Bahaya Tidur Mendengkur Bagi Keselamatan Berkendara

Rabu, 06 Januari 2010 07:16 WIB

OTOMOTIFNET – Kita mungkin sering mendengar dari sekian ribu atau jutaan kecelakaan lalu lintas yang terjadi di dunia setiap tahunnya, sebagian besar disebabkan oleh kantuk.

Terdengar sepele memang soal ngantuk ini, tapi efeknya sangat fatal karena bisa mengakibatkan kematian. Namun begitu masih ada penyebab lain yang juga fatal, yakni tidur mendengkur atau ngorok. Nah lo, apa hubungannya? Bukannya mendengkur itu biasa?

SLEEP APNEA

Mendengkur atau ngorok kerap disosiasikan tidur yang amat lelap, yang umumnya diakibatkan oleh kelelahan. Ternyata, di balik dengkuran tersebut mengancam bahaya yang cukup banyak.

“Orang yang tidurnya sering mendengkur, cenderung mengalami henti napas akibat penyempitan saluran napas. Istilah medisnya obstructive sleep apnea (OSA),” bilang dr. Andreas A. Prasadja, dokter spesialis gangguan tidur RS Mitra Kemayoran, Jakpus.

Masih kata pria yang menekuni ilmu sleep technologist di Sydney University, Australia ini, mendengkur adalah salah satu gejala utama yang mudah dikenali pada penderita OSA.

“Sleep apnea adalah sebuah gangguan tidur yang ditandai dengan tidur mendengkur dan rasa kantuk berlebih (hipersomnia). Penderita sleep apnea (SA) mengalami penyempitan saluran napas sehingga nafasnya terhenti berulang kali sepanjang malam,” terangnya.

Karena sesak dan tidak dapat suplai oksigen akibat terhenti itu, lanjut pria kelahiran 16 Mei 1975 ini, otak penderita akan terbangun-bangun tanpa terjaga. Akibatnya, kualitas tidur si penderita jadi berkurang.

“Meskipun lama tidurnya cukup (ideal 8 jam/hari), orang akan sering merasa ngantuk tanpa mengetahui penyebabnya. Sehingga mengakibatkan konsentrasi menurun, kemampuan reflek berkurang, cepat kelelahan dan sebagainya,” jelas Andreas.

Ia lantas memamparkan mengenai sebuah penelitian yang dilakukan sekelompok peneliti dari Australia yang diterbitkan pada The Annals of Internal Medicine. Penelitian itu menunjukkan adanya bahaya bagi penderita OSA yang mengendarai kendaraan bermotor.

Kelompok peneliti tersebut menyatakan bahwa penderita SA yang tak dirawat, lebih rentan terhadap alkohol dan kekurangan tidur dibanding orang sehat yang tidak mendengkur. Sehingga memiliki resiko tinggi mengalami kecelakaan lalu lintas.

“Efek ngantuk yang disebabkan SA ini jangan dianggap remeh. Sebuah laporan di Amerika menyatakan angka kematian hingga 1.400 pertahunnya akibat kecelakaan lalu lintas, berkaitan dengan penderita SA. Sedangkan di Inggris disebutkan bahwa penderita OSA, mengalami kecelakaan lalu lintas 2 sampai 7 kali lebih sering dibanding orang yang tidak menderita OSA,” ucap suami dari Krisnanti Madona Gunadi.

Makanya di negara-negara maju, kesehatan tidur dan keselamatan mengendara amat diperhatikan. “Inggris misalnya, semua pengendara yang diketahui mendengkur harus melaporkan dirinya pada Driver & Vehicle Licensing Agency (DVLA). Menurut peraturan di sana, jika seorang pengemudi terdiagnosa atau terduga menderita SA, ia tak diperbolehkan mengendara sampai gejala kantuknya berkurang dan telah dikonfirmasi oleh tenaga medis,” tukas Andreas.

