Tambah Waktu Tidur Turunkan Berat Badan Remaja

Ini adalah hasil temuan terbaru yang diungkapkan pada jurnal Pediatrics terbaru. Para peneliti dari the Perelman School of Medicine dari the University of Pennsylvania mengamati indeks massa tubuh dan pola tidur sekitar 1000 siswa usia 14-18 tahun.

Hasilnya, dengan menambahkan jam tidur angka penyandang obesitas pada remaja bisa diturunkan. Sebaliknya, semakin pendek durasi tidur, indeks massa tubuh juga jadi meningkat. Tim peneliti ini menemukan bahwa dengan menambah jam tidur hingga 10 jam perhari remaja dapat menurunkan berat badannya.

Penelitian ini juga cukup mengejutkan mengingat pandangan umum yang menyatakan bahwa kebutuhan tidur umumnya adalah 8 jam perharinya. Tetapi tidak demikian dengan kebutuhan tidur remaja. Remaja hingga dewasa muda butuh tidur 8,5-9,25 jam seharinya. Para ahli beranggapan durasi tidur hingga 10 jam pada penilitian ini adalah sebagai mekanisme bayar utang tidur.

Manfaat Tidur

Sebenarnya sudah banyak penelitian sebelumnya yang membuktikan manfaat tidur bagi kelangsingan tubuh. Tetapi penelitian ini merupakan yang pertama menyoroti obesitas dan durasi tidur pada remaja. Berkaca pada kondisi di Indonesia, dengan maraknya konsumsi makanan cepat saji dan minuman bersoda, obesitas pada remaja semakin sering ditemui.

Tetapi apakah kita hanya memerhatikan segi nutrisi saja? Dengan semakin banyaknya bukti tentang hubungan kesehatan tidur dan kegemukan, sudah selayaknya kita mulai lebih memerhatikan tidur.

Tidur bagi remaja sebenarnya sangat bermanfaat. Penelitian Mary Carskadon menunjukkan bagaimana penambahan durasi tidur pada siswa akan meningkatkan prestasi akademis, kemampuan fisik dan kesehatan. Durasi tidur yang cukup juga menurunkan angka sakit, absensi, keterlambatan dan kenakalan serta kekerasan di kalangan remaja. Sayang, gaya hidup 24 jam telah membawa mitos tentang produktivitas yang salah. Tidur dianggap kemalasan dan hidup produktif adalah dengan aktif sepanjang waktu dengan mengorbankan waktu tidur.

Sesungguhnya tidur bukanlah kemalasan. Kantuk menunjukkan kebutuhan tidur yang belum tercukupi. Segala kafein dan minuman penambah energi hanya menunda kantuk tanpa mengembalikan kemampuan otak yang terlanjur lelah. Kandungan gula, kafein dan berbagai zat perasa dalam minuman-minuman ini justru menambah risiko kegemukan.

Mengantuk dan Lapar

Tanda mengantuk adalah menguap, mata berair dan dorongan untuk memejamkan mata. tapi tak banyak orang yang tahu bahwa kurang konsentrasi, ceroboh dan mudah lupa juga merupakan tanda-tanda mengantuk. Nafsu makan yang tinggi juga sebenarnya tanda mengantuk.

Lihat saja diri kita sendiri, saat bergadang, bukankah dorongan untuk ngemil kuat sekali? Ini disebabkan saat kurang tidur dan mengantuk, pengeluaran hormon ghrelin ditingkatkan sedangkan leptin ditekan. Ghrelin adalah hormon yang tingkatkan nafsu makan, sedangkan leptin berperan sebagai penekan nafsu makan.

Untuk mekanisme yang masih belum dapat dijelaskan, orang yang mengantuk cenderung mencari makanan yang manis dan asin. Singkat kata, junk food! Sementara ini para ahli berpendapat ini berkaitan dengan mekanisme menjaga kecukupan energi. Saat lelah dan butuh energi, tubuh secara otomatis mencari sumber tenaga tambahan, yaitu gula dan mineral. Kita pun jadi cenderung memilih makanan yang enak-enak. (Andreas Prasadja/KW)

*dr. Andreas Prasadja, RPSGT, Sleep Physician yang saat ini bekerja di salah satu rumah sakit di Jakarta Pusat, adalah pewarta warga bisa dihubungi di akun twitternya @IDTidurSehat atau http://www.andreasprasadja.com