dr Andreas Prasadja, Spesialis Tukang Intip Orang Tidur

 

img
dr Ade (dok: facebook)

Sebagai satu-satunya praktisi kesehatan tidur di Indonesia, dr Andreas Prasadja RPSGT getol menyosialisasikan pentingnya tidur yang cukup dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Di laboratorium tidur tempatnya bekerja, pasien diperiksa saat tidur dan ia akan sabar mengamati pola tidur pasiennya.

Dokter yang menjuluki dirinya sebagai ‘tukang intip orang tidur’ ini akan melakukan segala cara agar pasiennya tidak stres saat diperiksa sehingga bisa terlelap saat diperiksa gangguan tidurnya.

Pasien yang diperiksa pola tidurnya ini, tubuhnya dipasangi kabel-kabel lalu dr Ade akan memantaunya dari komputer. Dalam kondisi khusus tak jarang alat-alat yang dimiliknya (polisomnigrafi/PSG) dibawa ke rumah pasien.

Gangguan tidur menurut dr Ade adalah hal yang serius sayangnya banyak orang mengabaikannya. Gangguan tidur bisa membuat fungsi tubuh tidak maksimal, makanya ia prihatin melihat pejabat-pejabat yang tertidur saat bekerja.

Jika seorang pemimpin punya masalah tidur baik ngorok maupun ngantukan, maka sedikit banyak kesehatannya akan terpengaruh. Dampaknya antara lain konsentrasi menurun, kemampuan menganalisisi masalah berkurang dan area emosionalnya terganggu sehingga gampang tersinggung saat menerima kritik.

Dalam jangka panjang, kualitas tidur yang buruk juga memicu komplikasi yang lebih serius misalnya diabetes dan gangguan jantung sehingga biaya kesehatannya akan membengkak. Dalam waktu 2 tahun saja, biaya kesehatan seseorang bisa naik 10 kali lipat jika tidurnya tidak berkualitas.

“Saya pernah melakukan kampanye kecil-kecilan, pesannya jangan pernah memilih calon pemimpin yang ngorok,” tegas seorang praktisi kesehatan tidur dari RS Mitra Kemayoran, dr Andreas Prasadja, RPSGT atau biasa dipanggil dr Ade saat berbincang via telepon dengan detikHealth, Rabu (27/7/2011).

Sesuai bidang keahliannya, suami dari Kristanti Madona Gunadi ini memang getol menyosialisasikan pentingnya tidur yang cukup dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Selain dengan menjadi pembicara dalam berbagai talkshow di TV dan radio, dr Ade juga gemar berbagi ilmu di internet termasuk melalui blog dan jejaring sosial.

Ayah dari 2 anak yang masing-masing berusia 2 dan 6 tahun ini tak pernah merasa terganggu meski akun twitternya sering dibanjiri pertanyaan seputar gangguan tidur. Hanya saja untuk memisahkan urusan pribadinya yang penuh canda dengan urusan keilmuannya yang lebih serius, belakangan dr Ade merasa perlu untuk memiliki 2 akun twitter.

“Dengan mem-follow @IDTidurSehat Anda dpt tahu mitos & fakta seputar tidur. Boleh juga unfollow akun ini agar saya bebas omong jorok. Hihihi,” tulis dr Ade di akun @prasadja yang merupakan akun pribadinya, sebagai imbauan agar pertanyaan seputar gangguan tidur disampaikan di akun barunya yakni @IDTidurSehat.

Dengan gaya humoris dan penuh canda, dr Ade terlihat ramah saat berinteraksi dengan siapapun termasuk pasien. Demikian juga di laboratorium tidur tempatnya bekerja, dr Ade ini akan melakukan segala cara agar pasiennya tidak stres sehingga bisa terlelap saat diperiksa gangguan tidurnya.

Bahkan saat menyindir pola tidur wartawan yang umumnya sering bergadang hingga larut malam, ia mampu menyampaikannya dengan candaan menggelitik. Menurutnya, hal yang paling menyebalkan saat menghadapi pasien adalah jika pasien tersebut seorang pekerja media.

“Kalau pasien susah tidur, saya pasti bisa bantu. Kalau bisa tidur tapi tidak berkualitas, itu saya juga bisa bantu. Tapi kalau memang tidak sempat tidur, saya bisa apa coba?” ledeknya sambil tertawa kecil.

