Behaviorally induced Insufficient Sleep Syndrome

Usia remaja dan dewasa muda memiliki jam biologis yang unik. Hingga usia akhir 20an, kita memiliki kecenderungan untuk tidur larut dan bangun lebih siang. Ditambah dengan adanya berbagai tuntutan akademis dan sosial, waktu tidur jadi dikurangi untuk menjawab berbagai tantangan. Akibatnya banyak diantara remaja alami kantuk berlebihan di siang hari karena beban hutang tidur.

Belakangan kantuk berlebihan sudah menjadi semacam epidemi yang dialami banyak orang. Bahkan menjangkiti banyak remaja dan dewasa muda di Indonesia. Dapat kita lihat bagaimana konsumsi minuman penambah energi dan kafein sangat populer di kalangan muda. Dalam praktek sehari-hari, saya juga menemukan remaja-dewasa muda datang ke klinik dengan keluhan kantuk berlebihan.

Namun, setelah menjalani berbagai pemeriksaan, para pasien yang menduga dirinya menderita sleep apnea (mendengkur) atau narkolepsi ternyata didiagnosis dengan Behaviorally induced Insufficient Sleep Syndrome (BISS). Apa ini?

BISS

Sederhana saja, BISS adalah sebuah gangguan tidur yang disebabkan oleh pengurangan tidur hingga mengakibatkan kantuk berlebihan di siang hari. Biasanya BISS dialami akibat tuntutan prestasi. Penderita BISS, secara sadar mengurangi waktu tidurnya untuk belajar atau bekerja. Untuk waktu singkat, pengurangan tidur tak memiliki akibat yang nyata. Tetapi jika dilakukan terus-menerus untuk waktu yang lama, kantuk jadi semakin sulit dikendalikan.

Pada otak, BISS berakibat langsung pada penurunan kemampuan otak dan kondisi emosi. Sekelompok peneliti di Korea Selatan menemukan bahwa remaja penderita BISS akan memiliki prestasi akademis yang lebih rendah dibanding rekan-rekannya yang tidur normal. Penelitian yang terbit pada Journal of Clinical Sleep Medicine ini juga menyebutkan bahwa beban hutang tidur, yang dilihat dari tidur berlebihan di akhir pekan, merupakan tanda dari menurunnya prestasi akademis.

Walau bisa diderita orang dewasa, pada umumnya kelompok usia remaja dan dewasa muda lebih rentan terkena. Ini disebabkan oleh berbedanya irama biologis remaja dan jadwal sosialnya. Remaja cenderung tidur larut, sementara aktivitas sudah dimulai pagi hari.

Bagaimana Menghidarinya?

Pertama, mulai prioritaskan tidur! Sadari bahwa kondisi kurang tidur malah menurunkan kemampuan konsentrasi dan daya ingat. Kamu tak akan bisa berprestasi dengan fokus dan daya ingat yang buruk. Ketahui bahwa dalam tidur juga terjadi proses konsolidasi memori. Semua bahan hapalanmu seolah ditata rapi dalam ingatan saat tidur.

Selanjutnya, batasi kehidupan sosial yang berkaitan dengan gadget. Satu komentar di sosial media akan berlanjut pada komentar balasan. Sebelum kamu sadari, akhirnya detik sudah menjadi menit dan kamu sudah mengobrol di sosial media berjam-jam dengan mengorbankan waktu tidur. Hati-hati, jika kamu mulai sleeptexting artinya beban hutang tidurmu sudah sangat parah.

Atur jadwal dengan baik. Sejak sore hari selesaikan semua pekerjaan hingga malam hari tak ada pekerjaan yang tersisa. Atau jika kamu merasa lebih enak belajar di malam hari, atur kehidupan sosial dilakukan di sore hari.

Jangan belajar sistem kebut semalam. Cicil semua pelajaran jauh hari. Menghadapi ujian dalam kondisi kurang tidur sangat tak efektif. Kamu emosional, tak bisa fokus dan sulit memahami pertanyaan yang diberikan.

Hindari kafein dan minuman penambah energi di sore hari. Ketahui bahwa kafein bekerja sekitar 12 jam. Atur konsumsinya di pagi hari saja.

Berprestasi memang membutuhkan kerja keras. Tapi lebih penting lagi bekerja keras dengan cerdas. Sampai saat ini, belum ada satu zat pun yang dapat menggantikan efek restoratif tidur. Maka, langkah cerdas untuk meningkatkan performa adalah dengan memperhatikan kesehatan tidur!

Tidur Sehat, Prestasi Akademis Meningkat

Sudah menjadi suatu kebiasaan manusia modern untuk membatasi jumlah tidur demi terus beraktivitas. Kebiasaan ini juga tampak pada pelajar kita yang terus belajar hingga larut, bahkan tak jarang yang hingga pagi tanpa tidur. Tetapi berbagai penelitian satu dekade belakangan justru menunjukkan bahwa tidur sebenarnya bermanfaat bagi prestasi akademis seorang siswa.

Baru-baru ini, sekelompok ahli mengungkapkan manfaat tidur bagi kemampuan menghapal. Dalam penelitian mereka yang dituangkan dalam the Journal of Neuroscience, dua kelompok pemuda diberikan tugas menghapal yang sama.

Kelompok pertama belajar beberapa kata baru di malam hari, lalu tidur dalam pengawasan di laboratorium tidur. Setelah melewati malam dengan direkam menggunakan polisomnografi (pemeriksaan tidur), mereka diberikan ujian. Sementara kelompok kedua, diberikan bahan hapalan di pagi hari. Di siang hari mereka tidak diijinkan tidur, lalu sore harinya mereka diuji.

Hasilnya kelompok yang diberi kesempatan tidur, dapat menghapal lebih banyak kata dibanding kelompok yang tidak tidur. Dari perekaman polisomnografi, para ahli menduga bahwa proses re-organisasi memori tersebut terjadi pada saat munculnya gelombang simpul tidur (sleep spindle).

Ini sejalan dengan hasil penelitian yang telah terlebih dahulu dipublikasikan di Current Biology April 2010, dimana para peneliti menemukan bahwa tidur setelah proses belajar akan meningkatkan kemampuan ingatan. Dihipotesakan bahwa proses konsolidasi memori, terjadi saat ingatan yang baru terbentuk diaktifkan kembali dalam tidur. Proses re-aktifasi ini tercermin dalam tidur mimpi. Proses ini tidak akan tampak saat kita terjaga, ia hanya terjadi dalam tidur sehingga disebut sebagai sleep-dependent memory consolidation.

Kini jelas bahwa kebiasaan belajar semalaman malah akan merugikan. Proses belajar dan menghapal amat bergantung pada proses konsolidasi memori yang hanya terjadi jika kita tidur. Belum lagi efek kurang tidur yang menyebabkan otak bekerja lamban dan sulit mencerna berbagai pertanyaan dalam ujian.

Kita juga perlu mewaspadai gangguan-gangguan tidur yang menyebabkan tidur tak berkualitas. Akibatnya proses konsolidasi memori pada saat tidur juga terganggu. Salah satu contoh yang paling sering dijumpai adalah sleep apnea, dimana penderitanya mendengkur dan selalu mengantuk. Proses gangguan nafas selama tidur menyebabkan otak terbangun-bangun (tanpa terjaga) dalam tidur. Akibatnya walau anak sudah tidur cukup, ia selalu merasa mengantuk dan kurang tidur. Hanya saja pada anak yang masih kecil, manifestasi rasa kantuk malah uncul sebagai hiperaktivitas.