Kita Tak Perlu Stimulan Sepanjang Waktu!!!

Sebuah berita di Kompas.com November 2008 lalu menceritakan meningkatnya penderita payah ginjal kronik di usia muda (20-40 th.) Dalam artikel tersebut, dikatakan bahwa peningkatan ini diduga kuat akibat konsumsi rutin serbuk atau minuman penambah stamina, hingga zat kimia tak tercerna menumpuk di ginjal. Akibatnya ginjal jadi rusak dan si penderita membutuhkan proses cuci darah secara rutin.

Sedih sekali membaca artikel seperti ini. Manusia Indonesia, terutama di usia produktif, dituntut untuk selalu cepat, cerdas dan tepat. Tak heran jika banyak orang muda yang atas nama produktifitas ingin selalu tampil penuh vitalitas, akhirnya memilih untuk mengkonsumsi stimulan. Pola konsumsi ini diperburuk dengan peran media yang mempromosikan berbagai minuman stimulan yang menjanjikan kemampuan kerja baik fisik maupun mental secara artifisial, tanpa memberi peringatan pada konsumennya.

Vitalitas

Sepanjang sejarah peradaban, manusia ingin selalu merasa segar dan penuh vitalitas seperti saat bangun tidur. Untuk itu dicarilah berbagai zat stimulan yang dapat memacu stamina. Mulai dari coklat, kopi hingga koka, semua ditujukan untuk meningkatkan vitalitas. Namun, hingga di era pengobatan modern, manusia masih belum dapat menemukan satu zat pun yang bisa memberi efek menyegarkan seperti saat bangun tidur. Minuman stimulan yang ada saat ini, hanya dapat menghilangkan kantuk dan memacu semangat tanpa benar-benar meningkatkan kemampuan mental seseorang. Itu sebabnya beberapa ahli tidak setuju dengan istilah stimulan, mereka lebih nyaman dengan menyebut zat-zat tersebut sebagai hipnolitik (menghilangkan kantuk.)

Produktifitas

Di era penuh persaingan, tidur dianggap sebagai suatu proses yang membuang-buang waktu. Padahal kita menghabiskan 1/3 hidup kita untuk tidur. Jika tidur tidak bermanfaat, pasti kemampuan Sang Pencipta patut dipertanyakan.

Kemampuan mental dan kognitif seseorang diperbarui selama tidur. Begitu pula dengan kondisi emosional. Di era penuh persaingan, bukan hanya kecerdasan, kecepatan dan ketepatan seseorang yang menentukan. Tetapi diperlukan juga motivasi serta kemampuan untuk mengambil keputusan dengan tenang dan dingin. Untuk itu diperlukan kondisi emosional yang sehat. Apalagi kemampuan seseorang menghadapi krisis. Jika seseorang berada dalam kondisi emosional yang “kacau balau,” bukankah ia lebih mudah terserang stress.?

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh National Sleep Foundation pada remaja di Amerika menunjukkan bahwa mereka yang mencukupi kebutuhan tidurnya tidak saja memiliki prestasi akademis dan olah raga yang gemilang, tetapi kelompok ini juga cenderung lebih bahagia dan terhindar dari berbagai kenakalan remaja.

Orang yang sedang dalam kondisi kurang tidur, sering salah mengambil keputusan akibat status emosi yang meletup-letup. Kemampuan untuk melihat permasalahan akan menurun apalagi untuk memecahkannya.

Kesehatan Tidur

Untuk mendapatkan produktifitas yang tinggi, perhatikanlah jam biologis Anda. Dalam tubuh ada jam biologis yang berdetak membuat seseorang penuh vitalitas pada jam-jam tertentu dan mengantuk pada jam lainnya. Susun jadwal berdasarkan jam biologis tersebut.

Misalkan di pagi hari Anda merasa segar bugar, jadwalkan aktivitas pagi untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan penting yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Jika pada tengah hari anda biasanya sudah merasa penat dan sulit berkonsentrasi, manfaatkan waktu dengan pekerjaan yang lebih menuntut aktivitas fisik. Jika tidak memungkinkan, luangkan waktu sejenak untuk melakukan peregangan atau cobalah berolah raga sedikit. Sekedar naik turun tangga beberapa saat sudah dapat meningkatkan adrenaline hingga memacu semangat.

