Sleep Symposium 2008

Singapore Sleep Symposium 2008, diadakan di Singapore General Hospital dengan diikuti oleh para dokter sekawasan termasuk Indonesia. Didalamnya didiskusikan berbagai kemajuan dibidang kedokteran tidur. Mulai pemeriksaan, perawatan hingga hasil-hasil penelitian terkini dunia. Tak tanggung-tanggung, para ahli datang langsung untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman di forum ini. Di antara mereka terdapat Prof. Chol Sin dari Korea yang menyoroti sleep apnea pada ras Asia, yang ternyata jumlah penderitanya lebih banyak dibanding ras Eropa. Kemudian Prof. Richard Goode yang datang langsung dari the Mecca of Sleep Medicine: Stanford University, US. Ada juga Prof. Kurt Lushington dari University of South Australia yang meneliti manfaat melatonin bagi proses tidur, namun ia malah menemukan salah satu faktor yang membantu tidur: core body temperature. Sementara dari beberapa RS Anak di Singapore dan Australia, para ahli memaparkan berbagai gangguan tidur pada anak mulai dari sleep apnea, parasomnia hingga gangguan perilaku tidur anak serta pengaruhnya pada proses tumbuh kembang.

Sungguh suatu perkembangan yang menggembirakan. Apalagi melihat banyaknya minat dari dokter asal Indonesia. Di Indonesia, kedokteran tidur masih amat asing, bahkan di telinga para dokter.

Berikut adalah kutipan dari William C. Dement, the father of sleep medicine:
“Unlike many newcomers to the medical mainstream, Sleep Medicine is not the child of a single parent discipline. Rather clinical and basic sleep research have been the foster children of many discipline but have beef the favored child of none.”

Quote

Dr. Lim Li Ling

Prof. Chol Sin of Korea

Eugene Beay of Respironics

Respironics PAP Device

Brett & Dylan of ResMed

Lalaine Gedal of Covidien

Mask Fitting

Treatment Follow Up

Dr. Arthur Teng of Sydney Children’s Hospital

Prof. Kurt Lushington of University of South Australia

Bila Lelap Tidur Terusik

Majalah Gatra, Januari 2008

Penyakit gangguan tidur terus meningkat. Di Jakarta, sejumlah klinik khusus gangguan tidur dibangun. Tak boleh dianggap sepele. Bisa menyebabkan penyakit lain.

Tidur di sembarang temnpat. Begitulah yang dialami Jimmy Buchari Nugroho. Di mana pun, dalam situasi apapu, Jimmy dengan mudah bisa terlelap. Saat asyik ngobrol dengan kawan pun, tiba-tiba ups... dia tertidur. Yang lebih parah, pas berhenti di lampu merah, dia bisa langsung tertidur. Padahal, saat itu posisi tangannya sedang memegang setir mobil.

“Saya tak bisa menahan rasa kantuk,” katanya. Dalam dua tahun terakhir ini, hal itu terjadi berkali-kali. Selain gampang terlelap, pegawai swasta itu punya penyakit tidur lain: mendengkur. Untunglah sang istri, kata Jimmy telah kebal, meski suara dengkurannya tergolong keras.

Urusan mendengkur itu sudah diakrabi Jimmy sejak remaja. Semula dia anggap biasa, tapi lama-kelamaan ia merasa terganggu juga. Lantas pada 2006, orangtuanya mengetahui ada klinik Gangguan Tidur di sebuah rumah sakit di Kemayoran, Jakarta Pusat.

Dr. Andreas Prasadja, RPSGTWarga Jalan Sukomanunggal Jaya, Surabaya ini langsung terbang ke Jakarta. Bapak tiga anak ini berkonsultasi seorang dokter. Setelah mengetahui keluhannya, ia langsung menjalani program di laboratorium tidur. Tujuannya adalah untuk mendeteksi gangguan tidur. Hari itu juga pada pukul 21.00 WIB, ia langsung tidur di Laboratorium Tidur. Di sana, ia dipasang sensor-sensor yang ditempelkan di rambut dan beberapa bagian tubuh lain. “Tak sakit sama sekali,” ujar Jimmy.

Walhasil, ia divonis menderita gangguan tidur jenis obstructive sleep apnea (OSA) atau menyempitnya saluran napas pada saat tidur. Untuk terapi, Jimmy diberikan dua pilihan: operasi atau menggunakan terapi alat. Dan ia pun memilih menggunakan terapi alat continuous positive airway pressure (CPAP). Jadi selama tidur, ia akan selalu menggunakan alat berbentuk masker.

Awalnya tak nyaman. Tetapi seminggu kemudian sudah terbiasa. Dampak penggunaan alat tersebut, ia mengaku tak mengantuk lagi pada siang hari. Kerjanya pun menjadi lebih produktif. “Saya sudah tidak mendengkur lagi,” katanya. Ia kontrol lagi sekali setelah tiga bulan diterapi.

Tidak hanya Jimmy yang menderita gangguan tidur. Masih banyak orang yang mengalaminya. Beragam gangguan tidur yang dialami, dari mulai insomnia, sleep apnea, dan lain-lain (lihat: Sulit Tidur Hingga MendengkurI). Setiap tahun di dunia diperkirakan 20%-70% melaporkan adaya gangguan tidur, dan sekitar 17% didiagnosis mengalami gangguan tidur yangserius. Prevalensi gangguan tidur lebih banyak lagi terjadi pada usia lanjut. Prevalensinya, 67%.

Di Indonesia belum diketahui angka pastinya. Tapi prevalensi pada orang dewasa mencapai 20%. Masih kecilnya angka tersebut, boleh jadi lantaran sebagian besar menganggap gangguan tidur bukanlah penyakit. Mendekur, misalnya, meski kerap mengganggu kenyamanan tidur orang lain, bukan dianggap masalah. Sehingga banyak orang yang tidak mau memeriksakan diri ke rumah sakit. Mereka baru datang setelah sudah parah.

