Wanita Mendengkur Alami Kerusakan Otak Lebih Parah

Mendengkur pada wanita ternyata lebih merusak otak dibandingkan pada pria. Ini diungkapkan pada penelitian yang dipublikasikan pada jurnal SLEEP edisi Desember 2012.

Sleep Apnea

Prof. William Dement, mengatakan: “Saya tak dapat menemukan satu pun gangguan kesehatan dalam dunia medis yang demikian umum diderita, sangat mengancam nyawa, mudah dikenali, dan amat mudah dirawat selain sleep apnea!”

Ngorok terlanjur dianggap wajar oleh masyarakat kita. Padahal akibatnya tak main-main. Mulai dari tekanan darah tinggi, obesitas, peningkatan gula darah, gangguan jantung, depresi, kematian dan kerusakan otak. Mungkin salah satu kegagalan evolusi manusia adalah saluran nafas yang melemas saat tidur. Akibat menyempitnya saluran nafas, aliran udara dari dan ke paru-paru jadi terganggu. Tak ada udara yang dapat lewat! Ketiadaan nafas (apnea) inilah yang menyebabkan banyak gangguan kesehatan.

Henti nafas saat tidur, sleep apnea, terjadi secara periodik sepanjang malam. Setiap kali nafas terganggu, terjadi penurunan kadar oksigen dan peningkatan tekanan dalam dada yang sebabkan kerja jantung berlipat ganda.

Setiap kali nafas tersumbat, setelah beberapa waktu penderita akan terbangun singkat seolah tersedak untuk menghirup nafas. Penderita tak akan ingat jika ia sesak dan terbangun-bangun ratusan kali sepanjang malam. Sebab episode bangun yang terjadi hanya berlangsung beberapa detik saja. Tetapi akibatnya pada kualitas hidup luar biasa. Tanpa tahu sebabnya, pendengkur selalu mengantuk. Kemampuan konsentrasi, analisa dan daya ingat menurun. Emosi pun turut naik turun dengan tajam.

Wanita Mendengkur

Penderita sleep apnea, diperkirakan sebanyak 5% dari populasi. Jenis kelamin apa pun, usia berapa pun, kurus atau gemuk bisa saja mendengkur dan menderita sleep apnea.

Banyak sudah penelitian di bidang mendengkur ini. Kebanyakan meneliti efeknya pada penyakit serius seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes dan stroke. Banyak juga penelitian yang melihat berbagai pengaruh ngorok pada kategori tertentu, misalkan pada kehamilan, anak-anak, pria dewasa, ataupun wanita.

Ya, wanita pun mendengkur! Wanita yang menderita sleep apnea memang tak sebanyak pria. Diperkirakan pendengkur wanita hanyalah separuh dari pria. Tetapi karakteristiknya berbeda. Misalkan derajat keparahan yang dilihat dari indeks henti nafas, pria cenderung lebih parah dibanding wanita. Akibat pada kesehatan jantung dan pembuluh darah pun tampaknya lebih parah pada pria. Namun, efek psikologis sleep apnea lebih nyata pada wanita, yaitu depresi dan kecemasan.

Ngorok Merusak Otak

Sekelompok peneliti di UCLA mempublikasikan penelitian mereka pada jurnal SLEEP 2008 yang menunjukkan adanya kerusakan bagian-bagian tertentu otak pada penderita sleep apnea. Dengan menggunakan alat pencitraan otak, para peneliti menemukan bahwa pendengkur dengan sleep apnea mengalami kerusakan massa putih di beberapa bagian otak yang mengatur ingatan dan mood. Massa putih adalah serabut otak yang diliputi oleh myelin yang berwarna putih.

Kelompok peneliti ini juga menerbitkan publikasi lain di Neuroscience Letters pada tahun yang sama. Deitmukan bahwa badan mamilari orang yang ngorok menalami perubahan. Badan mamilari adalah salah satu bagian dari sistem limbik yang berperan pada fungsi-fungsi kognitif dan emosi seseorang. Penurunan volume badan mamilari tersebut diduga kuat terjadi sebagai efek menurunnya kadar oksigen saat tidur.

