Kesehatan Tidur di Motion 97.5FM

Bincang-bincang tentang kesehatan tidur di Motion 97.5FM

 

 

 

 

Anda Mengantuk ?

Mengantuk itu bukan sifat pemalas, itu artinya Anda butuh tidur lebih banyak. Jika tidur sudah cukup, Anda tidak akan merasa mengantuk dan produktivitas juga akan meningkat.

Nah, berikut ini adalah tanda Anda membutuhkan tidur:

  1. Anda membutuhkan alarm untuk bangun. Jika sudah cukup tidur, Anda dapat bangun tepat waktu tanpa perlu alarm. Apabila Anda memerlukan beberapa kali bunyi alarm sampai akhirnya bangun, berarti kekurangan tidur cukup parah!
  2. Mengendara sambil mengantuk. Apapun moda kendaraannya, mengendara merupakan aktivitas monoton yang memicu kantuk. Namun penyebabnya sendiri jelas tidur yang kurang. Mengendara saat mengantuk merupakan penyebab utama kecelakaan lalu lintas.
  3. Sering berdekatan dengan coffee maker. Menikmati aroma kopi di pagi hari memang nikmat, tetapi jika sepanjang hari membutuhkan kafein untuk tetap beraktivitas jelas ada yang salah dengan tidur Anda.
  4. Sering membuat kesalahan. Ketika lelah dan mengantuk tentu saja jadi sulit berkonsentrasi. Ketelitian juga menurun drastis, akibatnya satu pekerjaan jadi tertunda akibat kesalahan-kesalahan yang dibuat.
  5. Jadi pelupa. Keadaan kurang tidur akan menurunkan kemampuan mengingat, terutama ingatan jangka pendek seperti lupa menaruh kunci, lupa akan janji temu atau isi rapat.
  6. Anda mudah tersinggung dan marah. Kurang tidur juga menyebabkan mood kita terganggu. Akibatnya kita mudah jatuh dalam kondisi depresi, cemas atau frustasi.
  7. Sering sakit. Daya tahan tubuh hanya bekerja optimal pada saat tidur. Tanpa tidur yang cukup, tubuh akan sulit untuk melawan berbagai virus dan kuman.

Kurang tidur harus dipahami sebagai sebuah keadaan, bukan hanya kurangnya jam tidur. Kondisi kurang tidur bisa juga dialami oleh orang yang sudah cukup tidur, namun kualitas tidurnya yang kurang. Orang-orang ini merasakan gejala-gejala di atas, tapi tidurnya sudah cukup. Ini disebut sebagai kantuk berlebihan atau hipersomnia. Mereka selalu mengantuk dan lelah walau sudah cukup tidur.

Sindrom Tungkai Gelisah, kurangi kualitas tidur

Majalah Kartini, No.2268 / 15-29 April 2010

Gangguan tidur ada 99 macam. Sayangnya gangguan-gangguan itu kebanyakan tidak terdiagnosa, hingga keluhan terus bertambah hebat. Da samping insomnia, gangguan tidur juga sering terjadi ialah restless legs syndrome (RLS) atau yang disebut juga sebagai sindrom tungkai gelisah.

Gangguan ini terjadi di waktu malam hari saat seseorang akan tidur. Kondisi ini membuat penderita susah tidur. Biasanya penderita akan merasa tidak nyaman pada salah satu atau kedua kaki. Pada setiap orang keluhannya berbeda-beda. Ada yang merasa pegal, sakit, ngilu, nyeri, kesemutan, gatal, atau terasa ada yang merambat di kaki.

Keadaan tidak nyaman pada kaki tersebut merupakan keluhan khas RLS. Pada saat akan tidur, pasien mengalami rasa tidak enak pada kaki yang membuatnya harus menggerak-gerakkan atau berjalan terlebih dahulu. Bila pasien merasa nyaman , pasien akan kembali ke tempat tidur. Rasa nyaman pada kaki itu tidak berlangsung lama, sebab kejadiannya akan terulang lagi. Pada penderita susah tidur, biasanya kakinya akan bergerak setiap 8-10 detik. Dan setiap kali kaki bergerak, membuat penderita tersadar, walaupun tidak sampai terjaga.

Kebanyakan Menyerang Wanita

Penelitaian terhadap gangguan ini di Indonesia belum ada. Namun di luar negeri, seperti Singapura dan Australia, gangguan ini sudah diteliti sejak lama dan dialami sekitar 5% dari jumlah penduduknya.

Dari jumlah tersebut, penderita gangguan ini kebanyakan adalah wanita muda serta ibu hamil yang kekurangan zat besi dan vitamin B12. Kondisi kekurangan zat besi dan vitamin B12 ini hampir selalu dialami wanita pada umumnya. Kekurangan zat besi itu lantaran setiap wanita mengalami menstruasi. Banyaknya darah yang keluar setiap bulan saat menstruasi itu secara tidak langsung mempengaruhi jumlah zat besi. Karena itu wanita muda harus selalu memerhatikan kebutuhan zat besi di dalam tubuhnya.