Di RS Medistra, baru lima-enam orang yang datang memeriksakan diri setiap bulan. Sedangkan di RS Mitra Kemayoran 10 orang. Menurut Dokter Rimawati Tedjasukmana, ahli penyakit tidur RS Medistra, di Indonesia, penyakit ini masih dianggap sesuatu yang baru. “Padahal di luar negeri sudah biasa memeriksakan gangguan tidur,” ujarnya. Di Amerika Serikat, penyakit ini sudah dikenal pada era 1950-1960.

Meski begitu klinik-klinik khusus tidur mulai bermunculan, seperti di RS Medistra dan Mitra Kemayoran. Begitu pula para dokter yang khusus menangani penyakit tersebut, sudah bertebaran di sejumlah rumah sakit, seperti RS Metropolitan Medical Center (MMC). Padahal sebelumnya, gangguan tidur ditangani para psikiater saja, yang juga menangani penyakit kejiwaan lain. Sedangkan ahli THT pun turun tangan menangani penyakit mendengkur.

Munculnya klinik-klinik khusus ini tak terlepas dari tren gangguan tidur yang bakal meningkat. Ini seiring dengan meningkatnya tingkat stres dan depresi yang dialami orang belakangan ini. Ketegangan pikiran membuat orang sulit tidur. Lalu timbul keinginan untuk segera bisa tidur. Namun keinginan sangat tidur justru membuat orang tersebut menjadi tertekan. Belum termasuk beberapa penyakit lain yang mengganggu kenyamanan tidur, yang juga bertambah jumlahnya. Tidur yang benar sangat ditentukan oleh kuantitas dan kualitas tidur. Dari kuantitas, tidur sebaiknya berlangsung selama enam-delapan jam. Dari segi kualitas berkaitan dengan rapid eye movement (REM) atau tidur mimpi.

Selain itu juga dilihat pada tahapan tidur, apakah tidur dangkal atau tidur dalam yang sulit dibangunkan. Juga adanya gangguan saat tidur. Bila itu kurang dari enam jam atau terganggu tidurnya, akan bermasalah. Penyakit tersebut bisa menyerang siapa saja. Wartawan, dokter, pekerja shift, atau pekerja yang berada pada tekanan kerja yang tinggi bisa terkena. Gangguan tidur tak boleh dianggap remeh.Bisa mengancam jiwa baik secara langsung atau tidak langsung.

Orang kurang tidur bisa menyebabkan orang mengantuk pada pagi dan siang hari, sehingga bisa menimbulkan kecelakaan bila ia mengendarai mobil. Biaya kesehatan yang berkaitan dengan gangguan tidur mencapai US$ 100 juta (sekitar Rp 9,5 trilyun) di Amerika Serikat.

Gangguan tidur juga pertanda penyakit lain: diabetes atau asma, disfungsi seksual, dan sebagainya. Dapat pula menimbulkan penyakit lain, seperti jantung, hipertensi, dan obesitas. Misalnya, orang yang sulit tidur cenderung mengatasinya dengan mengonsumsi banyak makanan. Dengan harapan mereka bisa cepat tidur di kala kenyang. Padahal belum tentu. Makanan tersebut malah akan membuat orang tersebut mengalami kegemukan. Selain itu, bagi para remaja, kurang tidur juga menyebabkan prestasi belajar menurun. Nilai matematika, membaca, dan menulis jeblok.

Penelitian yang digarap Profesor Albert Martin Li dari Chinese University of Hong Kong, Cina, membuktikan bahwa anak-anak yang kerap mendengkur mengalami dua kali penurunan prestasi sekolah dan menderita hiperaktivitas. Kualitas dan kuantitas tidur yang membuat mengantuk pada pagi dan siang hari. Untuk melawan rasa kantuk, anak cenderung bergerak lebih aktif. Jika dibiarkan anak menjadi hiperaktif. Ciri-cirinya, mendengkur dan sulit bernapas saat tidur, berkeringat saat tidur, bernapas melalui mulut, gampang dan marah, gangguan tumbuh kembang. “Dia mudah tertidur di mana saja, sehingga terkesan pemalas,” ujar dokter Andreas Prasadja,RPSGT , ahli penyakit tidur pada RS Mitra Kemayoran, Jakarta.

Pada orang dewasa, gangguan tidur bisa menurunkan produktivitas dan mengganggu konsentrasi bekerja atau berkendara. Sedangkan kaitan dengan penyakit jantung bisa dilihat dari salah satu jenis gangguan tidur, yaitu OSA. Pada saat tenggorokan tersumbat, aliran napas menjadi tidak ada. Apabila tidak ada udara yang lewat, maka karbondioksida di dalam tubuh akan tinggi. Secara otomatis di dalam tubuh terjadi peningkatan tekanan darah agar udara dari luar segera

Tekanan dalam darah tinggi akan menganggu kerja jantung. Selain itu, pembuluh darah menyempit dan darah menjadi kental. Lama-kelamaan jantung akan bergerak melambat. “Jadi tidur sangat penting,” kata Andreas.

Penderita ganguan jantung dengan OSA mempunyai risiko lebih tinggi untuk mengalami kematian mendadak pada jam-jam tidur. “Lebih banyak yang meninggal pada saat pukul 05.00 pagi,” kata Rimawati. Karena pada saat itu kondisi tubuh berada pada posisi REM atau tahap tidur mimpi.

Aries Kelana, Elmy Diah Larasati, dan Rach Alida Bahaweres

Sulit Tidur Hingga Mendengkur

Ada beragam gangguan tidur. Pertama, insomnia, yakni gangguan tidur yang dicirikan oleh susahnya atau terganggunya saat tidur.

