Mendengkur – OSA dan Kerusakan Otot Jantung

Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan jenis sleep apnea yang paling umum diderita, paling berbahaya, namun juga sayangnya paling diabaikan. Sebabnya mudah saja, gejalanya terlanjur dianggap biasa, bahkan dianggap tidur yang nyenyak: mendengkur!

Penderita OSA telah lama diketahui berisiko tinggi derita hipertensi, penyakit jantung-pembuluh darah, stroke, diabetes hingga impotensi. Khusus penyakit jantung, para ahli kesulitan menentukan secara pasti apa yang membuat kebiasaan ngorok ini jadi amat berbahaya bagi kesehatan jantung. Beberapa hipotesa terus diluncurkan oleh para peneliti di seantero dunia.

Yang paling baru adalah penelitian yang diterbitkan pada The American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine. Publikasi ini menyatakan bahwa OSA terbukti meningkatkan risiko seseorang mengalami payah jantung atau penyakit jantung koroner. Ini dilihat dari meningkatnya kadar high sensitivity troponin T (hs-TnT) pada pendengkur.

Hs-TnT yang meningkat merupakan penanda adanya cidera pada otot jantung atau myocardial injury. Jadi jika seseorang meningkat kadar hs-TnT nya, bisa dianggap bahwa orang tersebut diprediksi menderita payah jantung atau penyakit jantung koroner. Atau bisa dikatakan juga pendengkur sebenarnya sudah mengalami cidera otot jantung walaupun belum sampai menimbulkan keluhan fisik (subklinis).

Obstructive Sleep Apnea

Saat seseorang mendengkur, sebenarnya saluran nafasnya menyempit. Semakin parah, saluran nafas ini bisa menyempit total hingga aliran udara bisa terhenti sama sekali.

Coba perhatikan orang yang ngorok. Di antara suara dengkuran, tiba-tiba ia terdiam. Dengan mulut masih terbuka, gerakan nafas meningkat seolah ia mencari tambahan udara. Secara tiba-tiba akan diikuti dengan episode tersedak atau bahkan terbatuk-batuk. Lalu ia akan kembali mendengkur dengan enaknya. Tetapi sebenarnya ia mengalami henti nafas yang tentu menurunkan kadar oksigen dalam tubuh. Dan episode diam dan tersedak ini pun terus berulang sepanjang malam.

Bisa dikatakan, fungsi-fungsi tubuhnya mengalami stress saat tidur. Ini akan memicu reaksi berantai yang mengganggu metabolisme dan pada akhirnya mengganggu fungsi-fungsi normal tubuh. Mendengkur tak pernah enak. Ingat, episode henti nafas tidur ini bisa jadi sangat membahayakan nyawa pendengkur baik secara langsung maupun jangka panjang.

Penelitian

Para ahli dari the Brigham and Women’s Hospital di Boston ini, mempelajari 1.645 pasien yang tidak menderita payah jantung maupun penyakit jantung koroner. Kesemuanya diperiksakan tidurnya dengan polisomnografi, lalu dikategorikan derajat keparahan OSA-nya berdasarkan indeks jumlah henti nafas setiap jamnya. Derajat keparahan OSA disusun dengan urutan ngorok tanpa henti nafas, OSA ringan, sedang hingga berat atau parah. Jadi bukan berdasarkan kerasnya suara dengkuran.

Hasilnya kadar hs-TnT berhubungan erat dengan OSA secara independen. Artinya setelah dicocokkan, terbebas dari risiko-risiko lain yang mungkin berhubungan, OSA tetap berkaitan erat dengan kadar hs-TnT seseorang. Risiko-risiko lainnya seperti usia, jenis kelamin, kadar kolesterol, berat badan, kadar insulin dan lain-lain.

Kadar hs-TnT yang tinggi berhubungan langsung dengan insiden serangan jantung dan risiko kematian akibat penyakit jantung. Didapati semua derajat OSA, mengalami peningkatan hs-TnT, terutama OSA parah dengan jumlah henti nafas lebih dari 30 kali perjam.

