Kesehatan Tidur di Lingkungan Kerja

Kita sudah tahu bagaimana kurang tidur dapat memengaruhi performa kerja di siang hari. Konsentrasi yang berkurang, lamban serta ceroboh adalah tanda-tanda kantuk yang masih diabaikan para pekeImagerja.

Di era 24 jam ini, tidur adalah kebutuhan biologis yang paling sering dikorbankan atas nama produktivitas. Tanpa disadari bahwa dengan kurangi tidur, justru mengurangi performa seseorang. Karena ketika tidur kita diam tak bergerak bukan berarti tidak produktif. Justru tubuh sangat aktif membangun kesehatan, daya tahan tubuh dan kemampuan otak.

Kondisi emosi juga dijaga saat tidur. Saat lelah seseorang cenderung lebih memerhatikan kepentingan dirinya sendiri tanpa memerhatikan masukan dari sekelilingnya. Tak heran jika kondisi kurang tidur juga mengganggu proses kerja tim serta mendorong terjadinya tindakan kurang etis di lingkungan kerja.

Tidur dan Stress

Ketika sedang stress karena tekanan pekerjaan, siapa pun jadi sulit tidur. Tapi bukan itu saja, kondisi kurang tidur juga menyebabkan seseorang jadi mudah stress. Kesehatan tidur dan stress saling memengaruhi seolah menjadi lingkaran setan. Sebuah penelitian mengingatkan bahwa terjaga selama 24 jam akan meningkatkan hormon stress secara signifikan.

Kesibukan di siang hari sering kali mengganggu tidur kita di malam hari. Stress di pekerjaan maupun macet perjalanan meninggalkan ketegangan yang harus kita turunkan sebelum naik ke tempat tidur. Kantuk akan jadi percuma jika kita masih terlalu tegang untuk tidur. Akibatnya kita hanya memejamkan mata di tempat tidur tanpa bisa terlelap.

Turunkan dulu ketegangan dengan menyenangkan diri sebelum tidur. Sekedar membaca atau mendengarkan musik akan membantu suasana hati lebih rileks.

Pekerjaan 24/7

Bekerja dua puluh empat jam sehari dan tujuh hari seminggu belum tentu produktif. Walau ditopang dengan stimulan semacam kafein atau nikotin, otak yang lelah tetap tak terbantu. Sampai saat ini belum ada satu zat pun yang dapat menggantikan proses restoratif tidur. Stimulan hanyalah penunda kantuk.

Terkoneksi 24 jam dengan internet sebenarnya membantu waktu kerja kita jadi lebih fleksibel. Tetapi banyak orang justru tak dapat berhenti bekerja walau sudah meninggalkan kantor. Seolah organ tubuh, smartphone sudah jadi bagian dari diri kita. Sebuah survei di AS nyatakan bahwa 72% pekerja tidur dengan smartphone menyala di sisinya. Bahkan 45%-nya masih menjawab e-mail sebelum jatuh tidur.

Parahnya para pemimpin justru menghargai para pekerja yang masih mengirimkan e-mail di dini hari. Sikap yang justru berbahaya. Kemampuan untuk menganalisa dan mengambil keputusan di saat mengantuk tidaklah baik, bahkan buruk. Setiap keputusan penting yang diambil di saat mengantuk layak diragukan. Bill Clinton mengaku bahwa setiap kesalahan yang ia lakukan, selalu dilakukan saat lelah.

Kantuk Menurunkan Kreativitas

Pekerja yang mengantuk sulit untuk kreatif. Sebuah penelitian di tahun 1999 melihat bagaimana kurang tidur dapat mengganggu kemampuan mengambil keputusan dan menerima masukan. Penelitian belakangan bahkan melihat bagaimana terjaga selama 24 jam dapat mengganggu fungsi bagian korteks prefrontal pada otak, bagian yang mengontrol kreativitas, kontrol diri dan cara berpikir yang inovatif.

Bagi perusahan di bidang kreatif atau yang membutuhkan pikiran-pikiran “out of the box” dari para karyawannya, kesehatan tidur jadi amat penting. Mengabaikan kesehatan tidur sama dengan menurunkan kreativitas dan menurunkan mutu karya.

Kafein dan Produktivitas

Benarkah kafein dan minuman penambah energi dapat meningkatkan produktivitas? Mungkin saja. Tetapi mengabaikan tidur lalu menopang ke-terjaga-an dengan kafein bukanlah jawaban yang tepat. Stimulan, baik itu dalam bentuk minuman maupun suplementasi makanan hanya akan menunda kantuk. Otak yang lelah tetap akan lelah. Pemikiran yang sempit dan lamban tetap akan lamban.

Kafein di lingkunan kerja mungkin sudah dianggap biasa. Tetapi konsumsi secara membabi buta tidaklah bijak. Prioritaskan tidur yang sehat terlebih dahulu, di saat tertentu baru konsumsi kafein atau minuman penambah energi.

Jam Biologis dan Produktivitas

Di dalam otak kita tertanam jam yang mengatur ritme tubuh. Mulai dari waktu lapar, buang air, hingga kantuk dan bugar. Selain tidur yang cukup dan berkualitas, baik juga kita kenali ritme jam biologis untuk tingkatkan produktivitas.

