Diabetes Pada Kehamilan dan Mendengkur/Sleep Apnea

Ibu hamil, yang derita diabetes pada kehamilan ternyata punya risiko 7 kali lipat untuk derita obstructive sleep apnea. Penelitian yang diterbitkan pada The Endocrine Society’s Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism ini menyoroti jumlah calon ibu yang menderita diabetes pada kehamilan yang juga mendengkur dan menderita sleep apnea.

Diabetes pada kehamilan sering diderita calon ibu terutama memasuki trimester kedua. Di Indonesia angka penderitanya diperkirakan 0,3%-0,7% dari kehamilan. Kondisi ini menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat, meningkatnya angka keguguran, bayi lahir mati, bayi besar, pre-eklamsia, persalinan prematur cairan ketuban berlebihan, infeksi saluran kemih, infeksi vagina karena keputihan dan beberapa komplikasi pada kehamilan, serta perkembangan dan pertumbuhan janin yang abnormal.

Sementara ini diabetes kehamilan dianggap disebabkan oleh obesitas pada wanita. Sementara data-data terakhir juga menunjukkan bahwa mendengkur dan sleep apnea bisa jadi salah satu faktor yang menyebabkan gangguan metabolisme yang akhirnya berujung pada diabetes di masa kehamilan. Sleep apnea sendiri, jika tidak dirawat akan meningkatkan risiko penyakit jantung-pembuluh darah, stroke dan serangan jantung.

Tim peneliti dari Rush University Medical Center di Chicago menemukan bahwa hampir 75 persen penderita diabetes pada kehamilan juga mendengkur dan menderita obstructive sleep apnea.

Penelitian ini mengamati 45 orang wanita. 15 ibu hamil yang menderita diabetes pada kehamilan, 15 ibu hamil tanpa diabetes dan 15 lagi yang benar-benar sehat. Hasilnya didapati korelasi yang kuat antara sleep apnea dan diabetes. Ibu hamil yang tak menderita diabetes, tidur lebih lama dan lebih berkesinambungan tanpa terputus-putus. Ya, jika seseorang mendengkur dan menderita sleep apnea, proses tidurnya akan terputus-putus akibat sesak berulang saat tidur. Jadi penderitanya terbangun-bangun singkat berulang kali dalam tidur tanpa ia sadari.

Penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan bahwa proses tidur yang terpotong-potong akibat sleep apnea yang mengganggu metabolisme yang pada akhirnya menyebabkan diabetes. Sebuah penelitian pada jurnal SLEEP 2009 misalnya, menyatakan bahwa calon ibu yang mendengkur memiliki risiko 14,3% untuk menderita diabetes pada kehamilan. Dibandingkan dengan ibu hamil tak mendengkur hanya memiliki risiko 3,3%.

Sementara penelitian ini melihat hubungan diabetes kehamilan dan mendengkur dari sisi yang berbeda. Walau demikian, kesimpulannya tetap sama, terlepas dari sleep apnea yang sebabkan diabetes atau diabetes yang sebabkan sleep apnea, kedua kondisi ini harus dirawat. Maka para peneliti menyarankan agar calon ibu yang menderita diabetes pada masa kehamilan agar diperiksakan kemungkinan menderita sleep apnea, dan sebaliknya juga ibu hamil yang mendengkur agar diawasi kemungkinan menderita diabetes.

Pendengkur yang Tidur Lebih Lama Rentan Kanker Usus

Sebuah penelitian baru yang terbit pada jurnal SLEEP mencoba ungkapkan hubungan antara ngorok, durasi tidur dan kanker colorectal (usus).

Penelitian ini melihat data 30.121 the Health Professionals Follow-up Study (HPFS) dan 76.368 wanita dari the Nurses’ Health Study. Lewat kuesioner, para peneliti menanyakan kebiasaan tidur, durasi tidur, dan seberapa sering mendengkur. Para peneliti juga mengakses rekam medis para peserta penelitian untuk melihat adanya diagnosa kanker colorectal. Didapati 1.973 diagnosa baru kanker usus.

Para peneliti dari Harvard Medical School mendapati bahwa pendengkur yang tidur lebih dari 9 jam seharinya berisiko derita kanker usus 1,4-2 kali lipat!

