Pendengkur yang Tidur Lebih Lama Rentan Kanker Usus

Sebuah penelitian baru yang terbit pada jurnal SLEEP mencoba ungkapkan hubungan antara ngorok, durasi tidur dan kanker colorectal (usus).

Penelitian ini melihat data 30.121 the Health Professionals Follow-up Study (HPFS) dan 76.368 wanita dari the Nurses’ Health Study. Lewat kuesioner, para peneliti menanyakan kebiasaan tidur, durasi tidur, dan seberapa sering mendengkur. Para peneliti juga mengakses rekam medis para peserta penelitian untuk melihat adanya diagnosa kanker colorectal. Didapati 1.973 diagnosa baru kanker usus.

Para peneliti dari Harvard Medical School mendapati bahwa pendengkur yang tidur lebih dari 9 jam seharinya berisiko derita kanker usus 1,4-2 kali lipat!

Mendengkur bukanlah kondisi normal yang bisa diabaikan. Pendengkur kemungkinan besar menderita sleep apnea atau henti nafas saat tidur. Akibatnya kadar oksigen selama tidur bisa naik turun tak beraturan sepanjang malam. Akibat sesak, pendengkur terpotong-potong proses tidurnya sehingga kualitasnya buruk. Ini sebabnya orang yang ngorok bangun tak segar dan mengantuk sepanjang hari.

Pada penelitian ini, para ahli mencatat bahwa durasi tidur lebih dari 9 jam pada pendengkur akan tingkatkan risiko seseorang menderita kanker usus. Tapi sesungguhnya tak ada kelebihan atau kebanyakan tidur. Yang ada adalah kantuk berlebihan hingga pendengkur bisa tidur lebih lama. Tidur itu ada porsinya, jika sudah cukup kita tak akan bisa tidur lagi.

Hubungan antara mendengkur dan kanker telah berulang kali diteliti. Seelompok peneliti, mendapati bahwa pada tikus yang alami penurunan oksigen secara berkala, persis seperti penderita sleep apnea, akan memiliki kanker yang lebih ganas dibanding yang normal oksigennya. Dari sini kita dapat simpulkan bahwa penurunan kadar oksigen saat tidur berperan penting pada terjadinya kanker pada penderita sleep apnea.

Apakah Ngorok Saya Berbahaya?

Anda kenal seseorang yang selalu mengeluh mengantuk, mudah lelah dan dengan gampang dapat tidur dimana saja? Ini adalah gejala hipersomnia atau kantuk yang berlebihan.

Mengantuk

Kantuk mungkin biasa saja bagi sebagian orang. Dianggap sedemikian biasa hingga orang yang mengantuk, masih berani mengendara. Tanda-tanda awal mengantuk seperti ceroboh, mudah melupakan hal-hal kecil, sulit berkonsentrasi atau sakit kepala masih dianggap tak berhubungan dengan tidur.

Si pengantuk yang mendengkur saat tidur mungkin lucu dan sering jadi bahan tertawaan di kalangan sahabat atau kerabat. Tapi, tahukah Anda bahwa kemungkinan besar mereka menderita penyakit yang berbahaya? Sebuah penyakit yang menjadi penyebab penyakit-penyakit kronis lain seperti hipertensi, berbagai gangguan jantung, diabetes, stroke, impotensi, bahkan kematian. Penyakit tidur itu bernama sleep apnea, henti nafas saat tidur.

Sleep Apnea

Mendengkur terjadi karena saluran nafas melemas dan menyempit saat tidur. Akan terjadi henti nafas ketika saluran nafas menyempit total hingga tak ada udara yang mengalir masuk atau keluar. Gerakan nafas tetap ada tetapi seolah tercekik, penderitanya merasa sesak. Akibat sesak, penderitanya akan terbangun singkat tanpa terjaga untuk menarik nafas. Ini bisa terjadi berulang kali sepanjang malam, dan penderita sama sekali tak menyadarinya! Akibatnya tak heran jika pendengkur bangun tak segar dan terus mengantuk di siang hari.

