Sering Mengantuk

Ketika mendengar ‘gangguan tidur’ yang terlintas dipikiran kita adalah sulit tidur atau insomnia. Tetapi kini, para ahli kesehatan menekankan bahwa dalam melihat gangguan tidur, kita harus melihat efeknya di siang hari. Artinya sulit tidur baru bermakna insomnia bila disertai gangguan di siang harinya. Misalkan rasa lemas, pusing, emosional dan sebagainya.

Sementara bila seseorang sudah cukup tidur namun masih merasa tak segar ketika bangun dan terus mengantuk di siang hari, ini berarti ia mengalami gejala ‘kantuk berlebih’. Kantuk berlebih atau hipersomnia sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari, tetapi kita tak tahu apa itu.

selalu mengantuk

Hipersomnia juga dikenal sebagai Excessive Daytime Sleepiness (EDS). Tidak sama dengan kelebihan tidur atau oversleeping. Sejujurnya kedokteran tidur tidak mengenal tidur berlebihan, karena yang ada adalah sering mengantuk sehingga terkesan tidur terus menerus.

Hipersomnia sendiri bukanlah suatu penyakit. Ia barulah gejala yang mengarah pada beberapa gangguan tidur. Sama seperti demam. Demam barulah gejala, penyakitnya nanti bisa flu, demam tifoid atau DBD.

Untuk itu baik kiranya jika kita juga mengenali gangguan tidur apa saja yang mempunyai gejala sering mengantuk atau hipersomnia.

Narkolepsi

Narkolepsi dalam bahasa awam, bisa dikatakan sebagai serangan tidur, dimana penderitanya amat sulit mempertahankan keadaan sadar. Hampir sepanjang waktu ia mengantuk. Rasa kantuk biasanya hilang setelah tidur selama 15 menit, tetapi dalam waktu singkat kantuk sudah menyerang kembali. Sebaliknya di malam hari, banyak penderita narkolepsi yang mengeluh tidak dapat tidur.

Gangguan terjadi pada mekanisme pengaturan tidur. Tidur, berdasarkan gelombang otak, terbagi dalam tahapan-tahapan mulai dari tahap N1,N 2, N3 dan R atau Rapid Eye Movement (REM). Tidur R adalah tahapan dimana kita bermimpi. Pada penderita narkolepsi gelombang REM seolah menyusup ke gelombang sadar. Akibatnya kantuk terus menyerang, dan otak seolah bermimpi dalam keadaan sadar.

Untuk mengenali penderita narkolepsi, terdapat 4 gejala klasik (classic tetrad):

  1. Rasa kantuk berlebihan (EDS)
  2. Katapleksi (cataplexy)
  3. Sleep paralysis
  4. Hypnagogic/hypnopompic hallucination.

Katapleksi merupakan gejala khas narkolepsi yang ditandai dengan melemasnya otot secara mendadak. Otot yang melemas bisa beberapa otot saja sehingga kepala terjatuh, mulut membuka, menjatuhkan barang-barang, atau bisa juga keseluruhan otot tubuh. Keadaan ini dipicu oleh lonjakan emosi, baik itu rasa sedih maupun gembira. Biasanya emosi positif lebih memicu katapleksi dibanding emosi negatif. Pada sebuah penelitian penderita narkolepsi diajak menonton film komedi, dan saat ia terpingkal-pingkal tiba-tiba ia terjatuh lemas seolah tak ada tulang yang menyangga tubuhnya.

Kondisi mimpi yang menyusup ke alam sadar bermanifestasi sebagai halusinasi. Penderita narkolepsi biasanya berhalusinasi seolah melihat orang lain di dalam ruangan. Orang lain tersebut bisa orang yang dikenal, teman, keluarga, sekedar bayangan, hantu atau bahkan makhluk asing, tergantung pada latar belakang budaya penderita.

Dengan gejala-gejala yang tidak biasa ini, tidak jarang keluarga menganggap penderita narkolepsi mengidap gangguan jiwa.