Disamping menyebabkan gangguan ini, kekurangan zat juga dapat membuat wanita menderita anemia. Anemia ditandai wajah pucat, mudah letih, mata berkunang-kunang saat berdiri dari duduk, dan malas saat bekerja.

Pemenuhan kebutuhan zat besi itu bisa dilakukan dengan mengkonsumsi makanan yang kaya kandungan zat besinya, seperti daun papaya, bayam, daun singkong. RLS juga rentan menyerang lanjut usia, orang yang memiliki gangguan persarafan, payah ginjal, dan pasien yang sedang menjalani cuci darah.

Produktivitas Kerja Menurun

Akibat sering tersadar waktu tidur, selain waktu tidurnya terpotong, kualitas tidur menjadi kurrang baik. Pagi hari sehabis bangun tidur, tubuh tidak bugar melainkan keletiahan. Kondisi itu membuat aktivitas pada pagi harinya terganggu sehingga tidak optimal. Karena mengantuk dan tubuh kurang bugar, maka tidak akan maksimal saat bekerja. Akibatnya, produktivitas kerja akan menurun.

Dampak lainnya ialah depresi. Bila terus dibiarkan, gangguan itu bisa menyebabkan depresi. Ada pasien depresi yang tidak bisa tidur beberapa waktu. Bayangkan, apa akibat dari tidak bisa tidur dalam jangka waktu panjang. Semua aktivitasnya jelas terganggu.

Untuk meringankan gangguan ini, cara sederhana bisa dilakukan seperti :

  • Pemijatan kaki menjelang tidur
  • Rendam kaki dalam air hangat
  • Memakai kaos kaki ketat
  • Kaki dikompres dengan air hangat atau dingin
  • Atur jadwal tidur dengan teratur
  • Untuk melancarkan aliran darah, perlu olahraga teratur
  • Lakukan pengobatan komplementer, seperti perana, yoga, dan akupuntur. Pengobatan-pengobatan jenis ini dilaporkan dapat membantu mengurangi gangguan.
  • Selain pengobatan komplementer, ada juga suplemen yang dilaporkan mampu meminimalisir gangguan, yaitu zat besi dan asam folat. Namun sebelum mengonsumsi suplemen-suplemen tersebut, penderita disarankan untuk mengonsultasikan terlebih dulu dengan dokter.

Bila gangguan dirasa sudah terlampau mendorong dan tidak mungkin lagi ditolong dengan cara-cara tersebut di atas, harus dibantu dengan pemakaian obat-obatan. Pemakaian obat tidak pperlu dalam jangka waktu panjang. Jika gangguan sudah berkurang, obat bisa dihentikan. Pada saat pengobatan itu, dokter juga akan mencari penyebabnya. Jika penyebabnya diketahui, misalnya kekurangan zat besi, maka dokter akan memberikan tambahan zat besi. Bila kebutuhan zat besi sudah dipenuhi maka gangguan itu akan hilang sendiri.

 

Hilangkan Henti Nafas dengan CPAP

Majalah Dokter Kita, Januari 2010

Anda pernah mendengkur? Hati-hati. Bisa jadi Anda mengalami sleep apnea.

Sleep apnea atau lengkapnya Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah henti nafas saat tidur yang disertai dengan mendengkur. Menurut Praktisi Kesehatan Tidur, Dr. Andreas Prasadja, RPSGT, OSA dianggap berbahaya karena dapat menyebabkan beberapa penyakit seperti hipertensi, gangguan jantung dan storke. Bahkan berbagai penelitian pun menunjukkan hubungan erat antara diabetes dan sleep apnea.

Obstructive Sleep Apnea terjadi karena adanya penyumbatan jalan nafas. Penyumbatan jalan nafas ini bisa disebabkan oleh faktor anatomis jalan nafas, struktur rahang yang kecil dan neuromotor yang melemah.

Sedangkan anatomi jalan nafas yang sempit bisa disebabkan oleh bentuk leher yang pendek tetapi besar, besarnya pangkal lidah, melunaknya langit-langit mulut, pembesaran amandel dan adenoid, serta besarnya uvula atau anak lidah. Sementara struktur rahang yang kecil, seperti banyak terdapat pada orang Asia juga dapat mempersempit jalan nafas.

Suara dengkuran merupakan tanda penyempitan saluran napas atas. Ketika udara melawati saluran yang sempit, tekanannya akan meninggi. Tekanan inilah yang menyebabkan struktur jalan nafas yang lunak bergetar dan timbullah suara dengkuran.

Derajat Keparahan Sleep Apnea

Menurut Dr. Andreas, tidak semua jenis dengkuran itu sama. Ada orang yang mendengkur tanpa berhenti nafasnya dan ada juga yang dengan berhenti bernafas. Dengan berhenti nafas pun masih harus dibedakan lagi untuk menentukan derajat keparahan sleep apnea. Untuk mengetahuinya maka hanya dapat dilakukan dengan polisomnografi (PSG).

