Sering Mengantuk

Jangan anggap remeh jika sering mengantuk. Kantuk yang selalu datang jelas akan mengganggu aktivitas, dan pada akhirnya akan menurunkan produktivitas. Kreativitas dan kemampuan analisa jelas menurun. Begitu pula dengan stabilitas emosi.

Selalu mengantuk juga membahayakan jiwa, terutama jika mengendara atau mengoperasikan alat-alat berat. Kecelakaan kapal tanker Exxon Valdez dan pabrik Chernobyl menjadi contoh terpopuler kecelakaan akibat kantuk.

Mengantuk sekali-sekali dan selalu mengantuk jelas berbeda. Selalu mengantuk walau tidur sudah cukup disebut kantuk berlebih atau hipersomnia.

Ketika sering mengantuk cobalah periksa apakah Anda sudah cukup tidur?

Orang dewasa pada umumnya butuh tidur 7-8 jam seharinya. Sementara kebutuhan tidur kelompok usia remaja-dewasa muda (akhir 20-an) adalah 8,5-9,25 jam perhari. Jika sering mengantuk dan tidur 6-7 jam saja seharinya wajar jika masih mengantuk. Sebelum menebak-nebak atau terus mengonsumsi stimulan, cobalah untuk menambah jam tidur terlebih dahulu.

Hipersomnia

Seperti halnya insomnia, hipersomnia adalah salah satu gejala gangguan tidur. Seorang yang mengalami hipersomnia sebenarnya mudah sekali dikenali. Ciri-cirinya ia mengantuk walau sudah cukup tidur. Jika mengantuk karena tidur yang kurang, itu bukan hipersomnia.

Gangguan-gangguan Tidur dengan Gejala Hipersomnia:

Sleep Apnea merupakan gangguan tidur penyebab hipersomnia yang paling umum dan paling mudah dikenali. Cirinya mudah saja: mendengkur. Tetapi sleep apnea justru gangguan tidur yang paling berbahaya karena ia menyebabkan hipertensi, gangguan jantung, diabetes hingga stroke.

Periodic Limb Movements in Sleep, Gerakan Periodik Tungkai saat Tidur ditandai dengan gerakan-gerakan kaki pada saat tidur. Gerakan telapak kaki biasanya dikenali oleh pasangan.

Narkolepsi, sering disalah artikan oleh kebanyakan orang sebagai kantuk berlebih, hipersomnia. Sebenarnya hipersomnia hanyalah salah satu gejalanya saja. Gejala lainnya adalah katapleksi, hypnagogic hallucination dan lumpuh tidur. Lumpuh tidur dan hypnagogic hallucination di Indonesia dikenal sebagai fenomena ketindihan atau ereup-ereup. Sementara katapleksi adalah tubuh layu lumpuh setelah dipicu emosi yang kuat, terutama gembira.

Sindrom Tungkai Gelisah, kurangi kualitas tidur

Majalah Kartini, No.2268 / 15-29 April 2010

Gangguan tidur ada 99 macam. Sayangnya gangguan-gangguan itu kebanyakan tidak terdiagnosa, hingga keluhan terus bertambah hebat. Da samping insomnia, gangguan tidur juga sering terjadi ialah restless legs syndrome (RLS) atau yang disebut juga sebagai sindrom tungkai gelisah.

Gangguan ini terjadi di waktu malam hari saat seseorang akan tidur. Kondisi ini membuat penderita susah tidur. Biasanya penderita akan merasa tidak nyaman pada salah satu atau kedua kaki. Pada setiap orang keluhannya berbeda-beda. Ada yang merasa pegal, sakit, ngilu, nyeri, kesemutan, gatal, atau terasa ada yang merambat di kaki.

Keadaan tidak nyaman pada kaki tersebut merupakan keluhan khas RLS. Pada saat akan tidur, pasien mengalami rasa tidak enak pada kaki yang membuatnya harus menggerak-gerakkan atau berjalan terlebih dahulu. Bila pasien merasa nyaman , pasien akan kembali ke tempat tidur. Rasa nyaman pada kaki itu tidak berlangsung lama, sebab kejadiannya akan terulang lagi. Pada penderita susah tidur, biasanya kakinya akan bergerak setiap 8-10 detik. Dan setiap kali kaki bergerak, membuat penderita tersadar, walaupun tidak sampai terjaga.

Kebanyakan Menyerang Wanita

Penelitaian terhadap gangguan ini di Indonesia belum ada. Namun di luar negeri, seperti Singapura dan Australia, gangguan ini sudah diteliti sejak lama dan dialami sekitar 5% dari jumlah penduduknya.

