8 Bahaya Mendengkur

Mendengkur merupakan gejala utama dari sleep apnea selain rasa kantuk berlebih. Sleep apnea yang artinya henti nafas saat tidur, dapat berdampak langsung pada kesehatan dan kualitas hidup seseorang. Sehingga mengatasi tidur mendengkur menjadi penting.

Sleep apnea terjadi ketika otot-otot saluran nafas melemas saat tidur. Akibatnya jalan nafas menyempit hingga menyumbat akibatnya tidak ada udara yang dapat lewat. Episode henti nafas bisa terjadi selama 10 detik sampai lebih dari satu menit. Karena sesak, otak akan terbangun sejenak untuk menarik nafas, tanpa disadari penderitanya. Akibatnya proses tidur jadi terpotong-potong. Henti nafas bisa terjadi ratusan kali semalamnya.

Periode henti nafas ini menyebabkan perubahan drastis pada kadar oksigen dan tekanan darah seseorang. Jika sleep apnea dibiarkan, tubuh Anda akan terus terbebani dan akhirnya bisa berujung pada banyak penyakit. Itu sebabnya penting ditekankan bahwa mengatasi ngorok bukan saja untuk menghilangkan suara dengkur, lebih jauh sebenarnya pengobatan mendengkur adalah untuk mengatasi henti nafas yang terjadi.

Berikut adalah 8 resiko kesehatan yang berhubungan dengan sleep apnea:

1.      Tekanan darah tinggi.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa sleep apnea adalah salah satu penyebab utama dari hipertensi. Peningkatan tekanan darah berkaitan langsung dengan derajat keparahan sleep apnea. Semakin parah derajat sleep apnea, semakin berat juga peningkatan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah juga bisa dialami oleh anak-anak yang menderita sleep apnea. Sejak tahun 2003 lewat dokumen JNC 7, Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure sudah memasukan sleep apnea sebagai salah satu penyebab utama dari hipertensi. Sejak saat itu, penanganan sleep apnea sudah termasuk dalam tata laksana hipertensi.

2.      Penyakit jantung.

Sleep apnea yang tidak dirawat merupakan salah satu faktor resiko untuk menderita penyakit jantung. Penyakit jantung merupakan penyebab kematian utama di Amerika pada tahun 2005. Sleep apnea meningkatkan resiko denyut jantung yang tidak beraturan, penyakit jantung koroner, serangan jantung dan penyakit jantung kongestif. Sebuah penelitian di tahun 2006 yang diungkapkan dalam Journal of the American College of Cardiology menyebutkan bahwa sleep apnea bahkan mempengaruhi bentuk jantung seseorang. Jantung penderita sleep apnea membengkak dan menebal dindingnya di satu sisi, serta berkurang kemampuan memompanya.

3.      Stroke.

Sleep apnea meningkatkan resiko seseorang untuk terserang stroke (penyebab kematian nomor 3 di Amerika tahun 2005.) Peningkatan kekentalan darah pada penderita sleep apnea menjadi penyebab utama meningkatnya resiko stroke.

4.      Kerusakan otak.

Penelitian di jurnal SLEEP tahun 2008 memberikan gambaran pencitraan otak yang membuktikan kerusakan permanen pada otak penderita sleep apnea. Kerusakan terjadi pada bagian otak yang mengontrol ingatan, emosi dan tekanan darah.

5.      Depresi.

Riset menunjukkan bahwa depresi sering terjadi pada penderita sleep apnea. Bahkan sleep apnea ringan saja sudah meningkatkan resiko terkena depresi. Peningkatan resiko depresi akan naik seiring dengan peningkatan derajat keparahan henti nafas yang dialami. Timbulnya depresi, diduga disebabkan oleh proses tidur yang terpotong-potong pada penderita sleep apnea.

6.      Diabetes.

Sleep apnea akan mengganggu metabolisme hingga tubuh tidak mentoleransi glukosa dan juga resisten terhadap insulin. Diabetes tipe 2, juga salah satu penyebab kematian utama, terjadi ketika badan tidak dapat memanfaatkan insulin secara efektif. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa sleep apnea amat mungkin menjadi penyebab terjadinya diabetes. Di bulan Juni 2008 International Diabetes Federation sudah mengeluarkan buku panduan agar semua tenaga kesehatan di seluruh dunia memperhatikan kemungkinan sleep apnea pada pasien diabetes ini.

7.      Obesitas.

Obesitas, pada ras kaukasia (Eropa) menjadi resiko utama sleep apnea. Tapi tidak demikian pada ras Asia yang memiliki struktur rahang lebih sempit dan leher yang pendek. Masalahnya, sleep apnea akan meningkatkan berat badan seseorang. Gangguan metabolisme akibat proses tidur yang terpotong-potong menyebabkan perubahan hormon-hormon yang mengontrol nafsu makan. Rasa kantuk yang diakibatkan juga menyebabkan penderitanya jadi malas berolah raga.

8.      Mortalitas.

Dua penelitan di jurnal SLEEP di tahun 2008 menunjukkan bahwa penderita sleep apnea mempunyai resiko kematian lebih tinggi dibanding yang tidak mendengkur. Resiko akan meningkat bersamaan dengan peningkatan derajat keparahan henti nafas. Apalagi jika sleep apnea dibiarkan saja! Sementara kematian akibat kecelakaan kerja maupun kecelakaan lalu lintas pun harus diperhatikan. Di Inggris, pemerintah setempat akan menahan sementara SIM penderita sleep apnea, sampai proses perawatan dilakukan.

Penanganan sleep apnea diawali dengan pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Pemeriksaan tidur yang seksama akan membedakan dengkuran biasa atau dengkuran dengan sleep apnea. Kita pun bisa mendapatkan derajat keparahan dan karakter henti nafas seseorang. Sementara akibatnya pada gelombang otak tidur dan kerja jantung saat tidur pun turut dianalisa.

Perawatan sleep apnea dapat dilakukan lewat beberapa alternatif. Diantaranya pembedahan, continuous positive airway pressure (CPAP) ataupun dental appliances. Sementara ini, baku emas perawatan adalah dengan menggunakan CPAP, dengan tingkat keberhasilan yang amat tinggi. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa penggunaan CPAP  akan mengurangi resiko seseorang untuk menderita bahaya-bahaya yang telah disebutkan tadi.

Mendengkur Merusak Otak!

Mendengkur atau ngorok adalah suatu fenomena tidur yang sering kita temui hingga sudah dianggap wajar. Tetapi dengkuran bukanlah sesuatu yang normal. Bahkan menyimpan bahaya fatal yang tidak bisa lagi dianggap sebagai lelucon.