Mendengkur bukanlah kondisi normal yang bisa diabaikan. Pendengkur kemungkinan besar menderita sleep apnea atau henti nafas saat tidur. Akibatnya kadar oksigen selama tidur bisa naik turun tak beraturan sepanjang malam. Akibat sesak, pendengkur terpotong-potong proses tidurnya sehingga kualitasnya buruk. Ini sebabnya orang yang ngorok bangun tak segar dan mengantuk sepanjang hari.

Pada penelitian ini, para ahli mencatat bahwa durasi tidur lebih dari 9 jam pada pendengkur akan tingkatkan risiko seseorang menderita kanker usus. Tapi sesungguhnya tak ada kelebihan atau kebanyakan tidur. Yang ada adalah kantuk berlebihan hingga pendengkur bisa tidur lebih lama. Tidur itu ada porsinya, jika sudah cukup kita tak akan bisa tidur lagi.

Hubungan antara mendengkur dan kanker telah berulang kali diteliti. Seelompok peneliti, mendapati bahwa pada tikus yang alami penurunan oksigen secara berkala, persis seperti penderita sleep apnea, akan memiliki kanker yang lebih ganas dibanding yang normal oksigennya. Dari sini kita dapat simpulkan bahwa penurunan kadar oksigen saat tidur berperan penting pada terjadinya kanker pada penderita sleep apnea.

Apakah Ngorok Saya Berbahaya?

Anda kenal seseorang yang selalu mengeluh mengantuk, mudah lelah dan dengan gampang dapat tidur dimana saja? Ini adalah gejala hipersomnia atau kantuk yang berlebihan.

Mengantuk

Kantuk mungkin biasa saja bagi sebagian orang. Dianggap sedemikian biasa hingga orang yang mengantuk, masih berani mengendara. Tanda-tanda awal mengantuk seperti ceroboh, mudah melupakan hal-hal kecil, sulit berkonsentrasi atau sakit kepala masih dianggap tak berhubungan dengan tidur.

Si pengantuk yang mendengkur saat tidur mungkin lucu dan sering jadi bahan tertawaan di kalangan sahabat atau kerabat. Tapi, tahukah Anda bahwa kemungkinan besar mereka menderita penyakit yang berbahaya? Sebuah penyakit yang menjadi penyebab penyakit-penyakit kronis lain seperti hipertensi, berbagai gangguan jantung, diabetes, stroke, impotensi, bahkan kematian. Penyakit tidur itu bernama sleep apnea, henti nafas saat tidur.

Sleep Apnea

Mendengkur terjadi karena saluran nafas melemas dan menyempit saat tidur. Akan terjadi henti nafas ketika saluran nafas menyempit total hingga tak ada udara yang mengalir masuk atau keluar. Gerakan nafas tetap ada tetapi seolah tercekik, penderitanya merasa sesak. Akibat sesak, penderitanya akan terbangun singkat tanpa terjaga untuk menarik nafas. Ini bisa terjadi berulang kali sepanjang malam, dan penderita sama sekali tak menyadarinya! Akibatnya tak heran jika pendengkur bangun tak segar dan terus mengantuk di siang hari.

Saya Penderita?

Gejala utama sleep apnea adalah mendengkur setiap kali tidur. Sekali waktu mendengkur ketika lelah atau kurang tidur tidak termasuk. Jika diantara dengkuran, pasangan atau orang lain melihat nafas tampak sesak, ini sudah indikasi kuat untuk tidak menunda-nunda pemeriksaan. Ya, percayalah pada orang lain. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada diri kita sendiri saat tidur.
Selain mendengkur, hipersomnia juga menjadi gejala utama. Ketika rekan Anda sepanjang hari memesan kopi dan berulang kali merokok demi mempertahankan konsentrasi, peringatkan. Itu tanda-tanda mengantuk berlebihan.