Komentar dr Ade tidak mengada-ada, sebab ia sendiri mengaku pernah menangani pasien yang bekerja sebagai pemred (pemimpin redaksi) sebuah media massa ternama dan merasakan sendiri tantangannya. Lucunya setelah sembuh, si pemred tersebut jadi sangat toleran dan tidak pernah marah jika ada anak buahnya yang tertidur di kantor dengan pertimbangan jika dipaksakan maka kinerjanya tidak akan optimal.

Di Indonesia, ilmu kedokteran yang mempelajari kesehatan tidur masih terbilang baru sehingga wajar jika ngorok dan gangguan tidur lainnya masih sering terabaikan. Kelak jika semua orang sudah mulai peduli terhadap kesehatan tidur, dr Ade berharap agar calon pemimpin bangsa juga diwajibkan lulus Tes Ngorok.

BIODATA

Nama lengkap:
dr Andreas Prasadja, RPSGT (Registered Polysomnographic Technologist atau Praktisi Kesehatan Tidur)

Nama panggilan:
dr Ade

Tempat dan tanggal lahir:
Jakarta, 16 Mei 1975

Status perkawinan:
Menikah dengan Kristanti Madona Gunadi
Dikaruniai 2 anak, Chiara Monica Prasojo (6 tahun) dan Patricius Kiano Prasojo (1,5 tahun)

Hobi:
Bersepeda (aktivis bike to work) dan memasak

Riwayat Pendidikan:
Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya (1993-2000)
Polysomnography Course and Sleep Medicine Review, Singapore (September 2005)
Sleep Medicine and Technology Course, The University of Sidney Australia (November 2005)
Registered Polysomnographic Technologist, American Academy Of Sleep Medicine.

Riwayat Pekerjaan:
Dokter umum di Klinik Pandawa, Jakarta (2002)
Dokter jaga di RS Mitra Kemayoran, Jakarta (2003-2005)
Praktisi kesehatan tidur di Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran, Jakarta (2005-sekarang).

(up/ir)

link: http://www.detikhealth.com/read/2011/07/27/100459/1690287/1201/dr-andreas-prasadja-spesialis-tukang-intip-orang-tidur

Tak Sengaja Jadi Dokter Tidur

Sosok dan Sketsa

9 Pertanyaan untuk Andreas A Prasadja: Tak Sengaja Jadi Dokter Tidur
Jurnal Nasional, Kamis, 22 Nov 2007

BELAKANGAN ini makin banyak rumah sakit yang mendirikan laboratorium tidur atau sleep laboratory. Namun, tidak banyak orang yang tahu bahwa RS Mitra Kemayoran adalah yang mengawalinya. Dan adalah Dr Andreas A Prasadja yang dengan berani menerima tantangan untuk mempelajari secara mendalam hal yang sering disepelekan banyak orang, yakni tidur.

Dari apa yang dipelajarinya, Sleep Technologistkecemplung-nya sebagai sebuah kesadaran bahwa tidur diciptakan Tuhan karena memegang peranan penting bagi mental, kognitif, dan emosional seseorang. (teknolog tidur) ini disadarkan bahwa sepertiga hidup manusia diisi dengan tidur. Inilah yang kemudian menyeret proses

Berikut petikan wawancara Jurnal Nasional dengan dokter yang tidak mau disebut sebagai dokter tidur pertama di Indonesia ini.

1. Bagaimana awal Anda mempelajari seluk-beluk tidur?

Awalnya kecemplung ha ha ha. Saya bisa mempelajari masalah gangguan tidur karena memang dari awal sudah bekerja di RS Mitra Kemayoran sebagai dokter umum. Dan kemudian saya mendengar kalau rumah sakit ini akan membuat sleep laboratory. Dalam hati saya mengatakan, ‘apaan nih’ dan saya pun tidak menaruh perhatian lebih terhadap itu. Sampai suatu saat the owner of the hospital over me to study, ya kenapa tidak. Saat itu saya baru ambil course-nya saja di Singapura. Tapi, mata saya langsung terbuka bahwa yang dipelajari dokter tidur itu ternyata luas sekali. Akhirnya saya yang meminta untuk disekolahkan kembali dan mendapatkan sertifikasinya, waktu itu saya belajar di Sydney University, Australia.