Kesimpulan

Disimpulkan bahwa penderita OSA sebenarnya telah mengalami gangguan pada otot jantungnya, walau belum menimbulkan gejala yang mengganggu. Kondisi yang juga disebut sebagai subclinical myocardial injury, tidak dapat diabaikan karena pada akhirnya akan berlanjut pada penyakit jantung koroner hingga payah jantung.

Para peneliti menyarankan agar semua pendengkur diperiksakan kemungkinannya menderita OSA. Jika terdiagnosis dengan OSA, baik jika diperiksakan juga hs-TnT nya untuk memprediksi risikonya mengalami gangguan jantung.

Sleep Apnea Perburuk Kondisi Pasca Serangan Jantung

Gangguan nafas saat tidur, terutama henti nafas tipe sentral, ternyata dapat dijadikan ukuran untuk memprediksi kemungkinan seorang penderita gagal jantung kembali dirawat di rumah sakit atau bahkan mengalami kematian.

Gangguan nafas tidur sangat sering ditemukan pada penderita serangan jantung. Lebih dari 70% pasien serangan jantung yang dirawat di rumah sakit juga mengalami sleep apnea. Jumlah yang besar, sayangnya sampai saat ini pemeriksaan dan perawatan gangguan nafas tidur belum dijadikan penanganan rutin dalam perawatan jantung.

Gangguan Nafas Tidur

Gangguan nafas tidur, sleep disordered breathing, ada dalam banyak bentuk. Yang paling sering ditemui sehari-hari adalah obstructive sleep apnea (OSA) atau yang sehari-hari kita kenal sebagai mendengkur. Bentuk gangguan nafas tidur lainnya adalah central sleep apnea (CSA).

Jika OSA disebabkan oleh sumbatan pada saluran nafas akibat penyempitan saat tidur, hingga walau ada gerakan nafas, pertukaran udara tidak terjadi. Sementara CSA merupakan bentuk gangguan nafas tidur, dimana gerakan nafas hilang.

Penelitian

Penelitian dilakukan oleh sebuah tim dari Ohio State University dengan menganalisa data 1117 pasien serangan jantung yang dirawat di rumah sakit antara 2007-2010. Semuanya dengan fraksi semburan bilik kiri jantung (LVEF) kurang atau sama dengan 45%, dan belum pernah terdiagnosa dengan sleep apnea.

Pasien-pasien ini diperiksakan tidurnya pada malam kedua dirawat di rumah sakit akibat serangan jantung. Lalu pasien-pasien ini diamati kemungkinan serangan jantung kembali atau bahkan kemungkinan alami kematian.

Hasilnya pasien dengan CSA maupun OSA memiliki risiko lebih tinggi untuk kembali alami serangan jantung setelah tiga atau enam bulan. Bahkan, angka kematian akibat serangan jantung meningkat 2/3 setelah diikuti selama tiga tahun.

Melihat pentingnya gangguan nafas saat tidur terhadap kondisi pasien gangguan jantung, para peneliti menyerukan agar pemriksaan dan perawatan sleep apnea menjadi bagian dalam tata laksana pasien serangan jantung.

Ngorok= Berisiko Serangan Jantung

Sebuah penelitian yang baru saja diterbitkan pada the Journal of the American College of Cardiology menyebutkan bahwa mendengkur dengan obstructive sleep apnea tingkat sedang saja, sudah meningkatkan risiko seseorang alami sindroma kematian mendadak akibat serangan jantung. Ya, suara ngorok yang dianggap ‘hanya’ gangguan suara, bisa berakibat fatal!

Sleep Apnea

Mendengkur yang disertai dengan kantuk berlebih di siang hari merupakan gejala utama dari sleep apnea atau henti nafas saat tidur.

Saat tidur saluran nafas pendengkur menyempit hingga, walau gerakan nafas masih ada, aliran udara terhenti. Henti nafas ini bisa terjadi lebih dari sepuluh detik. Bahkan tak jarang saya temukan di laboratorium tidur pendengkur yang alami henti nafas hingga lebih dari 1 menit.

