Untuk Berita Satu

image

image

image

image

image

image

Tidur Lewat Tengah Malam Tak Selalu Insomnia

Bramirus Mikail | Asep Candra | Jumat, 30 Maret 2012 | 10:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Jam sudah menunjukkan pukul 00.00 tetapi mata masih saja sulit untuk dipejamkan. Situasi seperti ini cukup sering terjadi, khususnya pada orang dewasa muda. Sehingga timbul pertanyaan, apakah saya mengalami insomnia?

Jawabannya tidak. Menurut praktisi kesehatan tidur dari Rumah Sakit Mitra Kemayoran, dr. Andreas Prasadja, RPSGT, banyak orang yang telah menyalahartikan kesulitan tidur pada malam hari sebagai insomnia. Padahal, hal ini adalah sebuah kondisi yang normal dan memang sesuai dengan jam biologis seseorang.

“Baru bisa tidur jam satu pagi pada orang dewasa muda (di bawah 30 tahun), itu normal,” katanya saat ditemui dalam acara Obrolan Langsat, di Rumah Langsat, Kamis, (29/3/2012).

Menurut Andreas, setiap orang memiliki jam biologis yang berbeda-beda. Makin tua usia seseeorang, maka kebutuhan tidur cenderung berkurang. Pada anak-anak, kebutuhan tidur bisa sampai 12 jam, orang dewasa muda sekitar 8,5-9 jam. sedangkan orang dewasa tua maksimal hanya 8 jam.

“Untuk orang diatas 30 tahun, jam 10 malam biasanya sudah ngantuk, karena itu jam biologis mereka,” katanya.

Tetapi untuk mereka yang berusia di awal 20-an, umumnya akan sulit untuk bisa tidur jam 10 malam. Karena pada usia remaja sampai dewasa muda, mempunyai jam biologis yang sangat khas. Remaja dan dewasa muda ketika jam 10 malam, otak justru lagi segar-segarnya dan penuh kreativitas. Inilah waktu yang tepat sebenarnya untuk mereka bekarya dan belajar.

“Karena normalnya, mereka baru mengantuk setelah lewat tengah malam,” paparnya.

Hanya sayangnya, pada usia ini mereka harus mengikuti jadwal orang dewasa kebanyakan, di mana aktivitas harus sudah dimulai jam 8 pagi sedangkan kalau yang sekolah harus masuk jam setengah 7 pagi. Jadi, tidak heran jika kelompok usia ini adalah kelompok yang kurang waktu tidur.

Kompas Health

Cek Insomnia Saat Anda Terjaga!

Waktu menunjukkan pukul 00.05. Anda terbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, berusaha untuk terlelap. Trik-trik meditasi yang pernah Anda baca di buku yoga, seperti melemaskan otot dan mengosongkan pikiran, tidak ada yang berhasil membuat Anda tertidur. Tapi jangan khawatir jika Anda seprti burung hantu, selalu terjaga ketika yang lain sedang tenggelam dalam mimpi. Anda tidak sendirian, kok.

Menurut dr. Andreas Prasadja, sleep scientist, waktu produktif orang dewasa muda memang justru di malam hari. Banyak yang menyalahartikan kesulitan tidur di malam hari sebagai insomnia. Padahal, indikasi insomnia atau gangguan tidur  justru terlihat saat seseorang terjaga. Jika seseorang tidak nyaman saat bangun tidur, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, atau mengantuk berlebihan, berarti dia mengalami insomnia. Kalau seseorang terjaga sepanjang malam, tapi bisa tidur nyenyak di waktu lain, dia tidak menderita insomnia.

Perbedaan waktu tidur dikarenakan jam biologis manusia yang berbeda-beda. Makin bertambahnya usia, kebutuhan jam tidur akan  makin menurun. Usia 30 tahun ke atas butuh maksimal 8 jam tidur. Sedangkan orang dewasa muda membutuhkan waktu tidur 8-9,5 jam, dan waktu produktif mereka adalah malam hari.