Saya belajar langsung dari Prof Collin Sullivan yang menemukan alat Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) untuk masalah sleep apnea. Rasanya luar biasa, yang pasti pada awalnya saya tidak tau kalau beliau itu penemunya ha ha ha. Sadarnya, setelah banyak orang membicarakan mengenai latar belakang dia dan membaca langsung penelitiannya.

2. Mengapa Anda yang dipilih untuk belajar tersebut?

Jujur sampai saat ini saya tidak tahu, mungkin karena saya dilihat orangnya nekatan. Dan dulu dianggap Bahasa Inggrisnya yang paling bagus, padahal modal saya hanya jeblak doang ha ha ha. Tapi, pada intinya proses itu berangkat dari visi rumah sakit yang ingin menjadi rumah sakit yang terlengkap. Dan kami juga melihat bahwa kedokteran tidur di luar negeri sangat maju sekali, bahkan di Singapura atau Malaysia sekali pun. Di Asia Tenggara, Indonesia-lah yang paling tertinggal untuk kedokteran tidur. Karena kita baru memulainya belakangan ini saja dan di Indonesia rumah sakit inilah yang pertama kali berani mendirikan sleep laboratory.

Sebagai perbandingan, di Australia, hampir setiap enam kilometer ada sleep clinic. Rumah sakit besar, sleep laboratory-nya minimum terdiri atas empat tidur. Sedangkan kita baru satu tempat tidur. Dan di sana, pasien yang ingin memeriksakan dirinya atau melakukan sleep study itu waiting list lebih dari satu bulan. Bahkan, ada beberapa sleep laboratorium yang ternama, kalau ingin diperiksa harus mengantre sampai enam bulan. Karena mereka sudah aware dengan kesehatan tidur, sedangkan kita bisa dibilang tidak masuk hitungan sama sekali.

3. Seberapa penting tidur itu bagi kesehatan?

Kalau mengambil pemikiran Prof William C Dement, the father of sleep medicine, ada tiga komponen penting untuk kesehatan. Pertama, physical fitness. Kedua, keseimbangan nutrisi, dan terakhir adalah tidur. Tapi, tidur sering diremehkan banyak orang bahkan oleh kalangan medis sekalipun. Karena the practice of the medicine stop when the patient sleep. Itu mengapa dulu pasien hipertensi ditangani dengan koridor pikiran bahwa pasien makan apa dan bagaimana kegiatan olahraganya. Yang dilihat hanya diet and physical fitness, sehingga tidak pernah mempertimbangkan tidurnya. Padahal, contoh satu gangguan tidur saja, sleep apnea, dapat menyebabkan hipertensi. Perlahan-lahan ilmu gangguan tidur semakin berkembang sehingga di luar negeri pemeriksaan tidur sama umumnya seperti pemeriksaan darah, roentgen, bahkan menjadi basic diagnostic.

4. Apa yang menarik ketika Anda mempelajari tidur?

Ternyata sepertiga dari hidup kita itu adalah tidur. Artinya, tidur itu sangat penting manfaatnya bagi kehidupan. Karena kalau tidak penting atau terjadi tanpa maksud apa-apa, maka it would be the biggest mistake that God made. Jadi, tidur itu sangat penting sekali karena sepertiga hidup kita diisi dengan tidur.

Tidur menjadi penting karena ketika tidur REM (rapid eye movement atau fase mimpi-Red) dipercaya meningkatkan kemampuan mental, kognitif, dan emosional. Ini artinya tidur membentuk kesehatan tubuh secara keseluruhan. Sebenarnya pada tahap tidur REM, otak itu amat aktif karena gelombang otaknya sama seperti ketika kita sadar. Termasuk signal-signal yang dikirimkan ke anggota gerak tubuh seperti tangan dan kaki. Hanya saja pada tahap itu juga ada mekanisme pengaman yang memotong sinyal sehingga otot-otot besar lumpuh, maka ketika tidur kita tidak gerak-gerak seperti ketika sadar. Itulah mengapa orang yang kurang tidur sebenarnya kurang memaksimalkan memorizing otaknya.