Sindroma Tungkai Gelisah

Sindroma tungkai gelisah, Restless Legs Syndrome (RLS) adalah rasa tidak nyaman pada kaki yang dirasakan saat duduk atau berbaring diam untuk waktu yang lama. Rasa tidak nyaman yang sulit digambarkan dengan kata-kata ini hanya dapat dihilangkan dengan cara digerak-gerakkan atau dengan pijatan. Rasa tidak nyaman digambarkan sebagai rasa kesemutan, pegal, sakit atau rasa ada sesuatu yang merambat di dalam.

Gangguan syaraf ini meyulitkan penderitanya untuk jatuh tidur. Sedangkan di saat tidur, otak berulang kali terbangun (micro arousal) akibat kaki yang bergerak-gerak secara periodik tanpa disadari. Sehingga proses tidur pun jadi terpotong-potong. Tidak heran jika salah satu gejala khasnya adalah rasa hipersomnia.

Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Henti nafas sewaktu tidur merupakan penemuan terpenting dari dunia kedokteran tidur yang disebabkan oleh menyempitnya saluran nafas atas. Dalam keadaan tidur, saluran nafas melemas sehingga menyebabkan penyempitan. Akibatnya walaupun dada dan perut berusaha menarik nafas, tidak ada udara yang dapat lewat.

Ciri utama dari OSA adalah kebiasaan tidur mendengkur dan adanya rasa kantuk berlebih di siang hari. Gejala lainnya berupa sering terbangun untuk buang air kecil di malam hari, bangun dengan rasa kurang segar, sakit kepala di pagi hari, kemampuan konsentrasi dan daya ingat yang menurun, emosi yang sulit dikontrol, hingga libido yang menurun. Rasa kantuk berlebih berujung pada kualitas hidup yang buruk, seperti turunnya produktifitas dan kemampuan berkendara atau mengoperasikan mesin.

Ini diakibatkan oleh kualitas tidur yang buruk. Saat saluran nafas tersumbat, aliran udara akan berhenti dan mengakibatkan turunnya kadar oksigen dan naiknya kadar karbondioksida dalam darah. Sebuah sensor dalam tubuh akan aktif jika kadar karbondioksida terlalu tinggi. Selanjutnya ia akan membangunkan otak (micro arousal) untuk bernafas. Pada saat ini penderitanya mengeluarkan suara khas seperti tercekik atau tersedak (gasping/choking) yang lalu diikuti dengan kembalinya suara dengkuran. Perlu ditekankan bahwa penderita OSA tidak ingat bahwa dirinya berulang kali terbangun sepanjang malam.

OSA merupakan gangguan yang serius. Tidak jarang penderitanya meninggal dunia akibat kecelakaan kerja maupun lalu lintas. Sedangkan pada kesehatan, OSA merupakan faktor resiko independen dari hipertensi gangguan jantung hingga stroke. Di tahun 1998, WHO bahkan telah menyatakan bahwa OSA merupakan salah satu penyebab dari Hipertensi Arteri Pulmonal.

Hipersomnia, Rasanya Ngantuk Melulu

Pada jam-jam sibuk, seringkali kita jadi mengantuk, dan menguap tak henti-hentinya.
Jumat, 3/12/2010 | 20:42 WIB

KOMPAS.com – Pernah merasa sangat mengantuk di saat jam-jam sibuk? Jika ini yang sering kita rasakan, mungkin kita mengidap hipersomnia. Menurut dr Andreas Prasadja, RPSGT, sleep technologist dari Sleep Disorder Clinic-RS Mitra Kemayoran, hipersomnia adalah sebuah gejala gangguan tidur yang membuat penderitanya mengalami rasa kantuk berlebihan meskipun sudah tidur cukup.

Dalam blog-nya, Andreas menggambarkan selain rasa kantuk berlebihan, ciri-ciri lainnya adalah bangun tidur tak segar, cepat mengantuk, sulit berkonsentrasi, cepat lelah, plus daya ingat yang terus menurun.