Mendengkur merupakan sebuah tanda dari sleep apnea yang artinya henti nafas saat tidur. Penderita sleep apnea, nantinya dapat menderita hipertensi, gangguan jantung, diabetes hingga stroke.

Gejala sleep apnea selain mendengkur adalah menurunnya kualitas hidup yang ditandai dengan rasa kantuk, gangguan emosional, konsentrasi, menurunnya ingatan dan kemampuan analisa hingga kreativitas yang merosot. Selama ini, para ahli kedokteran tidur beranggapan bahwa penurunan kemampuan mental ini disebabkan oleh kondisi “kurang tidur” yang diderita. Namun berbagai penelitian di bidang neurologi kini dapat menunjukkan secara pasti kerusakan-kerusakan bagian otak yang terjadi pada penderita sleep apnea.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Sleep Research, Februari 2009 menunjukkan bahwa henti nafas saat tidur atau obstructive sleep apnea tidak hanya mengganggu kualitas hidup tetapi juga merusak otak secara permanen.

Dalam penelitian yang dilakukan di Perancis tersebut dilakukan pencitraan otak pada 16 pendengkur yang baru saja didiagnosa menderita sleep apnea. Hasilnya, mereka menemukan kerusakan massa abu-abu di berbagai bagian otak. Ini menjelaskan kenapa penderita sleep apnea mengalami penurunan kemampuan ingatan maupun konsentrasi.

Kelompok peneliti di UCLA juga memberikan hasil yang mirip. Dalam publikasi mereka di Neuroscience Letters, Juni 2008 menunjukkan bahwa terjadi perubahan pada badan mamilari penderita sleep apnea dibandingkan dengan kontrol. Badan mamilari adalah salah satu bagian dari sistem limbik yang berperan pada fungsi kognitif dan emosional seseorang. Penurunan volume badan mamilari pada pendengkur diduga disebabkan oleh menurunnya kadar oksigen pada saat tidur.

Para peneliti yang sama juga mempublikasikan tulisan lain pada jurnal SLEEP di bulan Juli 2008. Pada tulisan tersebut disebutkan bahwa penderita sleep apnea mengalami kerusakan massa putih di berbagai bagian otak yang mengatur mood dan ingatan. Massa putih adalah serabut saraf otak yang diliputi oleh myelin yang berwarna putih.

Penderita sleep apnea dapat mengalami ratusan henti nafas setiap malamnya tanpa pernah ia sadari. Akibatnya kadar oksigen dalam darah dapat menurun drastis. Penurunan oksigen dan peningkatan tekanan darah dianggap bertanggung jawab dalam proses rusaknya saraf-saraf otak.

Dari hasil berbagai penelitian, jelas tampak bahwa sleep apnea harus dirawat segera. Ini dilakukan demi mencegah terjadinya berbagai penyakit dan kerusakan otak yang bersifat permanen.

Standar perawatan saat ini adalah dengan menggunakan CPAP. Bagi penderita sleep apnea, manfaat CPAP terbukti dapat menurunkan tekanan darah, mengontrol kadar gula dan memperbaiki kualitas hidup. Sayangnya perawatan ini belum tentu dapat mengembalikan bagian-bagian otak yang sudah terlanjur rusak.

Namun, para ahli menekankan bahwa penanganan mendengkur harus dilakukan sesegera mungkin agar kerusakan dan gangguan proses berpikir lebih lanjut dapat dicegah.

Sean Algaier “The Biggest Loser” dan Sleep Apnea – Mendengkur

Orang tidak akan mengaitkan tidur dengan acara realitas The Biggest Loser, tapi ternyata kesehatan tidur justru memegang peranan penting. Sejak musim ke-7, dalam pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan tidur dijadikan pemeriksaan rutin bagi para peserta. Hasilnya ternyata mengejutkan para dokter yang turut membina acara tersebut. Kebanyakan peserta ternyata mendengkur dan menderita sleep apnea. Bahkan dalam derajat yang parah. Dalam satu musim tersebut semua peserta terdiagnosa dengan sleep apnea!

Pada musim pertama, dokter di acara tersebut menyebutkan tiga pilar kesehatan: psikologi, makan yang sehat dan olah raga. Kini ia menambahkan pilar ke-4, yaitu tidur yang sehat.

Para peserta The Biggest Loser tersebut mendapatkan perawatan sleep apnea dengan menggunakan continuous positive airway pressure (CPAP), berupa masker yang dihubungkan dengan alat khusus. Dan inilah salah satu cerita bagaimana perawatan sleep apnea telah mengubah hidupnya.

Sean

Sean Algaier ikut acara The Biggest Loser musim ke-8 dalam usia 29 tahun dan bobot sekitar 210 kg. Sean sudah kelebihan berat badan sejak di tingkat SMU. Di rumah ia gemar sekali makan dan baginya berolah raga adalah sebuah bentuk hukuman.

Sebelum mengikuti program ini, Sean tidak tahu bila ia menderita sleep apnea, tapi sudah lama istrinya curiga. Di tengah malam, sang istri amat takut melihat nafas Sean terengah-engah dan tampak sesak. Namun Sean tak pernah ambil peduli dengan kekhawatiran istrinya dan menolak melakukan pemeriksaan tidur. Karena biayanya memang tak bisa dibilang murah, sedangkan Sean lebih memilih membelanjakan uang bagi keluarga dibanding untuk dirinya sendiri. Lagi pula, baginya mendengkur bukanlah masalah besar.

Sementara itu, teman-temannya sering menertawakan karena ia mudah sekali tertidur. Ia selalu merasa lelah, hingga baginya ini normal saja. Sean bisa tertidur 5-6 kali sehari, bahkan ketika mengendara! Ia juga mendengkur keras di malam hari, dan ini mempengaruhi kehidupan perkawinannya. Mereka tidur di tempat tidur yang sama, namun di tengah malam ia akan pindah tidur.

Biasanya Sean akan tidur di kursi dalam posisi duduk. Baginya dengan posisi ini ia bisa tidur lebih lama. Tapi karena berat badannya amat berlebih, aliran darah jadi kurang lancar dan kakinya menjadi bengkak di pagi hari. Mungkin saja ia mengalami sumbatan pembuluh darah atau hal-hal lain yang buruk akibat sleep apnea yg dideritanya.

Begitu memasuki program acara, Sean menjalani pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Namun ia tak tahu hasilnya.

Di hari pertama, ia mulai berolah raga secara intensif. “Saya tertidur di hari pertama di Gym;” ceritanya. “Malam sebelumnya saya tidak bisa tidur, dan saya amat lelah. Waktu itu saya berjam-jam di atas treadmill. Dan tiba-tiba saya terbangun dengan kamera di depan wajah saya, serta Bob (pelatih) berteriak-teriak membangunkan. Ini amat memalukan!”