Ada beragam gangguan tidur. Pertama, insomnia, yakni gangguan tidur yang dicirikan oleh susahnya atau terganggunya saat tidur. Sebagian besar penderitanya mengeluhkan susah menutup mata dan mengistirahatkan pikirannya dalam beberapa menit hingga jam.

Atau juga bisa berarti mereka terbangun saat tidur, atau merasa belum puas tidur. Di Amerika Serikat, menurut Departemen Kesehatan, sekitar 60 juta terserang insomnia. Sebagian besar menimpa wanita. Insomnia terdiri dari tiga tipe berdasarkan tingkat keparahan, yaitu:

Pertama: transient insomnia, yaitu gangguan tidur yang berlangsung hingga berhari-hari sampai berminggu-minggu. Penyebabnya macam-macam, antara lain perubahan waktu tidur, waktu mengantuk, dan stres.

Kedua: isomnia akut, adalah ketidakmampuan tidur dengan baik antara tiga minggu hingga enam bulan. Insomnia jenis ini biasanya menyerang orang yang sedang mengalami stres, berada di lingkungan yang ribut-ramai, berada di lingkungan yang mengalami perubahan temperatur ekstrim, jadwal tidur-bangun yang berubah mendadak seperti yang terjadi saat jetlag, atau efek samping pengobatan

Ketiga: chronic insomnia, yakni adalah gangguan tidur yang berlangsung hingga bertahun-tahun. Disebabkan rasa kantuk yang tak bisa dipenuhi atau kelelahan mental dan otot-otot. Misalnya, orang merasa tidak bisa tidur, sehingga ia berusaha untuk menutup matanya, namun makin sulit terlelap.

Penyebab umumnya adalah depresi, sedangkan yang lainnya berupa gangguan radang tulang, gangguan ginjal, parkinson. Dapat pula diakibatkan kerja lembur yang berlangsung lama atau kegiatan yang selalu dilakukan pada malam hari, serta stres kronis.

Sedangkan dilihat dari jenisnya, insomnia terbagi dua: parasomnia dan disomnia. Parasomnia adalah jenis gangguan tidur yang ditandai oleh aktivitas sewaktu tidur. Orang menyebutnya tidur jalan. Misalnya, membuka pintu padahal sedang tidur.

Atau melakukan seks di saat tidur. Yang juga tergolong dalam jenis ini adalah bunyi gigi menggerutuk saat tidur atau berteriak-teriak saat tidur yang berkaitan dengan mimpi buruk. Orang yang kaki tak bisa diam saat mau tidur atau trauma yang terbawa mimpi juga termasuk dalam jenis gangguan tidur parasomnia.

Banyak faktor penyebab, antara lain stres atau depresi. Faktor biologis juga bisa berperan. Sedangkan disomnia adalah sulitnya menutup mata. Lalu, hipersomnia adalah penyakit yang ditandai gampangnya orang tertidur.

Kedua, sleep apnea, yakni sejenis gangguan tidur yang berkaitan dengan sistem pernapasan. Sleep apnea terjadi bila orang tidur tetapi pernapasannya terganggu. Sehingga kerap mengganggu siklus tidur. Apabila dibiarkan, dapat mendatangkan kematian. Mendengkur termasuk dalam kategori ini.

Ada juga obstructive sleep apnea (OSA). Orang yang menderita OSA kerap tak ingat waktu bangun atau mengalami kesulitan bernapas. Tapi ia bisa tidur pulas pada siang hari.

Satu dari lima penduduk Amerika mengalami OSA. Menurut Dokter Andreas A.Prasaja, ahli penyakit gangguan tidur Rumah Sakit Mitra Kemayoran, OSA disebabkan oleh menyempitnya saluran nafas pada saat tidur. “Ketika tidur, otot lidah melemah dan terjatuh ke belakang menyumbat saluran nafas,” katanya.

Akibatnya jalan nafas tersengal-sengal. Penderita biasanya tak tahu kalau ini tergolong gangguan tidur. Sedangkan menurut Profesor Bambang Hermani, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis THT Bedah Kepala Leher Indonesia, Osa terkait dengan hipertensi, penyakit jantung koroner, disfungsi seksual, dan stroke di usia muda.

Lantas central sleep apnea (CSA) yang terjadi pada orang-orang yang terganggu pernafasannya yang berkaitan dengan sistem saraf pusat. Dan masih banyak lain jenis gangguan tidur.

Orang yang menderita penyakit ini harus menarik nafas dalam-dalam untuk mengembalikan sistem pernafasan. Biasanya berkaitan dengan gagal jantung dan penuaan dini.

Aries Kelana, Elmy Diah Larasati, dan Rach Alida Bahaweres

masuk.Pilih Obat atau Herbal

Beberapa obat batuk dapat menimbulkan kantuk. Bahkan beberapa di antara mereka ada yang membeli obat penenang.

Banyak cara untuk mengatasi gangguan tidur. Antara lain dengan obat tidur atau obat-obatan yang dapat membuat orang mengantuk. Beberapa obat batuk dapat menimbulkan kantuk. Bahkan beberapa di antara mereka ada yang membeli obat penenang. Obat-obat ini sebenarnya termasuk obat resep, tapi sejumlah apotek dapat menjual obat keras itu kepada pasien yang membutuhkan tanpa resep dokter.