Untuk membebaskan diri dari “kekacauan” akibat tak bisa membuat rutinitas tidur kita menjadi lebih berkualitas, lakukanlah 8 langkah berikut:

1. Tidur berkualitas: Ketika kita bicara tidur yang berkualitas, bukan hanya durasi lamanya mata terpejam yang diperhitungkan. Melainkan bagaimana kita membuat gelombang otak masuk ke dalam vase tidur lelap. Dan vase tidur lelap akan tercapai jika kita benar-benar siap untuk tidur tak hanya sekadar memejamkan mata.

Mengenai durasi, idealnya, orang dewasa membutuhkan waktu tidur 8-9 jam di malam hari. Sedangkan untuk remaja, 9 jam adalah waktu yang tak bisa ditawar-tawar.

2. Jauhkan pengganggu tidur: “Jadikanlah tempat tidur sebagai tempat yang nyaman untuk terlelap dan bercinta,” demikian Avelino Verceles, MD, asisten profesor dari University of Maryland School of Medicine menyarankan. Ini artinya, sambung Verceles yang juga direktur School’s Sleep Medicine Fellowship, kita harus menjauhkan televisi, video games, dan laptop atau komputer dari kamar.

3. Buat jam tidur yang teratur: Orang yang mengidap gangguan tidur biasanya akan disarankan untuk tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari, termasuk hari libur dan akhir pekan. Tapi menurut Barry Krakow, MD, direktur medis Maimonides Sllep Arts and Sciences, Ltd., yang juga menulis buku Sound Sleep, Sound Mind: 7 Keys to Sleeping Through the Night, mengatur waktu tidur dan bangun justru menjadi kesulitan tersendiri bagi mereka yang sudah mengalami gangguan tidur.

Untuk itu, Krakow menawarkan sebuah alternatif, yaitu dengan menentukan waktu bangun yang harus diikuti setiap harinya. “Konsisten bangun di waktu yang sama selama seminggu atau sampai sebulan, maka tubuh akan mengikuti ritme tersebut.”

Ritme ini yang nantinya akan membentuk sirkardian atau jam biologis tubuh. Kita akan selalu mengantuk lebih cepat jika di malam sebelumnya kita kurang tidur, tapi bangun selalu di jam yang sama. Walhasil tubuh akan meminta kita kembali pada jam tidur yang sebelumnya.

4. Perlahan majukan jam tidur kita: Jika menentukan jam tidur dan bangun yang sama setiap harinya tak sukses, cobalah majukan jam tidur kita 15 menit lebih cepat selama 4 malam berturut-turut. Setelah ini berhasil, buat jadwal tidur kita 1 jam lebih cepat dari biasanya.

5. Makanlah dengan teratur: Jika kita bertanya apa hubungannya makan dengan tidur, maka jawabannya adalah keduanya sangat erat terkait. Makan di jam yang sama setiap hari akan membuat sirkardian kita “berdentang” dengan teratur, termasuk distribusi energi untuk memberikan sinyal pada kita bahwa sudah waktunya istirahat.

Jika kita tidak makan teratur, misalnya memundurkan makan siang menjadi lebih sore, akan membuat makan malam kita mundur sampai mendekati waktu tidur. Dan pasokan energi mendekati waktu tidur justru membuat kita bersemangat melakukan banyak hal. Plus idealnya, 2 sampai 3 jam sebelum waktu tidur kita sudah berhenti makan agar metabolisme berjalan sempurna sehingga tak ada yang berubah wujud menjadi timbunan lemak di tubuh.

6. Berolahragalah! Lakukanlah aktivitas bakar lemak seperti aerobik setiap hari, minimal 30 menit. Aerobik akan membuat tubuh kita lebih cepat terlelap. Terlebih jika kita melakukan olahraga di ruang terbuka, 30 menit terpapar sinar matahari pagi akan meregulasi pola tidur kita. Sehingga secara alamiah bisa tidur dengan teratur dan berkualitas. Yang perlu diingat adalah hindarilah berolahraga 3 jam sebelum tidur, sebab adrenalin yang terpacu justru akan menjauhkan kita dari rasa kantuk.

7. Naiklah ke atas tempat tidur jika benar-benar sudah mengantuk: Menurut Krakow, jika kita hanya kelelahan setelah beraktivitas seharian, sebaiknya jangan naik ke atas tempat tidur. Sebab ternyata, ini justru tak akan membuat kita terlelap. Melainkan hanya berguling-guling di atas tempat tidur.