Saya Penderita?

Gejala utama sleep apnea adalah mendengkur setiap kali tidur. Sekali waktu mendengkur ketika lelah atau kurang tidur tidak termasuk. Jika diantara dengkuran, pasangan atau orang lain melihat nafas tampak sesak, ini sudah indikasi kuat untuk tidak menunda-nunda pemeriksaan. Ya, percayalah pada orang lain. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada diri kita sendiri saat tidur.
Selain mendengkur, hipersomnia juga menjadi gejala utama. Ketika rekan Anda sepanjang hari memesan kopi dan berulang kali merokok demi mempertahankan konsentrasi, peringatkan. Itu tanda-tanda mengantuk berlebihan.

Sayang, di Indonesia, gejala-gejala ini masih diabaikan. Akibatnya banyak orang mengantuk yang membahayakan dirinya setiap hari dengan berkendara. Belum lagi angka penderita diabetes, dan penyakit jantung dan pembuluh darah yang terus meningkat di tanah air. Padahal banyak penderita sleep apnea yang berkunjung ke dokter dengan berbagai keluhan, sakit kepala menahun, sering kencing di malam hari, tekanan darah tinggi yang sulit terkontrol, bahkan yang sudah menderita serangan jantung luput dari deteksi radar. Untuk itu, jangan lupa ceritakan pada dokter Anda jika alami gejala-gejala ini.

Derajat Ngorok dengan Risiko Stroke dan Demensia

Mendengkur telah lama dikaitkan dengan banyak penyakit jantung-pembuluh darah dan stroke. Kini, sekelompok peneliti dari Korea mencoba melihat hubungan antara ngorok-sleep apnea dengan risiko stroke dan demensia lewat pengamatan pada perubahan substansia alba otak.

Mendengkur

Suara dengkur selama ini dianggap sebagai suara yang mengganggu. Tetapi kenyataannya, ngorok bisa menjadi suatu tanda yang membahayakan. Bahaya tersebut adalah sebuah penyakit tidur bernama sleep apnea.

Sleep apnea, artinya henti nafas saat tidur, mempunyai dua gejala utama yaitu mendengkur dan kantuk berlebihan di siang hari. Pada saat tidur, penderitanya mengalami peyempitan saluran nafas hingga mengganggu aliran udara. Bahkan walau gerak nafas tetap ada, aliran udara terputus seolah tercekik dalam tidur. Akibat sesak, penderita akan terbangun singkat untuk bernafas. Tetapi ia tak akan sadar jika sepanjang malam terbangun-bangun dari tidur.

Kadar oksigen pada tubuh akan turun dan naik selama tidur. Aktivitas simpatis juga meningkatkan kekentalan darah dan merusak dinding pembuluh darah. Kedua mekanisme ini yang diduga mengakibatkan perubahan pada struktur substansia alba di otak.

Penelitian

Penelitian yang diterbitkan pada jurnal kedokteran tidur SLEEP ini ingin melihat hubungan derajat keparahan mendengkur dengan perubahan pada struktur white matter/substansia alba otak. Perubahan pada substansia alba dikaitkan dengan berkembangnya stroke dan demensia.

503 orang peserta diperiksa di laboratorium tidur untuk mengetahui derajat keparahan dengkur/sleep apnea-nya. Kemudian para peserta dengan berbagai derajat keparahan sleep apnea ini diperiksakan struktur otaknya dengan menggunakan magnetic resonance imaging (MRI).

Keparahan sleep apnea dilihat dari indeks henti nafas perjam (AHI/ Apnea Hypopnea Index). AHI kurang dari lima dinyatakan normal, tak menderita sleep apnea. AHI 5-15 kali perjam merupakan sleep apnea ringan. AHI 16-30 sleep apnea sedang, dan AHI >30 kali perjam adalah sleep apnea yang berat.