Kenali jam biologis lalu sesuaikan ritme kerja agar produktif.

  • Sesampai di tempat kerja, karena masih pagi dan belum ada tugas penting yang harus dikerjakan silahkan menikmati aroma kafein. Kafein baru akan bekerja setelah 30 menit dikonsumsi. Jadi jangan saat sudah mengantuk baru minum kopi, percuma.

  • Pagi hari jam 8 bukan waktu yang baik bagi kebanyakan pekerja dewasa muda untuk memulai dengan pekerjaan yang berat dan terlalu serius. Manfaatkan untuk mengatur jadwal dan tugas-tugas.

  • Mendekati jam 9:00 kebugaran mulai menghampiri. Bagi kantor dengan banyak pekerja usia dewasa muda, ini waktu yang tepat untuk memulai briefing pagi. Apalagi di bidang kreatif. Ide-ide inovatif akan dengan mudah dan lancar dikeluarkan.

  • Jam makan siang biasanya kita punya waktu satu jam untuk beristirahat. Gunakan waktu ini untuk menikmati “power nap”. Setelah makan siang, bersandar santai di kursi, tutup mata dengarkan lagu lembut dan nikmati tidur siang selama 15-20 menit. Dengan demikian kita mendapatkan segala manfaat tidur, hingga lebih produktif saat bangun.

  • Rapat-rapat penting setelah jam makan siang di jam 14:00-15:00 adalah yang paling melelahkan. Jam biologis kita sedang berada di titik rendah. Beban kantuk sedang kuat-kuatnya. Emosi juga jadi sulit dikontrol.

  • Mendekati jam pulang, dengan stress tinggi dan ketegangan menghadapi macet, ada baiknya jika bersantai sejenak dengan ber-social media atau sekedar duduk main game. Berkumpul dengan teman-teman di cafe sambil menunggu macet biasanya menjadi pilihan paling enak. Tapi sadari juga bahwa kafein dapat bekerja selama 12 jam. Pilihlah minuman dengan kadar kafein rendah atau lebih baik lagi tak mengandung kafein sama sekali.

  • Dengan waktu yang serba mepet. Sore hingga malam adalah waktu yang tersisa untuk berolah raga. Olah raga sangat penting bagi kesehatan. Tetapi olah raga yang baik juga memerhatikan ritme biologis. Jarak selesai berolah raga dan tidur disarankan 3 jam. Olah raga memang menyenangkan dan membuat tubuh lelah. Tetapi banyak jenis olah raga yang justru meningkatkan adrenalin hingga justru menyegarkan otak. Pilih olah raga yang santai dan tidak kompetitif. Berenang atau jogging ringan sekitar rumah misalnya.

 

Kantuk yang Membunuh

Kecelakaan lalu lintas sering berakibat fatal. Baru-baru ini sebuah mobil bekecepatan tinggi menabrak mobil di depannya hingga pintu terbuka dan menewaskan 2 nyawa. Berdasarkan berbagai berita di media, dikatakan bahwa pengendara dalam kondisi mengantuk. Sungguh menyedihkan.

Tidur yang sehat dalam konteks berkendara merupakan dasar keselamatan. Karena kualitas-kualitas yang menentukan kemampuan untuk berkendara dibangun, dirawat dan disegarkan hanya saat tidur. Mengantuk merupakan tanda seseorang tidak layak untuk berkendara!

Mengendara dalam keadaan mengantuk sama bahayanya dengan mengendara dalam kondisi mabuk. Jangan tunggu tertidur, mengantuk saja sudah berbahaya. Saat mengantuk kemampuan konsentrasi, kewaspadaan, serta refleks jadi buruk.

Data

Powell dan kawan-kawan di tahun 2001 menyatakan dalam penelitiannya bahwa mengendara dalam kondisi mengantuk sama bahayanya dengan mengendara dengan kadar alkohol 0,8 (batas kadar alkohol legal untuk berkendara).

The American Automobile Association (AAA) memperkirakan 1 dari 6 kecelakaan lalu lintas mematikan dan 1 dari 8 kecelakaan yang menyebabkan perlu dirawat di RS, disebabkan oleh kantuk! Di Indonesia, data Operasi Ketupat 2011 mencatat penyebab kecelakaan akibat kendaraan tak layak adalah 449 kejadian, jalan tak layak 387 kejadian, sementara kecelakaan yang diakibatkan oleh pengendara yang mengantuk adalah 1018!

Angka yang fantastis, namun tampaknya masih diabaikan di Indonesia. Kenapa? Karena kita belum meletakkan kesehatan tidur sebagai salah satu prioritas kehidupan kita. Kesehatan tidur masih diabaikan. Padahal kecelakaan akibat kantuk apalagi menyebabkan kematian, amatlah sia-sia. Kantuk bisa dicegah dan diatasi dengan cara yang benar!

Kebutuhan Tidur

Semua orang butuh tidur. Kita tak dapat berfungsi baik tanpa tidur yang cukup.