“Rasa kantuk yang sebenarnya adalah ketika kita mulai merasa tak bisa berkonsentrasi dan mata sudah ingin terlelap. Sedangkan untuk rasa kelelahan kita, cobalah untuk relaksasi selama 15 menit, dengan otot-otot tubuh tidak menjadi ‘rewel’ ketika berbaring di atas tempat tidur,” Krakow memaparkan.

8. Temuilah pakar kesehatan tidur: Jika 7 langkah di atas masih belum juga berhasil membuat kita tertidur dengan nyenyak, sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter kesehatan tidur.  Sebab hipersomnia juga bisa merujuk pada gangguan tidur seperti narkolepsi atau sleep apnea. Narkolepsi adalah gangguan yang membuat orang tak bisa menahan rasa kantuknya, sehingga dalam keadaan tengah beraktivitas pun bisa tiba-tiba tertidur. Sedangkan sleep apnea, gangguan nafas pada saat tidur yang sebenarnya membuat otak kita tetap terjaga meski mata terpejam.

Hal lain yang juga bisa mengundang gangguan tidur adalah depresi, paska trauma, atau obat-obatan. Itu mengapa kita butuh bantuan ahli yang mengerti bagaimana mengatasi berbagai pemicu gangguan tidur tersebut.

(Prevention Indonesia Online/Siagian Priska)

Editor: Dini

Kesehatan Tidur di Motion 97.5FM

Bincang-bincang tentang kesehatan tidur di Motion 97.5FM

 

 

 

 

Sering Mengantuk

Jangan anggap remeh jika sering mengantuk. Kantuk yang selalu datang jelas akan mengganggu aktivitas, dan pada akhirnya akan menurunkan produktivitas. Kreativitas dan kemampuan analisa jelas menurun. Begitu pula dengan stabilitas emosi.

Selalu mengantuk juga membahayakan jiwa, terutama jika mengendara atau mengoperasikan alat-alat berat. Kecelakaan kapal tanker Exxon Valdez dan pabrik Chernobyl menjadi contoh terpopuler kecelakaan akibat kantuk.

Mengantuk sekali-sekali dan selalu mengantuk jelas berbeda. Selalu mengantuk walau tidur sudah cukup disebut kantuk berlebih atau hipersomnia.

Ketika sering mengantuk cobalah periksa apakah Anda sudah cukup tidur?

Orang dewasa pada umumnya butuh tidur 7-8 jam seharinya. Sementara kebutuhan tidur kelompok usia remaja-dewasa muda (akhir 20-an) adalah 8,5-9,25 jam perhari. Jika sering mengantuk dan tidur 6-7 jam saja seharinya wajar jika masih mengantuk. Sebelum menebak-nebak atau terus mengonsumsi stimulan, cobalah untuk menambah jam tidur terlebih dahulu.

Hipersomnia

Seperti halnya insomnia, hipersomnia adalah salah satu gejala gangguan tidur. Seorang yang mengalami hipersomnia sebenarnya mudah sekali dikenali. Ciri-cirinya ia mengantuk walau sudah cukup tidur. Jika mengantuk karena tidur yang kurang, itu bukan hipersomnia.

Gangguan-gangguan Tidur dengan Gejala Hipersomnia:

Sleep Apnea merupakan gangguan tidur penyebab hipersomnia yang paling umum dan paling mudah dikenali. Cirinya mudah saja: mendengkur. Tetapi sleep apnea justru gangguan tidur yang paling berbahaya karena ia menyebabkan hipertensi, gangguan jantung, diabetes hingga stroke.

Periodic Limb Movements in Sleep, Gerakan Periodik Tungkai saat Tidur ditandai dengan gerakan-gerakan kaki pada saat tidur. Gerakan telapak kaki biasanya dikenali oleh pasangan.