Hasilnya, pendengkur dengan sleep apnea sedang dan berat, mempunyai risiko dua kali lipat untuk alami perubahan pada substansia alba-nya. Artinya pendengkur, jika menderita sleep apnea sedang-berat, punya risiko dua kali lipat untuk menderita stroke atau demensia.

Sleep Apnea dan Stroke

Penelitian ini sejalan dengan peneliti sebelumnya di tahun 2005 pada American Journal of Hypertension yang juga mengaitkan sleep apnea dengan stroke. Namun, kelompok peneliti ini lebih melihat efek penurunan kadar oksigen pada sleep apnea dengan angka kejadian stroke. Dua kelompok peneliti berbeda di Jepang juga melakukan penelitian yang sama. Keduanya menemukan tingginya angka penderita gangguan pembuluh darah otak dengan derajat keparahan sleep apnea.

Perawatan Sleep Apnea

Ngorok sudah tak dapat diabaikan lagi. Tapi jangan salah mengerti. Keparahan sleep apnea dilihat dari derajat henti nafasnya, bukan dari volume suara dengkuran. Berbagai penelitian semuanya melihat dari henti nafas yang dialami pendengkur. Tidak pada volume suara atau seberapa mengganggunya suara dengkuran tersebut.

Untuk mengetahui seorang pendengkur menderita sleep apnea atau tidak, diperlukan pemeriksaan seksama di laboratorium tidur.

Perawatan nantinya ditentukan dari hasil pemeriksaan tidur. Sementara ini yang paling banyak digunakan adalah perawatan dengan gunakan continuous positive airway pressure (CPAP). Sebuah alat yang meniupkan tekanan positif ke hidung pasien, untuk menjaga agar saluran nafas tetap membuka saat tidur.

Perawatan sleep apnea ditujukan untuk mengatasi henti nafas agar kesehatan dan kualitas hidup tetap terjaga serta menghidari cidera lebih lanjut pada otak. Tentu saja suara dengkuran pun akan hilang nantinya.

 

Ngorok Lebih Berbahaya Dibanding Merokok

Suara dengkur pasti mengganggu, tapi lebih dari itu ngorok sebenarnya adalah alarm tanda bahaya bagi kesehatan kita. Bahkan tim peneliti dari Detroit AS, nyatakan bahwa mendengkur lebih berbahaya dari merokok! Pendengkur mempunyai risiko lebih besar mengalami penebalan arteri karotis dibanding perokok, orang yang obese (gemuk) atau bahkan yang memiliki kadar kolesterol tinggi sekali pun.

Arteri karotis adalah pembuluh darah yang memberikan suplai ke daerah leher dan kepala, termasuk otak. Jika dinding pembuluh darah ini mengalami penebalan, bisa menjadi permulaan dari berbagai penyakit pembuluh darah lainnya.

Mendengkur dan Sleep Apnea

Mendengkur telah lama diketahui menjadi tanda dari henti nafas saat tidur atau sleep apnea. Henti nafas saat tidur terjadi akibat sempitnya saluran nafas, sehingga walau dada naik turun berusaha bernafas, tak ada udara yang dapat mengalir lewat. Akibatnya oksigen akan turun sepanjang malam. Para ahli sudah menyatakan bahwa sleep apnea merupakan penyebab utama hipertensi, penyakit jantung, diabetes, impotensi hingga stroke.

Sebenarnya sejak tahun 2003, dunia kedokteran modern sudah mengamini bahwa salah satu penyebab utama tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah sleep apnea. Ini tertuang dalam laporan dari the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure yang lebih dikenal sebagai JNC7.

Sementara berbagai jurnal penelitian kedokteran terus berkembang dan memuat tentang bagaimana sleep apnea menyebabkan berbagai penyakit fatal seperti penyakit jantung koroner, serangan jantung hingga stroke.

