Persiapan Mudik, Persiapkan Tidur

Setiap hari kita menyerahkan hidup pada orang lain. Nyawa kita percayakan pada para supir, masinis, pilot, pengatur lalu lintas, dan petugas-petugas lainnya. Pada mereka-mereka ini kita serahkan hidup dan keselamatan di perjalanan. Sudah sepantasnya kesiapan pengendara diperhatikan juga, apalagi sebentar lagi jutaan orang akan bergerak kembali ke kampung halaman menjelang Hari Raya.

Keselamatan Berkendara

Kita boleh persiapkan kendaraan sedemikian sempurna, tetapi bagaimana dengan kesiapan diri sebelum berkendara? Sering kali masih diremehkan. Selama masih ada kafein dan minuman penambah energi semua seolah semua bisa diatasi. Sayang, ini salah besar!

Semua orang tahu bahwa mengantuk berbahaya saat berkendara. Tetapi mengantuk yang bagaimana? Tertidur? Mengantuknya saja sudah berbahaya, apalagi sampai tertidur.

Berkendara dalam keadaan mengantuk sama bahayanya dengan berkendara dalam kondisi mabuk.

Kecelakaan terjadi akibat kelalaian, kecerobohan, tak berhati-hati dan kurang konsentrasi. Tahu tidak, semuanya disebabkan oleh kantuk! Sayangnya mengantuk masih luput dari perhatian orang banyak.

Operasi Ketupat 2013, dilaporkan bahwa penyebab kecelakaan: 420 jarak antar kendaraan terlalu dekat, 332 karena melanggar batas kecepatan dan 623 kejadian akibat pengendara yang MENGANTUK. Sementara di AS, National Sleep Foundation melaporkan bahwa sepetiga kecelakaan lalu lintas berakibat fatal, disebabkan oleh kantuk.

Atasi Kantuk

Mengantuk merupakan tanda tidak tercukupinya tidur. Kantuk sebenarnya sama dengan rasa haus saat kita kekurangan cairan atau lapar saat tubuh butuh asupan makanan. Jadi ketika kita mengantuk, artinya kita butuh tidur.

Satu-satunya cara mengatasi kantuk adalah dengan tidur. Untuk itu kita harus pintar-pintar mengatur tidur. Mulai persiapkan perjalanan jauh sejak seminggu sebelum berangkat. Tak ada persiapan rumit, hanya tidur cukup secara teratur. Itu saja.

Segala stimulan seperti kafein atau minuman-minuman penambah energi hanyalah penunda kantuk. Ia tak dapat mengembalikan kemampuan otak yang telah lelah.

Tapi kafein dan minuman penambah energi tetap bisa membantu di perjalanan jauh. Hanya saja ketahui cara konsumsinya. Kenali bahwa kafein baru bekerja setelah 30 menit dikonsumsi. Jadi ketika mengantuk di tengah perjalanan, hentikan kendaraan dahulu. Cari tempat istirahat yang nyaman. Minum kopi, lalu sempatkan tidur sekitar 20-30 menit. Dengan demikian kita mendapatkan manfaat tidur dan bangun tepat saat kafeinnya bekerja. Perjalanan pun akan jadi lebih nyaman.

Kantuk Berlebihan

Bagaimana jika seseorang masih terus mengantuk walau sudah tidur cukup. Pemala? Bukan, ini sebuah kondisi yang disebut hipersomnia, atau kantuk yang berlebihan.

Kantuk yang berlebihan merupakan gejala dari beberapa penyakit tidur, seperti sleep apnea (mendengkur), periodic limb movements in sleep atau narkolepsi. Untuk mendiagnosis secara tepat, dibutuhkan dokter dengan keahlian dibidang kedokteran tidur.

Kondisi kantuk yang berlebihan merupakan kasus yang serius. Di Inggris pendengkur ditahan surat ijin mengemudinya sampai dinyatakan sehat kembali oleh dokter.

Di Amerika baru-baru ini terjadi insiden kecelakaan kereta di New York yang menewaskan 4 orang dan 63 lain terluka. Saat menikung kereta meluncur terlalu cepat hingga keluar dari rel. Setelah menjalani penyelidikan, didapai bahwa masinis mengantuk dan menderita sleep apnea. Masinis tersebut adalah seorang pendengkur yang belum dirawat sleep apnea-nya hingga ia terus mengantuk walau sudah tidur cukup. Bergelas-gelas kafein pun tak cukup untuk menjaga keterjagaannya.