Kebutuhan tidur manusia dibagi berdasarkan kelompok umur. Dewasa butuh sekitar 7-8 jam tidur setiap harinya. Sementara remaja hingga usia pertengahan 20 masih membutuhkan 8,5-9,25 jam tidur sehari! Sesuatu yang amat sulit dicapai mengingat denyut kehidupan modern saat ini. Tak heran jika kelompok usia dewasa muda adalah kelompok yang paling kekurangan tidur dan paling tinggi angka kecelakaannya.

Kurang tidur jelas membuat kita mengantuk. Tetapi karena adanya jam biologis di otak kita, ada jam-jam tertentu yang membuat kita mengantuk walaupun sudah cukup tidur, misalkan pada jam setelah makan siang atau jam pagi buta dimana matahari baru akan terbit. Kondisi kurang tidur akan melipat gandakan kantuk pada jam-jam tersebut. Pack dan kawan-kawan di tahun 1995 mencatat bahwa kecelakaan lalu lintas sering terjadi pada jam-jam tadi.

Aktivitas yang menyenangkan akan menutupi rasa kantuk. Tetapi kondisi mengantuk sebenarnya tetap ada. Kantuk akan datang menyergap begitu aktivitas bersifat monoton atau membosankan. Mengendara di jalan lurus yang lapang merupakan aktivitas yang monoton. Jadi bukan kebosanan yang membuat mengantuk, kantuknya sudah ada hanya saja tak muncul ketika aktivitas sedang tinggi.

Kantuk Berlebihan

Tak ada yang disebut dengan kebanyakan tidur. Yang ada adalah kantuk berlebihan walau durasi tidur sudah cukup. Ini disebut dengan hipersomnia. Penderitanya tetap mengantuk walau sudah cukup tidur. Kondisi seperti ini tentu akan membahayakan bagi orang yang pekerjaannya mengendara, di menara kontrol bandar, pengawas di reaktor nuklir dan lain-lain.

Penyebab hipersomnia adalah gangguan-gangguan tidur seperti periodic limb movements in sleep, narkolepsi dan yang paling sering adalah sleep apnea atau ngorok.

Jangan remehkan mendengkur. Ia bertaruh nyawa dalam tidurnya karena episode henti nafas yang ia alami selama tidur. Penderita sleep apnea selalu mengantuk walau durasi tidurnya cukup. Tak heran jika di beberapa negara Eropa pendengkur yang belum dirawat henti nafasnya dilarang untuk berkendara.

Cegah & Atasi Mengantuk

Mengantuk bisa kita cegah. Mudah kok, kita hanya perlu meningkatkan prioritas tidur dalam jadwal sehari-hari kita.

Minuman penambah energi, kafein atau nikotin bukanlah jawaban yang tepat. Karena zat-zat ini hanyalah menunda kantuk, otak yang sudah lelah tetap kehilangan kemampuannya. Ada saatnya kita membutuhkan stimulan, dan ada caranya. Bukan asal mengantuk kita lalu menenggak kopi. Kafein akan bekerja setelah 30 menit. Jadi idealnya saat berkendara jarak jauh dan mengantuk, kita berhenti dulu. Minum kafein atau minuman penambah energi, lalu tidur selama 20-30 menit. Saat bangun, kita mendapatkan manfaat kebugaran tidur dan kesegaran kafein.

Tak ada satu zat pun di dunia yang dapat menggantikan efek restoratif tidur.

Jika tetap mengantuk setelah tidur cukup, mungkin menderita gangguan tidur yang sebabkan hipersomnia, kantuk berlebihan. Periksakan diri ke dokter dan atasi hipersomnia ini. Orang dengan hipersomnia yang sudah parah akan tetap mengantuk walau sudah konsumsi kafein. Jangan mengendara sampai dinyatakan dokter ahli aman untuk berkendara.

dr. Andreas Prasadja, RPSGT

Tanda-tanda Kantuk Membahayakan:

  • Sulit berkonsentrasi pada jalan, dan mulai mengerjapkan mata berulang kali.

  • Mulai keluar jalur.

  • Mengendara dengan menyandarkan kepala.

  • Seolah melamun, dan melupakan perjalanan selama 10-15 menit yang telah lewat.

  • Merasa lelah, mudah tersinggung dan agresif.

Mencegah Kantuk:

  • Cukupi kebutuhan tidur setiap hari (7-9 jam sehari).

  • Tak perlu terburu-buru di jalan.

  • Untuk perjalanan jarak jauh, usahakan ada teman untuk diajak berbincang atau bahkan bergantian.

  • Istirahat setiap 2 jam.

  • Jika mengantuk, berhenti sejenak, minum kopi atau minuman penambah energi, lalu tidur. Setelah bangun baru lanjutkan perjalanan.

  • Kantuk berlebihan dan mendengkur? Segera periksakan diri.