Publikasi lain pada Journal of Sleep Research tahun 2009 menyatakan bahwa sleep apnea ternyata merusak otak secara penelitian. Tim peneliti dari Perancis itu, melakukan pencitraan otak pada 16 orang yang mendengkur dan baru didiagnosa menderita sleep apnea. Hasilnya, mereka menemukan kerusakan massa abu-abu di berbagai bagian otak. Ini juga menjelaskan kenapa pendengkur mengalami penurunan konsentrasi dan daya ingat.

Kerusakan Otak Pada Wanita

Penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal SLEEP Desember 2012 mencoba melihat efek kerusakan otak ini pada wanita yang mendengkur. Bisa dikatakan, ini adalah penelitian pertama yang mencoba melihat efek mendengkur pada wanita. Penelitian lain semua melihat efek kerusakan otak pada pria atau pada pria dan wanita sekaligus. Mempertimbangkan adanya perbedaan efek ngorok, sleep apnea pada wanita dibanding pria, para ahli ingin melihat perbedaan kerusakan otak juga berdasarkan jenis kelamin.

Mereka pun menilai massa putih pada syaraf otak dan membandingkannya antara penderita yang mendengkur dan tidak, serta terutama pada pria dan wanita.

Para peneliti mengamati 10 orang pendengkur wanita dan 20 pendengkur pria yang baru saja terdiagnosa menderita sleep apnea di UCLA sleep laboratory, bersama dengan 20 wanita dan 30 pria sebagai kontrol. Selain gangguan nafas saat tidur, subyek juga dinilai kondisi kantuk dan psikologisnya dengan menggunakan kuesioner. Terakhir, dilakukan pencitraan otak dengan menggunakan MRI.

Walau wanita yang mendengkur lebih jarang dibanding pria, pengaruh buruknya tampak lebih berat pada wanita. Kerusakan otak akibat sleep apnea ternyata lebih parah pada wanita dibanding pada pria dengan kondisi yang sama. Area frontal otak wanita penderita sleep apnea mengalami kerusakan. Padahal area ini penting untuk fungsi pengaturan mood dan pengambilan keputusan. Penilaian psikologis pada pendengkur wanita juga tunjukkan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi.

Sementara para ahli berhipotesa bahwa kerusakan otak terjadi sebagai akibat dari berkurangnya kadar oksigen saat tidur. Namun kemungkinan lain juga harus dipertimbangkan. Misalkan depresi dan kecemasan yang meningkatkan aktivitas simpatis dan sel-sel inflamasi hingga merusak syaraf, atau justru kerusakan syaraf yang mendorong peningkatan depresi dan kecemasan pada wanita pendengkur. Masih banyak yang harus diteliti lebih lanjut.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Jelas kerusakan otak merupakan salah satu akibat dari mendengkur dengan henti nafas saat tidur. Tetapi dari penelitian terbaru tampak bahwa efek sleep apnea pada kerusakan otak wanita ternyata lebih parah dibandingkan pada pria. Ini tunjukkan pada para dokter agar tak meremehkan dengkuran wanita. Wanita dengan keluhan cepat lelah, mengantuk, depresi dan mendengkur harus mendapatkan prioritas perawatan.

Pemeriksaan tidur sebagai alat diagnosa utama untuk ketahui bahaya tidaknya suatu dengkuran harus dilakukan sebelum melakukan perawatan. Derajat keparahan henti nafas pun harus dihitung lewat pemeriksaan yang sama.

Perawatan, baik lewat alat bantu gigi, CPAP atau pembedahan dapat dipertimbangkan tergantung kondisi setiap pasien. Sementara ini perawatan dengan continuous positive airway pressure (CPAP) menjadi pilihan utama. Penggunaan CPAP telah terbukti dapat menurunkan tekanan darah dan memperbaiki kondisi jantung serta kontrol gula darah.

Sayangnya kerusakan otak akibat sleep apnea bersifat permanen dan tak dapat dikembalikan walau sleep apnea dirawat. CPAP hanya dapat mencegah kerusakan lebih lanjut. Satu hal lagi yang mendorong agar perawatan sleep apnea harus dilakukan sesegera mungkin.

Mendengkur bukan lagi bahan tertawaan. Peringatkan sahabat atau kerabat yang mendengkur. Anda menyelamatkannya!

dr. Andreas Prasadja, RPSGT

Snoring no laughing matter: Specialists

Prodita Sabarini, The Jakarta Post, Jakarta | Mon, 03/02/2009 2:13 PM | Jakarta

Many Jakartans are unaware of the health and social risks that come with sleeping disorders, seeing insomnia as a regular part of urban life or assuming that snoring as a sign of deep sleep, a sleep specialist says.