Narkolepsi, sering disalah artikan oleh kebanyakan orang sebagai kantuk berlebih, hipersomnia. Sebenarnya hipersomnia hanyalah salah satu gejalanya saja. Gejala lainnya adalah katapleksi, hypnagogic hallucination dan lumpuh tidur. Lumpuh tidur dan hypnagogic hallucination di Indonesia dikenal sebagai fenomena ketindihan atau ereup-ereup. Sementara katapleksi adalah tubuh layu lumpuh setelah dipicu emosi yang kuat, terutama gembira.

Sindrom Tungkai Gelisah, kurangi kualitas tidur

Majalah Kartini, No.2268 / 15-29 April 2010

Gangguan tidur ada 99 macam. Sayangnya gangguan-gangguan itu kebanyakan tidak terdiagnosa, hingga keluhan terus bertambah hebat. Da samping insomnia, gangguan tidur juga sering terjadi ialah restless legs syndrome (RLS) atau yang disebut juga sebagai sindrom tungkai gelisah.

Gangguan ini terjadi di waktu malam hari saat seseorang akan tidur. Kondisi ini membuat penderita susah tidur. Biasanya penderita akan merasa tidak nyaman pada salah satu atau kedua kaki. Pada setiap orang keluhannya berbeda-beda. Ada yang merasa pegal, sakit, ngilu, nyeri, kesemutan, gatal, atau terasa ada yang merambat di kaki.

Keadaan tidak nyaman pada kaki tersebut merupakan keluhan khas RLS. Pada saat akan tidur, pasien mengalami rasa tidak enak pada kaki yang membuatnya harus menggerak-gerakkan atau berjalan terlebih dahulu. Bila pasien merasa nyaman , pasien akan kembali ke tempat tidur. Rasa nyaman pada kaki itu tidak berlangsung lama, sebab kejadiannya akan terulang lagi. Pada penderita susah tidur, biasanya kakinya akan bergerak setiap 8-10 detik. Dan setiap kali kaki bergerak, membuat penderita tersadar, walaupun tidak sampai terjaga.

Kebanyakan Menyerang Wanita

Penelitaian terhadap gangguan ini di Indonesia belum ada. Namun di luar negeri, seperti Singapura dan Australia, gangguan ini sudah diteliti sejak lama dan dialami sekitar 5% dari jumlah penduduknya.

Dari jumlah tersebut, penderita gangguan ini kebanyakan adalah wanita muda serta ibu hamil yang kekurangan zat besi dan vitamin B12. Kondisi kekurangan zat besi dan vitamin B12 ini hampir selalu dialami wanita pada umumnya. Kekurangan zat besi itu lantaran setiap wanita mengalami menstruasi. Banyaknya darah yang keluar setiap bulan saat menstruasi itu secara tidak langsung mempengaruhi jumlah zat besi. Karena itu wanita muda harus selalu memerhatikan kebutuhan zat besi di dalam tubuhnya.

Disamping menyebabkan gangguan ini, kekurangan zat juga dapat membuat wanita menderita anemia. Anemia ditandai wajah pucat, mudah letih, mata berkunang-kunang saat berdiri dari duduk, dan malas saat bekerja.

Pemenuhan kebutuhan zat besi itu bisa dilakukan dengan mengkonsumsi makanan yang kaya kandungan zat besinya, seperti daun papaya, bayam, daun singkong. RLS juga rentan menyerang lanjut usia, orang yang memiliki gangguan persarafan, payah ginjal, dan pasien yang sedang menjalani cuci darah.

Produktivitas Kerja Menurun

Akibat sering tersadar waktu tidur, selain waktu tidurnya terpotong, kualitas tidur menjadi kurrang baik. Pagi hari sehabis bangun tidur, tubuh tidak bugar melainkan keletiahan. Kondisi itu membuat aktivitas pada pagi harinya terganggu sehingga tidak optimal. Karena mengantuk dan tubuh kurang bugar, maka tidak akan maksimal saat bekerja. Akibatnya, produktivitas kerja akan menurun.

Dampak lainnya ialah depresi. Bila terus dibiarkan, gangguan itu bisa menyebabkan depresi. Ada pasien depresi yang tidak bisa tidur beberapa waktu. Bayangkan, apa akibat dari tidak bisa tidur dalam jangka waktu panjang. Semua aktivitasnya jelas terganggu.

