Indonesia Mengantuk Sebuah Refleksi Kesehatan Tidur

Beberapa waktu lalu media diramaikan kisah seorang anak yang tidur selama 13 hari. Selang beberapa waktu, seorang tokoh Nasional terekam media terantuk-antuk tertidur dalam sebuah acara pernikahan. Sebelumnya juga sempat beredar foto tokoh tersebut dalam perawatan di rumah sakit menggunakan masker khas yang digunakan untuk mengatasi ngorok.

Tiba-tiba istilah narkolepsi, hipersomnia, bahaya mendengkur, sleep apnea, Kliene Levin Syndrome menghiasi media kita. Ini adalah istilah-istilah kesehatan tidur.

Ya, khalayak mulai menyadari pentingnya kesehatan tidur.

Istilah-istilah kesehatan tidur masuk dalam kolom-kolom kesehatan, gaya hidup, ilmu pengetahuan dan bahkan politik. Perlahan namun pasti, Indonesia mulai menyusul negara-negara maju dalam memperhatikan kesehatan tidur. Mengantuk, dan penyakit tidur sudah diperhatikan seperti sebuah penyakit menular yang diderita luas. Sebuah epidemi!

Performa Tidur

Dalam era modern ini, orang berlomba-lomba mengejar prestasi. Demi mencapai prestasi, tidur pun dikorbankan. Tidur adalah periode dimana tubuh diam dan tak aktif. Banyak orang menganggap tidur sebagai fase kehidupan yang tak penting, tak aktif, tak berguna dan dianggap identik dengan kemalasan. Bahkan banyak orang yang menganggap kantuk sebagai sebuah penyakit yang harus dicari obatnya!

Sikap kita terhadap pengurangan tidur juga cukup aneh. Para pemuja produktivitas menganggap pengurangan tidur sebagai sikap macho nan heroik. Sebuah sikap yang sebenarnya kontra produktif. Karena performa otak optimal hanya dibangun saat tidur!

Alih-alih memperhatikan kesehatan tidur, kita malah mencari kebugaran lewat berbagai stimulan dan minuman penambah energi. Coba lihat berapa banyak kedai kopi di sekeliling kita? Padahal, tak ada satu zat pun yang dapat menggantikan efek restoratif tidur.

Segala kemampuan otak dibangun pada tahap tidur mimpi. Berbagai penelitian telah membuktikan bagaimana pengurangan tahap tidur ini akan menurunkan berbagai fungsi otak dan bahkan kemampuan ereksi pria.

Mengantuk

Tidur tak sama dengan kemalasan. Sudah terlalu sering saya mendapati pasien yang datang dengan cap pemalas dari keluarganya karena terus mengantuk.

Tidur itu ada porsinya. Jika sudah cukup, kita tak akan bisa tidur lagi. Kalau mengantuk artinya masih kurang tidur. Nah, bagaimana kalau tidur sudah cukup tapi masih mengantuk? Itu namanya hipersomnia, kantuk berlebihan.

HIpersomnia memang tidak sepopuler insomnia. Tapi hipersomnia justru lebih berbahaya. Bayangkan jika seorang pengendara mengidap hipersomnia? Seorang pilot?

Mengantuk berlebihan merujuk pada beberapa penyakit tidur, antaranya: Behaviourally Induced Insufficient Sleep Syndrome, Periodic Limb Movements in Sleep, sleep apnea, narkolepsi dan Kleine Levin Syndrome. Khusus sleep apnea, mendengkur, mengakibatkan juga hipertensi, penyakit jantung, diabetes, stroke, kematian, impotensi dan depresi.

Tata Laksana

Dalam diagnosis penyakit tidur dibutuhkan pemeriksaan khusus di laboratorium tidur. Pemeriksaan sederhana yang tampak rumit. Pasien akan dilekatkan dengan berbagai sensor fungsi tubuh untuk direkam sepanjang malam. Dokter akan menganalisa perekaman, untuk selanjutnya dipilihkan perawatan yang sesuai.