Akibat sesak, penderita sleep apnea akan terbangun tanpa terjaga untuk bernafas, lalu segera lanjut tidur lagi. Pendengkur tak menyadari dirinya terbangun-bangun selama tidur. Karena proses tidur yang terpotong-potong itu, di pagi hari pendengkur merasa kurang segar dan terus mengantuk sepanjang hari.

Proses henti nafas berulang sepanjang tidur memicu reaksi berantai yang berlanjut pada peningkatan tekanan darah, kadar gula darah, kekentalan darah dan tentu pada kesehatan jantung sendiri.

The National Heart, Lung and Blood Institutes memperkirakan sleep apnea diderita lebih dari 12 juta orang di AS. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat dengan bertambahnya epidemi obesitas di sana. Tetapi hati-hati, untuk ras Asia seperti Indonesia penderita sleep apnea tanpa obesitas pun banyak. Ini dikarenakan struktur rahang yang sempit dan leher yang pendek pada ras Asia. Tak semua pendengkur itu gemuk lho.

Penelitian

Penelitian terdahulu dari Mayo Clinic yang diterbitkan pada the New England Journal of Medicine menyatakan bahwa lebih dari setengah pasien mendengkur yang telah terdiagnosa dengan sleep apnea, meninggal akibat serangan jantung antara pukul 22:00-6:00. Artinya, sleep apnea berperan atas serangan jantung yang terjadi.

Kembali pada penelitian yang terbaru, para ahli mengikuti 10.701 subyek selama kurang lebih 5,3 tahun. Selama itu, sebanyak 142 pasien meninggal dunia akibat serangan jantung mendadak. Kebanyakan dari pasien-pasien tersebut berusia lebih dari 60 tahun dan mengalami henti nafas lebih dari 20 kali perjam saat tidur serta memiliki kadar oksigen terendah kurang dari 78%.

Saat saluran nafas tersumbat dalam tidur, pasokan oksigen terhenti hingga kadar oksigen dalam darah menurun. Penelitian ini tunjukkan bahwa penurunan kadar oksigen lebih rendah dari 78% akan tingkatkan risiko pasien alami serangan jantung yang mematikan hingga 80%.
Jadi sleep apnea bukan saja meningkatkan risiko gangguan kesehatan jantung di malam hari, tapi justru sepanjang hari dan malam.

Tata Laksana

Perawatan sleep apnea dimulai dengan pemeriksaan rutin di laboratorium tidur untuk mendiagnosa derajat dengkuran. Jika indeks henti nafas (AHI) kurang dari 5 kali perjam, pasien dinyatakan hanya mendengkur tanpa sleep apnea. Ini kondisi yang aman. Sementara AHI 5-15 kali perjam adalah kondisi ringan, 16-30 kali perjam adalah sedang dan lebih dari 30 dinyatakan sebagai sleep apnea berat.

Umumnya perawatan sleep apnea adalah dengan menggunakan CPAP, berupa alat yang dihubungkan dengan masker hidung. Alat tersebut akan meniupkan tekanan positif yang digunakan untuk menyangga saluran nafas agar tak menyempit selama tidur. Penggunaan CPAP telah diketahui memperbaiki kondisi jantung, tekanan darah dan kontrol gula darah penderita sleep apnea. Selain CPAP, perawatan sleep apnea juga bisa dilakukan dengan penggunaan dental appliances atau pembedahan.

———————

Perawatan sleep apnea akan meningkatkan kualitas hidup penderitanya, dan juga mencegah terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah.

Ketika ada sahabat atau kerabat yang mendengkur, jangan ditertawakan. Peringatkan! Anda bisa menyelamatkan nyawanya hanya dengan memberi tahu bahwa dengkurannya bisa berbahaya bagi kesehatan.

