7 Hal Tentang Mendengkur dan Henti Nafas Tidur

Sleep apnea, atau henti nafas saat tidur masih belum begitu diketahui orang di tanah air. Sementara yang sudah tahu pun belum mengerti benar apa itu sleep apnea. Banyak kesalah pahaman meliputinya. Tak jarang ketidak tahuan pun berakibat pada keterlambatan perawatan.

Penderita sleep apnea pun semakin bertambah jumlahnya. Beberapa penelitian menyebutkan obesitas sebagai penyebabnya, sementara penelitian lain menyebutkan bahwa jumlah penderita meningkat seiring dengan semakin bertambahnya kesadaran pendengkur untuk memeriksakan dirinya. Apa pun sebabnya, dengan semakin banyak penderita sleep apnea yang dirawat, resiko penyakit jantung koroner dan stroke pun menurun.

Dari beberapa pasien saya, ada beberapa hal yang ingin saya bagikan.

1. Mendengkur itu wajar dan tak berbahaya.

Banyak orang mendengkur, kebanyakan teman seusia saya juga mendengkur; ujar salah satu pasien pria berusia 60-an tahun. Walau banyak orang mendengkur, bukan berarti mendengkur itu normal. Bahkan membahayakan. Mendengkur adalah gejala utama dari sleep apnea atau henti nafas saat tidur. Penderitanya berulang kali mengalami henti nafas akibat menyempitnya saluran nafas saat tidur. Akibatnya oksigen akan turun-naik sepanjang malam. Sebuah penelitian di Spanyol mengimitasi kondisi oksigen turun naik ini pada tikus. Akibatnya sel tumor yang disuntikkan berkembang menjadi ganas setelah beberapa waktu.

Sementara penelitian-penelitian terdahulu sudah mengamini mendengkur sebagai penyebab hipertensi, berbagai penyakit jantung, stroke, depresi, kematian dan impotensi.

2. Hanya pria yang mendengkur.

Ini pun salah. Wanita juga bisa mendengkur. Hampir seperlima pasien saya adalah wanita.

Walau hasil pemeriksaan tidur menunjukkan bahwa wanita menderita sleep apnea yang lebih ringan dibanding pasien pria, namun mendengkur pada wanita tetap tak boleh diremehkan. Terutama pada masa kehamilan, sleep apnea menyebabkan gangguan perkembangan janin, preeklampsia, diabetes pada kehamilan, serta resiko prematuritas.

3. Anak-anak mendengkur itu tampak menggemaskan.

Ya, memang menggemaskan tetapi ketika di antara dengkuran tampak nafas jadi berat bahkan tampak sesak, justru jadi mengerikan. Henti nafas yang dialami pada anak akan mengganggu proses tidur yang pada akhirnya akan menyebabkan gangguan tumbuh kembang, emosi dan perilaku. Daya tahan tubuh juga menurun, hingga anak mudah terserang penyakit infeksi.

Selain mendengkur, gejala lain sleep apnea pada anak adalah kantuk yang berlebihan (hipersomnia). Hanya saja manifestasi hipersomnia pada anak, justru muncul sebagai hiperaktivitas. Biasanya orang tua melaporkan anak sulit mempertahankan konsentrasinya. Secara emosional, anak pun jadi lebih agresif. Semua hal yang sering kita temui pada anak yang menahan kantuk.

4. Sleep apnea bisa menurun.

Sebenarnya sleep apnea atau mendengkur disebabkan oleh saluran nafas yang sempit. Struktur wajah, bentuk rahang, gigi geligi, amandel, dan langit-langit mulut dari anak dan orang tua tentu mirip. Tak heran jika ada pasien anak yang mendengkur, salah satu dari orang tuanya pun ternyata mendengkur.

5. Mendengkur disebabkan oleh kegemukan.

Belum tentu benar. Banyak literatur memang menyatakan obesitas sebagai penyebab sleep apnea. Tapi penelitian-penelitian ini dilakukan di negara-negara ras Eropa. Mereka memiliki stuktur rahang lebar dan leher yang lebih panjang, berbeda dengan kita orang Asia yang memiliki rahang sempit dan leher pendek. Ini sebabnya banyak orang yang tidak gemuk pun mendengkur.