Analisa tidur, menggunakan alat bernama polisomnografi. Teknik pemeriksaan tidur pun tak cuma satu. Anda perekaman sepanjang malam, ada juga perekaman di siang hari. Khusus untuk narkolepsi, pemeriksaan malam diikuti dengan multiple sleep latency test (MSLT.) Pasien diminta 5 kali tidur siang sepanjang hari sambil terus diamati.

Perawatan gangguan tidur jelas akan meningkatkan performa seseorang. Selain itu, perawatan juga akan mencegah berbagai penyakit kronis yang mungkin diderita.

Triumvirate of Health

Prof. William Dement, Bapak Kedokteran Tidur mengemukakan bahwa untuk mencapai kesehatan yang paripurna, seseorang membutuhkan tiga komponen: keseimbangan nurtirsi, olah raga teratur dan tidur yang sehat. Bahkan, tidur sehat menjadi dasar dari kesehatan seseorang. Tanpa tidur yang sehat, segala nutirsi dan olah raga jadi percuma.

Dengan tidur yang sehat, tubuh akan memiliki sistem metabolisme yang baik. Tidur yang sehat juga akan menopang pemulihan otot yang baik serta memoles kemampuan gerak halus yang dilatih para atlet dan musisi.

Apa yang terjadi ketika kesehatan tidur terganggu? Semua, mulai dari kepala hingga kaki. Bahkan para ahli setuju bahwa tak ada satu pun spesialisasi kedokteran yang tak terganggu ketika kesehatan tidur terganggu.

Jawaban dari semua permasalahan sebenarnya sederhana saja: Tidur sehat.

Mulailah prioritaskan kesehatan tidur!

dr. Andreas Prasadja, RPSGT

www.andreasprasadja.com

Sleep Disorder Clinic RS. Mitra Kemayoran

Snoring & Sleep Disorder Clinic Pondok Indah

Kompas.com: http://lifestyle.kompas.com/read/2017/12/29/111405820/indonesia-mengantuk-sebuah-refleksi-kesehatan-tidur

Tidur yang Baik, Sebuah Mimpi yang Bisa Dicapai: World Sleep Day 2016

Tanggal 18 Maret 2016 ini diperingati sebagai World Sleep Day, Hari Kesehatan Tidur Sedunia. Pada hari ini para pemerhati kesehatan tidur sedunia, mencoba mengkampanyekan penting kesehatan tidur bagi kesehatan dan kehidupan sehari-hari.

Tema tahun ini adalah: Good Sleep is a Reachable Dream, Tidur yang Baik, Sebuah Mimpi yang Bisa Dicapai. Ya, bagi sebagian orang tidur adalah sebuah bentuk kemewahan. Entah karena tugas, aktivitas sehari-hari, pekerjaan, memiliki bayi atau karena penyakit tidur. Apa pun penyebabnya, masyarakat Indonesia belum menyadari pentingnya kesehatan tidur. Bahkan yang sudah mengalami gangguan fungsi berupa kantuk berlebihan di siang hari pun masih salah mengidentifikasi masalahnya.

Ya, kita terbiasa melihat masalah kesehatan hanya dari sisi nutrisi dan olah raga. Kita tak sadar bahwa sebenarnya dasar utama dari kesehatan yang paripurna justru terletak pada kesehatan tidur. Dengan tidur yang baik sistem metabolisme tubuh kita pun akan baik. Kesehatan tidur juga menjamin restorasi, kelenturan otot dan prestasi dalam berolah raga. Tanpa kesehatan tidur yang baik tak akan ada kesehatan.

Kantuk

Akibat utama dari kesehatan tidur yang buruk adalah kantuk. Tetapi banyak orang tak menyadari bahwa dirinya mengantuk. Lihat saja sekeliling, berapa banyak kelucuan yang disebabkan kealpaan dalam beraktivitas. Salah mengambil kunci, salah mengirim teks, lupa tempat parkir dan masih banyak kealpaan lain yang sebenarnya merupakan tanda-tanda kantuk.

Hanya saat tidur kemampuan otak kita dijaga. Jadi gejala kantuk bisa muncul sebagai kecerobohan, turunnya kemampuan konsentrasi, emosional atau turunnya libido. Rasa kantuk seperti yang kita ketahui dengan mudah bisa “diganjal” dengan kafein atau minuman penambah energi lain. Tetapi kemampuan otak tidak. Jadi saat kita kekurangan tidur, kafein akan membantu kurangi kantuk, tetapi kemampuan otak yang sudah terlalu lelah tak akan terbantukan.