Dr. Andreas Prasadja, a sleep physician at the Mitra Kemayoran Sleep Laboratory, pointed out a lack of sleep poses health risks and contributes to the number of traffic accidents in the city.

“We’ve heard about so many traffic accidents being caused by drivers falling asleep at the wheel,” he said Friday at a seminar on sleeping disorders.

Andreas said he hoped to dispel two commonly believed false notions: Sleep as a sign for laziness and snoring was a sign of deep, restful slumber.

He said our urban lifestyle, which hails productivity and runs by the motto “work hard, play hard”, has contributed to people’s sleep problems.

For productivity’s sake people force themselves to work long hours using stimulants which then keep users awake when it was time to rest. Light sleeping is not the only consequence: overuse of stimulants can lead to kidney failure.

He also said exercising just before going to bed can disrupt sleep as well as a brightly lit room, or snuggling up with our digital sidekicks, laptops and cell phones, before snoozing.

He said people should avoid taking stimulants – including caffeine, nicotine, and chocolate – nine hours before going to sleep, replacing them with relaxing drinks such as camomile tea.

He also encouraged people to finish their exercise regimes three hours before going to bed and to stop all work-related activities an hour before.

“When you feel really sleepy, then go to bed. Do not do anything in bed except sleep and have sex,” he said.

Another sleep disorder which is the most common and the most dangerous but also the most ignored is snoring.

“Snoring is not a laughing matter. It’s serious. If untreated it can cause hypertension, heart failure, diabetes or stroke,” he said.

He said that hypersomnia, a condition where people feel excessive daytime sleepiness despite long nighttime sleep might be caused by sleep apnea, a sleep disorder characterized by pauses in breathing during sleep, common among people who snore.

“During sleep the muscles of the body relax, including the soft tissue around the air way in the throat area. These tissues can collapse and obstruct breathing during sleep, causing people to stop breathing until they gasp for air,” he said.

To take in air, sufferers must wake over and over so they are never fully rested and can wind up with chronic, life-threatening consequences of extended sleep deprivation.

The importance of sleep, however, has yet to be fully understood by the public, including doctors, Andreas said.

“In Indonesia doctors diagnosing patients with hypertension or diabetes still rarely ask how well their patient is sleeping at night. In developed countries, that question is one the first questions the doctors ask a patient,” he said.

Lalaine Gedal, a Singapore-based sleep physician, said the prevalence of sleep apnea among 35-year-olds is 20 percent among men, and 5 percent among women. Among the elderly, 60 percent of men have sleep apnea and 40 percent of women.

A patient of Andreas said he had not realized he had been suffering from sleep apnea until he became very tired every day, dozing off during meetings and even while driving.

For those who dread surgical interventions, an effective and noninvasive method for stopping snoring involves a machine. Andreas’ patient now uses a Continuous Positive Airway Pressure device known as a CPAP.

The CPAP includes a mask with air tubes and a fan. It uses air pressure to push the user’s tongue forward and keep the throat open. This allows air to pass through the airway consistently. It reduces snoring and prevents apnea wake-ups.

There are only two sleep specialists in Indonesia, both based in Jakarta. Andreas and Rimawati Tedjasukmana founded Thursday the Indonesian Society of Sleep Medicine, or INA Sleep.

Andreas said he hoped to educate people about sleeping disorders, through the organization.

link: http://www.thejakartapost.com/news/2009/03/02/snoring-no-laughing-matter-specialists.html

SLEEP APNEA, Bukan Ngorok Biasa!

Koran SINDO, Monday, 02 March 2009
Link: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/217689/36/

MENDENGKURyang disertai henti napas lebih dari lima belas kali saat tidur bisa menjadi pertanda gangguan tidur serius. Bahkan,mengarah pada penyakit jantung. Seberapa serius Anda menanggapi persoalan mendengkur?

Simaklah cerita Ranti yang akhir tahun lalu pergi berlibur bersama teman-teman sekantornya ke Anyer. Untuk mengirit biaya, mereka hanya menyewa satu kamar hotel untuk berlima.

