Tips Keselamatan Mudik

Sudah menjadi tradisi untuk pulang ke kampung halaman menjelang Hati Raya Idul Fitri. Berbagai cara di tempuh dan moda kendaraan digunakan. Mulai dari pesawat terbang hingga sepeda motor.

Menyoroti keselamatan berkendara, ada satu persiapan yang masih diabaikan: kesehatan tidur. Padahal 55% kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh kantuk. Coba kita tengok juga data kecelakaan lalu lintas pada masa mudik tahun lalu. Kepolisian RI mencatat pada Operasi Ketupat 2011, penyebab kecelakaan yang disebabkan oleh kendaraan tak layak adalah 449 kejadian, serta 387 kejadian yang disebabkan oleh kendaraan tak layak. Sementara yang disebabkan oleh kantuk adalah 1018 kecelakaan.

Bayangkan angka tersebut. Amat disayangkan, karena kantuk sebenarnya merupakan penyebab kecelakaan yang bisa dikendalikan, bisa dicegah! National Sleep Foundation, AS, menyatakan bahwa mengendara dalam kondisi terjaga selama 18 jam sama bahayanya dengan mengendara dengan kadar alkohol 0,08% dalam darah. Padahal di beberapa negara, batas legal kadar alkohol adalah 0,08%.

Pahami juga bahwa kondisi mengantuk yang dimaksud berbahaya bukanlah sampai tertidur di belakang kemudi. Terus menguap dan mata mulai berair juga sudah termasuk mengantuk. Dan dalam kondisi mengantuk, kemampuan mengendara sudah menurun drastis!

Kemampuan mengendara yang dimaksud adalah kemampuan konsentrasi, kewaspadaan, kecepatan respons dan stabilitas emosi. Keterjagaan saja, ternyata tak cukup.

Kemampuan-kemampuan mental ini cuma bisa dibangun pada saat tidur. Sementara stimulan seperti kafein, nikotin dan berbagai suplemen atau minuman penambah energi hanyalah menunda kantuk. Kita tetap membutuhkan suplementasi tersebut tetapi ada cara konsumsinya. Jika tak bijak mengonsumsi, kita hanya mendapat efek terjaga tanpa perbaikan kemampuan mengendara, dan ini penting untuk keselamatan.

Sering kali, kantuk malah lebih berbahaya dari mabuk. Karena kita tak mengenali tanda-tanda kantuk dan masih merasa cukup bugar untuk berkendara. Sebuah penelitian sederhana dilakukan pada sekelompok orang muda. Mereka diminta untuk menekan tombol setiap kali diberi sinyal lampu. Hasilnya pada orang-orang yang kurang tidur, mereka mengaku tak pernah sekalipun melewatkan sinyal. Padahal dari pengamatan, mereka banyak sekali melakukan kesalahan.

Perhatikan juga kemungkinan adanya kantuk berlebihan. Yaitu masih mengantuk dan mudah lelah walau tidur sudah cukup. Gejala gangguan tidur ini biasanya disebabkan oleh mendengkur. Mendengkur dan kantuk berlebih merupakan gejala dari sleep apnea atau henti nafas saat tidur. Di Eropa, pendengkur dengan dugaan sleep apnea diharuskan melapor ke dinas lalu lintas untuk selanjutnya ditahan sementara Surat Ijin Mengemudinya hingga dinyatakan sehat oleh dokter.

Jadi perhatikan kesehatan tidur. Kenali tanda-tanda kantuk, dan bijaklah dalam konsumsi stimulan. Karena: Tak ada satu zat pun yang dapat menggantikan efek restoratif tidur!

Tanda-tanda kantuk mulai membahayakan:
Kehilangan konsentrasi, sering mengerjapkan mata atau mata terasa berat.
Pikiran menerawang.
Sulit mengingat apa-apa yang telah dilewati; atau melewatkan beberapa rambu atau lampu merah.
Berulang kali menguap dan mengusap-usap mata.
Sulit menjaga kepala dalam posisi tegak.
Melenceng dari jalur, dan melanggar marka-marka jalan.
Merasa lelah dan mudah terpancing emosi.

Apakah Anda beresiko? Sebelum berkendara, periksa apakah Anda:
Kurang tidur atau lelah (tidur kurang dari 6 jam akan meningkatkan resiko hingga tiga kali lipat.)
Menderita insomnia, kualitas tidur yang buruk (OSA), atau menanggung banyak hutang tidur.
Mengendara jarak jauh tanpa jeda istirahat yang cukup.
Mengendara pada jam-jam biasanya tidur.
Mengonsumsi obat-obatan yang membuat kantuk (antihistamin, antidepresan atau obat flu.)
Bekerja lebih dari 60 jam seminggu (meningkatkan resiko hingga 40%.)
Mengerjakan dua pekerjaan sekaligus dan pekerjaan utamanya adalah pekerjaan dengan shift malam.
Minum minuman beralkohol (walaupun hanya sedikit.)
Mengendara sendirian atau melewati jalan yang panjang, sepi dan membosankan.

Sebelum mengendara seorang pengemudi sebaiknya:
Tidur yang cukup. Pada orang dewasa 7,5-8,5 jam, sedangkan pada remaja atau dewasa muda 8,5-9,25 jam.
Untuk perjalanan jauh, usahakan jangan berkendara sendirian. Teman seperjalanan dapat membantu melihat tanda-tanda kantuk dan dapat menggantikan untuk sementara waktu. Penumpang juga sebaiknya tidak tidur dan terus mengobrol dengan pengendara.
Ketika merasa lelah sebaiknya hentikan kendaraan, minum kafein, lalu beristirahatlah sejenak. Setelah tidur 20-30 menit kita bangun segar, dan kafein juga persis mulai bekerja, hingga kemampuan mengendara kembali efektif.
Hindari alkohol dan obat-obatan yang menyebabkan kantuk.
Berkonsultasilah pada dokter atau klinik gangguan tidur jika mengalami kantuk berkepanjangan, sulit tidur di malam hari dan/atau tidur mendengkur.