Akibat kantuk bukan saja membunuh produktivitas dan kreativitas, tetapi juga buruk bagi keselamatan dan kesehatan. Sadarkah Anda jika mengendara dalam kondisi mengantuk lebih berbahaya dari pada mabuk?

Bukti-bukti ilmiah akibat buruk kurang tidur bagi kesehatan juga semakin menggunung. Daya tahan tubuh yang buruk, peninggkatan tekanan darah, perubahan metabolisme hingga kanker.

Tak ada satu zat pun di dunia yang dapat menggantikan efek restoratif tidur.

Penyakit Tidur

Banyak gejala penyakit tidur selain insomnia. Tak banyak orang tahu tentang parasomnia atau hipersomnia. Hipersomnia adalah kantuk berlebihan di siang hari. Sementara parasomnia adalah gerakan atau vokalisasi tak wajar yang terjadi saat tidur. Yang populer dikalangan muda saat ini adalah sleep texting. Suatu bentuk mengigau yang manifestasinya berupa texting di smartphone.

Hipersomnia merujuk pada beberapa penyakit tidur seperti gerak periodik tungkai saat tidur, narkolepsi dan henti nafas saat tidur (sleep apnea.)

Khusus sleep apnea, para ahli memberikan penekanan khusus karena bahaya dan banyaknya jumlah penderita. Sleep apnea memiliki gejala yang sangat biasa, yaitu mendengkur. Akibat dari mendengkur juga tak sepele: hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, kematian hingga impotensi. Bahkan sebuah jurnal kedokteran menyebutkan bahwa mendengkur merupakan faktor risiko yang lebih berat bagi kesehatan jantung dibanding obesitas dan peningkatan kolesterol.

Insomnia pun bukan lagi sekedar sulit tidur. Penyakit tidur seperti sindroma tungkai gelisah pun sering kali luput dari perhatian dokter. Walau pasien mengeluhkan rasa gelisah dan sulit tidur, penyebabnya belum tentu kecemasan. Sindroma tungkai gelisah disebabkan oleh gangguan pada saraf kaki hingga penderitanya sulit tidur karena dorongan untuk gerakkan kaki di tempat tidur.

Mewahnya Tidur

Harga yang harus dibayar saat tidur tak sehat sangatlah besar. Bayangkan potensi anak yang dibangun saat tidur hilang begitu saja akibat gangguan tidur yang dideritanya. Atau sekian nyawa hilang akibat kecelakaan karena mengantuk. Atau proyek milyaran rupiah hilang akibat ketidak telitian dalam membuat proposal.

Dalam masyarakat yang mengagungkan produktivitas dan prestasi, kita harus memiliki performa yang maksimal. Sayangnya kurang tidur tak dapat dilatih. Jika kita tidur kurang dari kebutuhan kita, otomatis performa kita kan menurun.

Jadi bagaimanakah kita bisa bersaing di era ini? Kesehatan tidurlah jawabannya. Pandangan orang harus mengorbankan tidur untuk meningkatkan produktivitas sudah usah dan salah besar. Vitamin otak yang sesungguhnya adalah tidur sehat. Tidur yang sehat adalah langkah cerdas untuk meningkatkan produktivitas.

Tidur adalah kebutuhan dasar manusia. Untuk manusia Indonesia yang sehat dan berkualitas, mulai perhatikan kesehatan tidur. Prioritaskan kesehatan tidur hingga tidur bukanlah suatu kemewahan lagi.

Tidur yang baik adalah sebuah mimpi yang bisa diraih!

Rasa Sakit dan Tidur

Orang-orang yang kurang tidur akibat insomnia atau gangguan tidur lainnya, ternyata lebih sensitif terhadap rasa sakit. Menurut penelitian yang diterbitkan pada jurnal kedokteran PAIN, mereka yang menderita insomnia dan nyeri kronis adalah kelompok yang paling parah menderita. Jurnal PAIN diterbitkan oleh International Association for the Study of Pain.