Para ahli bahkan menemukan bahwa sleep apnea justru mengakibatkan gangguan metabolisme yang menyebabkan kegemukan. Contoh paling mudah adalah dengan merefleksikan pada diri sendiri, saat menahan kantuk akibat lembur bekerja, kita cenderung lapar bukan? Ya, sel-sel di otak pun mendikte kita untuk mencari makanan dengan rasa manis, asin dan gurih.

6. Perawatan sleep apnea adalah dengan CPAP.

CPAP, singkatan dari continuous positive airway pressure memang merupakan standar utama perawatan sleep apnea. Tapi tak semua pendengkur harus menggunakan CPAP. Ada alternatif perawatan lain berupa pembedahan atau penggunaan dental appliances (yang dibuat dokter gigi). Untuk menentukan perawatan terbaik, seorang pendengkur harus menjalani pemeriksaan. Pemeriksaan saat tidur dilakukan di laboratorium tidur atau populer dikenal dengan sebutan sleep study. Dari pemeriksaan ini diagnosis baru bisa ditegakkan, dan perawatan baru ditentukan.

Tidak semua pasien baik dengan jalan pembedahan. Demikian juga tak semua pendengkur baik dengan gunakan CPAP. Terkadang ada kondisi tertentu dimana pasien harus menjalani keduanya. CPAP merupakan sebuah alat yang meniupkan tekanan positif agar saluran nafas tak menutup saat tidur. Walau tak biasa di awal pemakaian, dengan penyetelan, pelatihan dan pemberian yang baik dari tenaga medis terlatih, perawatan jangka panjang nan nyaman bisa tercapai. Belakangan mulai diteliti kemungkinan alat-alat baru untuk merawat sleep apnea, seperti alat implan untuk merangsang otot-otot saluran nafas atas, atau alat semacam plester hidung yang bisa digunakan. Semoga dalam waktu dekat semakin banyak alternatif perawatan bagi penderita sleep apnea.

Tujuan perawatan medis adalah menjaga fungsi-fungsi nafas saat tidur, bukan pada suara dengkuran. Tapi jangan khawatir, dengan melakukan perawatan pada saluran nafas, otomatis suara dengkuran turut hilang.

7. Jangan abaikan dengkuran.

Dengan semakin banyaknya bukti-bukti ilmiah bahaya mendengkur, sudah selayaknya kita tak lagi mengabaikan pendengkur di sekitar kita. Seorang pendengkur hanya tahu dirinya mendengkur ketika diberi tahu orang lain. Sering kali saya jumpai pasien terkaget-kaget saat dijelaskan parahnya henti nafas yang ia alami. Ya, penderita sleep apnea tak pernah menyadari apa yang ia alami selama tidur. Bagaimana ia tercekik dan tersedak saat tidur, bagaimana kadar oksigen turun atau bagaimana jantung jadi bekerja keras saat tidur.

Jika ada pendengkur di sekitar Anda, jangan ditertawakan. Bisa jadi ia menderita sleep apnea yang mempertaruhkan nyawanya setiap kali tertidur. Peringatkan, ajak ia memeriksakan dirinya. Dengan demikian Anda menyelamatkan hidupnya!

Kanker dan Kesehatan Tidur

Masyarakat Indonesia sudah mengadopsi kehidupan modern yang berdetak 24 jam tiada henti. Tanpa disadari kesehatan tidur pun kehilangan prioritasnya. Padahal kekurangan tidur memiliki akibat buruk bagi kesehatan maupun kondisi psikologis seseorang. Salah satunya adalah risiko terhadap kanker.

Walau tak menunjukkan hubungan sebab akibat, namun bukti-bukti ilmiah menunjukkan bagaimana kesehatan tidur yang buruk akan meningkatkan risiko seseorang untuk menderita kanker.

Melatonin

Melatonin di keluarkan oleh kelenjar pineal otak dan berperan penting dalam pengaturan jam biologis manusia. Suasana gelap akan meningkatkan kadar melatonin, sementara cahaya akan mengganggu produksi melatonin. Pengeluaran melatonin akan terganggu ketika kita terpapar cahaya terang di malam hari. Tak heran manusia modern memiliki kerancuan jam biologis hingga tidur semakin larut.