Dari jumlah tersebut, penderita gangguan ini kebanyakan adalah wanita muda serta ibu hamil yang kekurangan zat besi dan vitamin B12. Kondisi kekurangan zat besi dan vitamin B12 ini hampir selalu dialami wanita pada umumnya. Kekurangan zat besi itu lantaran setiap wanita mengalami menstruasi. Banyaknya darah yang keluar setiap bulan saat menstruasi itu secara tidak langsung mempengaruhi jumlah zat besi. Karena itu wanita muda harus selalu memerhatikan kebutuhan zat besi di dalam tubuhnya.

Disamping menyebabkan gangguan ini, kekurangan zat juga dapat membuat wanita menderita anemia. Anemia ditandai wajah pucat, mudah letih, mata berkunang-kunang saat berdiri dari duduk, dan malas saat bekerja.

Pemenuhan kebutuhan zat besi itu bisa dilakukan dengan mengkonsumsi makanan yang kaya kandungan zat besinya, seperti daun papaya, bayam, daun singkong. RLS juga rentan menyerang lanjut usia, orang yang memiliki gangguan persarafan, payah ginjal, dan pasien yang sedang menjalani cuci darah.

Produktivitas Kerja Menurun

Akibat sering tersadar waktu tidur, selain waktu tidurnya terpotong, kualitas tidur menjadi kurrang baik. Pagi hari sehabis bangun tidur, tubuh tidak bugar melainkan keletiahan. Kondisi itu membuat aktivitas pada pagi harinya terganggu sehingga tidak optimal. Karena mengantuk dan tubuh kurang bugar, maka tidak akan maksimal saat bekerja. Akibatnya, produktivitas kerja akan menurun.

Dampak lainnya ialah depresi. Bila terus dibiarkan, gangguan itu bisa menyebabkan depresi. Ada pasien depresi yang tidak bisa tidur beberapa waktu. Bayangkan, apa akibat dari tidak bisa tidur dalam jangka waktu panjang. Semua aktivitasnya jelas terganggu.

Untuk meringankan gangguan ini, cara sederhana bisa dilakukan seperti :

  • Pemijatan kaki menjelang tidur
  • Rendam kaki dalam air hangat
  • Memakai kaos kaki ketat
  • Kaki dikompres dengan air hangat atau dingin
  • Atur jadwal tidur dengan teratur
  • Untuk melancarkan aliran darah, perlu olahraga teratur
  • Lakukan pengobatan komplementer, seperti perana, yoga, dan akupuntur. Pengobatan-pengobatan jenis ini dilaporkan dapat membantu mengurangi gangguan.
  • Selain pengobatan komplementer, ada juga suplemen yang dilaporkan mampu meminimalisir gangguan, yaitu zat besi dan asam folat. Namun sebelum mengonsumsi suplemen-suplemen tersebut, penderita disarankan untuk mengonsultasikan terlebih dulu dengan dokter.

Bila gangguan dirasa sudah terlampau mendorong dan tidak mungkin lagi ditolong dengan cara-cara tersebut di atas, harus dibantu dengan pemakaian obat-obatan. Pemakaian obat tidak pperlu dalam jangka waktu panjang. Jika gangguan sudah berkurang, obat bisa dihentikan. Pada saat pengobatan itu, dokter juga akan mencari penyebabnya. Jika penyebabnya diketahui, misalnya kekurangan zat besi, maka dokter akan memberikan tambahan zat besi. Bila kebutuhan zat besi sudah dipenuhi maka gangguan itu akan hilang sendiri.

 

Sleep Apnea Meningkatkan Resiko Kematian Hingga 46%

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Naresh Punjabi dan kawan-kawan dari Johns Hopkins University menemukan bahwa resiko kematian pada penderita sleep apnea berat adalah 46%. Resiko ini jelas nampak pada pria usia 40-70 tahun.

Mereka mengatakan bahwa orang-orang dengan gangguan nafas selama tidur ini mempunyai resiko lebih tinggi untuk mengalami kematian oleh berbagai sebab dibandingkan dengan orang lain yang tidak menderita sleep apnea.

Sleep apnea adalah sebuah gangguan tidur berbahaya yang ditandai dengan tidur mendengkur dan rasa kantuk berlebih di siang hari. Lebih jauh lagi, sleep apnea mengakibatkan hipertensi, berbagai gangguan jantung, diabetes dan stroke. Sleep apnea terjadi akibat penyempitan saluran nafas selama tidur. Akibatnya pasokan oksigen akan berulang kali terhenti sepanjang malam.

Penelitian yang diterbitkan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia pada Public Library of Science journal PLoS Medicine ini meneliti 6.400 orang selama 8 tahun. Mereka yang telah terdiagnosa dengan sleep apnea berat lebih rentan 46% mengalami kematian oleh berbagai sebab.
Dalam populasi penelitian, diantara pria, 42,9% tidak mempunyai gangguan nafas selama tidur, 33,2% terdiagnosa dengan sleep apnea ringan, 15,7 % sedang dan 8,2%-nya mengalami sleep apnea yang parah. Sedangkan pada wanita 25% diantaranya terdiagnosa dengan sleep apnea ringan, 8% sleep apnea sedang dan 3% nya sleep apnea berat.