Setelah sesi latihan, Sean diberitahu bahwa ia menderita sleep apnea yang parah. Dalam tidur, nafasnya berhenti sebanyak lebih dari 100 kali perjam. Malamnya, ia langsung tidur dengan menggunakan continuous positive airway pressure (CPAP). Untuk pertama kalinya, ia tidur penuh selama 8 jam.

Sean mengatakan, “Sepertinya ini pertama kalinya saya tidur sejak tingkat SMP. Saya tidur pulas dan saya benar-benar bahagia. Di pagi hari rasanya saya sanggup lari marathon. Kini nafas saya tidak berhenti lagi dalam tidur, dan saya tidur di ranjang yang sama dengan istri.” Di penghujung acara, Sean telah kehilangan 70 kg – dari 210 menjadi 140 kg saja. Ia mengakui bahwa dengan menggunakan CPAP ia dapat menurunkan berat badan dengan lebih mudah. Kini bobotnya menjadi 108 kg dan ia berharap masih bisa menurunkan 10-20 kg lagi.

“CPAP telah mengubah hidup saya,” ujar Sean. “ Saya rasa, siapapun yang mengalami gangguan tidur, jika mereka mau memperbaikinya, itu akan mengubah hidup mereka. Mereka tidak menyadari betapa banyak mereka kehilangan ketika tidak tidur baik di malam hari. Saya tak akan mau kembali merasakan perasaan itu lagi. Saya ingin merasa segar dan ‘hidup’ di siang hari. Saya sarankan, siapapun yang ingin menurunkan berat badan atau mendengkur, selamatkan hidup Anda dengan menjalani pemeriksaan tidur!”

Sumber: National Sleep Foundation

Anak Hiperaktif & Gangguan Tidur

Maya, usia 6 tahun dibawa ke dokter karena mendengkur dan tampak sesak nafas saat tidur. Anak tersebut tampak lincah dan tak bisa diam. Ia selalu bergerak dan menanyakan segala hal di sekitarnya. Walau demikian, si ibu dengan sedih menjelaskan bahwa Maya kemungkinan menderita ADHD ringan.

ADHD (attention-deficit/hyperactivity disorder) adalah gangguan perilaku yang berkaitan dengan proses tumbuh kembang anak yang ditandai dengan hiperaktifitas, impulsivitas dan kurangnya kemampuan untuk berkonsentrasi. Meskipun Maya tidak dikategorikan sebagai ADHD, si Ibu tidak bisa mengabaikan keadaan anaknya yang amat aktif, tak bisa diam dan mudah rewel tersebut. Dan ia amat terkejut sewaktu dokter menjelaskan bahwa kondisi hiperaktifitas anaknya tersebut mungkin sekali berkaitan dengan tidur ngorok Maya.

Sleep Apnea Pada Anak

Sleep apnea adalah gangguan tidur yang ditandai dengan mendengkur dan rasa kantuk berlebih. Sleep apnea, yang artinya henti nafas saat tidur, pada orang dewasa menjadi penyebab hipertensi berbagai penyakit jantung, diabetes hingga stroke. Pada anak, sleep apnea, menjadi lebih serius karena ternyata berhubungan langsung dengan proses tumbuh kembangnya.

Coba perhatikan anak yang sedang tidur ngorok. Pada suatu saat suara ngorok tersebut akan hilang, dan anak tampak sesak seolah tercekik. Yang terjadi sebenarnya adalah penyempitan saluran nafas yang mengakibatkan udara tidak dapat masuk atau keluar. Gerakan nafas akan menghebat karena sesak. Akibat oksigen yang merosot dan kadar karbondioksida yang meroket, si anak akan terbangun disertai suara hentakan keras seolah nafas baru terbebas. Episode bangun ini disebut sebagai episode bangun mikro (micro arousal) karena walau gelombang otak terbangun, namun si anak tidak terjaga. Dan episode ini terus berulang sepanjang malam hingga mengganggu kualitas tidur. Akibatnya, ia akan terus berada dalam kondisi kurang tidur, walaupun sebenarnya sudah tidur cukup. Anak, untuk melawan rasa kantuknya justru jadi semakin aktif secara fisik.

Sekarang bayangkan jika anak Anda yang normal, dalam tidurnya setiap 20-30 detik sekali ditepuk hingga terbangun. Apa yang terjadi? Tentu di siang hari dia akan rewel, sulit berkonsentrasi dan cenderung hiperaktif. Bagaimana jika setiap tidur ini terjadi? Tak heran jika banyak anak penderita sleep apnea yang tampilannya jadi mirip dengan ADHD.

Belakangan, wacana sleep apnea banyak dibicarakan. Para dokter anak pun sudah amat peka terhadap masalah ini. Hanya sayang, kita masih terlalu terpaku pada artikel-artikel yang menyatakan bahwa anak gemuklah yang biasanya ngorok. Padahal ini tidak sepenuhnya benar. Seperti Maya halnya. Dia termasuk anak yang tidak gemuk. Malah cenderung langsing. Berdasarkan berbagai penelitian di Korea, ras Asia tidak perlu gemuk untuk menderita sleep apnea. Ini disebabkan oleh struktur rahang kita yang lebih sempit dan leher yang lebih pendek dibanding ras Eropa.

Tidur pada Anak

Proses tidur amatlah penting bagi seorang anak. Karena proses tumbuh kembang justru terjadi pada saat tidur. Pada tahap tidur dalam, dikeluarkan growth hormone yang berperan dalam proses pertumbuhan. Sedangkan pada tahap tidur mimpi, dipercaya sebagai tahap tidur dimana kemampuan kognitif, mental dan emosional dijaga.

Dengan adanya sleep apnea, proses tidur akan terpotong-potong. Akibatnya proses tumbuh kembang pun terganggu. Kecerdasan dan potensi-potensi mental lain yang seharusnya tumbuh dan berkembang saat tidur, tidak tumbuh. Kondisi emosionalnya pun buruk, anak jadi rewel dan mudah marah. Karena mengantuk, anak juga semakin aktif dan sulit memusatkan perhatian.

Hiperaktifitas dan Tidur

Anak yang memang terdiagnosa ADHD pun harus tetap diperhatikan tidurnya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak ADHD menunjukkan kemajuan yang berarti setelah dirawat gangguan tidurnya. Sebuah artikel di jurnal kedokteran SLEEP bahkan mengatakan bahwa anak ADHD merespon terapi stimulan dengan baik karena mereka mengalami kantuk berlebih (excessive daytime sleepiness.) Penelitian ini juga menyatakan bahwa 50% dari anak ADHD menderita sleep apnea, sedangkan pada anak normal hanya 22% yang menderita. Gangguan tidur lain yang juga sering ditemui pada anak ADHD adalah periodic limb movements in sleep (PLMS).