Semakin lama durasi tidur, tentu kadar melatonin akan semakin tinggi juga. Sementara pekerja dengan jam gilir tentu mengalami pengurangan kadar melatonin yang signifikan. Penelitian di Inggris menunjukkan bagaimana para perawat mengalami peningkatan risiko kanker payudara (47%) yang berhubungan dengan kadar melatonin.

Untuk Indonesia, kita belum memilki data pasti, tapi menarik jika kita melihat data dari negara tetangga terdekat. Singapura dalam penelitian tahun 2008 menunjukkan bahwa pada wanita pasca menopause yang tidur 9 jam atau lebih memiliki risiko kanker payudara lebih rendah 67% dibandingkan mereka yang tidur di bawah 6 jam. Pada penelitian ini wanita yang tidur lebih lama memiliki kadar melatonin 42% lebih tinggi dibanding yang kurang tidur.

Mendengkur

Kondisi mendengkur juga sudah dianggap biasa di masyarakat kita. Padahal berbagai penelitian terus menunjukkan keburukan mendengkur bagi kesehatan. Tidak main-main, mendengkur yang disertai dengan henti nafas saat tidur dapat menyebabkan hipertensi, diabetes, berbagai penyakit jantung, stroke hingga disfungsi seksual. Hubungan ngorok dengan risiko kanker pun semakin giat diteliti dan memberikan bukti-bukti yang semakin meyakinkan.

Sleep apnea adalah penyakit tidur yang gejala utamanya adalah mendengkur dan kantuk yang berlebihan di siang hari. Henti nafas terjadi berulan-ulang selama tidur tanpa disadari oleh penderitanya. Akibatnya kadar oksigen dalam darah pun naik turun tak beraturan.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam the Journal of Clinical Sleep Medicine, April 2014 menyebutkan bahwa angka kematian pada penderita kanker yang juga menderita sleep apnea adalah 3,4 kali lipat. Sementara penderita sleep apnea sedang-parah memiliki risiko menderita kanker hingga 2,5 kali lipat. Pengamatan sebelumnya yang dilakukan di Wisconsin, AS juga menunjukkan hasil yang senada. Disebutkan bahwa penderita sleep apnea sedang (moderate) memiliki risiko dua kali lipat untuk mengalami kematian akibat kanker, sementara yang parah risiko nya adalah 4,8 kali lipat.

Hubungan antara mendengkur dan kanker diduga disebabkan oleh turunnya kadar oksigen saat tidur. Penelitian yang dilakukan di University of Washington di Seattle menyatakan bahwa pada model tikus yang dibuat kekurangan oksigen berulang kali saat tidur, akan memicu perkembangan tumor yang lebih ganas.

Hubungan Mendengkur, Sleep Apnea & Gejala Depresi

Kesehatan tidur, seharusnya menjadi dasar dari kualitas manusia. Segala potensi diri yang muncul di saat terjaga, dibangun pada saat tidur. Di antaranya adalah kesehatan, kecerdasan, kemampuan konsentrasi, kreativitas dan stabilitas emosional.

Kebugaran fisik membutuhkan tidur yang sehat, sama seperti tubuh membutuhkan makanan dengan gizi yang sehat juga. Tidur merupakan kebutuhan dasar manusia.

Coba saja refleksikan apa yang terjadi ketika kita kurang tidur, lelah, lamban, sulit berkonsentrasi, dan emosional. Begitu kurang tidur kita jadi mudah tersinggung, mudah marah dan tak sabaran. Pada anak, bahkan muncul sifat agresif dan hiperaktif.

Bukan Sembarang Mendengkur

Sleep apnea adalah henti nafas saat tidur yang biasa diderita oleh pendengkur. Untuk mendiagnosis sleep apnea memang diperlukan pemeriksaan di laboratorium tidur. Tetapi untuk melihat kemungkinan sleep apnea, biasanya dikenali dahulu gejalanya berupa gangguan nafas selama tidur. Pendengkur tampak sesak, seperti tercekik lalu mengeluarkan suara keras seolah tersedak.

Sleep apnea saat ini dikenal sebagai penyebab hipertensi, diabetes, berbagai penyakit jantung, stroke, dan impotensi.

Penelitian Berkaitan dengan Depresi

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh CDC, Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat, seorang pendengkur dengan kesulitan bernafas saat tidur ternyata berhubungan dengan gejala-gejala depresi. Semakin sering pendengkur tampak tersedak atau berhenti bernafas dalam tidur, semakin mungkin ia mengalami gejala depresi.