Penelitian

Namun penelitian ini menunjukkan bahwa jauh sebelum menjadi sleep apnea, suara dengkuran saja sudah merupakan tanda bahaya yang tak boleh diabaikan.

Para peneliti mengamati data 913 pasien yang telah diperiksa di klinik gangguan tidur antara Desember 2006 dan Januari 2012. Setelah diperiksa, dikumpulkan pasien yang mendengkur tapi tidak menderita sleep apnea.

Secara keseluruhan ada 54 orang pasien yang mendengkur yang dilakukan pengukuran ketebalan dinding arteri karotis dengan menggunakan ultrasound (USG). Ketebalan arteri karotis dapat digunakan untuk melihat perkembangan penyakit atherosklerosis (pengerasan pembuluh darah). Penebalan dinding arteri karotis merupakan tanda dari penyakit arteri karotis.

Hasilnya, pasien yang mendengkur memiliki arteri karotis yang lebih tebal dibanding yang tidak mendengkur. Para peneliti menduga getaran akibat ngoroklah yang menyebabkan trauma pada pembuluh darah hingga sebabkan peradangan dan pada akhirnya akibatkan penebalan pembuluh darah.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa secara statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada penebalan arteri karotis pada pasien dengan atau tanpa risiko-risiko penyakit jantung-pembuluh darah yang selama ini kita kenal. Faktor-faktor risiko itu antara lain adalah merokok, diabetes, tekanan darah tinggi atau kadar kolesterol yang tinggi.

Perawatan

Tahap pertama perawatan mendengkur adalah dengan mengenali adanya masalah. Keluarga dan kerabat harus meyakinkan penderita kalau ia mendengkur. Ya, pendengkur hanya tahu dirinya ngorok jika diberi tahu oleh orang lain.

Untuk perawatan medis, dimulai dengan pemeriksaan tidur untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan di laboratorium tidur tak ubahnya pemeriksaan fungsi jantung atau pernafasan saja, bedanya ia dilakukan saat tidur. Kenapa saat tidur? Karena gangguan nafasnya hanya terjadi pada saat tidur.

Setelah diagnosa ditemukan baru dokter akan menentukan perawatan yang sesuai untuk kondisi setiap pendengkur. Biasanya menggunakan CPAP, operasi atau oral appliances.

CPAP singkatan dari continuous positive airway pressure, berupa sebuah alat yang dihubungkan ke hidung lewat masker. Perawatannya amat nyaman karena memberikan kualitas tidur yang maksimal.

Dua penelitian berbeda di Australia dan Eropa tahun 2003 tunjukkan bahwa setelah mendengkur dirawat dengan CPAP risiko pasien untuk menderita penyakit jantung koroner turun hingga 37%, sementara risiko stroke turun 56%. Sementara penelitian tahun 2004 dan 2005 tunjukkan bagaimana penggunaan CPAP pada pendengkur dengan diabetes membantu tingkatkan sensitivitas insulin serta kontrol gula darahnya.

Dampak

Di AS diperkirakan 40% pria dan 24% wanita adalah pendengkur. Walau kita mempunyai data yang valid di Indonesia diperkirakan jumlah pendengkur tidak jauh berbeda. Bayangkan berapa banyak di antara kita yang mengalami bahaya setiap tidurnya.

Mendengkur selama ini dianggap sebagai suara yang mengganggu. Di lingkungan pergaulan ngorok selalu menjadi bahan lelucon. Bahkan pihak asuransi sering menganggap dengkuran sebagai suatu gangguan yang bersifat kosmetik dan tidak membahayakan.

Tetapi dengan banyaknya data penelitian yang terus bertambah, suara ngorok tak dapat lagi kita abaikan. Para ahli kesehatan sudah mulai melihat dengkuran sebagai salah satu faktor risiko penyakit yang sejajar posisinya dengan hipertensi atau peningkatan kadar kolesterol.

Akhir kata, jika Anda menemukan rekan atau kerabat yang mendengkur, peringatkan. Dengan demikian Anda telah menyelamatkan nyawanya.

