Dengkur “Sleep Apnea” Ringankan Efek Serangan Jantung

 

KOMPAS.com – Kita tahu bahwa mendengkur buruk bagi kesehatan jantung. Tetapi penelitian terbaru yang diterbitkan pada jurnal kedokteran “Sleep and Breathing” memberikan sudut pandang baru tentang hubungan ngorok dan serangan jantung.

Sleep Apnea

Mendengkur dan kantuk berlebihan merupakan dua tanda utama dari sleep apnea atau henti nafas saat tidur. Saluran nafas atas yang sudah sempit melemas saat tidur hingga mengakibatkan terhentinya aliran udara. Penderitanya tercekik saat tidur! Akibat sesak, mekanisme pengaman tubuh akan membangunkan otak sejenak untuk mengambil nafas.

Penderitanya tampak seolah tersedak dan menarik udara lalu lanjut mendengkur kembali. Karena terbangun-bangun singkat tanpa terjaga ini, penderita sleep apnea mengalami kantuk berlebihan walau tidur cukup lama. Selama tidur, terjadi penurunan oksigen, peningkatan tekanan dalam dada dan peningkatan sel-sel inflamasi yang semuanya berperan dalam berkembangnya penyakit-penyakit jantung dan pembuluh darah.

Serangan Jantung

Serangan jantung yang dibicarakan adalah infark miokard akut (IMA) yang terjadi sebagai akibat dari tersumbatnya arteri koroner sehingga aliran darah ke otot jantung jadi terbatas atau terputus sama sekali. Ini yang sering juga dikenal awam sebagai penyakit jantung koroner. Otot jantung seolah tercekik. Area jantung yang tercekik disebut juga sebagai area infark. Pada hewan percobaan, pengurangan oksigen saat malam hari terbukti meringankan akibat serangan jantung. Area infark jadi lebih kecil. Diduga efek perlindungan jantung ini disebabkan oleh ischemic preconditioning. Jantung telah terlatih dengan kondisi kekurangan oksigen.

Penelitian

Penelitian yang dilakukan sekelompok peneliti dari Albert Einstein College of Medicine, Bronx – New York ini mencoba melihat efek perlindungan ini pada manusia. Mereka menilai derajat keparahan serangan jantung (IMA) dan hubungannya dengan sleep apnea. Derajat keparahan IMA dinilai dengan pengukuran kadar troponin-T. Troponin-T adalah penanda dalam darah yang menunjukkan adanya sel jantung yang mati.

Dari 136 pasien serangan jantung, didapati sebanyak 35 persennya menderita sleep apnea. Derajat keparahan sleep apnea dinilai dari AHI (Apnea-hypopnea Index) atau jumlah henti nafas setiap jamnya. Semakin tinggi AHI, semakin rendah pula kadar troponin-T dalam darah. Artinya semakin parah sleep apnea seseorang, semakin ringan pula kerusakan sel jantung yang dialami. Dalam penelitian ini, diperiksakan juga kadar creatine phosphokinase (CPK). CPK adalah enzim yang tinggi kadarnya saat terjadi stress pada otot. Pada serangan jantung, kadar CPK tinggi dianggap sebagai tahap akut dari serangan jantung. Disimpulkan juga bahwa sleep apnea tampaknya mempunyai efek perlindungan jantung pada tahap akut infark miokard.

Kesimpulan

Pasien pendengkur mengalami cedera otot jantung yang lebih ringan dibandingkan dengan pasien yang tidak. Disimpulkan bahwa sleep apnea melindungi otot jantung karena telah terlatih/terbiasa dengan kondisi iskemik, atau kurang oksigen. Namun para ahli mengingatkan juga bahwa sleep apnea sendiri berperan dalam berkembangnya penyakit jantung. Pemeriksaan dan perawatan sleep apnea tetap menjadi prioritas utama.

Dengkur Ringankan Serangan Jantung

Ngorok Perlu Diobati Agar Jantung Pulih

Dr. Andreas Prasadja, RPSGT * | Asep Candra | Rabu, 21 Maret 2012 | 13:58 WIB

KOMPAS.com – Sebuah penelitian baru yang dilakukan di Birmingham Inggris menunjukkan bahwa perawatan mendengkur ternyata dapat memperbaiki fungsi-fungsi jantung.

Mendengkur telah lama diketahui sebagai tanda dari sleep apnea atau henti nafas dalam tidur. Sleep apnea terjadi akibat dari menyempitnya saluran nafas saat tidur, hingga aliran udara terhenti. Walau gerakan nafas berusaha keras menarik udara, udara tetap tidak dapat masuk ataupun keluar dari paru-paru. Akibatnya penderita dalam keadaan sesak akan terbangun tanpa sadar untuk mengambil nafas.

Perhatikan, walau gelombang otak terbangun, si penderita tidak sampai terjaga. Akibatnya, ia bangun dengan rasa tak segar dan terus mengantuk tanpa tahu penyebabnya. Episode henti nafas ini berulang sepanjang malam mengakibatkan reaksi berantai yang berujung pada hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke hingga kematian.