Penelitian lain yang dilakukan di Taiwan tahun 2004 menganjurkan agar seorang anak yang didiagnosa dengan ADHD juga diperhatikan tidurnya. Karena mereka menemukan bahwa penderita ADHD yang juga menderita sleep apnea memiliki kondisi yang lebih buruk dibanding anak ADHD tanpa gangguan tidur. Lebih jauh lagi, di tahun 2007 kelompok yang sama, menerbitkan penelitian mereka yang menunjukkan hubungan sleep apnea dengan terapi ADHD. Pada penelitian tersebut, mereka membuktikan bahwa anak ADHD penderita sleep apnea, bisa menghindari efek samping pengobatan ADHD jika sleep apnea-nya dirawat.

Untuk anak penderita ADHD pengobatan yang paling sering diberikan adalah golongan stimulan. Namun jadwal pengobatan yang kurang tepat malah dapat menyebabkan anak sulit tidur sehingga gejala ADHD semakin menjadi parah. Untuk itu, sesuaikanlah pemberian obat dengan jadwal tidur anak.

Perawatan

Seperti Maya, anak yang mendengkur harus menjalani pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Dalam pemeriksaan ini anak akan direkam fungsi-fungsi tubuhnya selama tidur sepanjang malam. Yang mengejutkan pada kasus Maya, ia mengalami henti nafas sebanyak 106 kali perjam.
Pemilihan terapi harus berdasarkan pemeriksaan tidur dan pemeriksaan THT yang seksama. Kebanyakan sleep apnea pada anak disebabkan oleh pembesaran adenoid dan tonsil sehingga terapi lebih diarahkan pada kedua organ tersebut. Namun ada juga kemungkinan harus menggunakan CPAP (continuous possitive airway pressure).

Setelah Maya menjalani perawatan, kini ia tidur nyaman, tidak mendengkur, kantuk berlebih hilang, dan tidak hiperaktif lagi. Dan keluarga pun dapat tidur tenang mengetahui bahwa segala potensi dapat tumbuh pesat di saat Maya tertidur.

Suami Pemalas? Sering Mengantuk?

Pasangan Anda pemalas? Ia enggan menemani berbelanja di akhir pekan, selalu mengantuk, sering tampak lesu, kurang motivasi, tak bersemangat serta kurang produktif. Jangan cepat-cepat menyebutnya sebagai pemalas. Perhatikan kebiasaan tidurnya, meskipun ia mudah sekali tertidur, ada kemungkinan besar ia menderita gangguan tidur!

Dita kesal sekali pada suaminya yang pemalas. Setiap pulang kerja ia selalu mengeluh lelah hingga harus tidur lebih awal, sedangkan di akhir pekan Dita sekeluarga hanya dapat bersenang-senang sebentar karena Mas Arif tersayang sudah terlalu lelah untuk meneruskan perjalanan.

Awalnya Dita dapat memaklumi sikap Arif karena ia tahu kesibukan suaminya di kantor. Ia berpikir, mungkin ini semua disebabkan oleh tekanan pekerjaan, dan padatnya lalu lintas Jakarta. Sampai suatu kesempatan ia mendengar kelakar rekan-rekan sekantor Mas Arif tentang bagaimana suaminya sempat tertidur di saat rapat. Dita pun mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang salah pada suaminya. Ia mulai memperhatikan kebiasaan-kebiasaan suaminya yang sering terlihat lesu dan kurang bersemangat itu. Salah satunya adalah sering buang air kecil di malam hari. Dita pun memikirkan kemungkinan Arif menderita diabetes.

Setelah menjalani pemeriksaan lengkap, dokter menyatakan Arif tidak menderita diabetes. Bahkan dokter menganjurkan agar Arif berkonsultasi ke Klinik Gangguan Tidur. Mereka amat terkejut ketika dokter di klinik tersebut menyatakan Arif menderita gejala gangguan tidur karena kantuk berlebih yang ia derita. Lebih terkejut lagi ketika dokter tersebut mengaitkan keluhan-keluhan Arif dengan hipertensi dan kebiasaannya mendengkur!

Hipersomnia

Selama ini kita memahami gangguan tidur sebagai insomnia semata. Ternyata kantuk berlebih yang juga dikenal sebagai hipersomnia juga merupakan suatu gejala gangguan tidur. Hipersomnia sering kita abaikan karena kita tidak terbiasa memperhatikan kesehatan tidur kita. Padahal tren kesehatan dunia kini amat memperhatikan kesehatan tidur sebagai parameter kesehatan seseorang. Prof. William Dement, yang juga dikenal sebagai bapak kedokteran tidur, menyatakan bahwa lebih mudah memprediksi status kesehatan seseorang dari kebiasaan tidurnya dibanding dari diet atau olah raga yang dilakukannya.

Hipersomnia merupakan tanda seseorang menderita gangguan tidur. Mulai dari kurangnya jumlah tidur hingga gangguan tidur yang lebih serius seperti Sleep Apnea, Sindroma Tungkai Gelisah hingga Narkolepsi.

Penderita hipersomnia sering kali menyangkal dirinya mengantuk berlebihan, padahal kantuk pada jam-jam setelah makan siang merupakan salah satu tanda awalnya. Ya, kantuk di siang hari tidak ada kaitannya dengan perut yang kenyang. Jam biologis yang mendorong seseorang untuk tetap terjaga memang menurunkan kesiagaannya  pada jam-jam tersebut. Tetapi pada kondisi normal, seharusnya kita tidak mengantuk. Kita mengantuk karena hutang tidur yang kita tanggung. Hutang tidur bisa diakibatkan karena tidur kita yang kurang pada malam sebelumnya atau tidur kita cukup tetapi kualitasnya buruk. Salah satu tandanya adalah rasa kurang segar saat bangun pagi walaupun tidur sudah cukup lama. Manifestasi yang semakin berat biasanya berupa sakit kepala di pagi hari.

Sleep Apnea

Penderita gangguan tidur seperti Arif. Walaupun sudah cukup lama tidur (normal 8 jam sehari,) bahkan terkadang lebih, masih merasa tidak segar di pagi hari. Apalagi di siang hari, rasa lelah terus merongrong aktifitasnya. Untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan ia memerlukan usaha dua kali lipat dibanding orang lain. Ditambah dengan beban hutang tidur, tak heran apabila ia selalu merasa lelah. Di kantor ia juga dikenal sebagai pimpinan yang galak karena emosinya yang labil. Semua ini menurunkan kualitas hidupnya.