Dengkur “Sleep Apnea” Ringankan Efek Serangan Jantung

 

KOMPAS.com – Kita tahu bahwa mendengkur buruk bagi kesehatan jantung. Tetapi penelitian terbaru yang diterbitkan pada jurnal kedokteran “Sleep and Breathing” memberikan sudut pandang baru tentang hubungan ngorok dan serangan jantung.

Sleep Apnea

Mendengkur dan kantuk berlebihan merupakan dua tanda utama dari sleep apnea atau henti nafas saat tidur. Saluran nafas atas yang sudah sempit melemas saat tidur hingga mengakibatkan terhentinya aliran udara. Penderitanya tercekik saat tidur! Akibat sesak, mekanisme pengaman tubuh akan membangunkan otak sejenak untuk mengambil nafas.

Penderitanya tampak seolah tersedak dan menarik udara lalu lanjut mendengkur kembali. Karena terbangun-bangun singkat tanpa terjaga ini, penderita sleep apnea mengalami kantuk berlebihan walau tidur cukup lama. Selama tidur, terjadi penurunan oksigen, peningkatan tekanan dalam dada dan peningkatan sel-sel inflamasi yang semuanya berperan dalam berkembangnya penyakit-penyakit jantung dan pembuluh darah.

Serangan Jantung

Serangan jantung yang dibicarakan adalah infark miokard akut (IMA) yang terjadi sebagai akibat dari tersumbatnya arteri koroner sehingga aliran darah ke otot jantung jadi terbatas atau terputus sama sekali. Ini yang sering juga dikenal awam sebagai penyakit jantung koroner. Otot jantung seolah tercekik. Area jantung yang tercekik disebut juga sebagai area infark. Pada hewan percobaan, pengurangan oksigen saat malam hari terbukti meringankan akibat serangan jantung. Area infark jadi lebih kecil. Diduga efek perlindungan jantung ini disebabkan oleh ischemic preconditioning. Jantung telah terlatih dengan kondisi kekurangan oksigen.

Penelitian

Penelitian yang dilakukan sekelompok peneliti dari Albert Einstein College of Medicine, Bronx – New York ini mencoba melihat efek perlindungan ini pada manusia. Mereka menilai derajat keparahan serangan jantung (IMA) dan hubungannya dengan sleep apnea. Derajat keparahan IMA dinilai dengan pengukuran kadar troponin-T. Troponin-T adalah penanda dalam darah yang menunjukkan adanya sel jantung yang mati.

Dari 136 pasien serangan jantung, didapati sebanyak 35 persennya menderita sleep apnea. Derajat keparahan sleep apnea dinilai dari AHI (Apnea-hypopnea Index) atau jumlah henti nafas setiap jamnya. Semakin tinggi AHI, semakin rendah pula kadar troponin-T dalam darah. Artinya semakin parah sleep apnea seseorang, semakin ringan pula kerusakan sel jantung yang dialami. Dalam penelitian ini, diperiksakan juga kadar creatine phosphokinase (CPK). CPK adalah enzim yang tinggi kadarnya saat terjadi stress pada otot. Pada serangan jantung, kadar CPK tinggi dianggap sebagai tahap akut dari serangan jantung. Disimpulkan juga bahwa sleep apnea tampaknya mempunyai efek perlindungan jantung pada tahap akut infark miokard.

Kesimpulan

Pasien pendengkur mengalami cedera otot jantung yang lebih ringan dibandingkan dengan pasien yang tidak. Disimpulkan bahwa sleep apnea melindungi otot jantung karena telah terlatih/terbiasa dengan kondisi iskemik, atau kurang oksigen. Namun para ahli mengingatkan juga bahwa sleep apnea sendiri berperan dalam berkembangnya penyakit jantung. Pemeriksaan dan perawatan sleep apnea tetap menjadi prioritas utama.

Dengkur Ringankan Serangan Jantung

Kesehatan Jantung, Olah raga dan Tidur

Kita sering kali mendengar kematian mendadak setelah berolah raga. Baik itu sepak bola, bersepeda atau lainnya. Dari gejala-gejala yang digambarkan, dikesankan bahwa serangan jantunglah penyebabnya. Seketika kesehatan jantung menjadi perhatian banyak orang. Dalam tulisan ini saya ingin mengulas bagaimana hubungan antara tidur yang sehat, olah raga dan kesehatan jantung.