Pemimpin penelitian, Dr. Gregory Lip menegaskan bahwa sleep apnea tak dapat dianggap sebagai gangguan yang ringan. Sudah lama para ahli mengetahui bahaya ini. Sayang, masyarakat umum masih menganggap mendengkur sebagai gangguan suara biasa saja. Akibatnya, risiko berbagai penyakit berbahaya terus mengintai setiap malam. Amat disayangkan karena semua penyakit tersebut bisa dicegah dengan mengatasi dengkuran.

Sebuah penelitian lain yang lebih dulu diterbitkan oleh jurnal Circulation di tahun 2003 bahkan menyebutkan bahwa dengan perawatan sleep apnea, seorang pendengkur akan turun risikonya untuk menderita berbagai penyakit jantung sebanyak 37 persen, sementara risiko terserang stroke turun hingga 56 persen.

Dari pemeriksaan standar di laboratorium tidur, pasien penderita sleep apnea dikelompokan dalam kategori ringan, sedang dan parah berdasarkan jumlah henti nafas perjam dalam tidur. Dalam penelitian yang dipublikasikan jurnal American Heart Association itu, dilakukan echocardiography pada 40 orang pendengkur dengan sleep apnea, 40 orang penderita hipertensi tanpa sleep apnea dan 40 orang sehat.

Hasilnya, penderita sleep apnea dan penderita hipertensi tanpa sleep apnea mengalami gangguan struktur dan fungsi pada ventrikel kiri jantung. Kelompok yang menderita sleep apnea, kemudian diberikan perawatan berupa Continuous Positive Airway Pressure (CPAP). Alat ini berupa unit alat yang dihubungkan ke masker hidung dan meniupkan tekanan positif untuk mengganjal saluran nafas agar tetap membuka selama tidur.

Penderita sleep apnea walau awalnya menganggap penggunaan CPAP sebagai sesuatu yang seram dan merepotkan, namun akhirnya jatuh hati karena kualitas tidur menjadi lebih baik. Ini tampak dari kualitas hidup di siang harinya. Setelah menggunakan CPAP selama 6 bulan, para pendengkur dengan sleep apnea kembali diperiksa. Hasilnya, penebalan dinding jantung berkurang, dan fungsi-fungsi jantung didapati membaik.

Penulis juga mengingatkan, walau tidak merasakan gejala-gejala gangguan jantung, sebaiknya tetap waspada jika kita seorang mendengkur. Karena terbukti, perawatan dengkur dapat mengurangi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

Anda pendengkur?

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mendengar kesaksian pasangan. Sebab dialah yang tahu kondisi kita saat tidur. Kita sendiri tak pernah tahu bila diri kita mendengkur. Pendengkur akan menjalani pemeriksaan di laboratorium tidur. Pemeriksaan yang rumit namun nyaman ini tak memerlukan persiapan khusus. Tinggal datang, dipasangi alat, lalu tidur hingga pagi.

Dari pemeriksaan tidur, baru didapatkan diagnosa dan bisa diputuskan perawatan terbaik. Penggunaan CPAP pun diperkenalkan. Penyetelan alat, pengenalan hingga pemberian alat hanya boleh dilakukan oleh tenaga medis yang memang terlatih khusus. Setelah penggunaan Anda akan merasa segar bugar seolah terlahir kembali. Semua tantangan baru seolah bisa diatasi dengan mudah. Dan Anda pun terhindar dari berbagai penyakit berbahaya yang mungkin mengintai jika dengkuran tak diatasi.

http://health.kompas.com/read/2012/03/21/13583067/Ngorok.Perlu.Diobati.Agar.Jantung.Pulih

Mendengkur dan Performa Seks

Gangguan tidur jelas menyebabkan penurunan semangat, vitalitas kemampuan konsentrasi dan juga performa seksual. Siapa pun akan menolak berhubungan seks saat lelah mendera. Tetapi gangguan tidur bukan hanya insomnia saja. Tahukah Anda adanya gangguan tidur yang membuat kita terus merasa lelah dan mengantuk walau tidur cukup? Kantuk berlebihan, dikenal dengan sebutan hipersomnia, adalah rasa kantuk yang dirasakan walau sudah tidur cukup.

Penyebab hipersomnia tersering adalah sleep apnea atau henti nafas saat tidur, yang ditandai dengan kebiasaan mendengkur. Sleep apnea terjadi akibat menyempitnya saluran nafas saat tidur. Akibatnya kadar oksigen dalam darah turun berulang-ulang sepanjang malam. Kerja jantung dan berbagai organ pun turut terganggu. Sleep apnea telah dikenal luas mengakibatkan penyakit-penyakit berbahaya seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung hingga stroke. Tetapi sleep apnea juga menyebabkan penurunan kualitas hidup, mulai dari produktifitas kerja, kehidupan rumah tangga dan performa seks.