Arif masih beruntung karena ia seorang pekerja kantor. Paling buruk, ia tertidur di saat rapat. Bayangkan jika ini terjadi pada seorang pilot atau buruh yang mengoperasikan mesin. Pada tahun 2003 terjadi kecelakaan Shinkansen (kereta cepat) di Osaka (Japan Times, March 3rd, 2003.) Si masinis tetap bertugas walaupun dalam kondisi mengantuk. Telah lama ia merasa selalu lelah dan mengantuk, namun semuanya dianggap wajar dan dapat diatasi dengan bercangkir-cangkir kopi. Tetapi hari itu ia tertidur selama 8 menit. Tidak ada kopi maupun minuman berenergi yang dapat menolong. Untunglah tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Tetapi kejadian ini menguak sebuah kenyataan bahwa si masinis ternyata menderita sleep apnea, yang ditandai dengan kantuk berlebihan dan tidur mendengkur!

Arif lalu menjalani pemeriksaan Polisomnografi (PSG) di laboratorium tidur. Hasilnya ia menderita Obstructive Sleep Apnea yang parah. Dalam tidurnya ia berhenti nafas rata-rata 52 kali per jam. Bahkan satu kali Arif pernah berhenti nafas selama 73 detik. Satu menit lebih! Dalam keadaan sadar, kita tidak akan dapat menahan nafas selama ini. Belum lagi kadar oksigen darahnya yang menurun drastis selama henti nafas.

PSG adalah standar emas pemeriksaan untuk mendiagnosis berbagai gangguan tidur. Tanpa pemeriksaan ini, dokter akan mengalami kesulitan dalam melakukan terapi karena tidak adanya diagnosis yang jelas.

Setelah diterapi beberapa waktu, Dita amat puas melihat perubahan pada Arif. Suara dengkuran tak lagi terdengar. Dan seolah suaminya mendapatkan kehidupannya kembali. Walaupun terkadang masih mengantuk di siang hari, Arif sudah bisa merasakan kualitas tidur yang baik. Di pagi hari suaminya tampak selalu segar dan bersemangat. Setiap pekerjaan diselesaikannya dengan baik dan memuaskan. Predikat galak-pun perlahan menghilang dari obrolan kantor. Hipertensi yang sudah lama diderita perlahan kembali normal. Dosis obat yang harus diminum tiap hari pun perlahan diturunkan dibawah pengawasan dokter. Yang paling membahagiakan, kini Arif memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama keluarga tercinta.

Kenali Gejala Gangguan Tidur sejak Dini

Koran Jakarta, Kamis, 19 Nopember 2009

Sering dijumpai, banyak orang berupaya untuk membuat tubuhnya terus bugar dengan mengabaikan aktivitas tidur.

Mereka kerap hanya mengonsumsi berbagai vitamin penjaga stamina tubuh, kafein, cokelat, dan obat-obatan yang terkategori sebagai penstimulan.

Namun, sebenarnya zat-zat itu hanya dapat menghilangkan kantuk tanpa bisa mengembalikan kebugaran mental dan daya tahan tubuh seseorang. Tidak ada satu pun zat yang dapat menggantikan efek pemulihan dari tidur.

Sedemikian pentingnya proses tidur hingga menyebabkan bayi yang baru lahir menghabiskan waktu selama 22 jam dalam sehari untuk tidur. Hal itu untuk menjamin proses tumbuh kembang yang normal. Tidak hanya itu, sistem daya tahan tubuh manusia hanya bekerja optimal pada saat tidur.

Pada kenyataannya, tidak sedikit orang yang berada dalam kondisi letih tidak merasakan kantuk. Jika kondisi itu terjadi, mesti diwaspadai sebagai salah satu gejala insomnia. Resti Muliawan, pegawai biro advertising di Jakarta, mengakui setidaknya empat kali dalam sepekan dia merasakan kesulitan tidur.

“Padahal sudah capek banget, pulang kerja inginnya langsung tidur, tetapi mau tidak mau harus terjaga sampai jam 2 pagi. Besoknya, jam 6 pagi harus bangun lagi. Rasanya rontok badan ini,” keluhnya.

Insomnia terbagi ke dalam dua jenis, yaitu transient insomnia dan insomnia jangka pendek. Transient insomnia ialah kesulitan tidur hanya beberapa malam. Sedangkan insomnia jangka pendek merupakan kesulitan tidur yang berlangsung selama dua hingga empat pekan.

Kedua jenis insomnia itu biasanya menyerang orang yang sedang mengalami stres, berada di lingkungan yang ramai, atau berada dalam penyesuaian waktu yang berbeda hingga mengakibatkan jetlag.

Jika hampir setiap malam seseorang mengalami kesulitan tidur dalam jangka waktu lama, orang itu berarti telah menderita insomnia kronis.

Ada beberapa hal penyebab insomnia kronis, di antaranya ialah depresi, penyalahgunaan kafein, alkohol, dan melakukan kegiatan malam hari.

Menurut Andreas Prasadja, ahli kesehatan tidur pertama di Indonesia dari RS Mitra Kemayoran, Jakarta, banyak hal bisa dilakukan untuk mencegah insomnia.

Salah satunya, tidak mengonsumsi kafein dalam jangka waktu sembilan jam sebelum tidur. Pasalnya, kafein yang turut mengalir ke dalam darah akan hilang dalam waktu 9 sampai 12 jam.

Hal lain yang mesti dihindari ialah melakukan olah raga kurang dari tiga jam sebelum tidur. “Olah raga memang membuat tubuh lelah, tetapi justru meningkatkan kadar adrenalin yang menyegarkan otak.

Dan yang terpenting satu jam sebelum tidur, tinggalkan semua pekerjaan dan biasakan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran dengan kegiatan-kegiatan menyenangkan namun bersifat santai,” papar Andreas yang kerap dipanggil Ade itu.

Selain insomnia, gangguan tidur lainnya yang juga kerap membahayakan kesehatan ialah sleep apnea atau henti napas.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat, menemukan risiko kematian pada penderita sleep apnea berat mencapai 46 persen. Risiko terbesar menimpa kaum pria yang berusia 40 hingga 70 tahun.

Para peneliti itu menyatakan orang-orang yang mengalami gangguan napas selama tidur berisiko lebih tinggi mengalami kematian ketimbang mereka yang tidak menderita sleep apnea. Gangguan itu terjadi akibat penyempitan saluran napas selama tidur. Alhasil, pasokan oksigen akan berulang kali terhenti sepanjang malam.

Ketika tidur, saluran napas melemah hingga menyempit. Saat menyempit itulah aliran udara terhambat sehingga menggetarkan dinding saluran napas yang lembek.

Kondisi itu menimbulkan suara dengkuran. Dalam proses tidur selanjutnya, jalan napas yang melemah itu dapat menyempit total hingga mengakibatkan tersumbatnya jalan napas.