”Waktu malam pertama menginap, enggak nyangka seorang teman kami yang di kantor dikenal pendiam dan berwibawa ternyata mendengkur saat tidur. Saya dan teman-teman terbangun dan cekikikan mendengar dengkuran yang cukup kenceng. Besoknya pas kami bilang,eh dia jadi tersinggung,” tutur karyawati perusahaan telekomunikasi di Jakarta itu. Lain Ranti, lain pula Gina.

Kebiasaan suaminya mendengkur tiap malam hampir memicu mereka pisah kamar tidur.”Awalnya telinga saya tidak nyaman, kadang saya tutupibantalatau dengerinmusik pakai earphone.Tapi lama-lama terbiasa juga sih,”ujarnya. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih menganggap mendengkur alias ngoroksebagai hal wajar atau ritual biasa saat tidur.

Bahkan, ada yang menganggap dengkuran sebagai penanda tidur pulas.Namun, perhatikan bahwa jika anak atau pasangan tidur Anda mendengkur disertai henti napas sejenak seperti orang tersedak, bisa jadi itu merupakan gejala gangguan tidur yang disebut sleep apnea.

Lalaine Gedal RPSGT, seorang sleep technologist besertifikat dari Amerika mengungkapkan, mendengkur jangan dianggap main-main dan bukan untuk dijadikan bahan tertawaan.Dengkuran ataupun sleep apnea terjadi karena ada sumbatan pada jalan napas, sehingga aliran udara lewat hidung dan tenggorokan terhambat. Akibatnya, napas seperti terputusputus atau terhenti selama beberapa detik.

”Kalau sumbatan ini terjadi di saluran napas atas maka disebut sindroma obstructive sleep apnea (OSA), yang berarti jalan napas tersumbat total,” tutur Lalaine dalam seminar awam tentang gangguan tidur yang diselenggarakan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan Departemen Neurologi FKUI/- RSCM di Hotel Nikko Jakarta, pekan lalu.

Kasus henti napas saat tidur ini tak boleh disepelekan. Pasalnya, saat jalan napas tersumbat, pasokan oksigen ke dalam darah dan otak pun berkurang sehingga memicu otak untuk terjaga.Tapi meski otak terjaga, orang itu tidak terbangun. Hal ini memotong proses tidur dan kualitas tidur menjadi buruk.

Akibatnya, saat bangun jadi tidak segar, capek, sulit konsentrasi, masih ngantuk meski sudah tidur 8 jam, dan mengantuk di siang hari. ”Nah,jika hal ini terjadi setiap malam otomatis dapat mengganggu kemampuan otak, mental, termasuk kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan,” ujar Lalaine seraya mengungkapkan beberapa gejala penyerta sleep apnea seperti mengantuk yang amat sangat,sering buang air kecil di malam hari, dan mulut terasa asam akibat meningkatnya asam lambung.

Sementara itu, sleep scientist dari RS Mitra Kemayoran Jakarta, Dr Andreas Prasaja, mengingatkan bahwa kasus sleep apnea yang dibiarkan berlarut-larut dapat memicu penyakit berbahaya seperti hipertensi, diabetes, hingga gangguan jantung bahkan stroke.

”Di negara maju, sleep apnea sudah termasuk dalam tata laksana penanganan penyakit- penyakit tersebut. Jadi, jika ada pasien hipertensi berobat,dokternya pasti akan bertanya: Anda ngorok tidak? Pasalnya, sleep apnea diketahui sebagai salah satu faktor risiko utama dari penyakit tersebut,” papar pria ramah itu.

Lebih lanjut Andreas memaparkan, berat-ringannya sleep apnea bukan ditentukan oleh keras-lembutnya volume dengkuran, melainkan frekuensi henti napas yang terjadi setiap jam. Dan, jika terjadi 15–30 kali dalam satu jam sudah termasuk gangguan sedang, dan berat jika frekuensinya mencapai lebih dari 30 kali per jam.

”Untuk mengetahui adanya gangguan, Anda bisa datang ke laboratorium tidur untuk direkam kondisi selama tertidur seperti pernapasan, gelombang otak dan jantung,”ungkapnya.( inda susanti)

Cantik Kok Ngorok ?