Disamping berisiko terhadap keselamatan berkendara, lanjut pengarang buku berjudul AYO BANGUN yang isinya mengenai permasalahan tidur serta cara mengatasinya ini, SA juga dapat menyebabkan penyakit berat lainnya. “Seperti hipertensi, gangguan jantung, kerusakan otak, depresi, obesitas, diabetes dan stroke yang kesemuanya dapat meningkatkan resiko kematian,” bilangnya.

Bila memang SA yang dialami sudah terlalu parah, dianjurkan pergi ke dokter. Karena penyakit OSA ini bisa disembuhkan, yakni menjalani terapi dengan alat bernama CPAP (Contiunuous Positive Airway Pressure).

Menurut ayah 1 anak ini, penyebab mendengkur yang berakibat timbulnya SA bisa dikarenakan beberapa hal. “Bisa karena faktor keturunan, usia, sering merokok atau minun-minuman keras yang menyebabkan peradangan di tenggorokan dan masih banyak lagi,” tutup dokter muda ini

TIPS TIDUR BERKUALITAS

  1. Cukup tidur sekurang-kurangnya 8 jam sehari.
  2. Hindari mengkonsumsi minuman atau makanan berkafein 9 jam sebelum tidur.
  3. Stop berolahraga 3 jam sebelum tidur.
  4. Satu jam sebelum tidur, tinggalkan semua perkejaan dan biasakan mengistirahakan pikiran dan tubuh dengan kegiatan yang menyenangkan dan sifatnya santai.
  5. Hindari kegiatan yang bisa menyebabkan kita excited.
  6. Jika sudah benar-benar ngantuk, baru deh naik ke tempat tidur. Jangan melakukan kegiatan apa pun selain tidur. Misalnya sambil nonton TV atau membaca. Kecuali seks!

Penulis/Foto: DiC / Dede

Penulis : Arseen | Editor : Arseen |

Bahaya Mengendara Mengantuk

Tahukah Anda bahwa 55% kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh kantuk. Menurut National Sleep Foundation tidak tidur selama 18 jam mempunyai bahaya yang sama dengan orang yang mengendara dengan kadar alkohol 0,08% dalam darah.

Kita tahu, mengendara setelah minum minuman beralkohol itu berbahaya. Tapi perlu kita akui bahwa kita masih kurang peduli dengan keamanan berkendara saat mengantuk. Dengan kondisi kurang tidur, sering kali kita mengesampingkan rasa kantuk dan tetap mengendara. Saat mengendara, dengan kewaspadaan penuh, rasa kantuk seolah hilang, apalagi dengan berbekal minuman berenergi yang konon meningkatkan vitalitas. Setelah beberapa kilometer dilewati, kita mulai menguap untuk menarik lebih banyak oksigen ke otak. Tanpa disadari mata pun mulai berkedip dan berair. Saatnya untuk berhenti? Mungkin nanti dulu, karena setelah dua tikungan berikut ada kedai kopi yang bisa mengembalikan kewaspadaan. Gas pun semakin ditekan, dengan anggapan bahwa menambah kecepatan dapat meningkatkan kewaspadaan dan mengatasi kantuk. Tetapi setelah satu tikungan, untuk beberapa detik tiba-tiba mata terpejam dan tanpa sadar mobil keluar dari jalur  dan menabrak pohon di tepi jalan. Kecelakaan pun terjadi.

Kopi dan obat-obatan stimulan terbukti dapat mengurangi kantuk untuk sementara waktu, tetapi kemampuannya untuk menjaga refleks dan kewaspadaan seseorang masih dipertanyakan.

Tanda-tanda kantuk mulai membahayakan:

  • Kehilangan konsentrasi, sering mengerjapkan mata atau mata terasa berat.
  • Pikiran menerawang.
  • Sulit mengingat apa-apa yang telah dilewati; atau melewatkan beberapa rambu atau lampu merah.
  • Berulang kali menguap dan mengusap-usap mata.
  • Sulit menjaga kepala dalam posisi tegak.
  • Melenceng dari jalur, dan melanggar marka-marka jalan.
  • Merasa lelah dan mudah terpancing emosi.