Menurut para peneliti tersebut, mereka yang dengan sleep apnea berat, dapat berhenti nafas selama 20-30 detik dan terbangun (namun tidak sampai tersadar dari tidur.) Derajat keparahan sleep apnea dilihat dari jumlah henti nafas perjam (AHI/apnea hypopnea index) dimana 0-5 kali perjam artinya mendengkur normal tanpa henti nafas, 5-15 kali perjam sleep apnea ringan, 15-30 kali perjam sleep apnea sedang dan lebih 30 kali perjam berarti sleep apnea berat. Pemeriksaan tidur dilakukan di laboratorium tidur dengan menggunakan alat polysomnography (PSG.)

Dibandingkan dengan pengalaman kami di Mitra Kemayoran, sleep apnea terberat pernah mencapai 109 kali perjam dengan durasi henti nafas terlama mencapai 120-an detik dan kadar oksigen terendah mencapai kurang dari 50%! Tentu saja ini amat berbahaya.

Data dari the National Heart, Lung, and Blood Institute menyebutkan bahwa 12 juta penduduk dewasa Amerika menderita sleep apnea. Sedangkan menurut the National Sleep Foundation diperkirakan mencapai 18 juta orang. Sayangnya di Indonesia belum ada penelitian berskala nasional yang memperhatikan gangguan tidur yang fatal ini. Mengingat struktur rahang ras Asia yang lebih sempit, dicurigai Indonesia memiliki lebih banyak penderita sleep apnea.

Menurut Dr. David Rapoport dari New York University yang juga turut serta dalam penelitian, perawatan terbaik saat ini adalah dengan menggunakan CPAP (continuous positive airway pressure), berupa masker yang memberikan udara bertekanan untuk membuka saluran nafas selama tidur. Sementara alternatif lainnya merupakan pembedahan, termasuk didalamnya pengangkatan amandel jika diperlukan. Pilihan lain adalah dengan menggunakan alat mulut yang bisa mendorong rahang bawah maju.

Kafein, dan Masyarakat Pecandu Stimulan

Masyarakat kita adalah masyarakat pecandu stimulan. Lihat saja, betapa mudah kita menemukan dan menikmatinya setiap hari. Anda tahu stimulan apa? Kopi.

Alkisah, seorang penggembala Ethiopia bernama Kaldi melihat salah satu kambing gembalaannya mempunyai vitalitas luar biasa setelah mengunyah biji-bijian berwarna merah. Kambing itu seolah menari-nari dari satu tanaman kopi ke tenaman kopi yang lain, sehingga kisah ini juga dikenal sebagai kisah “Kambing yang Menari.” Sejak saat itu pula kopi mulai digunakan sebagai stimulan pembangkit semangat dan mempertahankan vitalitas. Para pejuang Ethiopia dikenal dengan kebiasaan mereka mengunyah biji kopi yang telah digiling dan dicampur dengan lemak sebagai bekal perjalanan jauh ataupun untuk meningkatkan semangat dalam berperang.

Maka kopi pun mulai dikenal di benua Afrika. Pada perkembangan selanjutnya, kopi mulai dinikmati sebagai minuman di dunia Islam. Bahkan kaum Sufi amat menyukai minuman ini karena efeknya yang menunda kantuk. Bersamaan dengan penyebaran Islam ke seluruh Asia, kopi pun ikut menyebar dan menjadi minuman populer di kalangan bangsawan muslim. Sementara ke belahan Barat, kopi turut dibawa dalam proses kolonialisme. Orang Barat menamai minuman ini dengan sebutan “Arabian Wine.”

Kafein

Kopi mendapatkan popularitas karena efeknya yang menunda kantuk, memberikan rasa senang dan bersemangat serta membangkitkan vitalitas peminumnya. Ini disebabkan oleh efek kafein pada Reticular Ascending System dan reseptor adenosin. Adenosin adalah zat yang menyebabkan kantuk. Dengan memblokir reseptornya, tubuh tidak bisa membaca adanya adenosin sehingga mengahalangi kantuk.