Hingga saat ini tidak ada obat yang bisa menghilangkan pelbagai gangguan tidur, selain melakukan operasi pembukaan saluran napas ataupun penggunaan alat Continuous Positive Air Way Pressure (CPAP).

Alat itu, kata Ade, merupakan alat yang memberikan dorongan untuk membuka saluran pernapasan yang menyempit. Bentuk CPAP mirip masker yang dilengkapi tabung kecil untuk memompa udara bertekanan positif ke dalam saluran pernapasan.

Mengingat belum adanya obat yang manjur untuk mengatasi berbagai gangguan tidur, Ade menyarankan sebaiknya setiap orang segera tanggap mengenali gejala-gejalanya. Dengan demikian, gangguan tidur pun bisa diatasi sedini mungkin.

link: http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=38144

Mata yang Tak Pernah Lelah

Pekerja shift riskan menderita insomnia.

Koran Jakarta, Minggu, 18 April 2010

“Saya tidak bisa tidur, dokter,” seorang perempuan setengah baya mengeluh kepada Dr Andreas Prasadja RPSGT, sleep physician di Klinik Gangguan Tidur Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta. Tak tanggung-tanggung, perempuan itu juga mengaku, sepanjang setahun terakhir, dia tak pernah tidur pulas. Kasus yang cukup pelik. Serangkain wawancara kemudian dilakukan Andreas untuk mencari akar permasalahan pasiennya itu.

Pada satu sesi, Andreas curiga ketika sang pasien mengaku kerap memakai kaus kaki ketika hendak tidur. “Kenapa pakai kaus kaki? Dingin atau ada yang merasa tidak enak?” Tanya Andres. “Kaki Saya terasa sakit, dok,” jawab si perempuan. “Bingo!” batin Andreas yang yakin inti masalahnya ada pada kebiasaan itu. Dalam istilah kedokteran, gangguan tidur yang dialami pasien itu disebut Restless Leg Syndrome (RLS) atau sindrom tungkai gelisah.

« Tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan tempat tinggal, juga dapat berpotensi menderita insomnia sementara. »

RLS merupakan diagnosa banding terhadap insomnia, dengan gejala penderita merasa tidak nyaman dengan kakinya. Hal itu bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa seperti kesemutan, pegal hingga nyeri. Namun, si penderita kerap kesulitan menjelaskan sakit yang dia alami tersebut. “Tapi ciri pada umumnya, saat berbaring, kaki merasa tidak nyaman dan kerap digerak-gerakkan penderita karena berusaha untuk menghilangkan sakit itu.

Dan mereka suka mengenakan kaus kaki,” ujar Andreas. Lantaran merasa tidak nyaman tadi, penderita juga punya kebiasaan menjulurkan kaki ke lantai, menepuk-nepuknya berharap sakit dapat hilang atau bangun dari ranjang untuk berjalan beberapa langkah. Tentu, sesekali sakit itu meredup dan penderita berusaha tidur lagi.

Namun ketika berbaring beberapa menit, nyeri itu muncul lagi dan itu terjadi berulang kali sepanjang malam. “Akibatnya, mereka sama saja tidak tidur,” ujar Andreas. Ada pula ciri lain yang melekat pada penderita RLS. Mengigau, ya, berceloteh tanpa sadar itu bisa dikatakan kebiasaan lainnya. Kemudian kerap diikuti mendengkur atau mengalami sleep apnea alias berhenti napas beberapa saat ketika tidur. RLS, dalam istilah Andreas ibarat sleep disorder in disorder. Apa yang dialami pasien Andreas itu, dalam skala terbatas sebenarnya kerap menghantui banyak orang. Tidak percaya? Pernahkah Anda mendengar istilah insomnia? Ya, sederhananya seperti itulah RLS.

Sementara dan Permanen

Secara umum, insomnia dibagi menjadi dua kelompok; Insomnia sementara dan insomnia permanen. Beberapa hal yang menyebabkan insomnia sementara antara lain; Kesulitan tidur yang diakibatkan ketidakstabilan emosional, mengalami stres, kesedihan atau bahkan perasaan girang yang berlebihan. Insomnia kelompok ini dapat dipicu beberapa hal. Misalnya, para pekerja yang memakai aturan shift, memiliki peluang yang cukup besar menderitanya. Hal itu karena biologis tubuh dipaksa bangun dalam kondisi yang tidak sesuai atau tidak normal dengan jam biologisnya.

Tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan tempat tinggal, juga dapat berpotensi menderita insomnia sementara. Biasanya hal ini terjadi bagi mereka yang semula tinggal di daerah yang lengang dan tenang, mendadak harus pindah ke tempat tinggal yang berisik seperti di pusat kota.

Sedangkan insomnia pemanen dapat disebabkan gastroesophagel refl ux atau naiknya asam lambung saat berbaring. Bisa pula berasal dari sindrom tungkai gelisah atau RLS tadi atau bersamaan dengan sleep apnea yang menimbulkan nyeri dan membuat penderitanya tidak bisa tidur. Kondisi psikologis yang tidak stabil dan depresi juga dapat memicu si penderita yang seakan matanya terus terjaga, padahal fi siknya sudah meronta dan lelah ini.

Berdasarkan hasil penelitian di Amerika Serikat, hampir sepertiga penduduk negeri Paman Sam itu, menderita gangguan tidur. Sementara di Indonesia, gangguan tidur menyerang lantaran pola jam kerja yang bervariasi. Pekerjaan-pekerjaan yang mengakibatkan terganggunya siklus tidur besar kemungkinan menjangkiti profesi perawat, dokter, dan petugas keamanan. Bahkan penelitian lain menyebut bahwa 70 persen perawat di Jakarta mengalami insomnia.

Mendengkur

Menghadapi penderita gangguan tidur, menurut Andreas perlu dilakukan tindakan yang bertahap. Gejala gangguan tidur itu tidak bisa sekaligus dihilangkan. Tapi satu per satu. Bagi penderita RLS, misalnya, Andreas sangat memprioritaskan agar si penderita secara bertahap dapat merasakan tidur yang lebih nyaman. Tindakan pertamanya adalah berupa menghilangkan kebiasaan ngorok alias mendengkur tadi. “Hal ini agar kualitas tidur si penderita membaik,” ujar dia. Bila hal itu sudah tercapai, tindakan selanjutnya adalah menerapi RLS itu. Caranya dengan bantuan neurolog, ahli saraf. Hal ini karena gangguan tidur erat kaitannya dengan kondisi psikis seseorang yang dianggap tidak normal atau labil. Parameter keberhasilan terapi saraf ini adalah si pasien tidak akan mengigau lagi selama tidur. Selain itu, sebenarnya ada beberapa cara yang dapat dilakukan penderita secara mandiri untuk membantu penyembuhannya. Hal itu bisa dilakukan dengan cara membiasakan diri dengan pola hidup normal dan sehat. Konkretnya, misalnya, dengan pola tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap harinya. Olahraga teratur setiap pagi dan membiarkan tubuh terpapar Matahari juga akan lebih baik. Hal itu juga perlu dukungan dari lingkungan yang kondusif. Misalnya, dengan membuat kamar tidur dan ranjang senyaman mungkin, menjaga suhu udara dan aliran udara di kamar dengan pas dan baik. Termasuk sangat disarankan tidur dengan kondisi penerangan yang minim atau bahkan gelap sekaligus. Membiasakan diri mandi dengan air hangat, mendapatkan pijatan atau meditasi sebelum tidur, juga sangat membantu agar tidur pulas tercapai. _ teguh nugroho