Untuk meringankan gangguan ini, cara sederhana bisa dilakukan seperti :

  • Pemijatan kaki menjelang tidur
  • Rendam kaki dalam air hangat
  • Memakai kaos kaki ketat
  • Kaki dikompres dengan air hangat atau dingin
  • Atur jadwal tidur dengan teratur
  • Untuk melancarkan aliran darah, perlu olahraga teratur
  • Lakukan pengobatan komplementer, seperti perana, yoga, dan akupuntur. Pengobatan-pengobatan jenis ini dilaporkan dapat membantu mengurangi gangguan.
  • Selain pengobatan komplementer, ada juga suplemen yang dilaporkan mampu meminimalisir gangguan, yaitu zat besi dan asam folat. Namun sebelum mengonsumsi suplemen-suplemen tersebut, penderita disarankan untuk mengonsultasikan terlebih dulu dengan dokter.

Bila gangguan dirasa sudah terlampau mendorong dan tidak mungkin lagi ditolong dengan cara-cara tersebut di atas, harus dibantu dengan pemakaian obat-obatan. Pemakaian obat tidak pperlu dalam jangka waktu panjang. Jika gangguan sudah berkurang, obat bisa dihentikan. Pada saat pengobatan itu, dokter juga akan mencari penyebabnya. Jika penyebabnya diketahui, misalnya kekurangan zat besi, maka dokter akan memberikan tambahan zat besi. Bila kebutuhan zat besi sudah dipenuhi maka gangguan itu akan hilang sendiri.

 

Sleep Apnea Meningkatkan Resiko Kematian Hingga 46%

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Naresh Punjabi dan kawan-kawan dari Johns Hopkins University menemukan bahwa resiko kematian pada penderita sleep apnea berat adalah 46%. Resiko ini jelas nampak pada pria usia 40-70 tahun.

Mereka mengatakan bahwa orang-orang dengan gangguan nafas selama tidur ini mempunyai resiko lebih tinggi untuk mengalami kematian oleh berbagai sebab dibandingkan dengan orang lain yang tidak menderita sleep apnea.

Sleep apnea adalah sebuah gangguan tidur berbahaya yang ditandai dengan tidur mendengkur dan rasa kantuk berlebih di siang hari. Lebih jauh lagi, sleep apnea mengakibatkan hipertensi, berbagai gangguan jantung, diabetes dan stroke. Sleep apnea terjadi akibat penyempitan saluran nafas selama tidur. Akibatnya pasokan oksigen akan berulang kali terhenti sepanjang malam.

Penelitian yang diterbitkan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia pada Public Library of Science journal PLoS Medicine ini meneliti 6.400 orang selama 8 tahun. Mereka yang telah terdiagnosa dengan sleep apnea berat lebih rentan 46% mengalami kematian oleh berbagai sebab.
Dalam populasi penelitian, diantara pria, 42,9% tidak mempunyai gangguan nafas selama tidur, 33,2% terdiagnosa dengan sleep apnea ringan, 15,7 % sedang dan 8,2%-nya mengalami sleep apnea yang parah. Sedangkan pada wanita 25% diantaranya terdiagnosa dengan sleep apnea ringan, 8% sleep apnea sedang dan 3% nya sleep apnea berat.

Menurut para peneliti tersebut, mereka yang dengan sleep apnea berat, dapat berhenti nafas selama 20-30 detik dan terbangun (namun tidak sampai tersadar dari tidur.) Derajat keparahan sleep apnea dilihat dari jumlah henti nafas perjam (AHI/apnea hypopnea index) dimana 0-5 kali perjam artinya mendengkur normal tanpa henti nafas, 5-15 kali perjam sleep apnea ringan, 15-30 kali perjam sleep apnea sedang dan lebih 30 kali perjam berarti sleep apnea berat. Pemeriksaan tidur dilakukan di laboratorium tidur dengan menggunakan alat polysomnography (PSG.)

