Hoammm… Kantuk Sepanjang Hari

Minggu, 05 Desember 2010
Namanya narkolepsi atau serangan tidur.

Sebut saja namanya Andrew, warga Amerika Serikat, berusia kepala tiga yang menetap di Jakarta. Suatu hari, ketika dia terburu-buru mengendarai motor untuk berangkat kerja, mendadak jatuh dan seperti pingsan. Untung ketika itu dia masih berada depan teras rumah. Meski sempat membuat istrinya panik dan teriakteriak minta tolong. Andrew tak jarang mengalami hal aneh lainnya. Hampir setiap pagi, pasca bangun tidur, mukanya terasa kaku. Mulut menganga, lidahnya melet beberapa menit.

Membentuk wajah melongo. Sekilas dia seperti lumpuh, tapi sebenarnya dalam kondisi sadar. Sedangkan ketika malam, tidurnya kerap gelisah karena sering mendapat mimpi buruk. Cukup menyiksa apa yang dialami Andrew. Sampai akhirnya, dia divonis menderita narkolepsi atau serangan tidur yang masih jarang diderita orang Indonesia. Vonis yang tidak meleset sebenarnya. Pasalnya, ketika rapat, menunggu, terlalu depresi atau senang, Andrew mendadak bisa tertidur pulas hampir setengah jam.

Kantuk luar biasa itu kembali datang dalam tempo dua jam kemudian. Begitu seterusnya. Ciri narkolepsi memang seperti yang dialami Andrew, kantuk berlebih yang disertai katapleksi dan halusinasi hipnagogik. Katapleksi merupakan serangan lumpuh yang dipicu oleh emosi yang kuat. Gembira, sedih atau tertekan berlebihan dapat membuat otot-otot tubuh menjadi kaku, seperti lumpuh dan akhirnya jatuh. Dan beberapa menit kemudian akan kembali normal, meski hanya dibiarkan tanpa penanganan khusus.

Sedangkan halusinasi hipnagogik adalah mengalami pengalaman-pengalaman tidak riil yang. membentuk suatu halusinasi. Narkolepsi, kata Dr Andreas Prasadja, RPSGT, sleep physician dari Sleep Disorder Clinic Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta, merupakan gangguan tidur yang sampai saat ini belum diketahui penyebabnya. Yang pasti, gangguan ini menyerang sistem pengaturan mimpi. Dalam tidur mimpi terdapat kesadaran mimpi dan pelumpuhan otot-otot besar sebagai pengaman agar kita tak berpola sesuai mimpi.

Keunikan narkolepsi adalah ketika gelombang tidur mimpi itu me nyusup ketika seorang terjaga. Sederhananya, seperti orang bermimpi atau halusinasi ketika sadar. “Jadi orang narkolepsi itu akan mengantuk sepanjang hari. Tidur sebentar, 30 sampai 60 menit kemudian bangun segar dan 30 menit selanjutnya sudah mengantuk lagi,” ungkap dia.

Tidur Bukan Pingsan

Pada siang hari penderitanya dapat tertidur setengah sampai satu jam. Meski pada malam hari, beberapa di antara mereka dapat menikmati tidur normal. Namun masalahnya, penderita narkolepsi saat terjaga tak pernah sepenuhnya sadar dan saat tidur tidak sepenuhnya terlelap. Alhasil, tak heran bila banyak penderitanya yang mengeluh sulit tidur pada malam hari. “Penderita narkolepsi itu tidur bukan pingsan. Dibangunkan juga bisa. Tapi baru tertidur, mereka sulit sekali dibangunkan,” tambah dia.

Narkolepsi memiliki gejala hipersomnia. Namun selama ini banyak orang salah kaprah yang menganggap hipersomnia sama dengan narkolepsi. Padahal, tidak semua kantuk berlebih adalah narkolepsi. Hipersomnia, kantuk berlebih, atau excessive daytime sleepiness, kata Andreas, hanyalah salah satu gejala saja. “Jadi sama seperti demam. Itu kan gejala. Penyakitnya bisa demam berdarah, fl u, atau demam tifoid,” ungkap dia.