Link: http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=50136

Gangguan Tidur Bisa Sebabkan Serangan Jantung

Selasa, 24 Februari 2009 | 21:14 WIB
JAKARTA, SELASA – Meski kelihatannya remeh, mendengkur ternyata dapat menjadi pertanda buruk.

 

Mendengkur atau ngorok merupakan ciri penyakit gangguan tidur yang disebut Sleep Apnea. Jika dibiarkan berlarut, dapat menyebabkan penyakit yang berbahaya, seperti jantung, stroke, diabetes dan hipertensi.

“Secara harfiah sleep apnea dapar diartikan henti napas saat tidur,” terang Dr, Andreas Prasaja, seorang sleep scientist.  

Pukul 0.3.00-0400 adalah waktu yang paling enak untuk tidur. Saat itu orang masuk dalam status tidur dalam atau REM (rapid eye movement). Pada saat ini, ada sistem pengaman tubuh yang dilumpuhkan. Akibatnya, henti napas akan makin panjang. Dengan begitu, beban jantung akan semakin berat. “Kalau tidak kuat maka dapat terkena serangan jantung pada saat tidur, dan meninggal,” terang Andreas.

Gejala awal dari sleep upnea adalah adalah mendengkur, sering buang air keci di malam hari, mulut terasa asam karena asam lambung meningkat, dan sering terbangun di malam hari karena tersedak akibat henti nafas.

Akibat yang paling ringan dari sleep apnea adalah turunnya produktivitas karena kualitas tidur yang buruk. Kualitas tidur yang buruk menyebabkan tidak segarnya tubuh saat bangun. Akibatnya konsentrasi akan menurun saat bekerja karena orang akan mengantuk sepanjang hari.

Sleep apnea, menurut Andreas terjadi akibat menyempitnya jalan nafas. Di luar negeri penyebab utama penyempitan saluran napas biasanya kegemukan dan lemak yang menumpuk di seputar leher. Namun di Indonesia, penyempitan saluran napas bisa terjadi akibat bentuk rahang yang sempit dan bentuk leher yang pendek. “Dengan karakteristik seperti itu, kita tidak perlu menjadi gemuk untuk menjadi sleep apnea,” jelas Andreas.

Seberapa parah gangguan ini dapat diketahui dari frekeuensi henti napas yang terjadi per jam. Apnea Hypopnea Index bisa digunakan. Jika henti nafas seseorang antara nol sampai lima per jam, itu masih normal. Bila 15-30 kali dalam satu jam, termasuk sedang. Berat, jika ia sudah terhenti nafasnya lebih dari 30 kali dalam satu jamnya.

Tidak ada obat untuk gangguan tidur. Selain operasi untuk membuka saluran napas, alat yang disebut Continuous Positive Air Way Pressure ( CPAP) dapat menyelesaikan masalah. “Ini adalah alat yang memberikan dorongan untuk membuka saluran pernafasan yang menyempit,” jelas Andreas.

CPAP mirip masker yang dilengkapi tabung kecil untuk memompa udara bertekanan positif ke dalam saluran pernapasan, bentuknya sangat fleksibel sehingga tidak menggangu tidur. Untuk mencegah terjadinya sleep apnea datang kembali, CPAP ini sebaiknya digunakan selama tidur.

Penulis: C5-09

link: http://kesehatan.kompas.com/read/2009/02/24/2114184/gangguan.tidur.bisa.sebabkan.serangan.jantung

Tidur Mendengkur Dapat Picu Hipertensi

Republika, Selasa, 03 Maret 2009

Pada sebagian orang, tidur masih kerap dianggap kegiatan yang tidak terlalu penting. Di kota besar seperti Jakarta, misalnya, tuntutan hidup dan tingginya kesibukan masyarakat membuat banyak orang kurang memperhatikan pentingnya kualitas dan kuantitas tidur. Padahal, sebenarnya tidur memiliki banyak sekali manfaat bagi kesehatan manusia. Banyak kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan hanya dapat dilakukan oleh tubuh hanya sewaktu kita berada dalam keadaan tidur.

”Ketika kita tidur tubuh mengalami perbaikan dan pembentukkan sel tubuh yang rusak. Tidur juga dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh,” ungkap dr Andreas Prasadja RPSGT, sleep technologist dari RS Mitra Kemayoran, Jakarta.
Menurutnya, khusus pada anak-anak, ketika mereka tertidur dalam tahapan tidur dalam, hormon pertumbuhan yang berguna dalam proses tumbuh kembang dikeluarkan. ”Ketika kita tidur dalam keadaan bermimpi, kemampuan konsentrasi, kreativitas, kognitif, dan kematangan mental pun sedang dikembangkan dengan lebih optimal,” lanjut lulusan FK Unika Atmajaya dan sleep technologist dari Sydney, Australia, ini.

Manfaat tidur secara optimal dapat dihasilkan jika jam tidur dan kualitas tidur dipenuhi dengan baik.”Tidak benar jika ada yang mengatakan kualitas tidur lebih penting dari kuantitas tidur. Kualitas dan kuantitas tidur sama pentingnya untuk diperhatikan,” tegas dokter yang berpraktik sejak tiga tahun lalu ini.

Kebutuhan tidur setiap orang tergantung pada usia. Pada anak yang duduk di sekolah dasar, kebutuhan jam tidur setiap hari lebih kurang 10 hingga 11 jam. Remaja hingga dewasa muda membutuhkan waktu tidur antara delapan hingga sembilan jam per hari. ”Pada orang dewasa, kebutuhan jam tidur berkurang menjadi hanya delapan jam per hari. Prinsipnya, semakin tua seseorang, semakin berkurang kebutuhan jam tidurnya,” tutur Andreas.