Dibandingkan dengan pengalaman kami di Mitra Kemayoran, sleep apnea terberat pernah mencapai 109 kali perjam dengan durasi henti nafas terlama mencapai 120-an detik dan kadar oksigen terendah mencapai kurang dari 50%! Tentu saja ini amat berbahaya.

Data dari the National Heart, Lung, and Blood Institute menyebutkan bahwa 12 juta penduduk dewasa Amerika menderita sleep apnea. Sedangkan menurut the National Sleep Foundation diperkirakan mencapai 18 juta orang. Sayangnya di Indonesia belum ada penelitian berskala nasional yang memperhatikan gangguan tidur yang fatal ini. Mengingat struktur rahang ras Asia yang lebih sempit, dicurigai Indonesia memiliki lebih banyak penderita sleep apnea.

Menurut Dr. David Rapoport dari New York University yang juga turut serta dalam penelitian, perawatan terbaik saat ini adalah dengan menggunakan CPAP (continuous positive airway pressure), berupa masker yang memberikan udara bertekanan untuk membuka saluran nafas selama tidur. Sementara alternatif lainnya merupakan pembedahan, termasuk didalamnya pengangkatan amandel jika diperlukan. Pilihan lain adalah dengan menggunakan alat mulut yang bisa mendorong rahang bawah maju.

Suami Pemalas? Sering Mengantuk?

Pasangan Anda pemalas? Ia enggan menemani berbelanja di akhir pekan, selalu mengantuk, sering tampak lesu, kurang motivasi, tak bersemangat serta kurang produktif. Jangan cepat-cepat menyebutnya sebagai pemalas. Perhatikan kebiasaan tidurnya, meskipun ia mudah sekali tertidur, ada kemungkinan besar ia menderita gangguan tidur!

Dita kesal sekali pada suaminya yang pemalas. Setiap pulang kerja ia selalu mengeluh lelah hingga harus tidur lebih awal, sedangkan di akhir pekan Dita sekeluarga hanya dapat bersenang-senang sebentar karena Mas Arif tersayang sudah terlalu lelah untuk meneruskan perjalanan.

Awalnya Dita dapat memaklumi sikap Arif karena ia tahu kesibukan suaminya di kantor. Ia berpikir, mungkin ini semua disebabkan oleh tekanan pekerjaan, dan padatnya lalu lintas Jakarta. Sampai suatu kesempatan ia mendengar kelakar rekan-rekan sekantor Mas Arif tentang bagaimana suaminya sempat tertidur di saat rapat. Dita pun mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang salah pada suaminya. Ia mulai memperhatikan kebiasaan-kebiasaan suaminya yang sering terlihat lesu dan kurang bersemangat itu. Salah satunya adalah sering buang air kecil di malam hari. Dita pun memikirkan kemungkinan Arif menderita diabetes.

Setelah menjalani pemeriksaan lengkap, dokter menyatakan Arif tidak menderita diabetes. Bahkan dokter menganjurkan agar Arif berkonsultasi ke Klinik Gangguan Tidur. Mereka amat terkejut ketika dokter di klinik tersebut menyatakan Arif menderita gejala gangguan tidur karena kantuk berlebih yang ia derita. Lebih terkejut lagi ketika dokter tersebut mengaitkan keluhan-keluhan Arif dengan hipertensi dan kebiasaannya mendengkur!

Hipersomnia

Selama ini kita memahami gangguan tidur sebagai insomnia semata. Ternyata kantuk berlebih yang juga dikenal sebagai hipersomnia juga merupakan suatu gejala gangguan tidur. Hipersomnia sering kita abaikan karena kita tidak terbiasa memperhatikan kesehatan tidur kita. Padahal tren kesehatan dunia kini amat memperhatikan kesehatan tidur sebagai parameter kesehatan seseorang. Prof. William Dement, yang juga dikenal sebagai bapak kedokteran tidur, menyatakan bahwa lebih mudah memprediksi status kesehatan seseorang dari kebiasaan tidurnya dibanding dari diet atau olah raga yang dilakukannya.

Hipersomnia merupakan tanda seseorang menderita gangguan tidur. Mulai dari kurangnya jumlah tidur hingga gangguan tidur yang lebih serius seperti Sleep Apnea, Sindroma Tungkai Gelisah hingga Narkolepsi.