Mengatasi Mendengkur Memperbaiki Kemampuan Otak

Mendengkur telah diketahui menjadi tanda dari sleep apnea atau henti nafas saat tidur. Penelitian yang dipublikasikan pada jurnal kedokteran SLEEP ungkapkan efek pengobatan ngorok pada kemampuan kognitif dan mental manusia.

Sleep Apnea

Mendengkur sering kali diselingi oleh henti nafas saat tidur. Henti nafas terjadi akibat saluran nafas yang menyempit saat tidur. Akibatnya, walau gerak nafas masih ada, udara tak ada yag bisa masuk ataupun keluar. Biasanya penderita akan tampak sesak dalam tidurnya.

Akibat sesak, mekanisme pengaman tubuh akan membangunkan otak sejenak tanpa terjaga. Lalu diikuti dengan episode seolah tersedak atau batuk-batuk. Walau terbangun-bangun sepanjang malam, penderita tak menyadari. Ia hanya merasa bangun tak segar walau tidur sudah cukup.

Efek lain dari henti nafas saat tidur tentu berkurangnya kadar oksigen dalam darah. Kadar oksigen dan karbondioksian terus naik dan turun selama tidur. Kadang kala bahkan sampai membahayakan nyawa.

Dengkur Rusak Otak

Sleep apnea telah diketahui menyebabkan hipertensi, diabetes, penyakit jantung hingga stroke dan kematian. Namun mendengkur juga mengganggu kemampuan otak manusia.

Kemampuan kognitif-mental dan emosional penderita sleep apnea jelas terganggu. Kantuk berlebihan yang dialami jelas menurunkan konsentrasi, ketajaman analisa, daya ingat dan ketelitian. Emosi pun turut terganggu. Bayangkan saja, misalkan diri kita hanya tidur 2-3 jam di malam hari, bagaimana rasanya di pagi hari? Begitu juga yang dirasakan penderita sleep apnea setiap hari.

Dua penelitian di tahun 2008 dan 2009 sudah membuktikan lewat pencitraan otak bagaimana mendengkur merusak beberapa bagian otak. Terutama bagian-bagian yang bertanggung jawab pada kemampuan pengambilan keputusan, daya ingat dan emosi.

Penelitian selanjutnya dengan MRI juga buktikan bahwa wanita yang mendengkur mengalami kerusakan lebih parah dibanding pria. Efeknya pada kecenderungan depresi dan kecemasan juga didapati lebih tinggi dibandingkan pria.

Efek Perawatan

Kelompok peneliti dari Stanford menjalankan the Apnea Positive Pressure Long-term Efficacy Study (APPLES) yang ambisius. Penelitian yang dipimpin Clete Kushida ini ingin melihat efek perawatan sleep apnea dalam jangka panjang. Selama 6 bulan 1098 peserta diikuti dan diteliti.

Pendengkur menjalani pemeriksaan di laboratorium tidur. Yang terdiagnosa positif alami henti nafas saat tidur diberikan perawatan dengan gunakan continuous positive airway pressure (CPAP). CPAP adalah sebuah alat yang dihubungkan ke masker hidung pendengkur untuk mengatasi henti nafasnya. Suara dengkuran otomatis juga hilang dengan gunakan CPAP ini.

Setelah gunakan CPAP selama 2 bulan dan 6 bulan, para pasien ini diperiksa kemampuan kognitif-mental nya. Yang dites adalah kemampuan konsentrasi, kemampuan belajar dan daya ingat.

Hasilnya CPAP secara obyektif maupun subyektif, mengurangi rasa kantuk berlebihan yang dikeluhkan pendengkur.

Kemampuan untuk mengambil keputusan dan fungsi-fungsi lobus frontal otak didapati membaik setelah penggunaan CPAP selama 2 bulan. Sedangkan kemampuan konsentrasi dan belajar didapati tak mengalami perubahan setelah 6 bulan.

