti nafas akibat menyempitnya saluran nafas saat tidur. Akibatnya oksigen akan turun-naik sepanjang malam. Sebuah penelitian di Spanyol mengimitasi kondisi oksigen turun naik ini pada tikus. Akibatnya sel tumor yang disuntikkan berkembang menjadi ganas setelah beberapa waktu.

Sementara penelitian-penelitian terdahulu sudah mengamini mendengkur sebagai penyebab hipertensi, berbagai penyakit jantung, stroke, depresi, kematian dan impotensi.

2. Hanya pria yang mendengkur.

Ini pun salah. Wanita juga bisa mendengkur. Hampir seperlima pasien saya adalah wanita.

Walau hasil pemeriksaan tidur menunjukkan bahwa wanita menderita sleep apnea yang lebih ringan dibanding pasien pria, namun mendengkur pada wanita tetap tak boleh diremehkan. Terutama pada masa kehamilan, sleep apnea menyebabkan gangguan perkembangan janin, preeklampsia, diabetes pada kehamilan, serta resiko prematuritas.

3. Anak-anak mendengkur itu tampak menggemaskan.

Ya, memang menggemaskan tetapi ketika di antara dengkuran tampak nafas jadi berat bahkan tampak sesak, justru jadi mengerikan. Henti nafas yang dialami pada anak akan mengganggu proses tidur yang pada akhirnya akan menyebabkan gangguan tumbuh kembang, emosi dan perilaku. Daya tahan tubuh juga menurun, hingga anak mudah terserang penyakit infeksi.

Selain mendengkur, gejala lain sleep apnea pada anak adalah kantuk yang berlebihan (hipersomnia). Hanya saja manifestasi hipersomnia pada anak, justru muncul sebagai hiperaktivitas. Biasanya orang tua melaporkan anak sulit mempertahankan konsentrasinya. Secara emosional, anak pun jadi lebih agresif. Semua hal yang sering kita temui pada anak yang menahan kantuk.

4. Sleep apnea bisa menurun.

Sebenarnya sleep apnea atau mendengkur disebabkan oleh saluran nafas yang sempit. Struktur wajah, bentuk rahang, gigi geligi, amandel, dan langit-langit mulut dari anak dan orang tua tentu mirip. Tak heran jika ada pasien anak yang mendengkur, salah satu dari orang tuanya pun ternyata mendengkur.

5. Mendengkur disebabkan oleh kegemukan.

Belum tentu benar. Banyak literatur memang menyatakan obesitas sebagai penyebab sleep apnea. Tapi penelitian-penelitian ini dilakukan di negara-negara ras Eropa. Mereka memiliki stuktur rahang lebar dan leher yang lebih panjang, berbeda dengan kita orang Asia yang memiliki rahang sempit dan leher pendek. Ini sebabnya banyak orang yang tidak gemuk pun mendengkur.

Para ahli bahkan menemukan bahwa sleep apnea justru mengakibatkan gangguan metabolisme yang menyebabkan kegemukan. Contoh paling mudah adalah dengan merefleksikan pada diri sendiri, saat menahan kantuk akibat lembur bekerja, kita cenderung lapar bukan? Ya, sel-sel di otak pun mendikte kita untuk mencari makanan dengan rasa manis, asin dan gurih.

6. Perawatan sleep apnea adalah dengan CPAP.

CPAP, singkatan dari continuous positive airway pressure memang merupakan standar utama perawatan sleep apnea. Tapi tak semua pendengkur harus menggunakan CPAP. Ada alternatif perawatan lain berupa pembedahan atau penggunaan dental appliances (yang dibuat dokter gigi). Untuk menentukan perawatan terbaik, seorang pendengkur harus menjalani pemeriksaan. Pemeriksaan saat tidur dilakukan di laboratorium tidur atau populer dikenal dengan sebutan sleep study. Dari pemeriksaan ini diagnosis baru bisa ditegakkan, dan perawatan baru ditentukan.

Tidak semua pasien baik dengan jalan pembedahan. Demikian juga tak semua pendengkur baik dengan gunakan CPAP. Terkadang ada kondisi tertentu dimana pasien harus menjalani keduanya. CPAP merupakan sebuah alat yang meniupkan tekanan positif agar saluran nafas tak menutup saat tidur. Walau tak biasa di awal pemakaian, dengan penyetelan, pelatihan dan pemberian yang baik dari tenaga medis terlatih, perawatan jangka panjang nan nyaman bisa tercapai. Belakangan mulai diteliti kemungkinan alat-alat baru untuk merawat sleep apnea, seperti alat implan untuk merangsang otot-otot saluran nafas atas, atau alat semacam plester hidung yang bisa digunakan. Semoga dalam waktu dekat semakin banyak alternatif perawatan bagi penderita sleep apnea.