Kadar kafein mencapai puncaknya dalam 30-60 menit setelah dikonsumsi. Kadarnya akan tetap tinggi dalam darah selama 3 hingga 5 jam. Dosis setara dengan secangkir kopi (30-150mg) yang dikonsumsi sebelum tidur dapat memperpanjang waktu yang diperlukan untuk tidur dan juga mengganggu proses tidur itu sendiri. Gangguan proses tidur akibat kafein adalah buruknya kualitas tidur akibat tahapan tidur dalam (stage N3 sleep) yang memendek. Padahal tahap tidur dalam, sering juga disebut restorative sleep, adalah tahapan tidur penting dimana tubuh mengeluarkan hormon pertumbuhan yang berfungsi dalam perbaikan sel-sel tubuh yang rusak. Pada beberapa orang yang sensitif terhadap kafein, dengan konsumsi kopi di pagi hari sudah dapat mengganggu proses tidur di malam harinya.

Kafein dosis tinggi (> 6 cangkir kopi) dalam sehari dapat memperlambat metabolisme kopi sehingga kadarnya tetap tinggi di otak selama 9 hingga 15 jam. Sementara dengan dosis luar biasa, 100 cangkir (10 gram) sehari dapat menyebabkan kematian.

Efek samping dari kafein dosis tinggi antara lain:
• Kecemasan yang berkepanjangan.
• Sulit berkonsentrasi.
• Ketegangan otot.
• Peningkatan frekwensi berkemih (kencing.)
• Agitasi, terlalu bersemangat hingga serangan panik.
• Rasa pusing, kejang dan vertigo.
• Suhu tubuh meningkat.
• Disorientasi hingga paranoia.
• Jantung berdebar-debar.
• Mual
• Sulit tidur.

Efek Kafein

Efeknya pada kesehatan masihlah kontroversial, namun demikian kafein dapat juga digunakan untuk menangani kasus-kasus hipersomnia dimana penderitanya merasakan kantuk berlebih di siang hari. Namun demikian perlu ditekankan bahwa penggunaan kafein pada hipersomnia hanyalah perawatan simptomatis yang mengurangi gejala kantuk. Diperlukan pemeriksaan dan perawatan menyeluruh untuk mengatasi penyakit yang sebenarnya. Perawatan yang biasanya dilakukan di Sleep Disorder Clinic, diawali dengan pemeriksaan laboratorium tidur untuk mendeteksi gangguan yang diderita, lalu dilanjutkan dengan perawatan. Gangguan tidur yang dapat menyebabkan hipersomnia adalah sindroma tungkai gelisah, sleep apnea (mendengkur) dan narkolepsi.

Efek stimulan kafein memang tidak sekuat kokain maupun amphetamine (pil ekstasi,) namun ia tetap dapat menimbulkan ketergantungan. Penghentian konsumsi kafein secara mendadak akan membangkitkan efek kecanduan seperti rasa sakit kepala, vitalitas yang menurun, kantuk amat sangat serta depresi.

Konsumsi kopi untuk menahan kantuk saat bekerja pun tidak dianjurkan. Apalagi jika pekerjaan tersebut melibatkan pengoperasian alat berat atau mengendara. Karena kafein terbukti menghambat kantuk dan membuat orang merasa segar kembali, tetapi kemampuan mental serta refleks menjadi terganggu. Pekerja shift malam lebih banyak mengonsumsi kopi dibandingkan dengan pekerja biasa. Tetapi resiko untuk mengalami kecelakaan lalu lintas maupun di tempat kerja tidaklah berkurang. Sebuah penelitian lain yang dilakukan pada anggota Navy Seals Amerika menunjukkan bahwa konsumsi kafein setelah mengalami kondisi kurang tidur akan meningkatkan vitalitas dan kewaspadaan seseorang. Tetapi kemampuannya untuk menembak dengan tepat berkurang jauh.

Para pelajar yang suka mengonsumsi kopi untuk menahan kantuk juga perlu memperhatikan efek-efek tadi. Malam menjelang ujian, biasa diisi dengan belajar dan menghapal. Untuk memperpanjang waktu belajar, kopi pun diminum. Akibatnya walaupun kantuk hilang dan otak terasa segar, kemampuan untuk belajar sudah menurun. Dipagi hari dengan bermodalkan secangkir kopi lagi, ujian pun dijalani. Kemampuan otak untuk mengingat kembali hapalan biasanya tidak terganggu, tetapi kemampuan untuk memproses data hapalan secara kreatif jelas menurun. Akibatnya banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan baik. Apalagi ketika efek kafein mulai meninggalkan tubuh di siang harinya. Seluruh badan terasa tidak karuan, mata pun tak kuasa menahan kantuk. Ini disebabkan oleh hutang tidur yang menagih. Dengan demikian, jelas bahwa kafein tidak dapat menggantikan tidur.

Bagaimana dengan pengendara jarak jauh? Mengendara dengan kantuk, justru lebih berbahaya dibanding mengendara dalam kondisi mabuk. Kafein memang dapat menahan kantuk, namun tidak ada yang dapat mengembalikan kemampuan mental dan refleks mengendara, sebaik tidur. Untuk itu, jika Anda mengantuk saat mengendara, jalan terbaik adalah menghentikan kendaraan dan tidur sejenak selama 15-30 menit. Setelah bangun, barulah konsumsi kafein dan lanjutkanlah perjalanan.