Tim peneliti menyimpulkan, terdapat hubungan yang kompleks antara sleep apnea dan kemampuan kognitif-mental. Tak banyak perbaikan yang ditemukan sekali bagian-bagian tertentu otak sudah alami gangguan. Untuk itu para ahli menekankan pentingnya penanganan mendengkur sesegera mungkin sebagai pencegahan kerusakan lebih lanjut.

dr. Andreas Prasadja, RPSGT

Sepuluh Persen Anak Mendengkur & Derita Sleep Apnea

Penilitian bertajuk PANIC, Physical Activity and Nutrition in Children di Finlandia, mengungkapkan fakta mengejutkan, sepuluh persen dari anak usia 6 sampai 8 tahun ternyata mendengkur dan menderita sleep apnea.

Ngorok dan mendengkur menyimpan gangguan yang tak bisa diremehkan, apalagi bagi anak-anak. Dengkuran anak bisa saja pelan, tetapi gangguan nafas tetap terjadi. Henti nafas saat tidur atau dikenal dengan sebutan sleep apnea, pada orang dewasa telah dikenal menyebabkan hipertensi, diabetes, penyakit jantung hingga stroke. Namun pada anak-anak akibatnya bisa lebih memprihatinkan, langsung pada perilaku dan tumbuh kembangnya.

Ngorok pada anak disebabkan oleh saluran nafas atas yang menyempit saat tidur. Akibatnya secara periodik nafas tersumbat. Saat sesak, anak akan terbangun sejenak untuk kembali membuka jalan nafas. Lalu ia tertidur kembali tanpa sadar ia terbangun. Episode ini terjadi berulang kali sepanjang malam hingga proses tidur jadi terpotong-potong. Anak pun bangun tak segar dan terus mengantuk sepanjang hari.

Hanya saja, manifestasi kantuk berlebihan pada anak akan berbeda dibanding dewasa. Untuk melawan rasa kantuk, anak malah menjadi hiperaktif. Ia pun mengalami kesulitan untuk mempertahankan konsentrasi. Gangguan kemampuan menyerap pelajaran juga turut mengikuti. Terakhir, tahukah Anda bahwa proses tumbuh kembang anak terjadi pada saat tidur?

Dalam penelitian yang diterbitkan pada the European Journal of Pediatrics ini ditemukan bahwa penyebab utama sempitnya saluran nafas pada anak-anak ini adalah pembengkakkan amandel dan adenoid serta struktur wajah-rahang yang kecil. Bukan kegemukan seperti yang selama ini dipercaya, walau diakui kegemukan menjadi faktor yang memberatkan.

Ketika anak mendengkur setiap malam, ia harus diperiksakan tidurnya untuk mengetahui apakah terjadi gangguan nafas atau tidak. Pemeriksaan tidur di laboratorium tidur adalah pemeriksaan rutin untuk mendiagnosa sleep apnea pada anak. Dengan menggunakan polisomnografi, anak dilekatkan dengan sensor-sensor untuk merekam proses tidurnya. Prosedur ini sama sekali tidak menyakitkan. Malah menjadi pengalaman unik yang menyenangkan bagi anak. Jauh hari anak sudah diperkenalkan dan dipersiapkan dengan prosedur yang akan dilakukan.

Para ahli menekankan pentingnya mengatasi mendengkur sejak usia sedini mungkin. Ini untuk menghentikan laju kerusakan yang bisa diakibatkan sleep apnea. Perlu diingat, potensi anak tumbuh saat tidur. Jika terlambat, kita tak dapat mengulang proses itu lagi.

Akhir kata, para ahli mengingatkan bahwa angka satu dari sepuluh anak ini bukan main-main. Anak dengan sleep apnea bisa alami gangguan pada tumbuh kembang dan perilakunya. Kualitas anak ditentukan oleh kualitas tidurnya.