Sayangnya, hal ini terbentur ritme kehidupan yang mengharuskan kebanyakan orang untuk mulai beraktivitas di pagi hari sampai malam. Yang bekerja di pusat Kota Jakarta dan tinggal di luar kota, terpaksa mengorbankan waktu tidur karena harus berangkat subuh dari rumah dan pulang ke rumah larut malam. Akibatnya, banyak orang usia produktif yang mengalami kekurangan tidur atau sleep deprivation. Masalahnya, tidak ada satu pun obat yang dapat menggantikan manfaat tidur!

Penting juga untuk diingat, bahwa ekurangan tidur berdampak pada tiga hal:

  1. Memperlemah kinerja otak dan menurunkan kemampuan kognitif. Banyak orang yang ingin meningkatkan produktivitas dengan mengurangi jam tidur (lembur). Padahal, tindakan ini justru kontraproduktif. Dalam kondisi kurang tidur, orang akan cenderung susah konsentrasi dan tidak teliti.
  2. Tidur yang cukup terbukti mengurangi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
  3. Memperbesar risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas. Sudah terbukti kan, banyak sekali kecelakaan lalu lintas yang terjadi akibat kelalaian pengemudi yang ngantuk.

Primarita S Smita

link: http://www.femina.co.id/issue/issue_detail.asp?id=812&cid=2&views=9

Insomnia? Nanti dulu…

Insomnia adalah gangguan tidur yang paling sering dikeluhkan seorang pasien pada dokternya. Insomnia bisa berupa keluhan sulit tidur, kualitas tidur yang buruk, sulit mempertahankan tidur hingga sering terbangun, atau terbangun terlalu awal dan tidak bisa tidur lagi.

Insomnia dapat disebabkan oleh faktor psikologis, penyakit tertentu ataupun gangguan tidur lainnya.

Jika seseorang sedang mengalami tekanan secara psikologis, kadar adrenalin dalam darah akan meningkat dan membuatnya dalam keadaan segar. Menghadapi ini, obat tidur dapat membantu, akan tetapi jika masalah yang dihadapi berkelanjutan, tentu saja keluhan insomnia menjadi sulit diatasi.

Keluhan sulit tidur dapat juga disebabkan oleh penyakit lain yang menimbulkan rasa tidak nyaman seperti rasa sakit, mual, demam dan lain-lain.

Gangguan tidur lain yang dapat mengakibatkan keluhan insomnia antara lain OSA, Periodic Limb Movements atau Delayed circadian rhythm. Pasien biasanya datang dengan mengeluhkan insomnia yang diderita, tetapi pasangannya mengatakan yang sebaliknya. Apa yang terjadi?

Penderita merasa dirinya tidak tidur, karena pikiran yang masih melayang-layang dan masih dapat mendengar suara-suara di sekelilingnya, padahal orang lain melihat bahwa ia sudah tertidur pulas. Ini disebabkan oleh kualitas tidur yang buruk. Tidur tidak dapat memasuki tahapan tidur yang dalam karena terganggu oleh dengkuran (sleep apnea) atau gerakan kaki yang tidak disadari (Periodic Limb Movements.)

Ada pula keluhan insomnia yang salah kaprah, namun paling sering ditemui pada remaja atau dewasa muda. Mereka (usia 16-30 th.) menjelang akhir masa pubertas, mengalami pergeseran jam biologis, sehingga baru mengantuk setelah larut malam. Padahal kebutuhan tidurnya lebih lama dibanding orang dewasa, yaitu 8,5 – 9,25 jam.

Di saat orang lain mulai mengantuk pada jam 10 malam, mereka sedang dalam kondisi segar-segarnya, dan penuh semangat untuk menyelesaikan pekerjaan maupun belajar. Setelah lewat tengah malam, barulah kantuk menyerang. Sedangkan di pagi hari kegiatan perkuliahan atau pekerjaan menuntut untuk bangun awal, menyebabkan utang tidur. Ini semua diperburuk dengan kecenderungan untuk keluar malam di akhir pekan yang sebenarnya bisa digunakan untuk memenuhi utang tidur malam-malam sebelumnya. Tak mengherankan jika sering ditemui orang-orang dewasa muda yang bangun jauh siang hari di akhir minggu.