Konsumsi Kafein

Kafein dapat dengan mudah didapatkan di masyarakat kita. Dengan mudah kita dapat menemukan gerai, cafe hingga warung yang menyajikan kopi. Bahkan secara sosial, kopi sudah dianggap sebagai minuman wajib dalam pergaulan. Tetapi kafein tidak hanya terdapat dalam kopi saja. Penganan modern banyak yang mengandung kafein tanpa kita sadari. Mereka adalah:
• Coklat
• Teh
• Minuman Kola (coca cola, dulu berisi kokain.)
• Beberapa jamu dan obat cina.
• Beberapa obat-obatan (obat flu atau penghilang sakit.)
• Obat pembangkit semangat.
• Minuman berenergi.

Kafein memang menyenangkan, tetapi bukannya tanpa efek samping. Sebab itu konsumsi kafein sebaiknya disertai dengan pengetahuan akan efek kafein terhadap tidur dan kesehatan secara umum sehingga konsumsinya dapat dijadwalkan dengan baik. Sebagai salah satu bahan stimulan, kafein juga tidak lepas dari efek adiksi (kecanduan.) Di kalangan kesehatan bahkan terdapat sebuah anekdot yang mengatakan, jika saja kafein baru ditemukan di masa ini badan FDA Amerika (POM di Indonesia,) pasti tidak akan meluluskannya sebagai bahan yang aman dikonsumsi.

Kopi, tidak sepenuhnya berefek buruk. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan efek yang positif bagi kesehatan seperti menurunkan resiko terserang kanker maupun gangguan jantung. Namun yang harus diperhatikan adalah waktu menikmatinya. Misalkan sepanjang hari butuh kafein agar dapat tetap bekerja dan tidak mengantuk, tentu ini menunjukkan adanya gangguan tidur yang harus diatasi. Mengingat daya kerja kafein yang mencapai belasan jam, tentu disarankan untuk hanya menikmati aroma kafein di pagi hari, bukan di sore hari.

Suami Pemalas? Sering Mengantuk?

Pasangan Anda pemalas? Ia enggan menemani berbelanja di akhir pekan, selalu mengantuk, sering tampak lesu, kurang motivasi, tak bersemangat serta kurang produktif. Jangan cepat-cepat menyebutnya sebagai pemalas. Perhatikan kebiasaan tidurnya, meskipun ia mudah sekali tertidur, ada kemungkinan besar ia menderita gangguan tidur!

Dita kesal sekali pada suaminya yang pemalas. Setiap pulang kerja ia selalu mengeluh lelah hingga harus tidur lebih awal, sedangkan di akhir pekan Dita sekeluarga hanya dapat bersenang-senang sebentar karena Mas Arif tersayang sudah terlalu lelah untuk meneruskan perjalanan.

Awalnya Dita dapat memaklumi sikap Arif karena ia tahu kesibukan suaminya di kantor. Ia berpikir, mungkin ini semua disebabkan oleh tekanan pekerjaan, dan padatnya lalu lintas Jakarta. Sampai suatu kesempatan ia mendengar kelakar rekan-rekan sekantor Mas Arif tentang bagaimana suaminya sempat tertidur di saat rapat. Dita pun mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang salah pada suaminya. Ia mulai memperhatikan kebiasaan-kebiasaan suaminya yang sering terlihat lesu dan kurang bersemangat itu. Salah satunya adalah sering buang air kecil di malam hari. Dita pun memikirkan kemungkinan Arif menderita diabetes.

Setelah menjalani pemeriksaan lengkap, dokter menyatakan Arif tidak menderita diabetes. Bahkan dokter menganjurkan agar Arif berkonsultasi ke Klinik Gangguan Tidur. Mereka amat terkejut ketika dokter di klinik tersebut menyatakan Arif menderita gejala gangguan tidur karena kantuk berlebih yang ia derita. Lebih terkejut lagi ketika dokter tersebut mengaitkan keluhan-keluhan Arif dengan hipertensi dan kebiasaannya mendengkur!

Hipersomnia

Selama ini kita memahami gangguan tidur sebagai insomnia semata. Ternyata kantuk berlebih yang juga dikenal sebagai hipersomnia juga merupakan suatu gejala gangguan tidur. Hipersomnia sering kita abaikan karena kita tidak terbiasa memperhatikan kesehatan tidur kita. Padahal tren kesehatan dunia kini amat memperhatikan kesehatan tidur sebagai parameter kesehatan seseorang. Prof. William Dement, yang juga dikenal sebagai bapak kedokteran tidur, menyatakan bahwa lebih mudah memprediksi status kesehatan seseorang dari kebiasaan tidurnya dibanding dari diet atau olah raga yang dilakukannya.