Apakah Anda beresiko? Sebelum berkendara, periksa apakah Anda:

  • Kurang tidur atau lelah (tidur kurang dari 6 jam akan meningkatkan resiko hingga tiga kali lipat.)
  • Menderita insomnia, kualitas tidur yang buruk (OSA), atau menanggung banyak hutang tidur.
  • Mengendara jarak jauh tanpa jeda istirahat yang cukup.
  • Mengendara pada jam-jam biasanya tidur.
  • Mengkonsumsi obat-obatan yang membuat kantuk (antihistamin, antidepresan atau obat flu.)
  • Bekerja lebih dari 60 jam seminggu (meningkatkan resiko hingga 40%.)
  • Mengerjakan dua pekerjaan sekaligus dan pekerjaan utamanya adalah pekerjaan dengan shift malam.
  • Minum minuman beralkohol (walaupun hanya sedikit.)
  • Mengendara sendirian atau melewati jalan yang panjang, sepi dan membosankan.

Sebelum mengendara seorang pengemudi sebaiknya:

  • Tidur yang cukup. Pada orang dewasa 7,5-8,5 jam, sedangkan pada remaja atau dewasa muda 8,5-9,25 jam.
  • Untuk perjalanan jauh, usahakan jangan berkendara sendirian. Teman seperjalanan dapat membantu melihat tanda-tanda kantuk dan dapat menggantikan untuk sementara waktu. Penumpang juga sebaiknya tidak tidur dan terus mengobrol dengan pengendara.
  • Hindari alkohol dan obat-obatan yang menyebabkan kantuk.
  • Berkonsultasilah pada dokter atau klinik gangguan tidur jika mengalami kantuk berkepanjangan, sulit tidur di malam hari dan/atau tidur mendengkur.

Ngantuk terus Pertanda Apa? – Majalah Femina 42/2010

Pagi atau siang hari, saat seharusnya berkonsentrasi pada pekerjaan, Anda malah mengantuk. Anda tak sendirian, coba perhatikan sekitar Anda. Di kantor, kampus, kendaraan, banyak orang terkantuk-kantuk. Kantuk memang bisa karena kurang tidur, tapi dapat juga merupakan gejala penyakit tersendiri.

KANTUK: SINYAL TUBUH

Saat mengantuk di siang hari, menurut dr. Andreas Prasadja, RPSGT dari Klinik Gangguan Tidur RS Mitra Kemayoran, perhatikan, jam berapa kantuk itu datang. Bila setelah jam makan siang, wajar jika kita sedikit mengantuk. Hal ini disebabkan oleh jam biologis kita menurunkan kesiagaannya. Ini disebut after lunch circadian dipping.

Tapi, waspadai jika ini terus-menerus terjadi. Menurut dr. Dante Saksono Herbuwono, SpPD Endokrin dari Divisi Metabolik Endokrin RSCM, kantuk bisa jadi merupakan salah satu gejala prediabetes. Setelah makan, tubuh mengalami hiperinsulinemia (berlebihannya insulin), sehingga kadar gula darah turun drastis. Untuk itu, amatilah gejala prediabetes, seperti mudah haus dan sering ingin buang air kecil. Jika dibiarkan, prediabetes bisa menjadi diabetes. Namun, untuk memastikannya, jalani dulu pemeriksaan darah.

Gampang mengantuk, atau cepat lelah dan lesu, juga merupakan salah satu gejala anemia (kekurangan sel darah merah). Karena anemia, suplai oksigen ke seluruh tubuh oleh sel darah merah, terganggu. Padahal, oksigen adalah salah satu unsur penting untuk menghasilkan energi. Untuk mengetahuinya, Anda harus melakukan pemeriksaan darah. Jika hasilnya oke, bisa jadi Anda mengantuk karena memang kurang tidur atau kualitas tidur Anda buruk.

Jangan sepelekan tidur. Daya tahan tubuh hanya bekerja optimal saat kita tidur. Tidur penting untuk menjaga kemampuan kognitif dan stabilitas emosi agar kita tetap produktif.