Di sore hari, saat Anda sudah amat lelah. Hindari konsumsi stimulan, sebab ini dapat mengganggu pola istirahat Anda di malam hari. Buat juga jadwal dimana Anda menghentikan semua pekerjaan, untuk memberikan kesempatan pada tubuh, pikiran dan emosi meredakan ketegangannya. Jika Anda merasa amat mengantuk di sore hari, jangan tidur dulu. Ini dapat menghilangkan hutang tidur yang kita butuhkan untuk terlelap di malam nanti.

Di malam hari, tidurlah dengan teratur sesuai dengan kebutuhan jam biologis. Pertimbangkan jam berapa Anda akan bangun pagi. Sesuaikan dengan jadwal biologis Anda. Misalkan ada beberapa orang dewasa muda yang memang baru mengantuk di tengah malam. Kalau memang begitu jangan memaksakan diri untuk tidur pukul 21.00. Jika Anda tidak dapat memenuhi kebutuhan tidur harian, pertimbangkan untuk membayar utang tidur di akhir pekan.

Ada kalanya, kita membutuhkan asupan stimulan. Misalkan akan mengendara jarak jauh, menghadiri berbagai rapat seharian atau mengerjakan proyek penting yang sudah jatuh tenggat waktu. Aturlah konsumsinya agar tidak mengganggu proses tidur dimalam harinya. Ingat, kafein misalnya, akan berpengaruh selama 9-15 jam di dalam tubuh. Tentu saja harus dibarengi dengan mencukupi kebutuhan tidur sebgai persiapan.

Sekedar peringatan, jika Anda merasa sudah cukup tidur namun masih merasa capek, lelah, mengantuk, serta sulit berkonsentrasi di siang hari, mungkin Anda menderita gangguan tidur. Ini saatnya Anda memeriksakan diri ke dokter. Ingat, gangguan tidur bukan insomnia semata. Ada beberapa gangguan tidur lain yang justru memberikan gejala berupa rasa kantuk berlebih, walaupun sudah cukup tidur. Gejala ini disebut hipersomnia. Beberapa gangguan tidur dengan gejala hipersomnia antara lain sindroma tungkai gelisah, narkolepsi dan sleep apnea (mendengkur.)

Akhir kata, Anda tidak memerlukan zat stimulan secara rutin. Ada masa-masanya ketika Anda membutuhkan stimulan. Sedangkan untuk menjaga produktivitas setiap harinya, tidurlah dengan sehat!

Berita kompas: http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/17/00592499/usia.muda.makin.rentan.gagal.ginjal

Kafein, dan Masyarakat Pecandu Stimulan

Masyarakat kita adalah masyarakat pecandu stimulan. Lihat saja, betapa mudah kita menemukan dan menikmatinya setiap hari. Anda tahu stimulan apa? Kopi.

Alkisah, seorang penggembala Ethiopia bernama Kaldi melihat salah satu kambing gembalaannya mempunyai vitalitas luar biasa setelah mengunyah biji-bijian berwarna merah. Kambing itu seolah menari-nari dari satu tanaman kopi ke tenaman kopi yang lain, sehingga kisah ini juga dikenal sebagai kisah “Kambing yang Menari.” Sejak saat itu pula kopi mulai digunakan sebagai stimulan pembangkit semangat dan mempertahankan vitalitas. Para pejuang Ethiopia dikenal dengan kebiasaan mereka mengunyah biji kopi yang telah digiling dan dicampur dengan lemak sebagai bekal perjalanan jauh ataupun untuk meningkatkan semangat dalam berperang.