Sayang, di Indonesia, gejala-gejala ini masih diabaikan. Akibatnya banyak orang mengantuk yang membahayakan dirinya setiap hari dengan berkendara. Belum lagi angka penderita diabetes, dan penyakit jantung dan pembuluh darah yang terus meningkat di tanah air. Padahal banyak penderita sleep apnea yang berkunjung ke dokter dengan berbagai keluhan, sakit kepala menahun, sering kencing di malam hari, tekanan darah tinggi yang sulit terkontrol, bahkan yang sudah menderita serangan jantung luput dari deteksi radar. Untuk itu, jangan lupa ceritakan pada dokter Anda jika alami gejala-gejala ini.

Derajat Ngorok dengan Risiko Stroke dan Demensia

Mendengkur telah lama dikaitkan dengan banyak penyakit jantung-pembuluh darah dan stroke. Kini, sekelompok peneliti dari Korea mencoba melihat hubungan antara ngorok-sleep apnea dengan risiko stroke dan demensia lewat pengamatan pada perubahan substansia alba otak.

Mendengkur

Suara dengkur selama ini dianggap sebagai suara yang mengganggu. Tetapi kenyataannya, ngorok bisa menjadi suatu tanda yang membahayakan. Bahaya tersebut adalah sebuah penyakit tidur bernama sleep apnea.

Sleep apnea, artinya henti nafas saat tidur, mempunyai dua gejala utama yaitu mendengkur dan kantuk berlebihan di siang hari. Pada saat tidur, penderitanya mengalami peyempitan saluran nafas hingga mengganggu aliran udara. Bahkan walau gerak nafas tetap ada, aliran udara terputus seolah tercekik dalam tidur. Akibat sesak, penderita akan terbangun singkat untuk bernafas. Tetapi ia tak akan sadar jika sepanjang malam terbangun-bangun dari tidur.

Kadar oksigen pada tubuh akan turun dan naik selama tidur. Aktivitas simpatis juga meningkatkan kekentalan darah dan merusak dinding pembuluh darah. Kedua mekanisme ini yang diduga mengakibatkan perubahan pada struktur substansia alba di otak.

Penelitian

Penelitian yang diterbitkan pada jurnal kedokteran tidur SLEEP ini ingin melihat hubungan derajat keparahan mendengkur dengan perubahan pada struktur white matter/substansia alba otak. Perubahan pada substansia alba dikaitkan dengan berkembangnya stroke dan demensia.

503 orang peserta diperiksa di laboratorium tidur untuk mengetahui derajat keparahan dengkur/sleep apnea-nya. Kemudian para peserta dengan berbagai derajat keparahan sleep apnea ini diperiksakan struktur otaknya dengan menggunakan magnetic resonance imaging (MRI).

Keparahan sleep apnea dilihat dari indeks henti nafas perjam (AHI/ Apnea Hypopnea Index). AHI kurang dari lima dinyatakan normal, tak menderita sleep apnea. AHI 5-15 kali perjam merupakan sleep apnea ringan. AHI 16-30 sleep apnea sedang, dan AHI >30 kali perjam adalah sleep apnea yang berat.

Hasilnya, pendengkur dengan sleep apnea sedang dan berat, mempunyai risiko dua kali lipat untuk alami perubahan pada substansia alba-nya. Artinya pendengkur, jika menderita sleep apnea sedang-berat, punya risiko dua kali lipat untuk menderita stroke atau demensia.

Sleep Apnea dan Stroke

Penelitian ini sejalan dengan peneliti sebelumnya di tahun 2005 pada American Journal of Hypertension yang juga mengaitkan sleep apnea dengan stroke. Namun, kelompok peneliti ini lebih melihat efek penurunan kadar oksigen pada sleep apnea dengan angka kejadian stroke. Dua kelompok peneliti berbeda di Jepang juga melakukan penelitian yang sama. Keduanya menemukan tingginya angka penderita gangguan pembuluh darah otak dengan derajat keparahan sleep apnea.

Perawatan Sleep Apnea

Ngorok sudah tak dapat diabaikan lagi. Tapi jangan salah mengerti. Keparahan sleep apnea dilihat dari derajat henti nafasnya, bukan dari volume suara dengkuran. Berbagai penelitian semuanya melihat dari henti nafas yang dialami pendengkur. Tidak pada volume suara atau seberapa mengganggunya suara dengkuran tersebut.