Pada penelitian tersebut, para peneliti menyertakan 10.400 orang dewasa di Norwegia. Peserta penelitian menjalani tes kepekaan rasa sakit berupa cold pressor test, dimana seseorang diminta mencelupkan tangan di air yang dingin.

Para peserta juga diminta menginformasikan berbagai parameter tidur dan gangguan tidur. Mereka ditanyakan tentang insomnia yang pernah dialami, waktu tidur total, dan waktu yang dibutuhkan untuk jatuh tidur (mula tidur). Kemudian data-data tersebut dicocokkan dengan nyeri kronis (rasa sakit yang terus menerus dan berulang) serta faktor-faktor lain yang mungkin mengganggu tidur.

Hasilnya 32% peserta penelitian dapat menahan rasa sakit yang diakibatkan dingin selama 106 detik. Sementara 42% peserta yang menderita insomnia sudah menarik tangannya lebih cepat, dibanding dengan 31% peserta yang tidak menderita insomnia.

Penderita insomnia yang melaporkan sulit tidur sekali perminggu 52% lebih sensitif terhadap rasa sakit dibanding yang cuma keluhkan sulit tidur sekali setiap bulannya, yang hanya 24%. Semakin sering dan semakin parah keluhan insomnia, seseorang juga semakin tak tahan sakit. Ini sebabnya ketika mengalami insomnia seseorang mengeluhkan rasa sakit dimana-mana, dari sakit kepala, mata, otot-otot pundak, bahu, tengkuk dan lain-lain.

Sementara orang yang menderita insomnia dan nyeri kronis dua kali lipat lebih sensitif terhadap rasa sakit.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian pada jurnal SLEEP di tahun 2012 yang sebutkan bahwa sekelompok orang yang tidur cukup 25% lebih tahan sakit dibanding kelompok yang kurang tidur.

Rasa sakit dan tidur, memiliki hubungan yang erat. Sayang sampai kini kita masih belum benar-benar memahami mekanisme yang menghubungkan. Yang pasti, pada pasien-pasien dengan insomnia dan nyeri kronis, pengobatan harus diarahkan pada kedua keluhan secara bersamaan. Membantu atasi insomnia dengan Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia (CBT-i) dan pengobatan pada rasa sakitnya.

Tidur Sehat dan Seksualitas Wanita

Menurut sebuah penelitian terbaru, tidur yang lebih sehat ternyata sangat berhubungan dengan seksualitas wanita. Dengan tidur lebih lama satu malam saja, sudah meningkatkan hasrat wanita untuk berhubungan intim.

Seksualitas Wanita

Fungsi-fungsi seksual wanita, seperti rangsangan seksual dan keinginan berhubungan intim dipengaruhi oleh banyak faktor. Antaranya stress, suasana emosi, kesehatan,kondisi hubungan asmara dan kesehatan tidurnya.

Penelitian yang diterbitkan pada the Journal of Sexual Medicine ini mencoba lebih dalam melihat hubungan fungsi seksual wanita dengan kesehatan tidurnya. Untuk itu sebuah tim peneliti dari the University of Michigan Medical School mempelajari 171 wanita muda selama dua pekan. Selama masa penelitian, mereka tidak diperkenankan mengonsumsi obat anti-depresan yang diketahui dapat menekan fungsi seksual.

Para peserta penelitian diberi kuesioner untuk menilai kemungkinan depresi, kecemasan dan tekanan terhadap hubungan seksual. Selama dua minggu berikutnya, setiap hari, mereka juga mencatat jadwal tidur serta menilai kualitas tidur. Mereka juga diminta untuk melaporkan aktivitas seksual selama penelitian berlangsung. Termasuk juga jadwal menstruasi, hasrat seksual, dan orgasme yang dialami.

Dari catatan tidur, didapati bahwa peserta penelitian rata-rata tidur selama tujuh jam 22 menit.

Hasil Penelitian

Para peneliti mencatat bahwa wanita yang mengonsumsi pil kontrasepsi memiliki hasrat seksual yang lebih tinggi. Dan ketika semua faktor diperhitungkan, wanita yang tidur lebih lama, dapat diprediksikan akan memiliki hasrat seksual yang lebih tinggi di keesokan harinya.