Maka kopi pun mulai dikenal di benua Afrika. Pada perkembangan selanjutnya, kopi mulai dinikmati sebagai minuman di dunia Islam. Bahkan kaum Sufi amat menyukai minuman ini karena efeknya yang menunda kantuk. Bersamaan dengan penyebaran Islam ke seluruh Asia, kopi pun ikut menyebar dan menjadi minuman populer di kalangan bangsawan muslim. Sementara ke belahan Barat, kopi turut dibawa dalam proses kolonialisme. Orang Barat menamai minuman ini dengan sebutan “Arabian Wine.”

Kafein

Kopi mendapatkan popularitas karena efeknya yang menunda kantuk, memberikan rasa senang dan bersemangat serta membangkitkan vitalitas peminumnya. Ini disebabkan oleh efek kafein pada Reticular Ascending System dan reseptor adenosin. Adenosin adalah zat yang menyebabkan kantuk. Dengan memblokir reseptornya, tubuh tidak bisa membaca adanya adenosin sehingga mengahalangi kantuk.

Kadar kafein mencapai puncaknya dalam 30-60 menit setelah dikonsumsi. Kadarnya akan tetap tinggi dalam darah selama 3 hingga 5 jam. Dosis setara dengan secangkir kopi (30-150mg) yang dikonsumsi sebelum tidur dapat memperpanjang waktu yang diperlukan untuk tidur dan juga mengganggu proses tidur itu sendiri. Gangguan proses tidur akibat kafein adalah buruknya kualitas tidur akibat tahapan tidur dalam (stage N3 sleep) yang memendek. Padahal tahap tidur dalam, sering juga disebut restorative sleep, adalah tahapan tidur penting dimana tubuh mengeluarkan hormon pertumbuhan yang berfungsi dalam perbaikan sel-sel tubuh yang rusak. Pada beberapa orang yang sensitif terhadap kafein, dengan konsumsi kopi di pagi hari sudah dapat mengganggu proses tidur di malam harinya.

Kafein dosis tinggi (> 6 cangkir kopi) dalam sehari dapat memperlambat metabolisme kopi sehingga kadarnya tetap tinggi di otak selama 9 hingga 15 jam. Sementara dengan dosis luar biasa, 100 cangkir (10 gram) sehari dapat menyebabkan kematian.

Efek samping dari kafein dosis tinggi antara lain:
• Kecemasan yang berkepanjangan.
• Sulit berkonsentrasi.
• Ketegangan otot.
• Peningkatan frekwensi berkemih (kencing.)
• Agitasi, terlalu bersemangat hingga serangan panik.
• Rasa pusing, kejang dan vertigo.
• Suhu tubuh meningkat.
• Disorientasi hingga paranoia.
• Jantung berdebar-debar.
• Mual
• Sulit tidur.

Efek Kafein

Efeknya pada kesehatan masihlah kontroversial, namun demikian kafein dapat juga digunakan untuk menangani kasus-kasus hipersomnia dimana penderitanya merasakan kantuk berlebih di siang hari. Namun demikian perlu ditekankan bahwa penggunaan kafein pada hipersomnia hanyalah perawatan simptomatis yang mengurangi gejala kantuk. Diperlukan pemeriksaan dan perawatan menyeluruh untuk mengatasi penyakit yang sebenarnya. Perawatan yang biasanya dilakukan di Sleep Disorder Clinic, diawali dengan pemeriksaan laboratorium tidur untuk mendeteksi gangguan yang diderita, lalu dilanjutkan dengan perawatan. Gangguan tidur yang dapat menyebabkan hipersomnia adalah sindroma tungkai gelisah, sleep apnea (mendengkur) dan narkolepsi.

Efek stimulan kafein memang tidak sekuat kokain maupun amphetamine (pil ekstasi,) namun ia tetap dapat menimbulkan ketergantungan. Penghentian konsumsi kafein secara mendadak akan membangkitkan efek kecanduan seperti rasa sakit kepala, vitalitas yang menurun, kantuk amat sangat serta depresi.