Untuk mengetahui seorang pendengkur menderita sleep apnea atau tidak, diperlukan pemeriksaan seksama di laboratorium tidur.

Perawatan nantinya ditentukan dari hasil pemeriksaan tidur. Sementara ini yang paling banyak digunakan adalah perawatan dengan gunakan continuous positive airway pressure (CPAP). Sebuah alat yang meniupkan tekanan positif ke hidung pasien, untuk menjaga agar saluran nafas tetap membuka saat tidur.

Perawatan sleep apnea ditujukan untuk mengatasi henti nafas agar kesehatan dan kualitas hidup tetap terjaga serta menghidari cidera lebih lanjut pada otak. Tentu saja suara dengkuran pun akan hilang nantinya.

 

Orang Mendengkur Mudah Tertidur Saat Berkendara

Anda mendengkur? Hati-hati, penelitian dari the University Hospital di Leeds, Inggris, menyatakan bahwa pendengkur yang menderita sleep apnea, kemungkinan besar tertidur saat mengendara, dibandingkan dengan orang sehat.

Sleep Apnea

Sleep apnea adalah salah satu penyakit tidur yang paling banyak diderita, paling berbahaya dan paling diabaikan. Sebabnya mudah saja, mendengkur dianggap wajar. Padahal penderitanya ada dimana-mana, di sekeliling kita, atau bahkan diri kita sendiri menderita penyakit ini.

Sleep apnea memiliki dua gejala utama, mendengkur dan kantuk berlebihan atau disebut juga dengan istilah hipersomnia. Penderitanya memiliki saluran nafas yang melemas dan menyempit saat tidur. Akibatnya aliran udara tak dapat lewat walau gerakan nafas terus berusaha menarik. Karena sesak seolah tercekik, pendengkur terbangun sejenak untuk mengambil nafas tanpa tersadar. Ini terjadi berulang kali sepanjang malam, tak heran jika penderitanya bangun tak segar dan terus mengantuk sepanjang hari.

Penelitian

Dalam penelitian ini, sebanyak 133 penderita sleep apnea yang tidak dirawat dan 89 orang sehat diminta untuk menempuh 90 km dengan menggunakan simulator mengendara. Dinilai juga bagaimana mereka menyelesaikan jarak yang ditempuh dan bagaimana mereka merespons kecelakaan atau kondisi hampir mengalami kecelakaan.

Hasilnya, para pengemudi yang mendengkur dan menderita sleep apnea, kemungkinan besar gagal melalui test ini. Sebanyak 24% penderita sleep apnea yang belum dirawat gagal melalui test tersebut, dibanding yang sehat hanya 12%. Para pendengkur dengan sleep apnea ini tak dapat menyelesaikan test, tak dapat mengikuti instruksi selama test dan mengalami kecelakaan!

Selanjutnya sebanyak 118 penderita sleep apnea yang tak dirawat dan 69 orang sehat diminta untuk mengisi survey tentang pengalaman mereka berkendara sehari-hari dan selama menjalani test simulator. Hasilnya lebih dari sepertiga (35%) mengaku terantuk-antuk tertidur selama berkendara. Para peneliti mencatat sebanyak 38% pendengkur gagal menjalani test ini. Dibanding pada yang sehat hanya 11% yang tertidur. Para peneliti mencatat bahwa tak ada satu pun orang sehat yang gagal dalam test ini.

Walau pada kelompok yang sehat ada juga yang gagal menjalani test, tetapi penyebabnya bukanlah tertidur. 13 penderita sleep apnea tertidur dan keluar dari jalan sama sekali. Sementara sebanyak 5 orang, mengendara di luar jalur sebanyak 5% dari total test. Padahal jelas mereka diminta untuk terus berada di jalurnya.

Mengendara Dengan Kantuk

Mengendara dalam kondisi mengantuk sama bahayanya dengan berkendara sambil mabuk.

Berkendara dalam kondisi mengantuk dapat dianggap tak bertanggung jawab, karena mengemudi dalam kondisi tak layak. Jangankan tertidur, mengantuk saja sudah dianggap berbahaya, karena telah terjadi penurunan kemampuan konsentrasi, kewaspadaan dan refleks untuk menghindar.