Itu cara yang salah. Yang benar: periksa ke dokter. Di sana, pasien akan menjalani pemeriksaan dengan polisomnografi. ”Ini untuk mendiagnosis gangguan tidur,” kata Dokter Andreas A. Prasadja dari Rumah Sakit Mitra Kemayoran. Di situ rambut pasien ditempeli sensor. Setelah diterdiagnosis kena sleep apnea misalnya, terapinya antara lain, continous positive airway pressure

Selain terapi itu, dokter biasanya memberikan obat-obatan, seperti obat penenang. Beberapa golongan obat penenang, di antaranya, benzodiasepam atau beberapa obat non-benzodiasepam. Yang termasuk dalam benzodiazepam, antara lain, temazepam, diazepam, lorazepam, dan nitrazepam. Benzodiazepam sebenarnya lebih merupakan obat antidepresi.
Namun seringkali disalahgunakan untuk keperluan lain. Andaikata digunakan sembarang atau tanpa pemantauan dokter, obat tersebut dapat menimbulkan ketergantungan. Sedangkan obat-obat non-benziodiazepam, di antaranya, zolpidem dan zopiclone. Seperti juga benzodiazepam, obat ini juga menimbulkan ketergantungan. Bisa dikonsumsi terus-menerus akan menimbulkan gangguan memori dan kognitif.

Ada beberapa obat anti-depresi yang lain, seperti mirtazapine, trazodone, dan doxepin. Selain menimbulkan ketergantungan, obat ini juga mengganggu pola tidur. Juga ada obat yang mengandung melatonin atau antihistamin. Antihistamin kerap diresepkan dokter untuk mengatasi penyakit ini. Dosis yang dianjurkan 50-100 miligram per hari. Tidak menimbulkan ketergantungan.

Sejumlah penderita insomnia yang lain tak mau menanggung risiko kecanduan/ Mereka terkadang jalan yang relatif aman, yaitu mengonsumsi beberapa tanaman ditengarai dapat menimbulkan kantuk adalah valerian, chamomile, lavender, dan passion flower. Valerian, misalnya, sudah terbukti bisa menyebabkan orang gampang tertidur. Valerian adalah tanaman asli yang tumbuh di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Barat.

Bagian tanaman yang digunakan untuk pengobatan adalah bagian rizoma dan akar. Sedangkan kandungan aktif yang terdapat di dalamnya antara lain minyak volatile, iridoid, sesquiterpenes, alkaloid piridin, dan derivat asam kafein. Sesquiterpenes tergolong kandungan memberikan efek biologis terbanyak.

Selain itu, tak sedikit pula yang menggunakan aromaterapi yang mengandung minyak melati atau minyak lavender. Kedua minyak ini bisa membuat orang tenang dan tidur nyenyak. Ada juga yang menggunakan akupunktur atau hipnoterapi. Insomnia merupakan salah satu gejala kekurangan magnesium. Sehingga banyak orang sehat yang mengonsumsi suplemen atau makanan yang kaya magnesium.

Makanan yang kaya magnesium dapat dijumpai pada kentang, biji-bijian, susu, daging, ikan, dan sayur-sayuran yang berwarna hijau. Seng, kalsium, kalium, dan asam merupakan zat-zat yang juga berperan membuat orang tertidus pulas. Kalsium yang terdapat pada susu, ikan teri, dan udang mempunyai efek menenangkan susunan saraf pusat. Kekurangan kalsium dapat membuat otot tegang dan sulit tidur.

Tentu saja, niat pasien untuk sembuh juga harus ditegakkan. Misalnya harus merelaksasi otot, mengurangi stres, berolahraga teratur, berpikir positif, dan mengurangi merokok dan minum minuman beralkohol.

Aries Kelana dan Rach Alida Bahaweres

Sleep Apnea Meningkatkan Resiko Kematian Hingga 46%

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Naresh Punjabi dan kawan-kawan dari Johns Hopkins University menemukan bahwa resiko kematian pada penderita sleep apnea berat adalah 46%. Resiko ini jelas nampak pada pria usia 40-70 tahun.

Mereka mengatakan bahwa orang-orang dengan gangguan nafas selama tidur ini mempunyai resiko lebih tinggi untuk mengalami kematian oleh berbagai sebab dibandingkan dengan orang lain yang tidak menderita sleep apnea.

Sleep apnea adalah sebuah gangguan tidur berbahaya yang ditandai dengan tidur mendengkur dan rasa kantuk berlebih di siang hari. Lebih jauh lagi, sleep apnea mengakibatkan hipertensi, berbagai gangguan jantung, diabetes dan stroke. Sleep apnea terjadi akibat penyempitan saluran nafas selama tidur. Akibatnya pasokan oksigen akan berulang kali terhenti sepanjang malam.

Penelitian yang diterbitkan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia pada Public Library of Science journal PLoS Medicine ini meneliti 6.400 orang selama 8 tahun. Mereka yang telah terdiagnosa dengan sleep apnea berat lebih rentan 46% mengalami kematian oleh berbagai sebab.
Dalam populasi penelitian, diantara pria, 42,9% tidak mempunyai gangguan nafas selama tidur, 33,2% terdiagnosa dengan sleep apnea ringan, 15,7 % sedang dan 8,2%-nya mengalami sleep apnea yang parah. Sedangkan pada wanita 25% diantaranya terdiagnosa dengan sleep apnea ringan, 8% sleep apnea sedang dan 3% nya sleep apnea berat.

Menurut para peneliti tersebut, mereka yang dengan sleep apnea berat, dapat berhenti nafas selama 20-30 detik dan terbangun (namun tidak sampai tersadar dari tidur.) Derajat keparahan sleep apnea dilihat dari jumlah henti nafas perjam (AHI/apnea hypopnea index) dimana 0-5 kali perjam artinya mendengkur normal tanpa henti nafas, 5-15 kali perjam sleep apnea ringan, 15-30 kali perjam sleep apnea sedang dan lebih 30 kali perjam berarti sleep apnea berat. Pemeriksaan tidur dilakukan di laboratorium tidur dengan menggunakan alat polysomnography (PSG.)

Dibandingkan dengan pengalaman kami di Mitra Kemayoran, sleep apnea terberat pernah mencapai 109 kali perjam dengan durasi henti nafas terlama mencapai 120-an detik dan kadar oksigen terendah mencapai kurang dari 50%! Tentu saja ini amat berbahaya.