Mengantuk dan Rasa Sakit

Proses tidur manusia masa kini terus saja berubah, baik durasi maupun polanya. Kehidupan modern terus mendesak manusia untuk mengurangi tidur. Kita lihat penelitian di tahun 1960-an menunjukkan rata-rata warga AS tidur 8 jam sehari. Sementara di tahun 2005 dilaporkan telah turun hingga kurang dari 7 jam seharinya. Sebuah survei di tahun 2006 bahkan menyatakan bahwa 21% warga AS tidur kurang dari 6 jam per hari. Bagaimana dengan Indonesia? Meski tak ada data resmi, berdasarkan pengamatan pribadi sepertinya kurang lebih sama, terutama yang hidup di perkotaan.

Berkurangnya durasi tidur disebabkan oleh banyak hal. Mulai dari tanggung jawab pekerjaan, denyut kehidupan yang memang serba cepat, serta hiburan elektronik yang tersedia selama 24 jam. Belum lagi paparan cahaya terang terus menerus yang disadari atau tidak telah mengganggu jam biologis kita. Jam biologis manusia menentukan waktu biologis tubuh seperti lapar, buang air, kantuk dan juga segar bugar.

Sepertinya saat ini kita ada di masa peralihan evolusi manusia, dimana jam biologis kita perlahan bergeser menyesuaikan dengan aktivitas sosial. Secara sengaja, atas nama produktivitas, kita membatasi waktu tidur kita. Pengurangan waktu tidur ini bukannya tanpa konsekuensi. Penurunan kemampuan kognitf dan stabilitas emosi menjadi akibat utama yang bisa kita rasakan. Banyak kita lihat di sekeliling, pribadi-pribadi yang berjalan dengan tatapan kosong dan lelah seolah zombie. Kantuk sepanjang hari menekan produktivitas manusia. Pada kesehatan, aktivasi sistem simpatis dan resistensi insulin akibat pembatasan tidur juga turut berperan dalam berkembangnya epidemi obesitas. Belum lagi resiko menderita penyakit jantung-pembuluh darah yang meningkat hingga dua kali lipat akibat durasi tidur yang terbatas.

Kini hiperalgesia, sebuah kondisi dimana seseorang terlalu sensitif terhadap rasa sakit, juga didapati disebabkan oleh kondisi kurang tidur. Contohnya mudah saja, rasa pegal, ngilu atau sakit pada tubuh sering kita rasakan saat kurang tidur. Dalam bahasa sehari-hari kita kenal dengan istilah masuk angin.

Penelitian

Sekelompok peneliti dari Henry Ford Hospital mencoba melihat hubungan antara tidur dan rasa sakit. Mereka mengamati beberapa orang yang terbiasa dengan durasi tidur yang pendek dan dilihat sensitivitasnya terhadap rasa sakit. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal SLEEP edisi Desember 2012 ini lalu juga membandingkan pengurangan rasa sakit tersebut setelah tidur cukup, dengan setelah minum obat penghilang rasa sakit.

Para peneliti merekrut 18 orang muda yang mengantuk. Walau mereka mengaku bangun segar dan tidak mengantuk, namun pemeriksaan multiple sleep latency test (MSLT) menunjukkan secara obyektif seberapa mengantuknya mereka. MSLT dilakukan di laboratorium tidur di siang hari untuk melihat seberapa cepat seseorang tertidur atau mula tidur (sleep onset). Mula tidur normal adalah 10-20 menit sejak berbaring. Para peserta penelitian memiliki mula tidur <8 menit.

Subyek penelitian dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama diminta menambah jam tidur selama 4 hari, sementara kelompok kedua tetap mempertahankan pola tidurnya selama 4 hari. Kelompok pertama rata-rata tidur 1,8 jam lebih lama dibanding durasi tidur biasanya. Kelompok pertama tentu jadi lebih segar, ini dilihat dari mula tidur yang jadi lebih lama 2,5 menit dibanding sebelumnya. Sementara kelompok kedua, pemeriksaan MSLT menunjukkan waktu mula tidur yang tetap sama.

Di hari ke empat sensitivitas terhadap rasa sakit diukur lewat waktu yang diperlukan hingga seseorang menarik tangannya dari sumber panas (finger withdrawl latency). Hasilnya kelompok yang tidur lebih lama dapat menahan sakit lebih lama 25% dibanding kelompok yang kurang tidur. Artinya orang yang mengantuk kurang dapat menahan sakit dibanding orang yang tidak mengantuk.

Kelompok peneliti yang sama, sebelumnya pernah membandingkan efek rasa sakit setelah minum obat penghilang rasa sakit kodein 60 mg dua kali sehari. Kelompok yang cukup tidur (tidak mengantuk) dapat menahan sakit lebih lama 14% dibanding kelompok yang kurang tidur (mengantuk). Seolah kodein jadi tak bermakna jika diberikan pada orang yang mengantuk.

Mendengkur dan Rasa Sakit

Tim peneliti berkesimpulan bahwa toleransi terhadap rasa sakit dapat diperbaiki dengan mengurangi kantuk. Dalam konteks ini adalah dengan menambah jam tidur. Namun melihat data penderita sleep apnea, ternyata menunjukkan hasil yang sama juga.