Tujuan perawatan medis adalah menjaga fungsi-fungsi nafas saat tidur, bukan pada suara dengkuran. Tapi jangan khawatir, dengan melakukan perawatan pada saluran nafas, otomatis suara dengkuran turut hilang.

7. Jangan abaikan dengkuran.

Dengan semakin banyaknya bukti-bukti ilmiah bahaya mendengkur, sudah selayaknya kita tak lagi mengabaikan pendengkur di sekitar kita. Seorang pendengkur hanya tahu dirinya mendengkur ketika diberi tahu orang lain. Sering kali saya jumpai pasien terkaget-kaget saat dijelaskan parahnya henti nafas yang ia alami. Ya, penderita sleep apnea tak pernah menyadari apa yang ia alami selama tidur. Bagaimana ia tercekik dan tersedak saat tidur, bagaimana kadar oksigen turun atau bagaimana jantung jadi bekerja keras saat tidur.

Jika ada pendengkur di sekitar Anda, jangan ditertawakan. Bisa jadi ia menderita sleep apnea yang mempertaruhkan nyawanya setiap kali tertidur. Peringatkan, ajak ia memeriksakan dirinya. Dengan demikian Anda menyelamatkan hidupnya!

Sleep Apnea Kurangi Performa Latih

Penelitian yang dipublikasikan pada the Journal of Clinical Sleep Medicine, menyebutkan bahwa orang yang mendengkur tidak dapat secara efisien membakar kadar oksigen tinggi selama latihan aerobik. Akibatnya ketika dibandingkan dengan non-pendengkur, pendengkur memiliki performa latih yang lebih buruk.

Sleep Apnea

Sleep apnea adalah penyakit tidur yang biasa diderita oleh para pendengkur. Sleep apnea, yang artinya henti nafas saat tidur, terjadi akibat menyempitnya saluran nafas saat tidur. Jadi, walau gerakan nafas tetap ada, sebenarnya tak ada udara yang dapat lewat. Penderitanya seolah tercekik berulang kali dalam tidurnya.

Akibat sesak berulang, pendengkur akan terbangun-bangun dari tidur. Tapi mereka tidak menyadarinya, karena episode bangun tersebut amat singkat. Namun, akibat proses tidur yang terpotong-potong ini, kita sering menemui pendengkur yang bangun tak segar dan selalu mengantuk di siang hari.

Sleep apnea telah dikenali menjadi penyebab utama dari hipertensi, berbagai penyakit jantung, diabetes, stroke hingga impotensi.

Penenelitian

Para ahli percaya bahwa salah satu parameter risiko stroke dan serangan jantung adalah dengan mengukur kapasitas performa latih berupa uji latih jantung-paru (Cardio-Pulmonary Exercise Test, CPET). Yang diukur adalah VO2 max, yang artinya, kadar oksigen maksimum yang dibakar seseorang saat latihan fisik berat, seperti bersepeda.

Penelitian yang dilakukan di University of California San Diego ini membandingkan penderita sleep apnea dan yang sehat. Semua peserta sebelumnya dilakukan pemeriksaan tidur untuk menentukan derajat sleep apnea yang diderita. Seluruhnya terdapat 15 orang pria dan wanita yang menderita sleep apnea derajat sedang hingga berat, serta 19 orang pendengkur tanpa sleep apnea dan sleep apnea derajat ringan.

Kesemuanya diukur saat beristirahat, bersepeda, dan terus ditingkatkan resistensinya sampai batas kelelahan maksimal. Hasilnya, kadar VO2 max pendengkur yang menderita sleep apnea ternyata lebih rendah dibanding yang sehat.

Para peneliti menyimpulkan bahwa kemampuan latih penderita sleep apnea ternyata lebih buruk dibandingkan pendengkur biasa. Yang artinya risiko untuk menderita penyakit jantung dan stroke juga lebih tinggi.

Cerita Seorang Pasien via SMS

Berikut adalah SMS dari seorang pasien yg membuat saya merasa bersemangat lagi untuk terus bergerak memajukan kedokteran tidur di Indonesia.

DEAR DOCTOR ANDREAS, JUST WANT TO SAY THANK YOU VERY MUCH. MY LIFE HAS BEEN TRANSFORMED FOR THE BETTER. NOW I SLEEP LIKE A LOG, ALL THE WAY TO MORNING, WAKE UP FRESH, AND STAY WIDE AWAKE ALL DAY, AND SHARP AT WORK AND IN MEETINGS IT’S LIKE REDISCOVERING LIFE ALL OVER AGAIN: I HAVE BEEN RECOMMENDING YOU AND HOSPTAL MITRA KEMAYORAN TO FRIENDS WHO HV SLEEP PROBLEMS. E.B. (YR THIRD WORST PATIENT).