Mendengkur dan Diabetes Punya Efek Merusak Arteri yang Sama

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa orang yang ngorok dalam tidur mungkin sekali mengalami kerusakan pembuluh darah arteri, sama seperti yang ditemukan pada penderita diabetes. Tapi bukan sembarang mendengkur, karena suaranya sendiri tak mengganggu kesehatan. Henti nafas saat tidur atau sleep apnea yang menyertai suara dengkuran yang menjadi masalah.

Sleep Apnea

Gangguan nafas saat tidur ini memerupakan salah satu penyebab berbagai penyakit jantung dan pembuluh darah. Diantara suara dengkur, saluran nafas penderita sleep apnea bisa tertutup berulang kali hingga tak ada udara yang bisa masuk atau keluar sistem tubuh. Akibatnya oksigen dalam tubuh turun dan naik secara periodik.

Penurunan kadar oksigen dan peningkatan aktivitas simpatis memicu reaksi berantai yang berujung pada penurunan kesehatan jantung dan pembuluh darah. Tekanan darah yang meninggi merupakan akibat sleep apnea yang paling sering ditemukan. Ya, mendengkur berakibat buruk bagi kesehatan seseorang.

Sementara diabetes telah lama diketahui mempunyai resiko tinggi untuk menderita penyakit-penyakit jantung dan pembuluh darah. Diabetes sendiri kini didapati berhubungan langsung dengan ngorok dan sleep apnea. Penelitian ini ingin membandingkan efek buruk mendengkur dan diabetes, terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Penelitian

Kelompok peneliti dari the Carol Davila University and Pharmacy, Bucharest, Rumania membandingkan kondisi pembuluh darah arteri pasien yang mendengkur dan terdiagnosa sleep apnea, dengan penderita diabetes.

Para ahli mengumpulkan 20 orang penderita sleep apnea tanpa diabetes, 20 orang penderita diabetes dan 20 orang sehat sebagai pembanding atau kontrol.

Pengukuran lapisan intima media pada arteri karotis dilakukan dengan ultrasound. Lapisan intima dan media diukur ketebalannya, dimana semakin tebal lapisan ini berarti semakin tinggi resiko pasien terganggu kesehatan jantung-pembuluh darah dan stroke.

Hasilnya ketebalan intima media penderita sleep apnea dan diabetes memiliki kemiripan. Penderita sleep apnea 0,94 mm, penderita diabetes 0,89 mm, sedangkan yang sehat hanya 0,64 mm. Disamping itu, arteri penderita sleep apnea dan diabetes juga didapati lebih kaku dibanding orang sehat. Ini menunjukkan ada penurunan fungsi arteri yang sama pada penderita sleep apnea dan diabetes.

Fungsi endothelial juga didapati sama buruknya pada penderita sleep apnea dan diabetes. Pengukuran fungsi endothelial dilakukan untuk melihat kemampuan/kelenturan pembuluh darah melebar dan menyempit. Semakin lentur/kenyal, tentu semakin baik. Pada penderita sleep apnea, aliran dilatasi (melebar) amat terbatas, hanya 7,7%. Sementara penderita diabetes hasilnya mirip, yaitu 8,4%. Bandingkan dengan yang sehat, 19%.

Pasien dengan sleep apnea sedang dan parah memiliki arteri yang lebih kaku dibanding kontrol. Demikian juga dengan penderita diabetes. Dapat disimpulkan bahwa mendengkur dengan sleep apnea dan diabetes sama-sama memiliki resiko yang tingginuntuk menderita penyakit kardiovaskular.

Penutup

Penelitian ini tunjukan bahwa tidur ngorok tak bisa disepelekan. Mendengkur memiliki resiko menderita penyakit jantung-pembuluh darah yang sama dengan diabetes.

Jadi, jika Anda temukan sahabat atau kerabat yang mendengkur, jangan cuma ditertawakan. Peringatkan, Anda dapat menyelamatkan nyawanya!

dr. Andreas Prasadja, RPSGT