The American Automobile Association menyatakan bahwa satu dari enam kecelakaan yang sebabkan kematian dan satu dari delapan kecelakaan yang akibatkan korbannya harus dirawat di rumah sakit, disebabkan oleh kantuk!

Para peneliti di Amerika menduga ada 70 juta penduduk yang menderita gangguan tidur. Akibat dari gangguan tidur adalah mengantuk. Resiko utama dari mengantuk adalah keselamatan di jalan.

Survei National Sleep Foundation di tahun 2012 cukup mengejutkan. Para pekerja transportasi ternyata mengaku mengantuk saat bekerja dan terganggu performanya sebagai akibat dari kantuk. Persisnya ada 26% operator kereta dan 23% pilot yang mengaku mengantuk, dibanding hanya 17% pekerja non transportasi.

Mendengkur dan Mengendara

Penelitian tadi hanya mempertegas sesuatu yang sudah lama diketahui. Bahkan peraturan di Inggris Raya dengan jelas memasukkan penderita sleep apnea sebagai kelompok pengendara yang beresiko.

Driver and Vehicle Licensing Agency (DVLA) pemerintah Inggris, menyatakan bahwa penderita sleep apnea diwajibkan untuk melaporkan dirinya. Kemungkinan besar penderita sleep apnea harus menyerahkan surat ijin mengemudinya.

Pihak rumah sakit di Inggris pun terus berkomunikasi dengan DVLA tentang kondisi pasiennya. Namun, selama pasien dalam perawatan CPAP dan terkontrol baik oleh dokter, pendengkur masih dianggap layak untuk mengendara.

Peraturan senada juga dapat ditemui di beberapa negara Eropa. Australia diketahui juga menerapkan hukum yang sama terhadap penderita sleep apnea.

Bagaimana dengan Indonesia?

Ngorok Lebih Berbahaya Dibanding Merokok

Suara dengkur pasti mengganggu, tapi lebih dari itu ngorok sebenarnya adalah alarm tanda bahaya bagi kesehatan kita. Bahkan tim peneliti dari Detroit AS, nyatakan bahwa mendengkur lebih berbahaya dari merokok! Pendengkur mempunyai risiko lebih besar mengalami penebalan arteri karotis dibanding perokok, orang yang obese (gemuk) atau bahkan yang memiliki kadar kolesterol tinggi sekali pun.

Arteri karotis adalah pembuluh darah yang memberikan suplai ke daerah leher dan kepala, termasuk otak. Jika dinding pembuluh darah ini mengalami penebalan, bisa menjadi permulaan dari berbagai penyakit pembuluh darah lainnya.

Mendengkur dan Sleep Apnea

Mendengkur telah lama diketahui menjadi tanda dari henti nafas saat tidur atau sleep apnea. Henti nafas saat tidur terjadi akibat sempitnya saluran nafas, sehingga walau dada naik turun berusaha bernafas, tak ada udara yang dapat mengalir lewat. Akibatnya oksigen akan turun sepanjang malam. Para ahli sudah menyatakan bahwa sleep apnea merupakan penyebab utama hipertensi, penyakit jantung, diabetes, impotensi hingga stroke.

Sebenarnya sejak tahun 2003, dunia kedokteran modern sudah mengamini bahwa salah satu penyebab utama tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah sleep apnea. Ini tertuang dalam laporan dari the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure yang lebih dikenal sebagai JNC7.

Sementara berbagai jurnal penelitian kedokteran terus berkembang dan memuat tentang bagaimana sleep apnea menyebabkan berbagai penyakit fatal seperti penyakit jantung koroner, serangan jantung hingga stroke.

Penelitian

Namun penelitian ini menunjukkan bahwa jauh sebelum menjadi sleep apnea, suara dengkuran saja sudah merupakan tanda bahaya yang tak boleh diabaikan.

Para peneliti mengamati data 913 pasien yang telah diperiksa di klinik gangguan tidur antara Desember 2006 dan Januari 2012. Setelah diperiksa, dikumpulkan pasien yang mendengkur tapi tidak menderita sleep apnea.