Derajat keparahan OSA diketahui dengan menghitung rata-rata jumlah berhenti nafas per jam (Apnea-Hypopnea Index/AHI). Pembagiannya sebagai berikut :
AHI 0-5/jam : normal, hanya mendengkur tetapi tanpa OSA.
AHI 5-15/jam : OSA ringan.
AHI 15-30/jam : OSA sedang, dan
AHI >30/jam : OSA berat.

Selain AHI, penurunan kadar oksigen dalam darah pun harus diamati. Sebab penurunan oksigen dihubungkan dengan meningkatnya angka kesakitan atau morbiditas akibat penyakit-penyakit kardiovaskular dengan OSA. Tak hanya itu, durasi periode berhenti bernafas juga harus diperhatikan. Untuk menilai gangguan pernapasan dalam tidur, syaratnya harus lebih dari sepuluh detik. Berhenti nafas yang berat bisa berlangsung lebih dari 30 detik, sedangkan yang terparah bisa mencapai 122 detik.

Penanganan Sleep Apnea
Seperti penanganan medis lainnya, perawatan sleep apnea juga dimulai dengan cara konservatif. Jika dinilai kurang memadai, maka dilanjutkan dengan tindakan invasif atau pembedahan.
Dijelaskan oleh Dr. Andreas, cara konservatif dimulai dengan usaha untuk menurunkan berat badan, tidur miring serta menghindari alkohol dan obat-obat hipnotik. Dengan tidur miring, maka lidah akan terjatuh ke samping sehingga tidak menghalangi jalan nafas. Efek alkohol memang dapat membantu awal tidur, tetapi juga dapat melemaskan otot-otot pernafasan sehingga dapat menyebabkan sleep apnea. Sementara itu, beberapa obat tidur pun dapat menghambat rangsang nafas.
Namun pilihan utama untuk merawat sleep apnea adalah dengan mengunakan masker hidung yang dihubungkan dengan unit Continuous Positive Airway Pressure (CPAP). Tantangan utama CPAP adalah perlunya pasien beradaptasi dengan masker dan tekanan dari alat.

Continuous Positive Airway Pressure pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Colin Sullivan di tahun 1981. Tahun 1985, CPAP sangat populer di kalangan medis sehingga digunakan secara luas di seluruh dunia. Sedangkan di Indonesia sendiri baru digunakan di tahun 2000-an. Kini CPAP menjadi standar emas bagi perawatan sleep apnea.
Meniupkan Udara Bertekanan Positif

Menurut Dr. Andreas, prinsip unit CPAP itu mudah. Alat tersebut akan meniupkan udara bertekanan positif untuk membuka sumbatan di jalan nafas. Dengan demikian, henti nafas yang menyebabkan proses tidur terpotong tidak terjadi.

Penggunaan CPAP memerlukan beberapa waktu untuk beradaptasi. Kebanyakan penderita dapat langsung merasakan manfaatnya. Namun edukasi tentang penggunaan, perawatan, dan cara beradaptasi menjadi sangat penting. Untuk itu, klinik gangguan tidur yang baik juga memiliki program CPAP trial, dimana tenaga kesehatan yang terlatih secara khusus dapat memperkenalkan dan melatih penderita menggunakan CPAP dengan baik dan nyaman.

Dr. Andreas mengatakan, pasien dengan OSA yang ringan, maka diindikasikan untuk menggunakan CPAP. Sedangkan untuk OSA sedang dan berat, maka diwajibkan untuk memakai CPAP.

Berbagai Jenis Masker
Dr. Andreas memberitahukan, ada berbagai jenis masker, yaitu :

1. Masker Hidung atau Nasal Mask. Ini adalah jenis masker yang banyak digunakan. Masker bisa menutupi hidung dengan sempurna dan menggunakan pengikat yang dapat menjaga masker tetap terpasang dengan baik selama tidur.

2. Masker Hidung & Mulut atau Full Face Mask. Masker jenis ini biasanya hanya diberikan pada penderita sleep apnea yang bernafas melalui mulut, meski telah mengenakan masker hidung.

3. Masker Bantalan Hidung atau Nasal Pillows/Cushions. Masker ini tidak menggunakan banyak pengikat ke kepala dan mempunyai bantalan khusus yang masuk ke lubang hidung. Biasanya digunakan oleh penderita yang memiliki rasa takut dengan penggunaan masker. Masker ini sering juga dipilih karena tidak terlalu banyak ikatan di kepala.

Selain itu, ada pula macam-macam CPAP seperti, Fixed yaitu CPAP dengan moda tekanan yang sama sepanjang malam; Auto-PAP yaitu CPAP dengan moda tekanan otomatis yang dapat disesuaikan sepanjang malam dengan kebutuhan pasien dan Bi-level PAP yaitu PAP dengan tekanan inspirasi (tarikan napas) dan ekspirasi (buang nafas) yang berbeda.