Cukup Tidur

Semua orang tahu, bagaimana olah raga amat bermanfaat bagi kesehatan, terutama jantung manusia. Tetapi mengorbankan tidur demi berolah raga tidaklah bijak. Bagi para atlet, tidur amatlah penting untuk meningkatkan prestasi. Ini dikonfirmasi oleh berbagai data penelitian yang menunjukkan bahwa atlet dengan tidur yang cukup lebih berprestasi dibanding yang tidak.

Kini jumlah tidur yang cukup, dikaitkan dengan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Laporan dari Harvard Heart Letter Januari 2007 menghubungkan  antara kekurangan tidur dengan tekanan darah tinggi, atherosklerosis, payah jantung, serangan jantung dan stroke, hingga diabetes dan obesitas. Diduga kondisi kurang tidur akan meningkatkan kadar zat-zat inflamasi yang pada akhirnya menyebabkan penyakit-penyakit kronis tersebut.

Baru-baru ini para peneliti dari the University of Warwick menyatakan bahwa, jika kita tidur kurang dari enam jam sehari, kita akan mempunyai resiko 48 persen lebih besar untuk menderita atau meninggal akibat penyakit jantung, dan kemungkinan 15 persen lebih untuk menderita atau meninggal akibat stroke. Penelitian yang diterbitkan dalam European Heart Journal terbitan 8 Februari 2011 juga mengungkapkan fakta gaya hidup tidur larut malam dan bangun sepagi bisa menjadi bom waktu bagi kesehatan kita. Dalam tulisannya, para peneliti menerangkan bahwa jumlah tidur yang pendek dalam waktu lama, akan menghasilkan beberapa zat yang nantinya menjadi resiko bagi berkembangnya tekanan darah tinggi, peningkatan kolesterol, diabetes, obesitas, hingga penyakit jantung dan stroke.

Hal senada diungkap dalan jurnal SLEEP 1 Agustus 2010. Para peneliti dari West Virginia University School of Medicine menyatakan bahwa jumlah tidur ideal bagi kesehatan jantung adalah 7 jam sehari. Penelitian ini mengikuti kebiasaan tidur 30.000 orang dewasa. Mereka menemukan bahwa tidur kurang maupun berlebih akan meningkatkan resiko penyakit jantung. Mereka yang tidur kurang dari 5 jam mempunyai resiko dua kali lipat untuk menderita penyakit jantung, sementara yang tidur lebih dari 9 jam perhari beresiko satu setengah kali lipat.

Sleep Apnea

Yang unik, tidur lebih dari 7 jam pun menunjukkan peningkatan resiko penyakit kardiovaskular. Walau para peneliti menyatakan tidak mengetahui penyebabnya secara pasti, diduga gangguan tidur yang menyebabkan kantuk berlebih menjadi penyebabnya. Jadi bukan kelebihan tidur, tetapi kantuk berlebihan yang perlu diperhatikan.

Sleep apnea atau henti nafas tidur, merupakan gangguan pernafasan saat tidur yang ditandai dengan ngorok, mendengkur dan kantuk berlebihan, hipersomnia. Penderitanya mudah dikenali dari penampilannya yang selalu mengantuk. Apalagi ketika tertidur, kita dengan mudah mendengar deru dengkuran.

Ketika tidur, saluran nafas penderita sleep apnea akan melemas hingga menyempit dan pada akhirnya menyumbat. Akibatnya, walau gerakan nafas tetap ada, udara tidak dapat lewat. Karena sesak penderitanya akan terbangun-bangun sepanjang malam, tanpa sadar. Tak heran jika orang yang mendengkur bangun dengan rasa tak segar dan terus mengantuk tanpa tahu sebabnya.