Tidur pun berperan penting dalam proses perbaikan sel-sel tubuh yang rusak. Pada tahap tidur lelap, tubuh mengeluarkan growth hormone. Salah satu yang paling cepat beregenerasi adalah sel kulit.  Tak heran, kurang tidur membuat kulit jadi terlihat kusam.

Kata cukup dalam hal tidur ternyata berbeda pada setiap orang. ”Kebutuhan tidur kita adalah 6-8 jam. Tetapi, kelompok usia mana? Orang dewasa umumnya membutuhkan tidur 6-8 jam. Pada trimester pertama, ibu hamil biasanya mengalami penambahan kebutuhan tidur. Misal, kalau biasanya butuh 8 jam, di masa ini ibu butuh tidur hingga 10 jam.”

Dokter Andreas mengatakan, kelompok usia remaja dan dewasa muda hingga akhir 20-an, butuh tidur lebih banyak, yakni hingga 8,5 – 9,25 jam seharinya. Menurutnya, kelompok usia inilah yang paling rentan terhadap kekurangan tidur.

Jam biologis-nya pun unik. Jika orang dewasa mulai mengantuk pada pukul 22:00, orang muda justru sedang penuh dengan vitalitas. Mereka baru mengantuk setelah lewat tengah malam. Di pagi hari, mereka sudah harus bangun untuk beraktivitas dan harus mengikuti jadwal yang tak sesuai dengan jam biologisnya.

KELEBIHAN TIDUR ATAU KANTUK BERLEBIH?

Kebiasaan orang muda melawan jam biologis terlihat ketika masuk kerja pukul 8:30 atau masuk sekolah pukul 6:30 pagi. Tak heran jika kita temui remaja yang senang belajar atau berkarya di malam hari, tetapi sebaliknya, bangun kesiangan.

Atau, sering juga kita temui staf muda yang terkantuk-kantuk di tengah rapat. Jika Anda berusia 26 tahun, dan hanya tidur 6 jam, wajar jika mengantuk di siang hari. Ini bukan kemalasan, tetapi pola tidur yang tak sehat. Persisnya, karena kebutuhan tubuh untuk tidur tidak terpenuhi.

Cara sederhana untuk mengetahui bahwa Anda sudah cukup tidur adalah jika ketika bangun pagi tubuh segar, dan selanjutnya tidak mengantuk seharian. Jika mau tahu berapa jam yang diperlukan tubuh, tidurlah. Jangan pasang alarm. Biarkan tubuh bangun sendiri, karena sudah merasa cukup tidur.

“Tak ada satu zat pun yang dapat menggantikan tidur,” tegas dr. Andreas. Segala rasa segar-bugar, siap menghadapi tantangan di pagi hari, hanya bisa Anda dapatkan dari tidur yang sehat. Zat-zat seperti nikotin dan kafein yang kita kenal sebagai stimulan, sebenarnya hanyalah hipnolitik. Artinya, penunda kantuk.

Mungkin ada teman Anda yang sehari-hari tampak selalu lelah, lamban, ‘lemot’ bahkan terkantuk-kantuk sehingga dicap sebagai pemalas atau ‘putri tidur’. Padahal, mereka mengaku selalu cukup tidur, bahkan berlebih. Jangan salah, tidak ada yang disebut sebagai kelebihan tidur. Yang ada, kantuk berlebih.

Saat kebutuhan tidur terpenuhi, tapi terus merasa sangat mengantuk, ini tak normal. ”Kantuk tak normal ini adalah hipersomnia atau kantuk berlebih,” jelas dr. Andreas. Ini saatnya Anda menemui dokter dan melakukan pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Mungkin saja masalahnya ada pada kualitas tidur.

Hipersomnia merupakan gejala dari beberapa gangguan tidur serius seperti sleep apnea, periodic limb movements in sleep, atau narkolepsi. Yang paling sering diderita namun terabaikan adalah sleep apnea. Alasannya mudah saja, karena gejalanya terbilang biasa kita temui, yaitu mendengkur. Masalah yang penting bagi kesehatan tidur bukanlah suara dengkurannya, melainkan henti napas di antara dengkuran.