Hipersomnia merupakan tanda seseorang menderita gangguan tidur. Mulai dari kurangnya jumlah tidur hingga gangguan tidur yang lebih serius seperti Sleep Apnea, Sindroma Tungkai Gelisah hingga Narkolepsi.

Penderita hipersomnia sering kali menyangkal dirinya mengantuk berlebihan, padahal kantuk pada jam-jam setelah makan siang merupakan salah satu tanda awalnya. Ya, kantuk di siang hari tidak ada kaitannya dengan perut yang kenyang. Jam biologis yang mendorong seseorang untuk tetap terjaga memang menurunkan kesiagaannya  pada jam-jam tersebut. Tetapi pada kondisi normal, seharusnya kita tidak mengantuk. Kita mengantuk karena hutang tidur yang kita tanggung. Hutang tidur bisa diakibatkan karena tidur kita yang kurang pada malam sebelumnya atau tidur kita cukup tetapi kualitasnya buruk. Salah satu tandanya adalah rasa kurang segar saat bangun pagi walaupun tidur sudah cukup lama. Manifestasi yang semakin berat biasanya berupa sakit kepala di pagi hari.

Sleep Apnea

Penderita gangguan tidur seperti Arif. Walaupun sudah cukup lama tidur (normal 8 jam sehari,) bahkan terkadang lebih, masih merasa tidak segar di pagi hari. Apalagi di siang hari, rasa lelah terus merongrong aktifitasnya. Untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan ia memerlukan usaha dua kali lipat dibanding orang lain. Ditambah dengan beban hutang tidur, tak heran apabila ia selalu merasa lelah. Di kantor ia juga dikenal sebagai pimpinan yang galak karena emosinya yang labil. Semua ini menurunkan kualitas hidupnya.

Arif masih beruntung karena ia seorang pekerja kantor. Paling buruk, ia tertidur di saat rapat. Bayangkan jika ini terjadi pada seorang pilot atau buruh yang mengoperasikan mesin. Pada tahun 2003 terjadi kecelakaan Shinkansen (kereta cepat) di Osaka (Japan Times, March 3rd, 2003.) Si masinis tetap bertugas walaupun dalam kondisi mengantuk. Telah lama ia merasa selalu lelah dan mengantuk, namun semuanya dianggap wajar dan dapat diatasi dengan bercangkir-cangkir kopi. Tetapi hari itu ia tertidur selama 8 menit. Tidak ada kopi maupun minuman berenergi yang dapat menolong. Untunglah tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Tetapi kejadian ini menguak sebuah kenyataan bahwa si masinis ternyata menderita sleep apnea, yang ditandai dengan kantuk berlebihan dan tidur mendengkur!

Arif lalu menjalani pemeriksaan Polisomnografi (PSG) di laboratorium tidur. Hasilnya ia menderita Obstructive Sleep Apnea yang parah. Dalam tidurnya ia berhenti nafas rata-rata 52 kali per jam. Bahkan satu kali Arif pernah berhenti nafas selama 73 detik. Satu menit lebih! Dalam keadaan sadar, kita tidak akan dapat menahan nafas selama ini. Belum lagi kadar oksigen darahnya yang menurun drastis selama henti nafas.

PSG adalah standar emas pemeriksaan untuk mendiagnosis berbagai gangguan tidur. Tanpa pemeriksaan ini, dokter akan mengalami kesulitan dalam melakukan terapi karena tidak adanya diagnosis yang jelas.

Setelah diterapi beberapa waktu, Dita amat puas melihat perubahan pada Arif. Suara dengkuran tak lagi terdengar. Dan seolah suaminya mendapatkan kehidupannya kembali. Walaupun terkadang masih mengantuk di siang hari, Arif sudah bisa merasakan kualitas tidur yang baik. Di pagi hari suaminya tampak selalu segar dan bersemangat. Setiap pekerjaan diselesaikannya dengan baik dan memuaskan. Predikat galak-pun perlahan menghilang dari obrolan kantor. Hipertensi yang sudah lama diderita perlahan kembali normal. Dosis obat yang harus diminum tiap hari pun perlahan diturunkan dibawah pengawasan dokter. Yang paling membahagiakan, kini Arif memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama keluarga tercinta.

Kenali Gejala Gangguan Tidur sejak Dini

Koran Jakarta, Kamis, 19 Nopember 2009

Sering dijumpai, banyak orang berupaya untuk membuat tubuhnya terus bugar dengan mengabaikan aktivitas tidur.