Dr. Andreas memberitahukan, CPAP ini dapat digunakan selama orang tertidur. Alat yang harga termurahnya sembilan jutaan ini minimal digunakan selama 4 jam dalam sehari. Dengan menggunakan CPAP, maka orang yang tadinya mendengkurpun menjadi tidak mendengkur sama sekali. Sehingga sleep apnea juga pastinya tidak terjadi. So.. jika Anda tidak ingin mengalami henti nafas, maka gunakan saja alat ini..tentunya dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter . Deppy Marlinda

Dengkuran Bukan Penanda Tidur Pulas

Sudah beberapa bulan ini Lina (27) mengenali suaminya tidur mendengkur keras sekali. Awalnya Lina menyangka sang suami kelelahan setelah seharian bekerja. Dondi (35) sang suami, adalah seorang manajer di sebuah perusahaan consumer good yang sangat sibuk. Hampir dipastikan setiap hari lembur.

Lina menandai sejak sering lembur tubuh Dondi melar alias menjadi gemuk. “Saya perhatikan kebiasaan mendengkur Dondi makin intens saat tubuhnya menggemuk,” ujar Lina, seorang ibu rumah tangga dengan 2 anak.

Namun anehnya, imbuh Lina, meskipun tidur sepanjang malam dengan mendengkur keras, Dondi tetap saja mengaku kurang tidur, akibatnya dia terbangun dalam kondisi yang tidak segar.

Kegemukan dan dengkuran memang berhubungan. Menurut Mayoclinic.com, timbunan lemak di sekitar saluran pernapasan bagian atas kemungkinan bisa mengganggu pernapasan sehingga menghasilkan bunyi dengkuran.

Kita seringg beranggapan bahwa tidur mendengkur pertanda seseorang tertidur pulas. Padahal tidak demikian lho. Ini pemahaman yang salah kaprah dan kerap menyesatkan. Tidur mendengkur sama sekali bukan pertanda tidur pulas, sebaliknya malah menjadi indikasi sleep apnea, istilah yang dipakai untuk merujuk pada gangguan tidur yang ditandai dengan mendengkur. Sleep apnea merupakan henti napas saat tertidur, tanpa si penderita menyadarinya.

Apa saja faktor risiko terjadinya sleep apnea? Coba cek daftarnya di bawah ini:
1. Kegemukan. Timbunan lemak di saluran pernapasan bagian atas akan mengganggu pernapasan. Namun tak semua orang yang mengalami sleep apnea berbadan gemuk. Si kurus bisa saja terkena sleep apnea,khususnya ras Asia.
2. Sleep apnea bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan, namun demikian lelaki yang mengorok jumlahnya dua kali lipat dibandingkan perempuan. Kaum Hawa peluang mengoroknya meningkat jika kelebihan berat badan dan setelah mengalami menopause.
3. Bentuk leher pendek. Ukuran leher mengindikasikan risiko seseorang terkena sleep apnea. Leher pendek membuat saluran napas menyempit. Jika tonsil atau adenoid membesar, halini akan menghalangi jalan napas, akibatnya keluar dengkuran.
4. Dengkuran akan makin sering, dua hingga tiga kali lebih tinggi, pada orang di atas usia 65 tahun
5. Orang yang mengonsumsi alkohol, sedatif atau obat penenang. Substansi yang dikandungnya melemaskan otot-otot di tenggorokan
6. Perokok tiga kali lebih besar berpotensi mengalami obstructive sleep apnea (OSA) dibandingkan mereka yang tidak pernah merokok. Merokok akan meningkatkan jumlah inflamasi dan retensi cairan di jalan napas bagian atas. Risiko ini menurun jika yang bersangkutan berhenti merokok.

Gejala awal dari sleep apnea adalah tidur mendengkur, sering buang air keci di malam hari, mulut terasa asam karena asam lambung meningkat, dan sering terbangun di malam hari karena tersedak akibat henti napas.

Kasus henti napas saat tidur ini tak boleh disepelekan. Pasalnya, saat jalan napas tersumbat, pasokan oksigen ke dalam darah dan otak pun berkurang sehingga memicu otak untuk terjaga.Tapi meski otak terjaga, orang itu tidak terbangun. Hal ini memotong proses tidur dan kualitas tidur menjadi buruk. Akibatnya, saat bangun jadi tidak segar, capek, sulit konsentrasi, masih mengantuk meski sudah tidur 8 jam, dan mengantuk di siang hari.

Menurut pakar tidur dr. Andreas Prasadja, dengkuran terjadi karena penyempitan jalan napas yang mengakibatkan udara tidak dapat masuk atau keluar. Gerakan napas akan menghebat karena sesak. Oksigen menurun sementara kadar kabondioksida meningkat, seseorang dengan sleep apnea biasanya ‘terbangun’ disertai suara entakan keras seolah napas baru terbebas.