Data dari the National Heart, Lung, and Blood Institute menyebutkan bahwa 12 juta penduduk dewasa Amerika menderita sleep apnea. Sedangkan menurut the National Sleep Foundation diperkirakan mencapai 18 juta orang. Sayangnya di Indonesia belum ada penelitian berskala nasional yang memperhatikan gangguan tidur yang fatal ini. Mengingat struktur rahang ras Asia yang lebih sempit, dicurigai Indonesia memiliki lebih banyak penderita sleep apnea.

Menurut Dr. David Rapoport dari New York University yang juga turut serta dalam penelitian, perawatan terbaik saat ini adalah dengan menggunakan CPAP (continuous positive airway pressure), berupa masker yang memberikan udara bertekanan untuk membuka saluran nafas selama tidur. Sementara alternatif lainnya merupakan pembedahan, termasuk didalamnya pengangkatan amandel jika diperlukan. Pilihan lain adalah dengan menggunakan alat mulut yang bisa mendorong rahang bawah maju.

8 Bahaya Mendengkur

Mendengkur merupakan gejala utama dari sleep apnea selain rasa kantuk berlebih. Sleep apnea yang artinya henti nafas saat tidur, dapat berdampak langsung pada kesehatan dan kualitas hidup seseorang. Sehingga mengatasi tidur mendengkur menjadi penting.

Sleep apnea terjadi ketika otot-otot saluran nafas melemas saat tidur. Akibatnya jalan nafas menyempit hingga menyumbat akibatnya tidak ada udara yang dapat lewat. Episode henti nafas bisa terjadi selama 10 detik sampai lebih dari satu menit. Karena sesak, otak akan terbangun sejenak untuk menarik nafas, tanpa disadari penderitanya. Akibatnya proses tidur jadi terpotong-potong. Henti nafas bisa terjadi ratusan kali semalamnya.

Periode henti nafas ini menyebabkan perubahan drastis pada kadar oksigen dan tekanan darah seseorang. Jika sleep apnea dibiarkan, tubuh Anda akan terus terbebani dan akhirnya bisa berujung pada banyak penyakit. Itu sebabnya penting ditekankan bahwa mengatasi ngorok bukan saja untuk menghilangkan suara dengkur, lebih jauh sebenarnya pengobatan mendengkur adalah untuk mengatasi henti nafas yang terjadi.

Berikut adalah 8 resiko kesehatan yang berhubungan dengan sleep apnea:

1.      Tekanan darah tinggi.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa sleep apnea adalah salah satu penyebab utama dari hipertensi. Peningkatan tekanan darah berkaitan langsung dengan derajat keparahan sleep apnea. Semakin parah derajat sleep apnea, semakin berat juga peningkatan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah juga bisa dialami oleh anak-anak yang menderita sleep apnea. Sejak tahun 2003 lewat dokumen JNC 7, Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure sudah memasukan sleep apnea sebagai salah satu penyebab utama dari hipertensi. Sejak saat itu, penanganan sleep apnea sudah termasuk dalam tata laksana hipertensi.

2.      Penyakit jantung.

Sleep apnea yang tidak dirawat merupakan salah satu faktor resiko untuk menderita penyakit jantung. Penyakit jantung merupakan penyebab kematian utama di Amerika pada tahun 2005. Sleep apnea meningkatkan resiko denyut jantung yang tidak beraturan, penyakit jantung koroner, serangan jantung dan penyakit jantung kongestif. Sebuah penelitian di tahun 2006 yang diungkapkan dalam Journal of the American College of Cardiology menyebutkan bahwa sleep apnea bahkan mempengaruhi bentuk jantung seseorang. Jantung penderita sleep apnea membengkak dan menebal dindingnya di satu sisi, serta berkurang kemampuan memompanya.

3.      Stroke.

Sleep apnea meningkatkan resiko seseorang untuk terserang stroke (penyebab kematian nomor 3 di Amerika tahun 2005.) Peningkatan kekentalan darah pada penderita sleep apnea menjadi penyebab utama meningkatnya resiko stroke.

4.      Kerusakan otak.

Penelitian di jurnal SLEEP tahun 2008 memberikan gambaran pencitraan otak yang membuktikan kerusakan permanen pada otak penderita sleep apnea. Kerusakan terjadi pada bagian otak yang mengontrol ingatan, emosi dan tekanan darah.

5.      Depresi.

Riset menunjukkan bahwa depresi sering terjadi pada penderita sleep apnea. Bahkan sleep apnea ringan saja sudah meningkatkan resiko terkena depresi. Peningkatan resiko depresi akan naik seiring dengan peningkatan derajat keparahan henti nafas yang dialami. Timbulnya depresi, diduga disebabkan oleh proses tidur yang terpotong-potong pada penderita sleep apnea.

6.      Diabetes.

Sleep apnea akan mengganggu metabolisme hingga tubuh tidak mentoleransi glukosa dan juga resisten terhadap insulin. Diabetes tipe 2, juga salah satu penyebab kematian utama, terjadi ketika badan tidak dapat memanfaatkan insulin secara efektif. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa sleep apnea amat mungkin menjadi penyebab terjadinya diabetes. Di bulan Juni 2008 International Diabetes Federation sudah mengeluarkan buku panduan agar semua tenaga kesehatan di seluruh dunia memperhatikan kemungkinan sleep apnea pada pasien diabetes ini.

7.      Obesitas.

Obesitas, pada ras kaukasia (Eropa) menjadi resiko utama sleep apnea. Tapi tidak demikian pada ras Asia yang memiliki struktur rahang lebih sempit dan leher yang pendek. Masalahnya, sleep apnea akan meningkatkan berat badan seseorang. Gangguan metabolisme akibat proses tidur yang terpotong-potong menyebabkan perubahan hormon-hormon yang mengontrol nafsu makan. Rasa kantuk yang diakibatkan juga menyebabkan penderitanya jadi malas berolah raga.