Sudah menjadi pandangan umum bahwa yang tidur mendengkur adalah pria. Sebenarnya tidak demikian. Wanita juga bisa menjadi pendengkur. Tetapi entah mengapa suara dengkuran wanita, umumnya lebih ‘sopan’ dari pada pria.

Masalah ngorok bagi wanita menjadi lebih berat karena jauh dari citra lembut dan cantik. Tetapi sebenarnya volume suara tidaklah penting bagi kesehatan. Yang penting justru henti nafas yang menyertai setiap dengkuran. Episode penurunan oksigen bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan yang serius. Dan tahukah Anda bila mendengkur bisa menyebabkan obesitas?

Betul, sleep apnea menyebabkan proses tidur yang terpotong-potong akibat aktivitas otak yang terbangun singkat sebagai kompensasi rasa sesak. Sehingga menyebabkan penderitanya berada dalam kondisi kurang tidur (walau sudah cukup lama tidur). Kondisi kurang tidur ini mengakibatkan ketidak seimbangan hormonal yang meningkatkan nafsu makan serta gangguan metabolisme.

Gejala sleep apnea pada wanita tidaklah sejelas pada pria. Jika pria mendengkur keras dan mengeluhkan kantuk luar biasa, wanita biasanya hanya menceritakan keluhan cepat lelah, capek, tak bersemangat, merasa depresi, tekanan darah yang tinggi atau terlalu sering tidur siang.

Pada ibu hamil, mendengkur dapat menjadi tanda dari hipertensi yang dipicu oleh kehamilan (pre-eklamsia) dan keterlambatan pertumbuhan janin(1). Dari penelitian yang sama juga dinyatakan bahwa bayi-bayi yang lahir dari ibu pendengkur lebih sering mempunyai berat badan lahir yang rendah. Ini disebabkan oleh berkurangnya suplai oksigen pada janin, selama ibu tidur.

Ibu hamil dapat menderita OSA sebagai akibat dari kombinasi antara penambahan berat badan dan pembengkakkan saluran nafas atas. Kebiasaan mendengkur selama kehamilan dapat dianggap sebagai tanda peningkatan tekanan darah dan peningkatan resiko pre-eklamsia(2). Penanganan segera mendengkur, dapat mencegah terjadinya gangguan-gangguan pada masa kehamilan ini.

Sementara di usia yang lebih matang, kejadian sleep apnea tiga kali lebih sering pada usia paska menopause dibanding sebelumnya(3). Diduga, faktor hormonal juga berperan. Sebab pada wanita dengan terapi sulih horman, prevalensinya relatif lebih sedikit.

 

Sumber:

1.  Franklin et al, 2000

2.  Svanborg et al, 2007

3. Bixler et al, 2001

Mendengkur ? Awas Darah Tinggi

Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa mendengkur bisa mengakibatkan tekanan darah tinggi dan berbagai gangguan jantung. Tetapi, inilah kenyataan yang harus dihadapi oleh tenaga kesehatan modern. Jika seseorang terdiagnosa menerita hipertensi, di negara-negara maju, dokter pasti akan menanyakan kebiasaan tidur terutama mendengkur. Ini sudah menjadi hal yang lazim. Lihat saja, betapa banyaknya jurnal-jurnal penelitian dari sejawat ahli jantung dan penyakit dalam yang mengulas hubungan hipertensi dan kebiasaan ngorok ini.

Tetapi, tak semua dengkuran berbahaya. Episode henti nafas diantara tiap dengkuranlah yang menjadi perhatian kita. Henti nafas saat tidur (OSA) terjadi ketika saluran nafas melemas dan menyempit saat tidur sehingga penderitanya tak mendapat suplai oksigen. Dan ini bisa terjadi berulang-ulang sepanjang malam.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa hipertensi berkaitan erat secara independen dengan OSA. Periode bangun singkat (micro arousal) akan meningkatkan aktivitas sistem syaraf simpatis yang pada gilirannya akan meningkatkan tekanan darah. OSA juga menyebabkan jantung harus bekerja berat pada suasana rendah oksigen di saat tidur. Akibatnya penderita OSA juga rentan menderita berbagai gangguan jantung.

Lebih dari 35% penderita OSA juga menderita hipertensi. 83% penderita hipertensi juga menderita OSA(1).