Nah, episode bangun ini disebut sebagai episode bangun mikro karena walau gelombang otak terbangun, namun si pendengkur tidak terjaga. “Episode ini terus berulang sepanjang malam hingga mengganggu kualitas tidur. Akibatnya, ia akan terus berada dalam kondisi kurang tidur, walaupun sebenarnya sudah tidur cukup,” ujar Andreas yang berpraktik di RS Mitra Kemayoran Jakarta.

Sleep apnea, kata Andreas, tidak boleh dianggap sepele. Pasalnya pada orang dewasa bisa menjadi penyebab hipertensi, penyakit jantung, diabetes hingga stroke.

Apakah mendengkur hanya ‘konsumsi’ orang dewasa? Sayangnya tidak. Ada juga anak-anak yang mengorok. Anak yang mengorok bisa terganggu kecerdasannya karena terjadi pada malam hari saat di mana hormon pertumbuhan bekerja sangat aktif. “Intinya sleep apnea berpotensi menghambat tumbuh kembang anak jika tak ditangani dengan baik,” ujar dia.

Proses tidur amatlah penting bagi seorang anak, karena proses tumbuh kembang justru terjadi pada saat tidur. Pada tahap tidur dalam, dikeluarkan hormon pertumbuhan yang berperan dalam proses pertumbuhan. Sedangkan pada tahap tidur mimpi, dipercaya sebagai tahap tidur di mana kemampuan kognitif, mental dan emosional dijaga.

“Dengan adanya sleep apnea, proses tidur akan terpotong-potong. Akibatnya proses tumbuh kembang pun terganggu. Kecerdasan dan potensi-potensi mental lain yang seharusnya tumbuh dan berkembang saat tidur, tidak tumbuh,” tandas Andreas. Anak yang punya masalah tidur biasanya secara emosional labil, mudah marah dan rewel.

Nah, apakah hanya mereka yang berbadan gemuk yang cenderung mengorok? Ternyata tidak lho. “Orang Asia lebih cenderung mendengkur karena struktur rahang yang lebih sempit dan leher yang lebih pendek dibandingkan ras Eropa. Jadi penderita sleep apnea belum tentu bertubuh gemuk,” ujar Andreas.

Tidak semua dengkuran menjadi pertanda sleep apnea. “Untuk memastikannya harus dicek di laboratorium klinik tidur,” jelas Andreas. Dalam pemeriksaan, si pendengkur akan direkam fungsi-fungsi tubuhnya selama tidur sepanjang malam dengan menggunakan Apnea Hypopnea Index. Dari sini akan diketahui berapa kali dia mengalami henti napas setiap jamnya.

Lebih lanjut Andreas memaparkan, berat-ringannya sleep apnea bukan ditentukan oleh keras-lembutnya volume dengkuran, melainkan frekuensi henti napas yang terjadi setiap jam. Dan, jika terjadi 15–30 kali dalam satu jam sudah termasuk gangguan sedang, dan berat jika frekuensinya mencapai lebih dari 30 kali per jam.
”Makanya untuk mengetahui adanya gangguan, Anda bisa datang ke laboratorium tidur untuk direkam kondisi selama tertidur seperti pernapasan, gelombang otak dan jantung,”ungkapnya.

Lantas, bagaimana solusi mendengkur ini? “ Tidak ada obat untuk gangguan tidur. Jika ada henti napas, harus pakai alat disebut CPAP (continous positive airway pressure). CPAP mirip masker yang dilengkapi tabung kecil untuk memompa udara bertekanan positif ke dalam saluran pernapasan, bentuknya sangat fleksibel sehingga tidak menggangu tidur. Untuk mencegah terjadinya sleep apnea datang kembali, CPAP ini sebaiknya digunakan selama tidur,” papar Andreas seraya menambahkan solusi lainnya adalah dengan operasi.

Jadi olahraga tak bisa mengurangi dengkuran? “Tidak, kecuali kalau penyebab mengorok karena murni kegemukan,” tandasnya.

http://www.hidupgaya.com/index.php?action=content&id=2010021919075714

Mata yang Tak Pernah Lelah

Pekerja shift riskan menderita insomnia.

Koran Jakarta, Minggu, 18 April 2010

“Saya tidak bisa tidur, dokter,” seorang perempuan setengah baya mengeluh kepada Dr Andreas Prasadja RPSGT, sleep physician di Klinik Gangguan Tidur Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta. Tak tanggung-tanggung, perempuan itu juga mengaku, sepanjang setahun terakhir, dia tak pernah tidur pulas. Kasus yang cukup pelik. Serangkain wawancara kemudian dilakukan Andreas untuk mencari akar permasalahan pasiennya itu.

Pada satu sesi, Andreas curiga ketika sang pasien mengaku kerap memakai kaus kaki ketika hendak tidur. “Kenapa pakai kaus kaki? Dingin atau ada yang merasa tidak enak?” Tanya Andres. “Kaki Saya terasa sakit, dok,” jawab si perempuan. “Bingo!” batin Andreas yang yakin inti masalahnya ada pada kebiasaan itu. Dalam istilah kedokteran, gangguan tidur yang dialami pasien itu disebut Restless Leg Syndrome (RLS) atau sindrom tungkai gelisah.

« Tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan tempat tinggal, juga dapat berpotensi menderita insomnia sementara. »

RLS merupakan diagnosa banding terhadap insomnia, dengan gejala penderita merasa tidak nyaman dengan kakinya. Hal itu bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa seperti kesemutan, pegal hingga nyeri. Namun, si penderita kerap kesulitan menjelaskan sakit yang dia alami tersebut. “Tapi ciri pada umumnya, saat berbaring, kaki merasa tidak nyaman dan kerap digerak-gerakkan penderita karena berusaha untuk menghilangkan sakit itu.

Dan mereka suka mengenakan kaus kaki,” ujar Andreas. Lantaran merasa tidak nyaman tadi, penderita juga punya kebiasaan menjulurkan kaki ke lantai, menepuk-nepuknya berharap sakit dapat hilang atau bangun dari ranjang untuk berjalan beberapa langkah. Tentu, sesekali sakit itu meredup dan penderita berusaha tidur lagi.

Namun ketika berbaring beberapa menit, nyeri itu muncul lagi dan itu terjadi berulang kali sepanjang malam. “Akibatnya, mereka sama saja tidak tidur,” ujar Andreas. Ada pula ciri lain yang melekat pada penderita RLS. Mengigau, ya, berceloteh tanpa sadar itu bisa dikatakan kebiasaan lainnya. Kemudian kerap diikuti mendengkur atau mengalami sleep apnea alias berhenti napas beberapa saat ketika tidur. RLS, dalam istilah Andreas ibarat sleep disorder in disorder. Apa yang dialami pasien Andreas itu, dalam skala terbatas sebenarnya kerap menghantui banyak orang. Tidak percaya? Pernahkah Anda mendengar istilah insomnia? Ya, sederhananya seperti itulah RLS.

Sementara dan Permanen

Secara umum, insomnia dibagi menjadi dua kelompok; Insomnia sementara dan insomnia permanen. Beberapa hal yang menyebabkan insomnia sementara antara lain; Kesulitan tidur yang diakibatkan ketidakstabilan emosional, mengalami stres, kesedihan atau bahkan perasaan girang yang berlebihan. Insomnia kelompok ini dapat dipicu beberapa hal. Misalnya, para pekerja yang memakai aturan shift, memiliki peluang yang cukup besar menderitanya. Hal itu karena biologis tubuh dipaksa bangun dalam kondisi yang tidak sesuai atau tidak normal dengan jam biologisnya.

Tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan tempat tinggal, juga dapat berpotensi menderita insomnia sementara. Biasanya hal ini terjadi bagi mereka yang semula tinggal di daerah yang lengang dan tenang, mendadak harus pindah ke tempat tinggal yang berisik seperti di pusat kota.

Sedangkan insomnia pemanen dapat disebabkan gastroesophagel refl ux atau naiknya asam lambung saat berbaring. Bisa pula berasal dari sindrom tungkai gelisah atau RLS tadi atau bersamaan dengan sleep apnea yang menimbulkan nyeri dan membuat penderitanya tidak bisa tidur. Kondisi psikologis yang tidak stabil dan depresi juga dapat memicu si penderita yang seakan matanya terus terjaga, padahal fi siknya sudah meronta dan lelah ini.

Berdasarkan hasil penelitian di Amerika Serikat, hampir sepertiga penduduk negeri Paman Sam itu, menderita gangguan tidur. Sementara di Indonesia, gangguan tidur menyerang lantaran pola jam kerja yang bervariasi. Pekerjaan-pekerjaan yang mengakibatkan terganggunya siklus tidur besar kemungkinan menjangkiti profesi perawat, dokter, dan petugas keamanan. Bahkan penelitian lain menyebut bahwa 70 persen perawat di Jakarta mengalami insomnia.

Mendengkur

Menghadapi penderita gangguan tidur, menurut Andreas perlu dilakukan tindakan yang bertahap. Gejala gangguan tidur itu tidak bisa sekaligus dihilangkan. Tapi satu per satu. Bagi penderita RLS, misalnya, Andreas sangat memprioritaskan agar si penderita secara bertahap dapat merasakan tidur yang lebih nyaman. Tindakan pertamanya adalah berupa menghilangkan kebiasaan ngorok alias mendengkur tadi. “Hal ini agar kualitas tidur si penderita membaik,” ujar dia. Bila hal itu sudah tercapai, tindakan selanjutnya adalah menerapi RLS itu. Caranya dengan bantuan neurolog, ahli saraf. Hal ini karena gangguan tidur erat kaitannya dengan kondisi psikis seseorang yang dianggap tidak normal atau labil. Parameter keberhasilan terapi saraf ini adalah si pasien tidak akan mengigau lagi selama tidur. Selain itu, sebenarnya ada beberapa cara yang dapat dilakukan penderita secara mandiri untuk membantu penyembuhannya. Hal itu bisa dilakukan dengan cara membiasakan diri dengan pola hidup normal dan sehat. Konkretnya, misalnya, dengan pola tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap harinya. Olahraga teratur setiap pagi dan membiarkan tubuh terpapar Matahari juga akan lebih baik. Hal itu juga perlu dukungan dari lingkungan yang kondusif. Misalnya, dengan membuat kamar tidur dan ranjang senyaman mungkin, menjaga suhu udara dan aliran udara di kamar dengan pas dan baik. Termasuk sangat disarankan tidur dengan kondisi penerangan yang minim atau bahkan gelap sekaligus. Membiasakan diri mandi dengan air hangat, mendapatkan pijatan atau meditasi sebelum tidur, juga sangat membantu agar tidur pulas tercapai. _ teguh nugroho