5. Banyak rumah sakit yang kini mendirikan laboratorium tidur, apakah ini memang trend?

Sebenarnya trend ini sudah telat sekali, karena kami sudah menyadarinya sejak tahun 2001. Kami sering melihat apa yang sedang trend di luar negeri, lalu kami implementasikan di Indonesia. Di Amerika Serikat laboratorium tidur berkembang pesat karena alasan asuransi. Contohnya, pasien sleep apnea yang tidak terdiagnosis dan tidak dirawat akan memerlukan kunjungan ke fasilitas kesehatan 10 kali lebih sering dibanding pasien sleep apnea yang dirawat. Maka, menurut asuransi di sana, lebih murah biaya klaimnya apabila dilakukan pemeriksaan tidur. Itulah mengapa di luar negeri pemeriksaan tidur sama umumnya seperti pemeriksaan darah, roentgen, bahkan menjadi basic diagnostic.

Keprihatinan saya sekarang ini, munculnya laboratorium tidur yang tidak disertai peralatan lengkap, sehingga tidak memenuhi sebuah syarat laboratorium. Ada beberapa yang alat laboratorium tidurnya sebenarnya diperuntukan untuk screening saja bukan diagnosis, jadi sayang sekali. Tapi, makin bermunculannya laboratorium tidur harus disemangati juga. Artinya kan makin banyak orang yang sehat. Karena penyebaran seputar tidur akan semakin gencar dan menciptakan awarness di masyarakat.

6. Boleh dibilang Anda adalah dokter ahli tidur pertama di Indonesia?

Jangan dibilang begitu, saya lebih suka disebut sebagai sleep technologist. Di samping itu, perkembangan ilmu mengenai tidur juga masih terbilang baru di Indonesia, sehingga belum banyak yang mengetahui bahwa dunia kedokteran mengenal sleep specialist. Di Amerika sejak tahun kemarin sudah ada sleep phisician. Tapi, ya biarkanlah prosesnya berlangsung untuk mengembangkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya tidur.

7. Seandainya tidur dimasukkan ke kurikulum sekolah kedokteran?

Itu bagus sekali, karena dulu waktu kuliah saya hanya belajar mengenai tidur selama dua jam. Padahal, sekolah kedokteran empat tahun dan prakteknya dua tahun, tapi masalah tidur hanya dapat porsi dua jam. Ketika itu yang dibahas juga hanya mekanisme dan manfaat tidur. Makanya saya selalu senang ketika diundang menjadi pembicara di fakultas kedokteran untuk berbicara secara klinis mengenai tidur. Tapi, saya lebih suka membuka sekolah mengenai kesehatan tidur dan mempersiapkan tenaga-tenaga kesehatan yang bisa mengoperasikan laboratorium tidur. Saya pribadi sudah punya ancang-ancang kurikulum untuk sekolah ini. Tapi, kan modalnya besar sekali karena alat-alat pendukungnya pun mahal sekali.

8. Anda sendiri dan keluarga menerapkan tidur yang cukup?

Iya, karena sudah mengetahui pentingnya. Khususnya anak saya karena saya berkeyakinan tidur akan bermafaat bagi perkembangan otak dia. Banyak orang tua yang mendidik anak pra sekolah untuk melatih bangun pagi agar terbiasa pada saat sekolah nanti. Kalau saya, justru saya biarkan tidur karena saya tahu tidur lebih penting. Urusan nanti masuk sekolah pagi ya disiasati pada waktunya saja.

9. Anda memeriksa pasien saat dia tidur, berarti tidak perlu stetoskop dong?

Tak pernah pakai lagi, malah sekarang lebih sering pakai mouse. Karena, di laboratorium tidur, pasien dipasangi sensor yang kemudian dihubungkan ke komputer untuk direkam. Kemudian pada pagi hari saya baca statistiknya. Walaupun memang pada beberapa kasus saya ikut nungguin selama pasien tidur.

Ada kepuasan tersendiri karena saya pernah menangani pasien yang tidak boleh mengoperasikan alat-alat berat oleh perusahaannya karena dianggap mudah tertidur. Dan setelah diperiksa, ternyata dia mengalami sleep apnea yang setelah dirawat hampir enam bulan dia bisa beraktivitas lagi. Ini kan sangat membantu dia karena produktivitasnya naik lagi dan dia tidak jadi dipecat.

Siagian Priska Cesillia