Orang yang mendengkur dengan henti nafas (sleep apnea), mempunyai kualitas tidur yang buruk. Akibatnya walau durasi tidur cukup, mereka tetap mengantuk. Kondisi ini disebut sebagai hipersomnia atau kantuk yang berlebihan. Menambah jam tidur pada orang yang ngorok tidak akan mengurangi kantuknya. Penelitian di tahun 2011, tunjukkan bahwa mengatasi mendengkur dapat meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit.

Atasi dengkur dengan CPAP akan mengurangi henti nafas penderita dari 50 kali perjam menjadi 2 kali perjamnya. Setelah satu malam gunakan CPAP, penderita sleep apnea merasa segar di saat bangun dan dapat menahan rasa sakit 28% lebih lama.

Penelitian pun dilanjutkan dengan tidak menggunakan CPAP. Jadi penderita kembali ngorok dalam tidur. Henti nafas pun kembali menjadi 32 kali setiap jamnya, penderita kembali mengantuk dan ketahanannya terhadap rasa sakit menurun 17%.

Kesimpulan

Kesimpulannya mudah saja, dalam kondisi mengantuk kita cenderung mudah merasakan sakit. Sementara dengan menghilangkan kantuk, dengan cara menambah jam tidur atau mengobati mendengkur pada penderita sleep apnea, dapat meningkatkan ketahanan seseorang terhadap rasa sakit.

Tetapi para ahli belum dapat memastikan mekanisme yang melatar belakangi. Sementara ini, dihipotesakan bahwa aktivitas sitokin berperan besar. Rasa sakit adalah tanda utama dari adanya inflamasi. Banyak penelitian yang menunjukkan bagaimana proses gangguan tidur dan pengurangan tidur dapat mengaktifkan reaksi inflamasi yang dilihat dari meningkatnya kadar interleukin-6 dan tumor necrosis factor.

Terlepas dari mekanismenya, mengantuk jelas menurunkan ketahanan kita terhadap rasa sakit. Satu lagi manfaat kesehatan tidur kita dapatkan. Misalkan menjelang operasi, mungkin saja dokter alih-alih meresepkan obat penghilang rasa sakit, malah menyarankan menambah jam tidur sebagai persiapan operasi.

7 Mitos Tidur

Kita harus tidur 8 jam setiap hari.

Ini pemahaman yang paling sering ditemui. Angka 8 jam didapatkan dari penelitian Thomas Wehr di tahun 90-an dimana subyek selama 14 jam sehari dikondisikan dalam suasana gelap tanpa bantuan cahaya buatan. Hasilnya memeasuki minggu keempat pola tidur mereka menetap menjadi 4 jam tidur, bangun 1-2 jam, lalu tidur 4 jam lagi. Tetapi jumlah total tidur 8 jam sehari terlanjur tertanam di otak masyarakat.

Tahun 2001, seorang ahli sejarah Roger Ekirch menuliskan hal yang senada dari penelitiannya selam 16 tahun. Manusia tidur 4 jam setelah 2 jam matahari terbenam, lalu bangun selama 2 jam dan akhirnya tidur lagi selama 4 jam.

Nyatanya kini dengan adanya pencahayaan buatan dan dorongan kehidupan sosial, pola tidur kita sudah amat jauh dari nenek moyang kita. Akankah pola tidur kita akan berevolusi menyesuaikan dengan perkembangan jaman? Atau kesehatan dan produktivitas kita akan terus tergerus akibat kebutuhan tidur yang tak pernah tercukupi?

Habis makan kenyang mengatuk.

Setiap jam kita terjaga merupakan hutang tidur yang menyebabkan kantuk. Tapi hutang tidur tak sendirian mengontrol tidur. Ada juga jam biologis yang berdetak dalam diri membantu menentukan saat-saat kita lapar, harus buang air dan juga saat-saat kita aktif dan mengantuk.

Jam biologis dan hutang tidur berlomba-lomba mengontrol kita. Pada saat kita bangun pagi, dengan hutang tidur minimal dan jam biologis yang mulai menanjak kita merasa segar bugar. Semakin siang hutang tidur bertambah tetapi dengan jam biologis yang tinggi, kita merasa segar bugar.

Setelah makan siang dengan jumlah hutang tidur yang agak tinggi, jam biologis kita menurunkan keterjagaannya hingga kita mengantuk. Saat ini biasa disebut dengan after lunch circadian dipping.

Hutang tidur bisa dibayar lunas.

Jam biologis kita amat peka cahaya. Ini alasannya nenek moyang kita sebelum adanya cahaya buatan, jarang mengalami gangguan tidur seperti sekarang. Kini ada gangguan tidur tersendiri yang dulu tak ada: Gangguan jam biologis.

Dengan pergeseran pola tidur dan dorongan kehidupan sosial, manusia kini banyak mengalami kekurangan tidur. Kurang tidur ini juga disebut sebagai hutang tidur. Hutang tidur yang hebat akibat kekurangan tidur akan mengalahkan jam biologis. Akibatnya kita tetap mengantuk sepanjang hari.

Masalahnya, hutang harus dibayar. Dengan tidur siang? Tidur lebih banyak di akhir pekan? Tidur lebih awal?