Namun, dengan durasi tidur yang lebih lama, ternyata para peserta melaporkan lubrikasi vaginal yang kurang.

Hubungan antara seksualitas dan tidur nyata ada. Tetapi para ahli masih belum dapat memastikan mekanismenya secara langsung. Sementara ini disepakati adanya hubungan hormonal yang memengaruhi. Tim peneliti, yang juga pernah menerbitkan penelitian hubungan depresi dan seksualitas pria, menyatakan bahwa hasil penelitian sederhana ini akan sama jika dilakukan pada pria.

Tanda-tanda Tidur Tak Sehat

Masyarakat modern telah terbiasa menganggap kantuk sebagai suatu bentuk kemalasan. Sebuah hal yang tabu bagi produktivitas. Orang yang mengantuk dipandang sebelah mata. Akibatnya, kantuk diperlakukan sebagai suatu penyakit yang harus dicarikan obatnya.

Padahal mengantuk merupakan sinyal tubuh membutuhkan tidur, sama halnya seperti lapar merupakan tanda membutuhkan makanan atau haus yang berarti membutuhkan cairan. Kantuk adalah hal alami. Secara alamiah, jika kekurangan sesuatu kita harus memenuhi kebutuhan tersebut, dan tidak tergantikan. Ya, sampai saat ini tak ada satu zat pun yang dapat menggantikan efek restoratif tidur.

Proses tidur itu membangun dan memperbaiki tubuh. Ia memberikan tenaga baru, semangat baru bahkan sel-sel baru. Seluruh sistem tubuh akan terganggu begitu tidur terganggu.

Pada dasarnya kita akan mengantuk jika kekurangan tidur. Tetapi kekurangan tidur harus dipahami sebagai suatu kondisi. Kondisi kurang tidur bisa disebabkan oleh durasi tidur yang kurang, atau kualitas tidur yang buruk. Kualitas tidur yang buruk, bukan saja rasa tidur yang tak dalam yang sering dikenal masyarakat dengan sebutan tidur-tidur ayam. Kualitas tidur yang buruk ditemui dalam bentuk kantuk berlebihan walau durasi tidur sudah cukup.

Rasa kantuk berlebihan atau hipersomnia berujung pada berbagai penyakit tidur serius seperti narkolepsi atau sleep apnea/mendengkur.

Kantuk bisa bertumpuk dan bertambah parah. Sebelum bertambah buruk dan mengakibatkan gangguan produktivitas dan kesehatan, ada baiknya kita mengenali bagaimana tanda-tanda kantuk yang tak sehat.

Pelor

Pelor alias nempel molor merupakan istilah yang umum diberikan pada orang yang mudah sekali tidurnya. Begitu meletakkan kepala di atas bantal, tak kurang dari 5 menit, seseorang sudah terlelap. Padahal mula tidur (sleep onset) yang normal adalah 10-20 menit.

Impulsif

Mengantuk akan memicu perilaku impulsif. Orang yang berada dalam kondisi kurang tidur mudah sekali terpancing emosinya. Kemampuan mengambil keputusan juga menurun drastis. Coba perhatikan, tiap kali berbelanja di midnight sale, atau browsing toko online di malam hari, kita cenderung tak berpikir panjang untuk berbelanja.

Klise

Kekurangan tidur membuat orang sulit menjadi kreatif saat berbicara di muka umum. Kemampuan memilih kata-kata secara kreatif dan sikap yang hangat akan menurun drastis saat mengantuk. Akhirnya kata-kata yang keluar pun itu-itu saja, bahkan terkesan klise.

Kemampuan Otak Menurun

Tanpa tidur yang baik, proses konsolidasi ingatan jadi tak sempurna. Ya tidur diperlukan untuk menjaga daya ingat sesorang. Demikian juga dengan kontrol emosi. Kemampuan otak dan kematangan emosi menentukan pengambilan keputusan seseorang. Orang dengan tidur yang tak sehat akan sulit untuk bertindak rasional.