Penderita hipersomnia sering kali menyangkal dirinya mengantuk berlebihan, padahal kantuk pada jam-jam setelah makan siang merupakan salah satu tanda awalnya. Ya, kantuk di siang hari tidak ada kaitannya dengan perut yang kenyang. Jam biologis yang mendorong seseorang untuk tetap terjaga memang menurunkan kesiagaannya  pada jam-jam tersebut. Tetapi pada kondisi normal, seharusnya kita tidak mengantuk. Kita mengantuk karena hutang tidur yang kita tanggung. Hutang tidur bisa diakibatkan karena tidur kita yang kurang pada malam sebelumnya atau tidur kita cukup tetapi kualitasnya buruk. Salah satu tandanya adalah rasa kurang segar saat bangun pagi walaupun tidur sudah cukup lama. Manifestasi yang semakin berat biasanya berupa sakit kepala di pagi hari.

Sleep Apnea

Penderita gangguan tidur seperti Arif. Walaupun sudah cukup lama tidur (normal 8 jam sehari,) bahkan terkadang lebih, masih merasa tidak segar di pagi hari. Apalagi di siang hari, rasa lelah terus merongrong aktifitasnya. Untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan ia memerlukan usaha dua kali lipat dibanding orang lain. Ditambah dengan beban hutang tidur, tak heran apabila ia selalu merasa lelah. Di kantor ia juga dikenal sebagai pimpinan yang galak karena emosinya yang labil. Semua ini menurunkan kualitas hidupnya.

Arif masih beruntung karena ia seorang pekerja kantor. Paling buruk, ia tertidur di saat rapat. Bayangkan jika ini terjadi pada seorang pilot atau buruh yang mengoperasikan mesin. Pada tahun 2003 terjadi kecelakaan Shinkansen (kereta cepat) di Osaka (Japan Times, March 3rd, 2003.) Si masinis tetap bertugas walaupun dalam kondisi mengantuk. Telah lama ia merasa selalu lelah dan mengantuk, namun semuanya dianggap wajar dan dapat diatasi dengan bercangkir-cangkir kopi. Tetapi hari itu ia tertidur selama 8 menit. Tidak ada kopi maupun minuman berenergi yang dapat menolong. Untunglah tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Tetapi kejadian ini menguak sebuah kenyataan bahwa si masinis ternyata menderita sleep apnea, yang ditandai dengan kantuk berlebihan dan tidur mendengkur!

Arif lalu menjalani pemeriksaan Polisomnografi (PSG) di laboratorium tidur. Hasilnya ia menderita Obstructive Sleep Apnea yang parah. Dalam tidurnya ia berhenti nafas rata-rata 52 kali per jam. Bahkan satu kali Arif pernah berhenti nafas selama 73 detik. Satu menit lebih! Dalam keadaan sadar, kita tidak akan dapat menahan nafas selama ini. Belum lagi kadar oksigen darahnya yang menurun drastis selama henti nafas.

PSG adalah standar emas pemeriksaan untuk mendiagnosis berbagai gangguan tidur. Tanpa pemeriksaan ini, dokter akan mengalami kesulitan dalam melakukan terapi karena tidak adanya diagnosis yang jelas.

Setelah diterapi beberapa waktu, Dita amat puas melihat perubahan pada Arif. Suara dengkuran tak lagi terdengar. Dan seolah suaminya mendapatkan kehidupannya kembali. Walaupun terkadang masih mengantuk di siang hari, Arif sudah bisa merasakan kualitas tidur yang baik. Di pagi hari suaminya tampak selalu segar dan bersemangat. Setiap pekerjaan diselesaikannya dengan baik dan memuaskan. Predikat galak-pun perlahan menghilang dari obrolan kantor. Hipertensi yang sudah lama diderita perlahan kembali normal. Dosis obat yang harus diminum tiap hari pun perlahan diturunkan dibawah pengawasan dokter. Yang paling membahagiakan, kini Arif memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama keluarga tercinta.