Secara keseluruhan ada 54 orang pasien yang mendengkur yang dilakukan pengukuran ketebalan dinding arteri karotis dengan menggunakan ultrasound (USG). Ketebalan arteri karotis dapat digunakan untuk melihat perkembangan penyakit atherosklerosis (pengerasan pembuluh darah). Penebalan dinding arteri karotis merupakan tanda dari penyakit arteri karotis.

Hasilnya, pasien yang mendengkur memiliki arteri karotis yang lebih tebal dibanding yang tidak mendengkur. Para peneliti menduga getaran akibat ngoroklah yang menyebabkan trauma pada pembuluh darah hingga sebabkan peradangan dan pada akhirnya akibatkan penebalan pembuluh darah.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa secara statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada penebalan arteri karotis pada pasien dengan atau tanpa risiko-risiko penyakit jantung-pembuluh darah yang selama ini kita kenal. Faktor-faktor risiko itu antara lain adalah merokok, diabetes, tekanan darah tinggi atau kadar kolesterol yang tinggi.

Perawatan

Tahap pertama perawatan mendengkur adalah dengan mengenali adanya masalah. Keluarga dan kerabat harus meyakinkan penderita kalau ia mendengkur. Ya, pendengkur hanya tahu dirinya ngorok jika diberi tahu oleh orang lain.

Untuk perawatan medis, dimulai dengan pemeriksaan tidur untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan di laboratorium tidur tak ubahnya pemeriksaan fungsi jantung atau pernafasan saja, bedanya ia dilakukan saat tidur. Kenapa saat tidur? Karena gangguan nafasnya hanya terjadi pada saat tidur.

Setelah diagnosa ditemukan baru dokter akan menentukan perawatan yang sesuai untuk kondisi setiap pendengkur. Biasanya menggunakan CPAP, operasi atau oral appliances.

CPAP singkatan dari continuous positive airway pressure, berupa sebuah alat yang dihubungkan ke hidung lewat masker. Perawatannya amat nyaman karena memberikan kualitas tidur yang maksimal.

Dua penelitian berbeda di Australia dan Eropa tahun 2003 tunjukkan bahwa setelah mendengkur dirawat dengan CPAP risiko pasien untuk menderita penyakit jantung koroner turun hingga 37%, sementara risiko stroke turun 56%. Sementara penelitian tahun 2004 dan 2005 tunjukkan bagaimana penggunaan CPAP pada pendengkur dengan diabetes membantu tingkatkan sensitivitas insulin serta kontrol gula darahnya.

Dampak

Di AS diperkirakan 40% pria dan 24% wanita adalah pendengkur. Walau kita mempunyai data yang valid di Indonesia diperkirakan jumlah pendengkur tidak jauh berbeda. Bayangkan berapa banyak di antara kita yang mengalami bahaya setiap tidurnya.

Mendengkur selama ini dianggap sebagai suara yang mengganggu. Di lingkungan pergaulan ngorok selalu menjadi bahan lelucon. Bahkan pihak asuransi sering menganggap dengkuran sebagai suatu gangguan yang bersifat kosmetik dan tidak membahayakan.

Tetapi dengan banyaknya data penelitian yang terus bertambah, suara ngorok tak dapat lagi kita abaikan. Para ahli kesehatan sudah mulai melihat dengkuran sebagai salah satu faktor risiko penyakit yang sejajar posisinya dengan hipertensi atau peningkatan kadar kolesterol.

Akhir kata, jika Anda menemukan rekan atau kerabat yang mendengkur, peringatkan. Dengan demikian Anda telah menyelamatkan nyawanya.

Atasi Dengkur “Sleep Apnea” Sehatkan Janin

Sebuah penelitian baru yang dilakukan di Australia menunjukkan bahwa mengatasi mendengkur pada ibu hamil, dengan gunakan continuous positive airway pressure (CPAP) akan menyehatkan janin.

Penelitian yang dilakukan oleh Colin Sullivan, Natalie Edwards, dan tim ini bertujuan untuk melihat efek CPAP pada ibu hamil yang mengalami preeclampsia dan pada janin yang dikandungnya.