Rakus

Kantuk akan meningkatkan nafsu makan. Sebenarnya mudah saja dijelaskan. Ketika mengantuk dan kekurangan tidur, sedang kita harus tetap beraktivitas, tubuh secara otomatis akan membutuhkan tenaga tambahan. Untuk itu sel-sel saraf di otak mendiktekan rasa lapar dan keinginan besar untuk menikmati makanan yang asin, manis dan gurih. Ketika merasa sulit mengendalikan nafsu makan, mungkin Anda sedang kurang tidur?

Lamban

Daya tangkap, baik di kelas atau membaca juga dipengaruhi oleh tidur. Kekurangan tidur membuat kita lamban memahami suatu subyek. Akibatnya, satu dokumen harus dibaca berulang kali baru benar-benar mengerti isinya. Dalam pengambilan keputusan juga terkesan lamban dan ragu-ragu.

Ceroboh

Karena konsentarasi yang buruk, saat kurang tidur, kita jadi ceroboh. Tanpa sengaja menjatuhkan barang-barang, atau salah menekan tombol. Tak jarang kita meletakkan kunci kendaraan bukan pada tempat biasanya. Sistem koordinasi motorik manusia jadi buruk. Ini sebabnya pendengkur yang sering mengantuk dilarang untuk berkendara.

Galau Berlebihan

Emosi jadi tak stabil ketika tidur tak sehat. Sebuah penelitian menyatakan bahwa pasangan yang kurang tidur lebih sering bertengkar dibanding yang cukup. Sementara penelitian Univ. Of California sebutkan bahwa pasangan dari orang yang tak sehat tidurnya sering merasa dihargai.

Tertidur

Jika mengantuk sampai tertidur, tentu kekurangan tidur atau penyakit tidur yang diderita sudah sangat parah. Tetapi banyak orang mencoba mempertahankannya dengan kafein atau minuman penambah energi. Semua zat stimulan ini hanya menunda rasa kantuk tanpa mengembalikan kemampuan otak yang sudah lelah. Tandanya ketika dalam suasan yang membosankan atau cenderung gelap, orang yang mengantuk akan langsung tertidur.

Mulai dari sekarang ketika mengalami hal-hal di atas pikirkan tentang kesehatan tidur. Sudah cukupkah tidurnya? Teratur? Mendengkur? Mengigau? Ketindihan? Karena menambah konsumsi kafein atau berbagai vitamin secara berlebihan bukanlah jawaban yang tepat.

Puasa Lancar dengan Tidur yang Sehat

Ibadah puasa membawa berkah. Tentu kita tak mau jika ibadah terganggu akibat jatuh sakit, musibah atau ketidak nyamanan lain. Menjaga kesehatan secara menyeluruh jadi penting. Tahukah Anda bahwa kesehatan tidur sangat mempengaruhi ibadah puasa kita? Berikut saya berikan beberapa point penting dari sisi kesehatan tidur agar ibadah puasa lancar.

Tidur Sehat

Tidur yang sehat sama pentingnya bagi kesehatan seperti menjaga nutrisi dan berolah raga. Mengabaikan kesehatan tidur akan berakibat buruk bagi keselamatan, kesehatan dan produktivitas. Sayangnya banyak sekali contoh di keseharian kita yang menunjukkan bagaimana masyarakat kita masih mengabaikan kesehatan tidur.

Lihat saja bagaimana iklan-iklan di media yang menunjukkan berbagai produk yang membuat seseorang lebih “melek”. Bukan berarti produk-produk suplemen atau penambah energi tersebut buruk. Tetapi coba lihat lebih dalam, para produsen ini melihat adanya peluang pasar yang besar pada masyarakat Indonesia yang mengantuk!

Perhatikan juga bagaimana di minggu awal berpuasa, banyak terjadi kecelakaan lalu lintas. Kenapa? Sederhana saja, kantuk. Akibat tubuh yang belum terbiasa dengan perubahan pola tidur, banyak orang mengantuk saat berkendara. Padahal para ahli telah membuktikan bahwa mengendara dalam keadaan mengantuk sama bahayanya dengan kondisi mabuk.