Kemampuan tidur siang akan berkurang seiring dengan pertambahan usia. Jika dewasa muda bisa tidur 2-3 jam di siang hari, sementara orang yang lebih tua hanya bisa tidur 20 menitan saja.

Bagaimana jika tidur lebih awal saja, karena malam kemarin kurang tidur? Boleh saja, tetapi waspadai perubahan pola tidur. Tidur akan lebih mudah jika kita rutin tidur teratur dengan jadwal yang kurang lebih sama. Lagi pula sedikit hutang tidur, malah membantu kita tidur lebih nyenyak di malam berikutnya kok.

Tidur awal, dan bangun sepagi mungkin adalah yang terbaik

Kita sering mendengar nasehat seperti ini. Dari mana? Dari orang-orang tua kita.Tapi pahami juga bahwa pada era mereka, akses listrik dan cahaya buatan masih sangat terbatas. Jam biologis bisa dikatakan masih amat peka terhadap siklus gelap dan terang alami.

Cahaya dan denyut kehidupan 24 jam tak bisa dihindari mempengaruhi pola tidur kita. Beberapa penelitian tunjukkan bahwa kita tidur 2 jam lebih sedikit dibanding nenek moyang kita.

Pergeseran pola tidur paling dirasakan oleh remaja-dewasa muda. Usia mereka membutuhkan tidur 8,5-9,25 jam sehari. Dengan hilangnya pola tidur sore seperti nenek moyang kita, dewasa muda hanya tidur di malam hari saja. Jam biologis mereka memberikan rasa kantuk mendekati tengah malam. Padahal kehidupan masa kini menuntut mereka untuk tetap bangun pagi!

Tidur awal dan bangun pagi bagi dewasa muda memiliki perbedaan. Bangun jam 7:30 pagi bagi seorang remaja, sama rasanya dengan orang tuanya bangun pada jam 5:00 pagi. Jika orang tua bangun jam 5:00 pagi dengan rasa segar bugar penuh vitalitas, anak-anak muda ini bangun dengan rasa mengantuk, berkabut dan tak segar. Bangun jam 5:00 pagi bagi dewasa muda sama seperti jika orang tuanya bangun jam 2:00-3:00 dini hari.

Tidur hanya membutuhkan kedisiplinan.

Sedangkan untuk tidur memang dibutuhkan kedisiplinan. Disiplin untuk menjaga jadwal tidur, disiplin untuk mempersiapkan tidur, disiplin untuk mematikan semua alat komunikasi dan monitor beberapa menit sebelum tidur, dan displin-disiplin lainnya. Tetapi seperti tulisan di atas tadi, kedisiplinan ini perlu juga mempertimbangkan jadwal dan jam biologis.

Siapa pun sebaiknya sudah mematikan alat-alat yang memancarkan cahaya satu jam menjelang tidur. Dewasa muda sebaiknya sudah mematikan alat-alat komunikasi sejak jam 10 malam. Kekurangan tidur dan smartphone yang tetap menyala menjadi penyebab sleeptexting pada remaja.

Disiplin agar tidur seturut jadwal yang sesuai dengan jam biologis. Memaksakan tidur terlalu sore pada remaja akan percuma saja, tanpa perhatikan jam biologisnya. Jika mau menggeser jam tidur remaja, ada caranya tersendiri. Majukan 15 menit setiap 2 malam. Jangan langsung geser 1-2 jam.

Mengantuk adalah kemalasan.

Mengantuk bukanlah kemalasan. Mengantuk menunjukkan kebutuhan akan tidur belum terpenuhi. Itu saja.

Kantuk tentu menurunkan produktivitas. Hanya tidurlah yang dapat mengembalikan dan menyegarkan kemampuan kognitif-mental kita. Dengan tidur pula emosi kita seperti disegarkan hingga lebih positif. Jadi sebenarnya, menjaga tidur tetap sehat sebenarnya justru meningkatkan produktivitas.

Kafein dan berbagai minuman penambah energi hanya menunda kantuk. Terkadang memang kita perlukan, tetapi apakah harus terus menerus?

Sayangnya lagi orang belum banyak yang tahu bahwa ada juga gangguan tidur yang sebabkan orang selalu mengantuk. Sebutannya adalah hipersomnia. Gangguan tidur itu antara lain narkolepsi, sleep apnea, periodic limb movements in sleep dan lain-lain.

Mendengkur tanda tidur yang lelap.

Sebaliknya orang yang ngorok biasanya tidur tak lelap. Mendengkur yang merupakan tanda dari sleep apnea atau henti nafas saat tidur. Henti nafas terjadi akibat saluran nafas yang melemas dan menyempit saat tidur. Walau gerakan nafas tetap ada, udara tak ada yang dapat lewat. Dalam keadaan sesak, mekanisme pertahanan tubuh akan membangunkan otak sejenak, untuk mengambil nafas. Setelahnya penderita langsung kembali tidur.

Walau mengalami henti nafas ratusan kali penderita sleep apnea tak pernah ingat kalau dirinya terbangun-bangun dari tidur. Tetapi ia bangun tak segar dan terus mengantuk di siang hari biarpun tidur sudah cukup lama.

