Yang Remaja Yang Terjaga

Remaja yang tidur kurang dari lima jam berisiko mengalami depresi 71 persen lebih tinggi.

Koran Tempo, Februari 2010

Tasya, 17 tahun, biasa tidur di bawah jam 11 malam. Kemudian bangun sekitar jam setengah enam pagi. Pemilik album Libur Telah Tiba ini merasa jumlah jam tidurnya itu sudah cukup, meski terkadang dirinya tidur larut, sehingga terpaksa sekolah dengan “muka bantal”. “Kalau susah tidur biasanya saya belajar atau mendengarkan lagu,” kata Tasya.

Banyak remaja di usia Tasya yang tetap terjaga setiap malam–malah hingga lewat tengah malam–menurut dr Andreas Prasadja RPSGT, sebetulnya wajar. Sebab, pada usia remaja hingga pertengahan 20-an terjadi perubahan jam biologis. Ketika orang lain mulai mengantuk pada jam 10 malam, si remaja justru dalam fase aktif.

“Otak remaja pada jam-jam itu penuh dengan vitalitas dan ide kreatif. Oleh sebab itu, mereka baru mengantuk setelah lewat tengah malam,” tutur ahli kesehatan tidur Sleep Disorder Clinic dari Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta, ini pekan lalu.

Tidur cukup tentu bermanfaat besar untuk perkembangan kognitif, mental, dan emosi remaja. Andreas mengatakan, menjelang bangun, tubuh akan mengeluarkan kortisol, sebuah hormon yang dikeluarkan untuk melawan stres. Yang jadi masalah, banyak remaja yang kerap tidur larut namun tidak mencukupi jumlah jam tidurnya.

Dalam studi Columbia University Medical Center di New York baru-baru ini, didapati remaja yang tidur kurang dari lima jam setiap malam memiliki risiko 71 persen lebih tinggi mengalami depresi ketimbang mereka yang tidur sebanyak delapan jam.

Studi yang mengkaji 15.500 remaja berusia 12-18 tahun itu mencatat, rata-rata remaja hanya mencukupi 7 jam 53 menit dalam tidur malamnya. Sedikit kurang dari yang dianjurkan para ahli untuk usia itu, yakni sembilan jam.

Sejalan dengan Andreas, pemimpin peneliti Dr James Gangwisch mengatakan kurang tidur dapat mempengaruhi respons emosional otak. Itu mengakibatkan kemurungan dan menghambat kemampuan dalam mengatasi stres. “Kemurungan ini mempengaruhi konsentrasi dan pengendalian impuls,” ujar Gangswisch, seperti dikutip BBC.

Menariknya, selain depresi, studi mendapati adanya pemikiran untuk bunuh diri pada remaja perempuan yang tak cukup tidur. Hal ini, menurut Andreas, semata-mata karena faktor hormonal. Yang jelas, dalam pandangan Gangwisch, memang diperlukan kualitas tidur memadai, sehingga bisa menjadi ukuran preventif terhadap depresi dan pengobatannya.

Namun, Andreas mengatakan, sebenarnya yang berpengaruh adalah kecukupan tidur, kualitas dan kuantitasnya. Bukan jam berapa si remaja tidur. Idealnya adalah si remaja tidur jam 12 malam dan bangun sekitar jam tujuh pagi. Bisa disubstitusi dengan tidur siang kembali selama 1-2 jam. “Di Indonesia kondisinya parah. Masuk sekolah jam enam lewat tiga puluh menit. Lalu, anak-anak mau bangun jam berapa,” kata orang pertama di Indonesia yang mendalami masalah gangguan tidur ini, mengkritik.

Andreas sendiri malah lebih setuju anak dan remaja belajar hingga larut. Kemudian baru tidur sekitar jam 12 malam. Sebab, pada jam 10 malam, otak sangat ideal digunakan untuk belajar dan berkarya.

Di Sleep Disorder Clinic Rumah Sakit Mitra Kemayoran, jumlah pasien remaja yang kurang tidur didapati cukup banyak. Kebanyakan dari mereka mengalami insomnia karena baru bisa tidur selepas tengah malam. Beberapa lainnya menderita delayed sleep phase, yakni mereka baru bisa tidur setelah jam tiga atau empat dinihari. “Pasien remaja seperti ini sebanyak 20 persen,” Andreas menjelaskan. HERU TRIYONO

Agar Tidur (Remaja) Maksimal
1. Jangan berusaha tidur jika memang belum bisa.
2. Jika baru bisa tidur jam satu malam, silakan tidur jam sekian. Jika dipaksakan tidur lebih awal, akan semakin sulit.
3. Biasakan tidur secara teratur.
4. Jika sudah teratur, majukan jam tidur secara bertahap, selama 15 menit setiap dua sampai tiga malam. Namun jangan terlampau sore, sekitar jam 10 malam saja.
5. Idealnya, setengah jam sebelum tidur, semua tugas (sekolah) telah selesai, televisi dimatikan, dan masuk ke masa persiapan tidur.
6. Persiapan tidur bisa diisi dengan membaca majalah, komik, novel, atau beribadah.
7. Setelah siap untuk tidur, mengantuk dan rileks, baru naik ke tempat tidur, dan tidur. HERU TRIYONO