Penelitian ini diikuti oleh hampir 10.000 orang yang diwawancara lewat kuesioner. Mereka ditanyakan gejala-gejala depresi, ukuran berat dan tinggi badan serta diminta melaporkan seberapa sering ia mendengkur dan tampak sesak saat tidur. Gangguan nafas saat tidur tentu peserta penelitian harus menanyakan pada pasangan tidurnya.

Hasilnya, pria dan wanita yang mendengkur serta tampak tersedak/berhenti bernafas saat tidur lebih dari 5 malam setiap minggunya, memiliki kemungkinan tiga kali lipat untuk menunjukkan gejala-gejala depresi, dibandingkan yang tidak mendengkur.

Hubungan henti nafas saat tidur dan depresi, mungkin berkaitan dengan berkurangnya pasokan oksigen ke otak selama tidur. Kemungkinan lain adalah kualitas tidur buruk yang dialami oleh penderita sleep apnea, hingga selalu mengantuk dan emosional di siang hari.

Pada saat penelitian diumumkan di tahun 2012, pertanyaan-pertanyaan baru muncul. Diantaranya bagaimana jika sleep apnea ini diatasi, apakah gejala-gejala depresi akan berkurang? Kemudian apakah kebutuhan atau dosis obat antidepresan juga jadi berkurang? Tentu dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam lagi.

Perawatan Dengkur Membantu Kurangi Gejala Depresi

Penelitian baru yang dilakukan oleh the Cleveland Clinic Sleep Disorder Center, menyatakan bahwa perawatan sleep apnea dengan menggunakan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), ternyata membantu mengurangi gejala depresi.

Hasilnya menunjukkan bahwa semua penderita sleep apnea yang menggunakan CPAP mengalami perbaikan gejala-gejala depresi. Penderita yang gunakan CPAP lebih dari empat jam setiap malamnya bahkan lebih baik lagi perbaikan gejala-gejala depresinya.

Perlu diingatkan bahwa penelitian ini masih sangat baru. Penelitian ini belum membandingkan manfaat CPAP dengan perawatan depresi konvensional. Tetapi untuk sementara para ahli sepakat bahwa sleep apnea merupakan penyakit tidur yang tak boleh diabaikan. Setiap laporan mendengkur harus diperhatikan. Jika pendengkur terdiagnosis dengan sleep apnea, perawatan dengkuran jelas memberikan manfaat bagi penderitanya, baik kaitannya dengan gejala depresi, kualitas hidup maupun penyakit-penyakit jantung, hipertensi, diabetes dan lainnya.

Tekanan Darah Tinggi Membandel Akibat Mendengkur

Jika Anda menderita hipertensi, dan tekanan darah masih sulit dikontrol walau telah meminum lebih dari 3 macam obat anti hipertensi, coba perhatikan tidur Anda. Mendengkur? Ngorok? Cukup tidur, masih mengantuk?

Sleep Apnea dan hipertensi

Awal penemuan sleep apnea (henti nafas saat tidur), sebenarnya diawali dari penderita hipertensi. Sekolompok peneliti menemukan adanya penderita hipertensi yang cenderung mengantuk di siang hari, padahal jumlah tidurnya cukup. Di waktu itu, ini dikenal sebagai gejala utama narkolepsi. Maka diperiksakanlah para penderita hipertensi tersebut dan alih-alih narkolepsi, didapati adanya dengkuran dan henti nafas saat tidur. Sejak saat itu pemeriksaan tidur dilengkapi dengan perekaman fungsi-fungsi jantung dan nafas, selain perekaman gelombang otak, mata dan otot. Prof. Guilleminault menamai penyakit ini dengan sebutan obstructive sleep apnea.

Ngorok atau mendengkur ternyata merupakan tanda menyempitnya saluran nafas saat tidur. Jalan nafas, bisa berulang kali tersumbat selama tidur hingga akibatkan reaksi berantai yang sebabkan peningkatan tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung, stroke, kematian dan impotensi. Sleep apnea, atau henti nafas saat tidur ditandai oleh kebiasaan ngorok saat tidur. Tetapi orang yang mendengkur belum tentu menderita sleep apnea lho, harus diperiksakan dahulu untuk membedakannya.