8.      Mortalitas.

Dua penelitan di jurnal SLEEP di tahun 2008 menunjukkan bahwa penderita sleep apnea mempunyai resiko kematian lebih tinggi dibanding yang tidak mendengkur. Resiko akan meningkat bersamaan dengan peningkatan derajat keparahan henti nafas. Apalagi jika sleep apnea dibiarkan saja! Sementara kematian akibat kecelakaan kerja maupun kecelakaan lalu lintas pun harus diperhatikan. Di Inggris, pemerintah setempat akan menahan sementara SIM penderita sleep apnea, sampai proses perawatan dilakukan.

Penanganan sleep apnea diawali dengan pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Pemeriksaan tidur yang seksama akan membedakan dengkuran biasa atau dengkuran dengan sleep apnea. Kita pun bisa mendapatkan derajat keparahan dan karakter henti nafas seseorang. Sementara akibatnya pada gelombang otak tidur dan kerja jantung saat tidur pun turut dianalisa.

Perawatan sleep apnea dapat dilakukan lewat beberapa alternatif. Diantaranya pembedahan, continuous positive airway pressure (CPAP) ataupun dental appliances. Sementara ini, baku emas perawatan adalah dengan menggunakan CPAP, dengan tingkat keberhasilan yang amat tinggi. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa penggunaan CPAP  akan mengurangi resiko seseorang untuk menderita bahaya-bahaya yang telah disebutkan tadi.

Mendengkur Merusak Otak!

Mendengkur atau ngorok adalah suatu fenomena tidur yang sering kita temui hingga sudah dianggap wajar. Tetapi dengkuran bukanlah sesuatu yang normal. Bahkan menyimpan bahaya fatal yang tidak bisa lagi dianggap sebagai lelucon.

Mendengkur merupakan sebuah tanda dari sleep apnea yang artinya henti nafas saat tidur. Penderita sleep apnea, nantinya dapat menderita hipertensi, gangguan jantung, diabetes hingga stroke.

Gejala sleep apnea selain mendengkur adalah menurunnya kualitas hidup yang ditandai dengan rasa kantuk, gangguan emosional, konsentrasi, menurunnya ingatan dan kemampuan analisa hingga kreativitas yang merosot. Selama ini, para ahli kedokteran tidur beranggapan bahwa penurunan kemampuan mental ini disebabkan oleh kondisi “kurang tidur” yang diderita. Namun berbagai penelitian di bidang neurologi kini dapat menunjukkan secara pasti kerusakan-kerusakan bagian otak yang terjadi pada penderita sleep apnea.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Sleep Research, Februari 2009 menunjukkan bahwa henti nafas saat tidur atau obstructive sleep apnea tidak hanya mengganggu kualitas hidup tetapi juga merusak otak secara permanen.

Dalam penelitian yang dilakukan di Perancis tersebut dilakukan pencitraan otak pada 16 pendengkur yang baru saja didiagnosa menderita sleep apnea. Hasilnya, mereka menemukan kerusakan massa abu-abu di berbagai bagian otak. Ini menjelaskan kenapa penderita sleep apnea mengalami penurunan kemampuan ingatan maupun konsentrasi.

Kelompok peneliti di UCLA juga memberikan hasil yang mirip. Dalam publikasi mereka di Neuroscience Letters, Juni 2008 menunjukkan bahwa terjadi perubahan pada badan mamilari penderita sleep apnea dibandingkan dengan kontrol. Badan mamilari adalah salah satu bagian dari sistem limbik yang berperan pada fungsi kognitif dan emosional seseorang. Penurunan volume badan mamilari pada pendengkur diduga disebabkan oleh menurunnya kadar oksigen pada saat tidur.

Para peneliti yang sama juga mempublikasikan tulisan lain pada jurnal SLEEP di bulan Juli 2008. Pada tulisan tersebut disebutkan bahwa penderita sleep apnea mengalami kerusakan massa putih di berbagai bagian otak yang mengatur mood dan ingatan. Massa putih adalah serabut saraf otak yang diliputi oleh myelin yang berwarna putih.

Penderita sleep apnea dapat mengalami ratusan henti nafas setiap malamnya tanpa pernah ia sadari. Akibatnya kadar oksigen dalam darah dapat menurun drastis. Penurunan oksigen dan peningkatan tekanan darah dianggap bertanggung jawab dalam proses rusaknya saraf-saraf otak.

Dari hasil berbagai penelitian, jelas tampak bahwa sleep apnea harus dirawat segera. Ini dilakukan demi mencegah terjadinya berbagai penyakit dan kerusakan otak yang bersifat permanen.

Standar perawatan saat ini adalah dengan menggunakan CPAP. Bagi penderita sleep apnea, manfaat CPAP terbukti dapat menurunkan tekanan darah, mengontrol kadar gula dan memperbaiki kualitas hidup. Sayangnya perawatan ini belum tentu dapat mengembalikan bagian-bagian otak yang sudah terlanjur rusak.

Namun, para ahli menekankan bahwa penanganan mendengkur harus dilakukan sesegera mungkin agar kerusakan dan gangguan proses berpikir lebih lanjut dapat dicegah.

Sean Algaier “The Biggest Loser” dan Sleep Apnea – Mendengkur

Orang tidak akan mengaitkan tidur dengan acara realitas The Biggest Loser, tapi ternyata kesehatan tidur justru memegang peranan penting. Sejak musim ke-7, dalam pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan tidur dijadikan pemeriksaan rutin bagi para peserta. Hasilnya ternyata mengejutkan para dokter yang turut membina acara tersebut. Kebanyakan peserta ternyata mendengkur dan menderita sleep apnea. Bahkan dalam derajat yang parah. Dalam satu musim tersebut semua peserta terdiagnosa dengan sleep apnea!

