Mendengkur ? Awas Darah Tinggi

Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa mendengkur bisa mengakibatkan tekanan darah tinggi dan berbagai gangguan jantung. Tetapi, inilah kenyataan yang harus dihadapi oleh tenaga kesehatan modern. Jika seseorang terdiagnosa menerita hipertensi, di negara-negara maju, dokter pasti akan menanyakan kebiasaan tidur terutama mendengkur. Ini sudah menjadi hal yang lazim. Lihat saja, betapa banyaknya jurnal-jurnal penelitian dari sejawat ahli jantung dan penyakit dalam yang mengulas hubungan hipertensi dan kebiasaan ngorok ini.

Tetapi, tak semua dengkuran berbahaya. Episode henti nafas diantara tiap dengkuranlah yang menjadi perhatian kita. Henti nafas saat tidur (OSA) terjadi ketika saluran nafas melemas dan menyempit saat tidur sehingga penderitanya tak mendapat suplai oksigen. Dan ini bisa terjadi berulang-ulang sepanjang malam.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa hipertensi berkaitan erat secara independen dengan OSA. Periode bangun singkat (micro arousal) akan meningkatkan aktivitas sistem syaraf simpatis yang pada gilirannya akan meningkatkan tekanan darah. OSA juga menyebabkan jantung harus bekerja berat pada suasana rendah oksigen di saat tidur. Akibatnya penderita OSA juga rentan menderita berbagai gangguan jantung.

Lebih dari 35% penderita OSA juga menderita hipertensi. 83% penderita hipertensi juga menderita OSA(1).

80% pasien dengan hipertensi yang resisten terhadap pengobatan juga menderita OSA(2).

Penelitian lainnya menunjukkan bahwa OSA meningkatkan resiko seseorang menderita penyakit kardiovaskuler hingga lima kali lipat, terlepas dari usia, kegemukan, kebiasaan merokok maupun tekanan darahnya(3).

Dua penelitian berbeda dilakukan pada pasien OSA yang juga menderita hipertensi. Dengan menggunakan CPAP terdapat rata-rata penurunan tekanan darah sebesar 10 mmHg(4,5). Sementara Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure di tahun 2003 menyebutkan OSA sebagai penyebab hipertensi yang utama(6).

 

Kartu Tata Laksana Hipertensi

Sumber:

1.  Bixler et al, 2000

2.  Sjostrom et al, 2002

3.  Pecker et al, 2002

4.  Becker et al, 2003

5.  Logan et al, 2003

6.  Chobanian et al, 2003