Berhentinya nafas saat tidur, menyebabkan jantung bekerja keras, bahkan ekstra keras. Ini ditunjukkan dalam pemeriksaan tidur pendengkur yang juga meliputi perekaman jantung, dimana irama jantung jadi tak beraturan. Kesimpulannya, ngorok berakibat buruk bagi kesehatan jantung.

Dalam panduan yang dikeluarkan oleh Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure, sleep apnea sudah dinyatakan sebagai salah satu penyebab utama hipertensi. Selanjutnya Heart Failure Society of America di tahun 2006 mengeluarkan panduan yang didalamnya juga menyertakan pemeriksaan akan resiko sleep apnea dalam tata laksana penyakit jantung.

Olah Raga dan Tidur

Olah raga saja sepertinya tidak cukup bagi kesehatan jantung. Tidur yang sehat, cukup dan tidak mendengkur ternyata jauh lebih penting. Selama ini kita ketahui bahwa pendengkur adalah orang-orang yang gemuk. Tetapi ternyata banyak juga atlet dengan proporsi tubuh yang baik, juga menderita sleep apnea.

Kematian para atlet di usia 40-an menjadi perhatian. Di Amerika beberapa pensiunan atlet NFL diduga menderita sleep apnea. Reggie White meninggal secara mendadak di tahun 2004 pada usia 43 tahun, dan sleep apnea diduga berperan.

Di Inggris kematian mendadak seorang atlet saat mengikuti triathlon juga mengagetkan khalayak. Tom Zehmisch, berbeda dengan para atlet NFL yang berbadan besar, sebenarnya berperawakan langsing dengan penampilan. Ia beusia 46 tahun ketika meninggal akibat serangan jantung saat bersepeda dalam sebuah lomba triathlon. Tom dilaporkan tidur mendengkur, salah satu tanda dari sleep apnea.

Sleep apnea pada atlet atau penggemar olah raga, menjadi amat penting. Bayangkan saat terjaga dan berolah raga, jantung bekerja keras. Kemudian saat tidur jantung malah bekerja semakin keras lagi akibat henti nafas. Jantung tak pernah beristirahat.

Penanganan sleep apnea, diawali dengan pemeriksaan tidur di laboratorium tidur menggunakan alat bernama polisomnografi. Dari pemeriksaan ini akan didapatkan diagnosa sleep apnea, serta derajat dan karakter henti nafas yang dialami. Disamping itu kondisi dan fungsi jantung selama tidur pun akan terlihat. Berangkat dari hasil diagnosa kita akan dapat memilih perawatan yang tepat bagi setiap pasien. Pilihan utama perawatan adalah dengan menggunakan CPAP (continuous positive airway pressure). Alternatif lain adalah dengan jalan pembedahan atau penggunaan dental appliances.

Beberapa contoh pengguna CPAP yang populer adalah peserta the Biggest Looser Sherry Johnston dan Sean Algaier, serta atlet NFL lainnya Percy Harvin. Kepada stasiun TV NBC, ia mengungkapkan bahwa ia didiagnosa oleh dokter menderita sleep apnea yang diduga telah menyebabkan migren parah yang telah membuatnya sering kali absen dari latihan. Setelah jatuh pingsan di salah satu sesi latihan, ia segera dilarikan ke rumah sakit. Para dokter yang melihatnya sering mengalami henti nafas segera melakukan pemeriksaan tidur. Sejak itu ia pulang dengan membawa alat kecil untuk menemani tidurnya. Kini ia tidur dengan sehat, tanpa mendengkur, apalagi henti nafas. Dan ia pun meneruskan karir atletnya dengan gemilang.

———————————————————————————————————

Kematian akibat serangan jantung selalu datang tiba-tiba. Kita sebagai manusia, harus bisa menjaga dan merawat kesehatan jantung. Untuk itu, saya selalu mengingat pesan dari Prof. William Dement, bapak kedokteran tidur: Untuk mencapai kesehatan yang optimal kita membutuhkan tiga faktor utama,  kebugaran fisik, nutrisi yang seimbang dan TIDUR yang sehat.