Link: http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=50136

Sleep Disorder Clinic, Solusi Atasi Gangguan Tidur

HEALTH CHECK, Tabloid Mom & Kiddie, Edisi 20 TH IV (26 April – 9 Mei 2010)

RS Mitra Kemayoran Jakarta
Sleep Disorder Clinic, Solusi Atasi Gangguan Tidur

Teks: Dian Wisudani Foto: Aris Margono

Pernahkah Anda merasa kantuk berlebih pada siang hari? Selalu merasa lelah? Apakah daya ingat Anda menurun atau konsentrasi menurun? Apakah vitalitas dan motivasi Anda terasa menurun? Atau tidur Anda mendengkur? Tenang! Kini telah hadir Sleep Disorder Clinic dengan slogan One Stop Diagnostic and Treatment di RS Mitra Kemayoran Jakarta akan membantu Anda mengatasi segala gangguan tidur. Benarkah? Seperti apa ya terapi? Yuk simak, kutipan berikut!

Klinik Tidur Pertama di Indonesia

Berangkat dari kurangnya perhatian masyarakat kita terhadap kesehatan tidur, RS Mitra Kemayoran Jakarta berinisiatif membuka Laboratorium Tidur (Sleep Laboratory). Tepatnya, tahun 2002 Laboratorium Tidur resmi dibuka. Sayang, saat itu belum ada dokter yang khusus menangani kesehatan tidur. Sehingga fungsi Laboratorium Tidur belum berjalan optimal. Laboratorium Tidur mulai dikembangkan menjadi Klinik Gangguan Tidur (Sleep Disorder Clinic) sebagai klinik terpadu pertama di Indonesia yang memberikan perhatian khusus dalam menangani gangguan tidur sejak kehadiran dr. Andreas Prasadja, RPSGT. Semua ini berawal dari dirinya yang diperkenalkan kedokteran tidur oleh pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Kebetulan saat itu, rumah sakit sudah memiliki laboratorium tidur namun belum ada dokternya. Akhirnya, dr. Andreas diminta untuk mempelajarinya. Singkat cerita pria kelahiran 16 Mei 1975 silam ini berhasil mengikuti ujian tentang kesehatan tidur dan mendapatkan gelar RPSGT (Registered Polysomnographic Technologist) di Amerika Serikat tahun 2008. Dan ternyata, dr. Andreas adalah dokter tidur pertama di Indonesia. So, Moms or Dads bahkan si buah hati yang punya masalah dengan gangguan tidur akan ditangani langsung oleh seorang dokter yang telah diakui kemampuannya baik di dalam maupun di luar negeri. Seru bukan!

Di klinik ini, Moms or Dads juga si buah hati akan diberikan pelayanan seperti konsultasi, edukasi, pemeriksaan hingga perawatan secara lengkap untuk mengatasi berbagai gangguan tidur. Pun didukung perawat yang sudah terlatih khusus menangani pasien di klinik tersebut.

Dari Mendengkur Sampai Insomnia

Gangguan tidur seperti mendengkur, sindroma tungkai gelisah, narkolepsia dan insomnia mendapat perhatian khusus klinik tersebut. Mendengkur misalnya, dianggap hal biasa bagi kebanyakan orang. Dengkuran yang keras sering diasosiasikan tidurnya sangat lelap. Tapi tahukah Anda ada bahaya yang mengancam dibalik dengkuran saat tidur. Bahaya ini tidak hanya mengincar orang dewasa, pun pada anak-anak harus diwaspadai. Bahaya tersebut dikenal dengan sebutan Obstructive Sleep Apnea (OSA) yakni henti nafas waktu tidur yang disebabkan oleh menyempitnya jalan nafas. Periode henti nafas yang terjadi akan mengakibatkan terpotongnya proses tidur. Hanya saja, pada orang dewasa akan tampak sebagai kantuk berlebih, pada anak-anak justru semakin aktif untuk melawan rasa kantuknya. Gejala-gejala OSA pada anak-anak diantaranya; mendengkur, tampak sesak saat tidur, kantuk berlebih pada siang hari, bernafas lewat mulut, pembesaran amandel dan adenoid, gelisah saat tidur, gangguan perilaku seperti sifat agresif, hiperaktif dan sulit berkonsentrasi.