Dalam kehidupan rumah tangga pendengkur sering dianggap keluarganya sebagai pemalas karena selalu mengantuk dan kelelahan. Efek dari hipersomnia juga memberikan penampakan seseorang yang kurang bermotivasi dan lamban. Akibat kondisi kurang tidur ini juga, seseorang menjadi sensitif, mudah marah, tak sabaran dan emosional. Apalagi suara dengkuran yang mengganggu setiap malam. Menurunnya minat seksual, walau jarang dibicarakan, menjadi pelengkap ramuan masalah rumah tangga ini. Perlahan dimulai dari permintaan untuk pisah kamar dan berlanjut menjadi perpecahan.

Sleep Apnea dan Disfungsi Seksual

Berbagai penelitian telah memastikan hubungan yang erat antara sleep apnea dan gangguan ereksi. Dalam The Journal of Sexual Medicine terbitan November 2009, diungkapkan bahwa dari 69% pria pendengkur yang terdiagnosa dengan sleep apnea ternyata mengalami disfungsi ereksi. Sedangkan pasien tanpa sleep apnea, hanya 34%-nya saja yang mengalami disfungsi ereksi. Dari penelitian ini juga disebutkan bahwa derajat disfungsi ereksi semakin parah sesuai dengan penurunan kadar oksigen darah saat tidur yang direkam lewat polisomnografi (pemeriksaan tidur di laboratorium tidur). Artinya, semakin parah henti nafas saat tidurnya, semakin berat juga disfungsi ereksi yang dialami. Derajat keparahan sleep apnea, tidak dilihat dari keras atau tidaknya dengkuran, tetapi dari jumlah dan durasi henti nafas serta penurunan kadar oksigen darah selama tidur.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya di tahun 2005 yang dituangkan dalam Jurnal Urologi. Penelitian ini melihat pada kantuk berlebih yang dialami pendengkur yang diukur dengan Epworth Sleepiness Scale. Hasilnya, pada pendengkur dengan nilai abnormal, 80%-nya mengalami disfungsi ereksi dibanding dengan 20% pada pria dengan nilai normal.

Sebuah penelitian pada tikus di tahun 2008 mencoba menjelaskan mekanisme hubungan sleep apnea dan gangguan ereksi. Para peneliti di University of Louisville meniru kondisi sleep apnea pada tikus. Tikus-tikus tersebut secara berulang sengaja dikurangi oksigennya, sama seperti yang dialami penderita sleep apnea pada waktu tidur. Hasilnya tikus-tikus tersebut mengalami penurunan ereksi spontan hingga 55%. Jelas tampak bahwa kekurangan oksigen untuk jangka waktu pendek saja sudah dapat menurunkan fungsi-fungsi seksual. Bahkan setelah dikembalikan pada kondisi oksigen normal, gangguan-gangguan tersebut tak dapat sepenuhnya hilang. Ini diukur lewat berbagai perilaku maupun fungsi-fungsi seksual tikus. Salah satunya adalah pemeriksaan Nitric Oxide Synthase (NOS). NOS endotelial adalah zat yang ditingkatkan pada penggunaan obat sildenafil (viagra).

Beberapa ahli urologi dari Yunani, meneliti perawatan yang terbaik bagi pasien disfungsi ereksi yang juga mengidap sleep apnea. Mereka menyimpulkan bahwa pengobatan dengan sildenafil saja atau perawatan sleep apnea dengan CPAP (continuous positive airway pressure) saja tidaklah cukup. Efek terapi maksimal hanya didapatkan dengan pendekatan bersamaan medikasi sildenafil dan penggunaan CPAP.

Pengobatan Menyeluruh

Dari semua penelitian yang menunjukkan hubungan antara mendengkur/sleep apnea dengan disfungsi ereksi tampak bahwa pencegahan lebih baik dibanding pengobatan. Efek kekurangan oksigen secara periodik untuk waktu yang singkat saja sudah langsung mempengaruhi fungsi-fungsi seksual. Sekali terganggu, tidak mudah untuk mengembalikannya. Perawatan sleep apnea dengan CPAP yang mengembalikan kadar oksigen selama tidur tak dapat mengembalikan fungsi-fungsi seksual seperti sedia kala. Pengobatan disfungsi ereksi saja ternyata juga tidak memberikan hasil yang memuaskan. Untuk hasil yang optimal, kedua pendekatan pengobatan harus dijalankan bersamaan.

Demikian juga halnya dengan masalah mendengkur. Gangguan tidur yang satu ini, sudah tak dapat diremehkan. Tata laksananya yang terdengar asing di masyarakat Indonesia pun mendesak untuk disosialisasikan. Obstructive sleep apnea, henti nafas saat tidur, mengakibatkan berbagai masalah, mulai dari kualitas hidup, kehidupan rumah tangga, kesehatan bahkan kematian. Berbagai spesialisasi kedokteran juga sudah harus menggali kemungkinan gangguan tidur ini pada pasien-pasiennya. Penderita sleep apnea, ditemui setiap hari di ruang-ruang praktek. Mereka datang dengan keluhan sakit kepala, kualitas tidur buruk, selalu lelah, depresi, gangguan seksual, diabetes, tekanan darah tinggi atau bahkan pasca stroke. Pasien-pasien sleep apnea memerlukan berbagai pendekatan dari berbagai spesialisasi kedokteran secara menyeluruh.