Keselamatan

Kesiapan kendaraan memang penting, tetapi kesiapan pengendaralah yang sebenarnya paling penting! Sebelum berkendara ke tempat kerja, pastikan Anda tidak dalam keadaan mengantuk. Jika mengantuk, ambil waktu untuk tidur dulu. Atau jauh lebih aman gunakan saja kendaraan umum.

Saat akan berkendara pulang. Istirahat dulu 15 menit, atau gunakan kendaraan umum jika mengantuk. Berbuka puasa bersama keluarga tercinta memang tak tergantikan, tetapi tiba di rumah dengan selamat jauh lebih penting!

Data kecelakaan pada Operasi Ketupat 2013 menunjukkan bahwa 420 kecelakaan disebabkan oleh tidak menjaga jarak antar kendaraan, 332 akibat melanggar batas kecepatan dan 623 disebabkan oleh pengendara yang mengantuk. Kantuk masih menjadi penyebab kecelakaan terbesar.

Bahaya kantuk saat berkendara ada di depan mata tapi masih kita abaikan. Saat berkendara dan mengantuk, kita malah meningkatkan kecepatan. Tak jarang kita juga merasa tanggung, 10 menit lagi sampai. Tetapi bencana bisa terjadi sewaktu-waktu. Bahaya kantuk bukan saja tertidur. Bahaya kantuk sesungguhnya terletak pada menurunnya konsentrasi, kewaspadan dan respons refleks. Ketiganya merupakan syarat kemampuan dasar berkendara yang aman.

Kesehatan

Kondisi kurang tidur telah diketahui akan mendorong perubahan hormonal yang akan memicu reaksi berantai yang buruk bagi kesehatan.

Saat kekurangan tidur, tubuh akan bereaksi dengan meningkatkan hormon ghrelin dan menekan leptin. Ghrelin fungsinya meningkatkan nafsu makan sedangkan leptin berperan dalam menekan nafsu makan. Akibatnya nafsu makan seolah tak terbendung. Di otak juga terjadi berbagai perubahan yang mendorong seseorang untuk mencari makanan yang bersifat asin, manis dan gurih. Akibatnya saat berbuka seseorang jadi cenderung “balas dendam”. Catatan khusus bagi penderita diabetes.

Kurang tidur juga diketahui membuat tubuh berada dalam kondisi “stress”. Akibatnya metabolisme pun turut terganggu. Respons tubuh akan secara otomatis meningkatkan tekanan darah dan kekentalan darah. Resiko penyakit jantung dan pembuluh darah tentu jadi meningkat.

Produktivitas

Lemas saat berpuasa, apa benar akibat berkurangnya asupan gizi? Belum tentu. Coba saja tambahkan jam tidur, apakah masih akan selemas itu?

Perubahan pola tidurlah yang sebabkan seseorang jadi lemas dan kurang bersemangat. Ketahuilah bahwa penambahan suplemen di saat sahur tentu bermanfaat. Kita lebih segar dan bugar. Tapi berbagai suplemen ini tak ada yang dapat menggantikan efek restoratif tidur. Kemampuan otak tetap akan melemah seiring dengan semakin berkurangnya tidur.

Ingin tetap produktif saat berpuasa? Perhatikan kesehatan tidur!

Sehat Berpuasa

Selain menjaga asupan gizi, jaga juga kesehatan tidur. Perlahan majukan jam tidur di malam hari. Terutama bagi para ibu yang harus bangun paling awal untuk menyiapkan santapan sahur. Di siang hari, ketika ada waktu, sempatkan untuk beristirahat. Buat suasana yang nyaman dan gelap untuk tidur siang.

Bagi yang bekerja, manfaatkan waktu istirahat siang untuk beribadah dan tidur siang. Dengan demikian kita bangun segar dan dapat lebih produktif mengerjakan tugas-tugas. Hingga menjelang pulang kita akan tetap cekatan namun tenang tak mudah terpancing emosi.

Selamat menyambut bulan suci Ramadhan.

Tambah Waktu Tidur Turunkan Berat Badan Remaja

Ini adalah hasil temuan terbaru yang diungkapkan pada jurnal Pediatrics terbaru. Para peneliti dari the Perelman School of Medicine dari the University of Pennsylvania mengamati indeks massa tubuh dan pola tidur sekitar 1000 siswa usia 14-18 tahun.