OSA pada anak dapat mengganggu proses pertumbuhan. Karena, saat tidur dalam tubuh anak akan mengeluarkan hormon pertumbuhan yang penting dalam pengaturan tumbuh kembangnya. Proses tidur yang terpotong juga berakibat langsung pada kemampuan mental dan emosionalnya.

Pemeriksaan Polysomnography (PSG)

Sebelum menjalani terapi, alumnus UNIKA Atmajaya Jakarta ini menjelaskan bahwa pasien harus melakukan pemeriksaan Polysomnography (PSG) untuk menegakkan diagnosa gangguan tidur yang mungkin Anda atau si buah hati Anda derita. Juga sebagai pijakan awal menentukan terapi gangguan tidur (OSA misalnya) dan untuk mengevaluasi hasil terapi yang telah dilakukan. PSG mampu merekam segala sesuatu yang terjadi mulai dari saat pasien tertidur, melewati tahapan-tahapan tidur serta setiap proses perubahan nafas, tegangan otot, gerakan mata yang terjadi dalam setiap tahap tidur, hingga saat bermimpi dan akhirnya terbangun.

Tahap-tahap Pemeriksaan PSG

Pemeriksaan PSG tidak memerlukan persiapan khusus selain kondisi rambut yang bersih, pemakaian minyak rambut dan sejenisnya tidak diperkenankan. Pemasangan alat ini dilakukan pukul 21.00 WIB. Tapi pasien harus sudah berada dalam kamar pukul 19.00 WIB untuk beradaptasi terlebih dulu dengan suasana tidur yang baru. Esok paginya, pukul 06.00 WIB alat sudah dilepas dan pasien bisa langsung mandi untuk beraktivitas seperti biasa. Hasil perekaman akan dibaca dan dinilai oleh dokter untuk kemudian dibuatkan laporannya. Proses ini biasanya berlangsung selama 2-3 hari. Pasien dapat bertemu kembali dengan dokter untuk mengambil hasil dan berkonsultasi tentang langkah selanjutnya. Jangan takut, pemeriksaan PSG tidak menyakitkan, Moms or Dads bahkan si kecil akan merasa aman dan nyaman.

Dengkuran Hilang, Tidur pun Lelap

Setelah dilakukan pemeriksaan PSG bila hasilnya menunjukkan pasien menderita OSG atau sleep apnea dapat dimulai dengan cara konservatif seperti menurunkan berat badan, tidur miring, serta menghindari alkohol dan obat-obatan hipnotik. Jika dinilai kurang memadai, dilanjutkan dengan tindakan invasif atau pembedahan. Namun pilihan utama untuk merawat sleep apnea yakni dengan mengunakan masker hidung yang dihubungkan dengan unit Continuous Positive Airway Pressure (CPAP).
dr. Andreas menuturkan, ada berbagai jenis masker yang digunakan pasien diantaranya:
1. Masker Hidung atau Nasal Mask.
Masker ini bisa menutupi hidung dengan sempurna dan menggunakan pengikat yang dapat menjaga masker tetap terpasang dengan baik selama tidur.
2. Masker Hidung & Mulut atau Full Face Mask.
Masker jenis ini biasanya hanya diberikan pada penderita sleep apnea yang bernafas melalui mulut, meski telah mengenakan masker hidung.
3. Masker Bantalan Hidung atau Nasal Pillows/Cushions.
Masker ini tidak menggunakan banyak pengikat ke kepala dan mempunyai bantalan khusus yang masuk ke lubang hidung. Biasanya digunakan oleh penderita yang memiliki rasa takut dengan penggunaan masker. Masker ini sering juga dipilih karena tidak terlalu banyak ikatan di kepala.

Biaya Terapi

Penasaran ingin tahu berapa kocek yang musti keluar untuk sekali terapi? Memang tidak sedikit tapi bila dibandingkan dengan manfaat yang bisa Moms or Dads setelah menjalani terapi tidur ini. Biaya sekali pemeriksaan di laboratorium tidur berkisar 3 juta-an tergantung jenis gangguan tidur dan perawatannya. Tapi tidak semua gangguan tidur memerlukan pemeriksaan ini lho. Itupun diluar biaya obat bila memang diperlukan. Sedangkan biaya konsultasi cukup merogoh kocek sekitar 100 ribu-an rupiah.

dr. Andreas Prasadja, RPSGT
Praktisi Kesehatan Tidur
Klinik Gangguan Tidur
(Sleep Disorder Clinic)
RS Mitra Kemayoran
Jl. HBR Motik, Kemayoran, Jakarta 10630
Telp. 021 – 6545555 (hunting)
Perjanjian Telp. 021 – 6545007 (Direct)
sleepclinic@mitrakeluarga.com