Dua pantangan
Menurutnya, ada dua pantangan utama yang harus dihindari saat seseorang ingin tidur. Pertama, hindari terjaga di tempat tidur, dan kedua, usahakan berada dalam kondisi rileks ketika berada di tempat tidur. ”Pada pola tidur sederhana, harus terjadi penurunan ketegangan dari segala kegiatan yang dilakukan sebelum tertidur,” ungkapnya. Menurutnya, parameter yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas tidur secara awam adalah bila kita terbangun dalam keadaan segar. Sedangkan parameter dari segi kedokteran adalah tercapainya semua tahapan tidur, dari mulai tidur pada tahap awal, hingga tidur dalam tahap terdalam.

Meremehkan fungsi tidur dapat memicu terjadinya berbagai gangguan tidur yang berujung pada timbulnya berbagai penyakit degeneratif seperti hipertensi, stroke, dan diabetes. ”Hipertensi dapat dipicu secara langsung oleh tidur mendengkur. Ketika mendengkur, terjadi henti napas saat tidur. Ketika napas kita terhenti, tanpa kita sadari otak kita terbangun sesaat. Repotnya hal ini terjadi berulang-ulang sepanjang malam,” jelas Andre. Di Australia, lanjutnya, tidur mendengkur menjadi parameter pertama terjadinya hipertensi.

Mendengkur disebabkan oleh adanya penyempitan jalan napas ketika kita tertidur yang akhirnya memicu adanya penyumbatan. ”Mendengkur juga dapat disebabkan oleh adanya kelainan struktur anatomis pada daerah rahang,” jelas Andreas. Memang belum dapat ditentukan rentang waktu yang diperlukan sebagai manifestasi hipertensi akibat mendengkur, tapi mendengkur merupakan salah satu penyebab langsung terjadinya hipertensi.

Konsep kesehatan secara keseluruhan, lanjut Andre, adalah pemenuhan nutrisi dengan menerapkan pola berimbang, berolah raga, dan tidur yang sehat. ”Hingga saat ini tidak ada satu zat pun yang dapat menggantikan manfaat tidur,” ujarnya. Menurutnya, dengan memperhatikan pemenuhan kuantitas dan kualitas tidur yang baik, kualitas hidup dan keseimbangan emosional kita pun dapat terjaga dengan lebih baik. ci2

SLEEP APNEA, Bukan Ngorok Biasa!

Koran SINDO, Monday, 02 March 2009
Link: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/217689/36/

MENDENGKURyang disertai henti napas lebih dari lima belas kali saat tidur bisa menjadi pertanda gangguan tidur serius. Bahkan,mengarah pada penyakit jantung. Seberapa serius Anda menanggapi persoalan mendengkur?

Simaklah cerita Ranti yang akhir tahun lalu pergi berlibur bersama teman-teman sekantornya ke Anyer. Untuk mengirit biaya, mereka hanya menyewa satu kamar hotel untuk berlima.

”Waktu malam pertama menginap, enggak nyangka seorang teman kami yang di kantor dikenal pendiam dan berwibawa ternyata mendengkur saat tidur. Saya dan teman-teman terbangun dan cekikikan mendengar dengkuran yang cukup kenceng. Besoknya pas kami bilang,eh dia jadi tersinggung,” tutur karyawati perusahaan telekomunikasi di Jakarta itu. Lain Ranti, lain pula Gina.

Kebiasaan suaminya mendengkur tiap malam hampir memicu mereka pisah kamar tidur.”Awalnya telinga saya tidak nyaman, kadang saya tutupibantalatau dengerinmusik pakai earphone.Tapi lama-lama terbiasa juga sih,”ujarnya. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih menganggap mendengkur alias ngoroksebagai hal wajar atau ritual biasa saat tidur.

Bahkan, ada yang menganggap dengkuran sebagai penanda tidur pulas.Namun, perhatikan bahwa jika anak atau pasangan tidur Anda mendengkur disertai henti napas sejenak seperti orang tersedak, bisa jadi itu merupakan gejala gangguan tidur yang disebut sleep apnea.

Lalaine Gedal RPSGT, seorang sleep technologist besertifikat dari Amerika mengungkapkan, mendengkur jangan dianggap main-main dan bukan untuk dijadikan bahan tertawaan.Dengkuran ataupun sleep apnea terjadi karena ada sumbatan pada jalan napas, sehingga aliran udara lewat hidung dan tenggorokan terhambat. Akibatnya, napas seperti terputusputus atau terhenti selama beberapa detik.

”Kalau sumbatan ini terjadi di saluran napas atas maka disebut sindroma obstructive sleep apnea (OSA), yang berarti jalan napas tersumbat total,” tutur Lalaine dalam seminar awam tentang gangguan tidur yang diselenggarakan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan Departemen Neurologi FKUI/- RSCM di Hotel Nikko Jakarta, pekan lalu.

Kasus henti napas saat tidur ini tak boleh disepelekan. Pasalnya, saat jalan napas tersumbat, pasokan oksigen ke dalam darah dan otak pun berkurang sehingga memicu otak untuk terjaga.Tapi meski otak terjaga, orang itu tidak terbangun. Hal ini memotong proses tidur dan kualitas tidur menjadi buruk.

Akibatnya, saat bangun jadi tidak segar, capek, sulit konsentrasi, masih ngantuk meski sudah tidur 8 jam, dan mengantuk di siang hari. ”Nah,jika hal ini terjadi setiap malam otomatis dapat mengganggu kemampuan otak, mental, termasuk kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan,” ujar Lalaine seraya mengungkapkan beberapa gejala penyerta sleep apnea seperti mengantuk yang amat sangat,sering buang air kecil di malam hari, dan mulut terasa asam akibat meningkatnya asam lambung.

Sementara itu, sleep scientist dari RS Mitra Kemayoran Jakarta, Dr Andreas Prasaja, mengingatkan bahwa kasus sleep apnea yang dibiarkan berlarut-larut dapat memicu penyakit berbahaya seperti hipertensi, diabetes, hingga gangguan jantung bahkan stroke.

”Di negara maju, sleep apnea sudah termasuk dalam tata laksana penanganan penyakit- penyakit tersebut. Jadi, jika ada pasien hipertensi berobat,dokternya pasti akan bertanya: Anda ngorok tidak? Pasalnya, sleep apnea diketahui sebagai salah satu faktor risiko utama dari penyakit tersebut,” papar pria ramah itu.

Lebih lanjut Andreas memaparkan, berat-ringannya sleep apnea bukan ditentukan oleh keras-lembutnya volume dengkuran, melainkan frekuensi henti napas yang terjadi setiap jam. Dan, jika terjadi 15–30 kali dalam satu jam sudah termasuk gangguan sedang, dan berat jika frekuensinya mencapai lebih dari 30 kali per jam.

”Untuk mengetahui adanya gangguan, Anda bisa datang ke laboratorium tidur untuk direkam kondisi selama tertidur seperti pernapasan, gelombang otak dan jantung,”ungkapnya.( inda susanti)