80% pasien dengan hipertensi yang resisten terhadap pengobatan juga menderita OSA(2).

Penelitian lainnya menunjukkan bahwa OSA meningkatkan resiko seseorang menderita penyakit kardiovaskuler hingga lima kali lipat, terlepas dari usia, kegemukan, kebiasaan merokok maupun tekanan darahnya(3).

Dua penelitian berbeda dilakukan pada pasien OSA yang juga menderita hipertensi. Dengan menggunakan CPAP terdapat rata-rata penurunan tekanan darah sebesar 10 mmHg(4,5). Sementara Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure di tahun 2003 menyebutkan OSA sebagai penyebab hipertensi yang utama(6).

 

Kartu Tata Laksana Hipertensi

Sumber:

1.  Bixler et al, 2000

2.  Sjostrom et al, 2002

3.  Pecker et al, 2002

4.  Becker et al, 2003

5.  Logan et al, 2003

6.  Chobanian et al, 2003

Mendengkur dan Diabetes

Ngorok sering kali diremehkan, tetapi ternyata berbagai penelitian telah

Mendengkur dan Mengantuk

membuktikan bahwa mendengkur amat berhubungan dengan diabetes. Bahkan penelitian-penelitian lain menunjukkan kalau pengobatan ngorok sendiri dapat membantu kontrol gula darah.

Jika Anda menemui orang yang selalu mengantuk, tak bersemangat, sering kencing di malam hari dan menderita diabetes, jangan abaikan. Tanyakan apakah tidurnya mendengkur. Karena jika ia seorang pendengkur, mungkin sekali ia menderita obstructive sleep apnea (henti nafas tidur).  Ini telah dituangkan dalam buku panduan dari International Diabetes Federation (IDF) bahwa semua tenaga kesehatan sebaiknya menanyakan riwayat tidur penderita diabetes, terutama tentang mendnegkur

Mendengkur atau OSA berhubungan dengan glucose intolerance dan insulin resistance, sehingga dianggap turut berperan mengembangkan diabetes. Berkurangnya kadar oksigen dan periode bangun singkat (micro arousal) akibat sleep apnea turut menjembatani terjadinya gangguan metabolisme(1).

Sebuah penelitian oleh Resnick dan kawan-kawan di tahun 2003 menyatakan bahwa 58% dari penderita diabetes tipe dua juga menderita OSA(2).

Beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa pengobatan mendengkur dengan penggunaan CPAP pada penderita OSA yang juga menderita diabetes akan mengakibatkan perbaikan sensitivitas terhadap insulin dan penurunan kadar gula darah secara berarti (3,4).

 

Sumber:

1.  Punjabi and Beamer, 2005

2.  Resnick et al, 2003

3.  Harsch et al, 2004

4.  Babu et al, 2005

Anak Mendengkur

Mendengkur pada anak juga harus diwaspadai. Periode henti nafas yang terjadi akan mengakibatkan terpotongnya proses tidur. Hanya saja, jika padaorang dewasa akan tampak sebagai kantuk berlebih, pada anak-anak, mereka justru semakin aktif untuk melawan rasa kantuknya. Tak heran jika mereka terkesan hiperaktif dan sulit berkonsentrasi. Gejala-gejala OSA pada anak tidak se-khas pada orang dewasa.

anak mendengkur

Gejala OSA pada anak(1,2):

  • Mendengkur
  • Tampak sesak saat tidur
  • Kantuk berlebih di siang hari
  • Bernafas lewat mulut
  • Pembesaran amandel dan adenoid
  • Gelisah saat tidur
  • Gangguan perilaku berupa sifat agresif, hiperaktif dan sulit berkonsentrasi.

OSA pada anak dapat mengganggu proses pertumbuhan. Pada tahap tidur dalam tubuh anak mengeluarkan hormon pertumbuhan yang penting dalam pengaturan tumbuh kembangnya(3). Proses tidur yang terpotong juga akan berakibat langsung pada kemampuan mental dan emosionalnya(4,5). Untuk itu mengatasi mendengkur pada anak bersifat penting dan harus dilakukan segera.

Sumber:

  1. Muzumbar H dan Arens R, 2008
  2. Guilleminault et al, 2004
  3. Chan et al, 2004
  4. Rosen et al, 2004
  5. Emancipator et al, 2006