Mereka kerap hanya mengonsumsi berbagai vitamin penjaga stamina tubuh, kafein, cokelat, dan obat-obatan yang terkategori sebagai penstimulan.

Namun, sebenarnya zat-zat itu hanya dapat menghilangkan kantuk tanpa bisa mengembalikan kebugaran mental dan daya tahan tubuh seseorang. Tidak ada satu pun zat yang dapat menggantikan efek pemulihan dari tidur.

Sedemikian pentingnya proses tidur hingga menyebabkan bayi yang baru lahir menghabiskan waktu selama 22 jam dalam sehari untuk tidur. Hal itu untuk menjamin proses tumbuh kembang yang normal. Tidak hanya itu, sistem daya tahan tubuh manusia hanya bekerja optimal pada saat tidur.

Pada kenyataannya, tidak sedikit orang yang berada dalam kondisi letih tidak merasakan kantuk. Jika kondisi itu terjadi, mesti diwaspadai sebagai salah satu gejala insomnia. Resti Muliawan, pegawai biro advertising di Jakarta, mengakui setidaknya empat kali dalam sepekan dia merasakan kesulitan tidur.

“Padahal sudah capek banget, pulang kerja inginnya langsung tidur, tetapi mau tidak mau harus terjaga sampai jam 2 pagi. Besoknya, jam 6 pagi harus bangun lagi. Rasanya rontok badan ini,” keluhnya.

Insomnia terbagi ke dalam dua jenis, yaitu transient insomnia dan insomnia jangka pendek. Transient insomnia ialah kesulitan tidur hanya beberapa malam. Sedangkan insomnia jangka pendek merupakan kesulitan tidur yang berlangsung selama dua hingga empat pekan.

Kedua jenis insomnia itu biasanya menyerang orang yang sedang mengalami stres, berada di lingkungan yang ramai, atau berada dalam penyesuaian waktu yang berbeda hingga mengakibatkan jetlag.

Jika hampir setiap malam seseorang mengalami kesulitan tidur dalam jangka waktu lama, orang itu berarti telah menderita insomnia kronis.

Ada beberapa hal penyebab insomnia kronis, di antaranya ialah depresi, penyalahgunaan kafein, alkohol, dan melakukan kegiatan malam hari.

Menurut Andreas Prasadja, ahli kesehatan tidur pertama di Indonesia dari RS Mitra Kemayoran, Jakarta, banyak hal bisa dilakukan untuk mencegah insomnia.

Salah satunya, tidak mengonsumsi kafein dalam jangka waktu sembilan jam sebelum tidur. Pasalnya, kafein yang turut mengalir ke dalam darah akan hilang dalam waktu 9 sampai 12 jam.

Hal lain yang mesti dihindari ialah melakukan olah raga kurang dari tiga jam sebelum tidur. “Olah raga memang membuat tubuh lelah, tetapi justru meningkatkan kadar adrenalin yang menyegarkan otak.

Dan yang terpenting satu jam sebelum tidur, tinggalkan semua pekerjaan dan biasakan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran dengan kegiatan-kegiatan menyenangkan namun bersifat santai,” papar Andreas yang kerap dipanggil Ade itu.

Selain insomnia, gangguan tidur lainnya yang juga kerap membahayakan kesehatan ialah sleep apnea atau henti napas.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat, menemukan risiko kematian pada penderita sleep apnea berat mencapai 46 persen. Risiko terbesar menimpa kaum pria yang berusia 40 hingga 70 tahun.

Para peneliti itu menyatakan orang-orang yang mengalami gangguan napas selama tidur berisiko lebih tinggi mengalami kematian ketimbang mereka yang tidak menderita sleep apnea. Gangguan itu terjadi akibat penyempitan saluran napas selama tidur. Alhasil, pasokan oksigen akan berulang kali terhenti sepanjang malam.

Ketika tidur, saluran napas melemah hingga menyempit. Saat menyempit itulah aliran udara terhambat sehingga menggetarkan dinding saluran napas yang lembek.

Kondisi itu menimbulkan suara dengkuran. Dalam proses tidur selanjutnya, jalan napas yang melemah itu dapat menyempit total hingga mengakibatkan tersumbatnya jalan napas.

Hingga saat ini tidak ada obat yang bisa menghilangkan pelbagai gangguan tidur, selain melakukan operasi pembukaan saluran napas ataupun penggunaan alat Continuous Positive Air Way Pressure (CPAP).

Alat itu, kata Ade, merupakan alat yang memberikan dorongan untuk membuka saluran pernapasan yang menyempit. Bentuk CPAP mirip masker yang dilengkapi tabung kecil untuk memompa udara bertekanan positif ke dalam saluran pernapasan.