Sayangnya hubungan hipertensi dan dengkur seolah tenggelam oleh populernya temuan baru bahwa mendengkur/sleep apnea sangat berbahaya. Baru sekitar 30 tahun yg lalu, Kales dan kawan-kawan menuliskan temuan mereka pada jurnal kedokteran terkemuka Lancet. Dalam penelitian tersebut disebutkan adanya hubungan erat antara hipertensi dengan sleep apnea yang dibiarkan tanpa perawatan. Persisnya 30% penderita hipertensi yang derita sleep apnea.

Selanjutnya sekelompok peneliti asal Spanyol memberikan data bahwa penderita sleep apnea yang dirawat menggunakan CPAP (Continuous Positive Airway Pressure), mengalami penurunan tekanan darah yang signifikan. Semakin berat dengkuran, semakin parah sleep apnea yang diderita serta semakin baik penggunaan CPAP-nya, akan semakin baik pula tekanan darahnya.

Penelitian

Penelitian yang diterbitkan pada the Journal of Clinical Sleep Medicine bulan Agustus 2014, menunjukkan bahwa tingkat keparahan sleep apnea berhubungan erat dengan peningkatan tekanan darah yang sulit dikontrol.

Penderita hipertensi yang sudah mengonsumsi lebih dari 3 macam obat antihipertensi namun tekanan darahnya masih tetap sulit dikontrol. Hipertensi yang diderita seolah membandel. Kondisi yang sering disebut sebagai resistant hypertension ini berkaian erat dengan derajat keparahan sleep apnea.

Pada penelitian tersebut dibandingkan penderita sleep apnea sedang (AHI/henti nafas 15-30/jam) dengan yang berat (AHI/henti nafas >30/jam). Pada penderita sleep apnea berat kemungkinannya menderita hipertensi walau sudah minum lebih dari 3 macam obat antihipertensi adalah 95%.

Kesimpulan

Para ahli berpendapat penanganan hipertensi, terutama yang telah menjalani pengobatan yang agresif, harus menyertakan kemungkinan adanya sleep apnea/dengkuran. Artikel pada the Journal of American Medical Association di tahun 2013, tunjukkan bahwa perawatan sleep apnea dengan CPAP selama 12 minggu akan menurunkan tekanan darah rata-rata harian 3 mmHg. Walau tampak kecil, tapi 3 mmHg bermakna besar untuk menurunkan risiko penyakit-penyakit jantung dan pembuluh darah lainnya.

Ngorok Lebih Berbahaya Dibanding Merokok

Suara dengkur pasti mengganggu, tapi lebih dari itu ngorok sebenarnya adalah alarm tanda bahaya bagi kesehatan kita. Bahkan tim peneliti dari Detroit AS, nyatakan bahwa mendengkur lebih berbahaya dari merokok! Pendengkur mempunyai risiko lebih besar mengalami penebalan arteri karotis dibanding perokok, orang yang obese (gemuk) atau bahkan yang memiliki kadar kolesterol tinggi sekali pun.

Arteri karotis adalah pembuluh darah yang memberikan suplai ke daerah leher dan kepala, termasuk otak. Jika dinding pembuluh darah ini mengalami penebalan, bisa menjadi permulaan dari berbagai penyakit pembuluh darah lainnya.

Mendengkur dan Sleep Apnea

Mendengkur telah lama diketahui menjadi tanda dari henti nafas saat tidur atau sleep apnea. Henti nafas saat tidur terjadi akibat sempitnya saluran nafas, sehingga walau dada naik turun berusaha bernafas, tak ada udara yang dapat mengalir lewat. Akibatnya oksigen akan turun sepanjang malam. Para ahli sudah menyatakan bahwa sleep apnea merupakan penyebab utama hipertensi, penyakit jantung, diabetes, impotensi hingga stroke.

Sebenarnya sejak tahun 2003, dunia kedokteran modern sudah mengamini bahwa salah satu penyebab utama tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah sleep apnea. Ini tertuang dalam laporan dari the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure yang lebih dikenal sebagai JNC7.

Sementara berbagai jurnal penelitian kedokteran terus berkembang dan memuat tentang bagaimana sleep apnea menyebabkan berbagai penyakit fatal seperti penyakit jantung koroner, serangan jantung hingga stroke.