”Sleep apnea artinya henti napas saat tidur. Ini terjadi karena saluran napas menyumbat secara periodik selama Anda tidur. Karena sesak, biasanya penderita akan terbangun tanpa terjaga. Ia tak sadar atau tak ingat. Akibatnya, si penderita bangun dengan rasa tak segar tanpa tahu sebabnya. ”Agar tak membahayakan orang lain, di Inggris, penderita yang baru memeriksakan dengkurannya dilarang berkendara sampai selesai dirawat,” ungkap dr. Andreas.

Perawatan sleep apnea, menurut dr. Andreas, ditujukan untuk mengatasi henti napas sebagai pencegahan berbagai penyakit. Karena, seseorang yang menunjukkan gejala sleep apnea bisa dicurigai bahwa ia menderita sakit serius. Penyakit tersebut bisa hipertensi, diabetes, obesitas, penyakit jantung, stroke, atau bisa juga kerusakan otak. Bahkan, sleep apnea bisa menyebabkan kematian.

Sementara itu, periodic limb movements in sleep adalah gerakan-gerakan kaki secara periodik tanpa disadari saat tidur. Akibat gangguan ini, kualitas tidur bisa terganggu juga. Meski tidur sudah cukup lama, tapi tidur yang terganggu akan membuat tubuh tidak segar di saat bangun. Bila terjadi, orang tersebut bisa mengalami keletihan terus-menerus (lihat boks).

Sedangkan narkolepsi, atau sleep attack, adalah istilah medis bagi seseorang yang tiba-tiba langsung tertidur, dengan atau tanpa tanda apa pun. Mungkin Anda pernah melihatnya di adegan film, saat seorang aktor tiba-tiba tertidur saat sedang tertawa terbahak-bahak.

Tapi, ini bukan lawakan! Gangguan ini bisa menyebabkan kehidupan penderitanya sangat tak nyaman. Bayangkan jika ia tiba-tiba tertidur saat berada di keramaian atau di jalan. Baik periodic limb movements in sleep dan narkolepsi perlu ditangani oleh ahli kedokteran tidur.

OLAHRAGA, KANTUK, TIDUR
Menurut dr. Michael Triangto SpKO, spesialis kedokteran olahraga dari Slim+ Health Sport Therapy, mudah mengantuk atau tubuh seperti kurang berenergi bisa disebabkan oleh kurang berolahraga.
”Olahraga yang tepat intensitasnya adalah yang dilakukan hingga mencapai zona latihan (training zone) diri orang tersebut, dan dilakukan teratur. Jika tidak optimal, mungkin tubuh akan tetap loyo.
Atau sebaliknya, dia makin mudah mengantuk karena tubuh terlalu lelah akibat olahraga berlebihan.”

Tapi, jangan berolahraga terlalu dekat dengan waktu tidur. Sebaiknya berikan jarak antara olahraga dan waktu tidur minimal 3 jam. Ini berlaku bahkan untuk olahraga yoga yang punya reputasi merelakskan tubuh. Pasalnya, begitu selesai berolahraga, tubuh memproduksi adrenalin yang membuat Anda sulit tidur. Setelah beberapa lama, adrenalin menurun, tubuh akan relaks dan Anda mudah tidur. Bila dilakukan cukup cepat, yoga akan meningkatkan detak jantung dan energi.

Menurut dr. Andreas,  makin berat porsi berolahraga seseorang, maka ia  makin butuh tidur. Saat ini sedang tren melakukan bersepeda touring. Saat tubuh merasa sangat lelah setelah bersepeda, sebaiknya tidur yang cukup. ”Ini penting untuk menghindari over training yang bisa berakibat buruk bagi jantung.”

SUPAYA TIDUR NYENYAK…
• Hindari makanan atau minuman yang membuat tubuh terjaga menjelang jam tidur, misalnya kopi atau alkohol.
• Hindari minum berlebihan sebelum tidur yang membuat Anda terbangun karena ingin buang air kecil saat tidur.
• Lakukan relaksasi sebelum tidur, misalnya mandi dengan air hangat, meredupkan penerangan, memasang aromaterapi, atau mendengarkan musik yang menenangkan.
• Usahakan pergi tidur dan bangun pada jam yang sama, saat libur sekalipun.
• Jauhi hal-hal yang mengganggu tidur, seperti televisi di kamar.
• Berkonsultasi dengan dokter, jika Anda merasakan gangguan yang berhubungan dengan penyakit serius.