Pada musim pertama, dokter di acara tersebut menyebutkan tiga pilar kesehatan: psikologi, makan yang sehat dan olah raga. Kini ia menambahkan pilar ke-4, yaitu tidur yang sehat.

Para peserta The Biggest Loser tersebut mendapatkan perawatan sleep apnea dengan menggunakan continuous positive airway pressure (CPAP), berupa masker yang dihubungkan dengan alat khusus. Dan inilah salah satu cerita bagaimana perawatan sleep apnea telah mengubah hidupnya.

Sean

Sean Algaier ikut acara The Biggest Loser musim ke-8 dalam usia 29 tahun dan bobot sekitar 210 kg. Sean sudah kelebihan berat badan sejak di tingkat SMU. Di rumah ia gemar sekali makan dan baginya berolah raga adalah sebuah bentuk hukuman.

Sebelum mengikuti program ini, Sean tidak tahu bila ia menderita sleep apnea, tapi sudah lama istrinya curiga. Di tengah malam, sang istri amat takut melihat nafas Sean terengah-engah dan tampak sesak. Namun Sean tak pernah ambil peduli dengan kekhawatiran istrinya dan menolak melakukan pemeriksaan tidur. Karena biayanya memang tak bisa dibilang murah, sedangkan Sean lebih memilih membelanjakan uang bagi keluarga dibanding untuk dirinya sendiri. Lagi pula, baginya mendengkur bukanlah masalah besar.

Sementara itu, teman-temannya sering menertawakan karena ia mudah sekali tertidur. Ia selalu merasa lelah, hingga baginya ini normal saja. Sean bisa tertidur 5-6 kali sehari, bahkan ketika mengendara! Ia juga mendengkur keras di malam hari, dan ini mempengaruhi kehidupan perkawinannya. Mereka tidur di tempat tidur yang sama, namun di tengah malam ia akan pindah tidur.

Biasanya Sean akan tidur di kursi dalam posisi duduk. Baginya dengan posisi ini ia bisa tidur lebih lama. Tapi karena berat badannya amat berlebih, aliran darah jadi kurang lancar dan kakinya menjadi bengkak di pagi hari. Mungkin saja ia mengalami sumbatan pembuluh darah atau hal-hal lain yang buruk akibat sleep apnea yg dideritanya.

Begitu memasuki program acara, Sean menjalani pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Namun ia tak tahu hasilnya.

Di hari pertama, ia mulai berolah raga secara intensif. “Saya tertidur di hari pertama di Gym;” ceritanya. “Malam sebelumnya saya tidak bisa tidur, dan saya amat lelah. Waktu itu saya berjam-jam di atas treadmill. Dan tiba-tiba saya terbangun dengan kamera di depan wajah saya, serta Bob (pelatih) berteriak-teriak membangunkan. Ini amat memalukan!”

Setelah sesi latihan, Sean diberitahu bahwa ia menderita sleep apnea yang parah. Dalam tidur, nafasnya berhenti sebanyak lebih dari 100 kali perjam. Malamnya, ia langsung tidur dengan menggunakan continuous positive airway pressure (CPAP). Untuk pertama kalinya, ia tidur penuh selama 8 jam.

Sean mengatakan, “Sepertinya ini pertama kalinya saya tidur sejak tingkat SMP. Saya tidur pulas dan saya benar-benar bahagia. Di pagi hari rasanya saya sanggup lari marathon. Kini nafas saya tidak berhenti lagi dalam tidur, dan saya tidur di ranjang yang sama dengan istri.” Di penghujung acara, Sean telah kehilangan 70 kg – dari 210 menjadi 140 kg saja. Ia mengakui bahwa dengan menggunakan CPAP ia dapat menurunkan berat badan dengan lebih mudah. Kini bobotnya menjadi 108 kg dan ia berharap masih bisa menurunkan 10-20 kg lagi.

“CPAP telah mengubah hidup saya,” ujar Sean. “ Saya rasa, siapapun yang mengalami gangguan tidur, jika mereka mau memperbaikinya, itu akan mengubah hidup mereka. Mereka tidak menyadari betapa banyak mereka kehilangan ketika tidak tidur baik di malam hari. Saya tak akan mau kembali merasakan perasaan itu lagi. Saya ingin merasa segar dan ‘hidup’ di siang hari. Saya sarankan, siapapun yang ingin menurunkan berat badan atau mendengkur, selamatkan hidup Anda dengan menjalani pemeriksaan tidur!”

Sumber: National Sleep Foundation

Anak Hiperaktif & Gangguan Tidur

Maya, usia 6 tahun dibawa ke dokter karena mendengkur dan tampak sesak nafas saat tidur. Anak tersebut tampak lincah dan tak bisa diam. Ia selalu bergerak dan menanyakan segala hal di sekitarnya. Walau demikian, si ibu dengan sedih menjelaskan bahwa Maya kemungkinan menderita ADHD ringan.

ADHD (attention-deficit/hyperactivity disorder) adalah gangguan perilaku yang berkaitan dengan proses tumbuh kembang anak yang ditandai dengan hiperaktifitas, impulsivitas dan kurangnya kemampuan untuk berkonsentrasi. Meskipun Maya tidak dikategorikan sebagai ADHD, si Ibu tidak bisa mengabaikan keadaan anaknya yang amat aktif, tak bisa diam dan mudah rewel tersebut. Dan ia amat terkejut sewaktu dokter menjelaskan bahwa kondisi hiperaktifitas anaknya tersebut mungkin sekali berkaitan dengan tidur ngorok Maya.

Sleep Apnea Pada Anak

Sleep apnea adalah gangguan tidur yang ditandai dengan mendengkur dan rasa kantuk berlebih. Sleep apnea, yang artinya henti nafas saat tidur, pada orang dewasa menjadi penyebab hipertensi berbagai penyakit jantung, diabetes hingga stroke. Pada anak, sleep apnea, menjadi lebih serius karena ternyata berhubungan langsung dengan proses tumbuh kembangnya.