Penelitian

Namun penelitian ini menunjukkan bahwa jauh sebelum menjadi sleep apnea, suara dengkuran saja sudah merupakan tanda bahaya yang tak boleh diabaikan.

Para peneliti mengamati data 913 pasien yang telah diperiksa di klinik gangguan tidur antara Desember 2006 dan Januari 2012. Setelah diperiksa, dikumpulkan pasien yang mendengkur tapi tidak menderita sleep apnea.

Secara keseluruhan ada 54 orang pasien yang mendengkur yang dilakukan pengukuran ketebalan dinding arteri karotis dengan menggunakan ultrasound (USG). Ketebalan arteri karotis dapat digunakan untuk melihat perkembangan penyakit atherosklerosis (pengerasan pembuluh darah). Penebalan dinding arteri karotis merupakan tanda dari penyakit arteri karotis.

Hasilnya, pasien yang mendengkur memiliki arteri karotis yang lebih tebal dibanding yang tidak mendengkur. Para peneliti menduga getaran akibat ngoroklah yang menyebabkan trauma pada pembuluh darah hingga sebabkan peradangan dan pada akhirnya akibatkan penebalan pembuluh darah.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa secara statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada penebalan arteri karotis pada pasien dengan atau tanpa risiko-risiko penyakit jantung-pembuluh darah yang selama ini kita kenal. Faktor-faktor risiko itu antara lain adalah merokok, diabetes, tekanan darah tinggi atau kadar kolesterol yang tinggi.

Perawatan

Tahap pertama perawatan mendengkur adalah dengan mengenali adanya masalah. Keluarga dan kerabat harus meyakinkan penderita kalau ia mendengkur. Ya, pendengkur hanya tahu dirinya ngorok jika diberi tahu oleh orang lain.

Untuk perawatan medis, dimulai dengan pemeriksaan tidur untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan di laboratorium tidur tak ubahnya pemeriksaan fungsi jantung atau pernafasan saja, bedanya ia dilakukan saat tidur. Kenapa saat tidur? Karena gangguan nafasnya hanya terjadi pada saat tidur.

Setelah diagnosa ditemukan baru dokter akan menentukan perawatan yang sesuai untuk kondisi setiap pendengkur. Biasanya menggunakan CPAP, operasi atau oral appliances.

CPAP singkatan dari continuous positive airway pressure, berupa sebuah alat yang dihubungkan ke hidung lewat masker. Perawatannya amat nyaman karena memberikan kualitas tidur yang maksimal.

Dua penelitian berbeda di Australia dan Eropa tahun 2003 tunjukkan bahwa setelah mendengkur dirawat dengan CPAP risiko pasien untuk menderita penyakit jantung koroner turun hingga 37%, sementara risiko stroke turun 56%. Sementara penelitian tahun 2004 dan 2005 tunjukkan bagaimana penggunaan CPAP pada pendengkur dengan diabetes membantu tingkatkan sensitivitas insulin serta kontrol gula darahnya.

Dampak

Di AS diperkirakan 40% pria dan 24% wanita adalah pendengkur. Walau kita mempunyai data yang valid di Indonesia diperkirakan jumlah pendengkur tidak jauh berbeda. Bayangkan berapa banyak di antara kita yang mengalami bahaya setiap tidurnya.

Mendengkur selama ini dianggap sebagai suara yang mengganggu. Di lingkungan pergaulan ngorok selalu menjadi bahan lelucon. Bahkan pihak asuransi sering menganggap dengkuran sebagai suatu gangguan yang bersifat kosmetik dan tidak membahayakan.

Tetapi dengan banyaknya data penelitian yang terus bertambah, suara ngorok tak dapat lagi kita abaikan. Para ahli kesehatan sudah mulai melihat dengkuran sebagai salah satu faktor risiko penyakit yang sejajar posisinya dengan hipertensi atau peningkatan kadar kolesterol.

Akhir kata, jika Anda menemukan rekan atau kerabat yang mendengkur, peringatkan. Dengan demikian Anda telah menyelamatkan nyawanya.

Bahaya Mendengkur, TVOne

Bahaya Mendengkur, “Coffee Break” – TVOne, 15 Maret 2011

O Klinik, O Channel TV

Sabtu 5 Desember ’09 dan Senin 7 Desember ’09
di O Klinik, O Channel TV
“Gangguan Tidur yang Berbahaya.”