Tanpa ia sadari, berbagai penyakit pun menghinggapi sebagai konsekuensi mendengkur seperti, hipertensi, diabetes, gangguan jantung, impotensi hingga stroke. Mendengkur adalah gangguan tidur paling berbahaya tapi paling diabaikan masyarakat kita.

dr. Andreas Prasadja, RPSGT

 

Anda Butuh Ngopi? Atau Hanya Suka

20121207-084734.jpg
KOMPAS.com – Kopi adalah salah satu zat adiktif yang legal dikonsumsi. Jika saja kafein baru ditemukan, FDA atau BPOM di Indonesia pasti tak akan meloloskannya sebagai zat yang aman dikonsumsi. Kecanduan kafein sepertinya dianggap wajar dan normal saja.

Terlepas dari berbagai bukti ilmiah tentang efek merugikan kafein, popularitasnya terus meningkat di masyarakat modern. Indonesia misalnya, dengan mudah kita dapat mendapatkan minuman berkafein, mulai dari berbagai minuman penambah energi di warung hingga kopi beraroma harum di berbagai gerai kopi. Kopi telah menjadi minuman wajib dalam pergaulan sehari-hari.

Kafein dan tidur

Kopi mendapatkan popularitas karena efeknya yang menunda kantuk, memberikan rasa senang dan bersemangat serta membangkitkan vitalitas peminumnya. Sesuatu yang amat dicari di tengah deru kehidupan serba cepat. Ini disebabkan oleh efek kafein pada reticular ascending system dan reseptor adenosine. Adenosine adalah zat yang menyebabkan kantuk. Dengan memblokir reseptornya, tubuh tidak bisa membaca adanya adenosine sehingga mengahalangi kantuk.

Tapi perlu ditekankan kafein hanya menunda kantuk tanpa mengembalikan kemampuan otak. Otak yang sudah lelah tetap akan melambat!

Kadar kafein mencapai puncaknya dalam 30-60 menit setelah dikonsumsi. Kadarnya akan tetap tinggi dalam darah selama 3 hingga 5 jam. Dosis setara dengan secangkir kopi (30-150mg) yang dikonsumsi sebelum tidur dapat memperpanjang waktu yang diperlukan untuk tidur dan juga mengganggu proses tidur itu sendiri. Gangguan proses tidur akibat kafein adalah buruknya kualitas tidur akibat tahapan tidur dalam (stage N3 sleep) yang memendek. Padahal tahap tidur dalam, sering juga disebut restorative sleep, adalah tahapan tidur penting dimana tubuh mengeluarkan hormon pertumbuhan yang berfungsi dalam perbaikan sel-sel tubuh yang rusak. Pada beberapa orang yang sensitif terhadap kafein, dengan konsumsi kopi di pagi hari sudah dapat mengganggu proses tidur di malam harinya.

Kafein dosis tinggi (>;;;;; 6 cangkir kopi) dalam sehari dapat memperlambat metabolisme kopi sehingga kadarnya tetap tinggi di otak selama 9 hingga 15 jam. Sementara dengan dosis luar biasa, 100 cangkir (10 gram) sehari dapat menyebabkan kematian.

Dari sisi kesehatan tidur, bukan hanya dosis konsumsi yang harus diperhatikan. Jauh lebih penting memperhatikan jadwal konsumsinya. Disarankan, agar tak mengganggu proses tidur (termasuk kualitas tidur) konsumsi kafein terakhir adalah 12 jam sebelum tidur.

Produktivitas dan kopi

Kita senang sekali dihibur dengan mitos bahwa ada zat yang dapat mengalahkan lelah dan kantuk hingga dapat terus aktif produktif. Lihat saja berbagai iklan di media, semua produk berlomba-lomba menyatakan bisa kalahkan kantuk dan meningkatkan produktivitas. Hal yang memprihatinkan sebenarnya, karena menyiratkan masyarakat kita yang mengantuk.

Tetapi tak demikian kenyataannya, tak ada satu zat pun yang dapat menggantikan efek restoratif tidur!

Berbagai produk tersebut kebanyakan mengandung kafein. Kafein seperti telah dibahas akan memberikan rasa segar dan emosi yang positif. Mirip dengan keadaan saat kita baru bangun tidur di pagi hari. Setiap pagi kita bangun dengan segar bugar, penuh vitalitas dan penuh semangat. Segala tantangan seolah akan dengan mudah kita hadapi.

Kafein digunakan untuk meniru rasa-rasa itu. Tetapi orang sering lupa, bahwa kafein tak dapat mengembalikan kemampuan konsentrasi, analisa, ketelitian, kewaspadaan dan jauh lebih penting, kemampuan untuk mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Hanya tidurlah yang dapat mengembalikan vitalitas kita.

Bagaimana dengan tempat kerja yang menyediakan kopi untuk meningkatkan produktivitas pekerjanya? Tidak salah, tetapi sebaiknya kita mulai mengatur konsumsi kopi. Jika sepanjang hari terus bolak-balik pantry untuk menyeduh kopi, tentu ada yang salah dengan kesehatan tidur.