Kebiasaan menonton TV, bekerja ataupun bermain di depan komputer sebelum juga memperburuk keadaan. Ketegangan yang diakibatkan oleh aktivitas-aktivitas tadi bisa menyebabkan mata terlalu segar untuk dipejamkan. Belum lagi efek cahaya terang yang dapat mengelabui jam biologis yang sebenarnya diciptakan untuk membedakan waktu siang dan malam.

Jika Anda termasuk usia dewasa muda yang produktif, berhati-hatilah dengan kebiasaan tidur. Anda belum tentu menderita insomnia, hanya saja kebutuhan tidur Anda berbeda. Ketika orang lain mengantuk Anda segar, ketika orang lain mulai mengantuk, justru Anda-lah yang dalam kondisi segar bugar.

Jika tidak pintar-pintar mengatur jadwal tidur, kebutuhan tubuh dan otak tidak akan terpenuhi. Akibatnya tubuh menjadi rentan terserang penyakit, dan kemampuan berolah raga pun merosot. Akibat lainnya, secara emosional Anda menjadi temperamental dan tanpa disadari kemampuan mental, produktifitas serta kreativitas juga menurun.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh National Sleep Foundation menunjukkan bahwa pemuda/i yang mengikuti jadwal tidur yang cukup dan teratur memiliki prestasi yang lebih baik dibidang akademis maupun olah raga. Untuk itu ikutilah panduan higiene tidur (sleep hygiene) dengan baik dan jangan cepat-cepat memvonis diri terserang insomnia!

Tempat Bermimpi yang Nyaman

Mendisain kamar agar tidur dengan nyenyak.

Tidur, bukan sekedar membaringkan tubuh dan memejamkan mata. Itu mengapa, kamar menjadi salah satu elemen yang mempengaruhi kualitas tidur.

Lalu apa yang perlu dilakukan untuk menyulap kamar tidur menjadi tempat bermimpi yang menyenangkan, berikut panduannya:

Redupkan Kamar.
Percaya atau tidak, sekecil apapun cahaya yang ada dalam kamar kita, dapat memengaruhi kualitas tidur. Ini diamini Amy Wolfson, PhD, penulis buku The Woman’s Book of Sleep : A Complete Resource Guide. “Bahkan berkas cahaya bisa menyusup masuk ke dalam retina mata, ketika kita tertidur.” Cahaya tipis ini, oleh otak diartikan sebagai signal untuk bangun. Yang harus dilakukan adalah gunakan eye mask untuk “menyelamatkan” otak dari signal yang salah.

Sunyikan Kamar.
“Suasana yang tenang bisa mengundang kita untuk terlelap,” ucap Dr. Andreas Prasadja, RPSGT yang merupakan Sleep Physician, Sleep Disorder Clinic – RS Mitra Kemayoran Jakarta. Suasana tenang, diartikan tubuh sebagai rileksasi dan mengantar otak untuk masuk ke gelombang tidur awal atau mengantuk. Yang harus dilakukan, memindahkan televisi dari kamar sehingga suaranya tidak “mengundang” kita untuk terus terjaga.

Sejukkan Kamar.
Suhu kamar yang terlalu panas, bisa membuat kita terjaga di malam hari. Sedangkan suhu kamar yang terlalu dingin akan membuat kita meringkuk dan bangun dalam keadaan menggigil. Yang harus dilakukan, memastikan suhu kamar antara 16-21 derajat Celsius. Ini akan memudahkan kita untuk tertidur dan bangun dengan kondisi tubuh yang segar. (Siagian Priska)

Lavender, Si Pembuai Tidur

Selain mengusir nyamuk, lavender ternyata juga dapat menyelamatkan kita dari insomnia. Ini terbukti dari penelitian yang dilakukan Britain University of Southampton terhadap 10 orang dewasa.