Mendengkur dan Kehamilan

Mendengkur merupakan gejala dari sleep apnea atau henti nafas saat tidur. Sleep apnea disebabkan oleh menyempitnya saluran nafas pada saat tidur hingga aliran udara terhambat. Gerakan nafas masih nampak namun akibat tersumbatnya saluran nafas, udara tak dapat lewat. Akibatnya terjadi penurunan kadar oksigen darah. Pada orang dewasa, sleep apnea merupakan penyebab utama meningkatnya tekanan darah, hipertensi. Ia juga menjadi penyebab berbagai gangguan jantung, peningkatan gula darah hingga stroke. Selain itu sleep apnea juga menurunkan kualitas hidup akibat kantuk berlebihan atau biasa disebut hipersomnia.

Wanita yang sedang hamil, memasuki kehamilan 20 minggu menjadi mendengkur dan berisiko menderita sleep apnea. Ini disebabkan oleh peningkatan berat badan dan membengkaknya saluran nafas akibat peningkatan hormon-hormon kehamilan.

Beberapa tahun belakangan ini banyak penelitian yang menunjukkan bahwa mendengkur pada ibu hamil meningkatkan risiko mengalami preeclampsia dan hipertensi pada kehamilan. Sementara ini diduga, sleep apnea menyebabkan preeclampsia lewat mekanisme yang sama dengan berkembangnya hipertensi pada orang dewasa tak hamil yang mendengkur.

Preeclampsia ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan kadar protein pada urine. Preeclampsia dialami oleh 5%-7% kehamilan, dan dapat menyebabkan gangguan perkembangan hingga kematian pada janin.

Dengkur Hilang, Janin Sehat

Mendengkur memang telah lama terbukti dapat menyebabkan preeclampsia. Namun efeknya pada janin belum banyak diteliti.

Colin Sullivan adalah penemu CPAP untuk mengatasi ngorok, sleep apnea. Ia bersama timnya ingin melihat efek perawatan mendengkur pada janin dengan cara merekam aktivitas janin lewat ultrasound. Semakin aktif gerak janin, semakin sehat pula janin tersebut.

Hasilnya gerak janin meningkat dari 319 pada saat mendengkur menjadi 592 setelah dengkur diatasi dengan CPAP. Pada saat ibu tidur mendengkur gerak janin menurun menjadi 7,4 perjam. Sementara saat ngorok diatasi dengan CPAP, aktivitas janin meningkat jadi 12,6 perjam.

Mendengkur ringan saja ternyata sudah memengaruhi aliran darah ke janin. Akhirnya janin berusaha melindungi diri dengan mengurangi aktivitasnya. Dengan gunakan CPAP, mendengkur akan hilang dan menormalkan asupan darah ke janin hingga janin pun kembali sehat.

Penelitian

Penelitian yang dipublikasikan pada jurnal SLEEP Januari 2013 ini dibagi dalam 3 bagian. Pertama, aktivitas janin diamati dengan ultrasound pada 20 ibu hamil yang tak mendengkur. Lalu aktivitas janin juga direkam sepanjang malam pada 20 ibu dengan preeclampsia sedang-berat dan 20 ibu hamil normal. Hasilnya, gerak janin saat tidur pada kelompok yang menderita preeclampsia jauh lebih rendah (289) dibanding dengan yang normal (689).

Tahap selanjutnya gerakan janin pada 10 orang ibu dengan preeclampsia sedang-berat direkam selama dua malam. Malam pertama ibu dibiarkan mendengkur tanpa perawatan CPAP. Malam kedua dengkuran diatasi dengan CPAP. Hasilnya aktivitas janin membaik setelah dengkuran ibu diatasi.

Mendengkur atau ngorok pada kehamilan tak dapat dianggap sepele lagi. Dengkuran ringan saja ternyata sudah memiliki risiko terhadapa kesehatan ibu dan calon bayi nantinya. Penelitian ini telah membuktikan bahwa penanganan mendengkur memperbaiki kesehatan janin.

dr. Andreas Prasadja, RPSGT

Tulisan ini dibuat untuk mengenang Dr. Natalie Edwards, pelopor penelitian kedokteran tidur, khususnya tentang mendengkur, dan kesehatan tidur pada wanita.