Akibat dari kecelakaan ini, kebutuhan akan pemeriksaan kesehatan tidur pada para pengendara kembali mencuat. Setelah Pilot yang harus menjalani pemeriksaan tidur di laboratorium tidur setahun sekali, kini diusulkan agar para pengendara bus, masinis, bahkan para pengatur lalu lintas di menara bandar udara untuk menjalani pemeriksaan yang sama setiap tahunnya.

Tanda-tanda kantuk mulai membahayakan:

  • Kehilangan konsentrasi, sering mengerjapkan mata atau mata terasa berat.

  • Pikiran menerawang.

  • Sulit mengingat apa-apa yang telah dilewati; atau melewatkan beberapa rambu atau lampu merah.

  • Berulang kali menguap dan mengusap-usap mata.

  • Sulit menjaga kepala dalam posisi tegak.

  • Melenceng dari jalur, dan melanggar marka-marka jalan.

  • Merasa lelah dan mudah terpancing emosi.

Apakah Anda beresiko? Sebelum berkendara, periksa apakah Anda:

  • Kurang tidur atau lelah (tidur kurang dari 6 jam akan meningkatkan resiko hingga tiga kali lipat.)

  • Menderita insomnia, kualitas tidur yang buruk (OSA), atau menanggung banyak hutang tidur.

  • Mengendara jarak jauh tanpa jeda istirahat yang cukup.

  • Mengendara pada jam-jam biasanya tidur.

  • Mengonsumsi obat-obatan yang membuat kantuk (antihistamin, antidepresan atau obat flu.) 

  • Bekerja lebih dari 60 jam seminggu (meningkatkan resiko hingga 40%.)

  • Mengerjakan dua pekerjaan sekaligus dan pekerjaan utamanya adalah pekerjaan dengan shift malam.

  • Minum minuman beralkohol (walaupun hanya sedikit.)

  • Mengendara sendirian atau melewati jalan yang panjang, sepi dan membosankan.

 

Sebelum mengendara seorang pengemudi sebaiknya:

  • Tidur yang cukup. Pada orang dewasa 7,5-8,5 jam, sedangkan pada remaja atau dewasa muda 8,5-9,25 jam.

  • Untuk perjalanan jauh, usahakan jangan berkendara sendirian. Teman seperjalanan dapat membantu melihat tanda-tanda kantuk dan dapat menggantikan untuk sementara waktu. Penumpang juga sebaiknya tidak tidur dan terus mengobrol dengan pengendara.

  • Ketika merasa lelah sebaiknya hentikan kendaraan, minum kafein, lalu beristirahatlah sejenak. Setelah tidur 20-30 menit kita bangun segar, dan kafein juga persis mulai bekerja, hingga kemampuan mengendara kembali efektif.

  • Hindari alkohol dan obat-obatan yang menyebabkan kantuk.

  • Berkonsultasilah pada dokter atau klinik gangguan tidur jika mengalami kantuk berkepanjangan, sulit tidur di malam hari dan/atau tidur mendengkur.

Tips Keselamatan Mudik

Sudah menjadi tradisi untuk pulang ke kampung halaman menjelang Hati Raya Idul Fitri. Berbagai cara di tempuh dan moda kendaraan digunakan. Mulai dari pesawat terbang hingga sepeda motor.

Menyoroti keselamatan berkendara, ada satu persiapan yang masih diabaikan: kesehatan tidur. Padahal 55% kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh kantuk. Coba kita tengok juga data kecelakaan lalu lintas pada masa mudik tahun lalu. Kepolisian RI mencatat pada Operasi Ketupat 2011, penyebab kecelakaan yang disebabkan oleh kendaraan tak layak adalah 449 kejadian, serta 387 kejadian yang disebabkan oleh kendaraan tak layak. Sementara yang disebabkan oleh kantuk adalah 1018 kecelakaan.

Bayangkan angka tersebut. Amat disayangkan, karena kantuk sebenarnya merupakan penyebab kecelakaan yang bisa dikendalikan, bisa dicegah! National Sleep Foundation, AS, menyatakan bahwa mengendara dalam kondisi terjaga selama 18 jam sama bahayanya dengan mengendara dengan kadar alkohol 0,08% dalam darah. Padahal di beberapa negara, batas legal kadar alkohol adalah 0,08%.

Pahami juga bahwa kondisi mengantuk yang dimaksud berbahaya bukanlah sampai tertidur di belakang kemudi. Terus menguap dan mata mulai berair juga sudah termasuk mengantuk. Dan dalam kondisi mengantuk, kemampuan mengendara sudah menurun drastis!