Catatan: pasien ini menderita sleep apnea berat dgn henti nafas rata-rata 100,3 kali perjam. Gejala sleep apnea adalah mendengkur dan kantuk berlebih. Akibatnya produktivitasnya amat terganggu. Pada saat ia berkunjung untuk konsultasi pertama kali, saya ingat bagaimana ia merasa sulit berkonsentrasi saat berkerja. Selain itu sleep apnea dapat menyebabkan hipertensi, berbagai gangguan jantung, diabetes hingga stroke.

Mendengkur adalah Kutukan Ondine

Ondine adalah seorang peri air dari mitologi Jerman. Sebagai seorang peri tentu saja ia amat cantik dan abadi. Pada suatu ketika, ia jatuh cinta pada seorang manusia biasa dan mengorbankan keabadiannya dengan menikahi Sir Lawrence, sang ksatria. Dalam upacara pernikahan, Lawrence mengucapkan sumpah: “My every waking breath shall be my pledge of love and faithfulness to you.”

Namun, setahun sesudahnya Ondine melahirkan anak bagi sang kekasih, dan perlahan proses penuaan pun mulai menyerang. Kecantikan Ondine memudar seiring dengan cinta sang suami. Lawrence pun mulai melirik gadis-gadis muda di sekelilingnya.

Suatu sore, Ondine sedang berjalan-jalan melewati kandang kuda dan ia mendengar suara dengkuran Lawrence yang amat dikenalinya. Di dalam salah satu istal ia melihat suaminya sedang terlelap sambil memeluk seorang perempuan muda. Pada saat itu ia pun murka, dan menunjuk sang suami. Seketika Lawrence merasa sesak dan terbangun. Ondine pun menjatuhkan kutuk: “You swore faithfulness to me with every waking breath, and I accepted your oath. So be it. As long as you are awake, you shall have your breath, but should you ever fall asleep, then that breath will be taken from you and you will die!”

Untuk selanjutnya “Kutukan Ondine” menjadi semacam nama tradisional bagi sindroma henti nafas saat tidur atau sleep apnea. Sleep apnea ditandai dengan tidur mendengkur dan rasa kantuk berlebih. Episode henti nafas diantara dengkuran akan membangunkan penderitanya akibat sesak nafas. Hanya saja episode bangun biasanya tidak disadari oleh si pendengkur. Sleep apnea menjadi fatal, karena menjadi penyebab tekanan darah tinggi, diabetes, berbagai penyakit jantung, stroke, hingga kematian. Penelitian terakhir juga menunjukkan bahwa sleep apnea menyebabkan kerusakan otak permanen.

Bahaya Mendengkur di “Dokter Anda” TVONE

Tayang hari Rabu, 26 November 2008 jam 11:30 siang di acara Doter Anda, TVONE.

Dalam acara kali ini, “Dokter Anda” mencoba mengupas salah satu gangguan tidur yang paling banyak diderita, paling berbahaya tetapi juga paling diabaikan. Kenapa? Mudah saja, gejalanya sudah dianggap biasa: MENDENGKUR. Penderita Sleep Apnea (henti nafas saat tidur) ditandai dengan mendengkur dan kantuk berlebih. Sehingga dapat mengganggu aktifitas penderitanya. Sementara, proses henti nafas ini juga dapat menyebabkan hipertensi serta memicu diabetes, berbagai gangguan jantung hingga stroke.

“Dokter Anda” dipandu oleh Dr. Sonia Wibisono dengan bintang tamu Arie Untung. Sementara Dr. Andreas Prasadja, RPSGT diundang sebagai nara sumber. Pembicaraan tercipta hangat karena topik yang menarik dan ternyata diderita oleh banyak orang termasuk orang-orang yang kita cintai.

Talkshow 30 menit ini diikuti dengan peliputan di Sleep Disorder Clinic, RS Mitra Kemayoran untuk lebih jauh memperkenalkan proses pemeriksaan hingga perawatan berbagai gangguan tidur, terutama Sleep Apnea. Di sana para kru dari TVONE diperkenalkan dengan Polysomnography (PSG) yang merupakan alat pemeriksaan gangguan tidur yang dilakukan di Sleep Laboratory pertama di Indonesia. Dengan dipandu oleh staf RS yang cantik-cantik, kru TVONE juga diperkenankan untuk mencoba mengatasi dengkuran dengan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP.)

“Bagaimana? Anda Mendengkur?” tanya Dr. Sonia.

 

Setelah shooting talkshow
Persiapan Shooting di Sleep Laboratory, RS Mitra Kemayoran
Pengukuran dengan 10-20 system
Pemasangan Sensor
Merekam Proses Polysomnography (PSG) di Sleep Laboratory
PSG, pemeriksaan untuk mendiagnosa gangguan tidur
Analisa PSG pada penderita sleep apnea, mencari henti nafas yang dialami selama tidur
The Crew
CPAP untuk mengatasi Sleep Apnea
Staf RS Mitra Kemayoran yang mendampingi