TANDA-TANDA TIDUR TIDAK SEHAT
• Anda selalu butuh alarm agar bisa bangun di pagi hari.
• Seharian tak bisa lepas dari kopi supaya tetap melek.
• Perlu beberapa kali membaca surel untuk benar-benar paham isinya.
• Sulit mempertahankan konsentrasi saat rapat atau seminar.
• Mengantuk saat melakukan aktivitas yang monoton, seperti menyetir kendaraan.
• Mudah terserang penyakit infeksi, seperti flu atau radang tenggorokan.
• Sensitif dan mudah marah.
• Kulit kusam dan tak segar.
• Tidak teliti, banyak membuat kesalahan.
• Sering lupa meletakkan kunci mobil atau kacamata.
• Nafsu makan tak mudah dipuaskan.
• Libido menurun.

Penulis: Nuri Fajriati (Kontributor – Jakarta)


[Dari femina 42 / 2010]

Ngantuk terus Pertanda Apa? – Issue Wanita – Femina-online.com.

Keselamatan Transportasi dan Kesehatan Tidur

“Mengendara dengan kantuk sama bahayanya dengan mengendara sambil mabuk.” – William Dement, bapak kedokteran tidur.

 

Kompas, Senin, 4 Oktober 2010 menuliskan bahwa Kepolisian Resor Pemalang, Jawa Tengah, secara resmi menetapkan masinis Kereta Api Argo Bromo Anggrek, M Halik Rudianto, menjadi tersangka karena mengantuk. Suatu pernyataan yang aneh, bagi kami praktisi kesehatan tidur. Masinis dianggap ‘lalai’ karena mengantuk. Tetapi kantuk sendiri sebenarnya bukanlah kelalaian! Kantuk bisa disiasati. Asal kita mengerti tentang anatomi kantuk itu sendiri. Apa saja penyebab kantuk? Bagaimana mengaturnya? Bagaimana juga agar menjaga stamina tetap “awas” pada jam-jam kita mengantuk?

Kantuk pada dasarnya disebabkan oleh kurang tidur. Baik kurang tidur yang disebabkan oleh jam tidur yang kurang, atau kurang tidur yang disebabkan oleh kualitas tidur yang buruk.

Kurangnya jam tidur bisa disiasati dengan mencukupi kebutuhan tidur sebelum berkendara/bekerja. Dengan kearifan dalam mengatur jadwal, perusahaan juga sebaiknya mengatur giliran kerja (shift work) sesuai dengan jam biologis manusia. Yaitu seturut jarum jam. Misalkan terdapat tiga giliran kerja, seorang pekerja sebaiknya memulai dengan dua hari gilir pagi, dua hari gilir siang, dua hari gilir malam dan dilanjut dengan dua hari istirahat.

Khusus bagi pekerja dengan pekerjaan yang monoton, gilir (shift) malam sebaiknya dapat bergantian tidur. Sebab pada jam-jam biologis kita tidur, dorongan kantuk amatlah kuat, terutama pada dini hari. Ini dapat kita lihat pada kecelakaan KA Argo Bromo yang terjadi pada sekitar pukul 3:00 dini hari. Bagi pengendara ini menjadi jam yang amat penting, karena disamping kantuk, refleks mengendara pun amat buruk. Kita bisa saja melihat rambu atau tandanya, tapi reaksi kita lamban.

Kecelakaan biasanya terjadi karena si pengendara masih merasa bisa mengendalikan kendaraan walaupun mengantuk. Salah satu contohnya adalah kecelakaan kapal tanker Exxon Valdez di tahun 1989 yang mengakibatkan sebuah bencana lingkungan. Menurut kesaksian juru mudi, ia dapat melihat karang, tetapi entah kenapa reaksinya untuk menghindar terlambat. Tapi sayang, media waktu itu lebih banyak meliput kebiasaan ‘minum’ nahkodanya.