Konsumsi kopi untuk menahan kantuk saat bekerja pun tidak dianjurkan. Apalagi jika pekerjaan tersebut melibatkan pengoperasian alat berat atau mengendara. Karena kafein terbukti menghambat kantuk dan membuat orang merasa segar kembali, tetapi kemampuan mental serta refleks menjadi terganggu. Pekerja shift malam lebih banyak mengonsumsi kopi dibandingkan dengan pekerja biasa. Tetapi resiko untuk mengalami kecelakaan lalu lintas maupun di tempat kerja tidaklah berkurang. Sebuah penelitian lain yang dilakukan pada anggota Navy Seals Amerika menunjukkan bahwa konsumsi kafein setelah mengalami kondisi kurang tidur akan meningkatkan vitalitas dan kewaspadaan seseorang. Tetapi kemampuannya untuk menembak dengan tepat berkurang jauh.

Para pelajar yang suka mengonsumsi kopi untuk menahan kantuk juga perlu memperhatikan efek-efek tadi. Malam menjelang ujian, biasa diisi dengan belajar dan menghapal. Untuk memperpanjang waktu belajar, kopi pun diminum. Akibatnya walaupun kantuk hilang dan otak terasa segar, kemampuan untuk belajar sudah menurun. Dipagi hari dengan bermodalkan secangkir kopi lagi, ujian pun dijalani. Kemampuan otak untuk mengingat kembali hapalan biasanya tidak terganggu, tetapi kemampuan untuk memproses data hapalan secara kreatif jelas menurun. Akibatnya banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan baik. Apalagi ketika efek kafein mulai meninggalkan tubuh di siang harinya. Seluruh badan terasa tidak karuan, mata pun tak kuasa menahan kantuk. Ini disebabkan oleh hutang tidur yang menagih. Dengan demikian, jelas bahwa kafein tidak dapat menggantikan tidur.

Bagaimana dengan pengendara jarak jauh? Mengendara dengan kantuk, justru lebih berbahaya dibanding mengendara dalam kondisi mabuk. Kafein memang dapat menahan kantuk, namun tidak ada yang dapat mengembalikan kemampuan mental dan refleks mengendara, sebaik tidur. Untuk itu, jika Anda mengantuk saat mengendara, jalan terbaik adalah menghentikan kendaraan dan tidur sejenak selama 15-30 menit. Setelah bangun, barulah konsumsi kafein dan lanjutkanlah perjalanan.

Konsumsi Kafein

Kafein dapat dengan mudah didapatkan di masyarakat kita. Dengan mudah kita dapat menemukan gerai, cafe hingga warung yang menyajikan kopi. Bahkan secara sosial, kopi sudah dianggap sebagai minuman wajib dalam pergaulan. Tetapi kafein tidak hanya terdapat dalam kopi saja. Penganan modern banyak yang mengandung kafein tanpa kita sadari. Mereka adalah:
• Coklat
• Teh
• Minuman Kola (coca cola, dulu berisi kokain.)
• Beberapa jamu dan obat cina.
• Beberapa obat-obatan (obat flu atau penghilang sakit.)
• Obat pembangkit semangat.
• Minuman berenergi.

Kafein memang menyenangkan, tetapi bukannya tanpa efek samping. Sebab itu konsumsi kafein sebaiknya disertai dengan pengetahuan akan efek kafein terhadap tidur dan kesehatan secara umum sehingga konsumsinya dapat dijadwalkan dengan baik. Sebagai salah satu bahan stimulan, kafein juga tidak lepas dari efek adiksi (kecanduan.) Di kalangan kesehatan bahkan terdapat sebuah anekdot yang mengatakan, jika saja kafein baru ditemukan di masa ini badan FDA Amerika (POM di Indonesia,) pasti tidak akan meluluskannya sebagai bahan yang aman dikonsumsi.

Kopi, tidak sepenuhnya berefek buruk. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan efek yang positif bagi kesehatan seperti menurunkan resiko terserang kanker maupun gangguan jantung. Namun yang harus diperhatikan adalah waktu menikmatinya. Misalkan sepanjang hari butuh kafein agar dapat tetap bekerja dan tidak mengantuk, tentu ini menunjukkan adanya gangguan tidur yang harus diatasi. Mengingat daya kerja kafein yang mencapai belasan jam, tentu disarankan untuk hanya menikmati aroma kafein di pagi hari, bukan di sore hari.