Menghitung Waktu Tidur

Rabu, 10 Februari 2010 | 00:48 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Sebuah penelitian yang dirilis awal bulan ini pada Journal SLEEP, memperkirakan bahwa seseorang yang sudah berumur akan berkurang kebutuhan tidurnya dan lebih jarang ngantuk daripada mereka yang lebih muda. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa total waktu tidur menurun secara signifikan dan progresif sejalan dengan peningkatan usia. Mereka yang sudah mulai tua akan tidur lebih pendek 20 menit dibanding mereka yang lebih muda atau berusia dewasa sedang. Dan kelompok usia tersebut, waktu tidurnya akan 23 menit lebih pendek dibanding dewasa muda.

Penemuan ini tentu memperkuat teori lain yang menyebutkan tidak normal bagi para lansia yang mengantuk di siang hari. Begitu disebutkan pemimpin penelitian, Derk-Jan Dijk, PhD, professor of sleep and physiology di University of Surrey, U.K. “Jika mereka mengantuk di siang hari, baik tua atau pun muda, mungkin alasannya, tidak cukup tidur atau bisa jadi mereka mengalami gangguan tidur,” katanya.

Masalahnya, bagaimana menghitung waktu tidur yang benar sehingga kita tidak salah duga alasan mengapa mengantuk di siang hari. Dokter ahli tidur dari Sleep Disorder Clinic di RS Mitra Kemayoran, Jakarta, Andreas Prasadja, menyebutkan trik cara menghitung kebutuhan tidur, terutama untuk para profesional muda atau usia dewasa muda.

Beberapa penelitian, menunjukkan angka berbeda. Ada 7,5 jam per hari, ada juga yang 8,5 – 9,25 jam per hari. Nah, untuk meyakinkannya, menurut Andreas, dicatat dulu berapa jam tidur kita dalam sehari. Misalnya enam jam. Coba perlahan- lahan tambah jam tidur setiap dua atau tiga malam selama 15 menit. Sampai ketemu, berapa jam kebutuhan tidur kita sesungguhnya dalam sehari. “Nah, kalau sudah dirutinkan tidur sekian jam itu, evaluasi produktivitas dan status emosional kita. Jika ternyata jauh lebih baik, sekian jam itulah kebutuhan tidur kita,” ujar Andreas. Secara umum, berdasarkan kemampuan kognitif, mental dan emosional, manusia butuh tidur antara 7,5-8,5 jam per hari. “Tapi dengan catatan, kita tidak menderita gangguan tidur. Kalau ada gangguan tidur kita tetap mengantuk walau tidur cukup,” tambahnya. Sepertinya kebutuhan tidur ini memang harus dipenuhi setiap individu. Jika tidak? Kemampuan kognitif dan mental bakal terganggu dan ini bakal berpengaruh pada produktivitas.

Lalu, bagaimana jika ada individu yang merasa tetap produktif jika tidur kurang dari enam jam, misalnya. “Saya tetap katakan pada orangorang tersebut untuk menambah jam tidur. Jika sudah ditambah pasti produktivitas pun bakal bertambah,” ujar sosok penggemar bike to work ini .Kecukupan waktu tidur ini memang tak boleh disepelekan. Berbagai penelitian pun telah banyak membuktikannya. “Ada penelitian yang menyatakan bahwa remaja yang cukup tidur bakal lebih tahan terhadap stress dibanding yang kurang tidur,” ujar Andreas. Penelitian serupa juga dilakukan pada para remaja di Amerika yaitu dengan memundurkan jam masuk sekolah. Hasilnya, selain prestasi akademik dan olah raga yang meningkat, kenakalan remaja justru jauh berkurang. “Terkait dengan kesehatan tubuh, kondisi kurang tidur juga ditengarai menyebabkan peningkatan gula darah, tekanan darah, berat badan dan risiko terserang kanker,” katanya serius.

Sebelum terlanjur bermasalah, menghitung waktu tidur sesuai kebutuhan mungkin langkah bijak. SUSANDIJANI

TIP
Jetlag? Istirahat Cukup

Sebagai seorang profesional, terbang ke zona waktu berbeda seringkali tak terhindarkan. Akibatnya, jetlag pun jadi langganan. Untuk menghindarinya simak beberapa tips Dr Andreas Prasaja RPSGT dalam bukunya, Ayo Bangun! Dengan Bugar karena Tidur yang Benar. Pertama, sebelum berangkat, persiapkan diri dengan mencukupi kebutuhan istirahat. Kalau bisa tidur lebih banyak dari biasanya. Jika Anda terbang dalam keadaan lelah, malah akan memperburuk kondisi di perjalanan. Kedua, usahakan duduk senyaman mungkin di pesawat. Sesekali lakukan peregangan otot supaya tidak kaku. Bila perlu, berjalan-jalan sejenak, sekadar membersihkan wajah di toilet. Jika terbang dimalam hari, isi waktu dengan tidur, bila perlu gunakan penutup mata. Minum air yang cukup, jangan minum alkohol atau minuman berkafein, karena bisa mengganggu istirahat Anda. Ketika sampai tujuan, usahakan mengikuti pola tidur setempat. Terakhir mengkonsumsi obat tidur yang memiliki kerja pendek. Obat ini akan banyak membantu proses adaptasi dan bisa membantu tidur di perjalanan atau setiba di tujuan. SDJ