Mengingat belum adanya obat yang manjur untuk mengatasi berbagai gangguan tidur, Ade menyarankan sebaiknya setiap orang segera tanggap mengenali gejala-gejalanya. Dengan demikian, gangguan tidur pun bisa diatasi sedini mungkin.

link: http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=38144

Tidur Mendengkur Dapat Picu Hipertensi

Republika, Selasa, 03 Maret 2009

Pada sebagian orang, tidur masih kerap dianggap kegiatan yang tidak terlalu penting. Di kota besar seperti Jakarta, misalnya, tuntutan hidup dan tingginya kesibukan masyarakat membuat banyak orang kurang memperhatikan pentingnya kualitas dan kuantitas tidur. Padahal, sebenarnya tidur memiliki banyak sekali manfaat bagi kesehatan manusia. Banyak kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan hanya dapat dilakukan oleh tubuh hanya sewaktu kita berada dalam keadaan tidur.

”Ketika kita tidur tubuh mengalami perbaikan dan pembentukkan sel tubuh yang rusak. Tidur juga dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh,” ungkap dr Andreas Prasadja RPSGT, sleep technologist dari RS Mitra Kemayoran, Jakarta.
Menurutnya, khusus pada anak-anak, ketika mereka tertidur dalam tahapan tidur dalam, hormon pertumbuhan yang berguna dalam proses tumbuh kembang dikeluarkan. ”Ketika kita tidur dalam keadaan bermimpi, kemampuan konsentrasi, kreativitas, kognitif, dan kematangan mental pun sedang dikembangkan dengan lebih optimal,” lanjut lulusan FK Unika Atmajaya dan sleep technologist dari Sydney, Australia, ini.

Manfaat tidur secara optimal dapat dihasilkan jika jam tidur dan kualitas tidur dipenuhi dengan baik.”Tidak benar jika ada yang mengatakan kualitas tidur lebih penting dari kuantitas tidur. Kualitas dan kuantitas tidur sama pentingnya untuk diperhatikan,” tegas dokter yang berpraktik sejak tiga tahun lalu ini.

Kebutuhan tidur setiap orang tergantung pada usia. Pada anak yang duduk di sekolah dasar, kebutuhan jam tidur setiap hari lebih kurang 10 hingga 11 jam. Remaja hingga dewasa muda membutuhkan waktu tidur antara delapan hingga sembilan jam per hari. ”Pada orang dewasa, kebutuhan jam tidur berkurang menjadi hanya delapan jam per hari. Prinsipnya, semakin tua seseorang, semakin berkurang kebutuhan jam tidurnya,” tutur Andreas.

Dua pantangan
Menurutnya, ada dua pantangan utama yang harus dihindari saat seseorang ingin tidur. Pertama, hindari terjaga di tempat tidur, dan kedua, usahakan berada dalam kondisi rileks ketika berada di tempat tidur. ”Pada pola tidur sederhana, harus terjadi penurunan ketegangan dari segala kegiatan yang dilakukan sebelum tertidur,” ungkapnya. Menurutnya, parameter yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas tidur secara awam adalah bila kita terbangun dalam keadaan segar. Sedangkan parameter dari segi kedokteran adalah tercapainya semua tahapan tidur, dari mulai tidur pada tahap awal, hingga tidur dalam tahap terdalam.

Meremehkan fungsi tidur dapat memicu terjadinya berbagai gangguan tidur yang berujung pada timbulnya berbagai penyakit degeneratif seperti hipertensi, stroke, dan diabetes. ”Hipertensi dapat dipicu secara langsung oleh tidur mendengkur. Ketika mendengkur, terjadi henti napas saat tidur. Ketika napas kita terhenti, tanpa kita sadari otak kita terbangun sesaat. Repotnya hal ini terjadi berulang-ulang sepanjang malam,” jelas Andre. Di Australia, lanjutnya, tidur mendengkur menjadi parameter pertama terjadinya hipertensi.

Mendengkur disebabkan oleh adanya penyempitan jalan napas ketika kita tertidur yang akhirnya memicu adanya penyumbatan. ”Mendengkur juga dapat disebabkan oleh adanya kelainan struktur anatomis pada daerah rahang,” jelas Andreas. Memang belum dapat ditentukan rentang waktu yang diperlukan sebagai manifestasi hipertensi akibat mendengkur, tapi mendengkur merupakan salah satu penyebab langsung terjadinya hipertensi.

Konsep kesehatan secara keseluruhan, lanjut Andre, adalah pemenuhan nutrisi dengan menerapkan pola berimbang, berolah raga, dan tidur yang sehat. ”Hingga saat ini tidak ada satu zat pun yang dapat menggantikan manfaat tidur,” ujarnya. Menurutnya, dengan memperhatikan pemenuhan kuantitas dan kualitas tidur yang baik, kualitas hidup dan keseimbangan emosional kita pun dapat terjaga dengan lebih baik. ci2