Untuk mendeteksi, diperlukan pemeriksaan tidur di laboratorium tidur menggunakan alat polisomnigrafi (PSG). Selain pemeriksaan rutin (overnight sleep study), untuk mendiagnosis narkolepsi dilanjutkan di pagi harinya dengan pemeriksaan multiple sleep latency test (MSLT). Pada pemeriksaan MSLT pasien diminta untuk berulang kali tidur siang (dua jam setelah bangun pagi). Dari cara itu, akan dilihat seberapa cepat pasien tertidur dan gelombang otak tidur yang pertama kali muncul.

Pada narkolepsi yang tidak disertai dengan katapleksi, selain menggunakan MSLT diagnosa dapat ditemukannya antigen khusus (HLA DQB1*0602) atau rendahnya kadar hipokretin (orexin) dalam cairan serebro spinal. Walaupun tidak spesifi k untuk memeriksa narkolepsi, pemeriksaan ini dapat membantu diagnosis. Biasanya pasien tanpa katapleksi yang tes DQB1*0602-nya positif, baru akan diperiksakan kadar hipokretin.

Remaja

Narkolepsi sampai saat ini belum bisa disembuhkan. Pengobatan ditujukan untuk mengontrol gejalagejalanya. Yang diperlukan adalah obat yang menghalangi kantuk dan menekan tidur REM (rapid eye movement). Hal itu untuk mencegah katapleksi dan halusinasi hipnagogik. Beberapa obat di antaranya seperti methylphenidate atau modafi nil (golongan stimulan) yang berguna agar penderta tidak terus-menerus mengantuk sehingga dapat beraktivitas normal.

Namun obat ini belum ada di Indonesia. Juga diperlukan obat-obat antidepresant seperti venlafaxine atau clomipramine digunakan untuk menekan gelombang tidur REM sehingga menghindarkan penderita dari serangan katapleksi pada siang hari. Plus golongan sodium oxybate atau hypnotic benzodiazepines terkadang digunakan untuk membantu tidur. Namun yang terpenting adalah soal kombinasi dan dosis obat tersebut.

Karena masing- masing penderita narkolepsi berbeda-beda kondisinya. Sejauh ini, jumlah penderita narkolepsi di Indonesia belum ditemukan angka yang akurat. Namun data dari Stanford, menunjukkan komposisi 0,2 sampai 1,6 per seribu penduduk terjadi di negara- negara seperti Eropa, AS dan Jepang.

Narkolepsi menyerang tidak mengenal usia. Miasanya muncul pertama kali ketika usia remaja. Meski dalam sejarahnya, pernah terjadi pada anak berusia tiga tahun.
nala dipa

Dapatkah Hidup Normal?

Minggu, 05 Desember 2010
Narkolepsi memang tidak mematikan, namun dapat mengurangi kualitas hidup seseorang dan membahayakan penderita atau orang lain. Bayangkan bila penderitanya tertidur di tempat yang seharusnya, misalnya ketika menyetir, menyeberang jalan dan sebagainya. Namun bukan berarti penderita tidak dapat hidup normal. Yang penting adanya dukungan dari keluarga dan teman-teman dekat penderita.

Karena tingkat produktivitas atau bahayanya ketika penderita “kambuh” dapat dikaver mereka-mereka yang ada di sekitar si penderita. Keluarga penderita dapat mendukung dengan meminta jadwal kuliah, jadwal tugas serta agenda kegiatan sehari-hari, misalnya.

Sehingga memudahkan untuk monitoring, mengingatkan dan membantu membangunkan penderita jika sudah waktunya untuk berangkat kuliah, kerja, dan sebagainya.

Penderita narkolepsi juga dapat mengingat semua peristiwa ketika serangan berlangsung selama beberapa detik hingga menit. Mereka juga bukan tidak mungkin dapat lembur untuk mengerjakan tugas atau pekerjaan. Yang terpenting adalah suasana yang kondusif dan nyaman.
nala dipa

link: http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=69481 dan http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=69482