Coba perhatikan anak yang sedang tidur ngorok. Pada suatu saat suara ngorok tersebut akan hilang, dan anak tampak sesak seolah tercekik. Yang terjadi sebenarnya adalah penyempitan saluran nafas yang mengakibatkan udara tidak dapat masuk atau keluar. Gerakan nafas akan menghebat karena sesak. Akibat oksigen yang merosot dan kadar karbondioksida yang meroket, si anak akan terbangun disertai suara hentakan keras seolah nafas baru terbebas. Episode bangun ini disebut sebagai episode bangun mikro (micro arousal) karena walau gelombang otak terbangun, namun si anak tidak terjaga. Dan episode ini terus berulang sepanjang malam hingga mengganggu kualitas tidur. Akibatnya, ia akan terus berada dalam kondisi kurang tidur, walaupun sebenarnya sudah tidur cukup. Anak, untuk melawan rasa kantuknya justru jadi semakin aktif secara fisik.

Sekarang bayangkan jika anak Anda yang normal, dalam tidurnya setiap 20-30 detik sekali ditepuk hingga terbangun. Apa yang terjadi? Tentu di siang hari dia akan rewel, sulit berkonsentrasi dan cenderung hiperaktif. Bagaimana jika setiap tidur ini terjadi? Tak heran jika banyak anak penderita sleep apnea yang tampilannya jadi mirip dengan ADHD.

Belakangan, wacana sleep apnea banyak dibicarakan. Para dokter anak pun sudah amat peka terhadap masalah ini. Hanya sayang, kita masih terlalu terpaku pada artikel-artikel yang menyatakan bahwa anak gemuklah yang biasanya ngorok. Padahal ini tidak sepenuhnya benar. Seperti Maya halnya. Dia termasuk anak yang tidak gemuk. Malah cenderung langsing. Berdasarkan berbagai penelitian di Korea, ras Asia tidak perlu gemuk untuk menderita sleep apnea. Ini disebabkan oleh struktur rahang kita yang lebih sempit dan leher yang lebih pendek dibanding ras Eropa.

Tidur pada Anak

Proses tidur amatlah penting bagi seorang anak. Karena proses tumbuh kembang justru terjadi pada saat tidur. Pada tahap tidur dalam, dikeluarkan growth hormone yang berperan dalam proses pertumbuhan. Sedangkan pada tahap tidur mimpi, dipercaya sebagai tahap tidur dimana kemampuan kognitif, mental dan emosional dijaga.

Dengan adanya sleep apnea, proses tidur akan terpotong-potong. Akibatnya proses tumbuh kembang pun terganggu. Kecerdasan dan potensi-potensi mental lain yang seharusnya tumbuh dan berkembang saat tidur, tidak tumbuh. Kondisi emosionalnya pun buruk, anak jadi rewel dan mudah marah. Karena mengantuk, anak juga semakin aktif dan sulit memusatkan perhatian.

Hiperaktifitas dan Tidur

Anak yang memang terdiagnosa ADHD pun harus tetap diperhatikan tidurnya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak ADHD menunjukkan kemajuan yang berarti setelah dirawat gangguan tidurnya. Sebuah artikel di jurnal kedokteran SLEEP bahkan mengatakan bahwa anak ADHD merespon terapi stimulan dengan baik karena mereka mengalami kantuk berlebih (excessive daytime sleepiness.) Penelitian ini juga menyatakan bahwa 50% dari anak ADHD menderita sleep apnea, sedangkan pada anak normal hanya 22% yang menderita. Gangguan tidur lain yang juga sering ditemui pada anak ADHD adalah periodic limb movements in sleep (PLMS).

Penelitian lain yang dilakukan di Taiwan tahun 2004 menganjurkan agar seorang anak yang didiagnosa dengan ADHD juga diperhatikan tidurnya. Karena mereka menemukan bahwa penderita ADHD yang juga menderita sleep apnea memiliki kondisi yang lebih buruk dibanding anak ADHD tanpa gangguan tidur. Lebih jauh lagi, di tahun 2007 kelompok yang sama, menerbitkan penelitian mereka yang menunjukkan hubungan sleep apnea dengan terapi ADHD. Pada penelitian tersebut, mereka membuktikan bahwa anak ADHD penderita sleep apnea, bisa menghindari efek samping pengobatan ADHD jika sleep apnea-nya dirawat.

Untuk anak penderita ADHD pengobatan yang paling sering diberikan adalah golongan stimulan. Namun jadwal pengobatan yang kurang tepat malah dapat menyebabkan anak sulit tidur sehingga gejala ADHD semakin menjadi parah. Untuk itu, sesuaikanlah pemberian obat dengan jadwal tidur anak.

Perawatan

Seperti Maya, anak yang mendengkur harus menjalani pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Dalam pemeriksaan ini anak akan direkam fungsi-fungsi tubuhnya selama tidur sepanjang malam. Yang mengejutkan pada kasus Maya, ia mengalami henti nafas sebanyak 106 kali perjam.
Pemilihan terapi harus berdasarkan pemeriksaan tidur dan pemeriksaan THT yang seksama. Kebanyakan sleep apnea pada anak disebabkan oleh pembesaran adenoid dan tonsil sehingga terapi lebih diarahkan pada kedua organ tersebut. Namun ada juga kemungkinan harus menggunakan CPAP (continuous possitive airway pressure).

Setelah Maya menjalani perawatan, kini ia tidur nyaman, tidak mendengkur, kantuk berlebih hilang, dan tidak hiperaktif lagi. Dan keluarga pun dapat tidur tenang mengetahui bahwa segala potensi dapat tumbuh pesat di saat Maya tertidur.