Kemampuan mengendara yang dimaksud adalah kemampuan konsentrasi, kewaspadaan, kecepatan respons dan stabilitas emosi. Keterjagaan saja, ternyata tak cukup.

Kemampuan-kemampuan mental ini cuma bisa dibangun pada saat tidur. Sementara stimulan seperti kafein, nikotin dan berbagai suplemen atau minuman penambah energi hanyalah menunda kantuk. Kita tetap membutuhkan suplementasi tersebut tetapi ada cara konsumsinya. Jika tak bijak mengonsumsi, kita hanya mendapat efek terjaga tanpa perbaikan kemampuan mengendara, dan ini penting untuk keselamatan.

Sering kali, kantuk malah lebih berbahaya dari mabuk. Karena kita tak mengenali tanda-tanda kantuk dan masih merasa cukup bugar untuk berkendara. Sebuah penelitian sederhana dilakukan pada sekelompok orang muda. Mereka diminta untuk menekan tombol setiap kali diberi sinyal lampu. Hasilnya pada orang-orang yang kurang tidur, mereka mengaku tak pernah sekalipun melewatkan sinyal. Padahal dari pengamatan, mereka banyak sekali melakukan kesalahan.

Perhatikan juga kemungkinan adanya kantuk berlebihan. Yaitu masih mengantuk dan mudah lelah walau tidur sudah cukup. Gejala gangguan tidur ini biasanya disebabkan oleh mendengkur. Mendengkur dan kantuk berlebih merupakan gejala dari sleep apnea atau henti nafas saat tidur. Di Eropa, pendengkur dengan dugaan sleep apnea diharuskan melapor ke dinas lalu lintas untuk selanjutnya ditahan sementara Surat Ijin Mengemudinya hingga dinyatakan sehat oleh dokter.

Jadi perhatikan kesehatan tidur. Kenali tanda-tanda kantuk, dan bijaklah dalam konsumsi stimulan. Karena: Tak ada satu zat pun yang dapat menggantikan efek restoratif tidur!

Tanda-tanda kantuk mulai membahayakan:
Kehilangan konsentrasi, sering mengerjapkan mata atau mata terasa berat.
Pikiran menerawang.
Sulit mengingat apa-apa yang telah dilewati; atau melewatkan beberapa rambu atau lampu merah.
Berulang kali menguap dan mengusap-usap mata.
Sulit menjaga kepala dalam posisi tegak.
Melenceng dari jalur, dan melanggar marka-marka jalan.
Merasa lelah dan mudah terpancing emosi.

Apakah Anda beresiko? Sebelum berkendara, periksa apakah Anda:
Kurang tidur atau lelah (tidur kurang dari 6 jam akan meningkatkan resiko hingga tiga kali lipat.)
Menderita insomnia, kualitas tidur yang buruk (OSA), atau menanggung banyak hutang tidur.
Mengendara jarak jauh tanpa jeda istirahat yang cukup.
Mengendara pada jam-jam biasanya tidur.
Mengonsumsi obat-obatan yang membuat kantuk (antihistamin, antidepresan atau obat flu.)
Bekerja lebih dari 60 jam seminggu (meningkatkan resiko hingga 40%.)
Mengerjakan dua pekerjaan sekaligus dan pekerjaan utamanya adalah pekerjaan dengan shift malam.
Minum minuman beralkohol (walaupun hanya sedikit.)
Mengendara sendirian atau melewati jalan yang panjang, sepi dan membosankan.

Sebelum mengendara seorang pengemudi sebaiknya:
Tidur yang cukup. Pada orang dewasa 7,5-8,5 jam, sedangkan pada remaja atau dewasa muda 8,5-9,25 jam.
Untuk perjalanan jauh, usahakan jangan berkendara sendirian. Teman seperjalanan dapat membantu melihat tanda-tanda kantuk dan dapat menggantikan untuk sementara waktu. Penumpang juga sebaiknya tidak tidur dan terus mengobrol dengan pengendara.
Ketika merasa lelah sebaiknya hentikan kendaraan, minum kafein, lalu beristirahatlah sejenak. Setelah tidur 20-30 menit kita bangun segar, dan kafein juga persis mulai bekerja, hingga kemampuan mengendara kembali efektif.
Hindari alkohol dan obat-obatan yang menyebabkan kantuk.
Berkonsultasilah pada dokter atau klinik gangguan tidur jika mengalami kantuk berkepanjangan, sulit tidur di malam hari dan/atau tidur mendengkur.