Kafein dan kesehatan

Dengan berkembangnya kesadaran akan kesehatan tidur, para ahli ingin melihat lebih dalam hubungan kafein dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah. Kita sama-sama telah mengetahui bahwa peningkatan konsumsi kopi akan meningkatkan resiko terhadap kesehatan.

Para ahli berpendapat, mungkin bukan jumlah konsumsi kopi yang penting bagi kesehatan, tetapi “kebutuhan” akan kafeinlah yang beresiko terhadap kesehatan. Apa yang menyebabkan seseorang butuh bercangkir-cangkir kopi seharinya? Kantuk!

Beberapa penelitian sudah menunjukkan bahwa durasi tidur yang pendek akan tingkatkan resiko gagal jantung, hipertensi hingga stroke. Tetapi kini kita juga kenal adanya hipersomnia, atau kantuk berlebihan walau durasi tidur cukup. Hipersomnia dan mendengkur merupakan kombinasi mematikan bernama sleep apnea.

Sleep apnea adalah henti nafas saat tidur, yang jelas buruk bagi kerja jantung saat tidur. Sleep apnea telah diketahui menjadi penyebab hipertensi, berbagai penyakit jantung, diabetes dan stroke.

Penderita sleep apnea, akibat kantuk yang terus mendera, membutuhkan kafein untuk menopang segala aktivitasnya. Kebutuhan akan kafein ini yang beresiko terhadap kesehatan, bukan jumlah konsumsinya saja.

Penutup

Masih banyak variasi yang belum bisa saya tuangkan di sini, misalkan konsumsi kafein saat mengendara, pada pelajar, ibu menyusui ataupun pekerja shift. Namun, pada prinsipnya, kopi sebagai minuman pergaulan ataupun penopang produktivitas haruslah dikonsumsi dengan bijak.

Saya sendiri seorang penikmat kopi. Saya sangat menyukai aroma kopi di pagi hari sebelum memulai hari. Tetapi dengan penuh kesadaran, konsumsi kafein saya atur. Jarak minum kopi dengan tidur dijaga berjarak sekitar 12 jam. Jumlahnya pun tentu tak berlebih. Maksimal hanya 2 cangkir sehari.

Saya merasa bugar dan sehat dengan atau tanpa kafein. Sekali lagi saya menikmati aroma kopi yang harum, bukan “butuh” kafein untuk sekedar berfungsi sebagai manusia. Bagaimana dengan Anda?

dr. Andreas Prasadja, RPSGT

Kantuk yang Membunuh pada TEDx Jakarta 2012

20120327-021929.jpg

Anda Mengantuk ?

Mengantuk itu bukan sifat pemalas, itu artinya Anda butuh tidur lebih banyak. Jika tidur sudah cukup, Anda tidak akan merasa mengantuk dan produktivitas juga akan meningkat.

Nah, berikut ini adalah tanda Anda membutuhkan tidur:

  1. Anda membutuhkan alarm untuk bangun. Jika sudah cukup tidur, Anda dapat bangun tepat waktu tanpa perlu alarm. Apabila Anda memerlukan beberapa kali bunyi alarm sampai akhirnya bangun, berarti kekurangan tidur cukup parah!
  2. Mengendara sambil mengantuk. Apapun moda kendaraannya, mengendara merupakan aktivitas monoton yang memicu kantuk. Namun penyebabnya sendiri jelas tidur yang kurang. Mengendara saat mengantuk merupakan penyebab utama kecelakaan lalu lintas.
  3. Sering berdekatan dengan coffee maker. Menikmati aroma kopi di pagi hari memang nikmat, tetapi jika sepanjang hari membutuhkan kafein untuk tetap beraktivitas jelas ada yang salah dengan tidur Anda.
  4. Sering membuat kesalahan. Ketika lelah dan mengantuk tentu saja jadi sulit berkonsentrasi. Ketelitian juga menurun drastis, akibatnya satu pekerjaan jadi tertunda akibat kesalahan-kesalahan yang dibuat.
  5. Jadi pelupa. Keadaan kurang tidur akan menurunkan kemampuan mengingat, terutama ingatan jangka pendek seperti lupa menaruh kunci, lupa akan janji temu atau isi rapat.
  6. Anda mudah tersinggung dan marah. Kurang tidur juga menyebabkan mood kita terganggu. Akibatnya kita mudah jatuh dalam kondisi depresi, cemas atau frustasi.
  7. Sering sakit. Daya tahan tubuh hanya bekerja optimal pada saat tidur. Tanpa tidur yang cukup, tubuh akan sulit untuk melawan berbagai virus dan kuman.

Kurang tidur harus dipahami sebagai sebuah keadaan, bukan hanya kurangnya jam tidur. Kondisi kurang tidur bisa juga dialami oleh orang yang sudah cukup tidur, namun kualitas tidurnya yang kurang. Orang-orang ini merasakan gejala-gejala di atas, tapi tidurnya sudah cukup. Ini disebut sebagai kantuk berlebihan atau hipersomnia. Mereka selalu mengantuk dan lelah walau sudah cukup tidur.