Di sisi lain, banyak juga orang yang cukup tidur, namun merasa cepat lelah dan selalu mengantuk. Kondisi, yang di kalangan medis lebih dikenal sebagai Excessive Daytime Sleepiness (EDS) atau hipersomnia, disebabkan oleh buruknya kualitas tidur akibat gangguan tidur yang diderita. Penderita biasanya tak merasakan apa-apa. Ia merasa tidur lelap, hanya saja tak pernah cukup. Saat bangun ia merasa tak segar, dan mudah mengantuk di siang hari. Si penderita bukan kelebihan tidur, tetapi mengantuk berlebih. Gangguan tidur yang paling sering dijumpai adalah sindroma tungkai gelisah dan sleep apnea (henti nafas saat tidur.)

Sleep apnea adalah gangguan tidur yang paling sering terlewatkan karena gejalanya yang terlanjur dianggap wajar oleh masyarakat, yaitu mendengkur. Padahal gangguan yang menyerang 4% populasi pria dan 2% populasi wanita menurut Wisconsin Cohort Study ini selain membahayakan keselamatan berkendara, juga mengakibatkan penyakit kritis seperti hipertensi, berbagai gangguan jantung hingga stroke. Pada sleep apnea kantuk disebabkan oleh terpotong-potongnya proses tidur akibat periode henti nafas berulang yang tidak disadari oleh si penderita.

Ini dialami oleh seorang masinis Shinkansen (kereta cepat) di Osaka yang sudah beberapa waktu sering merasa lelah dan mengantuk tanpa bisa menjelaskan alasannya. The Japan Times (3 Maret 2003,) melaporkan bagaimana ia tertidur selama 8 menit sehingga kecelakaan pun terjadi. Di kemudian hari terungkap bahwa si masinis ternyata menderita sleep apnea. Sementara Kyodo News, 7 Juli 2004, memberitakan seorang pilot penerbangan domestik yang tertidur di cockpit ternyata juga menderita sleep apnea. Lain lagi yang dialami oleh seorang penerbang pesawat tempur F-16s AU Amerika yang harus di-grounded karena menderita gangguan tidur yang sama (Salt Lake Tribune, 14 Agustus 2003.)

Penderita sleep apnea juga menyimpan bahaya lain. Para ahli kesehatan kini sepakat bahwa sleep apnea merupakan salah satu penyebab dari berbagai penyakit fatal, seperti hipertensi, gangguan jantung dan stroke. Penelitian-penelitian terbaru bahkan telah membuktikan hubungan erat antara sleep apnea dan diabetes.

Pada sindroma tungkai gelisah, tidur terganggu akibat gerakan kaki perodik selama tidur. Gangguan yang dikaitkan dengan berbagai penyakit syaraf degeneratif ini, selain menyebabkan kantuk di siang hari juga mengakibatkan insomnia di malam hari. Penyebabnya adalah rasa ingin selalu menggerakkan kaki akibat rasa tidak nyaman jika berbaring lama.

Untuk membedakan berbagai gangguan tidur yang diderita diperlukan pemeriksaan polysomnography yang dilakukan di laboratorium tidur. Pemeriksaan yang telah menjadi standar internasional untuk mendiagnosa gangguan tidur ini terdiri dari perekaman gelombang otak, gerakan bola mata, teganggan otot dagu, aliran udara nafas, gerakan nafas, suara dengkuran, irama jantung dan gerakan kaki. Hasilnya adalah gambaran fungsi-fungsi tubuh saat tidur sepanjang malam yang mengarah pada diagnosa suatu gangguan tidur.

Gangguan-gangguan tidur ini mudah dikenali dan dapat dirawat dengan baik. Yang diperlukan hanyalah kepekaan terhadap kesehatan tidur. Atur tidur sekurangnya 8 jam perhari, niscaya kesehatan, kualitas hidup dan produktivitas pun akan meningkat. Sudah saatnya Indonesia lebih memperhatikan kesehatan tidur.