Rileksasi dengan lavender membuat tidur lebih nyenyak

Responden kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama tidur dikamar yang menggunakan aroma lavender, sedangkan kelompok kedua diberi plasebo berupa aroma almon. Setelah seminggu, kedua grup bertukar kamar. Hasilnya, mereka yang awalnya diberi aroma plasebo mengalami peningkatan kualitas tidur hingga 20 persen,

Manfaat lavender sebagai aroma pengantar tidur semakin diperkuat dengan penelitian yang juga dilakukan para psikolog di Wesleyan University. Mereka meminta 31 responden yang terdiri dari laki-laki dan perempuan untuk menghirup lavender dua menit sebelum tidur. Para psikolog kemudian memperhatikan gelombang otak responden selama tidur. Alur gelombang otak memperlihatkan, responden tidur lebih lelap dan bangun lebih bersemangat di pagi harinya.  Lavender membuat responden memasuki tidur dalam atau Rapid Eye Movement lebih baik, sehingga membuat ritme jantung lebih teratur dan otot-otot lebih rileks.

Bila Anda tertarik untuk mencobanya. Semprotkan aroma lavender pada sehelai tisu dan selipkan di bawah bantal. Cara lain, bisa juga menggunakan aroma terapi yang bisa didapat di toko herbal langganan Anda. (Siagian Priska)

Panduan Tidur Sehat

Yang harus dilakukan:

  1. Tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap harinya.
  2. Berolah raga teratur setiap harinya, terutama pada pagi hari. Terbukti bahwa olah raga yang teratur dapat memperbaiki kualitas tidur.
  3. Di pagi hari, biarkan diri Anda terpapar dengan cahaya terang (segera nyalakan lampu atau bukalah jendela kamar, dan biarkan udara segar mengalir masuk ke dalam kamar.)
  4. Jagalah suhu ruangan yang nyaman di kamar tidur Anda.
  5. Buat kamar tidur Anda cukup tenang saat tidur.
  6. Usahakan kamar tidur Anda cukup gelap untuk memudahkan tidur.
  7. Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur dan berhubungan seks.
  8. Minum obat sesuai petunjuk. Minumlah obat tidur (jika diperlukan) satu jam sebelum tidur, sehingga dapat menyebabkan rasa mengantuk ketika berbaring, atau 10 jam sebelum bangun tidur, untuk mencegah rasa mengantuk pada siang hari.
  9. Buat ritual sebelum tidur sekurangnya 1 jam menjelang tidur, misalkan latihan relaksasi, pijatan, mandi dengan air hangat, melakukan perawatan tubuh atau bermeditasi.

Yang tidak boleh dilakukan:

  1. Olah raga sesaat sebelum tidur (jarak antara olah raga dan tidur sebaiknya 2-4 jam.)
  2. Melakukan kegiatan yang membangkitkan semangat sesaat sebelum tidur, seperti melakukan permainan kompetitif, atau bercakap-cakap mengenai masalah penting dengan pasangan Anda.
  3. Menonton TV atau bekerja di depan komputer sebelum tidur.
  4. Makan/minum yang mengandung kafein pada malam hari (kopi, teh, coklat, soda, dll.)
  5. Membaca buku atau menonton televisi di atas tempat tidur.
  6. Minum alkohol untuk membantu tidur (dianjurkan minum alkohol 4 jam sebelum tidur.)
  7. Merokok sekurangnya 6 jam sebelum tidur.
  8. Tidur dengan perut lapar atau terlalu kenyang.
  9. Minum obat tidur tanpa sepengetahuan dokter. Ini untuk menghindari efek toleransi (sehingga tubuh memerlukan dosis lebih tinggi.)
  10. Tidur sejenak pada senja/malam hari.

Jika anda berbaring di tempat tidur tetapi tetap terjaga dalam waktu lebih dari 20 menit, bangunlah, pergi ke kamar lain, lakukan kegiatan yang membosankan, lalu kembali tidur jika kantuk sudah datang.