Hasilnya, dengan menambahkan jam tidur angka penyandang obesitas pada remaja bisa diturunkan. Sebaliknya, semakin pendek durasi tidur, indeks massa tubuh juga jadi meningkat. Tim peneliti ini menemukan bahwa dengan menambah jam tidur hingga 10 jam perhari remaja dapat menurunkan berat badannya.

Penelitian ini juga cukup mengejutkan mengingat pandangan umum yang menyatakan bahwa kebutuhan tidur umumnya adalah 8 jam perharinya. Tetapi tidak demikian dengan kebutuhan tidur remaja. Remaja hingga dewasa muda butuh tidur 8,5-9,25 jam seharinya. Para ahli beranggapan durasi tidur hingga 10 jam pada penilitian ini adalah sebagai mekanisme bayar utang tidur.

Manfaat Tidur

Sebenarnya sudah banyak penelitian sebelumnya yang membuktikan manfaat tidur bagi kelangsingan tubuh. Tetapi penelitian ini merupakan yang pertama menyoroti obesitas dan durasi tidur pada remaja. Berkaca pada kondisi di Indonesia, dengan maraknya konsumsi makanan cepat saji dan minuman bersoda, obesitas pada remaja semakin sering ditemui.

Tetapi apakah kita hanya memerhatikan segi nutrisi saja? Dengan semakin banyaknya bukti tentang hubungan kesehatan tidur dan kegemukan, sudah selayaknya kita mulai lebih memerhatikan tidur.

Tidur bagi remaja sebenarnya sangat bermanfaat. Penelitian Mary Carskadon menunjukkan bagaimana penambahan durasi tidur pada siswa akan meningkatkan prestasi akademis, kemampuan fisik dan kesehatan. Durasi tidur yang cukup juga menurunkan angka sakit, absensi, keterlambatan dan kenakalan serta kekerasan di kalangan remaja. Sayang, gaya hidup 24 jam telah membawa mitos tentang produktivitas yang salah. Tidur dianggap kemalasan dan hidup produktif adalah dengan aktif sepanjang waktu dengan mengorbankan waktu tidur.

Sesungguhnya tidur bukanlah kemalasan. Kantuk menunjukkan kebutuhan tidur yang belum tercukupi. Segala kafein dan minuman penambah energi hanya menunda kantuk tanpa mengembalikan kemampuan otak yang terlanjur lelah. Kandungan gula, kafein dan berbagai zat perasa dalam minuman-minuman ini justru menambah risiko kegemukan.

Mengantuk dan Lapar

Tanda mengantuk adalah menguap, mata berair dan dorongan untuk memejamkan mata. tapi tak banyak orang yang tahu bahwa kurang konsentrasi, ceroboh dan mudah lupa juga merupakan tanda-tanda mengantuk. Nafsu makan yang tinggi juga sebenarnya tanda mengantuk.

Lihat saja diri kita sendiri, saat bergadang, bukankah dorongan untuk ngemil kuat sekali? Ini disebabkan saat kurang tidur dan mengantuk, pengeluaran hormon ghrelin ditingkatkan sedangkan leptin ditekan. Ghrelin adalah hormon yang tingkatkan nafsu makan, sedangkan leptin berperan sebagai penekan nafsu makan.

Untuk mekanisme yang masih belum dapat dijelaskan, orang yang mengantuk cenderung mencari makanan yang manis dan asin. Singkat kata, junk food! Sementara ini para ahli berpendapat ini berkaitan dengan mekanisme menjaga kecukupan energi. Saat lelah dan butuh energi, tubuh secara otomatis mencari sumber tenaga tambahan, yaitu gula dan mineral. Kita pun jadi cenderung memilih makanan yang enak-enak. (Andreas Prasadja/KW)

*dr. Andreas Prasadja, RPSGT, Sleep Physician yang saat ini bekerja di salah satu rumah sakit di Jakarta Pusat, adalah pewarta warga bisa dihubungi di akun twitternya @IDTidurSehat atau http://www.andreasprasadja.com